semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana: little story of me

Follow Us

Showing posts with label little story of me. Show all posts
Showing posts with label little story of me. Show all posts

Friday, January 2, 2026

Cerita Pengabdian Masyarakat ke Panti Asuhan

1/02/2026 06:16:00 PM 0 Comments
Sekitar bulan Juni 2025 saya dan 4 orang teman saya melakukan pengabdian masyarakat ke sebuah panti asuhan di Jakarta. Dari mencari lokasi, persiapan, hingga pelaksanaan semuanya kami lakukan sendiri. Kami berbagi tugas di setiap kegiatan.

Awalnya kami rapat pembentukan panitia terlebih dahulu. Kami bentuk ketua, sekretaris, bendahara, PJ logistik, dan PJ dokumentasi. Semuanya aman terkendali hanya di-handle berlima. 

Untuk pencarian lokasi kami serahkan ke ketua dan PJ dokumentasi karena anggota pria hanya mereka. Biar mereka pergi bareng cek lokasi. Ternyata ga mudah buat dapat lokasi. Beberapa lokasi tidak ketemu. Ada yang tutup. Ada yang tidak menerima PKM. Ada yang sudah berubah fungsi. Pokoknya macam-macam. Akhirnya ada yang menerima kedatangan kami dan waktunya bisa kami sesuaikan yaitu Panti Asuhan Karena Kasih. 



Di panti asuhan ini anak-anaknya mayoritas keturunan tionghoa. Pas kami datang awalnya kami ekspektasi anak SD sejumlah 10 orang saja. Ternyata mayoritas anak SMP yang sudah besar-besar bahkan kami kalah besar hehe. Anak SD hanya 2 orang. Malah lebih 1 orang jadi total 11 anak. Lebih ya. Padahal kami menyiapkan goodie bag pas 10. Jadi kurang 1. Waduh... 

Selain itu, kami merasa seperti salah persiapan. Karena awalnya kami menyiapkan materi dan game untuk anak-anak SD. Begitu pula untuk hadiah dan snack yang kami siapkan.

Kami sudah menyusun skenario rundown acara dari awal hingga akhir karena waktu yang diberikan ke kami 2 jam saja. Kami ingin tepat waktu. Kami menyiapkan 4 game dengan masing-masing dari kami menjadi PJ. Kami berbagi tugas ada yang mencatat skor, ada yang dokumentasi, ada yang menyiapkan hadiah, dan lain-lain.

Kami ke sini mengajar bahasa Inggris tapi dengan cara yang fun. Kami sedikit mengubah rencana dari yang tadinya ada materi sedikit buat anak-anak akhirnya kami alihkan semuanya game. Dan berjalan lancar dari awal hingga akhir. Fun banget. Anak-anaknya antusias banget walau sudah gede-gede ya. Mereka sangat kompetitif untuk dapat hadiah.

Game pertama adalah menyusun body part label dalam bahasa Inggris. Di game ini PJ nya 2 orang panitia pria. Mereka yang badannya ditempel-tempel. Pesertanya dibuat 2 kelompok. Game ini kami letakkan pertama untuk ice breaking. Awalnya anak-anak belum terlalu antusias tapi setelah ini mereka mulai cair.

Game selanjutnya adalah tebak gambar. 1 kelompok isinya 2 orang. PJ nya adalah panitia wanita. Di game ini cukup seru karena semua pasti berpartisipasi. Game ini melatih kemampuan mendeskripsikan gambar dan menebak nama yang dideskripsikan.

Game ketiga adalah Simon says. Ini untuk melatih konsentrasi. Pada game ini sangat sulit untuk dapat pemenang karena beberapa anak yang tersisa fokusnya tinggi. 

Game keempat adalah game terakhir yang saya bawakan. Saya cuma tebak-tebakan quiz. Tapi antusias mereka tinggi sekali. Mereka saling berebut sampai heboh sekali tak terkendali. Tidak menyangka ya. Mungkin karena hadiahnya boneka. Mereka itu sudah besar-besar tapi rupanya boneka itu hadiah yang tak pandang bulu. Mau besar kecil semua orang suka. :)

Selesai game kita penutupan dengan kesan pesan dan doa. Lalu kita penyerahan goodie bag dan makan siang untuk anak-anak. Kita juga memberikan sedikit bingkisan untuk panti. 

Senang rasanya bisa berbagi dengan mereka. Setelah itu kita pulang. Kita mampir dulu makan karena sudah kelaparan hehe.

Alhamdulillah acara sukses. Terima kasih kerjasamanya teman-teman semua. Tim kita solid banget. :)

Sunday, May 25, 2025

Kenapa Otakku Selalu Berpikir Lurus-Lurus Saja, Seperti Sudah Default

5/25/2025 01:45:00 PM 0 Comments

Halo Sobat apa kabarmu hari ini? Saat ini Jakarta lagi terasa dingin. Walau sekarang ini sudah masuk musim panas tapi malah hujam tiap hari. Alhamdulillah ya karena Jakarta jadi adem. Tapi suasana jadi gloomy. Tak ada sinar matahari hanya mendung. 


Ok kali ini aku mau membahas tentang yang aku alami. Ini tentang cara berpikir yang lurus-lurus saja. Terkadang suka heran dengan orang lain yang kok kepikiran ini itu kok aku nggak ya. Jadi penasaran sendiri.


Yuk simak...


Kadang aku iri dengan orang yang bisa memikirkan berbagai kemungkinan, punya imajinasi liar, atau selalu punya ide “di luar kotak”. Sementara aku? Otakku cenderung berpikir lurus. Teratur. Langsung ke inti. Rasanya seperti sudah default setting dan aku tak tahu harus senang atau justru merasa terbatas.


1. Aku Terlatih untuk Efisiensi, Bukan Eksplorasi
Sejak kecil, aku terbiasa dengan hal-hal yang jelas: pertanyaan punya jawaban, masalah punya solusi, langkah punya tujuan. Lingkungan dan pendidikan membentukku untuk berpikir praktis. Tak banyak ruang untuk berandai-andai, atau menabrak pakem.


2. Logika Selalu Menang
Aku cenderung mencari alasan logis untuk semua hal. Bahkan saat menulis, merencanakan sesuatu, atau bertindak, aku ingin semuanya masuk akal. Imajinasi sering kalah dengan logika. Bukan karena aku tak bisa bermimpi, tapi karena aku takut tersesat di sana.


3. Mungkin Aku Takut Gagal, Jadi Memilih Jalur Aman
Berpikir lurus adalah cara aman untuk hidup. Tak ada belokan tajam yang bisa bikin jatuh, tak ada kejutan yang menyakitkan. Tapi kadang aku sadar, terlalu aman justru membuat hidup terasa datar.


4. Tapi Bukan Berarti Aku Tak Bisa Berubah
Setiap hari aku belajar mengenali bahwa berpikir lurus bukan kelemahan, tapi fondasi. Mungkin aku hanya perlu membuka sedikit ruang di kepala dan hati, untuk mencoba hal yang tak biasa. Sedikit melawan arus. Sedikit kacau. Dan sedikit berani.


Penutup: Lurus Itu Bukan Salah, Tapi Jangan Lupa Sesekali Menoleh

Otakku mungkin berjalan di garis lurus, tapi dunia tidak. Kadang, keindahan justru ditemukan di jalan memutar, di tikungan yang tidak terduga. Jadi mungkin bukan soal mengganti cara pikir, tapi memberi diri izin untuk sesekali keluar dari garis dan melihat, siapa tahu di luar sana ada versi diriku yang belum sempat aku kenal.



Bagaimana sobat? Apakah kamu orang yang berpikir lurus-lurus saja? Tenang sobat kamu ga sendiri kok. Sebenarnya ini berkah atau bukan ya? Hehe


Kita sampai di sini dulu. Lanjut ke posting berikutnya...


Thursday, May 22, 2025

Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus

5/22/2025 04:41:00 PM 0 Comments

Sobat, ini masih lanjutan posting sebelumnya. Yuk simak... siapa tahu relate denganmu...



Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus

Ada saat-saat dalam hidup ketika aku merasa langkahku mulai goyah. Keinginan dunia mulai menggoda, egoku mulai mendominasi, dan aku mencoba berjalan ke arah yang berbeda dari apa yang aku yakini sebagai kebaikan. Tapi entah bagaimana, setiap kali aku menyimpang, Allah seperti langsung menarikku kembali. Tegas. Cepat. Kadang menyakitkan.


Dulu aku mengira itu semacam hukuman. Tapi makin ke sini, aku mulai sadar: mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan bahwa Dia tidak ingin aku jauh dari-Nya. Mungkin, ini cara-Nya berkata: "Aku sayang kamu. Tetaplah di jalan yang lurus."


1. Gagal Saat Berniat Salah
Setiap kali aku melakukan sesuatu dengan niat yang tidak bersih karena sombong, karena ingin dipuji, atau karena dengki hasilnya selalu tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan hal-hal yang biasanya mudah, tiba-tiba menjadi rumit. Aku merasa Allah sedang membelokkan arahku kembali, memaksaku bertanya ulang: Apa niatku sebenarnya?


2. Gelisah Saat Menjauh dari Ibadah
Bukan cuma urusan dunia yang kacau, tapi hatiku juga ikut gelisah. Kalau aku mulai lalai dari salat, mengabaikan doa, atau menjauh dari tilawah, rasanya hidup jadi hambar. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi dengan apapun, seolah Allah sedang berbisik: “Kembali kepada-Ku.”


3. Disadarkan Lewat Orang Sekitar
Pernah suatu waktu aku sedang dalam kondisi hampir menyerah, nyaris mengikuti godaan yang aku tahu salah. Tapi tiba-tiba saja, seseorang datang dengan nasihat, atau aku tanpa sengaja mendengar ceramah yang isinya seperti ditujukan langsung padaku. Apakah itu kebetulan? Tidak. Aku yakin itu cara Allah menjaga.


4. Dihindarkan dari Jalan yang Salah, Meski Aku Bersikeras
Pernah aku ngotot ingin sesuatu—pekerjaan, hubungan, atau keputusan yang jauh dari nilai yang aku yakini. Tapi selalu ada saja penghalangnya. Dulu aku marah. Tapi sekarang aku paham: bisa jadi Allah sedang melindungiku dari kerusakan yang tak aku lihat.


5. Mudah Menangis Saat Mengingat-Nya
Yang paling sering terjadi adalah: ketika aku kembali ke jalan lurus, hatiku terasa ringan. Bahkan hanya mendengar ayat Al-Qur'an atau menyebut nama-Nya dalam doa, air mata bisa jatuh. Mungkin itu tanda hatiku masih hidup, dan Allah tak pernah benar-benar meninggalkanku.



