Follow Us

Thursday, September 30, 2021

Kenapa Kuliah S2?

9/30/2021 08:36:00 PM 0 Comments
Sobat, adakah di antara kalian pembaca setia blog ini? Kalau ada, komen donk! Atau kalau tidak nyaman komen di posting ini, boleh kirim email ya. Ditunggu! :)

Yuk kembali ke tema...
Sobat, pernahkah kalian berpikir kenapa kalian kuliah S2 atau kenapa kalian ingin S2? Saya mungkin termasuk salah satu orang yang ingin S2 bukan karena mengejar karir atau pun ingin mengabdikan ilmu ke masyarakat atau alasan lain yang lebih bergengsi. Buat apa lelah-lelah kuliah S2? Lelah hati, pikiran, tenaga, waktu, biaya... semuanya! Benar loh ini. Apalagi, tempat tinggal saya di mana dan kerja saya di mana. Lalu kuliah saya juga di mana. Berbeda tempat semuanya. Apalagi kalau teman yag sudah berkeluarga ya. Pengorbanannya itu subhanallah...

Mungkin orang yang melihat saya ada yang berpikir saya ingin mengejar karir? Apalagi kalau bukan itu karena saya masih single juga. Bukan itu jawabannya. Lalu?



Memang benar, jika saya tidak lanjut kuliah maka golongan saya akan mentok di golongan sekian selaku ASN, tapi bukan itu yang saya cari (update 30/3/2021: peraturan sudah ada perubahan). Karena saya sendiri sebenarnya kepikiran juga untuk resign.

Ada loh orang yang berpikir untuk apa S2 jika setelah lulus ilmunya tidak diimplementasikan alias tidak dipakai, hanya menghabiskan uang saja. Ya itu benar juga kalau dipikir ya logis. Terserah Anda deh ya. No offense.

Selain itu ada juga yang mengatakan buat apa S2. Setelah saya lihat ternyata memang dia bercerita di pekerjaan dia itu tidak diperlukan. Sampai saat dia bercerita, tidak ada lulusan S2 di tempat dia bekerja yang jurusan S1-nya seperti dia. S1 sudah paling tinggi. Tidak ada jenjang karir yang bisa dimasuki lulusan S2.

Jika ada yang tidak setuju, maka ada pula yang setuju untuk terus lanjut S2. Orang punya bermacam-macam alasan mengapa mereka mengambil S2. Ada yang karena ingin menjadi dosen, meningkatkan jenjang karir (finansial), menambah ilmu (skill), menjadi ahli, berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, dll. Jangan lupa bahwa di dunia ini ada banyak orang-orang yang senang belajar sehingga S2 karena mereka suka belajar. Jadi, golongan ini tidak memikirkan dengan S2nya ini dia akan bagaimana setelahnya, apakah berguna atau tidak. Yang dia ingin adalah terus dan terus menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Apalagi ditambah dengan perkembangan jaman saat ini yang mana lulusan S1 berlimpah. Dan lulusan S2 serta S3 tidak lagi langka alias sudah makin banyak juga. 

Pada dasarnya, kuliah itu tidak hanya mendapat pelajaran dari bangku kuliah. Tapi dalam kehidupan kesehariannya tentu banyak pula pelajaran yang diperoleh. Jangan lupa bahwa kampus baru, pengalaman baru, koneksi baru, pergaulan baru, teman baru, lingkungan baru, budaya baru adalah serangkaian keuntungan lain yang bisa diperoleh di bangku kuliah. Yang bisa dimanfaatkan setelah kuliah tidak semata-mata dari pelajaran bangku kuliah melainkan dari keuntungan-keuntungan tersebut juga sangat besar kemungkinannya. Jadi, janganlah kita menutup mata atau berpikir sempit akan kepentingan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi. Kita tidak pernah tahu dari mana saja rezeki itu diperoleh. Cobalah melihat sisi-sisi yang lain. Cobalah melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Adakah sama antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui? Adakah sama antara orang yang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan? 

Sesunguhnya Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.

Setuju donk ya bahwa setiap orang ingin memiliki masa depan yang cerah? Mana ada yang mau hidupnya suram alias susah. Nah, salah satu jembatannya ya dengan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pasca sarjana. Bagi sebagian orang, kuliah pasca sarjana merupakan investasi masa depan.


Note: Posting ini sudah lama mengendap di draf sejak 8 Maret 2018. Baru saya teruskan dan posting hari ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Cheers!

Tuesday, September 28, 2021

Sulam Kristik (Strimin) Modern

9/28/2021 12:00:00 PM 4 Comments
Halo Sobat! Apakah kalian suka crafting (membuat kerajinan tangan)? Kalau iya, sama donk kita! :)

Kali ini saya ingin berbagi tentang sulam kristik atau strimin kalau saya dulu menyebutnya. Kristik jaman sekarang ini beda dengan jaman dulu. Kalau jaman dulu yang saya kenal itu pakai strimin (kawat nyamuk) lalu benangnya adalah benang wol. Sementara kristik jaman sekarang pakai kain aida (warna putih) dan benangnya benang dmc, dove, silk, dll. 

Sebenarnya yang menginspirasi saya untuk membuat sulam kristik ini adalah ketika masa kecil dulu ketika saya berkunjung ke rumah saudara atau tetangga, saya lihat ada pajangan sulam kristik di dinding rumah mereka. Mungkin jaman dulu masih nge-hit ya. Saya yang cuma anak kecil ini pun ingin membuat juga. Tapi kan jaman dulu belum punya uang ya buat beli bahannya. Nah, ada buku pola sederhana tuh di rumah saya tak tahu punya siapa. Saya lihat-lihat buku pola itu. Kemudian saya beli benang wol dan striminnya di pasar. Kalau jaman dulu beli striminnya meteran. Benang wol juga dijual satuan per gulung. 

Nah, berhubung belakangan saya merasa punya kelebihan energi dan waktu, saya merasa kangen ingin crafting lagi. Terakhir crafting itu 2013-2014 saya merajut. Saya merasa di tahun itu saya cukup produktif. Selain merajut, saya menulis sejumlah cerita pendek dan dibukukan ke antologi bersama. Oh iya lupa saya pernah bikin diamond painting saat kuliah S2 lalu. (mungkin bisa dibahas kali lain ya) :)

Makanya sekarang saya kembali crafting nih Sobat (dan juga mulai blogging lagi). Pilihan awal saya adalah sulam kristik ini. Saya teringat jaman SD dulu saya sudah membuat sulam kristik ini tapi tidak selesai. Nah, pas kuliah S2 lalu saya sempat beli 2 pola sekaligus bahannya yaitu satu yang pakai strimin plastik dan benang wol dan satu lagi yang modern. Tapi lagi-lagi belum diselesaikan.

Sekarang saya kembali ke Jakarta dan memulai lagi dari nol. Saya beli 4 pola kristik modern. Baru satu yang dikerjakan dan sudah jalan 2 bulan. Baru sekitar 50% selesai. Cukup lama juga ya? Membuat sulam kristik ini memang butuh ketelatenan dan kesabaran. Saya mengerjakannya juga santai sih, pas kapan sempat dan mood saja. 

Sulam kristik modern ini kain aidanya ada yang ukuran 9 ct, 11 ct, 14 ct, 16 ct, 18 ct, dst. Kebanyakan yang beredar yang ukuran 11 ct dan 14 ct. Saya beli yang 11 ct ya Sobat. Ada sih 1 yang 14 ct.

11 ct artinya ada 11 lubang dalam 1 kotak (1 inch/2.54cm). 
14 ct artinya ada 14 lubang dalam 1 kotak (1 inch/2.54cm). 
Dst.

Bisa dibayangkan kalau 14 lubang dalam 1 kotak berarti lebih kecil ya gambarnya. Kalau 11 ct berarti lebih besar. 



Cara membuat sulam kristik

Langkah-langkahnya cukup mudah. Kamu hanya perlu membuat bentuk silang di tiap kotak. Ikuti gambar di bawah ini ya.


French Knot vs Colonial Knot

Selain bentuk silang, supaya tidak monoton ada juga namanya tusukan french knot dan colonial knot yang bisa digunakan pada bagain akhir sulam kristik ini (setelah selesai menyulam dalam bentuk silang). Ini biasanya untuk memberi struktur menonjol pada gambar yang kita sulam di bagian tertentu. Maksudnya gambarnya jadi terkesan berstruktur atau pun seperti 3 dimensi. Bisa dibilang sebagai pemanis atau pun memberi sentuhan akhir yang ciamik alias cantik. Jenis tusukan ini biasa digunakan pada embroidery



Membuat french knot atau pun colonial knot, sesuai selera saja. Serupa tapi tak sama, kedua tusukan ini memang memberi hasil yang mirip namun tekniknya tidaklah sama. Bentuk hasil pun tergantung dengan jumlah benang yang digunakan ada berapa helai dan juga berapa kali kamu tusukkan jarumnya. Untuk tutorial bisa kamu lihat di youtube ya.



