Follow Us

Wednesday, July 18, 2018

Pengalaman Lolos International Paper Conference CITSM 2018 (Part 3)

7/18/2018 05:58:00 PM 2 Comments
Lanjutan cerita Part 2...



Cerita revisi paper

Deadline revisi paper untuk camera ready adalah tanggal 15 Juli 2018. Reminder ada juga dikirim ke email peserta. Dan saya yang berniat untuk revisi setelah lebaran jadi molor tidak gerak-gerak sampai deadline 15 Juli 2018.

Betapa parahnya saya ini (jangan ditiru). Sejujurnya saya merasa struggle untuk bisa mengalahkan rasa malas untuk mulai revisi paper. Beberapa kali saya mendapat whatsapp Dosen apakah saya sudah revisi karena beliau ingin mengecek sebelum submit. Jawaban saya adalah belum. :(

Jadi, ceritanya selama pulang kampung kan saya tidak membuka laptop kecuali lagi butuh penting saja. Nah, sudah lama sekali kan saya tidak membuka laptop. Rasanya malas sekali untuk membuka laptop dan mulai merevisi paper.

Begitu mood saya datang untuk merevisi, eh, memang ada-ada saja yang membuat jadi lebih malas. Ternyata Ms. Office saya minta aktivasi. Waduh kok bisa sih di saat begini. Saat sedang butuh-butuhnya. Tepok Jidat.

Akhirnya saya mencoba alternatif online document. Tapi saya sangat tidak nyaman mengedit dengan online document. Hilang sudah kesabaran saya.

Tanggal 14 Juli 2018 saya download MS. Office. Setelah saya install kok terdeteksi virus oleh windows defender padahal firewall sudah saya matikan semua. Alamak jadi stres sendiri. Ya sudahlah saya tinggal tidur dulu dan esok paginya 15 Juli 2018 saya coba lagi. Tetap tidak bisa. Setelah saya googling beberapa artikel akhirnya berhasil. Alhamdulillah. Sempat tanya ke teman sih tapi sudah berhasil duluan. :D

Mulailah saya merevisi paper saya dari pagi hingga malam. Sekitar pukul 20.00 wib paper saya submit. Lega. Seperti hilang beban rasanya. Karena bagaimana pun saya membawa nama kampus. Mau tidur jungkir balik atau apa terserah deh setelah itu. :D

Btw, saya ingin liburan... ^__^


Cerita booking tiket pesawat dan hotel

Saya bilang ke teman saya asli dari Medan bahwa saya akan ke Medan. Berharap bisa ketemu karena sudah lama sekali tidak ketemu. Dia bertanya dalam rangka apa dan di mana lokasinya. Saya bilang conference di Danau Toba.

"Itu sih bukan Medan tapi Parapat," jawab teman saya.

Oh, salah ternyata haha. Dan kata dia Parapat jauh dari Medan sekitar 4 jam. Waduh... tak bisa ketemu donk kita. :(

Saya bilang juga ke teman saya yang lain yang tinggal di Sumatera Utara. Saya bilang mau ke Prapatan.

"Bukan Prapatan tapi Parapat," kata dia mengoreksi.

Ups. Maafkan salah sebut. Hehe :D
Habisnya saya baca di website citsm Hotel Inna Prapat. Jadi saya ingatnya Prapatan. My bad...

Untuk tiket pesawat akhirnya saya pilih bandara Silangit ketimbang Kuala Namu dengan pertimbangan Silangit lebih dekat ke Hotel Inna Prapat yaitu 2 jam. Sementara dari Kuala Namu butuh waktu 4 jam. Saya sudah terlalu sering perjalanan jauh jadi sudah cukup merasa lelah. Saya ambil rute terdekat saja. Akibatnya sih tak bisa ketemu teman karib saya jadinya. :)

Untuk hotel sendiri, miris ceritanya. Jadi, awalnya saya berencana sekamar berdua dengan teman saya yang juga lolos paper-nya. Kami yang sejurusan seangkatan ada tiga orang yang lolos paper ke citsm dan semuanya perempuan (setahu saya). Teman yang satu sudah booking hotel bersama keluarganya mau sekalian liburan. Sementara saya dengan teman saya satunya lagi booking satu kamar karena budget untuk sendiri sekamar tidak mencukupi jika menginap di Hotel Inna. Sementara kalau sekamar berdua akan masuk. Tapi beberapa hari kemudian teman saya mengabari bahwa dia akan pergi beserta anak dan suami sekalian liburan. Jadi kami harus pisah kamar dan cari hotel lain yang masuk budget untuk sendiri. So sad... T.T

