Follow Us

Tuesday, December 25, 2018

Tanganmu Harimaumu, Awas!

12/25/2018 11:21:00 PM 4 Comments


Kalau jaman dulu mendengar kata pepatah atau kata bijak itu hal yang biasa dan sering. Tapi sekarang? Masihkah? Di era modern yang serba teknologi ini loh. 

Kata bijak mulutmu harimaumu tentu sudah tidak asing ya kan? Tapi kalau tanganmu harimaumu? Hehe ini cuma plesetan saya saja. Jaman sekarang kan orang banyak berkutat di depan gadget. Lebih banyak menggunakan tangan untuk berkomunikasi ketimbang mulut dan bertatap muka. 

Jika kamu penggemar youtube, apakah kamu termasuk yang suka menulis komentar? Apakah kamu yang suka menonton sambil membaca komentar?

Kalau saya pribadi termasuk yang silent reader. Dan saya mengamati banyak sekali komen-komen yang positif maupun negatif. 

Belakangan juga saya sering membaca berita netizen dilaporkan pemilik konten media sosial seperti youtube/instagram karena komen negatif entah itu karena mengancam, mem-bully, dan semacamnya. Dan setelah ketemu tersangkanya, rata-rata anak abege. OMG!

Miris rasanya. Kebebasan berpendapat di dunia maya dengan nama samaran (nickname) seperti tidak ada batas lagi. Orang bebas berkomentar apa saja semaunya tanpa memikirkan pemilik konten yang ternyata adalah manusia juga sama seperti yang memberi komentar. Mereka punya hati dan perasaan juga. Ya iyalah sesama manusia. :)

Semestinya hal seperti ini diantisipasi. Jangan sampai teknologi malah memberi efek negatif. Orang seperti tidak sadar bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang tidak baik. Baru tahu setelah kena batunya (terciduk). Hmm...

Maka itu, hati-hatilah menggunakan tanganmu untuk mengetikkan kata-kata di gadgetmu. Karena apa pun yang kamu ketik akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Gunakanlah media sosial untuk hal-hal yang baik/positif. 

Jangan malah muncul:
1. Budaya nyinyir
2. Budaya bully
3. Kriminal

:)

Begini yang Terjadi Kalau Tidak Rejeki

12/25/2018 10:33:00 PM 0 Comments


1. Tumpah

Sore tadi saya baru saja duduk di depan atm Gramedia Matraman bersama seorang teman. Kami menikmati segelas Dum-Dum rasa Thai Tea. Baru berapa seruput, gelas teman saya terlempar jatuh ke lantai. Otomatis isinya tumpah karena tutupnya terlepas. Lantai pun kotor. Masih ada tersisa beberapa seruput di bagian dalam gelas.

Teman saya bilang, "Apa kurang sedekah ya." Dia merasa mungkin kurang sedekah karena minuman seharga 22 ribu itu tak bisa dinikmati lagi. Bahkan menurutnya baru dua ribu yang dia minum. :)

Hmm, kalau tidak rejeki memang ada-ada saja alias banyak cara Allah untuk mengambilnya secara tak terduga. Salah satunya adalah contoh di atas. 

Perihal apakah memang benar kurang sedekah, wallahu alam. Allah yang lebih tahu. :)

2. Tertinggal

Saya pun pernah mengalami kejadian yang namanya tidak rejeki ini. Hal-hal simpel sih ya. Pernah suatu ketika saya beli segelas Hop-Hop. Lalu saya mampir makan di sebuah tempat makan (Platinum) bersama teman saya di Atrium Senen. Lalu kami pulang terpisah. Sampai di kos saya baru sadar kalau minuman saya tidak saya bawa. Entah tertinggal di Platinum atau di lantai satu sewaktu saya sempat mampir sebentar melihat fashion show. :)

3. Tertukar

Kejadian 1
Pernah juga saya membeli bungkusan sebanyak 2 plastik dengan isi berbeda. Sengaja saya pisah plastik karena satu plastik untuk orang lain. Yang untuk saya, langsung saya masukkan tas. Begitu sampai di kos, rupanya plastik tertukar. :)

Kejadian 2
Suatu ketika saya pernah naik travel dan membawa sebuah kardus ditaruh di bagasi belakang mobil. Saya turun dini hari gelap itu. Dan buruknya saya tidak ingat kardus saya (tidak diberi nama atau tanda). Dan rupanya ada kardus-kardus lain juga yang mirip. Jadilah saya salah memilih kardus. Padahal saya penumpang pertama yang turun. Ketika pagi hari akan berangkat ke kantor, saya bongkar isi kardus ternyata salah kardus. Isinya jauh berbeda dari punya saya. Isinya makanan semua sih sama seperti yang saya dapat juga makanan. Tapi sangatlah berbeda. Dan ya mau bagaimana lagi. Sudah tertukar dengan penumpang lain yang rumahnya jauh. Penumpang itu pun tak menelpon ke sopir travel. Padahal saya menelepon ke sopir travel. Ya sudahlah bukan rejeki. :)

Kejadian 3
Kalau cerita yang ini kisahnya ibu saya. Jadi beliau itu memisahkan bungkusan dalam plastik untuk saya dan kakak saya. Tak tahunya bungkusan itu tertukar. Padahal ibu saya loh yang memberikan sendiri ke kakak saya. :)

Masih banyak tentunya kisah-kisah tak rejeki. Justru hal-hal kecil yang terjadi. Tapi cukup mengena. Tidak menyangka. Tapi semua kejadian itu mengajarkan saya untuk ikhlas. :)





Friday, December 14, 2018

Jenis Soal UTS, UAS dan Kuis Kuliah S2

12/14/2018 01:10:00 AM 0 Comments
Hai Sobat yang budiman, saya sedang ingin posting bebas (ah biasanya juga posting bebas random kok). Kali ini ingin cuap-cuap sedikit saja (banyak juga bebas kali kan blog sendiri) tentang jenis soal uts, uas, dan kuis berdasarkan pengalaman saya selama 3 semester ini.

Picture credit to dreamstime


UTS (Ujian Tengah Semester)

Mayoritas mata kuliah ada UTS. Hanya beberapa mata kuliah yang tidak ada UTS, bisa dihitung jari per semester sekitar 1 mata kuliah.

UAS (Ujian Akhir Semester)
Sebagian mata kuliah ada UAS tapi sebagian tidak (horeee!). Kalau tidak ada UAS biasanya diganti dengan presentasi akhir kelompok.

Berikut adalah jenis soal UTS dan UAS. Yuk simak!

Essay vs Pilihan ganda
Jenis soal favorit alias paling banyak adalah essay (uraian). Ada juga yang kombinasi essay dan pilihan ganda. Mata kuliah yang UTS-nya pilihan ganda saja ada tapi saya tidak mengambil mata kuliah pilihan tersebut. Selama 3 semester hanya ada 2 mata kuliah yang soalnya kombinasi essay dan pilihan ganda. Sisanya essay semua.

Kalau soal pilihan ganda, jawabannya sudah pasti ada 1 yang benar di antara pilihan jawaban ya. Nah, kalau essay, jawabannya tidak ada benar atau salah. Mungkin lebih ke ketepatan. 

Closed book vs Open book vs Open Notes
Mending mana, closed book, open book atau open notes? Semuanya ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tipe soal closed book biasanya ada jawabannya di buku tapi sulitnya adalah harus kuat menghapal. Sedangkan tipe soal open book memudahkan orang supaya tidak menghapal namun kabar buruknya biasanya soal tidak ada jawabannya di buku. Oh tidak!

Nah, yang terakhir open notes ini menuntut kita untuk membuat catatan untuk menjadi pegangan kita sewaktu ujian. Bisa hanya berupa catatan di kertas A4/folio selembar. Ada juga yang bebas sebanyak-banyaknya asal tulisan tangan. Open notes ini bikin mabuk karena harus menulis kecil-kecil sekali supaya muat mencatat sekian bab hanya di selembar kertas A4. Kebayang? Kertas dibagi dulu digaris-garis sesuai bab supaya semua bab masuk (kalau saya loh ya). Keriting rasanya ini tangan (hehe lebay). Rugi kan kalau sampai ada yang tidak tercatat padahal kita sudah diberi peluang untuk mencatat dan ternyata keluar di ujian.