Tips membuat sulam kristik:
  1. Kalau kamu berminat untuk membeli bahan, kamu bisa pilih ukuran kain sesuai selera kamu. Untuk kristik modern, kamu tinggal pilih yang berapa ct untuk kain aidanya. Semakin besar ct, maka kainnya semakin kecil dan sebaliknya.
  2. Tak hanya ukuran, kain yang akan kamu pilih juga kamu mau yang mana, apakah aida ataukah strimin kawat plastik. Pengalaman saya, strimin plastik mudah patah saat digunakan.
  3. Selain itu kamu juga bisa memilih yang ada polanya atau tidak. Pola yang dicetak langsung di kain atau yang tidak alias kainnya polosan. Ada juga loh toko yang cuma menawarkan pola. Jadi kamu cari sendiri benang dan kainnya. 
  4. Yang selanjutnya adalah benang. Pilihan benang di sini bisa wol ataupun benang dmc atau dove. Kalau kristik modern pakainya dmc atau dove karena kan lubangnya kecil sekali ya. Kalau kristik benang wol cocok untuk yang strimin kawat plastik.
  5. Ukuran jarum menyesuaikan dengan lubang dan benang.
  6. Alat pengait untuk memasukkan benang juga kamu butuhkan kalau kamu menyulam kristik modern. Karena jarumnya cukup kecil kamu bisa kesulitan memasukkan benang dan butuh bantuan pengait ini loh Sobat. Saya cukup terbantu dengan adanya pengait benang ini. Pengait atau penarik benang ya istilahnya.
  7. Jika kamu menyulam kristik modern dengan benang dmc, biasanya benangnya kan ada yang dalam bentuk 1 untai yang ternyata terdiri dari 6 helai benang single (utuh). Nah, kalau kamu pakai yang 11 ct, cukup 3 helai benang saja yang dipakai dalam sekali menyulam. Belah 2 benangnya ya jadi 1 untai itu kamu pisah dulu jadi 2 bagian yang masing-masing 3 helai. Barulah 3 helai itu kamu jadikan satu dan masukkan ke jarum. Sementara kalau 14 ct pakai 2 helai saja cukup.
  8. Kalau bagi saya enaknya beli yang sepaket sudah ada kain, benang, pola. Polanya juga saya pilih yang sudah tercetak di kain jadi gampang bikinnya nanti tidak salah-salah hitung. Pengalaman saya sewaktu menyulam kristik dengan kain polos itu sering salah hitung. Kan malas mengulang atau mengembalikan benang yang salah tadi. Selain makan waktu, bikin kesal sendiri juga. 
  9. Mulai dari mana menyulam kristiknya? Sebenarnya tak ada aturan khusus bisa dari mana saja. Kalau kain yang sudah berpola tentu bebas mau mulai dari mana. Tapi kalau saya enaknya dari bawah. Nah kalau kain yang polos tentu beda lagi mulainya dari mana. Ada yang menyarankan dari tengah. Caranya kain dilipat bagi dua, lalu lipat lagi jadi dua lagi supaya dapat titik tengahnya. Baru mulailah dari situ. Tapi itu bukan aturan baku ya. Bebas saja kamu enaknya dari mana.

Pilihan crafting selanjutnya saya tertarik crafting dari bahan mote, macrame, dan embroidery. Ikuti posting selanjutnya ya! Sampai jumpa! 

Cheers!


Reference:
https://www.aliexpress.com/item/32647969864.html
https://id.aliexpress.com/item/32851861437.html
https://www.pinterest.com/pin/210402613819775127/
https://www.wanderingthreadsembroidery.com/french-knot-embroidery-tutorial/

Monday, September 27, 2021

Kenapa Sulit Merubah Pola Pikir?

9/27/2021 04:34:00 PM 0 Comments
Kenapa sulit sekali merubah pola pikir? Boleh saja seseorang itu kritis tapi tolong, kritislah pada tempatnya. Tolong pahami dulu apa yang akan dikritiskan. 

Kenapa seseorang itu tidak menyadari kapasitasnya sebagai apa? Jika merasa tidak puas dengan posisinya kenapa tidak keluar saja mendirikan usaha di luar sana? Jika merasa tidak setuju/tidak suka atau apa pun dalam pemerintahan sebelumnya atau pun sekarang kenapa tidak protes/mengutarakan pendapat sejak dulu langsung kepada yang bersangkutan?

Saya paling tidak suka apabila timbul ketegangan. Hal itu akan memicu ketidaknyamanan dalam bekerja. Tidak bisakah kita saling percaya? Apabila kita saling percaya maka sebenarnya segala urusan itu akan mudah. Tidak ada lagi prasangka buruk. Asalkan kita tetap pada jalur kita masing-masing alias kita memahami kapasitas kita sebagai pegawai. 

Kalau seorang bos pernah bilang, "Cukuplah kita bertanggung jawab terhadap diri kita masing-masing kepada Allah. Jika kita sudah merasa dilihat Allah, apa masih perlu penilai yang lain?"

Saya suka kalimat itu. Bagi saya itu suatu pecut untuk muhasabah diri. Memang benar bahwa dalam dunia kerja itu beragam hal kita temui. Karena di sana berkumpullah orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia Raya ini sangat beragam budayanya dan orang-orangnya pastinya. Pastilah orang-orang ini memiliki pola pikir yang beragam pula. 


Yang ingin saya soroti di sini adalah mengubah pola pikir. Orang-orang lama cenderung sulit untuk mengubah pola pikir. Kenapa? Karena mereka sudah sangat lama (puluhan tahun) bekerja. 

Ketika seekor burung tumbuh dan besar di dalam sangkar, burung tersebut tidak akan terbang saat dibukakan sangkar bahkan ketika kamu mencoba untuk membuatnya terbang. Sama halnya dengan seseorang yang tumbuh dengan pola pikir tertentu maka akan sulit mengubahnya karena ia telah hidup dengan pola pikir tersebut selama hidupnya. (Hassam Awan)

Merubah pola pikir bisa sangat sulit karena sesuatu yang disebut 'bias konfirmasi'. Tidak ada orang dewasa yang senang melakukan kesalahan, sehingga mereka akan sering membela tindakan mereka dengan keras bahkan ketika dihadapkan pada ide-ide masuk akal yang menentang tindakan tersebut. Mereka merasa perlu untuk menjadi benar, sehingga mereka akan melawan setiap ide baru untuk melindungi hipotesis mereka sendiri. (Dawn Fekes)


Some people adopt maladaptive or irrational thinking patterns

Dikatakan oleh Kevin Newton bahwa salah satu penyebab susahnya merubah pola pikir adalah dikarenakan seseorang memiliki pola pikir yang tidak rasional seperti:

  1. All or nothing: black and white thinking (pola pikir hitam putih), melakukan sesuatu secara sempurna atau tidak sama sekali
  2. Mental filter: fokus pada aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain, melihat kegagalan dan mengabaikan kesuksesan
  3. Over-generalizing: Menciptakan suatu pola berdasarkan sebuah kejadian misal jika seorang rekan kerja tidak menyapa maka diartikan sebagai rekan tersebut marah atau benci


Change your circumstances

Sebuah pola pikir tidak hanya dihasilkan dalam diri seorang individu tanpa alasan. Ini adalah produk dari keadaan. Jadi untuk mengubah pola pikir, kamu perlu mengubah keadaan yang menghasilkan pola pikir itu.
  • Jika ketidaktahuan adalah penyebab pola pikir, maka pendidikan akan mengubahnya.
  • Jika kurangnya pengalaman adalah penyebabnya, maka terlibat dengan pengalaman yang tidak biasa/di luar kebiasaan akan mengubahnya. 
  • Jika sistem kepercayaan tertentu yang kuat menciptakan pola pikir itu, tantangan sistem itu melalui eksplorasi alternatif akan mengubahnya. 
Deskripsi populer tentang suatu kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil yang berbeda. Seseorang tidak dapat terus menjalani kehidupan yang sama dan berada dalam situasi yang sama dan berharap untuk berpikir secara berbeda.

Jika kamu ingin berpikir secara berbeda, kamu harus berbeda dalam beberapa hal. Jika tidak, pola pikir yang diadopsi karena keadaan kamu saat ini akan tetap tidak berubah. (Imo Emah)


Changing Mindset is not an overnight task

Seperti diutarakan oleh Vineeth Vini bahwa mengubah mindset itu dibutuhkan kesabaran, tidak bisa dilakukan dalam semalam. Yang bisa dilakukan pertama-tama adalah dengan berpikir baik (punya pikiran baik). Bisa dimulai dengan membaca buku sebelum dan setelah tidur karena pada waktu tersebut perubahan drastis bisa terjadi di otak. Pikiran baik akan menghasilkan perkataan yang baik. Perkataan yang baik menghasilkan tindakan yang baik. Tindakan yang baik menghasilkan kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik menghasilkan karakter yang baik.

Good Thoughts→Good Words --> Good Actions --> Good Habits → Good Character


Make your mindset all about growth

Ada dua jenis pola pikir yaitu fixed mindset (pola pikir tetap) dan growth mindset (pola pikir berkembang). Pola pikir tetap adalah ketika kamu percaya bahwa kamu dilahirkan dengan seperangkat keterampilan dan kemampuan yang merupakan bagian dari DNA kamu dan tidak dapat diubah, sedangkan pola pikir berkembang adalah ketika kamu bekerja untuk membangun keterampilan dan kebiasaan baru secara terus-menerus dari waktu ke waktu.

