Gagal Ikhtiar: Merangkul Luka, Menyapa Bahagia (Seri 9)
Setelah melewati jalan yang baru, saya mulai memahami satu hal yang sederhana tapi sering kita lupakan: luka bukan musuh, tapi guru yang paling jujur.
Selama ini saya menghindari rasa sakit dan kecewa. Namun, di titik ini saya mulai duduk berdampingan dengan luka. Saya biarkan rasa pedih itu hadir, saya biarkan air mata jatuh tanpa rasa malu.
Dan di tengah kesendirian yang sunyi itu, saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang membuatku takut gagal?”
Saya takut menerima bahwa ada hal-hal yang di luar kuasa saya. Tapi perlahan saya belajar untuk pasrah, tanpa menyerah. Menerima tanpa merasa kalah.
Hingga akhirnya, saya mulai menyapa bahagia yang sederhana. Bahagia yang tidak berasal dari hasil akhir, tapi dari langkah-langkah kecil yang saya ambil setiap hari.
Terkadang kita harus gagal untuk belajar berdamai dengan hidup yang tak selalu bisa kita kendalikan. Dan itu tidak apa-apa.
"Bahagia itu bukan tiba-tiba, tapi perlahan… saat kita belajar merangkul setiap luka."
Bagaimana kamu memandang luka yang pernah kamu alami? Apakah sudah kamu rangkul, atau masih kamu hindari?
Bersambung ke seri 10...
No comments:
Post a Comment
leave your comment here!