semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana: little story of me

Follow Us

Showing posts with label little story of me. Show all posts
Showing posts with label little story of me. Show all posts

Friday, March 20, 2026

Selamat Hari Raya Idul Fitri 2026

3/20/2026 09:15:00 PM 0 Comments
Halo sobat! Selamat hari raya idul fitri di tahun 2026 ini. Mohon maaf lahir dan batin. 

Alhamdulillah kita ketemu lagi di tahun ini. Semoga tahun depan kita masih bisa kembali menyaksikan hari raya ini. Semoga kita diberi kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kelapangan rezeki dan umur yang berkah.
Aamiin.

Bagaimaan sobat? Apakah kalian merayakan idul fitri ini bersama keluarga? 



Saya saat ini berada bersama keluarga saya di kampung. Alhamdulillah saya bertemu keponakan saya hari selasa 17 maret lalu kita mudik bersama rabu 18 maret 2026. Dikarenakan idul fitri jatuh pada hari sabtu 21 maret 2026 makanya kita punya waktu beberapa hari puasa di kampung. 

Senang atau sedih sebenarnya ya kalau idul fitri ini? Idul fitri ini kan sudah tradisi di Indonesia kita usahakan untuk pulang kampung bertemu keluarga. Walau bagaimanapun caranya. Pastinya harus siap duit buat mudik hehe. 

Senang juga sih bisa kumpul keluarga. Hari ini memang beda sih dari hari raya lainnya. Perayaannya memang wah banget dibanding hari lain. Dan budaya mudiknya itu yang juga luar biasa. Tapi seru sih memang. Kita ngerasain mudik. Ada keluarga yang nungguin kita dan kita juga pengen ketemu. Apa jadinya kalau sudah tak ada keluarga? Pasti sedih ya. 

Kalau di kampung perayaan ini banyak kue dan makanan kecil. Lalu pasti dong ada opor, ketupat, lontong dan sebagainya. Banyak banget makanan sampai bingung apa yang mau dimakan. 

Waktu kecil saya ingat banget kayak ga doyan makan kue kue di rumah. Tapi pas lewat lebarannya habis eh enak banget makan kue kue itu. Hehe. Kamu ngalamin juga ga ya sobat?

Ok sekian dulu posting dari saya selamat idul fitri.

Wednesday, March 11, 2026

Buka Puasa Bersama Ketiga

3/11/2026 02:39:00 PM 0 Comments
Buka puasa bersama kali ini adalah buka puasa bersama ketiga saya selama bulan ramadan tahun 2026. Kali ini pesertanya ada sejumlah 16 orang. Lumayan banyak. Dan ini adalah teman-teman saya yang membuat saya berasa muda terus. Hehe. 

Untuk lokasi yang dipilih adalah Saung Kita Kramat Sentiong. Lokasinya ada 2 lantai dan menjelang buka puasa itu ramai sekali. Full. Reservasinya saja sudah jauh hari sekitar 2 minggu sebelum. 

Untuk makanan variasinya ada banyak. Harga masih terjangkau under 100k. Menunya menu nusantara. Cocoklah untuk lidah orang Indonesia. 




Yang membuat saya cocok di sini karena ada banyak pilihan menu ikan. Walau dari segi rasa tidak tahu ya. Yang penting ada ikan karena saya suka ikan. Hehe. Saya pilih paket pindang ikan patin. Lumayan kok rasanya. Cuman di sini ikannya digoreng. Kuahnya terlalu asam dan lebih mirip sayur asam. Beda dengan pindang patin di Lampung. Saya cocok pindang patin di Pindang Meranjat Lampung. Menurut saya pas rasanya.

Ok lanjut. Untuk buka bersama ini ternyata kita harus bawa snack masing-masing karena nanti akan ada game. Gamenya apa? Truth or dare. 




Ternyata nih ada surprise ulang tahun loh. Heboh deh. Mirip kayak di Amanaia Restoran. Kali ini teman saya yang dikasih surprise. 




Terima kasih banyak teman-teman yang sudah menyiapkan ini semua. Kalian keren! Selamat berpuasa semuanya. Semoga kita semua sampai pada Idul Fitri kali ini dan berkumpul dengan keluarga. Semoga tahun depan masih bisa bertemu ramadan lagi. 

See you...



Begini Rasanya Patah Hati

3/11/2026 10:57:00 AM 0 Comments
Halo sobat, apa kamu pernah patah hati? Bagaimana rasanya? Sedih? Kecewa? Sakit?

Patah hati tidak melulu karena pasangan ya sobat. Bisa karena kehilangan sahabat, guru, dan sebagainya. Intinya adalah orang-orang yang pernah ada ikatan dengan kita entah itu ikatan keluarga, pertemanan, guru-murid, dan sebagainya.

Kalau kamu pernah merasakan, apakah kamu menangis? Menangis ini tidak literal menangis mengeluarkan air mata karena tidak semua orang bisa mengeluarkan air mata. Tapi kesedihan tetap terasa. 

Saya baru saja merasakannya sobat. Jadi ceritanya saya kan punya tutor. Sebenarnya tutor ini adalah tutor yang aku paling less attach. Setiap kali mau pelajaran dia berasa berat. Kenapa berat? Karena selalu ada PR dan aku selalu mengerjakannya di hari yang sama sebelum pelajaran mulai. Selain juga aku harus selalu menyiapkan ada video yang kutonton untuk nantinya kuceritakan. 

Ini tuh berat. Entah akunya yang membuat berat atau bagaimana ya. Tapi aku selalu mengerjakan walau apapun juga. Aku selalu prepare. Dan di satu hari itu aku kosongkan jadwal tidak ke mana-mana karena aku mau prepare tugasku. Mencari video yang cocok untuk diceritakan ternyata tidak mudah. Mungkin akunya yang perfeksionis atau gimana entahlah ya. Tapi jadinya seperti beban. 

Padahal sih kalau misal ditanya video apa yang ditonton dan kujasab tidak ada pun tak masalah. Tidak kenapa-kenapa begitu loh. Tapi secara psikologiku iti ga mau begitu. Aku harus well prepare. Entah nantinya ditanya atau tidak yang penting aku sudah siapkan. Jadi aku merasa secure begitu. Tapi jadinya seperti menyulitkan diriku sendiri. Ya begitulah diriku. Harap maklum sobat. Jangan ditiru yang tidak baiknya. Ambil baiknya saja ya. Hehe.

Tapi yang aku alami nih sobat. Ketika pelajaran mulai ya aman-aman saja. Aku malah happy. Kalau kita ada salah-salah ya wajar ya karena kita kan belajar. Aku selalu engaged. Fokus. Sampai pelajaran berakhir aku tetap mengikuti dengan baik. Intinya setiap kali selesai pelajaran justru aku merasa recharge dan happy. Kenapa bisa begitu ya?

Kalau sebelum pelajaran berat banget rasanya, badan capek pegal-pegal. Tapi rasa berat ini kukalahkan dengan segera bersiap-siap sebelum waktunya minimal 10 menit sebelumnya. Aku selalu datang lebih awal dan tidak pernah sekalipun terlambat. Aku selalu menunggu tutorku hadir. Jadi setiap tutorku hadir aku sudah ada di room. Tutorku pun selalu on time. Kalau waktunya jam 20.00 ya pas 20.00 dia masuk room. 

Selama 22 meeting alias hampir 5 bulan ini hanya 2x dia telat dan itu cuma 1 menit. Dia pun selalu bilang maaf. 

Tutorku ini sangat profesional. Dia benar-benar mengajar. Dia ga pelit ilmu. Dia pelan-pelan mengajariku karena ternyata aku masih perlu banyak koreksi darinya. Memang aku ambil dia sebagai tutorku karena aku perlu koreksi. 

Seberat-beratnya aku merasa sebelum mulai pelajaran dengannya tapi setelah pelajaran aku selalu merasa materi darinya itu berharga banget. Penjelasan darinya itu jelas banget sehingga mudah diterima dan dimengerti oleh otakku. Dengan kata lain aku match dengan cara mengajarnya. 

