Follow Us

Monday, March 30, 2015

Winter in Tokyo (1) : Persiapan Awal

3/30/2015 08:41:00 PM 2 Comments

Winter in Tokyo, ada yang kenal? Bagi kamu pecinta novel karangan Ilana Tan pasti tahu deh. Tapi saya menulis kali ini bukan mau membahas novel ya melainkan pengalaman saya jalan-jalan. Kenapa Tokyo dan kenapa pas winter juga tidak ada kaitannya dengan novel tersebut sama sekali. :)

Alhamdulillah. Kesampaian dream jalan-jalan ke Tokyo. Kalau dirunut, saya sudah pernah hendak ikutan jalan-jalan ke Jepang tahun 2011 silam bareng salah seorang sobat saya. Di waktu yang sama Januari. Tapi gagal. Rupanya tahun inilah Allah ijinkan saya ke sana. Saya jadi merenung. Dari hal ini terbukti bahwa bukan Allah tidak mengabulkan doa kita. Tapi menunggu waktu yang tepat. Ya, meski harus menunggu 3 tahun, jika memang itulah waktu yang tepat menurut-Nya maka tidak ada yang tidak mungkin. Kun Fayakun!

Awalnya di pertengahan tahun lalu saya merencanakan ikut jalan-jalan autumn atau winter Korea. Tapi rupanya tiba-tiba saya mendapat panggilan diklat Pim IV di Jakarta dari 18 Agustus sampai 4 Oktober 2014. Saya khawatir jadwal bertabrakan jadi ya sudahlah saya urungkan niat. Lagipula cuti saya itu sudah habis di 2014 jadi sebenarnya maksa banget kalau saya berangkat di 2014. Kalau pun mau nekat pergi pas winter Desember ya tetap saja sudah tidak punya cuti lagi. Itu yang menjadi kendala salah satunya.

Akhirnya saya mengambil jatah cuti 2015 di awal tahun tepatnya 25-28 Januari. Karena jatah cuti PNS cuma 12 hari setahun dan setelah dipotong cuti bersama maka yang tersisa hanya 8 hari, jadilah saya hanya mengambil 5 hari cuti untuk jalan-jalan ke Jepang dan sisa 3 harinya akan saya gunakan untuk cuti mudik lebaran nanti. Maklum perantauan memang harus perhitungan.

Ke Jepang pun hanya terhitung dari 25-28 Januari saja. 29-31 Januari saya pergunakan untuk pulang kampung ke Lampung. Tanggal 1 Februari saya kembali lagi ke Bengkulu. Padahal badan masih terasa remuk redam. Tapi bahagia! Haha :)

Sebenarnya nih terlalu singkat jalan-jalannya. Dengan sekian US Dolar yang sudah dikeluarkan sebenarnya rugi ngga extend. Yah minimal seminggulah ya biar bisa puas. Mudah-mudahan one day bisa balik lagi ke sana karena masih banyak tempat yang ingin dikunjungi. Aamiin.

Berikut itinerary kami:
Sabtu 24/01/2015 Soekarno Hatta Airport pesawat Garuda Indonesia take off 23.45 pm. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam.
Minggu 25/01/2015 tiba di Haneda Airport, Tokyo, Jepang pukul 09.15 am. Sampai di hotel, menunggu agak lama naruh barang lalu lanjut ke Kyoto. Check in.
Senin 26/01/2015 Gotemba/Gunung Fuji/Owakudani Hall Valey
Selasa 27/01/2015 Kaminarimon/Sensoji Temple/Shibuya/Shinjuku/Harajuku
Rabu 28/01/2015 Check out

Persiapan apa saja yang diperlukan, diantaranya sebagai berikut:

Visa
Pengurusan visa ke Jepang ini berdasarkan yurisdiksi. Ada pembagiannya di situs kedutaan Jepang untuk Indonesia. Nah, Bengkulu masuk yurisdiksi Jakarta. Jadi untuk pengurusan visa harus di Jakarta. Untuk saya yang jauh begini tentu hal ini menjadi kendala kan buat saya mengurus harus ke Jakarta. Kapan waktunya? Senin hingga Jumat saya masuk kerja. Sementara Kedutaan juga sama hari kerjanya Senin hingga Jumat. Belum biayanya berapa yang harus saya keluarkan dari kabupaten hingga Jakarta pulang pergi.

