semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana: little story of me

Follow Us

Showing posts with label little story of me. Show all posts
Showing posts with label little story of me. Show all posts

Friday, August 14, 2026

Ajakan Jalan

8/14/2026 09:02:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, kamu pasti pernah kan mengajak atau diajak jalan? Pernah dong...

Sekarang saya mau bahas tentang ajakan jalan. Ini karena baru banget kejadian. Masih hangat. Hot hot pop deh pokoknya. Emang apaan sih?

Minggu ini saya dapat ajakan jalan dari teman saya. Dia bilang dia burnout. Dia ngajak staycation ke Bandung. Ayok kata saya setuju. Ke Bandung mau jalan ke mana? Kita cari cafe, katanya. Lah cafe banyak di Jakarta. Kenapa ga cari tempat wisata yang kita belum pernah? Jawab saya.

Ga lama kemudian, dia kasih tuh beberapa pilihan trip dari travel. Di antaranya ada ke pantai, baduy, Pangandaran, dan lain-lain. Wong dikasih pilihan ya saya pilih dong ya. Apa pilihan saya? Hmm, kayaknya baduy ok nih, pikir saya. Pas jadwal saya kosong di tanggal 15 Agustus. Karena di tanggal 17 kan harus upacara ya. Kan dia juga sama. 


Ok, saya ajukanlah ke baduy. Dia bilang oke deh dia tanya tanya dulu ke admin tripnya. Ga lama kemudian dia share harga trip, itinerary, dan meeting point. Setelah saya baca-baca, oke. Saya bilang ke dia ayo jadi kita jalan? Terus dia bilang, tapi meeting pointnya kejauhan. Males banget, kata dia. Lah kok gitu? Pikir saya nih. Kan saya jadi gimana gitu ya. Bukannya dia yang ngajakin tadi ya. Giliran saya iyain kok responnya gitu? Emosi saya jadi kepancing nih sebenarnya tapi saya masih bisa tahan, kan kita cuma whatsappan. Saya bilang, yaudah kalo gitu kita ke kafe aja di Jakarta. Dia setuju. 

Besok-besoknya dia chat lagi. Dia tanya saya, kamu ga tertarik ya kalau ke pantai? Misal ke anak Krakatau bagus tuh. Saya jawab, kalau ke pantai ga bisa ngapa-ngapain. Cuma ngeliatin pantai doang. Mau snorkling ga berani, ga bisa renang. 

Ga lama kemudian, dia chat, ya udah kita jadiin aja apa ke baduy? Aku udah burnout banget. Aku jadi marah-marah sendiri ga jelas. 

Setelah itu saya ga balas lagi. Tanggal 15 itu tinggal beberapa hari lagi. Terus, tadinya dia ga mau kenapa terus tiba-tiba jadi mau? Labil ga sih sobat. Malah saya yang udah terlanjur malas. Ini itu ga ada yang jadi. Selain itu saya sendiri merasa badan saya capek saya pengen istirahat sabtu minggu.

Tadinya kan saya sudah mengiyakan ya sobat. Dari awal menyambut baik ajakan dia loh. Tapi dia sendiri yang ribet dan labil.

Gini loh sobat. Kan kita yang ngajak seseorang ya. Berarti kita yang butuh toh? Butuh ditemenin. Ketika teman kita ok, kan kita senang tuh. Seharusnya momen itu jangan disiakan. Apalagi teman itu mau menuruti apa mau kita, ngikutin kita mau pergi kemana sesuai pilihan kita. Itu anugerah loh. 

Kenapa? 

Satu, karena kita yang butuh. Dua, dia mau ikut kemauan kita. Tiga, kita ngajak doang. Kita ga ngongkosin. Biaya dia tanggung sendiri. Empat, teman mau meluangkan waktu, tenaga, biaya buat ngikutin kita. Lima, dia peduli sama kita. Kita bilang ke dia kita butuh jalan karena burnout, dia mau. 

Lima alasan cukup kan sobat? 

Coba kalian pikirkan ya... teman rela jalan bareng kita pakai biaya sendiri padahal kita yang butuh. Apa itu namanya?

Tapi giliran teman bilang iya eh kita malah labil ini itu. Kesini ga jadi kesitu ga jadi. Kan capek. Dan hal kayak gini ga sekali ini terjadi. Saya sudah tahu polanya. Sering dia ngajak dan ujungnya ga jadi. Bahkan pernah bayar DP dan akhirnya ga jadi. Hangus dong? Iya dong... dan itu dia yang ngajak dia pula yang batalin. Rugi dong? Sudah tentu. Apa dia ganti? Tentu tidak. Apakah dia introspeksi? Sepertinya tidak. Haha.

Sudahlah sobat, cukup jadi pelajaran sih buat saya. Dan semoga jadi pelajaran buat kalian juga kalau ketemu tipe teman yang labil begini. 

Ok. Balik ke cerita tadi ya. Saya ga balas ajakan terakhir dia bukan karena saya sengaja ngasih hukuman ke dia. Bukan sobat. Tapi karena saya lelah dengan kelabilannya. Ketika saya mau dia ga mau. Maunya ikut selera dia saja. Lalu akhirnya balik lagi ke rencana yang tadinya dia sendiri tolak. Kan kita sudah lelah dan berubah pikiran. Selain itu badan saya memang lelah dan pegal-pegal pengen istirahat di akhir pekan. Waktu juga sudah mepet. 

Saya tahu dia itu cuma sebentar saja dia begitu. Palingan nanti pergi sendiri ke pantai yang dia sebut karena dia suka pantai. 

Lagian ya, kalau saya mau egois nih. Kasarnya nih sobat. Bisa banget loh saya bilang, lah kalau elo burnout jadi marah-marah ya itu urusan elo. Bukan urusan gue. Masa bodoh. Kok jadi gue yang ribet harus ngikutin mau elo. Kan gue juga punya kehidupan sendiri.

Ups. Tapi saya ga begitu ya sobat... 

Saya tuh masih mikirlah. Ga kekata loh mau begitu. Saya masih menjaga hubungan baik. Walaupun saya sering ya dikecewakan dengan teman-teman saya yang labil. Herannya kenapa ya saya ketemunya dengan mereka yang labil itu. Apalah salah saya. Malah saya yang refleksi. Hehe. 

Sobat, tulisan ini adalah pengingat bahwa kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang, bahkan untuk teman. Ketika pola kelabilan berulang, kita berhak untuk mundur dengan tenang, bukan karena marah, tapi karena kita perlu menjaga energi kita sendiri.

Mengajak orang lain adalah kepercayaan. Menyambut ajakan adalah anugerah. Jika kamu yang mengajak, hargailah orang yang mau ikut, mereka meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untukmu. Jangan sia-siakan itu dengan kelabilanmu sendiri.

Sampai jumpa di posting berikutnya.

Sunday, August 9, 2026

Kajian Rutin Istiqlal Bersama Aa Gym

8/09/2026 05:37:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, apa kabar? Di hari minggu yang cerah ini saya akan kembali bercerita. Pagi tadi saya hadir ke kajian rutin Istiqlal bersama Aa Gym. Bulan lalu saya sempat hadir juga. Saat itu saya bersama teman saya, teman lama saat SMA. Alhamdulillah kami kembali hadir di kajian bulan ini. 

Kalau di kajian Aa Gym, waktunya agak panjang. Lumayan kita mendengar ceramah dari beliau jadi agak panjang. Walay ceramahnya itu ringan tapi lumayan banget untuk menyirami hati yang gersang. Apalagi jamaahnya banyak ibu-ibu dan bapak-bapak. Jadi memang ga perlu yang berat-berat juga ya. Ditambah Aa Gym yang suka humor dan pembawaannya lembut jadi bikin senang para jamaah.


Tema yang selalu diangkat itu pasti mengenai lisan, jangan suka ngomongin orang. Tadi salah satu yang dibahas tentang kisah seseorang yang meninggal 8 jam lalu nakes ada yang dipecat dan sebagainya. Itu loh yang beritanya sekarang lagi viral. Nah, Aa Gym memberikan refleksi tentang para nakes yang tadinya menghujat atau memberikan komen buruk itu mendapat hukuman dan memberikan permintaan maaf, eh gantian netizen yang julid ngejulidin para nakes itu. Aa bilang mungkin para nakes itu sudah diampuni oleh allah. Dan sekarang dosanya pindah ke siapa? Jawabannya ke netizen yang gantian julid. Nah  apakah para netizen julid ini sudah meminta maaf pada nakes itu? Hayoooo....

Hehehe dibalik ya sobat...

Gimana menurut kalian? 

Apakah bikin eh iya juga ya...

Nah, di sini Aa memberikan nasehat supaya kita menjaga lisan dan tulisan. Karena jaman sekarang gampang banget jari ini ngetik sesuatu yang eh ternyata nambah dosa tanpa disadari. Saking tidak ada batasnya. Freedom of speech. Gitu sih kira-kira.

Kayaknya sumpah serapah caci maki sudah biasa ya kita lihat di komen-komen penonton. Padahal semua itu tak luput dari penglihatan allah, tak luput dari catatan malaikat. Hiiii begidik ga sih kalau mengingat wah iya juga ya. Herannya kita seringkali ga ingat kalau ada yang mengawasi kita. Jojong aja kita numpahin uneg-uneg nulis apa saja yang ada di otak. Kan kalau anonymous ga ada yang tahu. Iya ga sih? Lah, memangnya allah ga tau? Malaikat ga catat itu? Huhuhu

Sobat, yuk kita lebih hati-hati menggunakan tangan kita, waktu kita, tenaga dan pikiran kalau lagi berselancar di internet atau media sosial. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Jangan sampai kita menumpuk dosa tanpa kita sadari. Jangan sampai pahala kita habis gegara kita pakai buat mengumpat, ngejulid, nyumpah serapah, ngedebat tiada akhir yang ga berfaedah, ngegosip, ngomen ga penting, pokoknya yang menghabiskan pahala kita tanpa kita sadari. Bahaya banget kan itu. Senangnya cuma sedikit. Ruginya besar di akhir. Loh kok masih ada senangnya sih? Iya senang kan kalau berhasil menghina, nyumpahin, ngebully, ngerendahin, ngebuat orang kalah berdebat, dan lain-lain. Senang sesaat sih ini. Tapi efeknya... hmm tanggung sendiri... 



Islam tidak mengajarkan kita untuk hal-hal tak berfaedah semacam itu. Islam mengajarkan kita untuk selalu ingat Allah, selalu menjaga lisan, dan menjauhkan diri dari hal-hal tak berfaedah. Yuk, kita perbaiki diri kita. Ucap istighfar jika teringat masih banyak dosa. Mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang telah lalu.

Selamat berakhir pekan ya sobat. Sampai jumpa di posting berikutnya. 