Penutup: Jalan Lurus Itu Bukan yang Paling Mudah, Tapi Paling Dijaga


Aku percaya, tidak semua orang mendapat "teguran cepat" ketika melenceng. Kalau aku merasakannya, mungkin itu artinya aku termasuk orang yang dijaga. Dan dijaga itu berarti dicintai.


Mungkin inilah jalan hidupku: bukan yang selalu mulus, tapi selalu diarahkan. Dan aku bersyukur untuk setiap kali Allah menarikku kembali ke jalan yang lurus walaupun caranya kadang tidak nyaman. Karena di situlah, aku benar-benar merasa dekat dengan-Nya.



Sobat, semoga posting ini bermanfaat ya... sampai jumpa...

Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng

5/22/2025 11:56:00 AM 0 Comments

Halo Sobat, kita ngobrol ringan aja ya. Kali ini saya mau cerita tentang hal yang saya renungi karena memang kejadian di saya bahwa saya ini tipe orang yang langsung kena hukuman Allah kalau melenceng dari jalur. Ini merupakan renungan dari beberapa kejadian di masa lalu yang membuat saya menyimpulkan bahwa kita hidup itu harus lurus-lurus saja. Karena Allah punya berbagai cara untuk membawa kita kembali atau mengingaatkan kita ke jalannya. Tapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi semua orang ya. Jadi ini hanya berdasar kisah yang saya alami. Yuk simak...



Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng

Ada satu hal yang sering aku rasakan dalam hidup ini: aku seperti tipe orang yang langsung kena hukuman atau "teguran" dari Tuhan kalau sedikit saja berbelok dari jalan yang seharusnya.


Bukan karena aku suci atau lebih baik dari orang lain—justru sebaliknya. Aku ini manusia biasa, penuh khilaf dan keinginan yang kadang menyalahi nilai-nilai yang aku yakini sendiri. Tapi entah kenapa, setiap kali aku coba menyimpang, bahkan hanya setengah hati, seolah langsung ada sesuatu yang "menamparku" dengan keras.


Kadang tegurannya datang dalam bentuk kegagalan. Saat aku mulai melakukan sesuatu dengan niat yang salah—demi ego, demi pembuktian, atau karena iri—hasilnya selalu mengecewakan. Bukan cuma gagal, tapi juga membuatku malu pada diri sendiri.


Kadang tegurannya lebih halus: rasa gelisah yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada alarm dalam hati yang bunyinya makin keras kalau aku tetap memaksa berjalan ke arah yang keliru. Rasanya seperti ditarik pelan-pelan kembali ke jalur yang benar, walaupun penuh luka.


Yang paling menyakitkan? Saat orang-orang terdekat ikut terdampak. Aku pernah merasakan dampak dari kesalahanku sendiri menjalar ke mereka yang tidak bersalah. Dan di situ, rasa bersalahku jadi bentuk teguran yang paling menyesakkan.


Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal: teguran itu bukan bentuk murka, tapi bentuk cinta. Mungkin ini cara Tuhan menjaga aku tetap waras, tetap rendah hati, dan tetap dekat dengan-Nya. Mungkin aku tipe orang yang tidak bisa terlalu lama jauh dari cahaya, karena sekali menjauh, aku bisa tersesat terlalu jauh.


Dan meski terkadang aku iri pada orang lain yang tampaknya bisa hidup bebas, bisa berbuat seenaknya tanpa langsung kena "balasan", aku sadar… setiap jiwa punya cara dididik-Nya masing-masing. Mungkin ini bentuk kasih-Nya yang paling jujur untukku.


Jika kamu juga merasa seperti ini—bahwa setiap kesalahanmu cepat sekali "dibayar lunas"—mungkin kamu juga termasuk orang yang disayang. Disadarkan lebih awal agar tidak terjerumus lebih dalam.


Dan mungkin, itu bukan hukuman. Itu panggilan pulang.


Lanjut ke posting berikutnya...

Pembunuhan Karakter: Ketika Reputasi Dibunuh Tanpa Darah

5/22/2025 11:13:00 AM 0 Comments

Halo Sobat. Kali ini saya posting yang agak beda yaitu pembunuhan karakter. Sebenarnya ini karena saya tiba tiba teringat kejadian masa lalu. Lalu saya berpikir oh sepertinya ini pembunuhan karakter ya. Mungkin dari kita sering tidak menyadari bahwa kita menjadi pembunuh karakter. Oh seram...


Jadi ceritanya begini sobat. Saya pernah di ceng cengin teman saya A karena dia perhatikan ada yang perhatian ke saya B. Nah sepertinya teman saya ini cerita ke teman saya yang lain C. Jadilah C ini cerita ke saya kalau si B itu bla bla bla. Nah C ini teman dekat saya sobat jadi ya saya dengarkan apa kata dia. Jadilah saya menjauh dari B. Dan baru sekarang ini saya menyadari kalau apa yang dikatakan C itu pembunuhan karakter. Karena setahu saya ga ada yang salah dengan B dan nyatanya hingga sekarang dia juga ga ada bikin masalah. Begitulah ceritanya sobat. Jangan jangan kita sudah menjadi pembunuh karakter tanpa kita sadari. Nah yuk kita simak apa itu pembunuhan karakter.



Judul: Pembunuhan Karakter: Ketika Reputasi Dibunuh Tanpa Darah


Apa Itu Pembunuhan Karakter?
Istilah "pembunuhan karakter" (character assassination) mungkin terdengar dramatis, namun kenyataannya memang sekelam itu. Ini adalah tindakan sistematis untuk merusak reputasi seseorang melalui fitnah, insinuasi, atau manipulasi informasi. Tidak ada senjata, tidak ada darah, tapi kerusakannya bisa permanen—meninggalkan luka sosial, psikologis, bahkan karier yang hancur.


Motif di Baliknya
Pembunuhan karakter biasanya dilakukan karena iri, dendam, ambisi politik, atau sekadar kepuasan pribadi dalam melihat orang lain jatuh. Dalam dunia kerja, persaingan tidak sehat bisa melahirkan rumor yang meracuni lingkungan. Dalam politik, ini menjadi senjata utama untuk menjatuhkan lawan. Bahkan di dunia maya, satu komentar bernada tuduhan bisa menyulut badai cancel culture.


Cara Kerja yang Licik dan Halus
Pembunuhan karakter tidak selalu frontal. Justru sering kali tersembunyi dalam bisik-bisik, unggahan samar di media sosial, atau tuduhan tanpa bukti yang dibuat seolah-olah netral. Semakin sering diulang, semakin "benar" informasi itu terdengar di telinga publik. Ini yang membuatnya berbahaya: opini bisa dibentuk tanpa fakta.


Dampak bagi Korban
Dampaknya bisa menghancurkan. Korban bisa kehilangan pekerjaan, dukungan sosial, kepercayaan diri, bahkan tujuan hidup. Banyak yang mengalami tekanan mental serius akibat stigma yang ditempelkan tanpa kesempatan membela diri. Dalam kasus ekstrem, ini bisa berujung pada depresi, isolasi, bahkan bunuh diri.


Menghadapinya: Bukan dengan Serangan Balik, Tapi dengan Keteguhan Diri
Menghadapi pembunuhan karakter bukan perkara mudah. Membalas hanya akan memperpanjang drama. Yang dibutuhkan adalah ketenangan, klarifikasi yang tegas jika perlu, dan bukti integritas yang konsisten. Waktu dan kebenaran sering kali menjadi pembela paling ampuh.


Penutup: Jangan Ikut Menjadi Algojo Diam-Diam
Kita semua punya potensi menjadi bagian dari pembunuhan karakter—melalui like, share, atau komentar sinis terhadap sesuatu yang belum tentu benar. Sebelum menghakimi seseorang, tanyakan dulu: apakah aku benar-benar tahu ceritanya, atau hanya ikut arus?



Jadi gimana sobat? Apa kamu termasuk pembunuh karakter? Lanjut ke posting berikutnya...


Monday, May 19, 2025

Ketika Lagu Tetangga Ikut Ujian: Kenapa Otakku Malah Putar Lagu Saat Harus Fokus?

5/19/2025 08:57:00 PM 0 Comments

Berikut lanjutan cerita tentang gaya belajarku.



Ketika Lagu Tetangga Ikut Ujian: Kenapa Otakku Malah Putar Lagu Saat Harus Fokus?

Pernahkah kamu serius mengerjakan ujian, tapi tiba-tiba lagu yang sering diputar tetangga malah berkumandang di kepalamu? Liriknya berputar-putar, bahkan mengalahkan suara pikiranmu sendiri. Padahal kamu sedang berusaha mati-matian mengingat rumus atau konsep penting yang sudah kamu hafalkan semalam suntuk.


Aku pun pernah—bahkan sering—mengalaminya.


Lucunya, saat belajar aku merasa fokus, tapi begitu ujian dimulai…
“Ku ingin marah, melampiaskan… tapi ku hanyalah sendiri di sini….”
Apa-apaan ini? Lagu galau malah nyangkut di kepala. Rasanya konyol, menyebalkan, dan mengganggu. Tapi ternyata, kejadian itu bukan karena aku kurang serius belajar atau terlalu baper. Fenomena ini ternyata punya nama ilmiah, dan alasannya… masuk akal juga!


Earworm: Lagu yang “Nyangkut” di Otak

Fenomena ini disebut earworm atau secara ilmiah: Involuntary Musical Imagery (INMI). Artinya, ada potongan musik yang secara tidak sadar terulang di benak kita, tanpa kita minta atau sadari sebelumnya. Ini bukan hal aneh. Penelitian menyebutkan 90% orang mengalaminya secara berkala.


Tapi kenapa justru munculnya saat ujian?


3 Alasan Lagu Tetangga Tiba-tiba Muncul Saat Ujian

1. Lagu Itu Tertanam Saat Kamu Belajar

Saat kamu membaca buku di rumah dan tetangga memutar lagu keras-keras, otakmu tidak hanya menyimpan isi bacaan—tapi juga suasana sekitar. Ini disebut context-dependent memory.


Jadi, ketika kamu mencoba membuka kembali ingatan soal pelajaran saat ujian, otakmu malah juga “mengeluarkan” suara-suara latar dari saat kamu belajar—termasuk lagu tetangga.


2. Kondisi Hening Bikin Otak Mencari Pengisi

Ruang ujian biasanya tenang, sunyi, dan penuh tekanan. Otakmu yang terbiasa belajar dengan suara latar jadi merasa “sepi” dan tidak nyaman. Maka secara otomatis, ia akan mengisi kekosongan itu… dengan suara yang paling familiar dan berulang: lagu yang kamu dengar berkali-kali saat belajar.