Uraian vs Hitungan
Kalau ini sih tergantung materi mata kuliahnya ya. 

Case study vs text book
Beberapa mata kuliah ada yang soalnya case study. Namun kebanyakan sesuai text book, hanya saja tidak sama persis di text book. Jenis soal case study lebih sulit menurut saya karena menuntut pemahaman kita akan materi (otak berpikir lebih keras - saya doank kali ya).

Kuis
Tidak semua mata kuliah ada kuis. Kuis ada yang terjadwal ada pula yang tidak alias dadakan (siap-siap saja). Ada yang setiap minggu kuis ada pula yang setiap sekian pertemuan baru kuis. Ada kuis online (pilihan ganda) ada pula yang manual (diberi kertas soal, pilihan ganda). Ada yang soalnya essay hanya satu soal dan hanya ditampilkan di slide (jadi harus dicatat ulang atau difoto soalnya biar jelas). Kuis waktunya paling hanya 30 menit. Ada pula yang hanya 10 menit (tergantung dosen).

Sepengalaman saya kuis manual yang essay 1 soal, jawabannya itu tidak ada di buku alias jawaban bebas sesuai persepsi kita (tapi bukan berarti kita tidak perlu belajar untuk persiapan kuis karena fondasi bisa mengerjakan kuis demikian ya karena kita sudah membaca materinya).

Sekian sharing saya hari ini ya sobat, selamat akhir pekan! Hehe kan sudah jumat. :)

Tuesday, December 11, 2018

Tahu Casual Relationship?

12/11/2018 07:41:00 PM 8 Comments
Beberapa hari lalu saya mendapat istilah casual relationship dari seseorang. Sumpah saya tidak tahu-menahu istilah ini. Maklumlah saya awam di dunia per-dating-an. Jadi kala itu saya mengobrol di whatsapp. Seseorang di seberang sana menanyai saya begini, "Tertarik casual relationship?"

Picture credit to Dreamstime

Jegerr! Apaan itu ya.
"Yang gimana ya?" tanya saya balik.
"Cari aja di Google," balasnya. Yaelah pelit amatlah kamu Kakak.
Baiklah saya cari di Google. Hiks. 

Kalau yang saya tangkap dari wikipedia atau pun lovepanky, casual relationship atau casual dating adalah hubungan romansa antara pria dan wanita yang melibatkan emosi maupun fisik tanpa adanya komitmen untuk menikah. Dengan kata lain pacaran tanpa komitmen. 

Casual relationship ini bentuk longgar dari relationship biasa. Jadi, di saat bersamaan kamu bisa punya pasangan casual relationship lebih dari satu. Dan hal itu adalah hal yang biasa saja karena memang konsepnya begitu. Umumnya hubungan begini adalah kebutuhan hubungan seksual tanpa adanya komitmen menikah. Dan tentu kamu bisa berhubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan casual relationship kamu itu tanpa merasa bersalah karena memang kamu dan pasangan kamu sudah saling setuju dan memahami peraturannya.

Sebenarnya casual relationship ini bukan istilah baru kalau di negara-negara barat sana. Definisi yang saya ambil juga dari situs barat. Di sana kan seks pra nikah adalah hal biasa. Jadi, casual relationship adalah hal yang lumrah di sana. Sama-sama butuh.

Oke, setelah tahu definisinya (semampu saya mencerna kalimat berbahasa Inggris yang saya baca), saya bilang, "Hmm ga deh."

Lalu saya terima emoticon sedih darinya. Lah, kenapa sedih? Kalau dia maunya casual sementara saya maunya committed kan tidak nyambung, tidak menyatu begitu ya. 

Nah, yang jadi pertanyaan saya, sama tidak sih konsep casual relationship di Indonesia dengan negara barat? Hmm... Berhubung si kakak tidak menjelaskan dan saya sudah terlanjur bilang "tidak", jadilah menjadi misteri. Saya jadi tidak tahu konsep yang dia maksud apakah sama dengan yang saya baca. :(

Kalau memang benar seperti definisi yang saya tangkap, tentu saya tidak mau. Sudah tidak muda lagi. Wasting time. Sudah banyak dosa, jangan tambah dosa lagi.  :)

Saya masih berpikir positif, semoga di Indonesia ini casual relationship adalah hubungan dating biasa yang tanpa komitmen. Tidak pakai skinship atau hubungan seksual. :D

Semoga saja di Indonesia tidak selonggar negara barat. Kalau Indonesia sudah mengadopsi dari dunia barat plek jiplek, haduh mau bilang apa saya. Kok ya sudah bebas sekali pergaulan di Indonesia. Maaf, sepertinya saya saja yang tidak gaul. :)

Karena penasaran, saya sempat bertanya ke adiknya teman saya dari UK. Dia bilang casual relationship itu ya hubungan seks tanpa ada komitmen menikah. Nah loh?

Dan hubungan tanpa komitmen ini akan sulit menjadi hubungan yang komit jika di tengah jalan salah satunya ada yang kemudian ingin berkomitmen. Tidak menutup kemungkinan jadi komit sih tapi biasanya sulit. 

Duhai Kakak, padahal awalnya percakapan kita asyik. Tapi kemudian buyar gegara munculnya kata casual relationship. Senang ketemu kamu, tidak menyangka ternyata kamu kakak kelas yang tak pernah bertemu sebelumnya. (note: kalau kamu baca ini, text me..)


Wednesday, November 28, 2018

Budaya Ngecup Bangku dari Mana?

11/28/2018 02:12:00 PM 6 Comments
Hai, kalian pasti kenal budaya ngecup bangku kan? Pernah mengalami tidak? Minta dicupkan atau mengecupkan?

Kali ini saya mau membahas kisah ngecup bangku. Kisah yang menyakitkan, menyedihkan, dan memalukan. Haduh lebay deh saya. :)

Oke, dulu saya pernah posting tentang seorang ibu yang ngecup tempat sholat dengan sajadah. Lalu kemudian saya pernah posting tentang orang yang ngecup tempat duduk di tempat makan. Lalu apa menariknya kisah yang akan saya tulis kali ini?

Kemarin siang saya berangkat ke kampus. Sampai di depan kelas, ternyata di luar tinggal nametag saya yang tertingal. Wah, berarti saya sendiri yang belum masuk kelas. Biasanya ketika saya datang, dosen belum masuk, nah kali ini rupanya dosen sudah masuk. Lalu saya masuk kelas, tap absensi dan melihat-lihat mencari tempat duduk kosong. 

Tumben sekali kok penuh semua tempat duduk terlihat dari depan. Wah, saya duduk di mana. Lalu saya menemukan spot di pojok belakang sebelah kanan ternyata kosong. Oke, saya menuju ke sana.
Setiba di sana, rupanya ada dosen lain yang sedang duduk di ujung deretan bangku saya. Jadi, sederet belakang itu bangku-bangku kosong. Lalu saya duduk di pojok.

Tak berapa lama, dosen utama selesai memberi penjelasan di depan kelas, dan menuju ke belakang (bangku tempat saya duduk). Tiba-tiba beliau menanyai saya duduk di mana. Kata beliau tempat duduk sederet belakang itu steril (hanya beliau dan dosen lain tadi yang boleh duduk di situ). Saya disuruh pindah.

Oke, memang saat itu saya pas mau maju ke depan karena mendapat jatah presentasi kelompok yang pertama. Beliau menyuruh saya pindah ke depan. Padahal tak ada lagi bangku kosong. Ada sih memang di depan kosong satu tapi sudah ada nametag dicup di situ, dibilang orangnya akan datang. Di deretan depan saya pas juga ada kosong satu tapi sama posisinya sudah ada nametag walau orangnya belum ada.