Media sosial adalah pedang bermata dua. Bisa menjadi sarana kebaikan, bisa juga menjadi penumpuk dosa. Kita yang memilih. Dan jika kita lalai, ingatlah bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah.


Wednesday, August 5, 2026

Rejeki yang Tak Disangka-sangka

8/05/2026 04:44:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan sehat. Kali ini saya akan cerita tentang kajian bertema Rejeki Tak Disangka-sangka yang diadakan masjid Istiqlal Jakarta dengan pembicara Buya Yahya sebagai pembicara utama dan guest star Ippho Santosa pada hari Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB. 

Awalnya saya tidak tahu ada kajian ini. Sebelumnya saya sempat hadir di kajian bulanan Aa Gym di Istiqlal. Walau saya join instagram masjid Istiqlal tapi saya tidak update buka instagram jadi ketinggalan info. Nah, selama minggu lalu itu saya beberapa kali lewat Istiqlal karena ada dinas luar bersama tim saya. Eh, saya lihat dari kaca mobil itu poster besar di jalan luar Istiqlal. Saya perhatikan, eh itu Buya Yahya dan Iphho. Kapan itu? Ternyata tanggal 2 Agustus. Siplah belum kelewat. Jadinya saya pergi donk ke sana.



Kalau Buya Yahya, pasti banyak yang sudah kenal ya. Beliau ustad kondang. Sebelumnya saya tahu beliau dari youtube. Sudah lamalah saya tahu beliau. Tapi ya ga pernah hadir langsung ke majelis beliau. 

Lalu pembicara satu lagi sebagai pembuka ada Ippho Santosa. Wah, ini mah saya kenal banget. Walau mungkin kalian ada yang ga kenal gapapa. Saya ini tahu beliau dari buku buku beliau bertahun-tahun yang lalu. Mungkin sekitar 2013-2014. Saat itu buku 7 Keajaiban Rezeki yang beliau tulis meledak. Saya baca bukunya dan beliau jadi salah satu penulis buku favorit saya sejak itu. Pokoknya saya borong buku buku beliau. Hehe. 



Jaman dulu buku fisik masih jadi pilihan yang ok banget untuk jadi bahan bacaan di kala pulang kerja. 

Nah, sudah lama saya tidak update perkembangan buku buku selanjutnya yang beliau tulis. Maka saat saya lihat poster ada wajah beliau nampang di sana, wah, itu Iphho, saya langsung putuskan hadir dalam sedetik. Hehe. 

Sebelumnya saya pernah ketemu teman akrab saya sewaktu kuliah dulu dan ternyata dia hadir ke Jakarta karena mengikuti training atau seminarnya Ippho. Dan teman saya ini jadi rekanannya. Wah, saya ga nyangka banget. Ternyata saya dan teman saya ada persamaan yaitu baca bukunya. Bedanya adalah dia jadi rekanan sampai dibela belain datang ke Jakarta, eh saya tidak. Hehe.

Ok, sekian intermezzonya.



Nah, hadirlah saya hari minggu lalu. Acaranya ramai. Jamaah yang hadir banyak. Sayang banget pas Buya yang ceramah eh di tengah mati mic. Tapi untungnya mas Ippho gercep ambil alih audience sampai mic hidup kembali. Keren mas Ippho. 

Sebelum Buya hadir, kita dapat ilmu dan pencerahan dari Ippho. Alhamdulillah ringan tapi mengena. Terima kasih atas ilmunya.

Untuk Buya, beliau hadir sudah jam 2 an ya kalau tidak salah ingat. Cuma sebentar beliau memberikan materi lalu tanya jawab pun hanya 2 orang, eh selesai. Yah... masih kurang lama. Berharap bisa agak lama seperti Aa Gym saat memberikan ceramah minggu sebelumnya. Walaupun singkat, okelah tetap terima kasih atas ilmu yang disampaikan. Untuk masjid Istiqlal, terima kasih sudah menghadirkan orang-orang keren itu. Kami jamaah memang butuh hiburan penyejuk hati. Hehe.

Untuk MC ada Rizky Perdana dan satu lagi saya lupa namanya.

Untuk kalian yang ingin nonton juga bisa lewat youtube masjid Istiqlal ya...


Saturday, August 1, 2026

Cerita dari Obrolan dalam Mobil: Blessing atau Kekurangan?

8/01/2026 08:45:00 PM 0 Comments
Halo Sobat... kali ini saya merenung. Merenung setelah sesuatu hal. Ceritanya begini. Di kerjaan saya ini belakangan kami sering tugas ke luar kantor per tim. Setim kami ada 5 orang. Ketua tim kami ada 1 orang. Setiap ke luar kami selalu bersama dalam 1 mobil di perjalanan. Ketika kami lengkap berlima, suasana di dalam mobil heboh, seru. 3 orang ngobrol sahut-menyahut. Saya lebih banyak mendengar. Begitu pula satu lagi rekan saya. Tapi rekan saya ini masih mending daripada saya. Masih ada suaranya. Nah, di lain waktu, 2 orang rekan yang heboh ini tidak ikut, alhasil tinggal ketua tim dan kami berdua yang ga banyak omong. Dan apa yang terjadi? Vibe jadi berbeda banget. Jomplang. Suasana jadi hening. Bukan berarti tidak ngobrol. Ngobrol kok. Cuma tidak seheboh jika ada 2 orang tadi. Benar-benar terasa bedanya.

Di kesempatan berikutnya, 1 orang rekan yang mirip saya ga bisa ikut, jadi kami berempat. Dan saya lagi- lagi hanya mendengar saja. Dari obrolan mereka, loh kok ada 1 cerita yang saya tahu tapi tak pernah mencari tahu alias puzzle kok jadi lengkap kepingan puzzlenya. Jadi teman saya yang lain di luar ini pernah ngobrol ke saya tapi saya ga tahu saya tidak memperhatikan. Padahal yang dia tanya itu orangnya pas ada di depan saya. Entah saya yang cuek atau tidak mau tahu urusan orang, pokoknya saya ga memperhatikan deh jadinya saya ga tahu. Loh kok setelah percakapan di mobil itu saya jadi jadi dapat jawabannya dengan sendirinya tanpa saya mencari tahu.

Dan herannya ya, walau yang dibahas teman di mobil ini kan saya tahu ya karena saya pas ada di depan orang yang dimaksud, tapi kok saya ga bisa ikut menimpali ya obrolan mereka alias saya hanya diam saja. Pokoknya kelakban ini bibir. Setelah itu saya merenung, padahal bisa banget saya ikut nyambung ngobrol tapi kenapa saya ga bisa ngomong ya? Ini karena saya yang ga suka gosip atau memang ada yang mencegah saya secara tak terlihat atau bagaimana ya. 

Apa karena ini jarang ada orang yang bisa dekat dengan saya ya. Karena ga hidup obrolan kalau sama saya. Mungkin saya terlalu plain kalau ibarat minuman atau makanan. Omg. 

Karena memang obrolan paling seru itu ngomongin orang ga sih? Makin digosok makin sip... hehe


Setelah saya runut-runut lagi, eh iya juga ya. Saya keseringan ga tahu gosip kalau bukan teman saya yang cerita. Kenapa begitu ya. Ini blessing atau bukan ya.

Saya memang ga suka ngomongin orang atau julid julid. Ga ada faedahnya kan ya. Paling ngomongin diri sendiri sih atau lawan bicara atau berita yang lagi viral misal kasus penyekapan dan penganiayaan di Bandung yang heboh itu, atau kasus-kasus kriminal lain karena kebetulan teman sebelah saya duduk di kantor suka berita kriminal juga hehe. Apa karena itu orang menyingkir dengan sendirinya ya. Entahlah. Circle saya juga ga banyak sih memang. Mungkin orang awkward juga mau ngobrol sama saya ya. Hehe.

Menurut saya ya, kalau kebanyakan mendengar atau kebanyakan informasi masuk ke otak itu jadi beban buat otak saya. Jadinya setelah dipikir-pikir mendingan ga tahu banyak tentang orang. Kamu ada yang sama kayak saya ga ya?

Kebanyakan tahu banyak tentang orang juga bisa bikin kita berubah pandangan tentang orang. Seram ga tuh kalau kita orangnya mudah terpengaruh alias ga netral. Karena apa yang kita dengar kan pendapat orang yang entah benar atau tidak. Perlu crosscheck... jangan menjadi berat sebelah atau melihat dari satu sisi saja. Lah kan kita juga mana tahu kalau sumber info yang kita dapat dari orang yang suka sama dia atau benci sama dia. Pintar-pintarlah berdiri di tengah. Kalau tidak, bisa oleng kita ke kiri atau ke kanan. 

Sesungguhnya pendapat orang itu sangat berbahaya loh karena bisa meracuni alias mempengaruhi pemikiran orang lain. 






Sunday, July 19, 2026

Pengalaman Nonton Offline Stand-up Comedy Show: Bold and Bald

7/19/2026 06:34:00 AM 0 Comments
Halo Sobat, lama kita tak bersua ya. Eh, tahu-tahu saya muncul mau posting comedy show. Hehe. Ini gegara baru banget saya habis nonton. Semalam. Yoi semalam... 18 Juli 2026 19.30 WIB di Grand Auditorium Universitas Bunda Mulia Jakarta Utara dengan tema Bold and Bald. Abdel vs Pandji. 


Ini pertama kalinya saya nonton offline. Kok bisa kepikiran nonton offline padahal stand up comedy sih online juga bisa. Iya betul. Jadi saya itu suka nonton stand up comedy di Netflix maupun youtube. Mens Rea aku nonton loh di Netflix. Adili Idola Fedy Nuril nonton juga di Netflix. Dulu-dulu suka nonton juga di youtube kayak acara SUCI. Dulu sempat suka nonton komika yang pakai gitar kecil dari Jawa Timur. Saya lupa namanya. :)

Nah, belakangan ini saya lagi suka banget nonton stand-up nya Max Amini. Itu loh komedian Iran Amerika. Saya suka ketawa sendiri nontonin acaranya di youtube tiap hari. Menghibur banget pokoknya. Saya ngerasa cocok saja sama jokesnya. Stand up lain ada sih pernah nonton jauh sebelum tahu Max Amini misal Matt Rife. Matt ini kecakepan ga sih guys buat jadi komedian? Masih muda lagi. Nah kalau Max aku tahunya belakangan tapi aku suka sama crowd work nya spontanitasnya bagus banget. Selalu ada saja yang dia bilang buat ngeroasting penonton buat ngebalikin apapun respon penonton. Keren banget sih.
Ga pernah kehabisan kata-kata. Dan selalu saja bisa bikin penonton ketawa. Cerdas pokoknya. Suka suka suka saya syuka uhuy :)

Nah, saya tuh jadi kepikiran kapan ya aku bisa nonton langsung juga kayak para penonton itu kayaknya seru deh. Habisnya show nya Max itu keren banget sih. Penontonnya aja jauh-jauh dari negara lain pada rela hadir. Kan Max bikin world tour tuh. Kapan mampir Indonesia ya? Aku mau nonton hehe. Ga di Indonesia juga gapapa. Di lokasi lain juga boleh yang penting Max Amini. Hehe :)

Terinspirasi dari situlah aku coba searching acaranya Pandji eh ternyata ada Bold and Bald yang kala itu baru mau dibuka tiket pre sale-nya. Wah pas banget. Kukontak teman aku deh buat nonton bareng mana tahu mau. Biar ga kayak orang ilang. Soalnya kalau ngajak teman buat nonton kayak gini belum tentu ada yang mau kan. Mana malam lagi acaranya. Berbayar lagi. Hehe. Ya sudahlah jadinya pas tanggal 1 Juni 2026 aku ambil tiket yang silver saja. Silver ini paling belakang. Hehe. Berapa harga tiketnya? Cukup 250 saja. Kalau plus pajak, biaya penanganan, asuransi jadinya sekitar 300 ribu rupiah. Masih terjangkau kan? Masih dong dengan durasi 3 jam worth it. 