Jadi, saya sendirian nih? Baiklah... hiks


Jemputan bus dan T-Shirt

Eh, ternyata ada jemputan bus loh baik dari Kuala Namu maupun Silangit. Alhamdulillah. Selain itu juga peserta mendapat T-Shirt. Peserta diminta mengisi formulir online-nya.


Jadwal presentasi

Kemarin 18/7/2018 saya mendapat email berupa jadwal presentasi. Dan saya mendapat jadwal di hari kedua 8/8/2018 di Room 1 Section 7 pukul 9.00 - 10.00. Di situ sudah dikategorikan per bidang paper-nya. Dan ternyata pesertanya banyak. Saya lihat ada sekitar 158 peserta. Wow!


Bersambung part 4..







Tuesday, July 17, 2018

Pengalaman Lolos International Paper Conference CITSM 2018 (Part 2)

7/17/2018 05:04:00 PM 0 Comments

Lanjutan cerita sebelumnya di Part 1...

Tugas saya selanjutnya adalah registrasi conference, merevisi paper, booking tiket pesawat dan hotel, dan presentasi di conference. Hal yang lebih dulu harus saya lakukan adalah registrasi conference. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan registrasi untuk early bird deadline lebih cepat yaitu 15 Juni 2018. Setelah itu biaya registrasi menjadi lebih mahal. Baiklah saya akan registrasi early bird. Saya saat itu posisi sudah pulang kampung karena tahu sendiri ya mau lebaran Idul Fitri.


Cerita hibah dana dari kampus

Jadi, pendanaan untuk conference ini tidak saya tanggung sendiri melainkan ditanggung kampus. Ceritanya saya mendapat dana hibah dari kampus. Kok bisa mendapat dana hibah bagaimana ceritanya? Baiklah akan saya ceritakan.

Awal mulanya, paper yang saya buat itu adalah paper tugas salah satu mata kuliah di semester satu namanya Manajemen Data. Nah, paper ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah tersebut (menjelang akhir semester deadline). Saya sudah pernah cerita sebelumnya di posting lain bahwa saya tidak mendapat partner untuk join pembuatan paper. Jadilah saya berpusing-pusing ria mengerjakan paper ini sendiri menjelang akhir semester (kejar deadline).

Bahkan saya tidak maju untuk presentasi progress paper ini karena merasa tidak pede/yakin padahal sih slide sudah saya buat. Tapi memang saat itu belum ada progress draft paper-nya. Tapi karena penasaran, jadilah setelah mata kuliah selesai saya konsultasikan ke dosen. Jadi, saya lanjutkan saja tanpa mendapat feedback/koreksi dari dosen. Saya hanya bertanya beberapa poin saja seputar paper saya. Lagipula saat itu sudah sore dan juga antri panjang teman lain.

Saat libur semester, feedback dari dosen tentang paper final yang dikirim ke dosen keluar. Saya lihat ada beberapa poin perbaikan untuk paper saya ini. Alhamdulillah-nya saya mendapat nilai perfect. Tidak menyangka. Baik sekali Bapak Dosen. Terima kasih.

Bapak dosen pun memberitahu bagi siapa yang ingin submit paper ke jurnal dipersilahkan merevisi paper lalu menghubungi beliau. Ada hibah dari kampus tetapi hanya sebagian saja (tidak bisa semua mahasiswa dapat). Salah satu teman saya menghubungi beliau dan kata beliau adalah beliau minta kirim paper revisi lalu akan beliau cek dulu, preferensi untuk yang nilai paper-nya tinggi terlebih dahulu. Nah, saat itu saya tidak menghubungi beliau karena tidak pede. Sampai akhirnya teman saya bilang bahwa dia berhasil mendapat hibah dari kampus dan namanya dimasukkan dalam daftar hibah.

Lalu saya juga mendengar rekan lain yang namanya dimasukkan dalam daftar hibah padahal teman saya tidak menghubungi Bapak Dosen. Ternyata dia temanya sama dengan teman saya tadi. Sementara tema saya kan beda.