Sedih tidak sih? Tidak mendapat tempat duduk. Akhirnya saya diangkatkan kursi oleh teman (note: terima kasih ya) ke depan (dosen menyuruh angkat kursi). Tapi kursi itu kemudian saya letakkan untuk duduk di depan karena saya presentasi dan tidak ada kursi. Setelah selesai, kursi yang seharusnya untuk saya duduk pun tidak saya angkat tapi saya biarkan untuk yang selanjutnya presentasi biar bisa duduk. Padahal saya bisa angkat lagi itu kursi untuk saya duduk sendiri kalau saya mau.

Saya memilih minggir ke belakang dan permisi numpang duduk di kursi teman yang giliran dapat jatah presentasi. Begitu teman tadi selesai presentasi, saya pun sadar diri. Saya kemudian minta tolong teman yang tadi (note: lagi-lagi terima kasih) untuk mengangkatkan satu kursi tersisa di samping dosen untuk dipindah ke depan biar saya bisa duduk. Beres masalah.

Dan dua orang yang sudah dicup kursi yang tadi saya ceritakan datang jauh lebih telat dari saya. Ya tapi dia beruntung bisa langsung duduk karena sudah dicupkan kursi. Jadi mereka tidak perlu mengalami hal seperti saya. Sumpah, saat kejadian berlangsung tak ada satu pun yang menawarkan saya duduk di kursi-kursi yang kosong itu. Ya sudahlah, memang tak perlu dikasihani kok. :)


Dari kisah ini saya merasakan kepiluan (lebay lagi deh) betapa egoisnya orang-orang yang tidak memberi saya tempat duduk padahal masih ada kursi kosong. Saya menyayangkan kenapa orang yang secara fisik sudah lebih dulu hadir harus merasakan tidak kebagian kursi. Manakah yang lebih utama, yang sudah hadir atau yang belum? Sungguh tega ya membiarkan orang yang sudah hadir tidak bisa duduk. Menurut saya, siapa yang sudah hadir duluan dialah yang layak untuk duduk. Tapi apa dikata memang sudah menjadi budaya di negara kita ini. Jadi terima saja nasibmu. Makanya datanglah lebih cepat lain kali. :)

Oke, mungkin saya yang terlalu sensitif. Hal kecil begini saja dibesarkan. Saat kamu tidak berada di posisi saya kamu tidak tahu bagaimana rasanya. Saya merasa dirugikan dengan adanya budaya ngecup bangku ini. Sama halnya ketika saya sudah membawa makanan tapi saya tidak mendapat tempat duduk sementara orang-orang yang sudah duduk belum ada makanannya dan tidak mau berbagi tempat duduk. Haloooo kita sama-sama bayar loh. Kita sama-sama mau makan. Dan di situ tempat untuk umum alias untuk semua pelanggan dan bukan reservasi.

Ah, sudahlah. Itu hanya sekelumit curahan hati yang tak perlu kamu baca terlalu serius. :D

Tetap tersenyum! Hidup hanya sebentar. Semua itu adalah pendewasaan diri untuk menjadi orang yang lebih bijak dalam hidup yang fana dan benar-benar hanya sebentar ini. Semakin kebal saja saya rasanya dengan hal-hal seperti ini. 

:)


Tuesday, November 27, 2018

Perlukah Hasil Skripsi Masuk Jurnal?

11/27/2018 07:47:00 PM 0 Comments
Halo Teman-teman, apa kabar semua? Hari ini saya tiba-tiba kepikiran skripsi saya masa lampau. Lalu saya iseng ketik judul di google. Ternyata oh ternyata saya menemukan beberapa judul yang sama dengan skripsi saya isinya. Saya lihat ada yang masuk ke jurnal pendidikan, jurnal bisnis, dan lain-lain. Saya juga sempat membaca isinya beberapa.

Ada banyak? Iya. Dan itu saya lihat tahunnya ada yang 2017, 2018. Masih baru sekali kan? Lalu saya merenungi skripsi saya yang tergeletak di lemari buku di rumah (di kampung). Skripsi saya tidak pernah masuk dalam jurnal manapun. Jaman dulu tidak terpikir untuk memasukkan ke jurnal. Bahkan tidak tahu bagaimana caranya memasukkan ke jurnal. Asal sudah lulus ya sudah. Betapa sederhananya pemikiran jaman dulu. Ditambah lagi jaman dulu internet belum seperti sekarang. Saya sering ke warnet untuk akses internet dan jaman dulu termasuk mahal untuk kantong mahasiswa. 

Picture credit to Dreamstime

Saya merenungi betapa tidak pedenya diri saya dengan hasil skripsi saya sendiri, hasil kerja keras saya sendiri. Saya teringat bahwa saya merasa skripsi saya tidak ada apa-apanya dibanding skripsi teman lain. Dan sempat curhat juga di blog ini. :)

Tapi setelah mencoba iseng mengetik judul tadi, saya pun berkata dalam hati, halo! apa yang saya lihat (skripsi yang mirip punya saya) masuk dalam jurnal itu sudah saya kerjakan 10-11 tahun yang lalu. :(

Jadi, apa yang saya kerjakan itu ternyata di luar sana masih ada yang meneliti hingga saat ini. Wow! Sungguh tidak menyangka. Saya teringat sewaktu saya mengajukan judul ke kampus lalu saya bertemu dosen pembimbing dan diarahkan sehingga menjadi skripsi saya itu. Saat itu saya masih mengawang-ngawang dan kemudian mengikuti arahan dosen. Saya berbekal e-book berbahasa Inggris sebagai panduan utama yang mana di situ ada dimensi untuk membuat kuesioner. Saya teringat sekali dosen penguji berkata bahwa kuesioner saya bahasanya baku/kaku. Iya betul sekali karena saya menerjemahkan sendiri. :)

Oke, mungkin skripsi saya termasuk sangat biasa jika dibandingkan dengan teman seangkatan. Tapi di luar sana kita tidak pernah tahu. 

Jadi, hikmah untuk teman-teman yang menyelesaikan skripsi, cobalah masukkan ke jurnal/konferensi hasil skripsimu itu sehingga bisa menambah manfaat/menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya. :)

Monday, November 26, 2018

Buah Persimmon Korea (Kesemek)

11/26/2018 12:16:00 PM 0 Comments
Sekitar dua hari lalu saya menemukan buah persimmon Korea alias kesemek di Foodmart. Melihat bentuknya yang lucu seperti tomat berwarna kuning tua mulus, jadi penasaran. Saya dekati ternyata namanya sweet persimmon Korea. Oalah ternyata buah kesemek kalau kita biasa menyebutnya dalam bahasa Indonesia.




Waktu saya ambil sebiji untuk ditimbang (satu saja cukuplah karena harganya mahal menurut kantong saya), seorang ibu bertanya ke saya, "Rasanya gimana, Mbak?"

"Baru mau nyoba, Bu," jawab saya. Hehe.

Lalu ibu itu tanya ke pelayan. Mungkin saking penasarannya. :)

Kalau kalian pernah makan buah kesemek Indonesia, pasti tidak asing ya. Yang beda itu bentuknya yang memang kinclong sih. Soalnya kesemek Indonesia yang saya temui warnanya kusam. :)


Oya, kesemek Korea ini memang manis. Bahkan manis sekali menurut saya mirip melon manis dan juga sawo manis. Begitu digigit kres-kres, tidak lembek. 


