Follow Us

Wednesday, April 24, 2019

Jalan-Jalan ke Turki (Tulip Festival - Spring) Day 1-2

4/24/2019 02:06:00 PM 0 Comments
Spring in Turki adalah target jalan-jalan saya yang utama setelah summer in Beijing. Saya sudah merencanakan untuk ikut dari setahun lalu. Berhubung waktu itu masih kuliah (2018) jadi saya tunggu setahun kemudian (2019). Sabar sekali ya. Demi kamu Turki, apa sih yang tidak. Hehe. :)

Saya cari-cari berbagai agen travel yang itinerary-nya cocok dan juga harga tentunya. Akhirnya terpilih agen travel Avia Tour (lagi). Tapi memang dasar tidak rejeki ya, tanggal yang saya incar penuh beberapa waktu setelah saya booking sementara. Saya diberitahu ini karena awalnya saya tidak DP dulu sih. Ya sudah tidak apa-apa. Saya cari agen lain. Dari sekian banyak yang saya lihat-lihat, rata-rata sih itinerary mirip-mirip. Yang penting buat saya yang bisa join untuk satu orang dan tidak menambah single supplement. Rata-rata agen yang saya tanya minta single supplement kalau sendiri atau ada juga yang minta minimal dua orang.

Okelah, akhirnya terpilih liburanmurah.tour. Harga yang ditawarkan untuk tulip festival per pax all in senilai Rp. 20.250.000 (wah, dapat motor satu biji nih). Mahal? Iya memang untuk spring jauh lebih mahal ketimbang musim lain.

Untuk mencapai sesuatu itu butuh pengorbanan entah itu materi, tenaga, waktu, dan pikiran. Kalau saya berpikir mending beli motor, maka saya tidak mau berkorban materi dan artinya saya dapat motor tapi tidak akan pernah pergi ke Turki sebagai konsekuensi. Selain itu juga masalah waktu dan uang, mana yang akan dikalahkan. Seringkali terjadi kita punya uang tapi tak punya waktu (atau sulit mencari waktu yang pas). Bisa juga terjadi kita punya waktu luang tapi tak punya uang. Yang terjadi pada saya, saya ingin bisa jalan-jalan ke Turki tapi waktu tidak match. Jika saya memaksa pergi bisa saja, tapi saya harus korbankan diri untuk tidak masuk kuliah. Atau bisa saya tetap pergi di saat yang waktunya match dengan saya, tapi harganya lebih mahal. Nah, hidup itu pilihan kan? Yuk, memilih... :)

Dan untuk mencapai sesuatu itu perlu direncanakan dan dipertimbangkan dengan matang. Ini menurut saya. Saya bukan tipe buru-buru soalnya. Seperti jalan-jalan begini contohnya. Dan harus segera action, bukan sekedar rencana di otak. Setuju?

Berikut itinerary ke Turki 6-14 April 2019.

Day 1 (6/4/2019)
Perjalanan Jakarta ke Turki (transit Singapore) via Singapore Airline

Day 2 (7/4/2019)
Tiba di Turki (bandara baru Istanbul). Emirgan Park, Bosphorus Cruise, Topkapi Palace, Hagia Sophia, Blue Mosque, Belanja di toko souvenir. Menginap di Hotel Gorrion. (tidak sempat ke Hippodrome dan grand bazaar).

Day 3 (8/4/2019)
Perjalanan ke Bursa. Grand Mosque. Menginap di Hotel Bursa. (tidak sempat ke Green Mosque dan Green Tomb).

Day 4 (9/4/2019)
Perjalanan ke Pamukkale. Rossini. Turkish Delight Munira. Ephesus. Hierapolis. Cottoon Castle. Menginap di Hotel Pamukkale.

Day 5 (10/4/2019)
Perjalanan ke Cappadocia. Burberry. Underground City. Menginap di Hotel Cappadocia.

Day 6 (11/4/2019)
Jeep safari, Ortahisar, Pasabag Valley, Uchisar, Panorama, Ceramic Factory, Karpet Factory, Goreme Open Air Museum. Menginap di Hotel Cappadocia.

Day 7 (12/4/2019)
Perjalanan ke Ankara. Salt Lake. Mausoleum Attaturk. Istanbul. Menginap di Hotel Gorrion.

Day 8 (13/4/2019)
Check out Hotel Gorrion Istanbul. Ke bandara Istanbul.

Day 9 (14//2019)
Tiba di Indonesia


Oke, saya akan menceritakan perjalanan hari pertama dan kedua begitu tiba di Turki. Kami serombongan 39 orang (termasuk satu orang tour guide dari Indonesia, halo Salman!). Ternyata rata-rata pesertanya emak-emak. Hehe seperti biasa kalau ikut tur konsorsium begini berasa jadi paling muda. Oops! Dan tahukah kalian (pasti jawabnya tidak). Berasa paling miskin juga kalau ikutan tur begini bareng emak-emak. Berasa nyempil di antara orang-orang berduit. Kalau sudah urusan belanja ya, sampai pada menambah koper. Keluar dolar sampai tak terhitung. Ck ck ck...

Tapi saya senang bareng emak-emak. Selalu ada pelajaran yang didapat kalau mengobrol dengan mereka. Mereka juga tidak pilih-pilih teman. Saya yang pergi sendirian bisa bergabung dengan mereka. Bisa saling gantian foto. Terima kasih ibu-ibu yang baik hati! :)

Lanjut... Perjalanan ke Turki ini cukup lama yaitu memakan waktu sekitar 13 jam. Pertama penerbangan dari Jakarta ke Singapore kemudian transit tidak lama (syukurlah) di Singapore lalu lanjut ke Turki sekitar 10-11 jam. Mungkin karena pengaruh cuaca ya di bulan april, pesawat seringkali goyang. Deg-degan rasanya tapi hanya bisa pasrah dan terus berdoa. Mbak di sebelah saya sampai bilang ngeri goyang terus tapi kok orang-orang kelihatan santai saja tidak baca-baca (doa) apalagi pramugarinya. Sementara kalau dia sibuk baca-baca (zikir atau berdoa). Saya bilang, "Nggak Mbak doank kali yang baca-baca, cuman mereka ga bilang-bilang." :)

Saya duduk di pojok bangku paling belakang sayap kiri. Herannya kenapa di bagian belakang ini tak mendapat service yang sama dengan bangku-bangku lain. Bangku lain sering mendapat tawaran jus atau minuman lain tapi kok bangku saya lewat begitu saja. Bahkan bangku lain mendapat bungkusan kecil berisi kaos kaki, alat gosok gigi dan penutup mata (kalian pasti tahu) kok saya tidak. Oke deh bukan rejeki saya. Tidak apa-apa. :D

Tiba di Turki pagi hari. Di sana langsung ke toilet. Toilet sepi. Hanya rombongan kami Indonesia. Karena bandara baru, tombol air tidak bisa flush. Ada pula yang pencetan airnya sulit keluar air. :D

Setelah pengambilan bagasi (cepat tidak pakai lama) kami ke bus yang sudah menunggu. Di sana sudah ada tour guide lokal orang asli Turki bernama Hakan. Beliau berusia 44 tahun. Saat awal ketemu terlihat orangnya serius tapi rupanya bocor, jahil, asyik serta baik sekali. Bisa  menghidupkan suasana. Thank you Mr. Hakan. :)

Emirgan Park
Taman besar (tak sempat berkeliling saking besarnya) di Kota Istanbul ini cantik sekali saat musim semi dimana tulip bermekaran. Ada sekitar 10 juta tulip di sana. Bahkan saya melihat ada beberapa pasangan calon pengantin sedang melakukan foto pre-wedding. So sweet. :)

Kalau kalian jeli, bisa lihat pasangan pre-wed :)
Foto dok Reana

Saat mengambil foto tidak boleh menginjak rumput sekitar tulip loh ya. Ada petugas yang mengamankan. Lah, harusnya kan dipagar itu supaya tidak diinjak orang. Yang orang asli Turki saja bandel kok mereka foto-foto di sekitar tulip. Haha. Kasihan petugasnya sih sebenarnya.

Bosphorus Cruise
Di sinilah kehebohan para emak-emak dimulai. Saat Bosphorus cruise, tour guide memutar lagu Indonesia. Emak-emak pada goyang sampai lagu selesai. Heboh. Saya sih cuma berani mengambil video mereka saja hihi. :)

Foto di lokasi Bosphorus Cruise

Topkapi Palace
Masuk ke dalam area Topkapi Palace (baca: Topkape Peles) berasa adem (memang dingin sih cuaca). Subhanallah. Saya suka suasana di sini. Saya masuk ke museum di dalam. Tidak semua rombongan masuk (yang mau saja). Sudah sampai di situ ya harus masuk kalau saya. Antri padat. Ada peninggalan islam jaman dulu. Ada pedang, tapak rosul, Al Quran, jubah fatimah, jubah Ali dll. Tidak boleh foto ya di dalam.