Otakku ini cocok dengan logika penjelasannya. Karena aku tipe orang yang kalau tidak mendapat logika aku susah mengerti suatu konsep. Jadi, logika ini oenting banget buat mengerti konsep dibanding repetisi. Repetisi penting juga untuk mendapatkan logika ataupun untuk menguatkan pemahaman biar ingat terus. 

Aku banyak belajar darinya. Dan ini baru babak awal. Aku baru mendapat fondasi darinya. Aku belum bikin dinding dan atap.

Bulan keempat, dia pertama kali naikkan harga. Dia bilang dia capek kelamaan di depan layar. Dia juga dapat kerjaan ngajar offline. Padahal murid online nya banyak sekali terakhir kucek ada 49 orang. Ini setelah dia naikkan harga loh. Dia tuh memang high quality tutor banget makanya walaupun saat pertama aku ambil dia untuk jadi tutorku tuh masih tutor baru hitungannya (walau realnya sangat berpengalaman), cepat sekali dia dapat murid baru. Dia sendiri cerita ternyata tidak sulit dapat murid. Padahal itu pertama kalinya dia mengajar online.

Oya, aku tuh sempat kepikiran kalau misal dia naikkan harga lagi, aku bakal stop sepertinya. Walau di sisi hati yang lain bilang jangan dulu. Tinggal kurangi saja frekuensinya jangan berhenti total. Tapi kalau pas merasa berat sebelum pelajaran ya rasanya begitu hehe. 

Nah semalam, di meeting 22 dia bilang ke aku kalau dia akan berhenti ngajar online. Dia capek di depan layar terus. Tidak sehat katanya. Terus mulai awal april dia dapat kerjaan ngajar offline. Jadi dia ga akan balik lagi. Saat itu, aku strong banget sobat. Aku ucapkan selamat loh. Berarti kelasku selesai sampai akhir bulan maret ini. Ok gapapa kataku. Lalu kelas jalan lagi seperti biasa melanjutkan materi. Tapi setelah kelas kok aku jadi bad mood. Ada apa denganku?

Tadi di kantor saya replay audio belajar saya. 
Pas tutor bilang, "It is sad.. I like teaching you. You did your work. You improve all the time. You're a great student. It's been a pleasure teaching you.

Hiks langsung sedih. Eh malah meneteskan air mata. Padahal pas dengar langsung biasa saja. Kenapa begitu ya. Mendramatisir banget kayaknya. Emang saya yang sensitif banget sih ini. Mungkin hati saya terlalu lembut sehingga mudah menangis.

Teman sebelah saya langsung nanya saya kenapa. Hehe. 

Mungkin dia pikir segitunya amat. Cengeng banget. Masa gitu aja nangis. 

Tapi memang baru kali ini sih yang saya merasa kehilangan sosok yang banyak ilmunya terus belum rela gitu loh. Belum siap. Tadinya saya berpikir masih bakal belajar sampai akhir tahun ini minimal. Dulu di awal saya bilang ke dia sampai saya siap. Maksudnya saya sudah matang belajar. Eh ga taunya dia duluan yang berhenti. Jadi semacam shock terapi gitu. Walau sebelumnya saya pernah kepikir berhenti tapi saya belum pernah benar-benar jadi berhenti. Makanya saya shock pas dia duluan yang berhenti. Mental saya belum siap. 

Karena memang masih tahap awal saya belajar sama dia walau sudah 5 bulan jatuhnya. Ibaratnya baru mau melangkah ke tahap berikutnya eh kandas. Padahal proyeksi saya bakal sampai saya serap semua ilmunya sampai akhir. Makanya saya tuh kayak kehilangan sumber ilmu yang sangat penting untuk pertumbuhan diri saya. Jadi kayak oleng pertahanan saya. Okelah mungkin bisa cari tutor lain tapi yang seperti dia mungkin sangat sulit dicari.

Dari kejadian ini saya tuh merenung. Mungkin begini yang dirasakan orang-orang jaman dulu yang ketika seorang imam meninggal dunia mereka akan bersedih karena kehilangan orang yang begitu banyak ilmunya. Itulah kenapa orang jaman dulu sangat menghargai guru. Dulu tuh saya ga kepikiran kenapa sih orang jaman dulu tuh bisa segitu sedihnya pas kehilangan imam atau guru. Selama ini saya belajar dengan banyak guru ga pernah segitunya sih. Makanya kali ini kayak oh mungkin begini yang dirasakan orang jaman dulu.

Saya merenung juga kenapalah seusia saya ini kok ya bisa mengalami ini. Maksudnya bisa cengeng begini ketika dihadapkan hal begini. Aneh banget. Hehe.

Sobat, kamu pernah ga sih ngalamin hal begini?

Ok sobat sekian sesi curhat kali ini. See you. 

Kehilangan tidak selalu datang dengan pemberitahuan. Kadang kita baru sadar seberapa besar arti seseorang setelah mereka pergi. Dan tidak apa-apa menangis bahkan di kantor, bahkan untuk seorang guru. Itu bukan cengeng. Itu manusiawi.

Menjadi manusia berarti merasakan. Dan merasakan berarti kadang harus menangis. Dan itu tidak apa-apa. 🥲💔📚

Catatan: Mungkin saja farewell ini dia ucapkan ke semua muridnya who knows. Tapi hal itu tidak menggugurkan fakta dia ucapkan itu langsung. Mungkin ada pembaca yang merasa ih berlebihan banget reaksinya. Ya itu benar. Karena ini saya yang mengalami dan merasakan. Makanya tulisan ini ada. Ok? ✌️

10032026

Monday, March 9, 2026

Konflik dengan Tetangga harus Bagaimana?

3/09/2026 10:59:00 AM 0 Comments

Halo sobat, kemarin saya buka puasa bersama dengan teman saya. Teman saya yang ngajak tapi dia bingung mau ke mana. Karena saya pernah ke Kedai Steak Nusantara makanya saya sarankan di situ. Dan dia juga maunya yang under 100k. Jadi pas banget. Di sana juga makanannya lumayan bervariasi dan banyak makanan nusantara. Cocoklah buat orang Indonesia.

Kami janjian jam 16.30 karena khawatir ga dapat tempat. Biasalah ya kalau lebaran biasanya rata-rata rumah makan full kalau buka puasa. Rata-rata tempat duduk sudah direservasi. Waktu saya hubungi teman saya katanya bakal on time. Dia sudah di stasiun. Dan ternyata ya saya duluan sampai dong. Saya on time. Saya duduk duluan cari tempat. Yang tersisa di ruang AC tinggal 2 tempat duduk yang dekat orang lalu lalang. Sisanya masih ada di luar alias non AC. 

Saya duduk dulu di ruang AC sambil nunggu teman saya datang. Agak lama ya nunggu dia. Pas dia datang dia pilih di non AC. Ya sudah kami pindah. Lalu kami pesan duluan karena untuk buka puasa harus dipesan maksimal jam 5. Setelah itu masuk kloter kedua setelah azan magrib. Saya pesan terderloin steak, soto daging (takeaway) dan teh panas karena lagi tidak enak badan. Teman saya pesan soto daginh dan salad daging. Lalu mulai kita chit chat.

Teman saya ini ngajak saya buka bersama karena katanya ada banyak yang mau diobrolin. Saya tunggu-tunggu tuh. Saya pikir lagi galau karena ketemu sesorang yang disuka. Eh ternyata salah perkiraan haha.

Dia sedang ada konflik dengan tetangga secluster. Dia cerita panjang lebar. Jadi penyebabnya adalah mobil dia menginjak 1 barang developer tetangga yang teman saya ini tidak tahu barang apa karena kecil dan tidak tahu juga kalau dia menginjaknya ketika masuk ke dalam pagar cluster.