Buat kamu penggemar manis, cocok sekali makan kesemek Korea yang satu ini. Saya makan sebiji cepat habis walau saya penggemar buah yang asam-asam. :)


Memang soal harga terbilang mahal sih per 24 November 2018 sekilonya Rp. 59.900. Dan buah ini memang tidak familiar di Indonesia. Saya tuh keinget drama Rooftop Prince gegara kesemek ini. Karena memang di drama itu ada buah kesemek yang ditaburi bubuk racun berwarna putih seperti tepung di kerajaan. Hihi. *korban drama Korea

Oke, sekian review dari saya. Semoga bermanfaat. :)


Saturday, November 17, 2018

Dahsyatnya Membaca & Menghafal Al Quran (Review buku)

11/17/2018 06:55:00 PM 0 Comments


Buku Dahsyatnya Membaca & Menghafal Al Quran merupakan buku karangan Ustad Yusuf Mansur yang wajib kalian baca. Buku yang beli Gramedia Matraman ini adalah cetakan kedua yang terbit pada Desember 2017. Lagi-lagi random saja saya membeli buku ini. (Baca: Allah yang menggerakkan saya membeli buku ini)

Jika kalian adalah penggemar karya Ustad Yusuf Mansur maka kalian sudah bisa menebak bahwa buku ini menceritakan beberapa kisah. Gaya bahasanya juga ringan sehingga mudah dicerna. Seperti mendengar beliau bercerita begitu ya.

Menurut saya buku ini tidak berat bahasannya namun cukup bagus untuk menambah wawasan. Tetap ada ilmu yang bisa diambil dari bahasan yang diceritakan.


Untuk kalian yang sedang mencari review buku ini sebelum membeli, semoga bermanfaat. :)


Amalan Ringan Paling Menakjubkan: 20 Kiat Menuju Kebahagiaan Hidup (Review Buku)

11/17/2018 06:47:00 PM 0 Comments

Repost ya Sobat! Pertama ditulis 20/4/2018

Kali ini saya akan membuat review buku karangan Syekh Ali Jaber. Sobat, kalian pasti sudah kenal kan dengan syekh ini? Beliau sering muncul bersama ustad Yusuf Mansur di televisi. Kalau belum kenal, bisa dilihat di youtube. :)

Sebenarnya saya menemukan buku beliau ini random saja sewaktu saya berada di Gramedia. Random? Catat: Hmm, pastinya karena Allah yang menggerakkan saya untuk membeli buku ini ya. Sebulan belakangan ini memang saya wara-wiri ke Gramedia setiap seminggu sekali. Wow boros! :)

Tidak pernah pulang tanpa membawa buku. Minimal ada satu buku yang saya beli. Dibaca tidak? Dibaca walau belum semuanya kelar. Saya mencicil membacanya. Waiting list ada banyak! :D

Saya punya target untuk tahun ini saya ingin menyelesaikan banyak buku selain buku kuliah pastinya. Semoga tercapai bismillah. Karena saya merasa sekali bahwa minat membaca buku saya semakin menurun saja seiring berjalannya waktu. Menonton terasa lebih asyik ketimbang membaca buku. Padahal dalam tayangan video hanyalah intisari yang disampaikan, tidak sedetil buku pastinya. Makanya rugi besar kalau saya tidak membaca buku.

Oke, mari lanjut ke buku yang akan saya review ini. Buku yang saya beli ini merupakan cetakan kedua Desember tahun 2017. Tebal buku sebanyak 208 halaman. Buku ini membahas amalan-amalan yang mungkin saja belum pernah kalian tahu sebelumnya seperti sedekah subuh.

Daftar isi

Beliau juga menceritakan tentang 3 amalan agar hidup tidak merugi. Apakah itu? Yang pertama adalah membaca Al Quran. Kedua, mendirikan sholat. Terakhir yaitu infaq/sedekah. Untuk penjabarannya bisa kalian baca langsung di bukunya secara detail.

Selain itu, beliau juga memberi tahu 2 amalan untuk mewujudkan hajad. Sebagai manusia, siapa yang tidak punya hajad hayo tunjuk tangan? Kita semua pasti punya dan ingin terwujud kan? Nah, buku ini memberikan membahas tentang amalan yang bisa digunakan untuk mewujudkan hajad.

Daftar isi

Oleh karena itu, buku ini adalah buku yang bagus untuk kalian baca dan kemudian amalkan isinya. Siapa tahu yang kalian cari ada di buku ini.

Sekian sharing dari saya. Semoga bermanfaat. :)

Wednesday, October 24, 2018

Pengalaman Kursus Terjemah Teks Hukum LBI UI Tingkat Dasar

10/24/2018 06:51:00 PM 29 Comments
Halo Readers, adakah kalian yang berminat mengikuti kursus terjemah? Jika ada, LBI UI menawarkan beberapa program terjemah (bisa dicek di website LBI UI). Nah, kali ini saya ingin sharing tentang salah satu program terjemah yaitu teks hukum.


Sebenarnya saya ini tak punya alasan khusus kenapa saya mengambil kursus ini. Niat utama adalah mengisi waktu luang semasa libur panjang semester dua. Awalnya berniat mengambil yang teks umum tapi teks umum adanya hanya malam hari. Saya maunya mengambil kursus di hari Sabtu saja. Pilihan yang ada di hari Sabtu hanyalah teks hukum. Jadi, saya beranikan diri mendaftar dengan membayar sebesar 125 ribu rupiah kemudian mengikuti placement test. Placement test ini menentukan tingkat yang akan diikuti peserta nantinya jika lulus. Teks hukum memiliki 3 tingkat yaitu dasar, menengah, dan lanjut. Note: tidak semua pendaftar lulus placement test.

Sejujurnya saya merasa tidak pede mendaftar kursus terjemah apalagi teks hukum. Pertama, saya tidak ada basic terjemah sama sekali. Saya bukan dari sastra Inggris atau pun yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Saya tidak punya pengalaman kerja sebagai penerjemah pula. Dan juga tak ada hubungannya sama sekali dengan hukum. Bahkan legal English pun saya tidak kenal atau pernah belajar sebelumnya. Jadi, saya ini modal nekad saja. Benar-benar orang yang nekad saya ini. 

Pendaftaran
Setelah saya mendapat slip pendaftaran, saya menjadi galau dan berpikir ulang apakah saya ganti teks umum saja. Tapi si Mbak Admin pendaftaran seperti enggan untuk mengubah slip karena memang sudah dicetak dan menyarankan saya coba dulu. Setelah itu si Mbak Admin memberitahu jadwal placement test dan memberitahu saya untuk membawa kamus saat placement test karena tidak diperkenankan menggunakan internet. Waduh, mana saya punya kamus di sini. Rasa-rasanya sudah beberapa tahun lalu terakhir saya buka kamus. Setelah itu saya langsung meluncur ke Gramedia dan membeli kamus seharga 100 ribu. :)

Placement test
Saat jadwal placement test tiba, saya kembali datang ke LBI. Ternyata di dalam kelas sudah banyak yang hadir. Saya terlambat hadir. Soal yang diujikan adalah terjemah Indonesia-Inggris dan sebaliknya. Teksnya pun memang teks hukum. Wow. Banyak yang saya tidak mengerti terjemahannya. Dan kamus saya itu tidak bisa diandalkan. Penyebab utamanya adalah karena tidak lengkap. Hehe. :)

Saya pun menjawab sesuai kemampuan saya saja. Semua soal bisa terisi sesuai waktu yang diberikan yaitu 2 jam kalau tidak salah ingat. 

Pengumuman
Pengumuman disampaikan melalui email ke peserta. Saya lupa berapa lama waktu itu. Saat saya menerima email pengumuman lalu saya lihat saya lulus tingkat dasar, rasa-rasanya malah seram sendiri. Kok bisa? Dan masih merasa tidak pede.

Belajar-mengajar di kelas 
Kelas Sabtu tingkat dasar diadakan di lantai 3 ruang 302. Durasi belajar mengajar 4 jam per pertemuan selama 10x pertemuan dengan biaya sebesar 3,5 juta rupiah. 