Aku bilang ke temanku tapi kita paling belakang duduknya. Iya gapapa katanya. Eh rupanya temanku kalaupun VIP juga mau dia. Yaahh... :)

Nah, makanya kita kemudian nonton bareng semalam. Syukurnya sih semalam nggak padat merayap gitu kayak kalau nonton di GBK. Ya iyalah ya kan di situ paling sekitar 1000 penonton ya. Mirip-mirip kalau ikut kajian ke Istiqlal gitu ga sih. Malah lebih padat istiqlal kali ya. Jadi aman saja pas datang juga ga rebutan lift. Aku sholat magrib dulu baru berangkat ke lokasi. Sampai sana sekitar 18.39. Nah temanku belum sampai tuh. Sekitar jam 7 dia baru sampai. Ya sudah gapapa aku tunggu dia di lobby biar kita masuk bareng. Toh acara  masih jam 19.30. 

Begitu sampai kita langsung masuk lift menuju lantai 8. Di sana ramai ya banyak yang jualan makanan minuman. Kita scan barcode dulu baru masuk ke auditorium. Kita dapat di sayap kanan. Duduknya ini siapa cepat dia dapat ya ga pakai nomor. Dan ternyata masih kelihatan kok panggung dan para komikanya dari sisi silver itu. Ga terlalu jauh amat yang harus pakai layar baru kelihatan. Syukurlah... :)

Kan tempat duduknya gelap ya, begitu saya masuk ke deretan kursi eh saya menginjak kaki pria yang duduk di sebelah saya. Begitu keluar mau pulang pun sama juga saya injak lagi kaki dia. Astaghfirullah... ini bukan kesengajaan loh ya. Saya minta maaf kok. Dan orangnya bilang gapapa. Hehe. Selama durasi 3 jam di sebelah saya ya, orang ini ketawa mulu. Dan dia tim Pandji. 


Loh kok saya tahu? Bukan saya nguping ini ya tapi saya dengar dia ngomong sama rekan sebelahnya. Dan dari tepuk tangannya kelihatan banget kalau pas tim Panji dia tepuk tangan. Saya ga mau kalahlah ya. Kalau setiap habis tim Abdel yang tampil saya tepuk tangan. Hehe. Ups loh kok jadi kompetisi ini. Eh salah. Kalau ini saya bercanda saja. Kebetulan saja saya dan teman saya tim Abdel jadi kita tepuk tangan kencang kalau pas tim Abdel yang maju. Eh, ini saya ga janjian loh Sobat sama teman saya. Saya tahunya juga pas sudah di sana pas sudah mulai stand-up nya. Loh kok dia tepuk tangan samaan melulu kayak saya. Begitu loh Sobat. Lucu ga sih... hehe. Sebagai penonton natural saja gitu kita terbagi tim Pandji atau Abdel. Bisa-bisanya ya begitu...

Jadi stand up nya ini terbagi 3 sesi. Sesi pertama itu perwakilan 1 komika dari tim Abdel dan Pandji yang bersaing lalu kita vote. Sesi kedua ada Abdel dan Pandji masing-masing tampil solo 30 menit. Lalu sesi ketiga crowd work Abdel dan Pandji. Nah saya menikmati seluruh sesi dengan banyak tawa bersama penonton lainnya. Emang butuh hiburan banget ya. Seru banget sih nonton stand up ini bikin happy. Ketawa mulu pokoknya. Butuh sih memang kita relax ketawa tanpa beban menikmati hidup saja gitu. Setelah lelah bekerja boleh dong ya kita self-reward nonton. Vibe-nya beda loh nonton di acaranya langsung dengan nonton di rumah sambil rebahan. Haha. 

Tapi mata saya sudah ga kuat pas menuju jam 10 sudah mulai merem-merem. Dan benar saja saya merem alias ketiduran tepat di sesi crowd work nya Pandji. Huhuhu. Di poster kan acaranya sampai jam 10 malam ya. Eh lebih loh. Pandji selesai crowd work saja sudah jam 22.10. Habis itu masih closing penentuan pemenang battle Pandji Abdel. Dan yang menang secara total adalah Pandji. Nah, sehabis itu saya keluar duluan. Saya khawatir susah cari transport pulang kalau ramai-ramai keluar semua penonton. Terus nanti antri lift turun juga. Jangankan lift, keluar pintu auditorum juga bakal antri kan. Nah ini lega banget ga ada saingan pas keluar. Alhamdulillah lancar jaya. Kami sempat foto dulu di luar auditorium. 

Saya dan teman saya berpisah karena kita beda tujuan pulang. Alhamdulilah lancar banget pas perjalanan pulang. :)

Sampai jumpa di posting berikutnya...

Tuesday, March 31, 2026

Menyesal Setelah Bicara (Merasa Oversharing)

3/31/2026 09:23:00 AM 0 Comments
Sobat, pernah ga sih kamu cerita atau ngobrol sama orang lalu setelahnya kamu merasa menyesal. Kok kayaknya aku kebanyakan cerita ya tadi. Begitu sobat... kamu menyesal karena kamu merasa membuka banyak hal ke orang lain. Meskipun itu bukan rahasia tapi kamu tetap merasa menyesal. 

Kalau kamu pernah, tenang sobat. Kamu tidak sendirian. Saya juga orang yang demikian. Seringkali saya menyesal setelah cerita ke orang. Apa karena saya orang yang private? 

Bisa jadi iya. 

Apakah rasa penyesalan itu adalah pengingat gaib supaya tidak banyak bicara alias menjaga lisan? Hmm... Mungkin bukan soal gaib atau tidak, tapi rasa itu bisa menjadi alarm agar kita lebih bijak memilih ruang bercerita.


Entahlah... mungkin karena saya jadi merasa punya semacam pengingat otomatis tersebut sehingga saya ambil ambil hikmah mungkin itu peringatan buat saya. Sehingga saya seringnya memang ga banyak bicara kecuali dengan orang tertentu dan saya merasa aman.

Itu tadi dari sisi spiritual ya sobat. Namun selain dimaknai sebagai peringatan batin, ada juga penjelasan ilmiah yang cukup masuk akal. Nah, kalau dari sisi psikologi bagaimana?

Sebenarnya merasa oversharing ini fenomena yang sangat umum sih sobat dan biasanya disebut:

1. Post-conversation regret/post-social regret
Rasa menyesal setelah ngobrol karena merasa “aku kebanyakan ngomong” atau “aku harusnya nggak bilang itu.”

2. Social anxiety after interaction (kecemasan sosial setelah interaksi)
Bentuknya bukan selalu takut ketemu orang, tapi lebih ke overthinking setelah selesai ngobrol.

3. Rumination (merenung berlebihan)
Otak mengulang-ulang percakapan, menganalisis detail kecil, lalu muncul rasa bersalah atau malu.

Kadang orang juga menyebutnya secara informal sebagai “conversation hangover” (kayak hangover sosial).

Biasanya ini terjadi karena beberapa hal:

Kamu orang yang sensitif dan reflektif, jadi habis ngobrol otakmu langsung evaluasi.

Kamu punya standar tinggi soal cara kamu harus terlihat (harus kalem, harus tepat, harus nggak oversharing).

Ada kecenderungan people-pleasing: takut orang lain merasa terganggu atau menilai kamu negatif.

Kamu terbiasa merasa “aku harus menjaga diri,” jadi ketika kamu terbuka sedikit, muncul rasa tidak aman.

Padahal kenyataannya, sering kali orang lain nggak mikir sejauh itu. Mereka mungkin cuma menganggap kamu ramah dan asik.

Kalau kamu sering mengalami ini, itu bukan berarti kamu “aneh,” tapi lebih ke tanda bahwa kamu mudah self-aware dan punya kecenderungan overthinking sosial.

Lalu terus kenapa saya menulis di blog ini? Apa tidak menyesal menumpahkan unek unek di blog ini? Kan bisa dibaca banyak orang. Kalau blog ini merupakan bagian dari berbagi dan menebar kebaikan sobat. Toh hanya potongan potongan kecil dari kehidupan saya yang saya posting dan saya selalu berusaha memberikan refleksi agar bisa menjadi manfaat buat para pembaca. 

Bercerita itu risiko. Tapi jika dilakukan dengan kesadaran, niat baik, dan batasan yang jelas, itu bukan sekadar "oversharing". Itu adalah berbagi kebijaksanaan. Dan rasa canggung setelah bercerita bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa kita manusia yang sadar akan diri dan peduli pada orang lain.

“Bercerita itu manusiawi, tapi memilih kepada siapa kita bercerita adalah bentuk kebijaksanaan.”

Sampai jumpa di posting berikutnya...

Friday, March 20, 2026

Selamat Hari Raya Idul Fitri 2026

3/20/2026 09:15:00 PM 0 Comments
Halo sobat! Selamat hari raya idul fitri di tahun 2026 ini. Mohon maaf lahir dan batin. 

Alhamdulillah kita ketemu lagi di tahun ini. Semoga tahun depan kita masih bisa kembali menyaksikan hari raya ini. Semoga kita diberi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kelapangan rezeki dan umur yang berkah.
Aamiin.

Bagaimaan sobat? Apakah kalian merayakan idul fitri ini bersama keluarga? 



Saya saat ini berada bersama keluarga saya di kampung. Alhamdulillah saya bertemu keponakan saya hari selasa 17 maret lalu kita mudik bersama rabu 18 maret 2026. Dikarenakan idul fitri jatuh pada hari sabtu 21 maret 2026 makanya kita punya waktu beberapa hari puasa di kampung. 

Senang atau sedih sebenarnya ya kalau idul fitri ini? Idul fitri ini kan sudah tradisi di Indonesia kita usahakan untuk pulang kampung bertemu keluarga. Walau bagaimanapun caranya. Pastinya harus siap duit buat mudik hehe. 