Lalu teman saya didatangi tetangganya dipencet bel tapi tak dengar. Dia disentil di grup clusternya tapi juga diajakin iuran buat ganti barang yang diinjaknya itu. Teman saya ini dengan tegas bilang ga mau ganti. Dia juga tersinggung dengan kata kata teman di grup whatsappnya itu. Dikeluarinlah dia dari grup katanya.

Lalu dia kasih lihat saya chat privatenya dengan salah satu teman di cluster. Sebagai orang yang netral, dari bahasanya sih sebenarnya mereka baik-baik loh ngomong ke teman saya. Bahkan mereka mengajak iuran bukan minta teman saya sendiri yang ganti. Mereka juga sebagai tetangga bilang kalau mereka siap bantu loh kalau teman saya kenapa-kenapa. Karena kan teman saya sendirian ya.

Tapi memang teman saya ini orangnya individualis. Dia tidak mau bergabung dengan mereka. Dari sikap teman saya melihat teman saya ini cukup angkuh dan sangat keras orangnya. Ketika dia lewat, dia berharap tetangga yang melihat yang barang mengganggu di jalan yang mengambil. Saya bilang ke dia, "Jangan andalkan orang lain. Kamu tidak punya kendali terhadap orang lain. Kamu punya kendali terhadap dirimu sendiri. Apa yang bisa kamu lakukan adalah kamu turun. Tidak ada salahnya kan?"

"Ya tidak salah sih. Tapi dalam pikiranku seharusnya tetangga yang melihat itu yang turun dan mengambil," jawab dia.

Sobat, kalian bisa melihat kan betapa angkuh dan kerasnya teman saya. Saya bilang terus terang ke dia dengan sifatnya ini. Dia mengakui. Jadi ini valid ya. Saya bilang dia bukan keras lagi tapi sangat keras.

Tidak ada salahnya toh untuk turun dan mengambil barang yang menghalangi. Kenapa pula harus mengandalkan tetangga? Tidak perlulah terlalu angkuh mentang-mentang ada dalam mobil. Dan merasa yang menghalangi jalan umum adalah pihak developer dan mobil pickup yang yang parkirnya tidak pas. 

Saya bilang supaya dia humble sedikit. Sedikit saja dulu kalau belum bisa banyak-banyak. Hehe.

Untuk orang seperti dia yang memang individualis, dengan tetangga maunya say hi saja, ya lalu kenapa ketika menghadapi hal kecil seperti dia dengan mobilnya yang akan masuk ke cluster terhalang, eh berharap tetangga yang melihat yang membersihkan? Kenapa begitu? Kan tidak masuk akal. Kenapa tidak mengandalkan diri sendiri saja?

Ya sebenarnya beberapa barang sudah diambil sama developernya. Tidak tahu ada satu yang kelewat.

Perihal iuran, teman saya kan ga mau ya iuran karena merasa tidak tahu. Dan menurutnya juga belum tentu itu developer minta ganti. Nah, di sini kembali betapa angkuhnya temans saya ini. Saya sangat tidak rekomen untuk sobat pembaca blog saya bersifat semacam ini. Menurut hemat saya, dari whatsapp tetangganya saya melihat itikad baik dari mereka loh untuk ngajak iuran. Catat: iuran. Bukan bayar sendiri. Sebagai orang yang walau tidak tahu tapi secara fakta sudah menginjak, alangkah baiknya menyambut ajakan tetangga. Bukan dengan menolak mentah-mentah dengan alasan tidak tahu sehingga dia tidak merasa bersalah. 

Di sini kita melihat fakta loh dan niat baik tetangganya itu. Jika pun keberatan mengeluarkan uang karena merasa tidak bersalah, bisalah ya kita tekan ego dulu dan  bilang bersedia. Dan bisa juga dikomunikasikan dengan bilang, "Iya mbak boleh infokan saja nanti kalau  developer minta ganti. Kalau misal nggak, berarti ga perlu ya mbak."

Sebenarnya teman saya ini memang kurang komunikasi dengan tetangga. Dia selalu merasa semuanya dia bisa sendirian. Kalau ada apa-apa itu bukan tetangga yang bisa bantu tapi suami. Padahal ibunya sudah mengingatkan agar bergaul dengan tetangga. Kalau ada apa-apa tetangga dekat yang bakal membantu. Nah teman saya ini keras sekali. Dia memang mengalami ketidakcocokan dengan tetangganya. Tapi walau bagaimanapun juga kan bisa ya seharusnya menjaga hubungan baik. Tidak harus selalu ikut acara-acara mereka jika memang tidak suka. Setidaknya kasih ucapan tidak bisa bergabung atau apalah ya basa basi gitu. 

Saya bilang juga ke teman saya, kan sekarang belum ada suami. Lagipula kalau pun ada suami, misal suami pas jauh, kamu kenapa-kenapa siapa yang bisa bantu kamu? Pasti tetangga kan?

Begitulah sobat... pokoknya saya counter attack terus dia. Tipe seperti ini harus kita lawan dengan argumen yang bisa mematahkan pola pikirnya. Tipe seperti ini harus ketemu dengan orang yang levelnya bukan di bawah dia minimal dari segi pendidikan. Dan cara bilangnya juga harus lembut. Dia tidak terainggung kok kalau saya kritik dia. Munhkin karrna sudah akrab sih. Dan seringnya dia mengakui apa yang saya kritik karena memang itu fakta. 

Sebagai teman saya memang bilang apa adanya. Saya tidak menutupi apa yang saya lihat. That's what friends are for, right?

Sobat, sebenarnya saya cerita ini supaya ada hikmah yang bisa dipetik. Saya ingin sobat semua belajar jadi manusia yang humble. Bukan maksud saya membocorkan obrolan saya dengan teman. Ini semua murni karena kepedulian saya agar kita menjadi hamba-hamba yang lebih baik budi pekertinya. Dan menurut saya obrolan saya ini bukan hal privat. Konflik dengan tetangga adalah hal umum yang terjadi di lingkungan kita.

Bahkan nih sobat, ini hal lucu sih menurut saya. Teman saya cerita dia pernah sahut-sahutan komen Instagram sindir-sindiran di akun seseorang yang dia tidak kenal. Dia bilang seru. Apalagi kalau dia menang. Hadeh, kok saya tidak kepikiran ya buat begituan. Teman saya ini memang suka bikin masalah deh ya. Ketawa-ketawa saja dia pas cerita. Jadi hal kayak gitu semacam kepuasan buat dia kalau menang. Dan lagi di dalam komennya itu mengandung keangkuhan. Dia pun sadar loh. Lalu dia hapus komen-komennya setelahnya karena dia sadar kok dia angkuh banget. Hehe

Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan. Komunikasi yang baik bukan basa-basi, tapi investasi sosial. Dan teman sejati bukan yang selalu setuju, tapi yang berani berkata jujur dengan cara yang lembut dan penuh cinta.

Menjadi manusia yang baik itu sederhana. Cukup rendah hati, mau berkomunikasi, dan tidak egois. Tapi sederhana bukan berarti mudah. Dan di situlah perjuangannya. 🏡💬

Bagaimana sobat? Apa kamu punya cerita seru seputar tetangga?

Sekian dulu ya sobat cuap-cuap bulan ramadan. See you.

Sunday, March 8, 2026

Tradisi Beli Baju Baru Buat Lebaran: Begini Drama Antri Fitting Room

3/08/2026 10:45:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, sepertinya kita jadi lebaran ya alhamdulillah. Sebentar lagi nih ga terasa. Kalian sudah beli baju belum?

Ini nih tradisi Indonesia banget kalau lebaran yang masih hidup sampai saat ini. Beli baju baru. Sebenarnya saya ga niat beli baju loh ini di tahun ini tapi kok malah jadi borong baju akhirnya. Biasa, laper mata. Kalau lihat 1 gratis 1 wah lumayan nih bisa buat ibu saya 1 nya. Ya begitulah... kena trik marketing.