3. Lagu yang Repetitif Mudah Menempel

Lagu pop, dangdut, atau lagu TikTok biasanya punya pola lirik dan melodi yang repetitif. Itu membuat mereka mudah menempel di memori jangka pendek, bahkan bisa “ngendon” selama berhari-hari jika kamu terus-menerus mendengarnya.


Apakah Ini Tanda Aku Tipe Auditori?

Lucunya, tidak juga. Aku justru cenderung visual-kinestetik: lebih paham saat membaca atau mencoret-coret, bukan mendengar. Tapi fenomena ini tetap terjadi karena otak manusia selalu menyerap konteks penuh saat belajar, bukan hanya isi bukunya.


Apa yang Bisa Kulakukan?

Setelah mengalami ini berulang kali, aku mulai mencari cara agar lagu-lagu itu tidak “ikut” masuk ke ruang ujian. Beberapa hal yang cukup membantu:

  • Ganti latar suara saat belajar.
    Gunakan white noise atau musik instrumental agar otak tetap aktif tanpa membentuk earworm baru.

  • Belajar di waktu lebih tenang.
    Pilih waktu ketika rumah atau lingkungan lebih sepi. Pagi hari biasanya lebih aman dari gangguan lagu tetangga.

  • Bergerak saat lagu muncul di kepala.
    Saat ujian dan lagu mulai terdengar di kepala, aku coba gerakkan jari, mencoret kertas, atau menulis ulang soal. Gerakan kecil bisa membantu otak “beralih jalur.”

  • Terima kehadiran lagu tanpa panik.
    Anehnya, semakin kamu menolak lagu itu, semakin kuat ia terputar. Jadi, aku belajar mengakui, “Oke lagu ini muncul, tapi sekarang aku fokus ke soal nomor 7.” Lama-lama, lagu itu memudar sendiri.


Kesimpulan: Lagu di Kepala Itu Bukan Gangguan Mental

Kalau kamu juga sering mengalami ini, jangan khawatir. Kamu tidak aneh atau gagal fokus. Otakmu hanya sangat peka terhadap suasana belajar—dan itu hal baik, kalau kamu bisa mengendalikannya.


Bahkan dari hal sepele seperti lagu tetangga, aku belajar satu hal penting: mengenali bagaimana cara otakku bekerja adalah kunci agar aku bisa belajar lebih efektif.



Kalau kamu punya cerita serupa, aku ingin mendengarnya. Karena mungkin, kita tidak sendirian mendengar lagu yang sama… saat ujian yang berbeda.


Sampai jumpa...


Ada harapan baru di setiap cahaya lembut yang menyentuh pagi.

Ini Gaya Belajarku: Kenapa Aku Lebih Mudah Tertidur Saat Mendengarkan?

5/19/2025 08:04:00 PM 0 Comments

Sobat, pernahkah kamu merasa mengantuk luar biasa saat mendengarkan ceramah, kuliah umum, atau audio listening? Bahkan saat topiknya penting dan kamu sudah niat mendengarkan, matamu tetap berat dan pikiran melayang entah ke mana. Kalau kamu sering mengalami ini, bisa jadi kamu seperti aku—bukan tipe pembelajar auditori.




Aku dan Gaya Belajarku: Visual-Kinestetik

Setelah sekian lama bertanya-tanya kenapa aku mudah tertidur saat dosen berbicara atau saat mendengarkan audio, aku akhirnya sadar:
aku adalah pembelajar visual-kinestetik.


Apa artinya?

  1. Visual: Aku lebih mudah mengingat informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan, gambar, atau grafik. Bahkan, aku sering mengingat bahwa jawaban ujian ada di “halaman kiri atas buku,” bukan karena aku hafal isinya, tapi karena aku ingat visualnya.

  2. Kinestetik: Tanganku harus bergerak untuk membuat pikiranku hidup. Entah itu mencoret, menulis ulang, membuat sketsa, atau sekadar memainkan pulpen. Tanpa gerakan, aku seperti ‘dimatikan’.


Tak heran, aku lebih nyaman belajar pakai buku fisik—yang bisa kusobek halamannya, kutandai, atau kuselipkan sticky notes. Layar HP atau laptop terlalu datar dan statis bagiku. Aku bisa baca buku berjam-jam, tapi langsung menguap hanya lima menit setelah memutar audio listening TOEFL.


Ceramah = Tidur? Ternyata Ada Alasannya

Aku dulu merasa bersalah saat mengantuk di kelas atau saat mengikuti webinar. Tapi sekarang aku tahu: bukan salahku, hanya gaya belajarku berbeda.


Saat mendengarkan saja:

  • Otakku tidak mendapatkan stimulasi visual atau gerakan.
  • Lingkungan tenang dan suara monoton memicu otak untuk rileks (alias tidur!).
  • Informasi masuk terlalu lambat tanpa bisa kuintervensi secara aktif.


Ternyata, ini semua bisa dijelaskan secara ilmiah oleh konsep gaya belajar (learning styles), dan bukan berarti aku tidak cerdas atau malas.


Pantas saja dulu ketika kuliah aku sering banget ngantuk. Dan aku struggle untuk bisa melek. Aku sampai minta dicubitin punggung tanganku oleh teman sebelahku. Tak jarang juga kami gantian. Tapi kalau temanku itu aku tidak tahu apakah dia pembelajar dengan gaya yang sama sepertiku atau karena kurang tidur saja alias tidur kemalaman. Pokoknya zaman dulu itu aku sampai malu sendiri karena sering ngantuk.


Fenomena lain yang kutemui dan membuatku bertanya tanya adalah ketika aku dengar ceramah misal ikut acara kuliah umum atau kegiatan lain yang kita hanya duduk diam mendengarkan selama beberapa jam. Aku ngantuk. Termasuk di pekerjaan kadang kalau rapat dan aku tidak sambil ketik ketik maka aku ngantuk. Hehe.


Memang aku harus terlibat kegiatan yang aktif yang otakku itu digunakan seperti ketik ketik. Soalnya kalau cuma mendengar seringkali langsung menguap informasi yang diperoleh di otak seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ga nempel.


Dan aku sadar betul kalau aku ini pengingat letak. Jadi kalau belajar dan kemudian ujian aku akan ingat oh ini di halaman sekian bagian atas kanan dan sebagainya. Ternyata itu karena aku tipe visual. Baiklah.


Tapi yang agak lucu itu adalah misal aku sering dengar tetangga putar musik. Begitu ujian eh lah kok lagu itu terputar putar di otakku saat ujian padahal aku lagi mau fokus mengingat ingat jawaban. Lalu ini kenapa ya? Nyebelin sih tapi ya mau gimana coba? Penasaran? Yuk baca di posting berikutnya ya.


Strategi Belajar Versi Diriku Sendiri

Setelah memahami diriku lebih dalam, aku mulai menciptakan sistem belajar yang ramah gaya belajarku:

  • Saat mendengarkan audio: aku sambil menulis ulang, mencoret transkrip, atau membuat catatan visual.
  • Saat menghadiri ceramah/webinar: aku tidak duduk diam. Aku mencatat poin penting, membuat peta konsep, atau sekadar menggambar untuk tetap fokus.
  • Saat belajar materi berat: aku lebih memilih cetak dokumen atau belajar langsung dari buku fisik.


Ternyata, perubahan kecil seperti ini membuat perbedaan besar. Aku tak lagi merasa bersalah saat tidak bisa fokus hanya dengan mendengarkan. Sekarang aku tahu, belajar efektif itu bukan soal mengikuti cara orang lain, tapi mengenali caramu sendiri.


Setiap orang punya caranya sendiri sendiri. Tidak ada benar atau salah. Kenali dirimu dan temukan cara terbaikmu untuk belajar. Kamu tak perlu mengikuti orang lain. Karena kamu yang paling tahu dirimu.


Kenali Dirimu, Rancang Strategimu

Setiap orang punya preferensi belajar yang unik. Jangan ragu untuk bereksperimen dan menemukan apa yang paling cocok untukmu. Jika kamu mudah tertidur saat mendengarkan, mungkin kamu juga visual-kinestetik sepertiku. Dan itu bukan kekurangan—itu hanya sinyal bahwa kamu perlu belajar dengan cara yang membuat otakmu hidup.


Bagaimana denganmu?
Apakah kamu juga lebih mudah belajar lewat tulisan dan gerakan? Yuk, refleksikan gaya belajarmu sendiri dan mulai merancang strategi yang sesuai!



Hembusan angin pagi menyentuh hati yang siap menerima kedamaian.

Tuesday, April 1, 2025

Nyaman dan Tenangnya Pulang Kampung: Antara Ingin Tinggal dan Kewajiban Merantau

4/01/2025 12:00:00 PM 0 Comments


Ada sesuatu yang begitu menenangkan saat kaki menginjak halaman rumah di kampung. Udara terasa lebih segar, waktu berjalan lebih lambat, dan segala beban seolah menguap begitu saja. Rumah di kampung bukan sekadar tempat kembali, tetapi ruang di mana hati merasa damai tanpa syarat.


Setiap sudut rumah mengandung kenangan. Suara ibu di dapur, aroma kopi yang diseduh ayah, lantai dingin yang dulu sering dipijak saat kecil—semua terasa akrab dan menghangatkan hati. Di kampung, tidak ada kemacetan yang melelahkan, tidak ada ritme kota yang terburu-buru. Hanya ada ketenangan yang sulit ditemukan di perantauan.


Namun, di balik kenyamanan itu, ada kenyataan yang harus diterima. Hidup tak selalu memberi pilihan sesuai keinginan. Meski hati ingin tinggal, ada tanggung jawab yang harus dijalani di tempat lain. Ada mimpi yang telah dirajut di perantauan, pekerjaan yang menanti, dan kewajiban yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.


Rasanya ingin sekali menyerah pada kelelahan, membiarkan diri tetap berada di rumah, menikmati kesederhanaan dan kebersamaan keluarga. 

Tapi apa daya, ada perjalanan yang masih harus ditempuh. Ada janji pada diri sendiri yang belum selesai.

Kembali ke perantauan selalu terasa berat. Begitu kaki melangkah keluar rumah, ada kesedihan yang sulit dijelaskan. Seakan meninggalkan bagian dari diri sendiri yang hanya bisa ditemukan di kampung halaman. 

Namun, bukankah pulang tidak akan seistimewa ini jika tidak ada perpisahan?

Mungkin suatu hari nanti, akan tiba saatnya tak perlu lagi merantau. Bisa tinggal di tempat yang paling menenangkan, bersama orang-orang yang paling dicintai. Hingga saat itu tiba, harus terus melangkah, mengumpulkan alasan agar suatu hari nanti bisa benar-benar menetap dan tak perlu lagi pergi.