Topkapi Palace

Saya mendengar lantunan Al Quran saat berada di dalam, saya pikir suara kaset diputar. Begitu saya sudah mau menuju ke luar ruangan, ternyata memang ada Qori yang sedang membaca Al Quran di ruangan dekat pintu keluar. Subhanallah. Memangnya di masjid Indonesia ya yang biasanya putar kaset. Ya Allah...  Kok saya mau menangis menulis ini. T-T

Hagia Sophia
Di Hagia Sophia (baca: Haya Sofia) kami cuma sebentar masuk. Saat ini Hagia Sophia masih menjadi museum. Dari luar cantik sekali mengambil foto dengan background Hagia Sophia. Sayang, ramai sekali di luar jadi tidak mendapat foto yang cantik. Sudah lelah juga sore hari, sudah kusut hehe.
Hagia Sophia dari luar

Oya, masuk ke Hagia Sophia ini kami dikasih headset tiap peserta (peraturannya begitu) supaya saat tour guide memberikan instruksi kami dengar dari headset tidak mengganggu rombongan lain karena ada banyak rombongan lain juga.

Ini dia headsetnya

Saya dan seorang ibu pikir, kami cuma bisa mendengar suara tour guide (satu arah) tapi tidak bisa bicara ke tour guide (dua arah), padahal kan komunikasi harusnya dua arah. Eh rupanya saat saya mengobrol dengan ibu itu, si tour guide bilang ke kami, "Saya tidak dengar ya." Oops! Hehe berasa ngerumpi deh astaghfirullah... ternyata dengar dia. :)

Si tour guide seringkali mengatai kami ibu-ibu rumpi suka bergosip. :D

Bagian dalam Hagia Sophia
Saya tidak menyangka kalau pada saat itu bisa melihat Hagia Sophia pada akhirnya. Kenapa? Saya membaca sekilas sejarah Hagia Sophia dari novelnya Hanum Salsabiela Rais "99 Cahaya di Langit Eropa". Tahun berapa itu coba. 2011! Dan seperti terekam di memori saya begitu loh. Lalu pada Tahun 2015 awal saat saya jalan-jalan ke Jepang, seorang ibu yang selalu bareng saya saat di Jepang mengajak saya ke Turki atau Korea setelah dari Jepang. Waduh, kalau saat itu saya harus menabung dulu beberapa waktu untuk jalan-jalan lagi. Dan akhirnya saya kepikiran ke Turki juga dan sampai juga ke Turki meski harus melewati beberapa waktu yang tak sebentar. Subhanallah :)

Blue Mosque
Kami sholat di Blue Mosque. Tapi saya tidak masuk ke dalam karena antri padat dan waktu mepet. Ya Allah... suka berada di sini. Di luaran banyak tempat duduk-duduk cantik. Banyak warga Turki yang cantik ganteng itu loh tak ada yang jelek masha Allah... Kok saya berasa jelek ya di sana astaghfirullah... ciptaan Allah itu sudah yang terbaik termasuk saya. :)

Waduh, ini saya jadi moto orang lagi berpose hihi. Niat hati mengambil foto Blue Mosque loh ya. :)

Belanja di toko souvenir
Langsung belanja saja nih hari pertama tiba. Di sini tokonya termasuk murah. Ada pelayannya orang Indonesia. Terima rupiah loh. Saya beli bookmark di sini.

Selanjutnya menginap di Hotel Gorrion. Lanjut ke posting berikutnya ya biar tidak terlalu panjang. :)


All pictures credit to Reana. All were taken by Reana.


Monday, January 21, 2019

Jalan-Jalan 3 Negara: Malaysia - Singapura - Thailand

1/21/2019 01:33:00 PM 4 Comments
Selesai ujian akhir semester 3, saya putuskan untuk menghibur diri tepatnya 29 Desember 2018 - 3 Januari 2019 ke tiga negara sekaligus yaitu Malaysia, Singapura dan Thailand. Asyik... Tahun baruan di luar negeri untuk kedua kali. (Tidak meniatkan diri loh ini karena saya tidak pernah merayakan tahun baru)

Mencari waktu yang pas untuk bisa jalan-jalan di masa kuliah memang tidak mudah. Selalu saja jadwalnya bertabrakan dengan jadwal kuliah padahal masa-masa itu adalah low season. Dari situlah saya merasa sedih. Tapi saya berpikir, harus ada yang dikalahkan antara uang dan waktu. Mana yang saya pilih, uang atau waktu? Karena jika tidak alias menunggu waktu dan uang bertepatan keduanya, entah kapan saya baru bisa jalan-jalan. Jangan terlalu banyak mikir melainkan cepat action. Mumpung masih di Jakarta, masih serba mudah dan lebih murah tentunya. Asyik. :)

Dan akhirnya saya putuskan untuk mengalahkan uang alias membayar lebih mahal sedikit untuk bisa jalan-jalan dan tidak mengganggu jadwal kuliah. Karena, jika saya pilih low season, saya harus bolos kuliah. Untuk anak baik seperti saya ini rasanya was-was mau bolos. Uhuk-uhuk :D

Berhubung saya sendirian, lagi-lagi saya memilih untuk ikut travel agent. Pilihan saya kali ini adalah Travelmaps. Dan kenapa saya pilih ketiga negara tersebut? Tentu alasan klasik karena saya belum pernah ke sana, padahal sih dekat kan (karena sebelumnya saya lebih tertarik ke negara 4 musim sih). Selain itu tak perlu visa, biaya lebih murah, tak perlu naik pesawat lama-lama dan tak perlu bawa baju tebal-tebal karena cuacanya mirip di Indonesia.

Tapi entah mengapa mendekati hari keberangkatan saya tidak excited ya? Saya teringat ketika saya akan ke Beijing lalu ditanya teman saya apakah saya excited? Saya jawab tidak. Dan sekarang saya mengalami hal yang sama. :(

Bagaimana pun saya hanya tinggal melangkahkan kaki untuk berangkat jadi harus action walau tidak excited. Action apaan maksudnya? Persiapan tukar duit dan tentunya barang yang akan dibawa. Baiklah kali ini saya menukar uang sisa yuan saya dengan ringgit, dollar Singapore dan baht. Alhamdulillah masih ada sisa yuan jadi tidak perlu gesek atm. Kali ini saya tidak menukar banyak karena saya berpikir mau berhemat (yakin?) tidak belanja karena saya ada keperluan lain yaitu pulang kampung. Hehe. Benar loh yuan saya masih ada sisa 1610 saya tukar dengan harga 2095 masih dapat duit senilai 3.3 juta. Lumayan kan? Saya tukar dengan:
Ringgit 100
Dollar Singapore 50
Baht 1000
Uang saku saya total = Rp. 1.320.000 (jauh lebih sedikit ketimbang ke Beijing)

Perjalanan dimulai dari penerbangan Jakarta - Kuala Lumpur. Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan bus. Berhubung pesertanya ada 59 orang plus 2 orang tour guide dari Indonesia, 2 orang tour guide dari Malaysia yang selalu ikut hingga Singapura dan Thailand. Begitu sampai di singapura dan Thailand ada guide lokal sana juga, jadi ada dua bus. Ramai! :)

Rata-rata pesertanya adalah keluarga. Ya tentu saja. Sama halnya seperti saat saya ke Beijing lalu. Lagi-lagi saya sendiri yang single paling muda. Berteman di sana ya sama emak-emak, bapak-bapak. Tak apalah, yang penting jalan-jalannya. :)

Saya sekamar dengan seorang ibu dari Kalimantan Timur. Si ibu ini sudah keliling dunia sampai bingung ke mana lagi saat saya tanya kenapa ikut trip ini padahal sudah pernah. Hihi keren deh ibu semoga saya juga bisa keliling dunia aamiin. :)

Saya juga mendapat banyak cerita dari si ibu yang memang pengalamannya sudah banyak. Memang ya kalau ketemu orang baru itu selalu ada cerita baru (ambil yang baik-baiknya). Semacam membuka perspektif kita begitu. Ada benarnya juga sih kalau pemikiran sempit karena kurang piknik. Hmm :)

Day 1: Malaysia (Melaka)


Itu kok ada orang berbaju kuning seperti yang di depan Museum Fatahillah. Apa pindah tugas ke sini? Hehe :)

Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Melaka lumayan jauh ternyata berjam-jam. Tujuan utama ke Melaka diantaranya adalah mengunjungi Gedung Merah Melaka, Christ Church, Stadtuys, Jonker Walk Street yang semuanya itu berada di satu lokasi. Yang saya heran, ramai benar itu tempat. Padahal lokasinya tidak besar. Orang-orang pada antri foto di tulisan I LOVE KL. Saking ramainya saya hanya jalan-jalan sekitaran. Ada juga loh pengamen di tempat itu. Dan kala itu nyanyi apa coba? Lagunya Manji - Dia. Mungkin tahu lagi banyak turis Indonesia kali ya sengaja hihi (suudzon deh jadinya, maaf).

