Follow Us

Monday, August 27, 2018

Beijing (Cerita Awal Traveling dan Urus Visa)

8/27/2018 12:14:00 PM 14 Comments


Setelah paspor di tangan, apa yang akan dilakukan selanjutnya? Jalan-jalan donk ya. Hehe

Baiklah. Tanggal 17 Juli 2018 paspor saya ambil dan tanggal 18 Juli saya mulai action untuk liburan. Ke mana? Pilihan saya kali ini jatuh ke Beijing, China. Setelah searching beberapa itinerary dan budget, dan mumpung saya masih libur panjang, terpilihlah satu destinasi alias paket wisata super promo yaitu Consortium Mono Beijing dari Avia Tour selama 6 hari 5 malam seharga Rp. 6.380.000 (Syarat ketentuan berlaku). Murah kan?

Pilihan ini sudah melewati beberapa pertimbangan. Hal ini dikarenakan saya harus menyesuaikan jadwal saya. Dan ini pun saya mengorbankan 1 hari jadwal saya yang seharusnya saya ikuti. Karena memang paket consortium ini hanya ada sekali yaitu 16-21 Agustus 2018, tidak seperti paket lain yang pilihan tanggalnya banyak.

Saya sempat kepincut paket China Delight karena lebih lama (8 hari) dan juga destinasi lebih banyak tidak hanya Beijing tapi juga ke Shanghai, Suzhou, Huzhou, dan Guangzhou dan pastinya harga 2x lipat lebih mahal hehe. Tapi sayang sekali paket ini tidak mampir ke Summer Palace. Padahal ini wajib dalam agenda saya selain Great Wall. Jelas tujuan utama saya adalah menginjakkan kaki ke Great Wall. Jadi saya pikir ke Beijing saja cukuplah untuk saat ini (dengan beberapa pertimbangan) karena paket consortium sudah ada Summer Palace selain Great Wall tentunya di itinerary-nya.

Dan sejujurnya alasan lain yang mendasar adalah paket consortium ini bertepatan dengan jadwal haid, semoga pas sehingga saya pikir saya tidak perlu khawatir soal sholat (update 23/8/2018: prediksi meleset). Sementara China Delight durasinya lebih panjang dan ada waktu yang saya harus sholat. Sumpah saya takut jika sampai terjadi saya mengabaikan sholat karena jalan-jalan ini. Apalagi kemungkinan besar teman serombongan dan juga tour guide-nya bukan muslim. Bisa jadi saya satu-satunya muslim. Note: Ini bukan soal rasis ya. (update: ada 2 keluarga muslim selain saya)

Saya juga sempat melihat-lihat destinasi negara lain tapi sungguh sayang paket yang saya minati waktunya tidak match dengan jadwal saya sehingga tidak bisa saya ambil.


Kisah sedih (Peringatan: jangan dibaca jika tidak suka cerita sedih! Semoga ini tidak lebay)

Jadi, pada awalnya saya sudah merencanakan alias janjian jalan-jalan ke Thai setelah lebaran bersama salah seorang teman saya. Tapi ternyata dia batalkan begitu saja. Dan dia ikut tour ke Jepang. Nyesek tidak sih? Kalau ada di posisi saya sih nyesek. Tapi di posisi dia? Sepertinya dia enak-enak saja melakukan hal itu. Bagaimana saya tidak sedih. Janji pun tinggal janji. Bukan masalah tidak jadi ke Thai-nya sih karena pada dasarnya Thai bukan negara prioritas yang ingin saya kunjungi, tapi ini soal arti sebuah janji. Semudah itukah kau mengingkari. Dan alasan batalnya itu loh... Pelajaran berharga: ternyata komitmen itu susah ya. :(

Dan akhirnya saya yang terkecewakan ini pun merencanakan jalan-jalan sendirian tanpa teman yang saya kenal dengan ikut tur ini.


Kenapa pilih Beijing? 

Saat saya tanya salah seorang teman saya apakah dia berminat ke China, dia langsung menjawab dengan tegas, "No!"