Kamu pernah ngalamin juga ga sobat?

Tapi ada yang bikin saya was was kalau beli cuma 1 buat ibu saya, nanti the sisters saya bakal ngiri apa ga. Dag dig dig. Karena sisters saya khususnya yang 2 orang itu memang irian jaya banget sifatnya sama kayak ibu saya hehe. Pokoknya kalau saya kasih apa-apa itu mereka juga pasti harus saya pikirkan. Itulah lucunya punya saudara perempuan sobat. 

Saya ceritain nih ya. Awal ramadan saya ditelpon kakak perempuan saya yang sulung. Dia bilang dia beli toples bagus. Gimana ini nanti ibu pengen kalau tahu. Hmm sudah curiga saya. Dan benar dong ya kecurigaan saya. Jadi ibu saya itu dibeliin toples yang sama. Tapi saya yang suruh bayarin nanti kalau pulang kampung. Weleh-weleh jadi punya utang nih saya. Pulang-pulang siap bayar utang... itulah kelakuan sisters saya. Ada-ada saja. Karena katanya nantinya toples itu juga buat saya makanya saya yang suruh bayarin. Modus banget ga sih sobat. Hehe.

Ya sudahlah saya bisa apa. Mungkin saya terlalu lunak jadi saudara. Tapi ya begitulah hal-hal lucu di keluarga saya. Saya sih ga menjadikan ini masalah. Jika saya ada rejeki ya saya legowo saja. Toh ga mahal-mahal amat juga. Masih terjangkau.

Ok kali ini saya mau bahas soal antrian di tempat beli baju. Saya ngantri di fitting room pertama itu ngantri lama banget. Lamanya itu karena orang yang nyoba baju memang lama banget nyobanya. Ga tau berapa banyak baju yang dicoba. Berapa kali muter muter di depan kaca. Nah kalau ini sarkas ya sobat. Hehe.

Tapi sumpah lama banget. Saya kan ngantri itu berharap kalau ada pintu yang dibuka ya saya masuk ke pintu itu duluan. Ternyata ga begitu ya sobat. Orang di belakang saya nyelonong saja maju ke depan pintu. Kan ada 4 pintu. Jadi dia dan mereka ngantri nunggu di depan masing masing pintu. Lah kalau begini saya keserobot terus dong. Wah, ga bener ini cara ngantri begini. Harusnya yang datang duluan itu yang dapat giliran kalau ada pintu yang dibuka. Nah, ini ga begini coba. Ga adil sih ini menurut saya.

Ok, setelah saya dapat giliran saya coba ga lama-lama. Kasihan orang lain yang mau nyoba juga. Karena kan ini mau lebaran jadi banyak pengunjung pada mau nyoba baju.

Setelah ini saya lihat-lihat baju lagi dan ada yang mau saya coba. Saya menuju fitting room lain lagi. Kejadiannya sama dong ya. Lagi-lagi saya keserobot orang mulu. Orang langsung pada ke depan pintu. Padahal saya sudah duluan nunggu. Haduh. Parah ini sih. Sampai ibu-ibu tua yang pas saya datang ada di situ lalu pergi eh pas datang lagi dilihatnya saya masih disitu juga belum dapat giliran. Akhirnya saya disuruh duluan ketika pintu di depan ibu itu dibuka. Terima kasih, Bu...

Orang yang di dalam pintu depan ibu itu lama banget di dalam. Entah berapa baju yang dicoba. Dan saat pintu dibuka eh dia keluar tapi baju-bajunya masih di dalam. Katanya belum kelar. Terus, dia tinggalin anak kecil mungkin usia 1-2 tahun di dalam fitting room sendirian. Anaknya keluar pintu. Kayaknya bingung nih anak ibunya ke mana. 

Saya mikir. Kok ya anak usia segitu ditinggal sendirian? Kok ya percaya banget gitu. Kalau anak itu hilang bagaimana? Dibawa pergi orang misal. Kan bisa itu anak dibawa juga keluar dulu. Toh baju-baju yang dicoba masih di dalam, orang ga akan masuk juga. Ibu itu juga bilang belum selesai. Orang lain pasti tahu diri ga akan masuklah. Apalagi ada baju-?baju dan anak kecil di dalam. Mungkin maksud ibu itu biar anaknya jaga di ruangan. Atau mungkin karena malas saja bawa anaknya keluar toh masih balik lagi. Mungkin loh ya ini sih spekulasi saya saja. Sok tahu deh saya. Uhuy.

Mungkin ibunya itu keluar ngambil baju lain lagi kali ya. Terus masuk lagi. Parah banget. Itu ruangan dikuasai sendiri. Sampai ibu yang ngobrol sama saya tadi itu bilang harusnya keluar dulu biar yang lain bisa gantian. Kayaknya memang ga tahu diri banget sih ini. Berapa baju yang dicoba ya. Maksimal 5 loh tulisannya. Tapi memang bisa saja lebih siapa juga yang mau cek-cek. 

Pintu lain juga sama lamanya. Kalau pintu dibuka, eh karena kelar tapi ada yang lainnya ikut masuk. Atau ada suami masuk. Ya ampun... Ga kelar-kelar.

Ga kasihan pengunjung lain yang ngantri. Separah ini loh. Dua jam saya di sana habis waktu buat dua kali ngantri. Kalau di kasir sih cepat. Ngantri fitting room yang lama. Ga nahanlah pokoknya. Mana kita puasa ya. Sampai saya lemas. Mana badan lagi kurang enak karena mau flu. Hehe. Kalau ini sih masalah pribadi saya ya.

Sobat, bisa ga ya budaya ngantri itu dibenahi? Sebenarnya adanya budaya antri itu dibuat supaya ada keadilan orang yang sama-sama menunggu. Siapa cepat dia dapat. Dalam artian siapa duluan datang akan dapat giliran duluan dibanding yang datang belakangan. 

Kalau fenomena di atas itu awut-awutan. Orang tidak tahu diri dan tidak memikirkan orang lain. Yang penting dia sendiri puas. Kok egois banget ya. Kalau pas sepi sih mungkin okelah ya. Ga ada saingan gitu loh. Lah dalam kondisi ramai begini kok ya seegois itu. Kok bisa begitu ya. Apakah ini mencerminkan dalam kehidupan sehari-hari juga begitu? Egois. Masa bodoh dengan orang lain. 

Entahlah. Saya merasa ga pas saja dengan kasus yang saya alami di atas. 

Kalau kamu bagaimana sobat? Pernah ngalamin ga? 

Masyarakat yang beradab tidak dibangun oleh aturan besar saja, tapi oleh kesadaran kolektif dalam hal-hal kecil. Ketika kita egois di fitting room, itu cermin dari bagaimana kita mungkin bersikap dalam kehidupan yang lebih luas.

Menjadi manusia yang baik tidak selalu tentang hal-hal besar. Kadang, cukup dengan mau bergantian di fitting room. 👕🛍️


Friday, March 6, 2026

Buka Puasa Bersama Gratis

3/06/2026 10:25:00 AM 0 Comments
Kamis, 26 Februari 2026 sore hari saya dapat pesan whatsapp dari teman saya. Dia bilang aku mau ikut ga buka puasa bersama. Dia mau traktir the boys. The boys ini teman kami cowok-cowok 3 orang ya sobat.  Wuih ada apa nih pikir saya. Tapi ini mendadak banget ya. 

Acaranya direncanakan sore itu juga di restoran Toko Daging Nusantara Salemba. Okelah tidak terlalu jauh. Kami juga pernah 2 kali makan di sana. Tapi, sebenarnya jam 8 malam saya sudah ada agenda. Kalau pulang kerja kan sebenarnya capek ya sobat. Saya mager. Maunya pulang kerja itu istirahat. Kenapa tidak hari libur saja ya acaranya. Tapi kemudian saya pikir ya sudahlah daripada di rumah terus ya kan.