Nela Canovic mengatakan bahwa ia telah menggunakan hidupnya sendiri sebagai eksperimen pola pikir berkembang. Hal tersebut mengajarinya banyak hal. Ia berhasil mengubah kehidupan profesionalnya dan menyukai pekerjaannya yang kini ia lakukan. Dia mengaku telah meningkatkan kehidupan pribadinya dan mulai menghargai persahabatan dan kemitraannya. Dia telah memasukkan kebiasaan baru seperti berlari, berolahraga, berjalan-jalan pagi, serta berlatih bersyukur. Dan, yang terpenting baginya adalah menulis setiap hari seperti hal-hal kecil, hal-hal besar, artikel, e-book, dll. Menulis membuatnya tetap disiplin, fokus, dan termotivasi. Hal itu membuatnya merasa paling hidup!

You see one of the hardest things we have to learn to do, to really create the changes we want to see, is to break the habit, or habits, of our old self. Breaking the habit of being you means having to uncover so many habits that we are unaware of, habits that we unwittingly allow to control us every single day. We must then re-write those negative programs for something new and more empowering that can take us in the direction we really want to go. (Simon Collins)


Note: Tulisan ini mengendap dari tanggal 15 September 2013. Barulah saya selesaikan dan posting hari ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di posting berikutnya!



References:

https://www.keepinspiring.me/change-your-mindset/

https://www.healthline.com/health/cognitive-distortions#how-to-change

https://ideas.ted.com/5-irrational-thinking-patterns-that-could-be-dragging-you-down-and-how-to-start-challenging-them/

https://www.quora.com/How-do-I-change-my-mindset

https://www.quora.com/How-difficult-is-it-to-change-the-mindset-of-a-person

https://www.quora.com/Why-is-it-so-hard-to-change-your-mindset

https://www.derryjournal.com/health/mindset-junkie-why-change-so-hard-1365336

https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-forward/201606/4-reasons-why-change-is-hard-worth-it

https://medium.com/age-of-awareness/why-is-changing-your-mind-so-hard-cb48286d1ac3#:~:text=Why%20is%20it%20harder%20to,evidence%20might%20overturn%20other%20beliefs.&text=Learning%20about%20biases%20will%20help%20you%20reduce%20your%20hesitancy%20to%20new%20information.



Memakai Barang Orang Lain Tanpa Permisi, Pernah?

9/27/2021 10:26:00 AM 0 Comments
Sobat, pernahkah kamu memakai barang orang lain tanpa izin? Memakai barang yang tidak berkurang kadarnya mungkin tidak mengurangi atau merubah bentuk barang yang dipakai sehingga kegunaan barang tidak berubah. Tapi bagaimana jika kamu memakai barang yang kadarnya berkurang setelah dipakai misalkan barang yang mengandung cairan, gas, dsb? Pernakah kalian berpikir bahwa kalian telah mencuri?

Mencuri adalah perbuatan terlarang, tidak hanya dalam agama namun juga norma budaya. Terkadang, entah kamu tidak tahu atau tidak sadar atau bandel saja (padahal sudah tahu) namun melakukan perbuatan terlarang tersebut. Kamu sembrono dalam bertindak. Walau hal kecil namun ingatlah Sobat bahwa hal tersebut tidak luput dalam pengawasan Tuhan, tidak luput dalam catatan malaikat.



Sama halnya dengan memakan makanan tanpa permisi atau izin dari pemiliknya. Janganlah sembarangan memakan. Apabila kita sudah tahu bahwa pemiliknya mengizinkan memakan tanpa kita harus minta izin terlebih dahulu maka hal tersebut diperbolehkan. Namun apabila kita tidak tahu apakah si pemilik akan mengizinkan atau tidak, maka hindari untuk memakan. Mintalah izin terlebih dahulu. Karena jatuhnya haram apabila ternyata si pemilik tidak mengizinkan.


Saya temui dalam kehidupan saya, ada orang-orang yang sembarangan memakai barang orang lain. Tentu dalam contoh kasus yang akan saya bahas di sini adalah barang saya. Saya pernah punya teman kos (tentunya wanita ya). Yang saya heran adalah saya mendapati dia memakai sabun mandi saya tanpa permisi. Yang saya lebih herannya adalah dia dengan santai memakai sampai setengah bulan masuk ke minggu ketiga. Bagaimana saya tahu dia pakai sabun saya? Karena posisi pencetan sabun sudah berubah setap kali saya akan mandi. Memang wadah sabun saya tidak transparan sehingga tidak kelihatan jika isinya berkurang. Dan saya lihat bahwa sabun dia habis. Yang aneh, bisa dibilang kami tidak pernah mengobrol. Ketemu tatap muka juga jarang karena saya pulang kerja sore sementara dia malam. Dan ada teman kerja dia yang sekos juga beda kamar. Tapi kenapa sabun saya yang dipilih?

Saya tidak mempermasalahkan sabunnya karena sabunnya tidak mahal dan bisa dibeli kembali. Tapi di sini yang saya soroti adalah tindakannya. Tidak sadarkah bahwa apa yang dia lakukan adalah mencuri? Jika melihat dari segi kemampuan, tentu dia mampu untuk membeli sabun. Dia punya penghasilan tetap dan mapan. Dia juga semestinya mendapat jatah bulanan dari suaminya. Kurang apa coba? Lalu kenapa dia melakukan hal memalukan macam itu?

Apakah pendidikan moral atau pun pendidikan agama yang kurang? Entahlah...

Atau hanya sekedar malas?

Entah tidak sadar atau memang menggampangkan, seringkali kita ternyata melakukan hal sepele atau kecil yang justru menumpukkan dosa.

Memang yang tampak jelas berdosa adalah perbuatan dosa besar seperti membunuh, zina, dsb. Tapi perbuatan kecil yang ternyata menyumbang dosa seringkali tak diperhitungkan. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit kan?

Ok, ternyata bukan hanya saya yang mengalami hal tersebut. Teman akrab saya ada juga yang mengalami hal seperti saya. Dia ngekos dengan orang-orang yang tidak satu kerjaan dengannya. Barang-barang teman saya seperti kompor gas, alat masak, ember seenaknya saja dipakai orang-orang yang sekos dengannya tanpa permisi. Teman saya pun melabrak mereka. Okelah alat masak dan ember tidak berkurang kadarnya kalau dipakai. Tapi kompor gas? Tentu gasnya berkurang donk ya. Teman saya merasa kesal dan bilang ke saya di kosnya banyak pencuri. Apakah kalian setuju bahwa mereka mencuri?

Kalau soal pencurian, kejadian pencurian pernah saya alami yang sedikit lebih parah dan tidak habis pikir sih saya yaitu ada yang menyedot bensin motor dinas saya di kos. Bagaimana saya bisa tahu? Karena saya baru mengisi bensin misal hari ini full lalu kesokan paginya saya mau berangkat ke kantor, kok parameter bensin saya tinggal garis 1 atau 2. Kan aneh ya. Bagaimana mungkin? Hal itu tidak hanya sekali terjadi dalam waktu berdekatan makanya saya curiga. Akhirnya saya laporkan ke Bu Kos. 

Sobat, hati-hatilah dalam bertindak. Karena sekecil apapun itu semua akan dicatat oleh malaikat. Janganlah kita menambah dosa dari perbuatan kecil yang tampaknya tidak berdosa padahal tanpa disadari kita sedang menumpuk dosa secara perlahan-lahan namun pasti. Kita (baca: mungkin saya saja) sudah banyak dosa jadi jangan tambah-tambah lagi.

Apakah ada yang mengalami hal yang sama dengan cerita saya atau teman saya? Boleh yuk sharing...

Nah, Sobat, semoga posting-an ini bisa dipetik hikmahnya. Sampai jumpa di posting berikutnya. 

Cheers!


Friday, September 24, 2021

Apakah Kamu Orang yang Beruntung?

9/24/2021 07:33:00 AM 0 Comments
Saya temui dalam kehidupan saya, ada seseorang yang menurut saya adalah orang yang beruntung. Keberuntungan selalu berpihak padanya. Bahkan berturut-turut kejadian baik yang dialaminya menunjukkan betapa beruntungnya dia. Sampai-sampai  tidak hanya saya yang menganggapnya beruntung, tapi juga teman-teman yang lain.



Saya juga sering melihat seseorang itu tampak hidupnya mulus-mulus saja (tentunya yang dilihat adalah apa yang tampak di luar ya). Saat kuliah, bisa masuk tempat kuliah yang dimau. Saat lulus kuliah kerja dapat kerjaan yang bagus. Saat waktunya menikah, jodohnya ada (padahal tidak punya pacar/calon sebelumnya). Setelah menikah langsung hamil alias punya anak. Saat ingin pindah bareng suami, jalannya mudah. Lalu ingin lanjut S2, diterima beasiswa. Kok mulus banget ya? Ada apakah gerangan di belakangnya?