Ini dia es cendol duriannya.
Setelah berjalan di situ saya menuju ke pinggir sungai. Ada penjual es cendol. Saya mencoba jajan es cendol. Yaelah, di Indonesia mah banyak cendol, jauh ke Malaysia kok jajannya cendol. Haha. Nyicip cendol Malaysia euy. Eh, ternyata rasanya ya sama saja cendol. Saya beli es cendol durian seharga 6.5 ringgit (mahal? Iyaaaa). :D

Kelapa muda Jonker Walk lucu ya bulat-bulat putih :)

Selesai minum es cendol, saya berjalan ke Jonker Walk Street. Banyak orang jualan pula di sana. Saya berhenti di tempat orang berjualan kelapa muda. Lucu deh di sana kelapanya sudah dikupas putih bersih begitu. Lalu yang mengupas eh tiba-tiba beratraksi bak silat dengan kelapa kupasnya itu sewaktu saya dan ibu yang sekamar hendak merekam pengupasannya itu loh. Jadi lucu deh ditonton orang-orang juga. Saya pun merekam sambil cekikikan. :D

Day 2: Singapura



Di Singapura cuma sebentar, sehari saja. Cuma photo stop lah bisa dibilang. Yang dikunjungi diantaranya Merlion, USS, Garden by The Bay, Orchard Road dan sholat di Masjid yang ada di Orchard, Masjid Al Falah. Di Singapura, saya hanya mengeluarkan uang untuk beli sebotol air mineral di Merlion saking haus dan panas tak ketulungan (oops!). Berapa harganya? 3.5 dollar singapore (OMG!). Sedih deh rasanya jalan-jalan ke luar negeri karena uang rupiah kita benar-benar jatuh kursnya. Kalau mau beli apa-apa ya mahal. :(


Sebelum ke Thailand, kami sempat mampir dulu ke Kellie's Castle di Malaysia. Ceritanya Castle ini dibangun oleh Bapak Kellie yang merupakan orang Inggris untuk istri tercintanya. Wah, macam Taj Mahal ya. So sweet. :)

Day 3-4: Thailand (Hatyai)
Wilayah Thailand yang terdekat dengan Malaysia adalah Hatyai. Perjalanan cukup jauh loh ya sekitar 6-7 jam. Lelah di jalan? Iya. Beberapa orang teler (flu dan masuk angin) mungkin karena tidak biasa perjalanan jauh dengan bus. Apalagi terkena AC berhari-hari. Tanggal 31 Desember magrib kami sampai di Hatyai. Tahun baruan di Hatyai. Ada semacam pasar malam begitu ya dan juga konser. Saya di sana cuma jalan-jalan melihat suasana malam. Banyak muda-mudi berseliweran. Saya perhatikan gaya berpakaian wanita-wanitanya di sana. Menurut saya, variatif. Mulai yang berhijab hingga hotpant, mini skirt, ada pula yang berpakaian bolong di punggung (bukan sundel bolong). Hihi amat tidak sehat untuk laki-laki. :)

Lucunya, teman-teman serombongan ada di situ menunggu detik tahun baru alias kembang api baru mau pulang, tapi ternyata di dekat tempat konser dan pasar malam yang diduga bakal di situlah kembang apinya malah tidak ada kembang api sama sekali. Yang ada malah di tempat yang sejalur dengan hotel kami menginap. Kelihatan sih kembang apinya jedar-jedor dari tempat kami menunggu. Tapi itu pun tidak meriah. Yah pada kecewa deh. Haha wajarlah kata saya, daerah pinggiran bukan kota besar. Jangan berharap lebih. :D

pasar malam tahun baru

Akhirnya kami pulang naik tuktuk mana gerimis pula. Dan ada loh ya tiba-tiba bapak-bapak (peserta juga) nyerobot ke tuktuk kami yang barusan ditawar padahal kami yang wanita-wanita sedang antri naik. Ampun dah. Egois benar ya. Akhirnya saya terakhir naik, padahal saya pikir masih cukup tidak ya. Mana hujan juga kan itu. :(

Itu Buddha-nya tidur terus tidak bangun-bangun :)

Keesokannya kami menuju Bee Farm dan Sleeping Buddha. Kemudian menuju Songkhla, Samila Beach. Pantainya biasa saja sih menurut saya. Di Indonesia kan banyak pantai. Apalagi saya hidup dekat pantai sewaktu di Bengkulu. Orang-orang antri foto di patung Mermaid yang ada di pantai itu. Ada legenda yang saya baca kalau memegang dada patung Mermaid, bakal balik lagi ke situ. Hihi heran deh, kenapa harus dadanya? Mana telanjang dada pula. Malu ah. :D

Wah ada yang duduk di pangkuan Mermaid :)

Day 5-6: Malaysia (Kuala Lumpur)
Tiba di Kuala Lumpur, kami ke Genting Highway naik cable car. Naik cable car bukan hal baru sih buat saya. Saya sudah pernah dulu sewaktu di Jepang dan juga di Ancol. Naik cable car di Genting ini pas senja dan juga gerimis jadi tidak bisa mendapat pemandangan bagus. Lucunya ya, sewaktu di cable car saya kan dengan rombongan Indonesia sekitar 10 orang, nah begitu sampai di satu halte atau stasiun bilangnya ya, kan cable car menjadi pelan dan pintunya terbuka otomatis. Orang di dalam heboh mau keluar padahal cable car di depannya tidak turun orang-orangnya. Lah, orang saya di dekat pintu ya jadinya saya mau tak mau keluar juga. Petugas di halte marah lah ya. Bahaya. Lalu kami masuk lagi tapi hanya sebagian yang sempat. Ada ibu dan anak yang tertinggal di halte. Si Bapak jadi cemas nasib anak istrinya. Akhirnya mereka nebeng cable car selanjutnya kok. Aman. :)


Kalau tiba di mall-nya Genting sih ya cuma jalan-jalan. Isinya permainan sama outlet. Sambil menunggu waktu kumpul, saya dan si ibu dan anaknya mampir ke cafe bertema DC Comics. Tak hanya dekorasi, menunya pun serba DC. Bahkan ada satu menu minuman namanya ada kata 'Bandung' loh. Anak gadis si ibu yang merengek minta ke sini sih. :)


Esok pagi harinya, foto-foto dulu di Petronas Twin Tower. Ada yang bilang, belum ke Malaysia kalau belum foto di sana. Di sana ramai rombongan umroh dari Indonesia sedang foto-foto juga. Hihi. Saya duduk di pagar taman dan mengobrol dengan Bapak-Bapak tua dari Kalimantan peserta umroh yang ada di situ. Tak lama kemudian saya terusir oleh Ketua rombongan umroh (nampaknya sih) yang tiba-tiba datang dengan membawa Bapak-bapak tua juga dan bilang supaya saya muslimah solehah memberikan tempat duduk kepada yang lebih tua. Saya hanya tersenyum lalu bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu. Ada-ada saja. :D

Rute selanjutnya adalah ke outlet cokelat Harritson, Istana Negara, Masjid Putra Jaya, Batu Caves dan outlet makanan ringan serta suvenir. Di Masjid Putra Jaya, wanita yang berkunjung diberi jubah merah jika tidak menggunakan hijab ataupun memakai celana. Berhubung saya memakai rok, jadi saya tidak diberi jubah. Sewaktu saya akan sholat, ibu yang bareng dengan saya terus selama perjalanan baru tiba. Beliau menitipkan tasnya ke saya. Selesai saya sholat kok si ibu tidak datang-datang ya. Kok wudhunya lama amat. Mana sudah dipanggil untuk masuk bus. Kan saya cemas ya. Apa kesasar. Lalu saya cari di tempat wudhu tidak ada juga sampai saya ditegur petugas masjid. Pas saya keluar, eh si ibu muncul bareng peserta lain dari lantai atas katanya. Beliau sholat di lantai atas. Haduh... :(

Jubah merah Masjid Putra Jaya

Begitulah kisah perjalanan saya. Tanggal 3 Januari 2019 malam saya tiba di Soetta lalu balik ke kos istirahat semalam. Besok paginya saya ke bandara lagi pulang kampung ke Lampung tercinta. :)

Sampai jumpa di petualangan selanjutnya. Aamiin. :)

Tuesday, December 25, 2018

Tanganmu Harimaumu, Awas!

12/25/2018 11:21:00 PM 10 Comments


Kalau jaman dulu mendengar kata pepatah atau kata bijak itu hal yang biasa dan sering. Tapi sekarang? Masihkah? Di era modern yang serba teknologi ini loh. 

Kata bijak mulutmu harimaumu tentu sudah tidak asing ya kan? Tapi kalau tanganmu harimaumu? Hehe ini cuma plesetan saya saja. Jaman sekarang kan orang banyak berkutat di depan gadget. Lebih banyak menggunakan tangan untuk berkomunikasi ketimbang mulut dan bertatap muka. 

Jika kamu penggemar youtube, apakah kamu termasuk yang suka menulis komentar? Apakah kamu yang suka menonton sambil membaca komentar?

Kalau saya pribadi termasuk yang silent reader. Dan saya mengamati banyak sekali komen-komen yang positif maupun negatif. 

Belakangan juga saya sering membaca berita netizen dilaporkan pemilik konten media sosial seperti youtube/instagram karena komen negatif entah itu karena mengancam, mem-bully, dan semacamnya. Dan setelah ketemu tersangkanya, rata-rata anak abege. OMG!

Miris rasanya. Kebebasan berpendapat di dunia maya dengan nama samaran (nickname) seperti tidak ada batas lagi. Orang bebas berkomentar apa saja semaunya tanpa memikirkan pemilik konten yang ternyata adalah manusia juga sama seperti yang memberi komentar. Mereka punya hati dan perasaan juga. Ya iyalah sesama manusia. :)

Semestinya hal seperti ini diantisipasi. Jangan sampai teknologi malah memberi efek negatif. Orang seperti tidak sadar bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang tidak baik. Baru tahu setelah kena batunya (terciduk). Hmm...