                                            

Saya iyakan tapi saya bilang jam 7.15 saya pulang karena jam 8 saya sudah ada agenda. Teman saya ok ya sudah. Dan mereka sudah kumpul dari jam 5 sore katanya. Saya nyusul saja. Ok deal.

Sepulang kantor teman saya telpon. Katanya berubah tempat jadi ke Senayan karena mau sekalian booking tempat buat buka bersama tanggal 10 Maret 2026. Hmm, jauh ya kalau Senayan. Saya bilang skip. Lagian sudah sore juga itu. Tidak keburu pulangnya karena saya ada agenda jam 8. 

Begitu saya mandi, eh teman saya telpon lagi katanya berubah lagi ke tempat awal. Saya diminta datang. Ok akhirnya saya datang. Beberapa menit sebelum buka baru sampai. Mereka sudah pesan makanan. Tak apa saya menyusul. Saya bisa sholat magrib dulu. Ternyata nih ya traktirannya 2 ronde. Gila banget. Kaget dong saya. Ronde pertama adalah makan steak. Ronde kedua nasi. Ya maklumlah ya yang ditraktir itu the boys makanya sudah pasti kalau cuma steak ga nampol ya.



Akhirnya saya pesan tenderloin steak dan bungkus soto daging. Awalnya saya berniat mau bayar sendiri buat soto dagingnya tapi ternyata dibayarin juga. Alhamdulillah terima kasih semoga berkah traktirannya semakin banyak rezekinya. Aamiin. Di restoran ini lumayan juga loh pas datang masih dapat tempat duduk padahal tidak reservasi. Biasanya kalau buka puasa itu di mana-mana penuh. Di sana disediakan juga kurma gratis. Ada mushollanya juga jadi aman banget kalau mau sholat.  

Ternyata oh ternyata ini adalah perayaan ulang tahun teman saya yang seharusnya di bulan desember tapi dialihkan ke buka puasa ini. The boys sudah bawa kue ulang tahun. Mereka tidak ada yang memberitahu saya loh. Ya sudahlah saya ikut nyanyi dan memberi ucapan saja. Mendoakan supaya sering-sering traktir. Hehe.




Teman saya cerita rencananya mau ke Thailand pas libur lebaran bareng salah satu the boys. Dia mengajak saya. Saya bilang ga bisa. Saya pulang kampung. Tapinya ya. Mereka itu sudah beli tiket. Sudah bikin itinerary dan lain-lain. Lah bagaimana mereka ngajakin saya dalam kondisi begitu? Berarti mereka ngajak saya cuma pelengkap saja. Teman saya bilang kalau mereka bayar tiket saja nyicil 3x. Kalau saya kan tidak ada masalah finansial bisa kapan saja booking. Aamiin ya saya aminkan.

Tapi saya tidak setuju dengan rencana yang begini. Kalau saya tidak dilibatkan dari awal berarti saya tidak penting. Masa semuanya sudah beres saya baru diajak. Artinya ada saya maupun tidak, itu tidak penting. Mereka akan tetap berangkat. No no no.. saya ga mau ya begini.

Saya pribadi kalau mau jalan harus menyesuaikan tanggal dulu kapan saya free. Kalau begini kan mereka sudah tetapkan tanggal dan lain-lain. Tidak ada kompromi dengan saya. Makanya saya tidak setuju yang begini. Dan juga dadakan buat saya. Saya ga bisa.

Saya ini tipe well prepared. Mental psikologis saya harus siap. Kalau tidak, mending tidak usah. Bukan tipe grasak grusuk gradak gruduk. 

Kalau dengan teman saya yang lain, saya mau meet up saja janjiannya seminggu sebelum. Kalau misal pas hari H gagal ya ga masalah. 

Nah sementara teman saya ini memang sukanya dadakan. Kalau dadakan malah jadi katanya. Saya juga ada teman lain yang sukanya dadakan makanya sulit banget kami ketemuan. Karena setiap kali dia ngajak meet up itu selalunya pas dia ada keperluan ke tempat yang dia tuju. Jadi sekalian saja ngajak saya gitu. Tidak pernah menyengaja memang mau meet up saja. Kalau mendadak gitu biasanya saya tolak sih sobat. Bukannya saya ga fleksibel. Tapi keseringan saya sudah ada agenda atau memang kalau mepet gitu saya perlu persiapan mental. Ya begitulah sobat.

Apakah kalian ada yang sama dengan saya? Kalian tim dadakan atau tim terencana?

Begitu jam 7.15 malam, saya pamit pulang duluan. Teman-teman saya masih lanjut dan cari tempat buat buka puasa tanggal 10 Maret 2026 nanti.

Sobat, tidak apa-apa untuk tidak selalu bisa mengikuti irama orang lain. Bahwa kita berhak punya cara sendiri dalam bersosialisasi dan itu tidak membuat kita menjadi teman yang buruk.

Pertemanan yang sehat bukan hanya tentang bisa bersama, tapi juga tentang saling memahami cara masing-masing dalam menjalin hubungan. Ada yang butuh perencanaan matang, ada yang spontan. Yang penting adalah saling menghormati batasan, bukan memaksakan cara.

Menjadi dewasa bukan berarti selalu bisa mengikuti semua orang. Tapi tahu kapan harus hadir, kapan harus mundur, dan bagaimana melakukannya dengan tetap hangat. 🫂🌙

Sekian dulu ya sobat. Sampai jumpa di posting berikutnya.






Monday, January 19, 2026

Terkadang "Tidak Tahu" itu Lebih Baik daripada Tahu tapi Menyakitkan

1/19/2026 10:05:00 PM 0 Comments
Sobat, apa kamu pernah mendengar kalimat terkadang tidak tahu itu lebih baik daripada tahu tapi menyakitkan. Pernahkah kamu mengalaminya sendiri?

Kalimat itu terpatri di pikiran saya hingga saat ini. Saya dulu mendengar dari teman saya. Saat itu saya hanya "oya". Saya tidak menerima ataupun membantah. Untuk saya yang menyukai kejujuran memilih untuk tahu walau perih daripada tidak tahu alias hidup dalam kepalsuan atau kebohongan atau kamuflase. 


Dan saat ini saya seperti mengalami sesuatu yang membuat saya shock untuk tahu kebenarannya. Saya sempat merasa kepikiran. Rasanya tidak sama lagi ketika kita tidak tahu dan ketika sudah tahu. Bagi yang memilih untuk tidak tahu maka ada "perasaan" yang terjaga. Perasaan yang saya maksud ini bukan cinta ya tapi di case tertentu bisa jadi cinta juga termasuk. 

Ketika kita tahu kebenaran maka akan ada perasaan yang berubah. Pastinya tidak akan lagi sama. Kita harus siap menghadapi. Menghadapi perasaan kita yang berubah dan menghadapi kenyataan yang terjadi. Double kill. 

Saat pertama saya dapat kabar, saya merasa kaget dan tidak percaya pada awalnya. Masa sih? Pikir saya. Lalu insting detektif saya langsung aktif dan terus mencari kebenaran. Dan ternyata memang benar apa yang saya temukan. 

Dalam hati saya masih berharap bahwa ini tidak benar. Tapi bukti bukti cukup jelas. Jadi saya tidak bisa mengelak.

Tapi saya tidak konfirm langsung ke yang bersangkutan karena saya menjaga hatinya. Itu privasinya. Apa yang saya lihat di dia adalah dia yang saat ini. Sedangkan kebenaran yang saya temukan adalah bagian masa lalunya. Di mana saat itu saya belum mengenalnya. Dan masa lalu itu yang membentuk dia menjadi dirinya yang sekarang.

Saya berpikir, "Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?"

Tapi apa hak saya bertanya demikian. Apalagi sampai menuntut jawaban. Siapa kamu emangnya?