Luck is made, not given. Nothing came easy. Every success was built upon sweat and sleepless nights. (R. Keith Mobley) 

Filsuf Roma, Seneca, mengatakan bahwa keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan. Dengan persiapan yang baik dan adanya kesempatan, maka akan memunculkan keberuntungan. R. Keith Mobley bilang keberuntungan itu bisa diciptakan yaitu dengan persiapan. Lalu bagaimana jika orang-orang yang persiapannya baik lalu berkumpul menjadi satu? Di sinilah bisa dibilang keberuntungan itu ada. Seperti dalam pertandingan bulu tangkis misal, ketika dua pemain atau grup bertanding, keduanya persiapannya sama-sama kuat, maka bagaimanakah yang terjadi? Di sini keberuntungan itu ada. Karena pihak yang kalah bisa jadi bukan karena tidak bisa bermain tapi entah kenapa misal bisa mati-mati sendiri sehingga menambah poin buat pihak lawan.

Luck is what happens when preparation meets opportunity. (Seneca, Roman Philosopher)

Dalam sebuah ujian memasuki perguruan tinggi, sekolah, atau pun ujian CPNS dsb, di sini tempatnya orang-orang yang memiliki persiapan baik itu berkumpul menjadi satu. Jika persiapan kamu tidak baik di tengah sekumpulan orang yang persiapannya baik bahkan sangat baik, bagaimana menurut kalian? Apakah akan lulus dengan mudah? Sementara kuota kelulusan terbatas. Secara logika manusia tentu hal itu akan sulit. Untuk bisa lulus, tentu kamu harus memiliki persiapan yang sangat baik agar bisa memunculkan keberuntungan karena orang-orang yang sangat baik itu bersaing di urutan atas, tinggal keberuntungan yang berbicara.

Ada suami teman yang mengikuti ujian CPNS. Saat pengumuman dinyatakan tidak lulus. Tapi beberapa waktu kemudian ada pengumuman bahwa akan disaring kembali beberapa urutan nilai terbesar untuk ujian kedua kalinya. Nah, rupanya suami teman saya ini lulus. Apakah ada keberuntungan di sini? Bisa dibilang ya karena pada ujian pertama sudah tidak lulus namun kemudian tiba-tiba ada ujian kedua yang artinya ada kesempatan kedua. Persiapan yang baik ketemu dengan kesempatan, terciptalah keberuntungan. Tentu saja persiapan ujian kedua harus lebih baik ya karena kan sudah tahu titik lemahnya di mana.

You don't get lucky while sitting on the sofa with arms crossed doing nothing. You can be lucky only when you are prepared. (Nesta Jojoe Erskine)

Pada ujian CPNS yang sama, teman akrab saya juga ada yang ikutan memerebutkan posisi yang berbeda. Teman saya ini sudah ikut tes CPNS untuk keempat kalinya. Dia berada di posisi seperti suami teman saya tadi yang mana dapat kesempatan kedua untuk ujian lagi kedua kalinya. Namun keberuntungan belum berpihak padanya. Teman saya ini gagal. Barulah di tes CPNS kelima (tahun depannya) dia dinyatakan lulus.

My success was due to good luck, hard work, and support and advice from friends and mentors. But most importantly, it depends on me to keep trying after I have failed. (Mark Warner)
Bagaimana Sobat, apakah kalian termasuk orang yang beruntung?

Nah, Sobat, sekian sharing saya hari ini. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Cheers!



Reference:
https://www.lce.com/Luck-is-made-not-given-1371.html
https://www.allegisgroup.com/en/insights/blog/2017/march/luck-is-when-preparation-meets-opportunity
https://www.keepinspiring.me/lucky-quotes/




Thursday, September 23, 2021

Perfeksionis?

9/23/2021 04:37:00 PM 0 Comments
You were not put on this earth to be perfect. You were put on this earth to be you.

You do not need to change a single thing about yourself to meet someone else's definition of perfect.

Perfect doesn't equal happy. In fact, the best way to be happy is to stop trying to be perfect.

(Candi William, 2020)


Sobat, kali ini saya akan berbagi tentang buku How to be Perfectly Imperfect: Stop Comparing, Start Living karya Candi Williams. Buku ini terbitan tahun 2020, terbilang baru ya menurut saya. Karena tidak terlalu tebal, hanya 163 halaman isi, makanya cepat selesai dibaca. 


Sobat, apakah kamu termasuk orang yang perfeksionis? Hayo ngaku! OK. Mungkin sebagian dari kita termasuk yang perfeksionis. Tak ada yang salah dengan hal itu Sobat apabila masih dalam batasan wajar. Segala sesuatu kalau berlebihan kan memang tidak baik ya Sobat. Perfeksionis memang punya kesan yang postif ya kan Sobat. Perfeksionis selalu menginginkan kesempurnaan dalam setiap hal yang dilakukan. Duh, siapa sih yang tidak suka dengan kesempurnaan, hasil yang sempurna? 

Kita semua pasti mau dong. Tapi kita juga harus ingat bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan alias berbuat salah itu adalah hal yang wajar. Nobody's perfect kan kata pepatah. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Lalu kenapa kita harus selalu menuntut kesempurnaan yang apabila tidak berjalan sesuai harapan akan berakibat tidak baik terhadap diri sendiri. Mungkin awal-awalnya kita tidak menyadari efek yang ditimbulkan. Tapi jika sudah berefek ke fisik, baru deh kita ngeh. Karena rupanya nih perfeksionisme juga punya efek terhadap kesehatan loh. Yuk kita simak apa itu perfeksionime seperti saya kutip dalam bukunya Candi William.

Perfectionism: constantly striving to achieve unrealistic goals or meet unattainable standards; seeing anything less than flawlessness as self-failure.

Perfeksionisme bisa diartikan sebagai terus-menerus berusaha untuk mencapai tujuan yang tidak realisistis atau memenuhi standar yang tidak dapat dicapai; melihat sesuatu yang kurang dari kesempurnaan sebagai kegagalan diri.



Perfeksionisme bisa disalahartikan sebagai motivasi dan disebut sebagai hal yang positif namun pada kenyataannya justru berhubungan dengan sederet masalah kesehatan seperti kecemasan, depresi, gangguan makan, tekanan darah tinggi, dan bipolar. Di sini bukan berarti bahwa apabila kamu termasuk perfeksionis maka kamu pasti akan mengalami isu kesehatan tersebut. Yang menjadi sorotan di sini adalah perfeksionisme itu stressful dan memiliki dampak pada kesehatan.

Dalam buku ini diceritakan bahwa ada 3 macam perfeksionisme menurut Danielle S. Monar yaitu 
  1. Self-oriented perfectionism: dimana seseorang memasang standar tinggi kepada dirinya sendiri
  2. Socially prescribed perfectionism: dimana seseorang merasa bahwa orang lain mengharapkan dirinya menjadi sempurna
  3. Other-oriented perfectionism: dimana seseorang memasang standar tinggi kepada orang lain

Jebakan berpikir perfeksionis:
  1. Black and white thinking: cara berpikir ini melihat hal hanya ada 2 macam yaitu sukses atau gagal, hitam atau putih saja, tak ada abu-abu
  2. Catastrophic thinking: cara berpikir ini melihat hal dari skenario terburuknya. Dunia berakhir jika seseorang tidak bisa bla bla bla.

Cara mengenali apakah kamu perfeksionis
  1. Kamu sangat keras terhadap diri sendiri. Kamu bekerja keras bahkan lebih dari 100% apa yang bisa kamu lakukan.
  2. Sebuah kritikan berefek dalam. Kritikan negatif bisa membuatmu terluka dan tertusuk dalam ke hatimu sehingga bisa membuatmu merasa tidak sempurna. Hanya kiritikan kecil saja sakitnya minta ampun. Gegara itu kamu jadi merasa ada yang kurang dengan dirimu alias tidak sempurna.
  3. Kamu ingin segala sesuatu selesai sempurna
  4. Kamu terobsesi dengan kesalahan. Bahkan kesalahan kecil saja itu menjadi besar bagimu dan kamu perlu berjuang keras alias struggle untuk berhenti memikirkannya. Hanya masalah kecil saja kamu kepikirannya minta ampun begitu loh sampai tidak bisa tidur. Bisa dibilang kamu tidak bisa menolerir sebuah kesalahan.
Nah, bagaimana Sobat, apakah kamu memenuhi kriteria di atas?

Di buku ini disebutkan beberapa hal untuk mengurangi perfeksionisme seperti:
  • Pisahkan the must haves dari the nice to haves. 
Kalau the must-haves itu kesannya maksa. Ya ga Sobat? Apa-apa harus punya. Kalau tidak punya bisa jadi menghalalkan segala cara kan tidak baik ujungnya. Atau pun malah bisa jadi stres sendiri karena nggak tercapai. Nah kalau the nice to haves ini kesannya lebih slow. Kalau punya ya alhamdulillah, kalau pun nggak, slow aja lagi. 