Akhirnya saya beranikan diri untuk menghubungi Bapak Dosen bahwa saya ingin mencoba submit paper tapi saya tidak pede karena saya tidak tahu apakah paper saya ini ada tema yang cocok dengan tema yang diminta conference dan juga karena paper saya  sempat kena sesuatu hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini. 

Tapi Bapak Dosen bilang tidak apa-apa dicoba saja. Akhirnya paper saya revisi dan kirim ke icoict dengan nama beliau sebagai author 2 dan dosen lain sebagai author 3 namun tidak lolos seleksi. Setelah itu saya dihubungi dosen lain (yang namanya dimasukkan dalam paper saya sebagai author 3) untuk mengirim ke citsm. Saat itu teman saya yang mendapat hibah bilang ke saya kalau saya mendapat hibah juga. Dia yang memberi kontak whatsapp saya ke Bapak Dosen. Saya sih percaya tidak percaya mendapat hibah karena kan bukannya nama-nama penerima hibah sudah dibuat daftarnya. Saya juga tidak diberitahu bahwa saya sebagai penerima hibah.

Dan kemudian setelah saya submit, saya dimasukkan ke grup whatsapp PITTA. Nah, selain saya di situ ada nama teman-teman saya penerima hibah. Begitu pengumuman, ternyata paper saya lolos. Saya hubungi Bapak Dosen kalau paper saya lolos dan selanjutnya beliau mengirim uang registrasi. Nah, berarti benar memang saya mendapat hibah. :)

Alhamdulillah...

Kalau pakai dana pribadi tekor juga nih... :D


Kesulitan-kesulitan menjelang registrasi

Saya diberitahu dosen pada tanggal 12 Juni 2018 bahwa biaya registrasi conference sudah ditransfer ke rekening saya. Jadi, saat itu saya tengah mengalami kesulitan. Bukan kesulitan keuangan ya Readers (alhamdulillah) tapi maksud saya adalah tablet saya tidak ada sinyalnya sama sekali di kampung. Dan masalahnya adalah bukan pada sinyalnya melainkan pada tablet saya. Herannya pada saat di kota (seperti Jakarta atau Metro kalau di tempat kampung saya) sinyal ada. Tapi kalau pakai paket data baterai jadi cepat panas dan habis. Menyusahkan saya kan ini sewaktu dibawa keluar. Pas saya butuh untuk pesan gojek misal pas di luar eh baterai habis. 

Anehnya lagi, kalau di tempat yang bertingkat tidak mau konek internet padahal sih sinyal ada penuh. Terus kalau pakai wifi si tablet mau konek dan baterai awet. Saya jadi pusing dan gemas dengan tingkah si tablet saya ini. Alamak pertanda saya butuh hp baru ini. :(

Jadi gegara tingkah tablet saya ini, saya terpaksa minta hotspot keponakan untuk konek internet. Susah deh jadinya hidup saya tanpa internet kalau keponakan saya pas pergi. Mana saat itu saya lagi butuh-butuhnya koneksi internet untuk registrasi karena sudah mau deadline. Bagaimana coba?

Saking butuhnya, akhirnya saya hubungi keponakan saya yang lain (dari Banten) yang akan mudik lebaran ke rumah orangtua saya. Pas sehari sebelum deadline (14 Juli 2018) keponakan saya datang dengan membawa sebuah hp baru pesanan saya. Alhamdulillah... seberkas sinar datang :)

Kesulitan lain adalah betapa stressnya saya ketika saya harus memasukkan syarat berupa scan hasil print-out semacam pernyataan yang harus saya tandatangani sementara kondisi saya tidak bisa melakukan printing di rumah. Saya kembali membuka printer lama saya yang sudah lama tidak dipakai. Saya sudah belikan tinta baru tapi kok keponakan saya belinya tidak ada suntikannya. Lah terus bagaimana ini mau memasukkan tinta. Lalu saya ke warnet terdekat (satu-satunya yang buka menjelang lebaran) untuk print eh ternyata komputer warnet tidak mendeteksi hard disk saya. Mau saya kirim via email, eh internet warnet tersebut sedang gangguan. Alamakkk. Saya pun pulang dengan perasaan kecewa. :(

Tak habis akal, keesokan harinya saya pergi ke Kota Metro ditemani keponakan saya. Rencana adalah mencari tempat print. Di pinggiran jalan Metro kok saya tidak nemu yang buka. Lalu saya sampai ke pasar. Saya nemu satu tempat yang masih buka tapi rupanya tidak melayani print karena sebenarnya sudah tutup. Lah kok masih buka? Aneh...