Oh. But why? :(

Memang traveling ini urusan selera ya. Saya menyadari betul hal ini. Ada orang yang suka wisata alam/pantai, ada yang suka wisata kota, ada yang suka belanja, ada yang suka wisata budaya/sejarah, dan lain-lain. Perbedaan itu indah ya. :)

Saya termasuk yang suka wisata sejarah. Ketimbang ke tempat belanja, saya lebih suka ke tempat-tempat bersejarah. Dan China termasuk salah satu negara bersejarah di dunia yang punya banyak tempat-tempat peninggalan sejarah. Tentu, saya ingin melihat langsung. Karena selama ini saya hanya membaca di buku sejarah atau pun menonton film-filmnya.

Selain itu, dari kecil saya suka nonton film/serial kungfu/pendekar atau pun kisah kerajaan (historikal). Jadi, tak ada alasan bagi saya untuk tidak berminat. :)

Ada kata bijak, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Analogi: Jadi, boleh donk jalan-jalan sampai ke negeri China? :)

Pokoknya saya punya impian untuk mengunjungi di mana keajaiban dunia berada atau pun tempat-tempat bersejarah lainnya di dunia. Aamiin.


Visa

Setelah saya searching tentang pengurusan visa China, sebenarnya caranya tidak ribet. Begitu pula persyaratan yang diminta juga tidak ribet. Saya sebenarnya ingin mengurus sendiri saja toh posisi saya sedang ada di Jakarta dan sedang libur panjang pula. Tapi saya baru teringat bahwa kurang dari 1 bulan dari pendaftaran saya sudah akan berangkat (jadwalnya tanggal 16 Agustus 2018).  Sementara ada yang bilang bahwa pengurusan visa sebaiknya 3 bulan sebelum keberangkatan, Nah, saya khawatir kenapa-kenapa ya karena mepet, jadi akhirnya saya putuskan untuk diuruskan agensinya saja. Padahal sih kalau normalnya 4 hari kelar. Masih lumayan lega sebenarnya waktunya sampai hari H. Ya sudahlah yang penting beres. Toh biayanya juga murah hanya 35 ribu setara jika saya 2x bolak-balik ke Visa Centre. :)

Berhubung saya diuruskan agensi, persyaratan yang diminta cukup fotokopi KTP, KK, tanda-tangan di halaman 4 formulir, dan paspor asli. Kalau mengurus sendiri perlu membawa dokumen asli selain fotokopi.

Foto visa di mana?

Awalnya saya pikir mau foto di mana ya yang bagus. Setelah searching akhirnya saya putuskan ke Myra Gallery di dekat Terminal Kampung Melayu. Pas di seberang kuil. Saat saya tiba di sana, saya disuruh ke lantai 2 untuk foto visa. Pegawainya langsung paham waktu saya bilang visa China. Di situ sudah sering membuat foto untuk visa. Setelah saya ada juga customer lain yang mau foto visa yaitu visa Korea.

Saya sendiri setelah foto, duduk menunggu saja di lantai 2. Petugasnya bilang jadinya 2 jam. Jadi ya daripada bolak-balik mending menunggu sambil utak-atik laptop. Tempatnya juga nyaman sih. :)

Oya, sekali foto visa dapat 6 lembar ukuran yang sama. Biaya 40 ribu saja. Lumayan ekonomis kan?

Note: tulisan berikutnya ini tidak penting jangan dibaca! 
Jadi, setelah customer visa Korea ada lagi customer lain seorang pria. Nah, orangnya ini mau foto biasa. Orangnya tanya apakah disediakan jas. Ya betul di situ disediakan jas dan dasi. Lalu orangnya bilang sendiri tanpa ditanya bahwa dia mau foto buat nikah. Hihi. Saya pun tersenyum tipis sambil terus mengetik. Btw, selamat ya mas! :)


Jalan-jalan ke mana saja?