Senang juga sih bisa kumpul keluarga. Hari ini memang beda sih dari hari raya lainnya. Perayaannya memang wah banget dibanding hari lain. Dan budaya mudiknya itu yang juga luar biasa. Tapi seru sih memang. Kita ngerasain mudik. Ada keluarga yang nungguin kita dan kita juga pengen ketemu. Apa jadinya kalau sudah tak ada keluarga? Pasti sedih ya. 

Kalau di kampung perayaan ini banyak kue dan makanan kecil. Lalu pasti dong ada opor, ketupat, lontong dan sebagainya. Banyak banget makanan sampai bingung apa yang mau dimakan. 

Waktu kecil saya ingat banget kayak ga doyan makan kue kue di rumah. Tapi pas lewat lebarannya habis eh enak banget makan kue kue itu. Hehe. Kamu ngalamin juga ga ya sobat?

Ok sekian dulu posting dari saya selamat idul fitri.

Wednesday, March 11, 2026

Buka Puasa Bersama Ketiga

3/11/2026 02:39:00 PM 0 Comments
Buka puasa bersama kali ini adalah buka puasa bersama ketiga saya selama bulan ramadan tahun 2026. Kali ini pesertanya ada sejumlah 16 orang. Lumayan banyak. Dan ini adalah teman-teman saya yang membuat saya berasa muda terus. Hehe. 

Untuk lokasi yang dipilih adalah Saung Kita Kramat Sentiong. Lokasinya ada 2 lantai dan menjelang buka puasa itu ramai sekali. Full. Reservasinya saja sudah jauh hari sekitar 2 minggu sebelum. 

Untuk makanan variasinya ada banyak. Harga masih terjangkau under 100k. Menunya menu nusantara. Cocoklah untuk lidah orang Indonesia. 




Yang membuat saya cocok di sini karena ada banyak pilihan menu ikan. Walau dari segi rasa tidak tahu ya. Yang penting ada ikan karena saya suka ikan. Hehe. Saya pilih paket pindang ikan patin. Lumayan kok rasanya. Cuman di sini ikannya digoreng. Kuahnya terlalu asam dan lebih mirip sayur asam. Beda dengan pindang patin di Lampung. Saya cocok pindang patin di Pindang Meranjat Lampung. Menurut saya pas rasanya.

Ok lanjut. Untuk buka bersama ini ternyata kita harus bawa snack masing-masing karena nanti akan ada game. Gamenya apa? Truth or dare. 




Ternyata nih ada surprise ulang tahun loh. Heboh deh. Mirip kayak di Amanaia Restoran. Kali ini teman saya yang dikasih surprise. 




Terima kasih banyak teman-teman yang sudah menyiapkan ini semua. Kalian keren! Selamat berpuasa semuanya. Semoga kita semua sampai pada Idul Fitri kali ini dan berkumpul dengan keluarga. Semoga tahun depan masih bisa bertemu ramadan lagi. 

See you...



Begini Rasanya Patah Hati

3/11/2026 10:57:00 AM 0 Comments
Halo sobat, apa kamu pernah patah hati? Bagaimana rasanya? Sedih? Kecewa? Sakit?

Patah hati tidak melulu karena pasangan ya sobat. Bisa karena kehilangan sahabat, guru, dan sebagainya. Intinya adalah orang-orang yang pernah ada ikatan dengan kita entah itu ikatan keluarga, pertemanan, guru-murid, dan sebagainya.

Kalau kamu pernah merasakan, apakah kamu menangis? Menangis ini tidak literal menangis mengeluarkan air mata karena tidak semua orang bisa mengeluarkan air mata. Tapi kesedihan tetap terasa. 

Saya baru saja merasakannya sobat. Jadi ceritanya saya kan punya tutor. Sebenarnya tutor ini adalah tutor yang aku paling less attach. Setiap kali mau pelajaran dia berasa berat. Kenapa berat? Karena selalu ada PR dan aku selalu mengerjakannya di hari yang sama sebelum pelajaran mulai. Selain juga aku harus selalu menyiapkan ada video yang kutonton untuk nantinya kuceritakan. 


Ini tuh berat. Entah akunya yang membuat berat atau bagaimana ya. Tapi aku selalu mengerjakan walau apapun juga. Aku selalu prepare. Dan di satu hari itu aku kosongkan jadwal tidak ke mana-mana karena aku mau prepare tugasku. Mencari video yang cocok untuk diceritakan ternyata tidak mudah. Mungkin akunya yang perfeksionis atau gimana entahlah ya. Tapi jadinya seperti beban. 

Padahal sih kalau misal ditanya video apa yang ditonton dan kujasab tidak ada pun tak masalah. Tidak kenapa-kenapa begitu loh. Tapi secara psikologiku iti ga mau begitu. Aku harus well prepare. Entah nantinya ditanya atau tidak yang penting aku sudah siapkan. Jadi aku merasa secure begitu. Tapi jadinya seperti menyulitkan diriku sendiri. Ya begitulah diriku. Harap maklum sobat. Jangan ditiru yang tidak baiknya. Ambil baiknya saja ya. Hehe.

Tapi yang aku alami nih sobat. Ketika pelajaran mulai ya aman-aman saja. Aku malah happy. Kalau kita ada salah-salah ya wajar ya karena kita kan belajar. Aku selalu engaged. Fokus. Sampai pelajaran berakhir aku tetap mengikuti dengan baik. Intinya setiap kali selesai pelajaran justru aku merasa recharge dan happy. Kenapa bisa begitu ya?

Kalau sebelum pelajaran berat banget rasanya, badan capek pegal-pegal. Tapi rasa berat ini kukalahkan dengan segera bersiap-siap sebelum waktunya minimal 10 menit sebelumnya. Aku selalu datang lebih awal dan tidak pernah sekalipun terlambat. Aku selalu menunggu tutorku hadir. Jadi setiap tutorku hadir aku sudah ada di room. Tutorku pun selalu on time. Kalau waktunya jam 20.00 ya pas 20.00 dia masuk room. 

Selama 22 meeting alias hampir 5 bulan ini hanya 2x dia telat dan itu cuma 1 menit. Dia pun selalu bilang maaf. 

Tutorku ini sangat profesional. Dia benar-benar mengajar. Dia ga pelit ilmu. Dia pelan-pelan mengajariku karena ternyata aku masih perlu banyak koreksi darinya. Memang aku ambil dia sebagai tutorku karena aku perlu koreksi. 

Seberat-beratnya aku merasa sebelum mulai pelajaran dengannya tapi setelah pelajaran aku selalu merasa materi darinya itu berharga banget. Penjelasan darinya itu jelas banget sehingga mudah diterima dan dimengerti oleh otakku. Dengan kata lain aku match dengan cara mengajarnya. 

Otakku ini cocok dengan logika penjelasannya. Karena aku tipe orang yang kalau tidak mendapat logika aku susah mengerti suatu konsep. Jadi, logika ini oenting banget buat mengerti konsep dibanding repetisi. Repetisi penting juga untuk mendapatkan logika ataupun untuk menguatkan pemahaman biar ingat terus. 

Aku banyak belajar darinya. Dan ini baru babak awal. Aku baru mendapat fondasi darinya. Aku belum bikin dinding dan atap.

Bulan keempat, dia pertama kali naikkan harga. Dia bilang dia capek kelamaan di depan layar. Dia juga dapat kerjaan ngajar offline. Padahal murid online nya banyak sekali terakhir kucek ada 49 orang. Ini setelah dia naikkan harga loh. Dia tuh memang high quality tutor banget makanya walaupun saat pertama aku ambil dia untuk jadi tutorku tuh masih tutor baru hitungannya (walau realnya sangat berpengalaman), cepat sekali dia dapat murid baru. Dia sendiri cerita ternyata tidak sulit dapat murid. Padahal itu pertama kalinya dia mengajar online.

Oya, aku tuh sempat kepikiran kalau misal dia naikkan harga lagi, aku bakal stop sepertinya. Walau di sisi hati yang lain bilang jangan dulu. Tinggal kurangi saja frekuensinya jangan berhenti total. Tapi kalau pas merasa berat sebelum pelajaran ya rasanya begitu hehe. 

Nah semalam, di meeting 22 dia bilang ke aku kalau dia akan berhenti ngajar online. Dia capek di depan layar terus. Tidak sehat katanya. Terus mulai awal april dia dapat kerjaan ngajar offline. Jadi dia ga akan balik lagi. Saat itu, aku strong banget sobat. Aku ucapkan selamat loh. Berarti kelasku selesai sampai akhir bulan maret ini. Ok gapapa kataku. Lalu kelas jalan lagi seperti biasa melanjutkan materi. Tapi setelah kelas kok aku jadi bad mood. Ada apa denganku?

Tadi di kantor saya replay audio belajar saya. 
Pas tutor bilang, "It is sad.. I like teaching you. You did your work. You improve all the time. You're a great student. It's been a pleasure teaching you.

Hiks langsung sedih. Eh malah meneteskan air mata. Padahal pas dengar langsung biasa saja. Kenapa begitu ya. Mendramatisir banget kayaknya. Emang saya yang sensitif banget sih ini. Mungkin hati saya terlalu lembut sehingga mudah menangis.

Teman sebelah saya langsung nanya saya kenapa. Hehe. 

Mungkin dia pikir segitunya amat. Cengeng banget. Masa gitu aja nangis. 

Tapi memang baru kali ini sih yang saya merasa kehilangan sosok yang banyak ilmunya terus belum rela gitu loh. Belum siap. Tadinya saya berpikir masih bakal belajar sampai akhir tahun ini minimal. Dulu di awal saya bilang ke dia sampai saya siap. Maksudnya saya sudah matang belajar. Eh ga taunya dia duluan yang berhenti. Jadi semacam shock terapi gitu. Walau sebelumnya saya pernah kepikir berhenti tapi saya belum pernah benar-benar jadi berhenti. Makanya saya shock pas dia duluan yang berhenti. Mental saya belum siap. 

Karena memang masih tahap awal saya belajar sama dia walau sudah 5 bulan jatuhnya. Ibaratnya baru mau melangkah ke tahap berikutnya eh kandas. Padahal proyeksi saya bakal sampai saya serap semua ilmunya sampai akhir. Makanya saya tuh kayak kehilangan sumber ilmu yang sangat penting untuk pertumbuhan diri saya. Jadi kayak oleng pertahanan saya. Okelah mungkin bisa cari tutor lain tapi yang seperti dia mungkin sangat sulit dicari.

Dari kejadian ini saya tuh merenung. Mungkin begini yang dirasakan orang-orang jaman dulu yang ketika seorang imam meninggal dunia mereka akan bersedih karena kehilangan orang yang begitu banyak ilmunya. Itulah kenapa orang jaman dulu sangat menghargai guru. Dulu tuh saya ga kepikiran kenapa sih orang jaman dulu tuh bisa segitu sedihnya pas kehilangan imam atau guru. Selama ini saya belajar dengan banyak guru ga pernah segitunya sih. Makanya kali ini kayak oh mungkin begini yang dirasakan orang jaman dulu.