Namun, yang paling menyakitkan dari setiap perpisahan adalah melihat punggung orang tua yang perlahan menghilang dari pandangan saat kendaraan mulai melaju. Mereka selalu tersenyum dan melambaikan tangan, seolah ingin berkata, hati-hati di jalan, Nak. Tapi jauh di lubuk hati, aku tahu ada kesedihan yang mereka sembunyikan. Mereka ingin anak-anaknya sukses, tetapi juga ingin mereka tetap di rumah.


Setiap kali kembali ke perantauan, ada rasa hampa yang mengendap. Tidak peduli seberapa nyaman tempat tinggal di kota, tetap saja rasanya tak sama. Suara riuh keluarga saat makan bersama, udara segar tanpa polusi, dan kebersahajaan hidup di kampung menjadi sesuatu yang kurindukan setiap hari. Di kota, segalanya berjalan cepat. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan aku sering merasa seperti hanyut dalam arus kehidupan yang tak bisa kuhentikan.


Sering kali aku bertanya pada diri sendiri, apakah semua perjuangan ini sepadan? Apakah uang yang dikumpulkan, pekerjaan yang dikejar, dan mimpi yang dikejar dengan penuh tenaga bisa menggantikan hangatnya rumah? Kadang aku merasa seperti burung yang terus terbang jauh, tetapi di setiap akhir perjalanan, tetap ingin kembali ke sarangnya.

Namun, mungkin ini hanyalah fase. Mungkin saat ini aku masih berada dalam perjalanan yang belum selesai. 


Suatu hari nanti, aku ingin menetap. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang-orang yang benar-benar berarti, bukan hanya berkutat dengan tuntutan pekerjaan dan jadwal yang padat.


Untuk sekarang, aku hanya bisa menyimpan rindu ini. Aku tahu, rumah akan selalu ada. Orang-orang yang kucintai akan selalu menunggu. Setiap langkah yang kuambil di perantauan, meski berat, selalu ada tempat untuk kembali.




Tuesday, March 18, 2025

Malas Gerak: Antara Rebahan dan Produktivitas

3/18/2025 09:06:00 AM 0 Comments

Hello Sobat! Tidak terasa, kita sudah kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan di tahun 2025 ini. Alhamdulillah, kita masih diberikan umur dan kesehatan untuk melaksanakan puasa, semoga semua ibadah kita lancar sampai hari raya Idul Fitri, ya.

Libur beberapa hari di awal ramadhan lalu, dan saya yakin sebagian dari kalian juga seperti saya—jadi kaum rebahan. Jujur, saya punya keinginan untuk pulang kampung, tapi rasanya tanggung. Nanti baru pulang sebentar eh sudah pulang lagi idul fitri. Membayangkan perjalanan jauh di tengah puasa itu... kok terasa berat ya?


Akhirnya, libur saya habiskan dengan aktivitas yang sudah jadi "default" saya di masa-masa malas: rebahan, main game, nonton YouTube dan Netflix. Sungguh, nikmat rebahan itu kadang tidak ada tandingannya. Apalagi ketika game leveling up dan episode drama yang saya tonton bertambah. Tapi, saya juga sadar, semua itu tak meninggalkan "jejak" apa-apa selain rasa puas sesaat.

Produktif atau Sekadar Menikmati Waktu?

Saya sempat berpikir, kenapa sih kita sering merasa malas gerak? Apalagi di bulan Ramadhan. Badan berat, pikiran mager, dan rasanya lebih nyaman memeluk bantal ketimbang bangkit dan melakukan sesuatu yang lebih "bernilai".


Tapi tetap saja, meski "rebahan", saya masih menyempatkan diri untuk menjalani rutinitas wajib seperti masak dan cuci baju. Hal-hal sederhana yang meski tidak menghasilkan uang, tapi setidaknya ada hasil kasat mata—baju bersih, perut kenyang, rumah yang lumayan rapi. Saya menyebut ini sebagai produktif versi minimalis.


Yang agak berbeda adalah saat saya kembali menulis blog ini. Meskipun tulisan ini hanya berdiam di dunia maya, tidak nyata seperti baju yang bersih atau dapur yang harum karena masakan, tapi tetap saja ada kepuasan tersendiri. Menulis ini membuat saya merasa "bergerak", meski hanya jari-jari di atas keyboard.

Mengapa Kita Sering Malas Gerak?

Fenomena malas gerak ini memang menarik untuk direnungkan. Ada saatnya kita punya rencana besar di kepala. Misalnya, "Jam 3 sore nanti saya ke pasar, belanja buat buka puasa." Tapi saat waktu itu datang, tubuh malah menolak. Rasanya kasur seperti menyedot kita lebih kuat daripada gravitasi bumi.


Padahal, kita tahu jika kita bergerak dan ke pasar, hasilnya jelas—stok makanan untuk beberapa hari ke depan. Tapi ketika rasa malas itu menguasai, kita akhirnya memilih pasrah dengan apa yang ada di dapur.


Mungkin ini soal energi yang menurun saat puasa. Mungkin juga karena gaya hidup digital kita yang membuat rebahan dan scrolling terasa lebih menggoda dibanding harus keluar rumah di bawah terik matahari. Tapi bisa jadi, ini juga sinyal tubuh dan pikiran kita yang lelah dan butuh jeda.

Refleksi di Balik Rebahan

Terkadang, saya merasa bersalah karena terlalu memanjakan diri dalam zona nyaman ini. Tapi di sisi lain, saya juga belajar untuk menerima bahwa kita manusia memang tidak harus selalu produktif 24 jam. Ada masanya untuk slow down, mengisi ulang energi, dan menyadari bahwa rebahan pun, asal tidak berlebihan, bisa menjadi bagian dari self-care.


Namun, jangan sampai malas gerak ini menjadi kebiasaan yang merugikan. Karena kalau semua hanya ditunda, semua hanya dinikmati dalam angan, kita bisa kehilangan banyak peluang dan pengalaman baru di luar sana.

Bagaimana dengan Kamu, Sobat?

Apa kamu juga merasa lebih sering malas gerak di Ramadhan ini? Atau justru punya trik agar tetap semangat bergerak dan produktif meskipun sedang berpuasa?

Thursday, March 13, 2025

Kisah Low Back Pain dan Ischialgia

3/13/2025 06:45:00 AM 0 Comments
Lama tak bersua ya sobat. Lama sekali ternyata saya tidak posting apapun di blog ini. Walau lama vakum, blog ini masih tetap hidup. Masih ada saja yang mengakses setiap hari. Saya harus mulai kembali mengurus blog ini. Untuk posting pertama di tahun 2025 ini adalah tulisan lama saya yang mengendap di draf. Saya putuskan untuk memposting hari ini, siapa tahu ada membawa manfaat untuk siapapun yang membaca tulisan ini. Selamat membaca!





24 Oktober 2024

Halo sobat lama tidak berjumpa. Apa kabar kalian semua? Semoga semuanya sehat dan bahagia ya. Kali ini saya mau cerita keabsenan saya selama ini. Selain karena memang terhanyut dalam kehidupan nyata sehari-hari, saya sempat mengalami sakit dalam 2 bulan ini yaitu low back pain dan ischialgia. Wah apaan itu ya. 

Hari ini saya punya semangat untuk menulis. Saya akan ceritakan kronologisnya. Semoga bisa bermanfaat untuk kalian semua. 

Awal puasa lalu (12 Maret 2024) saya merasakan ngilu di panggul kiri (tepatnya bokong -- saya sebut panggul saja ya sobat biar lebih nyaman). Ketika duduk di bawah kaki serba salah karena rasanya sampai betis seperti ada yang salah. Seperti ketarik-tarik. Posisi apapun salah. Awalnya cuma seperti keseleo saya pikir. Saya masih bisa berjalan normal, sholat normal sehingga saya pun pergi kerja seperti biasa berjalan kaki. Anehnya lebih enak jalan daripada diam tiduran. Karena ketika tiduran mau bangun susah. Bangun harus miring ke kanan. 

Lama-lama kok saya merasa ada yang salah ini. Bukannya sembuh dengan sendirinya eh malah jadi susah jalan. Saya jalan ke kamar mandi saja pelan-pelan. Tapi masih bisa sholat berdiri. Berhubung itu masih hari libur jadi masih aman saya tidak ke mana-mana beberapa hari. Yang menyedihkan adalah saya harus mulai masuk kerja lagi. Haduh, bagaimaana ini saya sulit berjalan. Bagaimana caranya mau ke kantor. Akhirnya saya keluar jalan kaki pelan-pelan sekali sampai jalan raya naik bajaj. Sampai di kantor saya jalan lagi pelan-pelan menuju gedung tempat ruangan saya berada. Saya naik tangga pelan-pelan sambil pegangan pada besi di pinggir tangga. Security melihat saya mungkin aneh tapi ya sudahlah biarkan saja. Akhirnya pun saya sampai di ruangan. Saya masih bisa kerja biasa sampai akhirnya jam 12 siang saya harus sholat zuhur dan saya merasa kesulitan berdiri dari kursi saya. Sakit. Lalu saya dibantu teman saya ke musholla. Padahal mushollanya paling dekat dengan kursi saya. Saya pun jalan pelan-pelan sambil pegangan tembok dibantu teman saya. Akhirnya saya sholat sambil duduk di kursi.

Berasa disable

Setelah sholat saya dibawa ke klinik kantor. Ini pertama kalinya saya naik kursi roda. Berasa seperti disable. Astaghfirullahaladzdim. Di sana saya diberi obat dan surat keterangan sakit. Lalu saya diantar pulang. Keadaan saya semakin parah. Semakin sulit berjalan. Saya dibantu teman saya sampai kosan. Sampai di kos saya disuruh istirahat di tempat ibu kos. Berhubung saya puasa dan tidak ingin membatalkan puasa, jadi saya tiduran saja sambil menunggu magrib.

Setelah buka puasa saya minum obat dan sekitar jam 11 malam kakak saya datang menjemput saya. Mungkin karena efek obat saya bisa berjalan ketika kakak saya datang. Tapi kemudian saya melemah lagi. Efek obat tidak lama. Tapi setidaknya lumayan. Saya jadi bisa berjalan ke kamar mandi. 

Saya pun pamit pergi ke tempat kakak saya. Saya istirahat selama 5 hari dari rabu hingga minggu di rumah kakak saya. Saya minum obat dan hanya istirahat selama di sana. Perlahan-lahan saya mulai membaik. Saya bisa berjalan sendiri. Dan hari minggu saya pulang ke Jakarta lagi karena senin harus masuk kerja lagi. Akhirnya saya kerja selama 3 hari senin sampai rabu dan WFA dari kamis hingga jumat. Sabtu saya mudik ke kampung. 