  • Fokus pada growth mindset. 
Dalam kehidupan ini selalu ada perubahan. Tidak statis. Dalam hal apapun itu senantiasa bergerak alias dinamis. Kalau tidak bergerak akan ketinggalan. Sama dalam hal berpikir juga kita tidak bisa terus berpikir statis (fixed mindset) yang mana melihat sesuatu itu hitam dan putih, benar atau salah, sempurna atau tidak sempurna. Kita harus bisa punya growth mindset yang mana bisa menerima perubahan sehingga kita menjadi pribadi yang lebih fleksibel alias tidak kaku. Bisa dibayangkan bagaimana kakunya seseorang yang hanya melihat sesuatu hitam dan putih. Perubahan itu sebuah keniscayaan. Bumi aja bergerak terus loh ya.

  • Mulai dari yang kecil. 
Perfeksionisme selalu menempatkan sesuatu itu standar tinggi sehingga tak tahu harus mulai dari mana. Sementara apabila kita tidak memasang suatu standar, kita melakukan sesuatu itu santai, bisa mulai dari mana saja. Nah, mulailah dari yang kecil dulu. 

  • Mulai mencintai diri sendiri (self-love)
Tak ada manusia yang terlahir sebagai perfeksionis. Yang ada adalah perfeksionisme itu merupakan bentukan diri selama bertahun-tahun. Nah, apabila kita bisa belajar menjadi keras terhadap diri sendiri selama bertahun-tahun maka kita pun bisa belajar untuk menjadi tidak keras terhadap diri sendiri selama bertahun-tahun pula. Deal? 

Kita harus bisa memafkan diri sendiri tatkala kita berbuat kesalahan. Jangan berlebihan dalam mengevaluasi kesalahan diri yang mana hal tersebut hanya menghabiskan waktu dan energi. Yuk, move on! 

Kita juga harus ingat bahwa hidup itu tak bisa diprediksi. Sulit untuk selalu menjadi sempurna dalam dunia yang tidak sempurna ini. Hidup penuh lika-liku dan kerikil tajam. Jadilah easy-going terhadap diri sendiri. Tak perlu menuntut untuk selalu sempurna hanya untuk penilaian orang lain terhadap kita. Jadilah diri sendiri, cintailah diri sendiri. Apapun yang orang lain pikirkan atau nilai tentangmu, kamu tetaplah kamu. Kamu tak akan menjadi dia atau siapapun yang orang lain mau. Karena kamu pemilik jiwamu. Tak akan ada yang paling mengerti kamu selain dirimu sendiri. Tak akan ada yang lebih mencintaimu selain dirimu sendiri. Setelah kamu mencintai dirimu, barulah saat itu kamu bisa mencintai orang lain. Nothing can stop me loving myself kalau kata BTS dalam lagunya yang berjudul Idol. :)

  • Jangan biarkan suara batin (self-talk) mempengaruhimu
Ketika kamu down, seringkali kamu akan berbicara dengan dirimu sendiri kan? Ada suara-suara yang berkata padamu bahwa kamu jelek, kamu gemuk, kamu bodoh, dsb. Jangan dengarkan suara-suara negatif tersebut. Gantilah suara-suara itu dengan sesuatu yang positif misalkan aku sudah melakukan yang terbaik, aku orang yang baik, aku cantik, aku menarik, dll. Kritik negatif yang timbul dalam batinmu itu harus kamu ubah menjadi positif agar kamu menjadi lebih baik. Suara-suara batin sendiri yang negatif bisa berakibat fatal terhadap seseorang yang down seperti menjadi rendah diri, menjadi tak berguna, dan yang lebih parah bisa menimbulkan niat bunuh diri. Naudzubillahiminzdalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan terlarang tersebut. Aamiin.

  • Meminta bantuan orang lain lebih sering
Bisa dipahami bahwa seorang perfeksionis adalah orang yang terbiasa melakukan/menyelesaikan segala sesuatunya sendirian. Perlu diingat bahwa hal tersebut pastinya melelahkan dong ya dan bahkan terkadang target justru tidak tercapai karena apa-apanya sendirian yang mengerjakan. Kaki jadi tangan. Tangan jadi kaki. Pada dasarnya tak perlu merasa malu untuk meminta bantuan orang lain. Jika kita bisa memulai untuk meminta bantuan orang lain, mendelegasikan pekerjaan ke orang lain, berkonsultasi ke orang yang lebih mumpuni, hal-hal tersebut akan mengendorkan keperfeksionismean kita. Jadi, tunggu apa lagi? 

Sobat, apakah kamu punya cerita tentang keperfeksionismeanmu?

Nah, Sobat, demikianlah yang bisa saya share tentang perfeksionisme pada sore hari ini. Semoga bermanfaat. Next time kita sambung lagi dengan tema yang menarik lainnya. Sampai jumpa!

Cheers!

Wednesday, September 22, 2021

Pikiran vs hati

9/22/2021 05:57:00 AM 0 Comments
Hati oh hati..

Ketika kamu jatuh cinta, kamu merasakan hati berdenyut, berdebar kencang atau berjingkrak-jingkrak kegirangan... Ketika kamu ditolak, hatimu hancur alias patah hati.

Kamu disebut tidak berperasaan alias tidak berhati atau berhati dingin ketika kamu tidak menunjukkan perhatian atau cinta ...

Dan kamu disebut berhati besar ketika kamu memberikan perhatianmu kepada orang lain.

Kamu "memasukkan sesuatu ke hati" atau "berbicara dari hati ke hati" tentang masalah yang sangat pribadi.

Kamu mencintai seseorang "dari lubuk hati."

Tetapi kamu disebut setengah hati tentang sesuatu, ketika kamu tidak terlibat secara emosi.

Kamu merasakan hatimu sebagai pusat perasaanmu, seperti yang terlihat pada hari kasih sayang ketika hati yang dipenuhi cinta berlimpah.

Kamu tahu ini secara naluriah, karena kamu selalu secara fisik menunjuk ke hati ketika kamu mengatakan "aku" atau ingin mengungkapkan perasaanmu yang lebih dalam.

Hati laksana raja. Dan pikiran laksana penasehat raja. Apa pun yang akan dilakukan raja, penasehat raja selalu memberikan nasehat terbaiknya agar sang raja tidak salah langkah dalam mengambil keputusan yang berakibat merugikan. Seringkali yang hendak dilakukan raja tidaklah masuk akal bagi si penasehat raja. Namun tatkala hal tersebut adalah suatu kebenaran, maka sang raja akan merasakan kebahagiaan tak terkira.


Kalau mengikuti kata hati seharusnya jadi bahagia. Betul tidak? Karena kalau hati itu melakukan sesuatu tak ada batasan. Hati itu free spirit. Dan bahkan hati itu kalau saya bilang ga punya malu. Beda dengan pikiran. Kalau pikiran itu terbatas. Pikiran itu mengumpulkan informasi-informasi lalu menyaring mana yang baik mana yang nggak. Mana yang merugikan mana yang nggak. 

Kalau pikiran itu lebih ke penasehat. Jadi kalau hati ingin berbuat apa, kemudian pikiran itu menasehati terlebih dahulu berdasarkan fakta abcde, data abcde. Mana yang baik mana yang nggak, bakal merugikan nggak nih yang ingin dilakukan oleh hati. Nah, ada kalanya memang baik mengikuti kata hati, namun ada kalanya juga baik mengikuti logika atau pikiran. Tapi kalau sudah menyangkut masalah cinta, biasanya kalau mengikuti kata hati akan bahagia walau mungkin secara logika tak bisa dimengerti begitu ya.

Kalau kita lebih memenangkan logika tentang masalah cinta ya hati yang akan terluka. Tapi kalau untuk urusan lain, kalau ikut logika kan logika berusaha tidak merugikan sifatnya, jadi akan tidak dirugikan. 

Kalau hati ini kan free spirit ya tidak punya malu jadi ketika hati menginginkan sesuatu jadi nekat begitu, ada perasaan nekat aja gitu. Tapi kemudian logika masih menyaring-nyaring. Masa mau melakukan abcd sih memalukan aja gitu ya. Kalau hati mau nekat, pikiran bilang, "Jangan...jangan... kalau kamu nekat nanti kamu begini...begini..." Saya rasakan betul Sobat, pertentangan hati dan logika. Jadi seringkali saya waduh seperti ada perdebatan gitu ya kalau hati saya maunya apa lalu logika saya berkata apa gitu kan. Ditimbang-timbang dulu apa baik buruknya. Dan kalau bikin keputusan jadi ga bisa spontan ya karena itu tadi logika saya itu begitu ketat.

Tapi memang ada kalanya saya ikut kata hati aja deh karena kalau ikut kata hati bisa plong gitu semacam tak ada beban. Kalau mengikuti kata hati gitu enak aja. Tapi kalau kata hati ga diikuti ada kayak kepikiran. Kalau kita berusaha menunda apa kata hati mungkin kita bisa menunda dalam jangka waktu satu dua hari tapi itu akan selalu teringat gitu dan akan terbawa. Jadi nantinya kalau ada kesempatan kita akan berusaha mewujudkan.

Bagaimana dengan kalian Sobat? Apakah kalian memilih hati atau logika? Atau kalian bisa seimbang antara hati dan logika? Atau kalian tipe yang lebih dominan hati atau lebih dominan logika?