Berikut adalah itinerary awal perjalanan saya. Sapa tahu bermanfaat buat kamu untuk referensi atau pun menarik minatmu untuk jalan-jalan ke sana. :)

Day 1 (16/8/2018):
Perjalanan Jakarta - Beijing

Day 2 (17/8/2018): 
Tian An Men dan Forbidden City
Temple of Heaven
Toko wajib: Jewelry

Day 3 (18/8/2018):
Ju Yong Guan Great Wall
Bird's Nest Stadium
Peking Roast Duck
Toko wajib: Baoshutang dan Foot Massage

Day 4 (19/8/2018):
Summer Palace
Xiu shui Market
The Place Mall
Qian Men Old Beijing Street
Solana Blue Harbor
Toko wajib: Latex

Day 5 (20/8/2018):
Panda Zoo
Bei Hai Park
Wangfujing Street
Toko wajib: Charcoal and Silk

Day 6 (21/8/2018):
Wangfujing Street
Kembali ke Indonesia

Agar postingan tidak terlalu panjang, lanjut ke posting berikutnya ya. :)

Bersambung...

Pengalaman Lolos International Paper Conference CITSM 2018 (Part 4)

8/27/2018 11:54:00 AM 18 Comments


Berikut adalah posting bagian akhir dari kisah perjalanan saya mengikuti conference CITSM 2018. Yuk simak!

Tanggal 6 Agustus 2018 pagi hari saya merasa tubuh saya lemah dan tidak enak badan intinya. Memang beberapa hari sebelumnya sudah terasa gejala flu seperti demam, pegal-pegal dan juga batuk. Mau bangun dari tempat tidur untuk bersiap-siap itu rasanya enggan sekali. Berat sekali. Sampai saya berkata dalam hati seandainya saja kehadiran saya bisa digantikan. Tapi sungguh tidak mungkin karena sudah hari-H dan juga tiket pesawat dan hotel sudah dipesan lunas semua.

Pukul setengah 8 pagi saya paksakan diri untuk bangun dan bersiap-siap. Saya baru packing saat itu. Tahu sendiri kondisi sebelumnya memang tidak enak badan. Berhubung tidak banyak juga yang disiapkan jadi tidak masalah. Saya pun hanya makan roti lalu pergi ke Bandara Halim Perdana Kusuma untuk pertama kalinya.

Rupanya, tidak sampai sejam sudah sampai, lebih dekat dari Soekarno Hatta. Hanya habis 60 ribu pakai taksi. Jika ke Soekarno Hatta biasa habis sampai 200 ribu. Sampai di sana saya menunggu tidak terlalu lama karena ternyata boarding lebih cepat setengah jam dari jadwal. Saya justru heran kenapa bisa begitu. Biasanya molor tapi kok ini malah lebih cepat.

Sampai di Bandara Silangit, Danau Toba, Sumatera Utara, saya seperti orang hilang sendirian. Jam 1 siang sudah sampai sementara bus jemputan pukul 3 sore. Peserta lain juga saya tidak tahu siapa yang satu pesawat dengan saya. Menyedihkan. Teman yang semula bareng saya ternyata dia ganti ke Kuala Namu tidak bilang-bilang ke saya. :(

Akhirnya saya menunggu di kursi luar. Begitu tak ada tanda-tanda bus jemputan, saya melipir ke booth travel. Saya pun harus menunggu penumpang lain jika mau murah. Karena kalau tidak, sewa satu mobil mahal. Alamak.

Jam setengah empat sore travel pun berangkat. Itu adalah travel terakhir alias saya naik mobil yang punya travel beserta 2 orang perempuan yang jadi penjaga travel dan 1 orang penumpang perempuan yang berbeda tujuan dengan saya. Di tengah jalan, saya diturunkan. Saya dioper ke mobil travel lain yaitu L300 yang isinya penuh penumpang lokal. Saya duduk paling belakang berisi 3 orang. Yang 2 orang sebelah saya perempuan semua ibu-ibu bawa anak keduanya. Sempit benar. Mana panas. Saat saya berangkat itu mobil jemputan panitia yang katanya pukul 3 masih belum nongol juga loh.

Dengan merogoh kocek 150 ribu rupiah saya pun berhasil sampai hotel. Itu pun saya jalan kaki dulu dari pinggir jalan ke dalam menuju hotel. Travel menurunkan saya di pinggir jalan itulah, tidak mau masuk. Alamak... Sudah seperti solo traveling ini saya. :(

Di depan hotel, sudah ada 2 orang perempuan yang mau masuk. Rupanya mereka peserta juga sama seperti saya. Kami pun berkenalan. Mereka adalah peserta dari BSI.