Saya mudik naik damri karena sudah lama pesan tiket dari sebelum puasa. Tadinya saya berpikir untuk tidak pulang jika kondisi tubuh tidak memungkinkan. Tapi akhirnya saya pulang walau harus menahan sakit selama di jalan. Saya berpikir damri masih lebih lumayan ketimbang naik pesawat. Naik pesawat tidak enaknya karena harus jalan kaki jauh di bandara sementara saya tidak sanggup jalan kaki jauh. Jika naik damri permasalahannya adalah harus naik turun tangga di kapal feri. Dan saya pun menderita karena naik turun tangga. Sementara saya membawa tas berat berisi laptop. Saya merasakan sakit di tulang ekor.

Selama di rumah, saya hanya mengoles-oleskan salep dari dokter klinik kantor yang masih tersisa. Kemudian setelah lebaran begitu klinik spesialis sudah mulai buka, saya berobat ke spesialis saraf. Di sana diketahui saya menderita ischialgia yaitu sakit pada panggul yang menjalar hingga betis. Saya ditanya apakah saya ada riwayat jatuh. Saya bilang ada 2020 tapi jatuhnya ke kanan. Ini saya sakitnya di kiri. Lalu saya ditanya apakah ada kesemutan atau sakit di bagian perut. Saya bilang tidak. Lalu saya diberi obat dan vitamin. Saya pulang. Beberapa hari minum obat, saya mulai pelan-pelan membaik. Tapi tentu belum sembuh total. Obat belum habis, saya sudah harus ke Jakarta lagi. 

Saya pun berhasil ke Jakarta dengan naik pesawat. Hanya saja karena jalannya jauh di bandara tentu saya masih belum begitu kuat. Apalagi saya menggendong tas berat berisi laptop dan pernak-perniknya. Di kosan saya merasa sakit lagi. Merasa tidak tahan, akhirnya saya mencari dokter spesialis saraf lagi. Setelah mencari beberapa dokter yang dekat domisilinya dengan tempat tinggal saya, akhirnya saya putuskan ke dokter Indrajana Soediono di daerah Batu Ceper, Gambir. Beliau buka praktek di rumahnya. Waktu itu saya sempat berdoa semoga dokternya ada. Alhamdulillah dokternya ada. Ternyata beliau sudah sangat sepuh. Beliau masih bekerja di RS Medistra dan buka praktek di rumah saat pagi saja.

Saya ditanya keluhan saya apa. Lutut saya dicek masih bagus kata beliau. Saya diberitahu cara bangun tidur harus miring kanan dahulu agar tidak sakit. Saya diberi resep obat dan rujukan rontgen. Obat diberi untuk 10 hari tapi saya tebus untuk 5 hari dahulu. Nah, saya pun kemudian rontgen di lab Gunung Sahari. Syukurnya tidak perlu buka-buka baju karena sudah canggih. Karena saya rontgen saat hari sabtu, sehingga hasilnya keluar pada hari senin. Setelah hasil keluar saya kembali ke dokter Indrajana dan dari hasil rontgen beliau menyarankan untuk fisioterapi dan renang. Berhubung saya tidak bisa renang maka disarankan untuk jalan kaki saja di dalam air setinggi dada. 

Tadinya saya pikir tempat terapinya ada di tempat lain tapi ternyata ada di samping belakang rumah dokter Indrajana. Bersyukur karena tidak perlu jauh-jauh. Saya disarankan 3-5 kali terapi. Saya pun kemudian mulai terapi. 5 kali terapi saya masih belum sembuh. Progres saya sangat lambat. Mungkin karena saya juga belum pernah terapi air di kolam renang saya pikir sehingga lambat progresnya. Kalau di bagian tulang ekor memang lebih cepat sembuhnya, 3x terapi sudah terasa hasilnya. Tapi di bagian panggul yang membandel. Akhirnya saya terus-menerus terapi. Awal-awal saya ambil 2x seminggu terapi. setelah 10x terapi saya merasa sudah ada progres dan lumayan enak buat jalan kaki lagi, dosis terapi diturunkan menjadi 1x seminggu. Saat itu memang saya juga sudah  mulai mencoba terapi air 2x seminggu. Kemudian saya lanjut fisioterapi 1x seminggu dan terapi air 1x seminggu. 

Saat terapi air di kolam renang ternyata banyak juga ibu-ibu yang terapi, mayoritas nenek-nenek ya. Saya pun diajari cara gerak seperti apa saja. Mereka baik-baik. Ada pula kakek-kakek yang bertanya dalam rangka apa saya ke kolam renang. Saya bilang terapi. Beliau bilang masih muda kok bisa kena saraf kejepit apa pernah jatuh. Karena memang rata-rata yang kena dan terapi di sana sudah tua-tua. Ya allah berasa sedih. Saya juga tidak pernah menyangka bakal sakit seperti ini. Sejujurnya mental saya sangat down terkena penyakit ini. Tapi saya semangati diri saya untuk bisa sembuh. Karena entah kenapa setiap ketemu orang dan mengobrol saraf kejepit, ceritanya selalu saja bilang tidak sembuh. Padahal sudah fisioterapi. Ada yang sudah setahun lebih kena saraf kejepit sudah 36x fisioterapi akhirnya berhenti dan rutin terapi air saja tapi masih minum obat. Terapis saya juga bilang biasanya tidak bisa sembuh 100%, mungkin sekitar 70%, rasa sakitnya bisa sembuh tapi ada kemungkinan mengulang dan masih harus terus terapi.

Saya pernah bertanya dokter Indrajana apakah saya bisa sembuh. Beliau bilang harus sembuh. Saya pun cukup lega mendengarnya. Teman saya seorang dokter juga bilang bisa sembuh karena kondisi tubuh seseorang berbeda-beda. Saya pikir benar juga ya kita tidak ada yang tahu, apa yang tidak berlaku untuk orang lain mungkin saja berlaku untuk kita dan sebaliknya. Jadi saya tanamkan pikiran positif saja dan terus berikhtiar untuk bisa sembuh. Walaupun dalam perjalanannya ini sangat lambat progres saya tapi progresnya ada. Sudah 4 bulan saya sakit ini dan saya merasa aktivitas saya jadi terganggu tapi saya tetap beraktivitas seperti biasa. Sekarang menjadi terbatas sekali aktivitas saya yang membutuhkan gerak. Saya tidak pergi jauh-jauh dahulu. 

Terkadang memang saya melo. Saat lagi sendirian dan merenung. Apa iya akan seumur hidup saya sakit seperti ini. Karena memang ketika satu bagian tubuh sakit maka semua merasakan sakit sehingga mental kita menjadi jatuh. Ya Allah semoga saya diberi kesembuhan. 

6 Oktober 2024 08.30 pm

Jalan setengah tahun mengidap sciatica


Sekitar pertengahan september 2024 saya mulai mencoba gerakan peregangan atau stretching untuk penderita sciatica di youtube.  Ketemulah satu channel yang menurut saya cocok untuk diikuti. Kemudian saya melihat deretan channel-channel di bawahnya yang juga menampilkan bahasan tentang sciatica. Lalu saya tertarik pada 1 channel yaitu Pak BennyW Tan. Di sana saya lihat Pak Benny membahas banyak tentang kesehatan da tips-tips gerakan untuk penderita sciatica. Karena beliau pernah menderita sciatica selama 2 tahun dan sembuh, saya pun mulai merasa ada secercah cahaya "Wah ternyata bisa sembuh" batin saya. Beliau bilang 90an persen. Angka yang jauh lebih tinggi ketimbang yang diucapkan oleh terapis saya. terapis saya mengatakan sekitar 70%. Coba bayangkan? Betapa ciutnya hati saya mendengar hal itu. Dan memang ketika merasa sakit pasti ada perasaan desperate di hati saya. Namun ketika merasa enakan, saya pun termotivasi dan yakin bisa sembuh. Saya baca komen-komen di video-videonya ternyata banyak yang cocok dan sembuh. Saya jadi semakin termotivasi. Walau sebenarnya saya tidak tahu seberapa tingkat keparahan mereka yang komen itu. Karena kondisi tubuh kan berbeda-beda. Tentunya efek treatment juga tidak sama.

Gerakan yang rutin saya lakukan tiap hari adalah ATT (ajaib tempel tembok) 3 menit sekali melakukan gerakan dan sehari bisa 2 sampai 4 kali. Untuk gerakan lain saya kombinasikan dari youtuber lain. Favorit saya adalah Dr. Rowe. Beliau memberi banyak tips gerakan yang bisa dicoba. Beberapa yang saya ikuti ada yang memberikan efek instant relief. Memang ada efeknya untuk mengurangi nyeri. Tapi memang butuh waktu untuk hasil yang lebih besar. Jalan 3 minggu pelan-pelan ada kemajuan. Ketika tidur telentang di bagian betis sudah tidak merasa seperti ketarik-tarik. Lebih enakan buat jalan kaki.   

Tak terasa sudah setengah tahun lamanya saya hidup dengan sciatica. Dan tiada hari tanpa merasa sakit. Sakit yang saya rasakan sangat bervariasi. Bisa berubah-ubah setiap hari. Ada rasa nyeri, ngilu, pegal, dan rasa-rasa yang tak bisa saya deskripsikan, entah apa namanya. Siapa pun yang membaca tulisan ini semoga tidak merasakan sakit yang saya rasakan karena sangat menyiksa.

Di setengah tahun perjalanan saya bersama sciatica saya mulai rutin melakukan gerakan peregangan setiap hari dan bersyukur sejak saat itu saya berhenti minum obat pereda nyeri. Obat terakhir yang saya minum memberi efek mengantuk dan juga seperti melayang rasanya sangat tidak nyaman seperti antara nyata dan tidak. Apalagi saya sambil bekerja. 

Bersambung ke posting selanjutnya ya...

  












    

Wednesday, September 7, 2022

Cara Menaikkan Hemoglobin (Hb) Agar Bisa Donor Darah

9/07/2022 10:27:00 AM 0 Comments
Halo Sobat, lama tak bersua. Kali ini saya mau cerita tentang donor darah terlebih dahulu. Pada hari ini saya mencoba ikut donor darah di kantor. Awalnya sempat ragu tapi saya yakinkan diri mencoba daftar saja di hari sebelumnya. Pertamanya suhu badan dicek dulu. Suhu badan saya 36,5. Sebelum mengambil formulir saya ditanya "kanan atau kiri". Maksudnya saya biasa diambil darahnya di tangan kanan atau kiri. Saya sih bebas ya karena pembuluh darah saya jauh dan kecil sulit dicari, sepintar-pintar petugasnya saja bisa nemu di kanan atau kiri tak masalah buat saya. 

Saya lanjut mengisi formulir. Setelah mengisi formulir saya dipanggil petugas untuk cek Hb. Ternyata Hb saya bagus kata petugasnya yaitu 12.8. Setelah itu baru cek tensi. Tensi saya juga sangat bagus yaitu 120/80. 