Ada saya baca-baca di sebuah artikel, misal kalian mengikuti kata hati dalam hal pekerjaan, kalian akan lebih bahagia karena kalian mengikuti passion. Tapi kalau mengikuti logika dalam hal pekerjaan, misalkan kalian kerja di perusahaan A kalian mendapat penghasilan lebih besar. Tapi kalau bekerja mengikuti kata hati kalian akan mendapat penghasilan lebih kecil, tidak ada jaminan, masa depan tidak cerah, dll. Hmm, jika kalian mengikuti kata hati kalian akan bahagia tapi penghasilan kecil. Sementara kalau mengikuti logika, penghasilan besar tapi tidak bahagia. Pilih mana? Dilema kan ya?

OK. Saya cukupkan sampai di sini ya teman-teman, sampai jumpa!

Cheers!


Reference:
http://www.oprah.com/spirit/listen-to-your-heart-not-your-head/all#ixzz6XvMia0Ov




Saturday, September 18, 2021

Haruskah Judgmental?

9/18/2021 09:14:00 PM 0 Comments

Menurut kamus Cambridge, judgmental adalah
tending to form opinions too quicklyesp. when disapproving of someone or something

Hal tersebut bisa diartikan sebagai menilai seseorang terlalu cepat saat kita tidak setuju terhadap seseorang atau sesuatu. Dalam bahasa Indonesia mungkin lebih enaknya dikatakan sebagai menghakimi. Bagaimana Sobat, apakah kamu pernah merasa terhakimi?

Kita hidup dalam lingkungan yang judgmental. Sudah menjadi pemandangan yang biasa. Mungkin sedari kecil pun kita sudah mengalami.

Gill Hasson dalam bukunya yang berjudul Kindness menyebutkan 4 keadaan dimana kamu semestinya menyadari bahwa kamu tengah menjadi seorang yang judgmental atau sedang menghakimi orang lain, di antaranya:

  • Jika keadaan atau tindakan seseorang membuat kamu merasa kesal, tidak sabar, kecewa, atau bahkan marah kepadanya, maka saat itu kamu sedang menghakimi atau judgmental terhadap orang tersebut.
  • Jika kamu berpikir bahwa seseorang harus mengubah caranya (bisa cara berpikir, bertindak) maka kamu sedang menghakimi/judgmental.
  • Jika kamu meremehkan penderitaan seseorang maka kamu sedang menghakimi/judgmental.
  • Jika kamu berbicara meremehkan tentang seseorang maka kamu sedang menghakimi/judgmental

Saya pernah mendapati seseorang tidak setuju dengan tindakan atau pola pikir temannya yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pola pikirnya. Saya contohkan tentang mengasuh anak. Katakanlah A memilih untuk mengasuh anaknya yang masih kecil dan berhenti dari pekerjaannya. Padahal keadaan ekonominya kekurangan. Suami tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Melihat keadaan A, B tidak setuju. Jika B menjadi A, dia akan memilih untuk bekerja membantu suami. Anak bisa diasuh asisten rumah tangga. Dari perbedaan pendapat ini saja B menjadi mengeluarkan pernyataan yang kurang pantas atau menyudutkan atau menganggap bodoh seolah B yang paling benar. Padahal kita tidak tahu bagaimana kondisi A yang sebenarnya.



Kita hanya melihat kondisi seseorang dari luar saja yang ditampakkan. Dalamnya kita mana tahu. Kita hanya melihat satu sisi tapi seolah kita tahu keseluruhan sehingga kita dengan seenaknya men-judge orang lain. Apakah kita tahu keseluruhan yang dialami seseorang? Dari 24 jam sehari mungkin tidak sampai 1 jam yang kita ketahui tentang seseorang. Tapi kenapa dengan mudahnya kita menghakimi seseorang? Memangnya siapa kita? Kita bukan malaikat yang mengikutinya setiap saat. Kita bukan Tuhan yang mengawasinya setiap saat.

Kondisi kita tidak bisa disamakan dengan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk sama sepemikiran dengan kita. Apa yang cocok dengan kita belum tentu cocok untuk orang lain. Apa yang dilalui seseorang tidak sama dengan yang kita lalui mulai dari keluarga, lingkungan tempat bertumbuh, pendidikan, dll. Semua itu membentuk pola hidup seseorang seperti apa yang dijalani seseorang saat ini. Pantaskah kita judgmental terhadap orang lain?

Judgmental bisa berdampak pada seseorang seperti merasa tidak diterima oleh orang lain atau lingkungan. Perasaan tertolak tentu tidaklah nyaman. Setiap individu perlu eksistensi diri. Penerimaan oleh lingkungan akan membantu seseorang untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

OK sobat sampai di sini dulu ya. Next time kita sambung lagi.

Cheers!

Friday, September 17, 2021

Kejamnya Dunia Kerja

9/17/2021 02:54:00 PM 2 Comments
Halo Sobat! Apa kabar? Lama tak bersua ya. Setahun sudah berlalu. Tak satu pun artikel saya posting. Saya tenggelam dalam kehidupan nyata. Ah, kangen juga mengobrak-abrik blog ini. Ada yang kangen posting-an saya gak ya? Hehe

Walau lama tak diurus, ternyata masih ada saja pengunjung yang nyasar ke blog ini. Hmm, mungkin saatnya saya bangkit kembali. :D

Selama hayat masih dikandung badan, maju terus.... Duh, ngomong apaan sih ini :D

Ok, Sobat, maafkan daku yang vakum terlalu lama. Mungkin memang ada masa-masanya kita ingin rehat sejenak eh jadinya malah kebablasan. Bukan rehat sejenak lagi itu namanya tapi berjenak-jenak alias banyak jenak.

Sobat, kali ini saya menulis ini di kamar kos saya yang baru alias sudah hampir 6 bulan saya tempati di ibukota Jakarta. Saya berpindah tugas kemari. Sungguh di luar perkiraan ya Sobat. Saya tidak pernah bermimpi untuk bekerja di sini. Walau banyak yang menginginkan untuk pindah kerja kemari tapi tidak buat saya. Keinginan saya adalah pindah ke kampung halaman. Namun apa daya, ada yang lebih berkuasa di luar sana yang mengontrol hidup saya. Mungkin sudah jalannya harus seperti ini.

Banyak yang saya pertimbangkan untuk pindah kemari. Saya sungguh galau. Pada awalnya saya sempat tidak mengirim berkas dan upload berkas sudah ditutup. Saya pun menjalani hidup saya seperti biasa dan berharap plan b saya bisa berjalan mulus. Tapi kemudian, sehari sebelum pengumuman saya dihubungi orang pusat yang memberikan saya pilihan mau lanjut atau tidak. Jika mau lanjut harus kirim berkas sampai sore hari. Saya yang sedang ikut pelatihan pun jadi tidak konsen padahal sedang ada ujian sorenya. Akhirnya saya mengisi berkas dari nol yang ternyata tidak selesai sampai sore.

Saya minta waktu sampai besok pagi dan diiyakan. Lalu di pagi harinya saya kirim ke whatsapp si Bapak. Beliau bilang bahwa saya paling akhir yang kirim. Dan sore hari langsung keluar pengumuman. Duarrr... sungguh keputusan yang mendadak yang saya buat untuk hidup saya.

Saya ini orang yang penuh pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Yang saya lakukan biasanya sudah terencana. Saya bukan tipe yang buru-buru, grasa-grusu, dadakan dalam menjalani sesuatu. Harus dari jauh hari sudah dipikirkan direncanakan. Untuk jalan ke mall saja dengan teman, seminggu sebelumnya sudah janjian.

Wah, kepanjangan mukadimahnya nih. Mari lanjut ke tema! :D

Sobat, sebenarnya di posting-an ini saya ingin bercerita tentang dunia kerja yang sudah lama saya geluti. Bisa dibilang bahwa dalam dunia kerja selalu ada gesekan-gesekan.  

  • Ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. 
Bagaimana penilaian orang lain ke kita, itu contoh hal yang tidak bisa kita kontrol. Namun ada hal yang bisa kita kontrol seperti bagaimana kita berperilaku, apa yang kita perbuat, nah semua itu atas kontrol kita pribadi. Berhubung ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol maka bisa dibilang kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jika dari 10 orang ada 1 orang yang tidak suka dengan kita tidak cocok dengan kita, itu hal wajar. Kita tidak bisa mengontrol hal tersebut. Kita tidak bisa memaksa orang tersebut untuk menyukai kita. Dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain, niscaya hal tersebut akan sangat mungkin terjadi. 

Tak ada yang sempurna sobat. Life is hard. Ibarat kata, di mana pun kamu berada, kamu akan ketemu orang yang suka dan tidak suka dengan kamu. love and hate

Mungkin kamu pernah kepikiran, di mana pun saya berpijak kok ada saja sih yang ga suka sama saya. Apa yang salah dengan saya? Stop! Jika kamu sudah merasa sebagai orang yang berada di jalan yang lurus alias tidak macam-macam. Kamu tidak berbuat onar atau menyebabkan masalah. Jangan berpikir ada yang salah dengan kamu. Bisa jadi yang bermasalah bukan kamu tapi lingkungan kamu atau orang-orang di sekitar kamu. Jika kamu berganti lingkungan, kamu menemukan lingkungan yang cocok dengan kamu, maka kamu tidak akan menyalahkan dirimu sendiri lagi. 