Ya sudahlah akhirnya saya pergi membeli tinta lagi berharap nanti pulang si printer mau dipakai. Setelah itu saya pulang. Di perjalanan pulang saya sempatkan berjalan menuju daerah kampus yang biasanya banyak tempat print. Memang tidak rejeki ya itu semua tempat print tutup. Memang sih itu 1 hari menjelang lebaran. Benar-benar ujian puasa ya. :(

Saya lanjut jalan pulang ke rumah. Saya mencoba mampir ke satu warnet yang masih buka di pinggir jalan. Eh, tidak bisa print kata penjaganya. :(

Sampai di rumah saya mencoba pakai printer saya tapi sungguh malang si printer tidak mau print. Wah, rusak berarti padahal sih masih hidup. Huh sedih... T_T

Sumpah. Dari situ saya merasa sedih. Betapa sulitnya hidup di kampung. Padahal sih itu cuma mau print 2 lembar tapi kok sesulit itu. :(

Padahal sih ya mungkin memang momennya sedang tidak tepat. Jangan salahkan kampung.

Masih belum menyerah nih saya ceritanya. Saya mulai berpikir beberapa alternatif. Satu, siapa ya tetangga terdekat yang bisa saya tumpangi print. Dua, siapa teman jarak jauh yang bisa saya mintai tolong print dan scan sekalian lalu kirimkan ke saya hasilnya. Lah, bagaimana saya menghubungi teman dan kirim file kalau saya tidak bisa konek internet.

Sebenarnya saya sudah kepikiran siapa nama yang masuk kandidat. Tapi saya berpikir itu momennya sehari sebelum lebaran loh. Menyusahkan orang saja saya nanti. Saya tidak mau. Akhirnya hal itu saya urungkan. Cukuplah hal itu hanya sebatas pemikiran yang ada di otak saya. :(

Saya pikirkan alternatif lain yaitu saya otak-atik saja langsung file-nya di laptop. Baiklah saya mulai action begitu saya terima hp baru dari keponakan untuk konek internet. Dan setelah rangkaian perjuangan menyedihkan yang saya lewati tadi, terbayar sudah. File berhasil saya kirim tanpa menyusahkan siapa-siapa (cukup diri sendiri saja yang susah). Alhamdulillah :)

Dan setelah kesulitan ada kemudahan... 

Bersambung part 3...


Pengalaman Lolos International Paper Conference CITSM 2018 (Part 1)

7/17/2018 02:13:00 PM 0 Comments
Perhatian! Posting ini sudah saya tulis sejak 2/6/2018 namun baru sekarang saya publish. Semoga tak mengurangi makna ya. Selamat membaca! :)


Memasuki pertengahan bulan ramadhan... bagaimana puasanya Readers? Lancar? Alhamdulillah masih bisa menjalani ibadah puasa di tahun ini ya. 

Lama tidak menengok blog ini, ternyata lama juga saya tidak posting. Ok, saya akan coba kembali posting.

Belakangan ini (akhir Mei) memang saya sedang sibuk uas jadi baru bisa berlega-lega ria sekarang-sekarang inilah memasuki bulan Juni karena saya libur panjang hingga Agustus. 

Readers, saya kan pernah cerita tentang plagiarisme ya. Adakah kalian sudah membaca? Nah, di sana kan saya cerita tentang paper saya yang tidak lolos conference. Setelah itu, saya diminta dosen pembimbing merevisi paper saya tersebut dan di-submit ke conference lain yang deadline terdekat yaitu CITSM 2018 (The 6th International Conference on Information Technology for Cyber and IT Service Management).  