Di kelas saya muridnya ada 9 orang termasuk saya. Rata-rata mereka berhubungan dengan penerjemahan. Entah itu ada pengalaman kerja sebagai penerjemah atau pun background pendidikan bahasa Inggris. Selain itu ada yang basic-nya hukum. Lah, saya? Huhu tidak nyambung ke mana-mana. Saat ditanya pengajarnya sewaktu perkenalan saya hanya menjawab just for fun. :D

Saya jadi berpikir saya ini seperti tidak ada tujuan. Hanya ikut-ikut saja begitu ya. Beda sekali dengan mereka yang memang ada tujuannya. Paling utamanya untuk upgrade skill demi pekerjaan. Lah, saya? Saya sadar sekali pekerjaan saya apa dan pendidikan saya apa. Tapi saya ini memang nekad. Saya ini orang yang ingin mencoba hal-hal baru. Nah, ini contohnya. :)

Di awal-awal pertemuan sih ya pastilah saya ini banyak menyerap pelajaran baru. Kalau dibanding murid lain jelas saya tidak ada apa-apanya kalau saya membandingkan diri saya. Minimal mereka sudah familiar beberapa kosakata hukum yang masih asing di telinga saya. Tapi hal itu tidak menyurutkan saya untuk terus belajar atau pun merasa minder. Mereka juga sama kok masih banyak salah. Dan ya menurut saya kami tidak jauh bedalah. Masih sama-sama belajar. Buktinya satu kelas. Meski mereka sudah banyak jam terbangnya untuk terjemahan tapi teks hukum masih baru juga bagi mereka makanya mereka mengambil kursus ini. 

Namanya salah dalam belajar kan biasa. Tidak belajar kalau tidak ada salah. :)

Jadi, jangan menyerah sebelum berjuang ya! Terkadang kesulitan-kesulitan itu hanya ada di pikiran kita saja. Yang penting optimis dan action dulu.

Saya merasa loh ada peningkatan dibanding awal-awal masuk. Kalau saya bandingkan dengan awal-awal masuk itu, beda jauhlah. Dan saya senang mendapat ilmu baru meski belum tahu ke depannya akan bagaimana. Yang penting saya serap saja dulu ilmunya. 

Di kelas banyak latihan menerjemahkan kalimat. Murid diberi kesempatan untuk mencoba menerjemahkan satu per satu lalu dikoreksi langsung oleh pengajar. Dan di kursus ini ada mid test dan final test.

Mid test dan final test masing-masing 3 jam. Alhamdulillah sudah lulus tingkat dasar. Saya lihat nilai saya di report adalah b+. Ya lumayanlah untuk pemula seperti saya. :)

Sertifikat
Sertifikat bisa diperoleh jika memenuhi persyaratan minimal 75% kehadiran. Jika lulus tingkat dasar maka bisa melanjutkan ke tingkat menengah. 









Cara Ganti Kartu yang Hilang di Gra Pari Telkomsel

10/24/2018 07:07:00 AM 0 Comments
Ceritanya saya mau mengurus kartu SIM Telkomsel saya ke Gra Pari tepat pada hari jumat minggu lalu (19/10/2018). Tapi sebelumnya saya mau cerita pendahuluannya dulu ya Sobat. Jadi, jumat lalu itu saya kehilangan HP di sebuah mall di Jakarta. Bagaimana kisahnya?


Kronologi HP hilang
Teknis kejadiannya saya sendiri tidak ingat bagaimana saya bisa kehilangan hp tanpa saya sadari. Saya benar-benar dibuat lupa oleh Allah saat itu. Terakhir saya ingat betul bahwa saya sempat mengeluarkan hp dari tas dan mengecek whatsapp grup kuliah saya karena hari itu adalah deadline pengumpulan tugas. Saya sempat baca beberapa posting terakhir dari teman-teman di grup.

Lalu dalam posisi hp tetap saya pegang dengan tangan, saya masuk ke swalayan baju wanita dan melihat-lihat baju di sana. Sampai tiga kali mencoba baju, saya masih tidak merasa kehilangan hp loh. Begitu saya ke kasir dan selesai membayar, saya ingat saya mau ambil hp dari tas tapi kok ternyata tidak ada. Wah, hilang nih pikir saya. Saya telusuri tempat yang tadinya saya lewati ternyata tidak ada. Ya barangkali saja jatuh atau saya lupa taruh. 

Saya sama sekali tidak merasa saya menaruh hp di mana pun. Tidak ada tempat untuk meletakkan hp juga di sana. Begitu pula di ruang ganti hanya ada satu gantungan. Kalaupun jatuh, saya tidak dengar juga. Saya ingat-ingat tetap saja tidak bisa ingat. Heran.

Kondisi swalayan waktu itu tergolong sepi. Ada pengunjung tapi tidak banyak. Dari pertama saya memilih baju untuk dicoba, saya sempat memilih baju berdekatan dengan pengunjung lain. Yang agak berbeda adalah setelah selesai saya mencoba baju yang pertama, saya kembali ke tempat baju awal karena saya pikir bakal diberi nota. Tapi saat itu saya melihat baju lain terlebih dahulu. Saya tiba-tiba melihat ibu-ibu sekitar 3-4 orang tak berhijab datang ke arah saya memilih baju juga di dekat saya semuanya. Saya seperti dihimpit dari depan, samping dan belakang. 

Saat itu, baju yang sudah saya coba saya taruh di lengan kiri saya. Tangan kanan saya memilih-milih baju yang lain. Nah, ibu yang di depan saya memilih baju yang ada di rak yang sama dengan saya. Bahkan sempat memegang-megang baju di lengan kiri saya itu. Di situ saya agak merasa aneh. Kok dia pegang-pegang yang ada di saya. Lalu dia mengambil baju yang sama yang saya pilih di tangan kanan tapi tidak dibeli.

Saat itu saya sempat bicara sesuatu ke ibu itu tapi saya tidak bisa ingat saya bicara apa. Setelah itu saya berikan baju yang mau saya beli ke penjaga baju. Saat baju diserahkan ke saya dalam wadah plastik saya bilang ke penjaganya, "Oh, tidak pakai nota ya."

Sebelumnya juga saya ingat bicara dengan mbak penjaganya, "Boleh dicoba, Mbak." Tapi heran kok saya tidak ingat sama sekali bicara apa sama ibu tadi. Dan selama 2 jam saya di sana, saya sama sekali tidak membuka tas. Padahal ada dum-dum di dalamnya dan saya merasa haus. Saya yang biasanya aware dengan hp juga saat itu tidak ada keinginan mengecek hp. Aneh.

Saat mencoba baju yang ketiga, di dalam ruang ganti saya mengecek uang saya di dalam tas tapi masih tidak aware hp hilang. Setelah itu saya baru ke kasir. Dan taraaaaaa.... baru sadar. Sudah terlambat!

Setelah saya lacak hp saya, posisi terakhir ada di mall itu saat gps terakhir masih hidup yaitu pukul 15.02. Saya misscall hp pukul empat sore lebih dan hp sudah tidak aktif. Ya iyalah...

Padahal saya masuk ke swalayan itu sekitar jam 2 an. Berarti jeda 1 jam hp hilang antara pukul 2 sampai 3 siang. Dan perkiraan saya di percobaan baju yang pertama atau kedua. Wallahualam.

Oya, kenapa setelah dari kasir, saya kok mencari hp di tas? Apakah itu artinya memang saya meletakkan hp di tas sehingga reflek mencari di tas? Kemungkinan sih saya meletakkannya di tas saat mencoba baju yang pertama. Karena sulit mencoba baju sambil pegang hp. 

Tapi kemudian saya keluar dan bertemu ibu-ibu rombongan. Saya tak ingin suudzon ya Allah. Saya juga tak pernah terpikir akan kena musibah begini. Tidak kepikiran juga ada hipnotis dan semacamnya.

Gra Pari Mall Bashura, Gagal Total!
Akhirnya saya ke Gra Pari Mall Bashura. Saat datang ditanya satpamnya mau apa, bahwa ktp tidak. Lalu saya dapat kertas antrian.


Setelah bertemu adminnya, saya diminta ktp dan ditanya 3 nomor yang biasa saya hubungi. Waduh, mana saya ingat. Saya tidak bawa hp lain pula. Seperti orang hilang rasanya. Saya pun tidak mendapat hasil apa-apa. Sedih...