Saya pun lanjut untuk diambil darahnya. Kata petugasnya pembuluh darah saya jauh dan juga kecil. Saya jadi teringat pernah tes darah tapi petugasnya tidak nemu-nemu pembuluh darah saya sampai ditusuk berkali-kali tangan kanan kiri bahkan di punggung tangan kanan kiri.

Tapi petugas donor darahnya kali ini lihai loh tak perlu tusuk sana sini bisa dapat. Kali ini di tangan kanan saya. Saya disuruh kepal-kepal bola biar lancar sama seperti pertama donor juga begitu. Karena pembuluh darah saya kecil jadi lama proses darah mengalir. Teman di sebelah saya sudah selesai, saya belum padahal tadi saya duluan. 

Wow! Senang rasanya kali ini berhasil. Sebelumnya saya pernah mencoba ikut donor tapi gagal. Pertama gagal karena tensi rendah padahal Hb bagus. Yang selanjutnya gagal lagi karena Hb tidak cukup. Sedih... ya sedih kok gagal melulu sih...

Akhirnya saya bertekad harus bisa menaikkan Hb dan tensi harus bagus karena saya sering tensi rendah sih memang. Tapi saya ingin bisa donor selama saya masih hidup. Walau golongan darah saya termasuk langka dan jarang dibutuhkan karena termasuk resipien universal. Tapi tak apa saya ingin bisa ada sumbangsih untuk komunitas dengan berdonor darah. Toh saya tidak macam-macam dengan diri saya. Kenapa tidak saya manfaatkan untuk kebaikan selama saya diberi kesehatan.

Snack donor darah


Ketika mengisi formulir kan ada banyak pertanyaan ya. Dari situ bisa dilihat bahwa orang yang donor itu harus bersih, harus sehat, makannya bergizi. Di formulir ada pertanyaan apakah pernah bekam, tato, tindik, hubungan seksual dengan orang asing, dll.

Menaikkan Hb

Kalau saya lihat histori asupan makanan saya selama 3 bulan terakhir adalah saya makan berbagai makanan seperti 

Protein:
daging sapi, daging ayam, hati sapi, hati ayam, telur, tempe, ikan

Sayuran:
Kale, bayam, bayam jepang, kangkung, dll

Buah:
Jeruk (sunkist dan jeruk biasa), jeruk nipis, lemon, terong belanda, strawberry, tomat, tomat cherry, alpukat, delima, apel, anggur, dll

Buah kering: cranberry, kurma

Kacang: mede, kacang tanah, kacang hijau

Hampir setiap hari saya minum jus alpukat dan terong belanda. Kemudian bergantian strawberry dan jeruk. Tomat saya campur dengan jus terong belanda. Kalau tomat cherry dijadikan salad, dicemil mentah, atau dijus dengan kale.

Saya rasa memang dari asupan makanan yang efeknya sangat terasa untuk menaikkan Hb. Makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang mengandung:

1. Zat besi seperti kangkung, bayam, kale, brokoli, daging sapi, hati, ikan, telur
2. Vitamin c untuk mengikat zat besi seperti jeruk, stroberi, tomat
3. Asam folat seperti alpukat
4. Betakaroten seperti wortel

Alhamdulillah kali ini saya berhasil menaikkan Hb dan tensi saya juga bagus. Apakah ada pengaruh karena saya baru saja habis pulang kampung lalu selama seminggu asupan makanan saya sangat bergizi? 

Kalau tips teman saya kalau mau menaikkan Hb:

1. Tidur lebih cepat
2. Sarapan
3. Makan malam yang bergizi minimal telur

Oya, berat badan juga ada batasannya ya sobat kalau tidak salah minimal 46 kg untuk wanita. Jaman dulu saya pernah gagal donor karena berat badan kurang. Setelah itu lama tidak mencoba. Jadi baru satu kali berhasil donor darah pertama kali ikut tahun 2008. Saat itu berat badan 49 kg. Saat ini berat badan 50 kg jadi aman bisa ikutan donor darah.

Setelah donor, saya diberi snack, makan siang dan penambah darah. Banyak dapatnya... 

Sekian posting dari saya ya sobat. Cheers!

Thursday, June 2, 2022

Kena Batunya

6/02/2022 09:10:00 PM 0 Comments
Halo Sobat! Pernahkah kalian merasa kena hukuman alias kena batunya ketika kalian akan berbuat nakal alias menyeleweng dari jalur yang benar?

Tak perlu hal-hal ekstrim negatif tapi hal-hal kecil saja. Katakanlah kalian selalu berada di jalan yang lurus lalu kemudian kalian sesekali berbuat nakal. Misal tidak pernah bolos eh mencoba bolos. Lalu kalian ketahuan dan sebagainya?


Saya pernah nih sobat. Saya tipikal orang yang taat aturan. Berada di jalur yang semestinya katakanlah begitu. Eh sekalinya saya mencoba keluar jalur, langsung kena hukuman. Memang naas. Nasib oh nasib... Padahal kalau melihat orang lain seperti santai saja begitu berbuat hal di luar jalur yang benar. Pun tak ada sanksi/hukuman. Lah giliran saya yang mencoba, kok hukumannya langsung. Mengelus dada...

Kalau dipikir-pikir itu teguran langsung dari Allah sih tapi lewat orang lain. Dengan begitu kita kembali ke jalan yang benar. Mungkin memang Allah tidak ridho saya berbuat nakal. Mungkin itu hikmahnya. Kalau teman saya bilang daripada mendapat hukuman di akhirat lebih ngeri.

Makanya ya sobat. Hidup saya ini lurus-lurus saja. Mungkin orang bisa bilang "boring". Tapi memang saya tidak bisa jika harus nakal. Saya akan kepikiran, hidup tidak tenang. Jadi tidak nyenyak tidur. Sungguh menyiksa.

Kalau dipikir-pikir sepertinya memang sudah dari kecil saya ini tidak bisa nakal. Waktu kecil saya pernah disuruh menyerahkan uang ke seseorang. Tapi saya dibilang agar tidak boleh ketahuan siapa-siapa. Nah, saya yang anak kecil ini berpikir bagaimana caranya. Uang ditaruh di mana? Baju tak ada sakunya. Dompet tidak punya. Kalaupun pakai dompet nanti malah kelihatan kan. Ya sudah akhirnya saya taruh uangnya di karet pinggang rok. Kan bisa menjepit tuh karena kencang dan lebar. Tapi memang naas ya sobat. Saya tak sadar kalau uang itu jatuh. Dan ada yang melihat. Yah, ketahuan deh. 

Kalau saya perhatikan diri saya, saya ini sering tidak kepikiran untuk berbuat di luar jalur. Misal ya, jadwal kerja wfo wfh sudah ditentukan, nah saya patuh sesuai jadwal yang ada. Tidak kepikiran untuk merubah jadwal misal hari ini jatah wfo tapi saya ambil wfh lalu saya ganti hari lain wfo. Tapi saya lihat rekan lain sering tidak ada di kantor padahal jadwalnya wfo. Ternyata mereka mengganti di hari lain. Kalaupun tidak diganti juga siapa yang tahu ya (hanya Allah yang tahu). Hehe

Berpikir lempeng
Saya kadang merenung, kok saya tidak kepikiran melakukan ini itu seperti yang orang lain lakukan. Ini saya yang tidak kreatif atau bagaimana. Misal, dari kos ke kampus ui salemba atau dari stasiun pondok baru ke fasilkom dulu saya selalu jalan kaki. Saya tidak kepikir untuk naik ojek. Sementara teman saya selalu naik ojek padahal jaraknya masih bisa ditempuh jalan kaki menurut saya.

Contoh lain, semisal kita ada urusan di pagi hari saat masuk kantor sehingga tidak bisa absen pagi tepat waktu alias telat kalau baru absen saat datang. Nah teman saya ada yang berangkat pagi-pagi untuk sekedar absen lalu pulang. Hal ini untuk menghindari pemotongan tunjangan. Nah sementara saya tidak kepikiran. Kalau misal telat ya telat saja konsekuensi. Hmm, ini saya yang bodoh atau bagaimana ya? 

Sepertinya otak saya sudah ter-setting melihatnya ke depan, tidak tengok kanan kiri. Jalannya lurus ke depan, tidak belok kanan kiri. Adakah kalian yang sama seperti saya? 

Kalau berbuat di luar kebiasaan (jalur yang semestinya) itu ada perasaan bersalah di dalam hati. Perasaan seperti ini tidak nyaman loh sobat. Maksud saya ini jika melakukan hal yang negatif ya walau sekedar hal kecil atau remeh temeh. Kalian pasti tahu maksud saya kan ya.

Ok deh sekian dulu sharing hari ini ya sobat. Sampai jumpa!

Tuesday, May 17, 2022

Jasa Sol Sepatu Keliling

5/17/2022 06:28:00 PM 0 Comments
Adakah pembaca setia blog saya? Setiap saya posting selalu ada yang membaca entah itu pembaca setia atau memang orang nyasar atau orang lewat saja. 

Blog ini usianya sudah termasuk tua hampir 15 tahun. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk terus menulis dan berbagi ke kalian semua para pembaca. Terima kasih sudah membaca blog sederhana ini. Walau nyasar pun tak mengapa. 

Selama ini saya hanya menulis dan menulis. Tak peduli berapa banyak yang membaca. Tak jarang justru tulisan yang dianggap tak menarik justru banyak yang membaca. Tulisan lama juga masih ada saja yang membaca.  Walau sebenarnya entah dibaca atau tidak ya. Mungkin cuma dilihat. Hehehe

Saya ingin mencapai 1000 posting. Masih jauh perjalanan. Hehe

Sekian pembukaan posting kali ini. Kita lanjut ke tema kita yaitu... sol sepatu. Lah kok sol sepatu? Waduh, khas sekali pengucapan sol sepatu kalau di Jakarta. Maksud saya Mamang sol sepatu yang lewat kalau bilang "sol sepatu" saat menjajakan jasanya itu nadanya khas. Kalian yang pernah dengar pasti tahu ya.



Jadi ceritanya nih saya memang mencari tukang sol sepatu dari sebelum lebaran lalu. Tapi belum pernah ketemu. Kalau ada tukang sol sepatu lewat juga tidak bisa panggil karena kos saya di atas dan lumayan jauh dari jalan. Suara saya juga kurang kencang kalau mau teriak.

Saya berpikir bagaimana caranya memanggil tukang sol sepatu. Tukang sol kan keliling tidak mangkal. Kalau mangkal enak tinggal didatangi. Baiklah. Pada akhirnya karena Allah maha baik, Allah yang datangkan sendiri tukang sol sepatu itu. Subhanallah...