Ga bakalan ngurus deh kalau memikirkan itu jadi kendala. Makanya saya cari alternatif. Berhubung tidak ada link di Jakarta buat ngurusin, makanya saya cari travel agent yang menyediakan jasa pengurusan visa. Nah kita tinggal kirim syarat-syaratnya saja plus transfer uang untuk biayanya juga ongkos kirim setelah visa jadi. Tidak mahal kok biaya tambahan untuk pengurusan ke agent-nya. Jadi kita tidak perlu susah payah lagi tinggal menunggu saja sampai ke alamat kita. Saran saya sih cari travel agent yang terpercaya ya!

Sebenarnya kalau kita punya e-passport (passport yang ada chip-nya) tidak perlu lagi mengurus visa untuk bisa pergi ke Jepang. Mulai tahun 2015 ini diberlakukan bebas visa ke Jepang bagi pemilik e-passport. Tapi berhubung passport saya masih yang lama ya saya mengurus visa deh jadinya.

Syarat-syarat pengurusan visa ada di situs Kedutaan Jepang. Kalau yang saya serahkan di antaranya:

1. Passfoto berwarna
2. Fotokopi KTP
3. Fotokopi Akte Lahir/KK
4. Rekening koran 3 bulan terakhir
5. Itinerary perjalanan
6. Bukti Pembelian tiket pesawat
7. Mengisi formulir dari kedutaan Jepang
8. Surat sponsor/rekomendasi atasan
9. Passport

Tiket Pesawat
Tiket pesawat ada banyak pilihan ya kita tinggal pilih saja yang sesuai jadwal dan juga budget pastinya. Kalau ada yang promo bisa jadi pilihan buat berhemat. Lumayan sekian yen bisa untuk beli cemilan di sana atau tiket subway. :)

Pilihan pesawat ke Jepang bisa pakai Garuda, Air Asia, JAL, Cathay Pacific, Philippine Airlines, dll. Tergantung mau lewat Haneda atau Narita Airport. Kemarin saya ke Haneda dan pesawat pilihan saya adalah Garuda. Pas banget lagi ada promo midnight sale Garuda. Jadi bisa lumayan berhemat. Garuda midnight sale kala itu juga penerbangan langsung tengah malam jadi pagi-pagi sudah sampai. Tidak perlu transit lagi.

Kalau jadwal sebelumnya saya cek jauh hari di Garuda transit Denpasar dulu. Lama pula transitnya sehari. Kalau Air Asia transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara Cathay Pacific transit di Hongkong. Sebenarnya pengen mencoba Cathay. Pengen lihat Hongkong meski cuma di bandaranya doank hehe. Ah, mudah-mudahan one day bisa khusus jalan-jalan ke Hongkong. Aamiin.


Pakaian:

1. Jaket Tebal
Meski tidak turun salju, suhu tetap saja dingin. Padahal sih Matahari tetap nongol juga. Maka tetap wajib pakai jaket tebal. Kala itu saya membawa jaket wol maupun bulu angsa buat jaga-jaga. Jaket dipakai untuk lapisan luar.

2. Longjohn
Saya membawa dua pasang longjohn buat gantian. Longjohn ini untuk lapisan pertama setelah underwear supaya kita tetap hangat karena menutup rapat dan ketat seluruh tubuh kita.