Untuk pulang saja saya minta dipesankan gojek sama satpam Telkomsel. Ya Allah... Berangkatnya juga dipesankan sama penjaga counter hp. 

Susah benar hidup saya...

Blokir Nomor
Akhirnya saya pulang dengan selamat. Berhubung magrib saya sampai, saya tidak keluar lagi untuk mengurus kartu. Ada sih Gra Pari 24 jam rekomendasi operator yang saya telpon untuk memblokir nomor saya terlebih dahulu ke 188. Besok saja, saya sudah lelah.

Ubah Password
Malam itu saya habiskan untuk mengubah-ubah password yang ada di aplikasi. Tapi sedih, koneksi internet teman kos saya lambat sekali, wifi juga pas mati. Lalu teman saya yang lain pulang, barulah saya lacak keberadaan hp dengan koneksi internet dia yang lebih kencang. 

Telpon Operator Gojek Segala, Lebay ga sih?
Saya sempat telpon gojek segala loh lapor kartu hilang. Takutnya kan disalahgunakan. Tapi saya harus email ke gojek beberapa hal untuk mengurus itu. Si admin hanya bisa bantu me-logout. Ya sudah tak apa. Syukurlah bisa dibantu logout. Saldo go-pay masih banyak. :D

Tengah malam baru kelar dan saya tidur. Besok pagi saya minta teman kos memesankan gojek ke Gra Pari 24 jam yaitu di Wisma Alia. Saya sudah menyiapkan juga nomor-nomor yang pernah saya hubungi. Ini nomor keluar ya.

Gra Pari 24 Jam Wisma Alia
Di sana, saya disuruh mengisi formulir yang berisi beberapa pertanyaan identitas. Dari 4 nomor yang saya isi ternyata hanya 1 nomor yang match untuk 3 bulan terakhir dan itu adalah nomor saya sendiri yang ada di hp lain. Ya iyalah itu kan yang 3 lagi memang lebih dari 3 bulan di hp saya yang sebelumnya saya pakai. Nomor keluar sms pun saya tidak ingat karena tidak saya simpan. Saya jarang pakai nomor itu untuk selain internet. Jadi saya bilang saja saya biasa pakai untuk internet. Lalu mbaknya mau membantu membuatkan kartu baru. Horeeeee.

Cukup 20 ribu saja!
Diminta bayar 20 ribu dalam bentuk pulsa loh. Saya disuruh mengisi pulsa di pojok karena pulsa saya tinggal 1000-an tapi paket data masih banyak. Hehe. Tapi pertama isi gagal. Dibilang error. Kata mbak admin, saya belum registrasi kartu keluarga. Sudah kok kata saya. Lalu saya bilang pernah terblokir. Eh, mbaknya nyambung. Ternyata penyebab error tadi adalah karena kartu masih terblokir. Padahal maksud saya terblokir dulu kala sebelum registrasi. Dan ya memang malamnya setelah hp hilang saya blokir. :D

Kesimpulan, hp yang hilang diambil hp-nya saja. Mungkin dijual. Buktinya langsung tidak aktif hanya dalam waktu sejam kejadian. Alhamdulillah saja aplikasi dan lain-lain masih aman. Padahal saya sudah sempat stress. Saya memang berharap yang mengambil bukan orang pintar yang melek teknologi, jadi hpnya saja yang diambil. 

Ok, sekian cerita sedih saya. Selamat beraktivitas!






Saturday, September 15, 2018

Cara Membuat Sirup Cranberries

9/15/2018 11:35:00 AM 0 Comments

Halo Readers! Saya kembali hadir. Kali ini saya membagi cerita tentang membuat sirup cranberries. Kalian pasti pernah mendengar cranberries kan? Bukan cranberries nama band musik dari Amerika Serikat ya tapi ini nama salah satu buah bergizi tinggi (superfood).

Kamu mungkin sudah pernah dengar berbagai buah berry seperti strawberry, raspberry, blueberry dan blackberry. Buah-buahan ini memang tidak familiar di Indonesia karena memang tidak berasal dari Indonesia. Nah, jangan ketinggalan, ada juga cranberry. Buahnya kecil-kecil berwarna merah cantik. Rasanya? Asam dan juga sepet. Kalau asamnya sih saya suka tapi sepetnya itu yang tidak nahan.


Pertama saya coba rasanya, waduh batin saya. Enaknya diapakan ini. Dimakan mentah rasanya sangat tidak mungkin saya menghabiskan 500 gram sendirian. Lagipula, siapa yang mau buah rasa asam dan sepet seperti itu jika dikasih ke orang. Dibuang? Sayang... Harganya cukup mahal di kantong saya. 500 gram saya beli seharga 50 ribu rupiah.

Ya sudah, akhirnya saya coba blender. Dan ternyata nih, sepetnya tetap tidak hilang. Tidak tahan dengan sepetnya itu, saya cari alternatif lain. Mau diapakan ya baiknya? Akhirnya saya terpikir membuat manisan. Tapi ternyata malah jadinya sirup. Hehe.

Cara membuatnya cukup sederhana.

Bahan:
1. Cranberries sekitar 500 gram (sudah saya kurangi untuk satu kali jus)
2. Gula pasir secukupnya
3. Air
4. Lemon

Cara memasak:
1. Rebus cranberries beserta gula hingga matang (empuk).


2. Angkat buah cranberries 
3. Dinginkan sisa airnya
4. Sajikan sirup craberries dengan es batu dan perasan lemon.
Sirup bisa disimpan di freezer dalam waktu lama. 


Gampang kan cara membuat sirup cranberries. Rasanya bagaimana? Setelah menjadi sirup tidak terasa lagi sepetnya. Kalaupun masih ada sisa rasa sepet tidak banyak. Beda jauh dibandingkan dikonsumsi dalam bentuk jus. Mirip teh rosella jika kamu pernah mencoba. Warnanya juga cantik sekali kan merah mirip wine.

Selamat mencoba! :)


Friday, September 14, 2018

Buah Tin Segar dan Kering (Figs)

9/14/2018 05:35:00 PM 0 Comments
Apakah kalian penyuka buah? Sudah pernah mencoba buah tin? Buah tin atau ara ini (ada yang menyebut buah surga) punya segudang manfaat. Buah tin bisa kamu nikmati baik buah segarnya maupun dalam bentuk buah kering.


Di Indonesia memang tidak familiar kan ya buah tin ini. Saya sendiri juga tidak menemukan buah ini nongkrong di pasar-pasar atau pun supermarket. Tapi, buah ini belakangan mulai terdengar gaungnya di Indonesia. Ada yang mulai membudidayakannya. 

Kalau di luar negeri sih jangan heran ya buah ini cukup populer. Dalam bahasa Inggris buah tin disebut sebagai figs. Dan salah seorang teman saya orang UK suka dengan buah ini. Ya, maklum juga kalau di UK memang segalanya ada kali ya. :)

Buah tin kering (dried figs)
Saya pertama kali mencoba buah tin yang bentuk kering (dried figs). Warnanya putih. Kalau dimakan berasa menggigit pasir kecil-kecil (bijinya). Rasanya mirip kismis, asam manis.


Buah tin segar (fresh figs)
Setelah itu, saya penasaran ingin mencoba buah aslinya. Nah, saya beli 150 gram seharga 35 ribu. Mahal sekali ya. Isinya kecil-kecil sebanyak 8 buah. Lumayanlah. Yang saya beli ini yang jenis turkey brown. Ada jenis lain yang lebih besar tapi lebih mahal lagi. Yang saya beli adalah buah lokal dari perkebunan Subang. Langsung dipetik dari pohonnya sepertinya jika ada yang beli. Nah, ini saya beli online.


Rasanya bagaimana? Empuk, manis keasaman. Bisa dimakan langsung dengan kulitnya karena kulitnya ternyata tipis dan tidak keras alias empuk. Warna dalamnya (biji) agak kemerahan yang masih segar. Lewat semalam saja warna isinya sudah berubah menjadi coklat kalau tidak disimpan di dalam kulkas. Aromanya enak. Saya suka. 