Saya merenung juga kenapalah seusia saya ini kok ya bisa mengalami ini. Maksudnya bisa cengeng begini ketika dihadapkan hal begini. Aneh banget. Hehe.

Sobat, kamu pernah ga sih ngalamin hal begini?

Ok sobat sekian sesi curhat kali ini. See you. 

Kehilangan tidak selalu datang dengan pemberitahuan. Kadang kita baru sadar seberapa besar arti seseorang setelah mereka pergi. Dan tidak apa-apa menangis bahkan di kantor, bahkan untuk seorang guru. Itu bukan cengeng. Itu manusiawi.

Menjadi manusia berarti merasakan. Dan merasakan berarti kadang harus menangis. Dan itu tidak apa-apa. 🥲💔📚

Catatan: Mungkin saja farewell ini dia ucapkan ke semua muridnya who knows. Tapi hal itu tidak menggugurkan fakta dia ucapkan itu langsung. Mungkin ada pembaca yang merasa ih berlebihan banget reaksinya. Ya itu benar. Karena ini saya yang mengalami dan merasakan. Makanya tulisan ini ada. Ok? ✌️

10032026

Monday, March 9, 2026

Konflik dengan Tetangga harus Bagaimana?

3/09/2026 10:59:00 AM 0 Comments

Halo sobat, kemarin saya buka puasa bersama dengan teman saya. Teman saya yang ngajak tapi dia bingung mau ke mana. Karena saya pernah ke Kedai Steak Nusantara makanya saya sarankan di situ. Dan dia juga maunya yang under 100k. Jadi pas banget. Di sana juga makanannya lumayan bervariasi dan banyak makanan nusantara. Cocoklah buat orang Indonesia.

Kami janjian jam 16.30 karena khawatir ga dapat tempat. Biasalah ya kalau lebaran biasanya rata-rata rumah makan full kalau buka puasa. Rata-rata tempat duduk sudah direservasi. Waktu saya hubungi teman saya katanya bakal on time. Dia sudah di stasiun. Dan ternyata ya saya duluan sampai dong. Saya on time. Saya duduk duluan cari tempat. Yang tersisa di ruang AC tinggal 2 tempat duduk yang dekat orang lalu lalang. Sisanya masih ada di luar alias non AC. 

Saya duduk dulu di ruang AC sambil nunggu teman saya datang. Agak lama ya nunggu dia. Pas dia datang dia pilih di non AC. Ya sudah kami pindah. Lalu kami pesan duluan karena untuk buka puasa harus dipesan maksimal jam 5. Setelah itu masuk kloter kedua setelah azan magrib. Saya pesan terderloin steak, soto daging (takeaway) dan teh panas karena lagi tidak enak badan. Teman saya pesan soto daginh dan salad daging. Lalu mulai kita chit chat.


Teman saya ini ngajak saya buka bersama karena katanya ada banyak yang mau diobrolin. Saya tunggu-tunggu tuh. Saya pikir lagi galau karena ketemu sesorang yang disuka. Eh ternyata salah perkiraan haha.

Dia sedang ada konflik dengan tetangga secluster. Dia cerita panjang lebar. Jadi penyebabnya adalah mobil dia menginjak 1 barang developer tetangga yang teman saya ini tidak tahu barang apa karena kecil dan tidak tahu juga kalau dia menginjaknya ketika masuk ke dalam pagar cluster.

Lalu teman saya didatangi tetangganya dipencet bel tapi tak dengar. Dia disentil di grup clusternya tapi juga diajakin iuran buat ganti barang yang diinjaknya itu. Teman saya ini dengan tegas bilang ga mau ganti. Dia juga tersinggung dengan kata kata teman di grup whatsappnya itu. Dikeluarinlah dia dari grup katanya.

Lalu dia kasih lihat saya chat privatenya dengan salah satu teman di cluster. Sebagai orang yang netral, dari bahasanya sih sebenarnya mereka baik-baik loh ngomong ke teman saya. Bahkan mereka mengajak iuran bukan minta teman saya sendiri yang ganti. Mereka juga sebagai tetangga bilang kalau mereka siap bantu loh kalau teman saya kenapa-kenapa. Karena kan teman saya sendirian ya.

Tapi memang teman saya ini orangnya individualis. Dia tidak mau bergabung dengan mereka. Dari sikap teman saya melihat teman saya ini cukup angkuh dan sangat keras orangnya. Ketika dia lewat, dia berharap tetangga yang melihat yang barang mengganggu di jalan yang mengambil. Saya bilang ke dia, "Jangan andalkan orang lain. Kamu tidak punya kendali terhadap orang lain. Kamu punya kendali terhadap dirimu sendiri. Apa yang bisa kamu lakukan adalah kamu turun. Tidak ada salahnya kan?"

"Ya tidak salah sih. Tapi dalam pikiranku seharusnya tetangga yang melihat itu yang turun dan mengambil," jawab dia.

Sobat, kalian bisa melihat kan betapa angkuh dan kerasnya teman saya. Saya bilang terus terang ke dia dengan sifatnya ini. Dia mengakui. Jadi ini valid ya. Saya bilang dia bukan keras lagi tapi sangat keras.

Tidak ada salahnya toh untuk turun dan mengambil barang yang menghalangi. Kenapa pula harus mengandalkan tetangga? Tidak perlulah terlalu angkuh mentang-mentang ada dalam mobil. Dan merasa yang menghalangi jalan umum adalah pihak developer dan mobil pickup yang yang parkirnya tidak pas. 

Saya bilang supaya dia humble sedikit. Sedikit saja dulu kalau belum bisa banyak-banyak. Hehe.

Untuk orang seperti dia yang memang individualis, dengan tetangga maunya say hi saja, ya lalu kenapa ketika menghadapi hal kecil seperti dia dengan mobilnya yang akan masuk ke cluster terhalang, eh berharap tetangga yang melihat yang membersihkan? Kenapa begitu? Kan tidak masuk akal. Kenapa tidak mengandalkan diri sendiri saja?

Ya sebenarnya beberapa barang sudah diambil sama developernya. Tidak tahu ada satu yang kelewat.

Perihal iuran, teman saya kan ga mau ya iuran karena merasa tidak tahu. Dan menurutnya juga belum tentu itu developer minta ganti. Nah, di sini kembali betapa angkuhnya temans saya ini. Saya sangat tidak rekomen untuk sobat pembaca blog saya bersifat semacam ini. Menurut hemat saya, dari whatsapp tetangganya saya melihat itikad baik dari mereka loh untuk ngajak iuran. Catat: iuran. Bukan bayar sendiri. Sebagai orang yang walau tidak tahu tapi secara fakta sudah menginjak, alangkah baiknya menyambut ajakan tetangga. Bukan dengan menolak mentah-mentah dengan alasan tidak tahu sehingga dia tidak merasa bersalah. 

Di sini kita melihat fakta loh dan niat baik tetangganya itu. Jika pun keberatan mengeluarkan uang karena merasa tidak bersalah, bisalah ya kita tekan ego dulu dan  bilang bersedia. Dan bisa juga dikomunikasikan dengan bilang, "Iya mbak boleh infokan saja nanti kalau  developer minta ganti. Kalau misal nggak, berarti ga perlu ya mbak."

Sebenarnya teman saya ini memang kurang komunikasi dengan tetangga. Dia selalu merasa semuanya dia bisa sendirian. Kalau ada apa-apa itu bukan tetangga yang bisa bantu tapi suami. Padahal ibunya sudah mengingatkan agar bergaul dengan tetangga. Kalau ada apa-apa tetangga dekat yang bakal membantu. Nah teman saya ini keras sekali. Dia memang mengalami ketidakcocokan dengan tetangganya. Tapi walau bagaimanapun juga kan bisa ya seharusnya menjaga hubungan baik. Tidak harus selalu ikut acara-acara mereka jika memang tidak suka. Setidaknya kasih ucapan tidak bisa bergabung atau apalah ya basa basi gitu. 

Saya bilang juga ke teman saya, kan sekarang belum ada suami. Lagipula kalau pun ada suami, misal suami pas jauh, kamu kenapa-kenapa siapa yang bisa bantu kamu? Pasti tetangga kan?

Begitulah sobat... pokoknya saya counter attack terus dia. Tipe seperti ini harus kita lawan dengan argumen yang bisa mematahkan pola pikirnya. Tipe seperti ini harus ketemu dengan orang yang levelnya bukan di bawah dia minimal dari segi pendidikan. Dan cara bilangnya juga harus lembut. Dia tidak terainggung kok kalau saya kritik dia. Munhkin karrna sudah akrab sih. Dan seringnya dia mengakui apa yang saya kritik karena memang itu fakta. 

Sebagai teman saya memang bilang apa adanya. Saya tidak menutupi apa yang saya lihat. That's what friends are for, right?

Sobat, sebenarnya saya cerita ini supaya ada hikmah yang bisa dipetik. Saya ingin sobat semua belajar jadi manusia yang humble. Bukan maksud saya membocorkan obrolan saya dengan teman. Ini semua murni karena kepedulian saya agar kita menjadi hamba-hamba yang lebih baik budi pekertinya. Dan menurut saya obrolan saya ini bukan hal privat. Konflik dengan tetangga adalah hal umum yang terjadi di lingkungan kita.

Bahkan nih sobat, ini hal lucu sih menurut saya. Teman saya cerita dia pernah sahut-sahutan komen Instagram sindir-sindiran di akun seseorang yang dia tidak kenal. Dia bilang seru. Apalagi kalau dia menang. Hadeh, kok saya tidak kepikiran ya buat begituan. Teman saya ini memang suka bikin masalah deh ya. Ketawa-ketawa saja dia pas cerita. Jadi hal kayak gitu semacam kepuasan buat dia kalau menang. Dan lagi di dalam komennya itu mengandung keangkuhan. Dia pun sadar loh. Lalu dia hapus komen-komennya setelahnya karena dia sadar kok dia angkuh banget. Hehe

Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan. Komunikasi yang baik bukan basa-basi, tapi investasi sosial. Dan teman sejati bukan yang selalu setuju, tapi yang berani berkata jujur dengan cara yang lembut dan penuh cinta.

Menjadi manusia yang baik itu sederhana. Cukup rendah hati, mau berkomunikasi, dan tidak egois. Tapi sederhana bukan berarti mudah. Dan di situlah perjuangannya. 🏡💬

Bagaimana sobat? Apa kamu punya cerita seru seputar tetangga?

Sekian dulu ya sobat cuap-cuap bulan ramadan. See you.