Maka itu, hati-hatilah menggunakan tanganmu untuk mengetikkan kata-kata di gadgetmu. Karena apa pun yang kamu ketik akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Gunakanlah media sosial untuk hal-hal yang baik/positif. 

Jangan malah muncul:
1. Budaya nyinyir
2. Budaya bully
3. Kriminal

:)

Begini yang Terjadi Kalau Tidak Rejeki

12/25/2018 10:33:00 PM 0 Comments


1. Tumpah

Sore tadi saya baru saja duduk di depan atm Gramedia Matraman bersama seorang teman. Kami menikmati segelas Dum-Dum rasa Thai Tea. Baru berapa seruput, gelas teman saya terlempar jatuh ke lantai. Otomatis isinya tumpah karena tutupnya terlepas. Lantai pun kotor. Masih ada tersisa beberapa seruput di bagian dalam gelas.

Teman saya bilang, "Apa kurang sedekah ya." Dia merasa mungkin kurang sedekah karena minuman seharga 22 ribu itu tak bisa dinikmati lagi. Bahkan menurutnya baru dua ribu yang dia minum. :)

Hmm, kalau tidak rejeki memang ada-ada saja alias banyak cara Allah untuk mengambilnya secara tak terduga. Salah satunya adalah contoh di atas. 

Perihal apakah memang benar kurang sedekah, wallahu alam. Allah yang lebih tahu. :)

2. Tertinggal

Saya pun pernah mengalami kejadian yang namanya tidak rejeki ini. Hal-hal simpel sih ya. Pernah suatu ketika saya beli segelas Hop-Hop. Lalu saya mampir makan di sebuah tempat makan (Platinum) bersama teman saya di Atrium Senen. Lalu kami pulang terpisah. Sampai di kos saya baru sadar kalau minuman saya tidak saya bawa. Entah tertinggal di Platinum atau di lantai satu sewaktu saya sempat mampir sebentar melihat fashion show. :)

3. Tertukar

Kejadian 1
Pernah juga saya membeli bungkusan sebanyak 2 plastik dengan isi berbeda. Sengaja saya pisah plastik karena satu plastik untuk orang lain. Yang untuk saya, langsung saya masukkan tas. Begitu sampai di kos, rupanya plastik tertukar. :)

Kejadian 2
Suatu ketika saya pernah naik travel dan membawa sebuah kardus ditaruh di bagasi belakang mobil. Saya turun dini hari gelap itu. Dan buruknya saya tidak ingat kardus saya (tidak diberi nama atau tanda). Dan rupanya ada kardus-kardus lain juga yang mirip. Jadilah saya salah memilih kardus. Padahal saya penumpang pertama yang turun. Ketika pagi hari akan berangkat ke kantor, saya bongkar isi kardus ternyata salah kardus. Isinya jauh berbeda dari punya saya. Isinya makanan semua sih sama seperti yang saya dapat juga makanan. Tapi sangatlah berbeda. Dan ya mau bagaimana lagi. Sudah tertukar dengan penumpang lain yang rumahnya jauh. Penumpang itu pun tak menelpon ke sopir travel. Padahal saya menelepon ke sopir travel. Ya sudahlah bukan rejeki. :)

Kejadian 3
Kalau cerita yang ini kisahnya ibu saya. Jadi beliau itu memisahkan bungkusan dalam plastik untuk saya dan kakak saya. Tak tahunya bungkusan itu tertukar. Padahal ibu saya loh yang memberikan sendiri ke kakak saya. :)

Masih banyak tentunya kisah-kisah tak rejeki. Justru hal-hal kecil yang terjadi. Tapi cukup mengena. Tidak menyangka. Tapi semua kejadian itu mengajarkan saya untuk ikhlas. :)





Friday, December 14, 2018

Jenis Soal UTS, UAS dan Kuis Kuliah S2

12/14/2018 01:10:00 AM 0 Comments
Hai Sobat yang budiman, saya sedang ingin posting bebas (ah biasanya juga posting bebas random kok). Kali ini ingin cuap-cuap sedikit saja (banyak juga bebas kali kan blog sendiri) tentang jenis soal uts, uas, dan kuis berdasarkan pengalaman saya selama 3 semester ini.

Picture credit to dreamstime


UTS (Ujian Tengah Semester)

Mayoritas mata kuliah ada UTS. Hanya beberapa mata kuliah yang tidak ada UTS, bisa dihitung jari per semester sekitar 1 mata kuliah.

UAS (Ujian Akhir Semester)
Sebagian mata kuliah ada UAS tapi sebagian tidak (horeee!). Kalau tidak ada UAS biasanya diganti dengan presentasi akhir kelompok.

Berikut adalah jenis soal UTS dan UAS. Yuk simak!

Essay vs Pilihan ganda
Jenis soal favorit alias paling banyak adalah essay (uraian). Ada juga yang kombinasi essay dan pilihan ganda. Mata kuliah yang UTS-nya pilihan ganda saja ada tapi saya tidak mengambil mata kuliah pilihan tersebut. Selama 3 semester hanya ada 2 mata kuliah yang soalnya kombinasi essay dan pilihan ganda. Sisanya essay semua.

Kalau soal pilihan ganda, jawabannya sudah pasti ada 1 yang benar di antara pilihan jawaban ya. Nah, kalau essay, jawabannya tidak ada benar atau salah. Mungkin lebih ke ketepatan. 

Closed book vs Open book vs Open Notes
Mending mana, closed book, open book atau open notes? Semuanya ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tipe soal closed book biasanya ada jawabannya di buku tapi sulitnya adalah harus kuat menghapal. Sedangkan tipe soal open book memudahkan orang supaya tidak menghapal namun kabar buruknya biasanya soal tidak ada jawabannya di buku. Oh tidak!

Nah, yang terakhir open notes ini menuntut kita untuk membuat catatan untuk menjadi pegangan kita sewaktu ujian. Bisa hanya berupa catatan di kertas A4/folio selembar. Ada juga yang bebas sebanyak-banyaknya asal tulisan tangan. Open notes ini bikin mabuk karena harus menulis kecil-kecil sekali supaya muat mencatat sekian bab hanya di selembar kertas A4. Kebayang? Kertas dibagi dulu digaris-garis sesuai bab supaya semua bab masuk (kalau saya loh ya). Keriting rasanya ini tangan (hehe lebay). Rugi kan kalau sampai ada yang tidak tercatat padahal kita sudah diberi peluang untuk mencatat dan ternyata keluar di ujian.

Uraian vs Hitungan
Kalau ini sih tergantung materi mata kuliahnya ya. 

Case study vs text book
Beberapa mata kuliah ada yang soalnya case study. Namun kebanyakan sesuai text book, hanya saja tidak sama persis di text book. Jenis soal case study lebih sulit menurut saya karena menuntut pemahaman kita akan materi (otak berpikir lebih keras - saya doank kali ya).

Kuis
Tidak semua mata kuliah ada kuis. Kuis ada yang terjadwal ada pula yang tidak alias dadakan (siap-siap saja). Ada yang setiap minggu kuis ada pula yang setiap sekian pertemuan baru kuis. Ada kuis online (pilihan ganda) ada pula yang manual (diberi kertas soal, pilihan ganda). Ada yang soalnya essay hanya satu soal dan hanya ditampilkan di slide (jadi harus dicatat ulang atau difoto soalnya biar jelas). Kuis waktunya paling hanya 30 menit. Ada pula yang hanya 10 menit (tergantung dosen).

Sepengalaman saya kuis manual yang essay 1 soal, jawabannya itu tidak ada di buku alias jawaban bebas sesuai persepsi kita (tapi bukan berarti kita tidak perlu belajar untuk persiapan kuis karena fondasi bisa mengerjakan kuis demikian ya karena kita sudah membaca materinya).

Sekian sharing saya hari ini ya sobat, selamat akhir pekan! Hehe kan sudah jumat. :)

Tuesday, December 11, 2018

Tahu Casual Relationship?

12/11/2018 07:41:00 PM 8 Comments
Beberapa hari lalu saya mendapat istilah casual relationship dari seseorang. Sumpah saya tidak tahu-menahu istilah ini. Maklumlah saya awam di dunia per-dating-an. Jadi kala itu saya mengobrol di whatsapp. Seseorang di seberang sana menanyai saya begini, "Tertarik casual relationship?"

Picture credit to Dreamstime

Jegerr! Apaan itu ya.
"Yang gimana ya?" tanya saya balik.
"Cari aja di Google," balasnya. Yaelah pelit amatlah kamu Kakak.
Baiklah saya cari di Google. Hiks. 

Kalau yang saya tangkap dari wikipedia atau pun lovepanky, casual relationship atau casual dating adalah hubungan romansa antara pria dan wanita yang melibatkan emosi maupun fisik tanpa adanya komitmen untuk menikah. Dengan kata lain pacaran tanpa komitmen. 