Tepatnya sore hari tadi sepulang kerja saya berjalan mendekati gang kos saya. Tanpa saya tahu ternyata yang berjalan di depan saya adalah tukang sol sepatu. Saya tahu gegara si tukang sol bilang "sol sepatu". Ya sudah saya langsung tersadar kalau saya mencari tukang sol. Saya dekati mamangnya dan saya tanya soal sol sepatu. Lalu mamangnya mengikuti saya sampai kosan. Tadinya mau mengesol satu eh malah jadi 2 sekalian. Satu sol sepatu ongkosnya 25 ribu rupiah. Saya tidak tahu ini kemahalan atau murah. Saya tidak menawar. Ketemu sol sepatu saja sudah bahagia. Ya Allah... hehehe

Saya juga berpikir kasianlah. Keliling seharian belum tentu ada pelanggan. Tak usah pelit-pelit.

Satu sol untuk sepasang sepatu memakan waktu sekitar setengah jam selesai. Karena sepatu wanita kan juga kecil jadi lebih cepat selesai. Saya sempat memperhatikan cara mengesol. Kalau cuma melihat sih gampang. Kelihatannya enteng. Jarumnya tajam. Tapi entah kalau mencoba sendiri mungkin butuh tenaga ekstra. :D

Ini mamangnya manual mengesolnya ya. Bukan pakai mesin. Mamangnya sedia benang berbagai warna menyesuaikan warna sepatu. Tapi mamangnya bilang tidak punya warna pink jadi diberi warna krem. Padahal sih sepatunya tidak ngepink menurut saya.

Sebelumnya saya belum pernah mengesol sepatu. Baru kali ini saya mengesol. Ini pun terpaksa ya gegara beli sepatu baru 4 kali pakai kok lemnya sudah lepas. Lah ini asli atau palsu? Saya beli sepatu merk lokal di Matahari. Harganya lumayan untuk ukuran kantong saya. Tapi baru kali ini kok begini. Padahal merk ini terbilang lawas. Kecewa sih tapi mau bagaimana ya. Ya sudahlah akhirnya saya kepikiran untuk mengesol. Semoga bisa dipakai lagi sampai rusak. :D

Sampai jumpa posting berikutnya.

Monday, October 25, 2021

Masih Ada Orang Baik

10/25/2021 09:45:00 AM 0 Comments
Halo Sobat, ketemu lagi kita hari ini di hari yang cerah. Seperti biasa, Jakarta panas. :)

Kali ini saya mau cerita tentang masih ada orang baik. Kenapa saya ambil tema ini? Tak lebih karena pengalaman saya sendiri kemarin hari minggu, 24 Oktober 2021. Ceritanya pagi-pagi saya galau mau ke pasar atau tidak. Kalau tidak ke pasar, stok bahan makanan saya habis. Mumpung hari minggu kan ya, soalnya saya malas kalau ke pasar di hari kerja walau sebenarnya posisi saya seminggu bakal wfh (work from home)

Akhirnya saya nekat pergi saja ke pasar jalan kaki sendirian. Sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman berjalan kaki karena kaki kanan saya sakit buat berjalan jadi saya jalan agak pincang (mungkin terkilir atau bagaimana entahlah). Tidak nyaman sekali rasanya berjalan kaki walau sebenarnya saya senang jalan kaki. Saya juga tidak kepikiran naik ojek karena tidak terlalu jauh. Saya pikir saya masih sanggup jalan kaki.



Okelah kemudian saya tiba di pasar dan berbelanja. Kali ini belanjaan tidak sebanyak biasanya. Tentu saya melihat kondisi saya yang tidak bisa berjalan normal sehingga saya kurangi belanjaan, jangan kemaruk beli ini itu. Selesai berbelanja, saya cari tukang becak langganan saya tidak ada. Ada satu tukang becak saya perhatikan, mau saya panggil tapi rupanya sedang menunggu pelanggannya belanja. Saya lihat ke arah lain ada satu becak kosong tanpa pengayuh yang nganggur lama. Manalah pemiliknya pikir saya. Jangan-jangan sedang menunggu pelanggannya juga. Nanti saya kecele dong. 

Tapi bagaimana ini bisa tidak saya jalan kaki pulang bawa belanjaan yang lumayan berat. Akhirnya saya mau nekat berjalan kaki menuju becak kosong tadi, gambling. Begitu saya mendekat, jeger! Tiba-tiba ada becak baru datang pas di belakang becak kosong tadi. Tanpa pikir panjang langsung saya stop becak tersebut. Alhamdulillah ya Allah. Saya merasa benar-benar ajaib. Lebay ga sih saya hehe. :)

Saya sebut alamat saya dan saya tanya berapa ongkosnya ke si Abang tukang becak. 

"Biasanya berapa?" tanya si Abang. 

"15 ribu," jawab saya.

Si Abang tukang becak mengiyakan saja, pertanda setuju. Saya pun langsung menaikkan belanjaan saya dan duduk di becak. 

Beberapa menit kemudian sampailah di depan gang tempat saya tinggal. Biasanya saya turun di situ. Tanpa saya minta, eh si Abang masuk ke dalam gang. Alhamdulillah banget nih saya tidak perlu jalan kaki ke dalam gang. Mana kondisi kaki kan lagi kurang normal buat berjalan jadi sangat terbantu.

Sampai di depan kos, saya turunkan belanjaan. Eh si Abang mau bawakan belanjaan saya masuk. Lagi-lagi, tanpa saya minta loh ini. Duh, baik banget si Abang becak ya Allah. Kan naik tangga tuh ya lumayan bawa belanjaan berat. Baru setelah itu saya bayar dan ucapkan terima kasih.

Sumpah, saya merasa terharu dengan apa yang saya alami saat itu. Walau hanya hal kecil tapi cukup untuk membuat saya merasa bahwa orang baik itu masih ada. Dan pertolongan Allah itu nyata. Allah maha baik.

Pesan moral: Jangan berhenti berbuat baik. Jangan berhenti menjadi orang baik. Jangan pernah lelah menjadi orang baik. Sesungguhnya setiap kebaikan walau sekecil biji zarrah ada perhitungannya ada balasannya dari Allah. Sesungguhnya Allah sangat tepat perhitungannya.

Mungkin, pertolongan Allah ini adalah balasan kebaikan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Sobat, tak bosan saya katakan bahwa kita tidak punya pilihan lain di dunia ini selain berbuat baik. Jadi jangan bosan menjadi orang baik. Karena kita tahu Allah maha baik. Setiap kebaikan kita itu ada balasannya yang mana kita tidak pernah tahu kapan balasan itu datang, dalam kondisi apa kita saat itu dan dalam bentuk apa balasan tersebut. Balasan kebaikan tidak melulu soal materi ya kan? Allah itu punya cara-cara tersendiri, unik, dan tidak terduga. Setuju tidak Sobat? Mungkin kalian pernah mengalaminya juga dan kalian pun berdecak kagum bahwa Allah itu super keren. Memang benar-benar penulis skenario terbaiklah. Tak ada yang bisa menandingi. :)

Kita tidak perlu menjadi selebritis atau pun public figur terkenal untuk bisa merasakan betapa hebatnya skenario Allah itu. Dari kejadian-kejadian kecil dalam hidup kita saja kalau kita peka kita akan tahu kedahsyatan kekuatan yang dimiliki Allah.

OK Sobat, sekian dulu sharing saya hari ini semoga bermanfaat. :)

Cheers!


Thursday, September 16, 2021

Sayap Patah: Memori Kehilangan

9/16/2021 07:50:00 PM 0 Comments
Sobat, pernahkah kamu kehilangan? Kehilangan seseorang yang kamu cintai.

Di sini saya ingin bercerita bahwa saya baru saja kehilangan sesosok yang saya cinta. Saking cintanya apa pun yang beliau minta saya akan berikan. Kalian pasti bisa menebaknya siapakah sesosok itu. Dialah ayah saya. Beliau wafat pada hari senin malam sekitar pukul sembilan kurang, 6 September 2021. Saya tak punya firasat. Tapi sekitar sehari sebelumnya saya video call memantau beliau, beliau tampak sehat dan gemuk. Dalam hati saya berkata, bertahan ya Ayah, tunggu saya, bulan depan saya pulang setelah SK saya turun. Tidak menyangka malam harinya hb turun dan sesak napas. Keesokan paginya dibawa ke rumah sakit. Tidak sampai menginap, beliau sudah wafat. 


Saat dikabari bahwa ayah saya sudah tidak ada, saya tidak ngeh. Keponakan saya menelpon dan bilang bahwa ayah sudah balik. Saya pikir ayah saya balik ke rumah. Saya merasa senang dalam hati ayah saya tidak apa-apa. Tapi ternyata duaarrr, balik yang dimaksud adalah ke rahmatullah untuk selama-lamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un...

Saya mencari cara untuk pulang kampung. Di malam hari begitu sudah tidak ada lagi kendaraan. Pesawat hanya ada keesokan harinya. Travel dan damri sudah berangkat semuanya. Duh, pusing saya bagaimana caranya bisa pulang. Setidaknya agar saya masih bisa melihat wajah ayah saya untuk terakhir kalinya. Akhirnya saya kepikiran minta jemput kakak saya dari Banten.

Saya tidak bisa tidur. Saya selesaikan dulu kerjaan saya. Mungkin kalian berpikir, masih sempat-sempatnya ya. Karena saya tidak akan bisa kerja beberapa hari ke depan. Dan kerjaan tersebut sudah menuju deadline. Setelah itu saya bersiap-siap menunggu kakak saya. Akhirnya pukul 1.30 pagi kakak saya datang. Alhamdulillah. 

Sekitar 7 jam perjalanan, saya tiba di rumah. Di luar rumah sudah banyak orang berkerumun. Keluar dari mobil, kakak saya menangis semakin keras berjalan menuju ke rumah. Saya gandeng tangan kakak saya. Saya masih lebih tegar. Begitu masuk ke rumah, ada ibu saya menyambut. Pecah tangis saya di pelukan ibu saya. Tak kuasa saya menahan tangis. Kami bertiga berpelukan. Ya Allah ya Rabbi... 

Di dalam, ayah saya sedang disholatkan. Tak lama kemudian, saya diajak keluar kamar untuk melihat ayah saya. Wajahnya sudah ditutup kain. Saya berjalan menuju beliau. Selangkah demi selangkah saya mendekat ke wajahnya. Tak tertahankan saya menangis menjadi-jadi. Sungguh momen yang sangat memilukan. Saya cium pipi dan kening beliau dan saya peluk beliau untuk terakhir kalinya. Wajah ayah saya begitu putih dan bersih di akhir hayatnya. Lalu saya mundur dan bergantian dengan kakak saya.