Kalau boleh jujur ya, sebenarnya saya sudah tidak berminat untuk submit ke internasional conference. Tidak masuk jurnal internasional juga tidak apa-apa. Bisa masuk ke jurnal nasional pun jadilah yang penting tujuan utama saya untuk menggugurkan kewajiban publikasi ke jurnal sebagai syarat lulus terpenuhi. Tak perlu juga yang "wah" jurnalnya. Asal bisa masuk dan menggugurkan kewajiban tadi sudah cukup. Saya tidak mau muluk-muluk.

Lagipula, masuk jurnal international itu biayanya mahal. Lulus conference juga mahal biaya pendaftaran masuknya (jutaan) karena nantinya juga setelah presentasi di conference, paper akan masuk jurnal internasional juga. Kemarin, yang pertama saya submit adalah ke icoict itu kalau lolos bayar 4 juta rupiah dan conference-nya di Bandung. Sementara yang saya submit selanjutnya adalah citsm biaya pendaftaran 2 juta rupiah (untuk kategori mahasiswa) kalau lolos dan acara conference-nya di Parapat, Sumatera Utara. Sama juga kalau dihitung-hitung dengan biaya akomodasi ke sana ya. :D


Cerita awal submit

Lanjut cerita tadi...
Pada bulan Maret, saya dinotifikasi dosen beberapa kali via whatsapp untuk submit. Tapi saya ini sudah terlanjur malas (jangan ditiru) dan juga lelah karena sedang sibuk-sibuknya kuliah dan tugas. Kok rasa-rasanya seperti tidak ada waktu untuk revisi (halah alasan). Tahu sendiri ya kalau revisi itu momok sekali (buat saya ini loh ya). Sampai tiba gilirannya deadline tanggal 31 Maret 2018. 

Oya, sebenarnya pada awalnya saya memang mengincar untuk submit ke citsm. Tapi karena icoict itu deadline lebih dulu, jadi saya coba-coba submit ke icoict (aji mumpung alias ambil kesempatan waktu mana yang duluan). Dan ternyata tidak lolos (alhamdulillah ya). Dan sisi baiknya adalah saya jadi merevisi paper saya tersebut. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap kegagalan. Uhuk-uhuk. :)

Pada awalnya citsm sudah deadline saat menunggu icoict pengumuman. Tapi rupanya diperpanjang deadline-nya (tak menyangka). Jadi saya coba submit ke citsm. Dan saya submit itu injury time sekitar sejam sebelum deadline. Jadi ceritanya saya pulang kampus sekitar pukul 19.30 pm wib. Di kamar, saya langsung buka laptop dan merevisi paper saya. Niat banget ya. Kepepet lebih tepatnya sih. Menunggu detik-detik deadline. :)

Revisi itu tidak bisa sebentar ya (bagi saya loh ini). Apalagi saya harus memangkas dan mengubah-ubah kalimat supaya tidak terdeteksi plagiarisme. Butuh waktu... 

Mana format harus disesuaikan dengan permintaan penyelenggara dan lain-lain. Harus dikoreksi juga kan? Butuh waktu...

Registrasi dulu sebelum submit juga butuh waktu... perlu koneksi internet lancar apalagi injury time

Syukurnya saya memang sudah registrasi jauh hari sebelum ikut icoict malah...

Awal saya submit, kok tidak bisa ya. Apa masalahnya? Ternyata email yang saya masukkan di pendaftaran easy chair tidak sama dengan yang saya masukkan sekarang. Ok, setelah saya ubah baru bisa submit. Alhamdulillah.

Nomor pendaftaran saya adalah 214. Mungkin nomor terakhir ya. Hehe

Setelah submit, saya tidak kirim notif ke dosen karena biasanya kan otomatis masuk ke email dosen yang didaftarkan. Jadi, dosen kembali bertanya ke saya apakah saya sudah jadi submit. Saya jawab sudah. Tapi kata dosen kok tidak masuk ke email dosen. Loh kok bisa? Padahal sudah saya masukkan.

Dosen kembali bertanya, dan saya jawab yang sama, kata beliau saya disuruh mengecek di easy chair.


Cerita pengumuman

"Apakah sudah ada notif diterima atau tidak?" tanya Pak Dosen.

"Belum, Pak."
Padahal sih sudah lewat jadwal pengumuman. Seharusnya kan tanggal 25 Maret. Nah itu sudah tanggal 30 belum ada pengumuman. Dan saya cek jadwalnya di website tidak ada perubahan jadwal.