Bisa jadi memang ada orang yang tidak cocok dengan kamu lalu orang tersebut yang malah membuat masalah denganmu. Entah dia menjadi judgmental terhadapmu yang menyebabkan kamu merasa ada yang salah denganmu ataupun kamu merasa tidak nyaman. Hal-hal seperti itu memang tidak mengenakkan tentunya karena perasaan kita yang bermain. Tapi cobalah berpikir dengan logika. Apakah kamu bekerja untuk orang tersebut? Apakah orang tersebut yang mempekerjakanmu, menggajimu? Apakah kamu akan dipecat gegara hal tidak nyaman yang kamu rasakan? Jika kamu merasa bahwa tempat kerjamu worth it untuk dipertahankan, go ahead! Tapi jika kamu merasa membawa pengaruh buruk terhadapmu, mungkin mental psikismu jadi terganggu karenanya, maka hal tersebut tidak sehat alias tidak baik buatmu. Segeralah keluar dari lingkungan tersebut.

Jika kamu bisa bersikap cuek, hal itu akan bisa membuatmu lebih enak hidup, meneruskan hidup seolah tak terjadi apa-apa. Tapi jika kamu adalah tipe orang yang sensitif tentu akan sulit bagimu. Kamu bisa pertimbangkan untuk pindah lingkungan.

Cukuplah penilaian Tuhan terhadapmu maka kamu tak akan memperdulikan atau sakit hati dengan penilaian manusia terhadapmu.

  • Kamu dengan keunikanmu
Adakah kamu pernah terpikir, sepertinya kepribadian seperti kamu (yang kamu miliki) sulit diterima orang lain di lingkungan kerja. Hal ini kemungkinan terjadi untuk orang tipe pendiam introvert yang irit bicara, tidak pandai bergaul dan cenderung berbeda dibanding yang lain. Kamu melihat bahwa lingkungan lebih menerima dan menyukai tipe kepribadian yang ceria yang banyak bicara dll yang sangat bertolak belakang denganmu 180 derajat. Tentu kamu merasa kamu tidak bisa dipaksa untuk menjadi orang lain agar orang menyukaimu, agar lingkungan menerimamu. Betul tidak? Sangat tidak nyaman jika kita harus menjadi orang lain. Tidak bisakah kita menjadi diri kita sendiri saja dan lingkungan menerima kita? Toh kita tidak menuntut orang lain menjadi seperti yang kita mau agar sejalan dengan kita. 

  • Like and Dislike
Like and dislike adalah hal yang saya bilang hal biasa dalam hidup, apalagi di lingkungan kerja. Kita ketemu orang-orang dengan latar belakang budaya, pendidikan, pengalaman, pola pikir yang berbeda-beda. Percayalah kita tidak akan lepas dari like and dislike. Oke, mungkin itu hal biasa, kita tak terlalu perduli, tapi ketika banyak kasus like and dislike terjadi di lingkungan kerja kita, tentu kita akan aware. Loh kok begini dan begitu. Kok si dia begini tapi perlakuannya begitu, dll. Kita tak bisa tutup mata akan like and dislike yang terjadi di depan mata. Tapi kita juga tak berdaya karena berada di jajaran terbawah. Kita bisa apa?

Legowo saja sobat. Kita seorang saja tidak bisa merubah apa-apa. 

  • Tempat baru tak seindah harapan
Mungkin sebagian dari kita ada yang berpindah-pindah tempat kerja. Apa harapanmu ketika memasuki tempat yang baru? Kamu kemungkinan berharap mendapat pengalaman baru kehidupan baru yang lebih baik. Betul tidak? Mungkin benar kamu bisa mendapatkan hal tersebut jika kamu bernasib baik. Tapi tentu saja hal itu tidak berlaku buat semua orang. 

Ada kemungkinan jika tempat baru tak seindah harapan. Yang ada malah lebih buruk dari tempat lama. Semacam ada kemunduran tatkala kita ada di situ. Siapkan mental saja ya Sobat. Di tempat baru juga belum tentu kita ketemu orang-orang yang sejalan dengan kita yang bisa mendukung kita untuk bertumbuh. Jika kita mendapati lingkungan yang tidak lebih baik dari sebelumnya, bisa jadi kita mengalami penurunan kualitas diri karena terpengaruh lingkungan. Tapi di sisi lain jika kamu kuat, maka tempat tersebut bisa menjadi ajang pembelajaran hidup untuk menjadi lebih wise dalam memahami lingkungan yang tidak sesuai dengan kamu. Apakah kamu pernah mengalami? Ada di posisi manakah kamu?

Sobat, sekian dulu ya sharing dari saya hari ini. Lain kali saya sambung lagi jika ada ide-ide lain yang perlu saya tambahi.

Note: Tulisan ini pertama saya tulis sebelum saya mulai posting review buku Saatnya Dunia Berubah dan Ikigai, tapi baru saya selesaikan hari ini untuk di-posting.

Cheers!


Thursday, September 16, 2021

Sayap Patah: Memori Kehilangan

9/16/2021 07:50:00 PM 0 Comments
Sobat, pernahkah kamu kehilangan? Kehilangan seseorang yang kamu cintai.

Di sini saya ingin bercerita bahwa saya baru saja kehilangan sesosok yang saya cinta. Saking cintanya apa pun yang beliau minta saya akan berikan. Kalian pasti bisa menebaknya siapakah sesosok itu. Dialah ayah saya. Beliau wafat pada hari senin malam sekitar pukul sembilan kurang, 6 September 2021. Saya tak punya firasat. Tapi sekitar sehari sebelumnya saya video call memantau beliau, beliau tampak sehat dan gemuk. Dalam hati saya berkata, bertahan ya Ayah, tunggu saya, bulan depan saya pulang setelah SK saya turun. Tidak menyangka malam harinya hb turun dan sesak napas. Keesokan paginya dibawa ke rumah sakit. Tidak sampai menginap, beliau sudah wafat. 



Saat dikabari bahwa ayah saya sudah tidak ada, saya tidak ngeh. Keponakan saya menelpon dan bilang bahwa ayah sudah balik. Saya pikir ayah saya balik ke rumah. Saya merasa senang dalam hati ayah saya tidak apa-apa. Tapi ternyata duaarrr, balik yang dimaksud adalah ke rahmatullah untuk selama-lamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un...

Saya mencari cara untuk pulang kampung. Di malam hari begitu sudah tidak ada lagi kendaraan. Pesawat hanya ada keesokan harinya. Travel dan damri sudah berangkat semuanya. Duh, pusing saya bagaimana caranya bisa pulang. Setidaknya agar saya masih bisa melihat wajah ayah saya untuk terakhir kalinya. Akhirnya saya kepikiran minta jemput kakak saya dari Banten.

Saya tidak bisa tidur. Saya selesaikan dulu kerjaan saya. Mungkin kalian berpikir, masih sempat-sempatnya ya. Karena saya tidak akan bisa kerja beberapa hari ke depan. Dan kerjaan tersebut sudah menuju deadline. Setelah itu saya bersiap-siap menunggu kakak saya. Akhirnya pukul 1.30 pagi kakak saya datang. Alhamdulillah. 

Sekitar 7 jam perjalanan, saya tiba di rumah. Di luar rumah sudah banyak orang berkerumun. Keluar dari mobil, kakak saya menangis semakin keras berjalan menuju ke rumah. Saya gandeng tangan kakak saya. Saya masih lebih tegar. Begitu masuk ke rumah, ada ibu saya menyambut. Pecah tangis saya di pelukan ibu saya. Tak kuasa saya menahan tangis. Kami bertiga berpelukan. Ya Allah ya Rabbi... 

Di dalam, ayah saya sedang disholatkan. Tak lama kemudian, saya diajak keluar kamar untuk melihat ayah saya. Wajahnya sudah ditutup kain. Saya berjalan menuju beliau. Selangkah demi selangkah saya mendekat ke wajahnya. Tak tertahankan saya menangis menjadi-jadi. Sungguh momen yang sangat memilukan. Saya cium pipi dan kening beliau dan saya peluk beliau untuk terakhir kalinya. Wajah ayah saya begitu putih dan bersih di akhir hayatnya. Lalu saya mundur dan bergantian dengan kakak saya.

Ya Allah, begini rasanya kehilangan seseorang yang begitu dicinta. Saya merasa seperti kehilangan satu sayap. Yang membuat sedih dan selalu menangis adalah memori yang terjalin selama beliau masih hidup. Ketika teringat wajahnya. Teringat beliau duduk dan tidur, suara langkah kakinya yang khas menyeret lantai dsb.

"Hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya." (Nasehat Malaikat Jibril) 

Memang ajal sudah ditetapkan oleh Allah. Saya pun tak tahu sampai kapan saya akan hidup. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua saya. Terimalah amal ibadah ayah saya. Ringankan siksa kuburnya. Lapangkan dan terangkan kuburnya. Aamiin.

Yang bisa kulakukan hanya berdoa untukmu Ayah...
Selamat jalan Ayah...

Salam sayang dariku, Anakmu yang sangat menyayangimu...
Semoga kita bertemu kembali di surga-Nya...
Aamiin...