3. Baju/celana
Cukup pakai baju biasa saja seperti kemeja dan celana jeans sesuai nyamannya kita apa.

4. Syal/masker
Syal buat nambah leher kita jadi hangat. Sekalian buat gaya. Kalau masker lumayan buat melindungi hidung kalau anginnya kenceng.

5. Sepatu + kaos kaki
Sepatu kets pun cukup kok kalau tidak pakai booth. Balik lagi kita nyamannya apa. Disesuaikan dengan suhulah pastinya. Toh di Tokyo kala itu tidak turun salju. Ditambah di sana bakal jalan kaki terus-menerus jadi pilih sepatu yang lepes saja dan pastinya nyaman. Kalau kaos kaki sih pilih yang hangat ya pastinya seperti dari bahan bulu domba/merino.

6. Sarung tangan
Ini penting banget ya kalau tidak mau tangan jadi beku bagi yang tidak tahan dingin. Enaknya pakai yang touch screen loh ya jadi kalau kita pencet-pencet gadget ga perlu lepas sarung tangan. Atau sarung tangan yang tinggal dibuka saja di bagian jari-jarinya.

7. Lotion/pelembab bibir
Ini untuk menjaga agar kulit dan bibir tidak kering tapi tetap lembab. Udara dingin membuat kulit dan bibir cepat kering.


Tukar Uang Yen
Nah yang penting banget ketika jalan-jalan adalah money! Siapkan uang Yen sebelum kita berangkat. Pengalaman sih saya menukar pada hari Sabtu (24/01/2015) di money changer Mangga Dua Square. Kurs waktu itu 1 Yen = 107 Rupiah. Nah, bisa dikira-kira kebutuhan kita di sana selama sekian hari berapa Yen. Lalu tukarkan sebanyak yang kita butuhkan. Kalau tidak sempat menukar di luaran, menukar di bandara Soekarno Hatta juga bisa. Tapi saya lihat harganya lebih mahal. Begitu pula di bandara Haneda atau pun di bank Tokyo jadi lebih mahal. Waktu itu saya menemani teman menukar di bank yang ada di Shibuya memang jadi lebih mahal.


Lanjut ke part selanjutnya ya... :)

Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 1 (Kyoto)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 2 (Gotemba/Mount Fuji/Owakudani Hall Valey/Ropeway)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 3 (Kaminarimon/Shibuya/Shinjuku/Harajuku)
Winter in Tokyo (3) : Oleh-Oleh Khas
Winter in Tokyo (4) : End




Friday, March 27, 2015

Pilih Hati atau Pikiran?

3/27/2015 10:40:00 PM 0 Comments

Readers, kali ini saya mengangkat tema hati atau pikiran gara-gara percakapan singkat saya dengan seseorang via chatting. Hmm, sebenarnya sudah lama sekali saya off dari dunia per-chatting-an. Tapi belakangan saya mulai kembali chat dengan beberapa orang yang asyik untuk diskusi atau tukar pikiran. Nah, di sela percakapan kami, tiba-tiba dia membombardir saya dengan pertanyaan berupa pilihan yaitu diminta memilih antara hati atau pikiran.

Dia 
iiya2..... skarang aq balik tanya hati atw pikiran??
Saya 
maksudnya?
Dia 
ya d pilih hati atw pikiran dan alasannya
Saya 
ini soal apa ya
Dia 
universal... pilih hati atw pikiran dan alasannya kenapa d pilih
Saya 
ok tar ya aku mau kluar dulu nih ada urusan
Dia 
ocee...
Saya 
klo aku sih ga bisa selalu hati ato pikiran. selalu ada perdebatan di antara keduanya. maka aku termasuk org yg susah mengambil keputusan alias lama mikir buat ngambil keputusan. mana yg lebih tepat apakah hati ato pikiran. ada kalanya aku milih hati dan juga sebaliknya. pernah suatu ketika aku milih pikiran ato logika ketimbang hati. nah logikaku menang tapi sebaliknya hatiku menangis. maka itu ada semacam penyesalan dan menjadi pelajaran berharga ketika suatu saat mengalami hal sama lagi aku bertekad ga mau lagi begitu. bagiku, logika itu menyelamatkanku dari tindakan yang bakal merugikanku secara langsung. ketika memilih hati maka harus siap konsekuensi apapun yg bakal ditanggung. siap mental. jadi aku sih milih hati ato logika ya liat situasinya. mana yg lebih baik dikalahkan dan harus siap konsekuensi masing2 ketika milih hati apa konsekuensinya. jika milih logika apa konsekuensinya. haduh jadi mengarang indah nih. berapa nilainya ya 