Casual relationship ini bentuk longgar dari relationship biasa. Jadi, di saat bersamaan kamu bisa punya pasangan casual relationship lebih dari satu. Dan hal itu adalah hal yang biasa saja karena memang konsepnya begitu. Umumnya hubungan begini adalah kebutuhan hubungan seksual tanpa adanya komitmen menikah. Dan tentu kamu bisa berhubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan casual relationship kamu itu tanpa merasa bersalah karena memang kamu dan pasangan kamu sudah saling setuju dan memahami peraturannya.

Sebenarnya casual relationship ini bukan istilah baru kalau di negara-negara barat sana. Definisi yang saya ambil juga dari situs barat. Di sana kan seks pra nikah adalah hal biasa. Jadi, casual relationship adalah hal yang lumrah di sana. Sama-sama butuh.

Oke, setelah tahu definisinya (semampu saya mencerna kalimat berbahasa Inggris yang saya baca), saya bilang, "Hmm ga deh."

Lalu saya terima emoticon sedih darinya. Lah, kenapa sedih? Kalau dia maunya casual sementara saya maunya committed kan tidak nyambung, tidak menyatu begitu ya. 

Nah, yang jadi pertanyaan saya, sama tidak sih konsep casual relationship di Indonesia dengan negara barat? Hmm... Berhubung si kakak tidak menjelaskan dan saya sudah terlanjur bilang "tidak", jadilah menjadi misteri. Saya jadi tidak tahu konsep yang dia maksud apakah sama dengan yang saya baca. :(

Kalau memang benar seperti definisi yang saya tangkap, tentu saya tidak mau. Sudah tidak muda lagi. Wasting time. Sudah banyak dosa, jangan tambah dosa lagi.  :)

Saya masih berpikir positif, semoga di Indonesia ini casual relationship adalah hubungan dating biasa yang tanpa komitmen. Tidak pakai skinship atau hubungan seksual. :D

Semoga saja di Indonesia tidak selonggar negara barat. Kalau Indonesia sudah mengadopsi dari dunia barat plek jiplek, haduh mau bilang apa saya. Kok ya sudah bebas sekali pergaulan di Indonesia. Maaf, sepertinya saya saja yang tidak gaul. :)

Karena penasaran, saya sempat bertanya ke adiknya teman saya dari UK. Dia bilang casual relationship itu ya hubungan seks tanpa ada komitmen menikah. Nah loh?

Dan hubungan tanpa komitmen ini akan sulit menjadi hubungan yang komit jika di tengah jalan salah satunya ada yang kemudian ingin berkomitmen. Tidak menutup kemungkinan jadi komit sih tapi biasanya sulit. 

Duhai Kakak, padahal awalnya percakapan kita asyik. Tapi kemudian buyar gegara munculnya kata casual relationship. Senang ketemu kamu, tidak menyangka ternyata kamu kakak kelas yang tak pernah bertemu sebelumnya. (note: kalau kamu baca ini, text me..)


Wednesday, November 28, 2018

Budaya Ngecup Bangku dari Mana?

11/28/2018 02:12:00 PM 6 Comments
Hai, kalian pasti kenal budaya ngecup bangku kan? Pernah mengalami tidak? Minta dicupkan atau mengecupkan?

Kali ini saya mau membahas kisah ngecup bangku. Kisah yang menyakitkan, menyedihkan, dan memalukan. Haduh lebay deh saya. :)

Oke, dulu saya pernah posting tentang seorang ibu yang ngecup tempat sholat dengan sajadah. Lalu kemudian saya pernah posting tentang orang yang ngecup tempat duduk di tempat makan. Lalu apa menariknya kisah yang akan saya tulis kali ini?

Kemarin siang saya berangkat ke kampus. Sampai di depan kelas, ternyata di luar tinggal nametag saya yang tertingal. Wah, berarti saya sendiri yang belum masuk kelas. Biasanya ketika saya datang, dosen belum masuk, nah kali ini rupanya dosen sudah masuk. Lalu saya masuk kelas, tap absensi dan melihat-lihat mencari tempat duduk kosong. 

Tumben sekali kok penuh semua tempat duduk terlihat dari depan. Wah, saya duduk di mana. Lalu saya menemukan spot di pojok belakang sebelah kanan ternyata kosong. Oke, saya menuju ke sana.
Setiba di sana, rupanya ada dosen lain yang sedang duduk di ujung deretan bangku saya. Jadi, sederet belakang itu bangku-bangku kosong. Lalu saya duduk di pojok.

Tak berapa lama, dosen utama selesai memberi penjelasan di depan kelas, dan menuju ke belakang (bangku tempat saya duduk). Tiba-tiba beliau menanyai saya duduk di mana. Kata beliau tempat duduk sederet belakang itu steril (hanya beliau dan dosen lain tadi yang boleh duduk di situ). Saya disuruh pindah.

Oke, memang saat itu saya pas mau maju ke depan karena mendapat jatah presentasi kelompok yang pertama. Beliau menyuruh saya pindah ke depan. Padahal tak ada lagi bangku kosong. Ada sih memang di depan kosong satu tapi sudah ada nametag dicup di situ, dibilang orangnya akan datang. Di deretan depan saya pas juga ada kosong satu tapi sama posisinya sudah ada nametag walau orangnya belum ada.

Sedih tidak sih? Tidak mendapat tempat duduk. Akhirnya saya diangkatkan kursi oleh teman (note: terima kasih ya) ke depan (dosen menyuruh angkat kursi). Tapi kursi itu kemudian saya letakkan untuk duduk di depan karena saya presentasi dan tidak ada kursi. Setelah selesai, kursi yang seharusnya untuk saya duduk pun tidak saya angkat tapi saya biarkan untuk yang selanjutnya presentasi biar bisa duduk. Padahal saya bisa angkat lagi itu kursi untuk saya duduk sendiri kalau saya mau.

Saya memilih minggir ke belakang dan permisi numpang duduk di kursi teman yang giliran dapat jatah presentasi. Begitu teman tadi selesai presentasi, saya pun sadar diri. Saya kemudian minta tolong teman yang tadi (note: lagi-lagi terima kasih) untuk mengangkatkan satu kursi tersisa di samping dosen untuk dipindah ke depan biar saya bisa duduk. Beres masalah.

Dan dua orang yang sudah dicup kursi yang tadi saya ceritakan datang jauh lebih telat dari saya. Ya tapi dia beruntung bisa langsung duduk karena sudah dicupkan kursi. Jadi mereka tidak perlu mengalami hal seperti saya. Sumpah, saat kejadian berlangsung tak ada satu pun yang menawarkan saya duduk di kursi-kursi yang kosong itu. Ya sudahlah, memang tak perlu dikasihani kok. :)


Dari kisah ini saya merasakan kepiluan (lebay lagi deh) betapa egoisnya orang-orang yang tidak memberi saya tempat duduk padahal masih ada kursi kosong. Saya menyayangkan kenapa orang yang secara fisik sudah lebih dulu hadir harus merasakan tidak kebagian kursi. Manakah yang lebih utama, yang sudah hadir atau yang belum? Sungguh tega ya membiarkan orang yang sudah hadir tidak bisa duduk. Menurut saya, siapa yang sudah hadir duluan dialah yang layak untuk duduk. Tapi apa dikata memang sudah menjadi budaya di negara kita ini. Jadi terima saja nasibmu. Makanya datanglah lebih cepat lain kali. :)

Oke, mungkin saya yang terlalu sensitif. Hal kecil begini saja dibesarkan. Saat kamu tidak berada di posisi saya kamu tidak tahu bagaimana rasanya. Saya merasa dirugikan dengan adanya budaya ngecup bangku ini. Sama halnya ketika saya sudah membawa makanan tapi saya tidak mendapat tempat duduk sementara orang-orang yang sudah duduk belum ada makanannya dan tidak mau berbagi tempat duduk. Haloooo kita sama-sama bayar loh. Kita sama-sama mau makan. Dan di situ tempat untuk umum alias untuk semua pelanggan dan bukan reservasi.

Ah, sudahlah. Itu hanya sekelumit curahan hati yang tak perlu kamu baca terlalu serius. :D

Tetap tersenyum! Hidup hanya sebentar. Semua itu adalah pendewasaan diri untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam hidup yang fana dan benar-benar hanya sebentar ini. Semakin kebal saja saya rasanya dengan hal-hal seperti ini. 

:)


Tuesday, November 27, 2018

Perlukah Hasil Skripsi Masuk Jurnal?

11/27/2018 07:47:00 PM 0 Comments
Halo Teman-teman, apa kabar semua? Hari ini saya tiba-tiba kepikiran skripsi saya masa lampau. Lalu saya iseng ketik judul di google. Ternyata oh ternyata saya menemukan beberapa judul yang sama dengan skripsi saya isinya. Saya lihat ada yang masuk ke jurnal pendidikan, jurnal bisnis, dan lain-lain. Saya juga sempat membaca isinya beberapa.

Ada banyak? Iya. Dan itu saya lihat tahunnya ada yang 2017, 2018. Masih baru sekali kan? Lalu saya merenungi skripsi saya yang tergeletak di lemari buku di rumah (di kampung). Skripsi saya tidak pernah masuk dalam jurnal manapun. Jaman dulu tidak terpikir untuk memasukkan ke jurnal. Bahkan tidak tahu bagaimana caranya memasukkan ke jurnal. Asal sudah lulus ya sudah. Betapa sederhananya pemikiran jaman dulu. Ditambah lagi jaman dulu internet belum seperti sekarang. Saya sering ke warnet untuk akses internet dan jaman dulu termasuk mahal untuk kantong mahasiswa. 