Menurut saya sih tidak mengecewakan. Mungkin lain kali perlu coba jenis yang lain. :)

Sekian ulasan dari saya. Yuk coba buah tinnya

Tuesday, September 11, 2018

Summer in Beijing Day 6 (Solana, suvenir, internet, budget, komentar penulis)

9/11/2018 09:28:00 AM 0 Comments
 

Agenda di hari terakhir adalah ke Solana. Di sini saya hanya foto-foto. Tapi saya lihat beberapa peserta ada yang belanja. Sama seperti Wangfujing Street, barang-barang yang dijual di sini adalah branded. Sekitar jam 10 pagi baru buka. Apakah ada peserta yang beli? Tentu ada! :)

Kalau soal lokasi sih sudah pasti luas. Enak untuk jalan-jalan pagi sambil membawa anak kecil didorong pakai stroller. Tempatnya enak.





Begitu waktu habis, kami langsung makan siang di restoran dekat bandara lalu menuju bandara Beijing untuk kembali ke Indonesia.

Suvenir

Kamu bisa beli bermacam-macam suvenir di Beijing mulai dari yang kecil-kecil seperti gantungan kunci, magnet kulkas, boneka, dan lain-lain sampai barang branded. Makanan ringan juga banyak dijual.

Gantungan kunci seharga 5 yuan per item 
Sebenarnya saya tidak niat beli-beli tapi saya memang orang Indonesia asli yang tidak bisa tidak bawa apa-apa setelah bepergian jauh begini (baca: laper mata). Saya mau yang murah-murah saja dan saya mau membatasi diri supaya tidak kalap. Apakah saya berhasil?

Untuk gantungan kunci saya beli 10 item dapat bonus 1 (lumayan). Dan satu buah saya beli khusus gambar panda seharga 10 yuan untuk keponakan saya.

Magnet kulkas
Magnet kulkas tidak sempat beli sebelumnya sewaktu di Bird Nest, tapi akhirnya kepincut juga ditawari ibu-ibu teman serombongan yang sedang beli. Tapi berhubung di mall jadi lebih mahal jatuhnya. Di Bird Nest cuma 5 yuan, di situ 10 yuan. Lumayan sekali selisihnya. Kata si Ibu, "Ambil saja yang sudah kita kunjungi." Tapi saya berhasil menahan diri beli dua saja. :)

Enak loh belanja sama ibu-ibu. Si Ibu ini tukang tampung. Jadi kalau saya maunya beli 1 saja, sisanya si Ibu yang beli untuk dapat harga lebih murah. Hihi. Terima kasih Ibu Acin.

Pembatas buku
Pembatas buku ini buru-buru sekali saya beli di Bird Nest, akhirnya saya ambil asal dan ya lihat saja potongannya tidak rata. Hehe. Tadinya mau dikasih ke seseorang tapi tak jadilah. :D

Saya tanya ke ibu-ibu yang bisa bahasa mandarin beberapa pembatas buku artinya apa. Si Ibu hanya bisa baca beberapa. Lalu saya disarankan mengambil yang gambar-gambar saja jangan yang tulisan. Wah, saya tak suka yang gambar. Saya sukanya tulisan. :)

Yang perlu kamu tahu

1. Tanggal yang ada di kemasan makanan ringan di Beijing adalah tanggal produksi bukan tanggal expired. Jadi, kamu tidak usah ragu jika melihat tanggalnya kok sudah lewat.

2. Toilet di Beijing tidak seperti toilet Indonesia yang ada selangnya untuk memancarkan air. Orang di sana hanya pakai tisu kering untuk bersih-bersih karena memang hanya tisu kering yang disediakan di kamar toilet. Sebagai orang Indonesia, kalau saya sih tidak srek alias afdol kalau tidak pakai air. Betul tidak? 

Tips: sediakan tisu basah atau botol kosong aqua atau tupperware untuk menampung air yang bisa dipakai untuk cebok.

Kalau peserta lain sih saya lihat bisa-bisa saja hanya pakai tisu kering. Ada juga beberapa orang yang sedia tisu basah. Saya tidak melihat peserta lain yang ribet menampung air seperti saya. Padahal sih saya sedia tisu basah dan kering tapi tisu basah malah tidak terpakai sama sekali. Hehe :) 

Toilet di restoran ada yang bersih ada yang tidak alias bau jadi siap-siap saja masker. Kalau di tempat umum seperti tempat wisata yang kami kunjungi saya tidak mencoba toiletnya sama sekali. Terus terang saya enggan karena toilet publik sangat ramai penggunanya. 

3. Jangan heran kalau kamu ketemu orang asli sana yang kasar saat kamu memasuki tokonya. Teman saya banyak yang mengalami. Ada yang diusir suruh keluar, ada yang marah, dan lain-lain.

4. Umumnya warga lokal tidak bisa bahasa Inggris. Jika kamu membeli dan menawar, mereka sedia kalkulator. Jadi kamu tetap bisa belanja. 

5. Kami diwanti-wakti oleh tour guide agar berhati-hati saat membeli barang di kaki lima. Siapa tahu uang kembaliannya palsu atau barangnya palsu. Di tempat tertentu juga kami diperingatkan berhati-hati jika belanja. Tour Guide tidak menjamin barangnya asli. Wah, rusuh banget deh ya.

6. Beijing kotanya sepi. Bagusnya adalah tidak polusi. Di sana banyak disewakan sepeda. Sepedanya memiliki barcode. Saya lihat beberapa sepeda tergeletak begitu saja di jalan dan aman-aman saja tidak hilang. Coba di Indonesia. Dalam hitungan menit sudah raib. :D


7. Saya lihat ada banyak jenis mobil lewat di jalan. Yang paling banyak saya lihat sih merk VW. Sepertinya saya tidak melihat merk ini eksis di Indonesia. Tour Guide bilang bahwa merk VW ini yang pertama investasi ke China. 

8. Ada banyak motor listrik lewat di jalan. Motor tersebut memang digalakkan supaya tidak polusi. Memang di sana disediakan jalur khusus untuk sepeda dan sepeda motor. Motor matic tetap ada kok saya lihat seliweran di jalan.

Komentar Penulis

1. Selama traveling ini kami selalu pindah-pindah restoran tapi entah kenapa kok menunya sama terus ya. Heran. Kalaupun ada beda ya satu dua menu saja. Saya juga sempat dibilang vegetarian oleh ibu-ibu yang duduk di sebelah saya gegara saya hanya makan nasi dan sayur. Sesekali saya makan telur dan ikan. Saya sempat diambilkan ayam oleh ibu tadi tapi saya tolak. Sumpah saya jadi tidak enak. Saya tahu ibu itu baik dan perhatian. Mungkin lebih ke kasian sama saya. Lauk banyak tapi tidak makan. Apalagi saya sekurus ini. Kok makannya sedikit. Maafkan saya Ibu... :(

Memang sih saya lihat mereka semua makannya pada lahap-lahap semua. Menggiurkan. Menunya banyak. 10 macam. Hanya saya yang mungkin terlihat sangat kasihan. :(

Saya sempat semeja dengan 2 keluarga yang muslim juga. Saya lihat mereka makan-makan saja dengan santai. Ya, urusan masing-masinglah ini. No offense. 

Saya pun tidak tahu bagaimana proses memasaknya. Bagaimana yang saya makan apakah ada jaminan halal? Saya pun sedia pop mie dari Indonesia. Setiap pulang ke hotel di malam hari saya makan pop mie. :(

2. Saya heran kenapa setiap masuk bangunan baik itu toko wajib maupun restoran kok aromanya sama. Terutama jika pertama kali masuk sebuah restoran saya mesti tutup hidung rapat-rapat. Rasanya saya mual mau muntah. :( Tapi kok peserta lain tahan-tahan saja?