Begitulah jawaban spontan saya. Tidak sempat dan tidak perlu cari referensi. Pokoknya itu yang kepikir di otak saya. Ya sudah saya tulis saja dan tidak sadar mengalir sampai jadi panjang seperti mengarang bebas. Dan saya tidak sempat untuk bertanya seperti apa pandangan dia sebaliknya. Atau pun bertanya bagaimana mengenai jawaban saya menurutnya. Berasa tes psikologi nih. 

Setidaknya begitulah yang selama ini saya rasakan. Ada kalanya hati lebih dominan dan ada kalanya logika yang lebih dominan. Tapi sepertinya lebih sering logika saya yang menang. Seringkali saya inginnya apa lalu yang saya lakukan akhirnya apa. Karena apa yang saya ingin (kata hati) biasanya disaring dulu dengan logika. Jika logika setuju maka oke ikut kata hati.Tapi jika logika tidak setuju ya jalan sesuai logika.

Yang agak sensitif mungkin jika sudah menyangkut masalah "love" ya mana yang harus diikuti. Kalau mengikuti kata hati semestinya jadi bahagia. Tapi bahagia hati tidak menjamin secara logika bisa dimengerti. Makanya ada lagu Agnes Monica "Tak Ada Logika" soal cinta.

Hah entahlah ngomong apa ini. Berhubung sudah malam. Sampai sini dulu ya readers. Next time disambung lagi. :)


sumber gambar: favim.com
withaflugelhorn.blogspot.com

Note: For someone in the dialogue, when you read this, you know it's you, then contact me. Ok? :)

Wednesday, March 25, 2015

Cerita Pengalaman Umroh

3/25/2015 06:42:00 PM 29 Comments

Bismillah...
Akhirnya hari ini saya putuskan untuk memosting kisah pengalaman umroh saya. Tulisan ini sebenarnya sudah saya buat sejak kepulangan umroh dulu. Niatnya mau diikutkan lomba menulis tapi tidak jadi karena keburu deadline. Kemudian mau saya ikutkan di lomba lainnya lagi tapi juga keburu deadline. Hehe. Kalaupun diikutkan juga saya tidak bisa ngomong soal kelayakan karena tugas saya adalah ikhtiar. Sementara hasilnya ya serahkan saja pada-Nya. Betul? Jadilah saya share saja di blog ini. Moga bermanfaat! :)



Bawa Aku Kembali ke Sana, Tuhan!
           
Jika bicara soal perjalanan, maka yang terpikir dalam benakku adalah melakukan serangkaian ritual petualangan (lebih cenderung dengan tujuan bersenang-senang) ke suatu wilayah baru yang belum pernah dijelajahi selama beberapa hari bersama orang terkasih entah itu teman, sahabat, keluarga, rekan kantor, dan sebagainya. Bisa dalam cakupan lokal (dalam negeri) maupun luar negeri. Dan sedari dulu aku selalu mendambakan bisa jalan-jalan ke luar negeri, entah itu murni dalam rangka jalan-jalan atau memang karena menempuh pendidikan s2/s3/post doctoral, kunjungan kerja, atau sekedar menemani suami studi di sana. Mungkin itu memang hanya mimpi kecilku. Tapi siapa sangka perlahan-lahan Tuhan mengabulkan doaku?

