Follow Us

Monday, March 31, 2025

Menikah dengan Pria Tak Perjaka: Perspektif, Pilihan, dan Makna Sebuah Hubungan


Tulisan mengendap 17 maret 2017. Sayang dibuang.


Barusan saya membaca di sebuah forum tentang pernikahan dengan pria yang tidak perjaka. Ada yang menerima dengan lapang dada, ada yang menolak dengan tegas. Setiap orang punya alasan masing-masing, yang sering kali berakar dari nilai-nilai yang dianut, pengalaman hidup, serta harapan akan masa depan.


Kriteria ini adalah preferensi personal yang tidak bisa dipaksakan. Jika seseorang merasa nyaman menikah dengan pasangan yang memiliki masa lalu tertentu, itu haknya. Begitu pula dengan mereka yang memilih pasangan dengan standar berbeda. Perbedaan sudut pandang bukan alasan untuk menghakimi.

Pola Pikir dan Pengaruh Lingkungan

Pola pikir seseorang tidak terbentuk dalam ruang hampa. Agama, budaya, keluarga, serta pengalaman hidup membentuk bagaimana kita memandang sesuatu. Dalam lingkungan yang konservatif, nilai kesucian sebelum menikah mungkin dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sehingga ketidaksempurnaan di masa lalu menjadi persoalan besar. Sementara di lingkungan lain, orang bisa lebih fleksibel dan melihat bahwa masa lalu tidak selalu mencerminkan masa depan seseorang.

Apa yang benar bagi satu orang, belum tentu berlaku bagi yang lain. Standar moral bukan sesuatu yang bisa dipukul rata. Itu sebabnya, penting untuk memahami bahwa dalam kehidupan ini, ada banyak cara pandang yang sah dan berharga.

Jangan Menikah karena Tekanan

Pernikahan seharusnya berangkat dari kesadaran dan kesiapan, bukan karena tekanan sosial atau ketakutan akan omongan orang lain. Dalam masyarakat kita, sering kali suatu peristiwa dianggap besar hanya ketika terjadi. Setelah itu, perhatian beralih ke isu lain, dan orang-orang yang tadinya sibuk berkomentar akan melupakan segalanya.


Jika seseorang menikah hanya karena dorongan eksternal—entah karena takut malu, ingin memenuhi ekspektasi keluarga, atau merasa terpaksa menerima pasangan meski ada keraguan—hubungan itu bisa menjadi beban. 

Pernikahan bukan soal membungkam komentar orang, tapi tentang bagaimana menjalaninya dengan damai dan bahagia.

Menghadapi Masa Lalu dengan Kedewasaan

Setiap orang memiliki masa lalu, baik yang tampak jelas maupun yang hanya diketahui dirinya sendiri. Yang terpenting bukanlah apa yang terjadi di masa lalu, tetapi bagaimana seseorang belajar dari pengalaman tersebut. Seorang pria yang pernah melakukan kesalahan di masa muda tidak otomatis menjadi pasangan yang buruk. Begitu juga seseorang yang menjaga diri sejak awal tidak otomatis menjadi pasangan yang ideal.

Kematangan dalam menghadapi kenyataan adalah kunci. Daripada sekadar melihat apakah seseorang perjaka atau tidak, lebih baik menilai bagaimana sikapnya terhadap masa lalunya. Apakah ia menyesal dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah ia jujur dan terbuka terhadap pasangannya? Apakah ia bertanggung jawab atas pilihannya? Itu yang jauh lebih penting dalam membangun kehidupan bersama.

Menentukan Standar Sendiri

Pada akhirnya, setiap orang berhak memiliki standar dalam memilih pasangan. Tidak ada yang salah dengan seseorang yang ingin menikah dengan pasangan yang belum pernah berhubungan sebelumnya, seperti halnya tidak ada yang salah dengan orang yang bisa menerima masa lalu pasangannya. 

Yang keliru adalah ketika kita mulai memaksakan pandangan kita kepada orang lain atau meremehkan mereka yang memiliki perspektif berbeda.

Keputusan menikah harus berdasarkan kecocokan nilai dan tujuan hidup, bukan sekadar pandangan masyarakat atau stigma sosial. Dalam hubungan jangka panjang, yang lebih menentukan kebahagiaan bukanlah masa lalu pasangan, tetapi bagaimana kalian berdua berkomitmen untuk membangun masa depan bersama.

Memaafkan dan Melihat ke Depan

Banyak hal dalam hidup yang tidak bisa diulang. Kadang kita berharap bisa kembali ke masa lalu dan melakukan segalanya dengan lebih baik. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani hari ini dan menata masa depan. Jika seseorang sudah berubah dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, apakah kita akan terus menghakimi atau memberi kesempatan untuk tumbuh bersama?


Dalam setiap hubungan, kejujuran dan keterbukaan adalah fondasi utama. Jangan hanya terpaku pada apa yang telah terjadi, tetapi lihatlah bagaimana seseorang memilih untuk menjalani hidupnya sekarang. 

Karena pada akhirnya, menikah bukan hanya tentang siapa pasanganmu dulu, tetapi tentang siapa dia hari ini dan bagaimana kalian berdua membangun hari esok.


No comments:

Post a Comment

leave your comment here!