Picture credit to Dreamstime

Saya merenungi betapa tidak pedenya diri saya dengan hasil skripsi saya sendiri, hasil kerja keras saya sendiri. Saya teringat bahwa saya merasa skripsi saya tidak ada apa-apanya dibanding skripsi teman lain. Dan sempat curhat juga di blog ini. :)

Tapi setelah mencoba iseng mengetik judul tadi, saya pun berkata dalam hati, halo! apa yang saya lihat (skripsi yang mirip punya saya) masuk dalam jurnal itu sudah saya kerjakan 10-11 tahun yang lalu. :(

Jadi, apa yang saya kerjakan itu ternyata di luar sana masih ada yang meneliti hingga saat ini. Wow! Sungguh tidak menyangka. Saya teringat sewaktu saya mengajukan judul ke kampus lalu saya bertemu dosen pembimbing dan diarahkan sehingga menjadi skripsi saya itu. Saat itu saya masih mengawang-ngawang dan kemudian mengikuti arahan dosen. Saya berbekal e-book berbahasa Inggris sebagai panduan utama yang mana di situ ada dimensi untuk membuat kuesioner. Saya teringat sekali dosen penguji berkata bahwa kuesioner saya bahasanya baku/kaku. Iya betul sekali karena saya menerjemahkan sendiri. :)

Oke, mungkin skripsi saya termasuk sangat biasa jika dibandingkan dengan teman seangkatan. Tapi di luar sana kita tidak pernah tahu. 

Jadi, hikmah untuk teman-teman yang menyelesaikan skripsi, cobalah masukkan ke jurnal/konferensi hasil skripsimu itu sehingga bisa menambah manfaat/menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya. :)

Monday, November 26, 2018

Buah Persimmon Korea (Kesemek)

11/26/2018 12:16:00 PM 0 Comments
Sekitar dua hari lalu saya menemukan buah persimmon Korea alias kesemek di Foodmart. Melihat bentuknya yang lucu seperti tomat berwarna kuning tua mulus, jadi penasaran. Saya dekati ternyata namanya sweet persimmon Korea. Oalah ternyata buah kesemek kalau kita biasa menyebutnya dalam bahasa Indonesia.




Waktu saya ambil sebiji untuk ditimbang (satu saja cukuplah karena harganya mahal menurut kantong saya), seorang ibu bertanya ke saya, "Rasanya gimana, Mbak?"

"Baru mau nyoba, Bu," jawab saya. Hehe.

Lalu ibu itu tanya ke pelayan. Mungkin saking penasarannya. :)

Kalau kalian pernah makan buah kesemek Indonesia, pasti tidak asing ya. Yang beda itu bentuknya yang memang kinclong sih. Soalnya kesemek Indonesia yang saya temui warnanya kusam. :)


Oya, kesemek Korea ini memang manis. Bahkan manis sekali menurut saya mirip melon manis dan juga sawo manis. Begitu digigit kres-kres, tidak lembek. 


Buat kamu penggemar manis, cocok sekali makan kesemek Korea yang satu ini. Saya makan sebiji cepat habis walau saya penggemar buah yang asam-asam. :)


Memang soal harga terbilang mahal sih per 24 November 2018 sekilonya Rp. 59.900. Dan buah ini memang tidak familiar di Indonesia. Saya tuh keinget drama Rooftop Prince gegara kesemek ini. Karena memang di drama itu ada buah kesemek yang ditaburi bubuk racun berwarna putih seperti tepung di kerajaan. Hihi. *korban drama Korea

Oke, sekian review dari saya. Semoga bermanfaat. :)


Saturday, November 17, 2018

Dahsyatnya Membaca & Menghafal Al Quran (Review buku)

11/17/2018 06:55:00 PM 0 Comments


Buku Dahsyatnya Membaca & Menghafal Al Quran merupakan buku karangan Ustad Yusuf Mansur yang wajib kalian baca. Buku yang beli Gramedia Matraman ini adalah cetakan kedua yang terbit pada Desember 2017. Lagi-lagi random saja saya membeli buku ini. (Baca: Allah yang menggerakkan saya membeli buku ini)

Jika kalian adalah penggemar karya Ustad Yusuf Mansur maka kalian sudah bisa menebak bahwa buku ini menceritakan beberapa kisah. Gaya bahasanya juga ringan sehingga mudah dicerna. Seperti mendengar beliau bercerita begitu ya.

Menurut saya buku ini tidak berat bahasannya namun cukup bagus untuk menambah wawasan. Tetap ada ilmu yang bisa diambil dari bahasan yang diceritakan.


Untuk kalian yang sedang mencari review buku ini sebelum membeli, semoga bermanfaat. :)


Amalan Ringan Paling Menakjubkan: 20 Kiat Menuju Kebahagiaan Hidup (Review Buku)

11/17/2018 06:47:00 PM 0 Comments

Repost ya Sobat! Pertama ditulis 20/4/2018

Kali ini saya akan membuat review buku karangan Syekh Ali Jaber. Sobat, kalian pasti sudah kenal kan dengan syekh ini? Beliau sering muncul bersama ustad Yusuf Mansur di televisi. Kalau belum kenal, bisa dilihat di youtube. :)

Sebenarnya saya menemukan buku beliau ini random saja sewaktu saya berada di Gramedia. Random? Catat: Hmm, pastinya karena Allah yang menggerakkan saya untuk membeli buku ini ya. Sebulan belakangan ini memang saya wara-wiri ke Gramedia setiap seminggu sekali. Wow boros! :)

Tidak pernah pulang tanpa membawa buku. Minimal ada satu buku yang saya beli. Dibaca tidak? Dibaca walau belum semuanya kelar. Saya mencicil membacanya. Waiting list ada banyak! :D

Saya punya target untuk tahun ini saya ingin menyelesaikan banyak buku selain buku kuliah pastinya. Semoga tercapai bismillah. Karena saya merasa sekali bahwa minat membaca buku saya semakin menurun saja seiring berjalannya waktu. Menonton terasa lebih asyik ketimbang membaca buku. Padahal dalam tayangan video hanyalah intisari yang disampaikan, tidak sedetil buku pastinya. Makanya rugi besar kalau saya tidak membaca buku.

Oke, mari lanjut ke buku yang akan saya review ini. Buku yang saya beli ini merupakan cetakan kedua Desember tahun 2017. Tebal buku sebanyak 208 halaman. Buku ini membahas amalan-amalan yang mungkin saja belum pernah kalian tahu sebelumnya seperti sedekah subuh.

Daftar isi

Beliau juga menceritakan tentang 3 amalan agar hidup tidak merugi. Apakah itu? Yang pertama adalah membaca Al Quran. Kedua, mendirikan sholat. Terakhir yaitu infaq/sedekah. Untuk penjabarannya bisa kalian baca langsung di bukunya secara detail.

Selain itu, beliau juga memberi tahu 2 amalan untuk mewujudkan hajad. Sebagai manusia, siapa yang tidak punya hajad hayo tunjuk tangan? Kita semua pasti punya dan ingin terwujud kan? Nah, buku ini memberikan membahas tentang amalan yang bisa digunakan untuk mewujudkan hajad.

Daftar isi

Oleh karena itu, buku ini adalah buku yang bagus untuk kalian baca dan kemudian amalkan isinya. Siapa tahu yang kalian cari ada di buku ini.

Sekian sharing dari saya. Semoga bermanfaat. :)

Wednesday, October 24, 2018

Pengalaman Kursus Terjemah Teks Hukum LBI UI Tingkat Dasar

10/24/2018 06:51:00 PM 29 Comments
Halo Readers, adakah kalian yang berminat mengikuti kursus terjemah? Jika ada, LBI UI menawarkan beberapa program terjemah (bisa dicek di website LBI UI). Nah, kali ini saya ingin sharing tentang salah satu program terjemah yaitu teks hukum.


Sebenarnya saya ini tak punya alasan khusus kenapa saya mengambil kursus ini. Niat utama adalah mengisi waktu luang semasa libur panjang semester dua. Awalnya berniat mengambil yang teks umum tapi teks umum adanya hanya malam hari. Saya maunya mengambil kursus di hari Sabtu saja. Pilihan yang ada di hari Sabtu hanyalah teks hukum. Jadi, saya beranikan diri mendaftar dengan membayar sebesar 125 ribu rupiah kemudian mengikuti placement test. Placement test ini menentukan tingkat yang akan diikuti peserta nantinya jika lulus. Teks hukum memiliki 3 tingkat yaitu dasar, menengah, dan lanjut. Note: tidak semua pendaftar lulus placement test.

Sejujurnya saya merasa tidak pede mendaftar kursus terjemah apalagi teks hukum. Pertama, saya tidak ada basic terjemah sama sekali. Saya bukan dari sastra Inggris atau pun yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Saya tidak punya pengalaman kerja sebagai penerjemah pula. Dan juga tak ada hubungannya sama sekali dengan hukum. Bahkan legal English pun saya tidak kenal atau pernah belajar sebelumnya. Jadi, saya ini modal nekad saja. Benar-benar orang yang nekad saya ini. 