Perjalanan kali ini memang sungguh di luar mimpiku yang kusebut itu. Karena Tuhan sungguh memberiku bonus. Bonus apakah itu? Bonus ibadah! Ya, perjalananku ini kusebut perjalanan spiritual atau wisata religi. Karena perjalanan ini tidak hanya sekedar perjalanan biasa tapi juga bernilai ibadah. Jadi, pada akhir tahun 2013 tepatnya 27 Desember lalu aku melakukan perjalanan untuk ibadah umroh ke Arab Saudi. Jujur, awalnya tidak terpikir untuk umroh. Yang terpikir dalam otakku adalah jalan-jalan ke luar negeri ke negara empat musim seperti Jepang, Korea, Eropa, dan sebagainya. Tapi kemudian hatiku berbelok. Allah telah memanggilku ke sana. Ini adalah hidayah dari-Nya.

Setelah bertemu rombonganku di bandara Soekarno Hatta, hatiku sempat bertanya-tanya, kok tua-tua semua ya? Mana anak mudanya? Rupanya aku termasuk golongan paling muda. Anak mudanya masih bisa kuhitung dengan jari. Di sana aku berbincang dengan seorang Bapak berusia sekitar 50–an tahun.

Beliau berkata, “Dari kejauhan Bapak kira dari pesantren. Anak pesantren yang mendapat juara lalu dapat hadiah umroh.” 

Entah kenapa aku merasa itu lucu. Aku hanya tersenyum sambil menjawab bahwa aku bukan dari pesantren.

“Jarang anak muda terpikir untuk umroh. Biasanya kan anak muda senangnya jalan-jalan ke luar negeri atau menghabiskan uang untuk bersenang-senang.”

“Sudah berapa kali umroh, Pak?”

“Ini yang pertama. Makanya Bapak bilang bagus kalian masih muda sudah terpikir umroh. Masih muda kan badan masih kuat.” 

Benar sekali. Tidak jarang kulihat peserta rombongan sudah uzur. Aku jadi merasa beruntung dan bersyukur dalam hati.

Pukul 4 pagi pesawat take-off menuju Bangkok. Rute perjalanan kami adalah Jakarta-Bangkok-Jeddah. Tiba di bandara Suvarnabhumi, Thailand kami istirahat dua jam lalu lanjut lagi menuju Jeddah. Di bandara King Abdul Aziz Jeddah kami hanya transit sebentar lalu lanjut lagi ke Madinah dengan bus selama 6 jam. 

Masjid Nabawi

Kami tiba di Madinah tengah malam. Pemandu memberitahu kami bahwa kami sudah sampai. Beliau juga memberitahukan di tengah kegelapan malam itu bahwa di sisi kanan kami adalah Masjid Nabawi. Aku yang tengah terkantuk-kantuk itu melek seketika karena penasaran seperti apakah Masjid Nabi Muhammad yang sering kudengar itu. Rupanya, hotel tempat kami singgah cukup dekat dari Masjid Nabawi. Kami tinggal berjalan kaki ke sana. 

Setelah check in, pukul 2 malam kami siap-siap menuju Masjid Nabawi. Kami berjalan berempat. Begitu mulai memasuki halaman masjid, aku membaca doa khusus masuk Masjid Nabawi. Dalam suasana yang hening serta kilauan lampu, kulihat megahnya Masjid Nabawi. Tak pelak suasana haru merasuki kalbuku. Mataku berkaca-kaca seketika. Subhanallah.

Di dalam Masjid kulanjutkan dengan ritual sholat tahajud, tobat, hajad, zikir, berdoa, tilawah hingga subuh tiba yang rupanya adalah pukul 5.45 waktu Arab Saudi. Baru aku tahu rupanya di sana adzan shubuh dua kali dan selalu ada sholat ghoib setelah sholat wajib berjama’ah.