Ya Allah, begini rasanya kehilangan seseorang yang begitu dicinta. Saya merasa seperti kehilangan satu sayap. Yang membuat sedih dan selalu menangis adalah memori yang terjalin selama beliau masih hidup. Ketika teringat wajahnya. Teringat beliau duduk dan tidur, suara langkah kakinya yang khas menyeret lantai dsb.

"Hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya." (Nasehat Malaikat Jibril) 

Memang ajal sudah ditetapkan oleh Allah. Saya pun tak tahu sampai kapan saya akan hidup. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua saya. Terimalah amal ibadah ayah saya. Ringankan siksa kuburnya. Lapangkan dan terangkan kuburnya. Aamiin.

Yang bisa kulakukan hanya berdoa untukmu Ayah...
Selamat jalan Ayah...

Salam sayang dariku, Anakmu yang sangat menyayangimu...
Semoga kita bertemu kembali di surga-Nya...
Aamiin...

Sobat, kita bisa kirim doa untuk ayah yang sudah meninggal dengan membaca:

Khushuushon ilaa ruuhi abii…(sebut nama ayah kita) bin…(sebut nama ayahnya ayah kita)Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.

lanjut baca Al Fatihah.

Kita bisa kirim surat yasin. Pada malam jumat, mayit di alam kubur berebutan yasin yang dikirim orang yang masih hidup yang menyebut mukminin wal mukminat. Namun tatkala ada anak yang mengirim yasin untuk orangtua yang meninggal maka mayit tidak lagi rebutan, cukup dari kiriman anaknya. 

Kita masih bisa berbakti kepada orangtua yang meninggal dengan mendoakannya (jangan lupa doa robbi firli waliwalidaya warhamhuma kama rabbayani soghiro selepas sholat mohonkan ampun orangtua kita) dan beramal atas namanya. Selama masih di alam barzah (belum kiamat alias setelahnya alam akherat) hal tersebut masih berlaku. Demikian saya kutip dari ceramah Gus Baha. Selama kita masih hidup mari selalu doakan orangtua kita. Jika kita meninggal, tak ada lagi yang mendoakan orangtua kita di alam kubur. Tak ada lagi yang mengirim yasin. Semua amal ibadah terputus ketika meninggal dunia kecuali 3 perkara yaitu amal jariyah, ilmu bermanfaat, dan doa anak soleh.

Sekian sharing saya ya sobat...

Saturday, March 3, 2018

Childhood Memory: Became So numb

3/03/2018 07:26:00 AM 0 Comments
Kalian yang membaca tulisan ini, pasti pernah menjadi anak-anak kan? Kalian pasti mempunyai kisah masa kecil masing-masing yang saya yakin masih kalian ingat dengan baik. Tentunya kalian juga mempunyai kisah menarik yang tak terlupakan di masa kecil. Paling tidak ada satu cerita saja yang paling berkesan. Entah itu kisah yang menyenangkan ataupun sebaliknya, kalian pasti punya. 

Saya pun sama. Saya juga punya kisah yang masih terus saya ingat. Suatu ketika di sore hari saya bermain dengan teman saya perempuan dua orang. Mereka kakak adik tapi hanya terpaut setahun saja jadi sama besarnya. Kami main di depan rumah saya.


Main apa? Jaman dulu ini kemungkinan besar saya tomboy. Tapi saya tidak pernah merasa tomboy. Saya selalu merasa sebagai perempuan normal hingga saat ini. Tapi mungkin ada jiwa maskulin? Entahlah ya. Hehe :)

Saya main koprol-koprolan di atas rumput. Hah? Serius? Iya serius. Kedua teman saya duluan koprol sambil awalnya lari-lari kecil. Berhubung kedua teman saya berhasil, lalu saya pun mencoba. Begitu saya mencoba koprol, tiba-tiba terdengar suara "krek" di telinga saya dengan jelas. Apa itu?

Saya merasakan kesakitan teramat sangat dan saya pun tak kuat untuk tidak menangis. Tangan kanan saya patah Readers. Kalian bisa bayangkan bagaimana sakitnya. Itu tangan saya bengkok. Tulangnya patah pas di tengah-tengah dan kelihatan benar menonjol. Saya menangis sambil duduk itu ya Allah... 


Singkat cerita saya dibawa ke sangkal putung untuk diperban. Tapi saya sebelumnya berobat ke mantri (jaman dulu di sana adanya mantri kesehatan -- istilah untuk male nurse atau perawat laki-laki ya sebenarnya kalau jaman sekarang) dulu. Ke tukang sangkal putung itu atas rekomendasi si mantri. Di tempat sangkal putung, tukang sangkal putungnya bapak-bapak tua. Bapak itu terkenal sebagai tukang sangkal putung. Eh, kalian tahu kan sangkal putung apa?

Oke, di sana sebelum tangan saya diperban, tangan saya diolesi minyak. Entah itu minyak apa tapi yang jelas tangan saya jadi adem semriwing dan tidak merasakan sakit sama sekali. Padahal sebelumnya sakit tak tertahankan. Saya heran kenapa bisa begitu? Otak anak-anak saya bertanya-tanya. Peristiwa ini sungguh tak terlupakan bagi saya.

Lalu tangan saya diukur-ukur dengan bambu. Wah saya pikir bakal diberi bambu tapi ternyata tidak. Tangan saya diperban biasa dan tidak boleh kena air sampai 3 bulan (kalau tidak salah ingat). Giliran dibuka perban, wow belang deh dengan kulit yang lain. Jadi putih... :)

Selama masa ini, saya kan sudah sekolah SD ya, saya pun struggle untuk bisa menulis. Saya latih tangan kiri untuk menulis. Sulit... :(

Tapi saya berhasil membuat tangan kiri saya lihai untuk bermain bola bekel. Bahkan lebih jago dari tangan kanan. Sampai sekarang kalau mau dites, saya masih bisa hehe. Justru tangan kanan terasa kaku. Tangan kiri lebih luwes.

Sedihnya saat sekolah adalah selain kesulitan menulis, saya tidak kuat mengangkat bangku untuk dinaik-turunkan setelah pulang sekolah untuk dibersihkan teman-teman ruangannya. Untungnya teman saya perempuan yang duduk di belakang saya berbaik hati membantu saya. Dia memang gempal badannya jadi tenaganya kuat. Terima kasih ya Sobat! Terharu... T.T

Biarpun saya mengalami kejadian sedemikian rupa, rupanya prestasi sekolah saya tidak terpengaruh. Saya tetap juara loh hihi. Bukan sombong ya ini :)

Oke, kembali soal sensasi dingin dan tak terasa sakit tadi (mungkin istilah bahasa Inggrisnya numb), saya bertanya-tanya apakah si bapak itu menggunakan jampi-jampi alias ilmu klenik? Ataukah memang semacam obat bius lokal?

Hmm... saya masih belum menemukan jawabannya... 

Adakah kalian yang tahu?






Monday, February 19, 2018

Tembus 1 Juta Views!

2/19/2018 08:14:00 PM 4 Comments



Hore! Akhirnya pecah telur juga blog ini menembus satu juta views pada hari ini Senin tanggal 19 Februari 2018 . Senang? Iya pastinya. Seperti suatu pencapaian tersendiri buat blog ini. Untuk ukuran personal blog gado-gado semacam ini ya lumayanlah ya. :)

Alhamdulillah saja masih diberi kesempatan waktu untuk meninggalkan lebih banyak tulisan hingga mencapai 1 juta views. Semoga semakin banyak lagi tulisan baru yang akan lahir untuk meramaikan blog ini. Aamiin.


Monday, May 1, 2017

Cerita 10 Tahun Blogging

5/01/2017 05:04:00 AM 0 Comments


Akhirnya hari ini blog saya ulang tahun yang ke-10. Mari potong kue hehe. Tak terasa sudah 10 tahun saja terlewati dengan cepat.

Saya awal blogging dulu bulan Mei 2007 kuliah di tingkat akhir lagi nyusun skripsi. Waktu itu masih jarang yang blogging. Saya belum punya teman dunia nyata yang blogging. Internet juga masih mahal. Saya blogging di warnet loh. Saya bela-belain rajin ke warnet.

Hp? Hp juga belum secanggih dan semurah sekarang ada internetnya. Hp saya masih hp jadul yang cuma bisa telpon dan sms.

Masuk 2008 ke atas saya mulai kerja, saya dapat teman-teman dunia nyata yang dekat mulai blogging seperti wee (alm), hifni, aprikuma, anisa dan nurul. Tapi mereka pada vakum. Tinggal saya dan hifni saat ini yang masih update

Jaman-jaman itu juga perjuangan kalau mau posting. Tak ada warnet. Kantor belum ada wifi. Jadi saya pakai hp buat jadi modem. Mana kuotanya mahal. Dan hp paling cuma tahan beberapa jam dicolok ke laptop. Kabelnya tak bisa sekalian charging. Nelangsa.

Page views
Jadi, biarpun sudah 10 tahun, tak perlu dipertanyakan kenapa page views baru 700 ribuan. Mengingat masa-masa susah itu. Lagipula ini blog personal suka-suka yang isinya random dan gado-gado. Bersyukur bisa tembus segitu. 

Blog saya mulai ada peningkatan drastis dari tahun 2013 hingga sekarang. September 2013 tercatat page views 60 ribuan dan 2016 menjadi 600 ribuan. Apa penyebabnya? Saya kurang tahu karena bertahun-tahun tak saya utak atik kecuali ganti template. 

Efek internet semakin murah bisa jadi salah satu penyebab. ☺

Tapi google plus views saya malah 2x lipatnya blog saya. Heran juga kenapa begitu. Tahu-tahu sudah 1,4 jutaan terakhir lihat sebelum dihapus google menu page views itu. 

Visitor
Bisa dibilang 99 % dari search engine. Orang-orang nyasar begitulah. Kalau melihat di statistik blogger, visitor dari berbagai negara. Kevalidannya kurang tahu. Indonesia masih mendominasi karena ini blog bahasa Indonesia. Disusul USA dan negara lainnya.

Posting
Ada masa-masa saya begitu produktif menulis tapi ada juga titik nadirnya. Posisi terendah saya terjadi di tahun 2011. Saya cek hanya 2 posting setahun. Hey, kemana saja saya. Setelah saya telusuri ternyata itu masa-masa sibuk kerja dari awal hingga akhir tahun. Pantas saja. Target saya sih minimal seminggu sekali posting. Sepertinya terlalu muluk. Ok, minimal tiap bulan ada posting. Ah, tapi rupanya cukup sulit realisasinya. Halah, alasan. 😊

Harapan
Semoga bisa segera tembus 1 juta page views.
Semoga bisa 1000 views per hari.
Semoga saya bisa terus posting yang bermanfaat dan berkualitas.

Happy blogging!