Saya yakin dia punya alasannya sendiri. Saya coba menerima. Dan saya tidak konfrontasi. Saya mencerna. Saya memproses. Saya perlu waktu. Hingga akhirnya saya menerima kenyataan dan memutuskan untuk tidak ada yang berubah di antara kita. Meski rasanya aneh tapi kita tetap profesional. 

Baru kali ini sih saya nemu kasus begini. Ternyata hidup serandom ini ya haha.

Saya yang saya pikir hidupnya tidak ada warna warni yang aneh aneh eh rupanya ada juga cerita begini mampir dalam hidup saya. Tapi saya tidak bisa menceritakan secara gamblang dan detail kisahnya ya sobat.

Secara saya yakinnya selama saya kenal dia, dia itu baik. Saya nyaman sama dia. Saya ambil bagian baiknya saja dari dia sih banyak ilmu baiknya dari dia soalnya. Bahkan karena saya sudah di level menerima, jikapun kita dekat misal ya, saya mau kok temanan akrab dengannya.

Saya sempat kagum loh di awal kenal dia, dia itu open. Talkative. Lembut. No pressure kalau sama dia. Vibe nya enak. Santai. Nah sekarang karena kejadian tahu sesuatu tentangnya jadi aneh rasanya berkomunikasi. Tapi ya sudahlah ya karena bagaimanapun dia juga tidak ada berbuat apa apa sama saya. Dia masih sama saja seperti saat saya tak tahu apa apa. Jadi ya bersikap biasa saja anggap tak tahu apa apa. Biarlah kusimpan sendiri saja.

Terkadang tak semua hal perlu diceritakan. Tak semua hal perlu diketahui orang. Tak semua hal layak jadi konsumsi publik. 

Terkadang sesuatu hal hanya perlu didiamkan. Terkadang sesuatu hanya perlu dipendam.
Terkadang sesuaty hanya perlu disimpan.
Terkadang sesuatu hanya perlu diketahui sejenak lalu dilupakan.

Bagaimana sobat? Apakah kamu ada pengalaman juga?

Apakah kita benar-benar siap menanggung konsekuensi dari kebenaran yang kita cari?

Saturday, January 10, 2026

Cerita Pengabdian Masyarakat ke Yayasan di Bekasi

1/10/2026 10:43:00 AM 0 Comments
Tepatnya 6 Desember 2025 lalu saya kembali melakukan pengabdian masyarakat ke yayasan di daerah Bekasi yaitu Yayasan Kubah Rahmatan. Kalau sebelumnya saya bersama 4 orang teman saya mengadakan acaranya, kali ini saya bersama 8 orang teman saya. Dua kali lipat banyaknya. Bagaimana ceritanya?

Jadi kalau sebelumnya temanya bahasa Inggris, kali ini temanya agama. Jadi ada sesi mengajar atau pemberian materi ke anak-anak di yayasan. Setelah itu kita baru bermain game dan bagi-bagi hadiah. Berhubung ketuanya masih sama, jadi konsep acara kita masih mengikuti pengabdian yang sebelumnya. Kita bagi-bagi hadiah untuk sesi kuis setelah materi dan sesi game. Kita ada 3 macam game. Seperti biasa saya minta sesi terakhir untuk saya bawakan game. 

Sebelum acara kita bentuk panitia, rapat dan mulai kerja di bagian masing-masing. Tugas saya masih sama. Masih dipercaya jadi bendahara. Sepasang dengan teman saya yang di bagian pengadaan atau logistik. Dia yang seksi belanja. 

Untuk tema mengajar sendiri kita ambil tema yang universal walau semua anak di situ muslim. Kita kaitkan agama dengan bullying. Yang kebagian mengajar ini teman-teman saya yang lain. Karena kita bersembilan jadi semuanya wajib kebagian tugas. 

Seru banget di bagian akhir saat anak-anak diberi kuis untuk dapat hadiah mereka antusias banget. Apalagi hadiahnya bantal boneka. Semuanya berebut. Tapi saya senang karena mereka kompetitif dan tidak takut untuk tunjuk tangan.

Selesai acara kita berdoa lalu bagi-bagi goodie bag dan makan sore. Kita juga memberikan kenang-kenangan untuk pengurus yayasan. Di yayasan ini teman saya yang seksi belanja kewalahan sebelumnya. Mengapa? Karena si ibu yang kontak-kontakan dengan teman saya berulang kali bilang jumlah anak yang hadir beda-beda. Padahal kita butuh kepastian. Karena kita perlu memastikan berapa goodie bag dan makan sore yang harus kita beli. Kalau kelebihan nanti kasihan anak yang tidak dapat. 

Awalnya hanya 15 anak lalu jadi 20 dan akhirnya jadi 25. Padahal kita sudah belanja. Mana sudah mepet pelaksanaan. Akhirnya setelah saya hitung-hitung dana masih cukup kalau mau menambah anak tapi dengan syarat budget lain ada yang dipangkas dan atas persetujuan teman-teman lain jadinya teman saya belanja lagi suvenir dan goodie bag tapi dengan isi goodie bag yang berbeda. Tak apa yang penting nanti kita tidak kekurangan souvenir, goodie bag dan makan sore. Yang penting semua anak dapat.

Sebenarnya kalau saya, ketua dan seksi logistik tidak masalah menambah dana agar rencana awal tetap terpenuhi tapi teman-teman lain tidak setuju jadi ya sudah tidak apa-apa. Akhirnya jalan tengah itu yang kita ambil. Dan semuanya berjalan lancar walau sempat harus memikirkan jalan keluar. 

Tapi begitulah kita belajar untuk mengatasi masalah. Bagaimana caranya berpikir cepat dan mengambil tindakan. Lalu perbedaan pendapat itu sudah pasti ada. Dan ketua sempat kewalahan mengurus anggota lebih banyak karena sebelumnya kita hanya berlima dan solid sekali. Sekarang bersembilan bisa kebayang kan kalau lebih banyak suara itu bagaimana dengan karakter orang yang berbeda-beda.

Selanjutnya kami sempat berbincang dengan ibu-ibu pengurus yayasan sebelum akhirnya kami pulang. Kebetulan hujan saat itu. Alhamdulillah berkah ya hehe.

Semoga bisa mengadakan acara lagi untuk selanjutnya...

Walau lelah tapi terbayar rasa lelahnya. Saya berangkat dari jam 10.30 pagi dari rumah pulang sekitar jam 8 kurang 5 menit sampai rumah. Mana di jalan hujan jadi sempat berteduh. Kebayang kan lelahnya sobat. Tapi ga kapok. Karena kita happy berbagi dan ketemu anak-anak. Ketemu teman-teman juga karena lama kita ga ketemu. :)

Kalau kamu, apa ceritamu sobat?
 


Friday, January 9, 2026

Pengalaman Mengikuti Uji Sertifikasi Kompetensi Executive Admnistrative Assistant (Serkom EAA)

1/09/2026 06:36:00 PM 0 Comments
Jumat, 9 Januari 2026

Halo Sobat... apa kabar? Hari ini saya baru saja selesai mengikuti uji sertifikasi kompetensi executive administrative assistant (serkom EAA). Rasanya gado-gado. Hehe. 

Kenapa saya bilang demikian? Karena hektik sebelum ujian. Bagaimana tidak? Sebelum ujian sudah stres sendiri karena kurangnya persiapan. Selasa sore, kami baru dapat sosialisasi dan jumat sudah harus ujian. Parah sih ini. Ini serius? Kaget saja saya. Mana sebelumnya harus upload syarat-syarat, lalu menunggu approval dari asesor baru bisa lanjut ke step berikutnya yaitu mengisi essay yang seabrek dan bikin video promosi produk apabila tidak ada revisi. 