Karena penasaran, saya tanya ibu peserta yang memang keturunan China. Kata beliau bau niyo. Entahlah benar tidak saya menulisnya. 

Budget

Paket consortium ini adalah paket murah. Berikut adalah rincian biayanya:
Harga paket: Rp. 6.380.000
Visa (diuruskan): Rp. 575.000
Tipping guide: Rp. 470.000
Tambahan biaya kamar karena sendirian sekamar (tak ada teman sharing): Rp. 1.650.000
Pajak 1%
Total: Rp. 9.165.750

Pengeluaran lain:
Biaya cetak foto visa Rp. 30.000
Biaya kirim dokumen passport Rp. 15.000
Biaya paket roaming Telkomsel 7 hari Asia Australia Rp. 250.000

Uang Saku
Untuk uang saku saya sedia 2000 Yuan. Saya beli 2x masing-masing 1000 yuan. Saya beli di Atrium Plaza Senen. 1 Yuan harganya Rp.2.160 di Money Changer Queen. Dan Rp. 2.145 per yuan di Money Changer Garuda.

Uang saku yang terpakai untuk belanja adalah sekitar 400 yuan. Jadi, masih ada sisa 1.600 yuan. Kalau sedang belanja di sana sih tidak terasa nilai uangnya karena beli misal harga 10 atau 20 yuan. Kecil sekali kan? Tapi coba kalau dikali 2000 rupiah jatuhnya jadi mahal. Nyesek. 

Saya sendiri sebenarnya tidak niat belanja-belanja selain suvenir kecil-kecilan saja untuk keluarga. Tapi habis juga 400 yuan dan itu senilai 800 ribuan. :D

Saya niatnya murni jalan-jalan saja ini. Pengalaman jalan-jalan sebelumnya kan beli-beli suvenir yang akhirnya cuma disimpan itu rasanya kok sayang. Jadi saya membatasi diri.

Uang China
Uang yang saya tukar adalah per 100 yuan. Tidak ada pecahan lebih kecil di 2 money changer. Tapi setelah belanja di sana dapat kembalian pecahan. Oya, saya mendapat uang 100 yuan 2 versi yatu seri 2005 dan 2015. Awalnya begitu sampai di kos sehabis menukar uang, saya cek kok beda seri jauh. Ini masih laku atau tidak. Tapi tidak mungkinlah ya money changer memberi uang yang sudah tidak laku. Akhirnya saya googling karena penasaran. Setelah sampai di sana saya belanja pakai yang seri 2005 terlebih dahulu dan tak ada masalah kok. :)

Berikut adalah uang kembalian yang saya dapat dari Beijing. Dapat pecahan juga. :)

Seri 2005 dan 2015

Bisa dilihat perbedaannya? Carilah 5 perbedaan! :D

Untuk 20 yuan hingga 5 yuan di bawah ini adalah seri 2005. Untuk uang 50 yuan tidak sempat foto karena sudah dipakai. Hehe. Ini yang tersisa saja di hari terakhir. Ternyata lumayan lengkap.




Berikut adalah uang 1 yi jiao kertas. Beda dengan 1 yuan ya. Saya juga baru paham saat di sana. Ini nilainya lebih kecil dari 1 yuan. Misal 20,1 yuan. Nah, yang 0,1 itulah yi jiao.



Berikut adalah uang koin 1 yuan yang sebelah kiri besar kekuningan. Sementara yang kanan yang lebih kecil dan berwarna putih perak adalah 1 yi jiao.




Internet
Saya pakai roaming Telkomsel Asia Australia 7 hari senilai Rp. 250.000. Setiba di Beijing paket aktif (sinyal langsung ganti) dan bisa digunakan untuk akses produk google maupun instagram, whatsapp. Alhamdulillah jadi tetap bisa whatsapp dan skype-an. :)

Cara aktifkan paket:
1. Dari aplikasi my telkomsel yang bisa di download di playstore. Tinggal beli saja.
2. Ketik *123# telpon lalu pilih roaming dan paket yang mau dibeli

Jangan lupa aktifkan juga roaming di setting hp kamu.

Tahu sendiri kan kalau produk google dan media sosial diblokir di China. Kalau mengandalkan wifi hotel dan vpn, berarti hanya bisa akses saat di hotel. Itu pun belum tentu lancar. Internet ini saya butuhkan sekali untuk mengecek jadwal sholat dan arah kiblat.

Sekian ulasan dari saya. Semoga bermanfaat! :)




Summer in Beijing Day 5 (Panda Zoo, Qian Men, Wangfujing Street)

9/11/2018 07:17:00 AM 0 Comments

Yuk simak perjalanan hari kelima saya di Beijing!

Toko wajib Jewellry

Saat masuk kemari, seperti biasa kami disuguhi produk. Produk apakah itu? Giok dan mutiara. Awalnya kami diberi penjelasan mengenai giok lalu diantar ke etalase. Peserta banyak yang berminat membeli liontin mutiara. Yang dibeli umumnya yang harganya 200 RMB dan 500 RMB. Itu harga sudah yang paling murah. Yang harganya 200 RMB, rantai terbuat dari perak sementara yang 500 RMB terbuat dari emas putih. Mutiaranya sendiri adalah mutiara air tawar. Di sini ada peserta yang sampai harus menggesek kartu kredit loh dan harus konfirmasi ke Indonesia (karena harga yang dibeli cukup mahal nampaknya). Hebat! :)


Panda Zoo

Sebenarnya sih namanya bukan Panda Zoo tapi Beijing Zoo kalau tidak salah. Kebun binatangnya berisi banyak binatang, tidak hanya panda. Tapi tujuan ke sini jelas mau lihat panda kan. Pandanya cuma ada 4 kalau tidak salah. Panda-pandanya adalah panda besar dan penampakannya kotor alias lusuh. Mungkin karena musim panas jadi belum sempat mandi. Pas kami datang, pandanya pada tidur. Dasar pemalas! Hihi :D

Posisi tidurnya itu loh... Ga nyaman banget kayanya

Nah, lagi duduk... kucel dan kotor banget kan?

Tapi memang panda itu lucu seperti bayi kalau lihat sedang duduk. Jadi gemas pengen peluk. Sayangnya tidak ada panda kecil di sini. Panda kecil adanya di Panda Zoo di kota lain. Padahal panda kecil itu yang lucu-lucu sekali. Pengen gendong rasanya saat lihat videonya di youtube. :D

Qian Men Old Beijing Street


Di sini kami diberi waktu untuk foto. Tapi bagi yang berminat bisa masuk ke dalam toko untuk membeli suvenir atau oleh-oleh. Harga di sini termasuk murah.


Wangfujing Street

Lagi, kami diberi waktu lumayan untuk berbelanja. Tahu sendiri kan orang kita suka belanja. Dan itu memang benar kok saya lihat sendiri. Meski tidak semua peserta ya. Di sini tempatnya luas, shopping mall barang branded. Saya sih sejujurnya tidak hobi wisata ke tempat belanja begini. Tidak ada yang ingin saya beli. Tapi di akhir-akhir sebelum kumpul di bus, saya masuk Miniso dan sempat membeli kacang almond, macadamia, dan pecan (karena sebelumnya saya memang mencari kacang dan ternyata nemu di sini detik-detik terakhir).



Buah lokal

Tiba di hotel, saya mampir dulu ke mini market sebelah. Saya ingin melihat buah lokal. Yang ada adalah peach, kesemek dan ada satu lagi tidak tahu namanya. Akhirnya saya beli peach seharga 8 RMB.


Di kamar hotel, saya coba memakan semua peach. Yang ini jenis yang empuk. Rasanya manis seperti jambu bol. Lebih banyak air ketimbang jambu bol. Dan ada aroma khusus peach. Di Indonesia saya tidak nemu buah segar peach. Hanya pernah mencoba yang kalengan makanya ini saya coba yang segar. Kalau kesemek sih sudah pernah makan di Indonesia ada.

Bersambung day 6...