Keesokan harinya, saya lagi berkutat dengan tugas yang deadline siang itu, eh dapat notif dari citsm. Loh ini pengumuman baru hari itu tanggal 31 Maret? Ok, saya buka email di tablet saya. Duh, diterima tidak ya. Saya sih terus terang tidak berani berharap. Karena apa?

1. Kalau baca-baca di syarat-syarat pendaftaran sih citsm kelihatannya lebih ketat ketimbang icocit. Lah icoict saja saya tidak lolos apalagi ini pikir saya.

2. Di sana disebutkan bahasa Inggrisnya itu sebaiknya diperiksa dulu oleh native speaker. Lah saya tidak pakai diperiksa native speaker segala. Memang sih, sebelum submit ke icoict dulu saya sempat meminta teman saya native speaker untuk mengecek paper saya. Tapi ya itu karena jarak jauh, dia tidak mengoreksi apa-apa jadinya. Dia cuma bilang sudah ok dan dia juga bilang tidak menyangka saya yang bukan native speaker bisa menulis begitu. Lah, bukan itu yang saya harapkan padahal. Saya butuh koreksinya kata per kata. Haduh bagaimana sih dia. :(

3. Di syaratnya tertulis kalau konversi ke pdf-nya direkomendasikan menggunakan pdf converter yang disediakan penyelenggara. Nah, waktu itu saya tidak bisa masuk dengan password yang disediakan. Sudah expired begitu ceritanya. Mungkin karena saya pakai setelah masa extended jadi tidak di-update lagi oleh penyelenggaranya. Jadi, karena sudah injury time, ya sudahlah wallahualam pakai converter lain yang penting submit dulu. Lolos tidak lolos urusan belakangan.

4. Beberapa hari setelah submit, saya coba baca lagi pdf saya. Lah ternyata kok ini judul Bab III hilang. Kalau isinya sih ada tapi nyambung bab II. Astaghfirullah... Inilah penyebab utama yang menurut saya akan menggagalkan paper saya untuk diterima. 

Jadi, setelah email terbuka saya baca donk ya. Dan jreng jreng.....

accepted!

Huhuhu ini benar?

Di sana tertulis bahwa paper saya diterima. Tapi ada revisinya di beberapa bagian. Alhamdulillah. Untuk nilai -1 (weak reject) di review 1. Dan review 2 nilainya 2 (accepted).

Setelah itu saya beritahu dosen saya dan memohon maaf karena belum sempat mengecek email beliau di easy chair eh sudah pengumuman duluan jadi tidak masuk ke email beliau notifnya.

Saya kirim screenshot. Eh, ternyata kata dosen email yang saya masukkan salah. Tidak salah sih tapi harusnya bukan email itu yang dimasukkan tapi email lain yang pakai cs. Kalau email yang saya masukkan jarang dibuka. Yah, Bapak Dosen, mana saya tahu. :(

Baiklah. Saya akan forward dan memperbaiki email beliau di easy chair. Eh, belum sempat memperbaiki email beliau, dapat review 3. Saya tanya teman saya yang juga lolos, dia tidak terima review 3. Hmm, berarti sudah bagus punya dia cukup sampai review 2. Sementara punya saya, jadi tambah banyak revisi. Hiks.

Tugas saya selanjutnya adalah merevisi paper. Conference nanti akan diselenggarakan di Inna Prapat Hotel, Danau Toba Parapat, Sumatera Utara tanggal 7-9 Agustus 2018. Bismillah... 

Semangat!

Bersambung part 2 dan 3...

Wednesday, July 11, 2018

Membuat e-Passport Ternyata Mudah dan Cepat

7/11/2018 12:01:00 PM 0 Comments


Kemarin, 10 Juli 2018 saya ke kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Pusat untuk membuat e-Passport. Alhamdulillah akhirnya saya buat juga. Karena awalnya sempat diajak teman ke luar negeri akhir tahun 2017 silam namun sayang 3 bulan lagi paspor saya expired sehingga saya tidak bisa ikut. Sementara syarat-syarat ada di kampung. Jadi, setelah liburan semester bulan Januari 2018 saya pulang kampung dan saya bawa persyaratan yang dibutuhkan. Eh, ternyata kalau sudah punya paspor sebelumnya tidak perlu syarat-syarat yang banyak itu. Cukup membawa fotokopi ktp, fotokopi paspor, dan paspor asli. 