Raudhah
Pukul 6.30 kami pulang ke hotel. Lalu sejam kemudian kami melanjutkan acara dari pemandu yaitu ke Raudhah. Raudhah adalah tempat mustajab untuk berdoa di dalam Masjid Nabawi yang letaknya di dekat makam Rosulullah. Tempat tersebut ditandai dengan karpet warna hijau. Namun kami harus mengantri dan berdesak-desakan dengan jamaah seluruh dunia yang hendak berdoa juga di sana. Ketika sampai giliran kami, begitu menginjak karpet hijau aku langsung sholat mutlak dua rakaat dan berdoa. Tak kuasa aku menangis sambil bersujud dan berdoa. Dan ketika aku bangkit, rupanya teman-teman yang lain juga sama bermata merah sepertiku.


Masjid Kuba
Tempat lain yang kukunjungi selama di Madinah adalah Masjid Kuba, masjid pertama yang dibangun Rosulullah, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud. Lalu hari ketiga berangkat ke Mekkah untuk menunaikan rukun umroh. Pertama kami niat ihrom dari Masjid Bir Ali lalu berangkat ke Mekkah dengan bus. Perjalanan sekitar 6 jam menuju hotel. Pukul 11.00 malam kami jalan kaki menuju Masjidil Harom. Bertepatan sekali dengan tahun baru kalender masehi. Jadi, ketika orang di seluruh dunia merayakan tahun baru, aku tengah tawaf mengelingi ka’bah.

Masjidil Harom
Di sana ramai sekali orang dengan pakaian ihrom yang sama-sama menunaikan rukun umroh. Ketika memasuki Masjidil Harom, tampaklah batu besar berwarna hitam berbentuk segiempat yang tak lain adalah ka’bah. Ketika kuterus memandangnya, entah mengapa tiba-tiba ada perasaaan haru juga dan mata jadi berkaca-kaca. Lalu kami tawaf 7 putaran, berhenti sejenak minum air zamzam lalu sa’i 7 putaran dari bukit Safa ke Marwa diakhiri dengan tahallul (menggunting rambut 3 helai). 

Selama sudah niat ihrom, kita wanita tidak boleh memperlihatkan aurat kepada siapa pun termasuk wanita. Hanya muka dan telapak tangan yang boleh kelihatan. Sungguh susah sekali untuk menjaga ini loh. Kalau sampai melanggar akan kena denda. Jadi kita harus menyiapkan sarung tangan khusus umroh dan ikat pergelangannya dengan karet bila perlu. 

Pokoknya selama rangkaian rukun umroh itu aku berusaha untuk tidak narsis mengambil foto-foto agar jangan sampai terjadi aurat terbuka tanpa sengaja misal ketika mengangkat tangan. Tapi rupanya ketika sa’i ada seseorang dari rombongan yang meminta tolong diambilkan foto. Duh, gimana ini? batinku. Tapi aku berbaik hati mengambilkan untuknya. Dan usai umroh wajib ini pukul 3.00 kami langsung memuaskan hasrat foto-foto di samping kiri Masjidil Harom.

Multazam
Keesokan harinya ketika acara bebas, aku dan 3 orang teman kembali ke Masjidil Harom. Kami berniat untuk berdoa ke Multazam, setengah lingkaran di samping ka’bah yang merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Setelah tawaf 7 putaran kami antri masuk ke dalam. Lalu sholat mutlak 2 rakaat, minum air zamzam dan berdoa. Kuproposalkan semua keinginanku di sana di depan ka’bah. Selesai kami keluar dan mencium ka’bah sambil berdoa. Kali ini aku menangis. Meski bukan hajar aswad yang kucium, tapi kutetap menangis.