Sobat, kita bisa kirim doa untuk ayah yang sudah meninggal dengan membaca:

Khushuushon ilaa ruuhi abii…(sebut nama ayah kita) bin…(sebut nama ayahnya ayah kita)Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.

lanjut baca Al Fatihah.

Kita bisa kirim surat yasin. Pada malam jumat, mayit di alam kubur berebutan yasin yang dikirim orang yang masih hidup yang menyebut mukminin wal mukminat. Namun tatkala ada anak yang mengirim yasin untuk orangtua yang meninggal maka mayit tidak lagi rebutan, cukup dari kiriman anaknya. 

Kita masih bisa berbakti kepada orangtua yang meninggal dengan mendoakannya (jangan lupa doa robbi firli waliwalidaya warhamhuma kama rabbayani soghiro selepas sholat mohonkan ampun orangtua kita) dan beramal atas namanya. Selama masih di alam barzah (belum kiamat alias setelahnya alam akherat) hal tersebut masih berlaku. Demikian saya kutip dari ceramah Gus Baha. Selama kita masih hidup mari selalu doakan orangtua kita. Jika kita meninggal, tak ada lagi yang mendoakan orangtua kita di alam kubur. Tak ada lagi yang mengirim yasin. Semua amal ibadah terputus ketika meninggal dunia kecuali 3 perkara yaitu amal jariyah, ilmu bermanfaat, dan doa anak soleh.

Sekian sharing saya ya sobat...

Sunday, September 5, 2021

Cara Mengatasi Whatsapp Kena Hack

9/05/2021 10:35:00 PM 0 Comments
Sekitar bulan Juni 2021 lalu setelah hari raya Idul Adha, whatsapp saya kena hack. Bagaimana ceritanya?

Jadi begini Sobat, saya ceritakan awal mulanya siapa tahu ada yang mengalami hal serupa sehingga tidak menjadi korban seperti saya. Sekitar pukul 8.30 malam saya tengah santai tidur-tiduran sambil internetan di hp saya yang khusus internet, tiba-tiba teman kosan saya datang ke kamar saya bertanya, "Mbak, WA saya?"

Saya jawab seketika, "Nggak."

Kemudian dia menunjukkan isi WA-nya ke saya. "Ini nomor WA Mbak kan?" tanyanya lagi.


Saya cermati profil di WA hp-nya yang adalah benar gambar profil WA saya. Waduh, kok bisa ya. Kemudian saya cek WA hp saya. Saya sudah tidak bisa buka lagi itu WA saya. Ada tulisan kalau WA saya dibuka di perangkat lain. Alamak kena hack WA saya. 

Ada perintah untuk verifikasi. Tapi saya coba verifikasi tidak bisa. Sampai keesokan harinya juga tidak bisa. Kemudian saya temukan bahwa WA saya sudah di-password sama yang nge-hack. Haduh, jadi desperate deh. Lemes...

Sobat, mau tahu apa isi WA pakai nomor saya yang dikirim ke teman kos saya? Tak lain dan tak bukan minta ditransfer duit ke rekeningnya. Modus! Untungnya teman saya cerdas. Dia curiga kan masa kami cuma beda kamar minta ditransfer duit dengan tiba-tiba. Mintanya via WA lagi. Kenapa ga minta langsung? Teman saya pun menjawab tidak punya di rekening tapi adanya cash. Bravo! :D

Setelah teman kos ini cerita ke saya, teman kos lain ikutan ngumpul dan bercerita mereka juga dikirimi pesan WA mau pinjem duit minta ditransfer. Wah, parah nih bahaya. Menjelekkan nama saya nih saya pikir. Setelah teman kos, teman kerja di tempat kerja yang lama menghubungi saya via instagram, dia bilang ada teman lain yang dimintai transfer duit juga. Dan yang nge-hack bisa bahasa Bengkulu menjawab WA teman saya. Loh kok? Jadi curiga kan? Saya lihat percakapan WA-nya lancar bahasa Bengkulunya. Duh, amit-amit ini. Siapa sih nih orang?

Mana saya tuh jarang komunikasi dengan teman yang dimintai duit ini. Saya tahu dia saya kenal karena dulu satu bidang kerjaan begitu walau tidak satu kantor tapi saya sering ketemu saat pelatihan atau acara-acara rapat teknis. Nah, kan aneh kan kalau tidak pernah komunikasi tiba-tiba minta transfer aja. Apa kabar dunia?

Teman yang ini sudah ya ceritanya. Teman lain yang merupakan teman main atau jalan bareng saya pun menanyakan ke saya ada apa dengan saya. Ya, saya bilang saja ke-hack. Dia dan teman lain pun di WA yang sama loh minta duit. Tapi tentunya teman-teman saya ini tidak percaya begitu saja. Setelah tahu kalau WA saya di-hack ya malah dimainin alias dikerjain itu yang hack. Iseng sih kalau ini teman saya. :D

Keesokan harinya, ada lagi. Kali ini teman kuliah saya dulu saat S2. Dia langsung telpon saya apa benar saya pinjam duit ke dia. Saya jawab saja saya kena hack. Teman kuliah yang lain pun dikirimi pesan minta transfer juga. Parah kan?

Sumpah, memalukan. Sangat sangat memalukan... Ya Allah, cobaan apalagi ini.


Penyebab

Kenapa saya sampai bisa kena hack? Jadi ceritanya nih, ada sekitar dua hari sebelum kena hack, ada WA masuk. Dia minta dikirimi kode OTP yang barusan masuk ke hp saya. Dia mengaku sebagai pelayan Indomaret yang salah kirim kode voucher game pelanggan. Nah, buruknya adalah sebelum kejadian itu memang saya ada transaksi dengan Indomaret yaitu beli online. Jadi saya yang baik hati dan polos ini berpikir oh benar ini dari Indomaret. Tidak menaruh curiga gitu loh. 

Saat itu saya kopi saja kodenya lalu saya kirim ke dia. Eh, dia WA lagi minta dikirim gambarnya. Saya bilang saya ga bisa kirim gambar hp saya penuh. Tapi entah bagaimana saking baiknya saya (atau saking bodohnya? ah, saya ga mau dibilang bodoh sih) akhirnya saya kirim itu ke dia. Mungkin memang sudah takdir kali ya bakal kejadian. :D

Ya sudah akhirnya ke-hack itu WA saya sekitar 2 hari kemudian. Fu fu fu...


Apa yang saya lakukan?

Saya disarankan teman saya untuk kirim email ke whatsapp. Ok, saya kirim email dalam bahasa Inggris yang memberitahukan bahwa whatsapp saya dengan nomor 08XXXXXXX kena hack/dicuri. Saya minta agar akun saya di nonaktifkan (deactivated). Kirim ke email: support@whatsapp.com

Beberapa waktu kemudian saya mendapat balasan dari whatsapp. Panjang lebar sih isinya. Tapi pada intinya whatsapp tidak bisa menonaktifkan akun yang saat itu dalam kondisi ter-password. 

Nah loh. Bagaimana coba? 

Whatsapp menyarankan agar saya menunggu selama satu minggu agar si password ini netral baru saya ambil alih itu akun saya. Hmm, baiklah saya tunggu!

Saya selalu mantengin itu akun saya dari hari ke hari coba reset tapi tidak bisa ya karena saya tidak tahu password-nya. Baiklah sampai tiba satu minggu akhirnya bisa Sobat! Wuih senangnya hatiku. :)

Lagian ya yang nge-hack ini kurang kerjaan banget sih. Dia tuh cuma pakai akun saya dari sekitar  8.30 malam sampai 3.30 pagi. Itu last seen-nya. Mungkin ga dapat korban ya. Semoga saja tidak sih. Saya berharap teman-teman saya adalah orang yang cerdas. Karena kan kejadian minta-minta transfer duit ini di luar kebiasaan saya banget. Jadi kemungkinan teman-teman pasti curiga. Lagian kalau berurusan dengan duit kan orang biasanya kenceng alias ga mudah ngasih duit. Harus dengan orang yang benar-benar dipercaya kan? :D

Selain akun chat whatsapp yang biasa saya pakai, eh yang nge-hack itu buka akun bisnis juga loh. Benar-benar deh ya parah. Dan di-password juga! 


Saran buat kalian
  1. Kalau akun whatsapp kamu kena hack seperti saya, jangan panik. Pertama coba kamu verifikasi akunmu dengan kode yang dikirim via sms ke hp-mu. Kalau yang nge-hack tidak mem-password akunmu maka kamu akan langsung bisa verifikasi alias ambil alih akunmu. Tapi kalau sudah terlanjur di-password, tunggu saja satu minggu. Sabar ya...
  2. Kamu tidak perlu menghubungi operator SIM card untuk memblokir nomormu. Karena kan kamu masih perlu untuk mengambil alih nanti. Kode verifikasi kan dikirimnya via sms ke hp.
  3. Jangan sembarangan kasih kode OTP apapun itu. Bahaya! Kalau ada yang minta kayak kejadian saya, becandain aja ya, bilang aja, "Salah sendiri salah kirim! Wekkk :p" :D
Ok, sekian sharing saya hari ini. Semoga bermanfaat ya! 

Cheers!