Hotel yang saya tempati, Grand Tamaro, ruangannya luas untuk yang deluxe. Dan tanpa AC sudah dingin sekali. Heran juga kenapa kamar deluxe tak ada AC?

Danau Toba dari Hotel Grand Tamaro


Si Mbak yang dari BSI, saat sarapan saya tanya apakah pake biaya sendiri atau dari kantor. Dia bilang, biaya sendiri. Kan mereka berdua sekamar di kamar standar. Kamar kami sempat ketukar. Hehe. Eh, begitu kami sampai di Hotel Inna Prapat, Si Mbak menyodorkan kertas SPPD ke panitia saat ditanya apakah ada SPPD. Hihi senyum saya dalam hati. Dikiranya saya tidak mengerti kali ya. :D

Oya, saat mau datang ke Hotel Inna Prapat untuk pembukaan, kedua orang ini santai benar. Saya tanya mau jalan kaki atau naik angkot? Mereka seperti bingung. Padahal sih jalan kaki dekat begitu bisa cek di google map. Akhirnya jalan kaki juga sih kami. Saya heran, saya merasa diri saya ini santai. Tapi ternyata masih ada yang jauh lebih santai.

Cerita sedih
Saat malam sebelumnya awalnya kan berencana mau keluar cari makan malam, eh kok mereka adem ayem tidak mampir ke kamar saya. Akhirnya saya yang ke kamar mereka. Terus apa kata mereka? Gelap. Mereka tidak berani. Dan saya lihat di mejanya mereka sudah makan pop mie. So sad... :(

Ya sudah saya pun tak keluar jadinya karena sendirian. Lalu teman saya di Hotel Inna tanya apa saya sudah makan. Akhirnya dia titipkan makan malam diantar ke hotel saya oleh security. So sweet.
Thank you :)

Hotel Inna Parapat


Hari pertama tanggal 7 Agustus 2018
Acara pembukaan lalu dilanjutkan dengan presentasi peserta di ruang masing-masing setelah makan siang. Saat itu saya hanya menonton rekan saya yang tampil hari itu dan juga peserta lain. Awalnya saya pikir presentasi bakal serius dan menegangkan, rupanya tidak. Mana ruangannya tidak kedap suara karena hanya disekat-sekat saja. Jadi, suara tumpang tindih dengan ruangan lain. :D

Hari kedua tanggal 8 Agustus 2018
Hari ini jadwal saya presentasi. Seharusnya saya mendapat giliran kedua tapi kenapa kok malah orang lain duluan yang tampil? Kemudian moderator mendatangi saya. Dia tanya apakah saya bisa tampil yang ketiga. Akhirnya saaya tampil ketiga. Waktu saya akan presentasi, pointer tidak nyala. Hehe ya sudah akhirnya saya lihat di laptop. Dan setelah selesai ternyata ada komentar dan pertanyaan dari seorang professor dari Malaysia. Beliau bilang topik saya bagus bisa untuk lanjut ke S3. Dalam hati saya, saya tidak kepikiran untuk mengambil S3 TI lagi, Pak. Huhuhu

Profesor tersebut menghampiri saya ke kursi belakang setelah saya presentasi. Kami mengobrol dan beliau bertanya email saya. Saat itu saya bilang ada. Lalu saya pikir mana mungkin beliau baca satu-satu di buku kumpulan abstrak. Lalu teman saya menyarankan saya menulis email saya di kertas. Waduh, saya tidak bawa kertas. Teman saya pun tidak. Lalu di akhir acara saya berikan kertas sobekan berisi email ke profesor tersebut. Dan sang profesor memberikan saya kartu namanya. Sungguh memalukan. Namun juga lucu. Mana kertas yang saya pakai adalah kertas bekas bon milik teman saya. :D

Siang hari langsung penutupan lalu ada acara jalan-jalan ke Samosir naik kapal di Danau Toba. Saya ikutan daripada bengong sendirian di kamar tak ada acara. Mana sudah jauh-jauh datang kan. Harga tiketnya 200 ribu rupiah sekitar 3 jam perjalanan supaya tidak kesorean. Lumayanlah refreshing. :D

Objek Wisata Samosir

Sekian kisah perjalanan saya. Sampai jumpa di posting berikutnya. :)