Sunday, March 8, 2026

Tradisi Beli Baju Baru Buat Lebaran: Begini Drama Antri Fitting Room

3/08/2026 10:45:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, sepertinya kita jadi lebaran ya alhamdulillah. Sebentar lagi nih ga terasa. Kalian sudah beli baju belum?

Ini nih tradisi Indonesia banget kalau lebaran yang masih hidup sampai saat ini. Beli baju baru. Sebenarnya saya ga niat beli baju loh ini di tahun ini tapi kok malah jadi borong baju akhirnya. Biasa, laper mata. Kalau lihat 1 gratis 1 wah lumayan nih bisa buat ibu saya 1 nya. Ya begitulah... kena trik marketing.

Kamu pernah ngalamin juga ga sobat?

Tapi ada yang bikin saya was was kalau beli cuma 1 buat ibu saya, nanti the sisters saya bakal ngiri apa ga. Dag dig dig. Karena sisters saya khususnya yang 2 orang itu memang irian jaya banget sifatnya sama kayak ibu saya hehe. Pokoknya kalau saya kasih apa-apa itu mereka juga pasti harus saya pikirkan. Itulah lucunya punya saudara perempuan sobat. 


Saya ceritain nih ya. Awal ramadan saya ditelpon kakak perempuan saya yang sulung. Dia bilang dia beli toples bagus. Gimana ini nanti ibu pengen kalau tahu. Hmm sudah curiga saya. Dan benar dong ya kecurigaan saya. Jadi ibu saya itu dibeliin toples yang sama. Tapi saya yang suruh bayarin nanti kalau pulang kampung. Weleh-weleh jadi punya utang nih saya. Pulang-pulang siap bayar utang... itulah kelakuan sisters saya. Ada-ada saja. Karena katanya nantinya toples itu juga buat saya makanya saya yang suruh bayarin. Modus banget ga sih sobat. Hehe.

Ya sudahlah saya bisa apa. Mungkin saya terlalu lunak jadi saudara. Tapi ya begitulah hal-hal lucu di keluarga saya. Saya sih ga menjadikan ini masalah. Jika saya ada rejeki ya saya legowo saja. Toh ga mahal-mahal amat juga. Masih terjangkau.

Ok kali ini saya mau bahas soal antrian di tempat beli baju. Saya ngantri di fitting room pertama itu ngantri lama banget. Lamanya itu karena orang yang nyoba baju memang lama banget nyobanya. Ga tau berapa banyak baju yang dicoba. Berapa kali muter muter di depan kaca. Nah kalau ini sarkas ya sobat. Hehe.

Tapi sumpah lama banget. Saya kan ngantri itu berharap kalau ada pintu yang dibuka ya saya masuk ke pintu itu duluan. Ternyata ga begitu ya sobat. Orang di belakang saya nyelonong saja maju ke depan pintu. Kan ada 4 pintu. Jadi dia dan mereka ngantri nunggu di depan masing masing pintu. Lah kalau begini saya keserobot terus dong. Wah, ga bener ini cara ngantri begini. Harusnya yang datang duluan itu yang dapat giliran kalau ada pintu yang dibuka. Nah, ini ga begini coba. Ga adil sih ini menurut saya.

Ok, setelah saya dapat giliran saya coba ga lama-lama. Kasihan orang lain yang mau nyoba juga. Karena kan ini mau lebaran jadi banyak pengunjung pada mau nyoba baju.

Setelah ini saya lihat-lihat baju lagi dan ada yang mau saya coba. Saya menuju fitting room lain lagi. Kejadiannya sama dong ya. Lagi-lagi saya keserobot orang mulu. Orang langsung pada ke depan pintu. Padahal saya sudah duluan nunggu. Haduh. Parah ini sih. Sampai ibu-ibu tua yang pas saya datang ada di situ lalu pergi eh pas datang lagi dilihatnya saya masih disitu juga belum dapat giliran. Akhirnya saya disuruh duluan ketika pintu di depan ibu itu dibuka. Terima kasih, Bu...

Orang yang di dalam pintu depan ibu itu lama banget di dalam. Entah berapa baju yang dicoba. Dan saat pintu dibuka eh dia keluar tapi baju-bajunya masih di dalam. Katanya belum kelar. Terus, dia tinggalin anak kecil mungkin usia 1-2 tahun di dalam fitting room sendirian. Anaknya keluar pintu. Kayaknya bingung nih anak ibunya ke mana. 

Saya mikir. Kok ya anak usia segitu ditinggal sendirian? Kok ya percaya banget gitu. Kalau anak itu hilang bagaimana? Dibawa pergi orang misal. Kan bisa itu anak dibawa juga keluar dulu. Toh baju-baju yang dicoba masih di dalam, orang ga akan masuk juga. Ibu itu juga bilang belum selesai. Orang lain pasti tahu diri ga akan masuklah. Apalagi ada baju-?baju dan anak kecil di dalam. Mungkin maksud ibu itu biar anaknya jaga di ruangan. Atau mungkin karena malas saja bawa anaknya keluar toh masih balik lagi. Mungkin loh ya ini sih spekulasi saya saja. Sok tahu deh saya. Uhuy.

Mungkin ibunya itu keluar ngambil baju lain lagi kali ya. Terus masuk lagi. Parah banget. Itu ruangan dikuasai sendiri. Sampai ibu yang ngobrol sama saya tadi itu bilang harusnya keluar dulu biar yang lain bisa gantian. Kayaknya memang ga tahu diri banget sih ini. Berapa baju yang dicoba ya. Maksimal 5 loh tulisannya. Tapi memang bisa saja lebih siapa juga yang mau cek-cek. 

Pintu lain juga sama lamanya. Kalau pintu dibuka, eh karena kelar tapi ada yang lainnya ikut masuk. Atau ada suami masuk. Ya ampun... Ga kelar-kelar.

Ga kasihan pengunjung lain yang ngantri. Separah ini loh. Dua jam saya di sana habis waktu buat dua kali ngantri. Kalau di kasir sih cepat. Ngantri fitting room yang lama. Ga nahanlah pokoknya. Mana kita puasa ya. Sampai saya lemas. Mana badan lagi kurang enak karena mau flu. Hehe. Kalau ini sih masalah pribadi saya ya.

Sobat, bisa ga ya budaya ngantri itu dibenahi? Sebenarnya adanya budaya antri itu dibuat supaya ada keadilan orang yang sama-sama menunggu. Siapa cepat dia dapat. Dalam artian siapa duluan datang akan dapat giliran duluan dibanding yang datang belakangan. 

Kalau fenomena di atas itu awut-awutan. Orang tidak tahu diri dan tidak memikirkan orang lain. Yang penting dia sendiri puas. Kok egois banget ya. Kalau pas sepi sih mungkin okelah ya. Ga ada saingan gitu loh. Lah dalam kondisi ramai begini kok ya seegois itu. Kok bisa begitu ya. Apakah ini mencerminkan dalam kehidupan sehari-hari juga begitu? Egois. Masa bodoh dengan orang lain. 

Entahlah. Saya merasa ga pas saja dengan kasus yang saya alami di atas. 

Kalau kamu bagaimana sobat? Pernah ngalamin ga? 

Masyarakat yang beradab tidak dibangun oleh aturan besar saja, tapi oleh kesadaran kolektif dalam hal-hal kecil. Ketika kita egois di fitting room, itu cermin dari bagaimana kita mungkin bersikap dalam kehidupan yang lebih luas.

Menjadi manusia yang baik tidak selalu tentang hal-hal besar. Kadang, cukup dengan mau bergantian di fitting room. 👕🛍️


Friday, March 6, 2026

Buka Puasa Bersama Gratis

3/06/2026 10:25:00 AM 0 Comments
Kamis, 26 Februari 2026 sore hari saya dapat pesan whatsapp dari teman saya. Dia bilang aku mau ikut ga buka puasa bersama. Dia mau traktir the boys. The boys ini teman kami cowok-cowok 3 orang ya sobat.  Wuih ada apa nih pikir saya. Tapi ini mendadak banget ya. 

Acaranya direncanakan sore itu juga di restoran Toko Daging Nusantara Salemba. Okelah tidak terlalu jauh. Kami juga pernah 2 kali makan di sana. Tapi, sebenarnya jam 8 malam saya sudah ada agenda. Kalau pulang kerja kan sebenarnya capek ya sobat. Saya mager. Maunya pulang kerja itu istirahat. Kenapa tidak hari libur saja ya acaranya. Tapi kemudian saya pikir ya sudahlah daripada di rumah terus ya kan.

                                            

Saya iyakan tapi saya bilang jam 7.15 saya pulang karena jam 8 saya sudah ada agenda. Teman saya ok ya sudah. Dan mereka sudah kumpul dari jam 5 sore katanya. Saya nyusul saja. Ok deal.

Sepulang kantor teman saya telpon. Katanya berubah tempat jadi ke Senayan karena mau sekalian booking tempat buat buka bersama tanggal 10 Maret 2026. Hmm, jauh ya kalau Senayan. Saya bilang skip. Lagian sudah sore juga itu. Tidak keburu pulangnya karena saya ada agenda jam 8. 

Begitu saya mandi, eh teman saya telpon lagi katanya berubah lagi ke tempat awal. Saya diminta datang. Ok akhirnya saya datang. Beberapa menit sebelum buka baru sampai. Mereka sudah pesan makanan. Tak apa saya menyusul. Saya bisa sholat magrib dulu. Ternyata nih ya traktirannya 2 ronde. Gila banget. Kaget dong saya. Ronde pertama adalah makan steak. Ronde kedua nasi. Ya maklumlah ya yang ditraktir itu the boys makanya sudah pasti kalau cuma steak ga nampol ya.



Akhirnya saya pesan tenderloin steak dan bungkus soto daging. Awalnya saya berniat mau bayar sendiri buat soto dagingnya tapi ternyata dibayarin juga. Alhamdulillah terima kasih semoga berkah traktirannya semakin banyak rezekinya. Aamiin. Di restoran ini lumayan juga loh pas datang masih dapat tempat duduk padahal tidak reservasi. Biasanya kalau buka puasa itu di mana-mana penuh. Di sana disediakan juga kurma gratis. Ada mushollanya juga jadi aman banget kalau mau sholat.  

Ternyata oh ternyata ini adalah perayaan ulang tahun teman saya yang seharusnya di bulan desember tapi dialihkan ke buka puasa ini. The boys sudah bawa kue ulang tahun. Mereka tidak ada yang memberitahu saya loh. Ya sudahlah saya ikut nyanyi dan memberi ucapan saja. Mendoakan supaya sering-sering traktir. Hehe.