Pendaftaran
Setelah saya mendapat slip pendaftaran, saya menjadi galau dan berpikir ulang apakah saya ganti teks umum saja. Tapi si Mbak Admin pendaftaran seperti enggan untuk mengubah slip karena memang sudah dicetak dan menyarankan saya coba dulu. Setelah itu si Mbak Admin memberitahu jadwal placement test dan memberitahu saya untuk membawa kamus saat placement test karena tidak diperkenankan menggunakan internet. Waduh, mana saya punya kamus di sini. Rasa-rasanya sudah beberapa tahun lalu terakhir saya buka kamus. Setelah itu saya langsung meluncur ke Gramedia dan membeli kamus seharga 100 ribu. :)

Placement test
Saat jadwal placement test tiba, saya kembali datang ke LBI. Ternyata di dalam kelas sudah banyak yang hadir. Saya terlambat hadir. Soal yang diujikan adalah terjemah Indonesia-Inggris dan sebaliknya. Teksnya pun memang teks hukum. Wow. Banyak yang saya tidak mengerti terjemahannya. Dan kamus saya itu tidak bisa diandalkan. Penyebab utamanya adalah karena tidak lengkap. Hehe. :)

Saya pun menjawab sesuai kemampuan saya saja. Semua soal bisa terisi sesuai waktu yang diberikan yaitu 2 jam kalau tidak salah ingat. 

Pengumuman
Pengumuman disampaikan melalui email ke peserta. Saya lupa berapa lama waktu itu. Saat saya menerima email pengumuman lalu saya lihat saya lulus tingkat dasar, rasa-rasanya malah seram sendiri. Kok bisa? Dan masih merasa tidak pede.

Belajar-mengajar di kelas 
Kelas Sabtu tingkat dasar diadakan di lantai 3 ruang 302. Durasi belajar mengajar 4 jam per pertemuan selama 10x pertemuan dengan biaya sebesar 3,5 juta rupiah. 

Di kelas saya muridnya ada 9 orang termasuk saya. Rata-rata mereka berhubungan dengan penerjemahan. Entah itu ada pengalaman kerja sebagai penerjemah atau pun background pendidikan bahasa Inggris. Selain itu ada yang basic-nya hukum. Lah, saya? Huhu tidak nyambung ke mana-mana. Saat ditanya pengajarnya sewaktu perkenalan saya hanya menjawab just for fun. :D

Saya jadi berpikir saya ini seperti tidak ada tujuan. Hanya ikut-ikut saja begitu ya. Beda sekali dengan mereka yang memang ada tujuannya. Paling utamanya untuk upgrade skill demi pekerjaan. Lah, saya? Saya sadar sekali pekerjaan saya apa dan pendidikan saya apa. Tapi saya ini memang nekad. Saya ini orang yang ingin mencoba hal-hal baru. Nah, ini contohnya. :)

Di awal-awal pertemuan sih ya pastilah saya ini banyak menyerap pelajaran baru. Kalau dibanding murid lain jelas saya tidak ada apa-apanya kalau saya membandingkan diri saya. Minimal mereka sudah familiar beberapa kosakata hukum yang masih asing di telinga saya. Tapi hal itu tidak menyurutkan saya untuk terus belajar atau pun merasa minder. Mereka juga sama kok masih banyak salah. Dan ya menurut saya kami tidak jauh bedalah. Masih sama-sama belajar. Buktinya satu kelas. Meski mereka sudah banyak jam terbangnya untuk terjemahan tapi teks hukum masih baru juga bagi mereka makanya mereka mengambil kursus ini. 

Namanya salah dalam belajar kan biasa. Tidak belajar kalau tidak ada salah. :)

Jadi, jangan menyerah sebelum berjuang ya! Terkadang kesulitan-kesulitan itu hanya ada di pikiran kita saja. Yang penting optimis dan action dulu.

Saya merasa loh ada peningkatan dibanding awal-awal masuk. Kalau saya bandingkan dengan awal-awal masuk itu, beda jauhlah. Dan saya senang mendapat ilmu baru meski belum tahu ke depannya akan bagaimana. Yang penting saya serap saja dulu ilmunya. 

Di kelas banyak latihan menerjemahkan kalimat. Murid diberi kesempatan untuk mencoba menerjemahkan satu per satu lalu dikoreksi langsung oleh pengajar. Dan di kursus ini ada mid test dan final test.

Mid test dan final test masing-masing 3 jam. Alhamdulillah sudah lulus tingkat dasar. Saya lihat nilai saya di report adalah b+. Ya lumayanlah untuk pemula seperti saya. :)

Sertifikat
Sertifikat bisa diperoleh jika memenuhi persyaratan minimal 75% kehadiran. Jika lulus tingkat dasar maka bisa melanjutkan ke tingkat menengah. 









Cara Ganti Kartu yang Hilang di Gra Pari Telkomsel

10/24/2018 07:07:00 AM 0 Comments
Ceritanya saya mau mengurus kartu SIM Telkomsel saya ke Gra Pari tepat pada hari jumat minggu lalu (19/10/2018). Tapi sebelumnya saya mau cerita pendahuluannya dulu ya Sobat. Jadi, jumat lalu itu saya kehilangan HP di sebuah mall di Jakarta. Bagaimana kisahnya?


Kronologi HP hilang
Teknis kejadiannya saya sendiri tidak ingat bagaimana saya bisa kehilangan hp tanpa saya sadari. Saya benar-benar dibuat lupa oleh Allah saat itu. Terakhir saya ingat betul bahwa saya sempat mengeluarkan hp dari tas dan mengecek whatsapp grup kuliah saya karena hari itu adalah deadline pengumpulan tugas. Saya sempat baca beberapa posting terakhir dari teman-teman di grup.

Lalu dalam posisi hp tetap saya pegang dengan tangan, saya masuk ke swalayan baju wanita dan melihat-lihat baju di sana. Sampai tiga kali mencoba baju, saya masih tidak merasa kehilangan hp loh. Begitu saya ke kasir dan selesai membayar, saya ingat saya mau ambil hp dari tas tapi kok ternyata tidak ada. Wah, hilang nih pikir saya. Saya telusuri tempat yang tadinya saya lewati ternyata tidak ada. Ya barangkali saja jatuh atau saya lupa taruh. 

Saya sama sekali tidak merasa saya menaruh hp di mana pun. Tidak ada tempat untuk meletakkan hp juga di sana. Begitu pula di ruang ganti hanya ada satu gantungan. Kalaupun jatuh, saya tidak dengar juga. Saya ingat-ingat tetap saja tidak bisa ingat. Heran.

Kondisi swalayan waktu itu tergolong sepi. Ada pengunjung tapi tidak banyak. Dari pertama saya memilih baju untuk dicoba, saya sempat memilih baju berdekatan dengan pengunjung lain. Yang agak berbeda adalah setelah selesai saya mencoba baju yang pertama, saya kembali ke tempat baju awal karena saya pikir bakal diberi nota. Tapi saat itu saya melihat baju lain terlebih dahulu. Saya tiba-tiba melihat ibu-ibu sekitar 3-4 orang tak berhijab datang ke arah saya memilih baju juga di dekat saya semuanya. Saya seperti dihimpit dari depan, samping dan belakang. 

Saat itu, baju yang sudah saya coba saya taruh di lengan kiri saya. Tangan kanan saya memilih-milih baju yang lain. Nah, ibu yang di depan saya memilih baju yang ada di rak yang sama dengan saya. Bahkan sempat memegang-megang baju di lengan kiri saya itu. Di situ saya agak merasa aneh. Kok dia pegang-pegang yang ada di saya. Lalu dia mengambil baju yang sama yang saya pilih di tangan kanan tapi tidak dibeli.

Saat itu saya sempat bicara sesuatu ke ibu itu tapi saya tidak bisa ingat saya bicara apa. Setelah itu saya berikan baju yang mau saya beli ke penjaga baju. Saat baju diserahkan ke saya dalam wadah plastik saya bilang ke penjaganya, "Oh, tidak pakai nota ya."

Sebelumnya juga saya ingat bicara dengan mbak penjaganya, "Boleh dicoba, Mbak." Tapi heran kok saya tidak ingat sama sekali bicara apa sama ibu tadi. Dan selama 2 jam saya di sana, saya sama sekali tidak membuka tas. Padahal ada dum-dum di dalamnya dan saya merasa haus. Saya yang biasanya aware dengan hp juga saat itu tidak ada keinginan mengecek hp. Aneh.

Saat mencoba baju yang ketiga, di dalam ruang ganti saya mengecek uang saya di dalam tas tapi masih tidak aware hp hilang. Setelah itu saya baru ke kasir. Dan taraaaaaa.... baru sadar. Sudah terlambat!

Setelah saya lacak hp saya, posisi terakhir ada di mall itu saat gps terakhir masih hidup yaitu pukul 15.02. Saya misscall hp pukul empat sore lebih dan hp sudah tidak aktif. Ya iyalah...

Padahal saya masuk ke swalayan itu sekitar jam 2 an. Berarti jeda 1 jam hp hilang antara pukul 2 sampai 3 siang. Dan perkiraan saya di percobaan baju yang pertama atau kedua. Wallahualam.