Untungnya step pertama saya aman jadi langsung bisa ke step kedua. Hanya menunggu approvalnya saja yang lama. Upload rabu pagi baru diapprove kamis pagi. Tapi ya karena kesibukan kerja juga di kamis siang hari jadinya hanya bisa mengerjakan essay di kamisnya setelah pulang kantor hingga malam. Setelah itu saya merasa lelah karena otak saya terforsir dari pagi hingga malam belum istirahat. Akhirnya niat buat bikin slide ppt dan rekam video pun tertunda. Padahal niat ada tapi kalau sudah rebahan pasti saya tertidur. Dan karena sudah panggilan alam juga tubuh saya butuh istirahat jadi saya tertidur dari jam 8.30 malam padahal saat itu saya chat sama teman saya yang lagi mengerjakan essay juga.



Begitu bangun sudah jam 11.30 malam. Badan lumayan lebih enak. Lalu saya menyemangati diri untuk membuat ppt malam itu juga dan berencana recording sekalian karena tidak ada waktu lagi esok hari. Jam 1 siang besoknya saya harus sudah ujian. Dan ternyata tidak secepat itu ya. Cari bahan untuk ppt ternyata makan waktu. Kalau cuma tulisan mungkin lebih cepat selesai tapi masa iya promosi produk kok cuma tulisan doang? Saya cari gambar-gambar dan baca-baca cari informasi seputar produk yang akan saya jadikan bahan promosi. 

Alhasil selesai dalam 2 jam baru ppt nya saja. Saya pun teringat ya ada tugas lain yang deadline esok hari juga jam 11 siang. Alamak tidak akan sempat ngerjain ya karena jam segitu saya bakal ada di perjalanan. Akhirnya saya tidak recording. Mana mood tengah malam recording ya kan? Jadinya saya lanjut mengerjakan tugas lain dan submit. Jam 2 malam kelar saya putuskan tidur karena bagaimanapun saya harus tidur. Saya tahu badan saya ga bisa kalau ga tidur atau kurang tidur. Kalau kurang tidur bakal sakit-sakit. Saya pun setel alarm jam 5.30 agar tubuh lumayan dapat tidur 3,5 jam. Sebelumnya kan sudah tidur 3 jam. Saya berhasil tidur dan pukul 5 pagi saya sudah terbangun. Ya sudah alarm duluan saya matikan sebelum berbunyi. :)

Saya lanjut recording. Walau recording maksimal hanya 5 menit tapi ternyata tidak bisa cepat juga ya. Beberapa kali saya take. Ya ampun. Ternyata makan waktu juga. Belum uploadnya lagi dan kirim link. Video saya sekitar 3.58 menit. 

Saya juga masih punya PR buat belajar essay. Saya belum belajar sama sekali. Kata teman yang sudah pernah ujian, katanya harus menghafalkan semua essay karena nanti bakal ditanya asesor. Ya ampun ga ada waktu lagi. Saya jadi stres karena merasa kurang waktu untuk persiapan. Psikologi saya terganggu. 

Selesai kirim link video saya matikan laptop lalu saya rebahan sambil baca-baca essay saya dan juga ppt saya sebagai persiapan jika diminta presentasi produk dan ditanya essay. Walaupum sudah saya pelajari dari pagi hingga sebelum naik KRL, saya ga yakin apakah nanti tidak blank saat giliran dipanggil karena informasi masuk terlalu banyak di waktu yang singkat. Jadi kayak memforsir otak untuk menyimpan dan mengingat materi di waktu yang singkat. 

Saat di KRL saya datang setengah jam lebih cepat. Saya masih bisa baca-baca tapi otak saya sudah tidak mau. Akhirnya saya menikmati pemandangan saja sambil makan Roti O dan kopi butterscotch latte. Saya janjian dengan teman saya ketemu di stasiun Bekasi. Tapi rupanya kereta saya telat 9 menit. Seharusnya 10.53 pagi sudah tiba eh molor jadi 11.02. Awalnya seharusnya saya sudah sampai 11.30 akhirnya 11.40 baru sampai. Syukurnya teman saya mau menunggu dan kita pergi bareng ke lokasi. 

Sampai lokasi saya masih sempat sholat dzuhur dahulu lalu masuk ruangan. Saya ngobrol-ngobrol dengan 2 orang teman saya. Teman saya A cerita kalau dia mengerjakan ppt dan recording sampai jam 3 malam. Wow ternyata ada yang lebih parah dari saya ya. Hmm... setelah itu baru dia tidur. Lalu teman saya B cerita kalau dia tidak tidur. Wow wow wow ada yang lebih parah lagi ternyata. Jadi dia hanya tidur 1 jam. OMG. Bisa ya? 

Beneran deh kalau saya tidak bisa. 

Ternyata sebegitunya perjuangan teman-teman saya. Ternyata saya tidak sendirian. Dan ternyatanya lagi saya masih termasuk mendingan masih bisa tidur 6,5 jam. Gile bener... sebegininya amat ya hidup ini. Kadang saya merenung demikian. 

Walau saya merasa sudah berusaha melebihi batas normal saya biasanya, ternyata ada yang lebih keras lagi dan lagi dari saya. Jadi, inilah pelajaran hidupnya dari kisah saya ini. Kita mah belum seberapa :)

Jadi, begini ya sobat, kalau kita lihat orang lain tampak baik-baik saja di permukaan, kelihatan mulus-mulus saja lancar jaya mencapai ini itu, percayalah kita tidak tahu seberapa besar perjuangan mereka yang tidak mereka ceritakan. Mereka tak bersuara. Yang mereka tampilkan adalah kesuksesan. Ini moral of the story. Jadi jangan merasa diri sudah yang ter-. 

Ok, kita lanjut ya sobat. Jadi di ruangan kita mengantri giliran maju dipanggil asesor. Kita diminta presentasi produk dan bawa produk kita. Asesor maunya full English sobat. Beda asesor bisa jadi beda kebijakan ya. Tapi untungnya asesor cuma minta kami presentasi saja. Kami tidak ditanya essay. Syukurlah... lega banget. Tapi walau sedikit lega, ada nervousnya juga karena masih saja merasa kurang persiapan. Bagaimana kalau ngeblank pas maju? Ya sudah bismillah. Untungnya saya dapat giliran di akhir jadi lumayan bisa persiapan mental. 

Teman-teman yang maju duluan pada keren-keren presentasinya. Bahasa Inggrisnya lancar-lancar banget. Pronounciationnya bagus-bagus. Wow. Termasuk 2 orang teman saya juga lancar-lancar banget pas presentasi. Saya yakin mereka pada pol-polan persiapannya. Soalnya kalau tidak lulus harus ngulang lagi. Kan sayang ya uang yang sudah dikeluarkan. Serkom ini berbayar sobat. Bukan gratisan hehe.

Pas giliran saya maju syukurnya saya lancar presentasi. Asesor hanya bertanya produknya apa. Lalu di akhir bilang saya seperti marketing. Hahaha. Ga tau ini pertanda baik atau buruk. Karena kan memang ini simulasi jadi seolah-olah kita adalah karyawan sebuah perusahaan lalu kita diminta promosi produk. Jadi saya benar tidak ya ini kalau dibilang mirip marketing. :)

Semoga hasilnya baik ya sobat. Sebulan sertifikatnya baru keluar. 

Setelah itu kami foto bersama lalu pulang. Saya ke stasiun Bekasi dengan 2 orang teman saya lalu mampir makan bakso di dekat stasiun. Ternyata hujan deras pas kami makan. Setelah reda kami naik KRL menuju tujuan masing-masing. 

Sampai rumah barulah badan saya pegal-pegal. Ini tanda butuh istirahat. Tapi malam ini saya masih ada agenda. Dan besok juga masih ada yang harus diselesaikan. Sebegininya amat hidup ini ya. 

Jadi, apa hikmah dari kisah hari ini? Walau kadang saya merasa sebegininya ya hidup ini tapi tetap ada hal positif yang bisa diambil. Saya jadi mendapat pengalaman hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya juga ketemu lagi teman-teman saya. Dan sebenarnya ketika peristiwa yang bikin stres itu sudah kita lalui ya sudah. Kita seperti berhasil naik tangga ga sih. Dan hidup kita berjalan normal kembali. Peristiwa tadi itu semacam gangguan kecil yang harus dihadapi supaya kita bisa terus melangkah lebih jauh atau bahkan lebih tinggi. Bisa ga sih kita melangkah terus walau berbagai halangan rintangan hadir di perjalanan. Eh btw ini nyambung ga ya hikmahnya. :)

Apa kamu ada pengalaman juga sobat?