Teman saya cerita rencananya mau ke Thailand pas libur lebaran bareng salah satu the boys. Dia mengajak saya. Saya bilang ga bisa. Saya pulang kampung. Tapinya ya. Mereka itu sudah beli tiket. Sudah bikin itinerary dan lain-lain. Lah bagaimana mereka ngajakin saya dalam kondisi begitu? Berarti mereka ngajak saya cuma pelengkap saja. Teman saya bilang kalau mereka bayar tiket saja nyicil 3x. Kalau saya kan tidak ada masalah finansial bisa kapan saja booking. Aamiin ya saya aminkan.

Tapi saya tidak setuju dengan rencana yang begini. Kalau saya tidak dilibatkan dari awal berarti saya tidak penting. Masa semuanya sudah beres saya baru diajak. Artinya ada saya maupun tidak, itu tidak penting. Mereka akan tetap berangkat. No no no.. saya ga mau ya begini.

Saya pribadi kalau mau jalan harus menyesuaikan tanggal dulu kapan saya free. Kalau begini kan mereka sudah tetapkan tanggal dan lain-lain. Tidak ada kompromi dengan saya. Makanya saya tidak setuju yang begini. Dan juga dadakan buat saya. Saya ga bisa.

Saya ini tipe well prepared. Mental psikologis saya harus siap. Kalau tidak, mending tidak usah. Bukan tipe grasak grusuk gradak gruduk. 

Kalau dengan teman saya yang lain, saya mau meet up saja janjiannya seminggu sebelum. Kalau misal pas hari H gagal ya ga masalah. 

Nah sementara teman saya ini memang sukanya dadakan. Kalau dadakan malah jadi katanya. Saya juga ada teman lain yang sukanya dadakan makanya sulit banget kami ketemuan. Karena setiap kali dia ngajak meet up itu selalunya pas dia ada keperluan ke tempat yang dia tuju. Jadi sekalian saja ngajak saya gitu. Tidak pernah menyengaja memang mau meet up saja. Kalau mendadak gitu biasanya saya tolak sih sobat. Bukannya saya ga fleksibel. Tapi keseringan saya sudah ada agenda atau memang kalau mepet gitu saya perlu persiapan mental. Ya begitulah sobat.

Apakah kalian ada yang sama dengan saya? Kalian tim dadakan atau tim terencana?

Begitu jam 7.15 malam, saya pamit pulang duluan. Teman-teman saya masih lanjut dan cari tempat buat buka puasa tanggal 10 Maret 2026 nanti.

Sobat, tidak apa-apa untuk tidak selalu bisa mengikuti irama orang lain. Bahwa kita berhak punya cara sendiri dalam bersosialisasi dan itu tidak membuat kita menjadi teman yang buruk.

Pertemanan yang sehat bukan hanya tentang bisa bersama, tapi juga tentang saling memahami cara masing-masing dalam menjalin hubungan. Ada yang butuh perencanaan matang, ada yang spontan. Yang penting adalah saling menghormati batasan, bukan memaksakan cara.

Menjadi dewasa bukan berarti selalu bisa mengikuti semua orang. Tapi tahu kapan harus hadir, kapan harus mundur, dan bagaimana melakukannya dengan tetap hangat. 🫂🌙

Sekian dulu ya sobat. Sampai jumpa di posting berikutnya.






Monday, January 19, 2026

Terkadang "Tidak Tahu" itu Lebih Baik daripada Tahu tapi Menyakitkan

1/19/2026 10:05:00 PM 0 Comments
Sobat, apa kamu pernah mendengar kalimat terkadang tidak tahu itu lebih baik daripada tahu tapi menyakitkan. Pernahkah kamu mengalaminya sendiri?

Kalimat itu terpatri di pikiran saya hingga saat ini. Saya dulu mendengar dari teman saya. Saat itu saya hanya "oya". Saya tidak menerima ataupun membantah. Untuk saya yang menyukai kejujuran memilih untuk tahu walau perih daripada tidak tahu alias hidup dalam kepalsuan atau kebohongan atau kamuflase. 


Dan saat ini saya seperti mengalami sesuatu yang membuat saya shock untuk tahu kebenarannya. Saya sempat merasa kepikiran. Rasanya tidak sama lagi ketika kita tidak tahu dan ketika sudah tahu. Bagi yang memilih untuk tidak tahu maka ada "perasaan" yang terjaga. Perasaan yang saya maksud ini bukan cinta ya tapi di case tertentu bisa jadi cinta juga termasuk. 

Ketika kita tahu kebenaran maka akan ada perasaan yang berubah. Pastinya tidak akan lagi sama. Kita harus siap menghadapi. Menghadapi perasaan kita yang berubah dan menghadapi kenyataan yang terjadi. Double kill. 

Saat pertama saya dapat kabar, saya merasa kaget dan tidak percaya pada awalnya. Masa sih? Pikir saya. Lalu insting detektif saya langsung aktif dan terus mencari kebenaran. Dan ternyata memang benar apa yang saya temukan. 

Dalam hati saya masih berharap bahwa ini tidak benar. Tapi bukti bukti cukup jelas. Jadi saya tidak bisa mengelak.

Tapi saya tidak konfirm langsung ke yang bersangkutan karena saya menjaga hatinya. Itu privasinya. Apa yang saya lihat di dia adalah dia yang saat ini. Sedangkan kebenaran yang saya temukan adalah bagian masa lalunya. Di mana saat itu saya belum mengenalnya. Dan masa lalu itu yang membentuk dia menjadi dirinya yang sekarang.

Saya berpikir, "Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?"

Tapi apa hak saya bertanya demikian. Apalagi sampai menuntut jawaban. Siapa kamu emangnya?

Saya yakin dia punya alasannya sendiri. Saya coba menerima. Dan saya tidak konfrontasi. Saya mencerna. Saya memproses. Saya perlu waktu. Hingga akhirnya saya menerima kenyataan dan memutuskan untuk tidak ada yang berubah di antara kita. Meski rasanya aneh tapi kita tetap profesional. 

Baru kali ini sih saya nemu kasus begini. Ternyata hidup serandom ini ya haha.

Saya yang saya pikir hidupnya tidak ada warna warni yang aneh aneh eh rupanya ada juga cerita begini mampir dalam hidup saya. Tapi saya tidak bisa menceritakan secara gamblang dan detail kisahnya ya sobat.

Secara saya yakinnya selama saya kenal dia, dia itu baik. Saya nyaman sama dia. Saya ambil bagian baiknya saja dari dia sih banyak ilmu baiknya dari dia soalnya. Bahkan karena saya sudah di level menerima, jikapun kita dekat misal ya, saya mau kok temanan akrab dengannya.

Saya sempat kagum loh di awal kenal dia, dia itu open. Talkative. Lembut. No pressure kalau sama dia. Vibe nya enak. Santai. Nah sekarang karena kejadian tahu sesuatu tentangnya jadi aneh rasanya berkomunikasi. Tapi ya sudahlah ya karena bagaimanapun dia juga tidak ada berbuat apa apa sama saya. Dia masih sama saja seperti saat saya tak tahu apa apa. Jadi ya bersikap biasa saja anggap tak tahu apa apa. Biarlah kusimpan sendiri saja.

Terkadang tak semua hal perlu diceritakan. Tak semua hal perlu diketahui orang. Tak semua hal layak jadi konsumsi publik. 

Terkadang sesuatu hal hanya perlu didiamkan. Terkadang sesuatu hanya perlu dipendam.
Terkadang sesuaty hanya perlu disimpan.
Terkadang sesuatu hanya perlu diketahui sejenak lalu dilupakan.

Bagaimana sobat? Apakah kamu ada pengalaman juga?

Apakah kita benar-benar siap menanggung konsekuensi dari kebenaran yang kita cari?

Saturday, January 10, 2026

Cerita Pengabdian Masyarakat ke Yayasan di Bekasi

1/10/2026 10:43:00 AM 0 Comments
Tepatnya 6 Desember 2025 lalu saya kembali melakukan pengabdian masyarakat ke yayasan di daerah Bekasi yaitu Yayasan Kubah Rahmatan. Kalau sebelumnya saya bersama 4 orang teman saya mengadakan acaranya, kali ini saya bersama 8 orang teman saya. Dua kali lipat banyaknya. Bagaimana ceritanya?

Jadi kalau sebelumnya temanya bahasa Inggris, kali ini temanya agama. Jadi ada sesi mengajar atau pemberian materi ke anak-anak di yayasan. Setelah itu kita baru bermain game dan bagi-bagi hadiah. Berhubung ketuanya masih sama, jadi konsep acara kita masih mengikuti pengabdian yang sebelumnya. Kita bagi-bagi hadiah untuk sesi kuis setelah materi dan sesi game. Kita ada 3 macam game. Seperti biasa saya minta sesi terakhir untuk saya bawakan game. 

Sebelum acara kita bentuk panitia, rapat dan mulai kerja di bagian masing-masing. Tugas saya masih sama. Masih dipercaya jadi bendahara. Sepasang dengan teman saya yang di bagian pengadaan atau logistik. Dia yang seksi belanja. 

Untuk tema mengajar sendiri kita ambil tema yang universal walau semua anak di situ muslim. Kita kaitkan agama dengan bullying. Yang kebagian mengajar ini teman-teman saya yang lain. Karena kita bersembilan jadi semuanya wajib kebagian tugas. 

Seru banget di bagian akhir saat anak-anak diberi kuis untuk dapat hadiah mereka antusias banget. Apalagi hadiahnya bantal boneka. Semuanya berebut. Tapi saya senang karena mereka kompetitif dan tidak takut untuk tunjuk tangan.

Selesai acara kita berdoa lalu bagi-bagi goodie bag dan makan sore. Kita juga memberikan kenang-kenangan untuk pengurus yayasan. Di yayasan ini teman saya yang seksi belanja kewalahan sebelumnya. Mengapa? Karena si ibu yang kontak-kontakan dengan teman saya berulang kali bilang jumlah anak yang hadir beda-beda. Padahal kita butuh kepastian. Karena kita perlu memastikan berapa goodie bag dan makan sore yang harus kita beli. Kalau kelebihan nanti kasihan anak yang tidak dapat. 

Awalnya hanya 15 anak lalu jadi 20 dan akhirnya jadi 25. Padahal kita sudah belanja. Mana sudah mepet pelaksanaan. Akhirnya setelah saya hitung-hitung dana masih cukup kalau mau menambah anak tapi dengan syarat budget lain ada yang dipangkas dan atas persetujuan teman-teman lain jadinya teman saya belanja lagi suvenir dan goodie bag tapi dengan isi goodie bag yang berbeda. Tak apa yang penting nanti kita tidak kekurangan souvenir, goodie bag dan makan sore. Yang penting semua anak dapat.

Sebenarnya kalau saya, ketua dan seksi logistik tidak masalah menambah dana agar rencana awal tetap terpenuhi tapi teman-teman lain tidak setuju jadi ya sudah tidak apa-apa. Akhirnya jalan tengah itu yang kita ambil. Dan semuanya berjalan lancar walau sempat harus memikirkan jalan keluar. 