Jabal Rahmah
Selama di Mekah, kami jalan-jalan ke Jabal Rahmah (tempat berdoa bagi yang ingin mendapatkan pasangan), Jabal Nur lanjut ke Miqot untuk umroh sunah. Jika kemarin umroh wajib untuk diriku sendiri, maka umroh sunah kuniatkan untuk ayahku. Setelah umroh sunah maka tuntaslah perjalanan selama 7 hari di Madinah dan Mekah. Ditambah dua hari perjalanan dari Jakarta-Thailand-Jeddah lalu kembali dengan rute Jeddah-Thailand-Jakarta.


Ketemu public figure

Menariknya, ketika sa’i aku melihat sutradara berbakat Indonesia, Hanung Bramantyo tengah melakukan sa’i juga. Aku hanya diam saja meski aku pernah ketemu juga ketika ziarah di Jabal Uhud, Madinah. Kupikir, beliau sedang mencari inspirasi syuting film terbaru. Tak tahunya ketemu lagi ketika sa’i di Mekah. Dan hebohnya adalah ketika kusaksikan ibu-ibu yang melihatnya ketika sa’i langsung berkata, “Mas Hanung foto dooong...” 

Lalu Hanung menjawab, “Kan masih ibadah...” Hmm, begitulah ibu-ibu heboh sendiri padahal sedang ibadah hihihi. Aku juga sempat melihat ustadz Yusuf Mansur di Masjid Nabawi seusai sholat isya (kalau tidak salah mengenali loh ya) tapi lagi-lagi aku hanya diam. 

Lalu ketika aku dan 3 orang temanku pernah nyasar di hari pertama usai sholat zuhur di Masjid Nabawi, rupanya kami justru ketemu politikus Aburizal Bakrie. Aku dan temanku hanya diam memandang beliau, namun ketika kami berdua cerita ke dua orang teman kami yang ibu-ibu, mereka langsung heboh dan kami pun berakhir dengan foto-foto bersama beliau. Sungguh lucu.

Menilik apa yang kualami, maka untuk melakukan ibadah umroh itu butuh fisik yang kuat. Aku sempat mengalami flu ketika hendak ke Mekah untuk umroh wajib. Hal itu sangat mengganggu ibadahku. Maka jangan lupa siapkan obat-obatan ringan. Bahkan dari Mekah 3 hari sampai tiba di tanah air aku masih batuk-batuk. Dan di sana akan banyak jalan. Pokoknya jalan dan jalan. Dan juga wudhu, wudhu, wudhu. Jadi wajah kita akan selalu dibasuh air wudhu, tidak sempat untuk ber-make-up. Pokoknya manfaatkan semaksimal mungkin untuk beribadah. Kurangi tidur dan perbanyaklah beribadah. Bila perlu tidur cukup dua jam saja sehari.

Oleh-oleh
Oya, di sana kami sempat mampir ke tempat oleh-oleh. Ada banyak sekali jenis kurma rupanya. Tapi ada kurma yang apabila memakannya sekian butir sehari maka terhindar dari sihir. Itu namanya kurma ajwa (kurma nabi). Dan kalau ingin berbelanja di sana tidak perlu khawatir tidak bisa bahasa Arab karena para pedagangnya bisa bahasa Indonesia. Pokoknya kalau kita tawar dan orangnya bilang ‘halal’ maka artinya boleh. 

Selama di Madinah tepat di pintu keluar 1 Masjid Nabawi banyak penjual Al Qur’an. Saranku, belilah Al Qur’an untuk diwakafkan di Masjid Nabawi. Maka insha Allah pahalanya akan terus mengalir sampai kita mati apabila ada yang terus membacanya karena itu termasuk amal jariyah. Di Masjidil Harom juga ada para penjual Al Qur’an. Selain itu juga banyak pengemis. Siapkan uang receh untuk sedekah.

Akhir kata, siapa pun yang pernah dipanggil Allah ke sana maka akan rindu untuk kembali ke sana, termasuk aku. Ya Allah, jika kemarin aku ke sana bersama sahabatku, maka ijinkan aku selanjutnya ke sana dengan pasangan, orangtua, dan keluargaku. Aamiin.