Yang saya lakukan untuk membuat e-paspor adalah sebagai berikut:

1. Registrasi antrian melalui whatsapp.
Kantor Imigrasi Jakpus tidak menggunakan sistem antrian melalui aplikasi seperti kantor lain melainkan menggunakan whatsapp. Pada tanggal 29 Juni 2018 saya mencoba registrasi. Caranya:

Ketik #tgllayanan kirim ke 0812 9900 4406

Rupanya antrian penuh sampai 11 Juli 2018. Alamakkk! Padat benar ya. 
Tanggal 1 Juli saya coba lagi dan jawabannya tetap sama. Kuota penuh sampai 11 Juli.
2 Juli saya coba lagi. Jawabannya kuota penuh sampai 12 Juli.
3 Juli saya coba lagi. Jawabannya adalah tanggal layanan yang bisa dipilih tanggal 13 Juli. Huaaa akhirnya. :)

Lalu saya ketik #NAMA#TGLLAHIR(DDMMYYYY)#TGLLAYANAN(DDMMYYYY)

Contoh #REANA#01012000#13072018

Setelah itu akan ada balasan konfirmasi penjadwalan layanan. Dan saya diminta untuk membalas dengan mengetik kode persetujuan. Entah kenapa saya tidak langsung mengetik kode persetujuan tapi malah membalas dengan format yang sebelumnya. Dan alhasil sistem menjawab dengan kuota antrian penuh hingga tanggal 13 Juli 2018. Yahhh salah. :(

Saya kembali mengetik #tgllayanan pun hasilnya sama. Kuota antrian penuh.
Setengah jam kemudian saya coba lagi ketik #tgllayanan. Alhamdulillah dapat antrian tanggal 10 Juli. Kali ini tidak disia-siakan. Langsung saya balas kode persetujuan dan akhirnya mendapat kode booking. Di situ tertera jam kedatangan. Sebaiknya datang sejam lebih awal.

Jadi ceritanya nih, saya janjian dengan teman saya. Dia mau ambil paspor. Dia cerita kalau dia libur kerja tanggal 10 dan 18 Juli. Kalau tanggal 10 kan tidak mungkin karena sudah penuh. Nah awalnya kan saya dapatnya tanggal 13 Juli. Saya bilang dulu ke dia bagaimana. Dia kerja sih tapi dia mau tanggal segitu (bisa tukar shift dengan temannya). Yah, ternyata saya salah balas dan antrian penuh lagi. Baru setelah itu saya coba-coba lagi dapat tanggal 10. Wow! Kok bisa pas sekali dia libur. Tidak menyangka. Memang rejeki tak ke mana ya. :D

Tips: 
a. Kirim whatsapp registrasi jauh-jauh hari dari tanggal yang diinginkan karena kemungkinan penuh sangat besar.
b. Kalau kuota penuh, sering-sering saja ketik ulang. Kalau ada antrian orang yang batal kita bisa dapat antrian tersebut.

2. Konfirmasi kehadiran
Setelah mendapat kode booking. Kita diharuskan membalas konfirmasi kehadiran pada tanggal yang ditentukan sistem. Saat itu saya harus konfirmasi pada tanggal 7 Juli 2018. Batas konfirmasi pukul 24.00 ya jangan lupa. Keesokannya saya mendapat balasan konfirmasi kehadiran.

3. Mengisi formulir
Pengisian formulir tergantung tujuan kamu membuat paspor. (1) Apakah membuat paspor baru? (2) Apakah paspor biasa kamu yang masa berlakunya masih ada mau diganti dengan e-paspor? (3) Apakah paspormu habis masa berlaku dan ingin diganti menjadi e-paspor?

Kalau kamu punya paspor biasa yang masih berlaku dan ingin diganti menjadi e-paspor maka kamu harus membeli formulir di kiri kantor imigrasi seharga 8 ribu rupiah. Bilang saja ke petugas di sana. Ada tempat untuk fotokopi dan juga membeli surat pernyataan. Jalan saja ke kiri kantor imigrasi nanti pasti ketemu. 