Tapi begitulah kita belajar untuk mengatasi masalah. Bagaimana caranya berpikir cepat dan mengambil tindakan. Lalu perbedaan pendapat itu sudah pasti ada. Dan ketua sempat kewalahan mengurus anggota lebih banyak karena sebelumnya kita hanya berlima dan solid sekali. Sekarang bersembilan bisa kebayang kan kalau lebih banyak suara itu bagaimana dengan karakter orang yang berbeda-beda.

Selanjutnya kami sempat berbincang dengan ibu-ibu pengurus yayasan sebelum akhirnya kami pulang. Kebetulan hujan saat itu. Alhamdulillah berkah ya hehe.

Semoga bisa mengadakan acara lagi untuk selanjutnya...

Walau lelah tapi terbayar rasa lelahnya. Saya berangkat dari jam 10.30 pagi dari rumah pulang sekitar jam 8 kurang 5 menit sampai rumah. Mana di jalan hujan jadi sempat berteduh. Kebayang kan lelahnya sobat. Tapi ga kapok. Karena kita happy berbagi dan ketemu anak-anak. Ketemu teman-teman juga karena lama kita ga ketemu. :)

Kalau kamu, apa ceritamu sobat?
 


Friday, January 9, 2026

Pengalaman Mengikuti Uji Sertifikasi Kompetensi Executive Admnistrative Assistant (Serkom EAA)

1/09/2026 06:36:00 PM 0 Comments
Jumat, 9 Januari 2026

Halo Sobat... apa kabar? Hari ini saya baru saja selesai mengikuti uji sertifikasi kompetensi executive administrative assistant (serkom EAA). Rasanya gado-gado. Hehe. 

Kenapa saya bilang demikian? Karena hektik sebelum ujian. Bagaimana tidak? Sebelum ujian sudah stres sendiri karena kurangnya persiapan. Selasa sore, kami baru dapat sosialisasi dan jumat sudah harus ujian. Parah sih ini. Ini serius? Kaget saja saya. Mana sebelumnya harus upload syarat-syarat, lalu menunggu approval dari asesor baru bisa lanjut ke step berikutnya yaitu mengisi essay yang seabrek dan bikin video promosi produk apabila tidak ada revisi. 

Untungnya step pertama saya aman jadi langsung bisa ke step kedua. Hanya menunggu approvalnya saja yang lama. Upload rabu pagi baru diapprove kamis pagi. Tapi ya karena kesibukan kerja juga di kamis siang hari jadinya hanya bisa mengerjakan essay di kamisnya setelah pulang kantor hingga malam. Setelah itu saya merasa lelah karena otak saya terforsir dari pagi hingga malam belum istirahat. Akhirnya niat buat bikin slide ppt dan rekam video pun tertunda. Padahal niat ada tapi kalau sudah rebahan pasti saya tertidur. Dan karena sudah panggilan alam juga tubuh saya butuh istirahat jadi saya tertidur dari jam 8.30 malam padahal saat itu saya chat sama teman saya yang lagi mengerjakan essay juga.



Begitu bangun sudah jam 11.30 malam. Badan lumayan lebih enak. Lalu saya menyemangati diri untuk membuat ppt malam itu juga dan berencana recording sekalian karena tidak ada waktu lagi esok hari. Jam 1 siang besoknya saya harus sudah ujian. Dan ternyata tidak secepat itu ya. Cari bahan untuk ppt ternyata makan waktu. Kalau cuma tulisan mungkin lebih cepat selesai tapi masa iya promosi produk kok cuma tulisan doang? Saya cari gambar-gambar dan baca-baca cari informasi seputar produk yang akan saya jadikan bahan promosi. 

Alhasil selesai dalam 2 jam baru ppt nya saja. Saya pun teringat ya ada tugas lain yang deadline esok hari juga jam 11 siang. Alamak tidak akan sempat ngerjain ya karena jam segitu saya bakal ada di perjalanan. Akhirnya saya tidak recording. Mana mood tengah malam recording ya kan? Jadinya saya lanjut mengerjakan tugas lain dan submit. Jam 2 malam kelar saya putuskan tidur karena bagaimanapun saya harus tidur. Saya tahu badan saya ga bisa kalau ga tidur atau kurang tidur. Kalau kurang tidur bakal sakit-sakit. Saya pun setel alarm jam 5.30 agar tubuh lumayan dapat tidur 3,5 jam. Sebelumnya kan sudah tidur 3 jam. Saya berhasil tidur dan pukul 5 pagi saya sudah terbangun. Ya sudah alarm duluan saya matikan sebelum berbunyi. :)

Saya lanjut recording. Walau recording maksimal hanya 5 menit tapi ternyata tidak bisa cepat juga ya. Beberapa kali saya take. Ya ampun. Ternyata makan waktu juga. Belum uploadnya lagi dan kirim link. Video saya sekitar 3.58 menit. 

Saya juga masih punya PR buat belajar essay. Saya belum belajar sama sekali. Kata teman yang sudah pernah ujian, katanya harus menghafalkan semua essay karena nanti bakal ditanya asesor. Ya ampun ga ada waktu lagi. Saya jadi stres karena merasa kurang waktu untuk persiapan. Psikologi saya terganggu. 

Selesai kirim link video saya matikan laptop lalu saya rebahan sambil baca-baca essay saya dan juga ppt saya sebagai persiapan jika diminta presentasi produk dan ditanya essay. Walaupum sudah saya pelajari dari pagi hingga sebelum naik KRL, saya ga yakin apakah nanti tidak blank saat giliran dipanggil karena informasi masuk terlalu banyak di waktu yang singkat. Jadi kayak memforsir otak untuk menyimpan dan mengingat materi di waktu yang singkat. 

Saat di KRL saya datang setengah jam lebih cepat. Saya masih bisa baca-baca tapi otak saya sudah tidak mau. Akhirnya saya menikmati pemandangan saja sambil makan Roti O dan kopi butterscotch latte. Saya janjian dengan teman saya ketemu di stasiun Bekasi. Tapi rupanya kereta saya telat 9 menit. Seharusnya 10.53 pagi sudah tiba eh molor jadi 11.02. Awalnya seharusnya saya sudah sampai 11.30 akhirnya 11.40 baru sampai. Syukurnya teman saya mau menunggu dan kita pergi bareng ke lokasi. 

Sampai lokasi saya masih sempat sholat dzuhur dahulu lalu masuk ruangan. Saya ngobrol-ngobrol dengan 2 orang teman saya. Teman saya A cerita kalau dia mengerjakan ppt dan recording sampai jam 3 malam. Wow ternyata ada yang lebih parah dari saya ya. Hmm... setelah itu baru dia tidur. Lalu teman saya B cerita kalau dia tidak tidur. Wow wow wow ada yang lebih parah lagi ternyata. Jadi dia hanya tidur 1 jam. OMG. Bisa ya? 

Beneran deh kalau saya tidak bisa. 

Ternyata sebegitunya perjuangan teman-teman saya. Ternyata saya tidak sendirian. Dan ternyatanya lagi saya masih termasuk mendingan masih bisa tidur 6,5 jam. Gile bener... sebegininya amat ya hidup ini. Kadang saya merenung demikian. 

Walau saya merasa sudah berusaha melebihi batas normal saya biasanya, ternyata ada yang lebih keras lagi dan lagi dari saya. Jadi, inilah pelajaran hidupnya dari kisah saya ini. Kita mah belum seberapa :)

Jadi, begini ya sobat, kalau kita lihat orang lain tampak baik-baik saja di permukaan, kelihatan mulus-mulus saja lancar jaya mencapai ini itu, percayalah kita tidak tahu seberapa besar perjuangan mereka yang tidak mereka ceritakan. Mereka tak bersuara. Yang mereka tampilkan adalah kesuksesan. Ini moral of the story. Jadi jangan merasa diri sudah yang ter-. 

Ok, kita lanjut ya sobat. Jadi di ruangan kita mengantri giliran maju dipanggil asesor. Kita diminta presentasi produk dan bawa produk kita. Asesor maunya full English sobat. Beda asesor bisa jadi beda kebijakan ya. Tapi untungnya asesor cuma minta kami presentasi saja. Kami tidak ditanya essay. Syukurlah... lega banget. Tapi walau sedikit lega, ada nervousnya juga karena masih saja merasa kurang persiapan. Bagaimana kalau ngeblank pas maju? Ya sudah bismillah. Untungnya saya dapat giliran di akhir jadi lumayan bisa persiapan mental. 

Teman-teman yang maju duluan pada keren-keren presentasinya. Bahasa Inggrisnya lancar-lancar banget. Pronounciationnya bagus-bagus. Wow. Termasuk 2 orang teman saya juga lancar-lancar banget pas presentasi. Saya yakin mereka pada pol-polan persiapannya. Soalnya kalau tidak lulus harus ngulang lagi. Kan sayang ya uang yang sudah dikeluarkan. Serkom ini berbayar sobat. Bukan gratisan hehe.

Pas giliran saya maju syukurnya saya lancar presentasi. Asesor hanya bertanya produknya apa. Lalu di akhir bilang saya seperti marketing. Hahaha. Ga tau ini pertanda baik atau buruk. Karena kan memang ini simulasi jadi seolah-olah kita adalah karyawan sebuah perusahaan lalu kita diminta promosi produk. Jadi saya benar tidak ya ini kalau dibilang mirip marketing. :)

Semoga hasilnya baik ya sobat. Sebulan sertifikatnya baru keluar. 

Setelah itu kami foto bersama lalu pulang. Saya ke stasiun Bekasi dengan 2 orang teman saya lalu mampir makan bakso di dekat stasiun. Ternyata hujan deras pas kami makan. Setelah reda kami naik KRL menuju tujuan masing-masing. 

Sampai rumah barulah badan saya pegal-pegal. Ini tanda butuh istirahat. Tapi malam ini saya masih ada agenda. Dan besok juga masih ada yang harus diselesaikan. Sebegininya amat hidup ini ya. 

Jadi, apa hikmah dari kisah hari ini? Walau kadang saya merasa sebegininya ya hidup ini tapi tetap ada hal positif yang bisa diambil. Saya jadi mendapat pengalaman hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya juga ketemu lagi teman-teman saya. Dan sebenarnya ketika peristiwa yang bikin stres itu sudah kita lalui ya sudah. Kita seperti berhasil naik tangga ga sih. Dan hidup kita berjalan normal kembali. Peristiwa tadi itu semacam gangguan kecil yang harus dihadapi supaya kita bisa terus melangkah lebih jauh atau bahkan lebih tinggi. Bisa ga sih kita melangkah terus walau berbagai halangan rintangan hadir di perjalanan. Eh btw ini nyambung ga ya hikmahnya. :)

Apa kamu ada pengalaman juga sobat?

Oke sobat. Sampai di sini dulu cerita dari saya. Bye.