Oya, kenapa setelah dari kasir, saya kok mencari hp di tas? Apakah itu artinya memang saya meletakkan hp di tas sehingga reflek mencari di tas? Kemungkinan sih saya meletakkannya di tas saat mencoba baju yang pertama. Karena sulit mencoba baju sambil pegang hp. 

Tapi kemudian saya keluar dan bertemu ibu-ibu rombongan. Saya tak ingin suudzon ya Allah. Saya juga tak pernah terpikir akan kena musibah begini. Tidak kepikiran juga ada hipnotis dan semacamnya.

Gra Pari Mall Bashura, Gagal Total!
Akhirnya saya ke Gra Pari Mall Bashura. Saat datang ditanya satpamnya mau apa, bahwa ktp tidak. Lalu saya dapat kertas antrian.


Setelah bertemu adminnya, saya diminta ktp dan ditanya 3 nomor yang biasa saya hubungi. Waduh, mana saya ingat. Saya tidak bawa hp lain pula. Seperti orang hilang rasanya. Saya pun tidak mendapat hasil apa-apa. Sedih...

Untuk pulang saja saya minta dipesankan gojek sama satpam Telkomsel. Ya Allah... Berangkatnya juga dipesankan sama penjaga counter hp. 

Susah benar hidup saya...

Blokir Nomor
Akhirnya saya pulang dengan selamat. Berhubung magrib saya sampai, saya tidak keluar lagi untuk mengurus kartu. Ada sih Gra Pari 24 jam rekomendasi operator yang saya telpon untuk memblokir nomor saya terlebih dahulu ke 188. Besok saja, saya sudah lelah.

Ubah Password
Malam itu saya habiskan untuk mengubah-ubah password yang ada di aplikasi. Tapi sedih, koneksi internet teman kos saya lambat sekali, wifi juga pas mati. Lalu teman saya yang lain pulang, barulah saya lacak keberadaan hp dengan koneksi internet dia yang lebih kencang. 

Telpon Operator Gojek Segala, Lebay ga sih?
Saya sempat telpon gojek segala loh lapor kartu hilang. Takutnya kan disalahgunakan. Tapi saya harus email ke gojek beberapa hal untuk mengurus itu. Si admin hanya bisa bantu me-logout. Ya sudah tak apa. Syukurlah bisa dibantu logout. Saldo go-pay masih banyak. :D

Tengah malam baru kelar dan saya tidur. Besok pagi saya minta teman kos memesankan gojek ke Gra Pari 24 jam yaitu di Wisma Alia. Saya sudah menyiapkan juga nomor-nomor yang pernah saya hubungi. Ini nomor keluar ya.

Gra Pari 24 Jam Wisma Alia
Di sana, saya disuruh mengisi formulir yang berisi beberapa pertanyaan identitas. Dari 4 nomor yang saya isi ternyata hanya 1 nomor yang match untuk 3 bulan terakhir dan itu adalah nomor saya sendiri yang ada di hp lain. Ya iyalah itu kan yang 3 lagi memang lebih dari 3 bulan di hp saya yang sebelumnya saya pakai. Nomor keluar sms pun saya tidak ingat karena tidak saya simpan. Saya jarang pakai nomor itu untuk selain internet. Jadi saya bilang saja saya biasa pakai untuk internet. Lalu mbaknya mau membantu membuatkan kartu baru. Horeeeee.

Cukup 20 ribu saja!
Diminta bayar 20 ribu dalam bentuk pulsa loh. Saya disuruh mengisi pulsa di pojok karena pulsa saya tinggal 1000-an tapi paket data masih banyak. Hehe. Tapi pertama isi gagal. Dibilang error. Kata mbak admin, saya belum registrasi kartu keluarga. Sudah kok kata saya. Lalu saya bilang pernah terblokir. Eh, mbaknya nyambung. Ternyata penyebab error tadi adalah karena kartu masih terblokir. Padahal maksud saya terblokir dulu kala sebelum registrasi. Dan ya memang malamnya setelah hp hilang saya blokir. :D

Kesimpulan, hp yang hilang diambil hp-nya saja. Mungkin dijual. Buktinya langsung tidak aktif hanya dalam waktu sejam kejadian. Alhamdulillah saja aplikasi dan lain-lain masih aman. Padahal saya sudah sempat stress. Saya memang berharap yang mengambil bukan orang pintar yang melek teknologi, jadi hpnya saja yang diambil. 

Ok, sekian cerita sedih saya. Selamat beraktivitas!






Saturday, September 15, 2018

Cara Membuat Sirup Cranberries

9/15/2018 11:35:00 AM 0 Comments

Halo Readers! Saya kembali hadir. Kali ini saya membagi cerita tentang membuat sirup cranberries. Kalian pasti pernah mendengar cranberries kan? Bukan cranberries nama band musik dari Amerika Serikat ya tapi ini nama salah satu buah bergizi tinggi (superfood).

Kamu mungkin sudah pernah dengar berbagai buah berry seperti strawberry, raspberry, blueberry dan blackberry. Buah-buahan ini memang tidak familiar di Indonesia karena memang tidak berasal dari Indonesia. Nah, jangan ketinggalan, ada juga cranberry. Buahnya kecil-kecil berwarna merah cantik. Rasanya? Asam dan juga sepet. Kalau asamnya sih saya suka tapi sepetnya itu yang tidak nahan.


Pertama saya coba rasanya, waduh batin saya. Enaknya diapakan ini. Dimakan mentah rasanya sangat tidak mungkin saya menghabiskan 500 gram sendirian. Lagipula, siapa yang mau buah rasa asam dan sepet seperti itu jika dikasih ke orang. Dibuang? Sayang... Harganya cukup mahal di kantong saya. 500 gram saya beli seharga 50 ribu rupiah.

Ya sudah, akhirnya saya coba blender. Dan ternyata nih, sepetnya tetap tidak hilang. Tidak tahan dengan sepetnya itu, saya cari alternatif lain. Mau diapakan ya baiknya? Akhirnya saya terpikir membuat manisan. Tapi ternyata malah jadinya sirup. Hehe.

Cara membuatnya cukup sederhana.

Bahan:
1. Cranberries sekitar 500 gram (sudah saya kurangi untuk satu kali jus)
2. Gula pasir secukupnya
3. Air
4. Lemon

Cara memasak:
1. Rebus cranberries beserta gula hingga matang (empuk).


2. Angkat buah cranberries 
3. Dinginkan sisa airnya
4. Sajikan sirup craberries dengan es batu dan perasan lemon.
Sirup bisa disimpan di freezer dalam waktu lama. 


Gampang kan cara membuat sirup cranberries. Rasanya bagaimana? Setelah menjadi sirup tidak terasa lagi sepetnya. Kalaupun masih ada sisa rasa sepet tidak banyak. Beda jauh dibandingkan dikonsumsi dalam bentuk jus. Mirip teh rosella jika kamu pernah mencoba. Warnanya juga cantik sekali kan merah mirip wine.

Selamat mencoba! :)


Friday, September 14, 2018

Buah Tin Segar dan Kering (Figs)

9/14/2018 05:35:00 PM 0 Comments
Apakah kalian penyuka buah? Sudah pernah mencoba buah tin? Buah tin atau ara ini (ada yang menyebut buah surga) punya segudang manfaat. Buah tin bisa kamu nikmati baik buah segarnya maupun dalam bentuk buah kering.


Di Indonesia memang tidak familiar kan ya buah tin ini. Saya sendiri juga tidak menemukan buah ini nongkrong di pasar-pasar atau pun supermarket. Tapi, buah ini belakangan mulai terdengar gaungnya di Indonesia. Ada yang mulai membudidayakannya. 

Kalau di luar negeri sih jangan heran ya buah ini cukup populer. Dalam bahasa Inggris buah tin disebut sebagai figs. Dan salah seorang teman saya orang UK suka dengan buah ini. Ya, maklum juga kalau di UK memang segalanya ada kali ya. :)

Buah tin kering (dried figs)
Saya pertama kali mencoba buah tin yang bentuk kering (dried figs). Warnanya putih. Kalau dimakan berasa menggigit pasir kecil-kecil (bijinya). Rasanya mirip kismis, asam manis.


Buah tin segar (fresh figs)
Setelah itu, saya penasaran ingin mencoba buah aslinya. Nah, saya beli 150 gram seharga 35 ribu. Mahal sekali ya. Isinya kecil-kecil sebanyak 8 buah. Lumayanlah. Yang saya beli ini yang jenis turkey brown. Ada jenis lain yang lebih besar tapi lebih mahal lagi. Yang saya beli adalah buah lokal dari perkebunan Subang. Langsung dipetik dari pohonnya sepertinya jika ada yang beli. Nah, ini saya beli online.


Rasanya bagaimana? Empuk, manis keasaman. Bisa dimakan langsung dengan kulitnya karena kulitnya ternyata tipis dan tidak keras alias empuk. Warna dalamnya (biji) agak kemerahan yang masih segar. Lewat semalam saja warna isinya sudah berubah menjadi coklat kalau tidak disimpan di dalam kulkas. Aromanya enak. Saya suka. 

Menurut saya sih tidak mengecewakan. Mungkin lain kali perlu coba jenis yang lain. :)

Sekian ulasan dari saya. Yuk coba buah tinnya