Kalau saya kan masa berlaku paspor biasa sudah habis tepatnya Februari 2018. Dan berhubung paspor saya pembuatannya di atas tahun 2009 maka saya tidak perlu membeli formulir tersebut. Saya langsung mengambil formulir di dalam kantor imigrasi lantai 1. Lalu saya isi formulir dan siapkan persyaratannya yaitu fotokopi ktp, fotokopi paspor lama dan disertakan paspor lamanya. Kode booking saya tulis di map. Setelah itu saya antar ke meja yang ada petugasnya. Dari situ saya mendapat kode antrian yaitu 2-124. Saya dipersilakan naik ke lantai 2.

4. Wawancara, foto, dan sidik jari
Lantai 2 merupakan tempat bagi pengunjung untuk wawancara dan juga mengambil paspor yang sudah jadi. Wawancara di sebelah kanan dan mengambil paspor di sebelah kiri. Pengunjung akan dipanggil sesuai nomor antrian. Nah kalau saya masih cukup lama dipanggil karena antrian saya nomor 124 sementara saat itu baru sampai antrian 20-an. :)

Pukul 12 siang kurang beberapa menit saya selesai wawancara. Cepat sekali wawancaranya. Apa saja yang ditanya? Petugasnya kala itu Bapak-Bapak di meja nomor 5 yaitu Bapak Wisnu. Saya ditanya lahir di mana, sudah pernah ke Jepang ya ngapain, PNS tahun berapa, mau ke mana, dan lain-lain. Saya tidak diminta apa-apa lagi. Kalau teman saya diminta surat keterangan kerja (tergantung petugas kali ya). Jadi buat kamu siap-siap saja. Padahal sih saya juga sudah siap-siap. Hihi alahamdulillah.

Setelah itu foto dan sidik jari (10 jari). Harus ditekan ya pas sidik jari supaya kedeteksi. Saya berkali-kali tidak masuk terutama pas kelingking. 

Selesai, saya mendapat tanda bukti berkas permohonan paspor. Di situ tertera nomor permohonan yang harus saya ketik dan ketik ke nomor whatsapp yang juga tertera di situ keesokan harinya.

5. Pembayaran
Tanggal 11 Juli 2018 saya ketik petunjuk di bukti berkas permohonan paspor. Saya mendapat balasan kode MPN G2. Kode tersebut merupakan kode yang harus kita masukkan ketika melakukan pembayaran melalui ATM. Untuk mendapat petunjuk pembayaran ketik #bayar.

Nah, tadi pun saya melakukan pembayaran senilai 655.000 rupiah.
Pembayaran diberikan waktu 7 hari. Kalau sudah membayar tinggal menunggu notifikasi pengambilan selama 5 hari kerja.


Nah, mudah kan?


Update: Selasa 17/7/2018

6. Pengambilan
Hari ini saya kembali ke kantor Imigrasi Jakarta Pusat untuk mengambil paspor. Sehari sebelumnya yaitu kemarin Senin (16/7/2018) saya mendapat notifikasi via whatsapp bahwa paspor sudah bisa diambil mulai satu hari kerja setelah pesan notifikasi itu diterima. Syarat pengambilan yaitu membawa bukti pembayaran dan identitas diri.

Tadi saya datang sekitar pukul 10.30 wib. Saya langsung naik ke lantai 2. Yang saya lakukan adalah

1. Berjalan menuju arah kiri untuk mengambil nomor antrian di mesin. Caranya tinggal memasukkan 6 digit nomor terakhir yang ada di lembar bukti pembuatan paspor. Setelah itu struk antrian keluar dari mesin.

2. Menunggu nomor antrian dipanggil. Nomor saya 6-138. Antrian tadi baru 6-128. Tak terlalu jauh.

3. Begitu dipanggil saya langsung ke depan (ada di samping mesin untuk mengambil nomor antrian) menyerahkan bukti pembayaran, nomor antrian, dan lembar bukti pembuatan paspor. Kartu identitas tidak dicek oleh petugas padahal sih sudah saya siapkan.

4. Tandatangan dan menulis nama di blanko yang diberi petugas.

5. Menulis nama dan nomor paspor lalu tanda tangan.

6. Selesai. Pulang!

Yay! Paspor saya sudah jadi. Mari jalan-jalan! :)