Oke sobat. Sampai di sini dulu cerita dari saya. Bye.

Monday, January 5, 2026

Cerita Pengabdian Masyarakat ke Yayasan

1/05/2026 06:35:00 PM 0 Comments
Pengabdian masyarakat selanjutnya saya ikut acara yang diadakan satu kelompok anak muda pas 17 Agustus 2025 (orang pada heboh lomba ya ini saya sengaja banget ikut pengabdian masyarakat). Acaranya di Yayasan. Ternyata jauh juga lokasinya dari tempat tinggal saya. Niat banget ga sih ini namanya. Ah kalau ga begini sih bukan saya namanya hehe.

Pesertanya yang hadir ada banyak yang jadi panitia. Ini pengalaman pertama kali saya ikut sih pengen coba-coba. Ternyata sampai sana saya paling tua hehe. Rata-rata yang ikut masih anak-anak mahasiswa baru. Sedangkan saya? Haha saya mahasiswa juga sih... mahasiswa lama... :)

Oke jadi saya ke lokasi naik ojek yang makan waktu lumayan panjang karena jaraknya sekitar 20 km. Sudah gitu ya lokasinya di dalam. Mana saat itu lagi tujuh belasan makanya jalan banyak ditutup. Akhirnya saya sampai juga.

Di sana acaranya apa saja? Seperti biasa ada pembukaan, baca doa, sambutan pemilik yayasan lalu acara inti bermain game dengan anak-anak dan merangkai kertas jadi bentuk-bentuk lucu seperti rumah-rumahan. Berhubung lagi tujuh belasan jadinya anak-anak pada bolak-bolik ikut lomba di gang rumah lalu balik ke yayasan. Anak-anak ini tidak tinggal di yayasan ya tapi di rumah masing-masing.

Gamenya apa saja? Game-nya adalah estafet sarung. 





Ada lumayan banyak lebih dari 10 anak-anak yang hadir dan bermain bersama lalu dibagi ke beberapa kelompok. Lumayan makan waktu karena jumlah orang per kelompoknya ada banyak. Tapi saya ga ikut estafet sarung karena sudah kelebihan anggota di grup saya. Biar yang muda-muda saja yang main. :)

Setelah main game selesai kita foto bersama. Lalu dibagi snack. Snacknya sederhana banget hehe. Ini beda banget dengan acara yang saya buat dengan 4 orang teman saya sebelumnya. Padahal ini pesertanya banyak banget ada 30an sebagai kakak-kakaknya.

Dan saya pun tak tahu donasi apa yang diberikan untuk yayasan. Tidak ada informasinya. Ya sudahlah tidak perlu suudzon. Serahkan saja pada panitia inti mereka yang urus. 

Kalau saya sebagai orang yang sudah pernah mengadakan acara begini sih ya saya bisa memperkirakan berapa pengeluarannya. Karena sebelumnya saya sebagai bendahara hehe. Catatan keuangan ada di saya. 

Ok. Setelah selesai acara saya pulang dengan mengojek lagi. 

Jadi apa kesannya mengikuti ini? Dapat pengalaman sih. Bagus untuk anak-anak muda biar punya kepekaan terhadap orang lain. Mereka bisa belajar juga untuk bikin event itu seperti apa. 

Ini sayanya saja yang telat baru ikutan hehe.

Tapi saya tidak dapat teman juga sih. Selesai acara ya sudah pulang. Hehe.

Anggap saja bermain sambil beramal :)

Pengalaman Les di Preply - Trial Lesson

1/05/2026 04:58:00 PM 0 Comments
Ditulis 2 september 2025

Halo Sobat saya mau berbagi cerita pengalaman saya ambil les trial 1 on 1 di preply. Kenapa saya pilih preply? Preply ini salah satu platform yang iklannya sering muncul. Tapi bukan karena itu alasannya. Tapi karena preply ini banyak pilihan tutornya. Terus tampak lebih populer dibanding platform lain. So why not give it a try?

Sebenarnya saya tahu preply sudah lama. Dan ada keinginan ambil les juga sudah lama. Tapi entah kenapa tidak pernah maju-maju bergerak. Mungkin salah satu penyebabnya karena mahal. Ya benar sekali. Untuk ukuran saya ini termasuk mahal. Walau sebenarnya ada juga yang murah tergantung tutornya ya tapi di mindset saya adalah mahal. Apalagi kalau mau yang qualified pasti mahal kan. 


Kita juga gambling milih tutor mana yang cocok dengan kita karena kita sistemnya 1 on 1. Ya bayangkan saja per sesi itu 50 menit misal ambil speaking saja kamu bisa bayangin ga kamu bakal bosan? Atau misal kelas ga menarik. Sementara di situ kamu sendirian saja. 

Walau di profil mereka menampilkan mereka berpengalaman sekian tahun lalu punya sertifikat ini itu tapi banyak dari mereka bukan lulusan sastra Inggris tapi mereka native atau non-native yang punya sertifikat TEFL, CELTA, dan lain-lain.

Pengalaman pilih tutor
Awal akan memilih tutor saya putuskan untuk ambil tutor native wanita dan lebih tua dari saya. Alasan saya adalah supaya lebih nyaman saat kelas karena kita bakal speaking 1 on 1 selama 50 menit per sesi dan pastinya tidak akan 1 kali saja kan ya tapi minimal 1 kali seminggu. Jadi saya mau yang saya bisa feel free alias ga baper nantinya. 

Lalu saya pilih yang TOEFL certified karena tujuan saya biar speaking saya bisa dapat skor tinggi nantinya. Well, nemu dong saya tutor seperti yang saya harap. Saat saya lihat introduction videonya juga kelihatannya orangnya lembut dan speakingnya enak saya paham. Saya booking dong ya buat trial class. Ternyata setelah booking saya harus mengisi placement test. Saya tidak tahu menahu ada permintaan itu. Lalu saya dapat pesan dari sang tutor buat mengisi. Keesokan harinya baru saya isi. Dan kaget dong saya. Karena hasilnya saya masuk level advanced c1.4. Selama ini saya pikir saya B1 atau B2 lah ya. Apakah ini valid? Entahlah ya karena kalau saya coba tes di lembaga kursus lain juga saya ga masuk advanced. Hehe. Tapi mungkin juga memang kemampuan saya sudah meningkat sih ya. Who knows.

Ok, lanjutlah saya masuk trial session classroom sesuai jam yang sudah saya pilih. Huah nervous sih awal-awal mau masuk classroom. Saya sudah masuk duluan. Saya tunggu 5 menit kok ga ada tanda-tanda tutornya hadir. Lalu saya chat sang tutor saya berniat menunggu sampai 15 menit. Tak apalah pikir saya toh ini cuma trial 25 menit dan saya cuma bayar 6 dolar setelah potong voucher diskon. Trial session kan paling cuma kenalan dan ngobrol goalnya mau apa. Jadi ga perlu lama-lama. Menit demi menit berlalu tapi ternyata tetap tak ada tanda-tanda kehadiran. Menghitung menit deh pokoknya. Jadi akhirnya saya putuskan untuk cancel.

Well, saya kecewa banget sih saat itu sumpah. Saya chat lagi tutornya. Ini bukan chat sumpah serapah ya. Saya tidak begitu orangnya hehe. Ga lama kemudian sang tutor balas pesan saya dia bilang maaf kalau dia lagi ga enak badan dan flu. Dia minta reschedule. Tapi saya sudah terlanjur kecewa ya. Jadi saya putuskan move on. Hehe kayak relationship saja ya. Tapi beneran ini saya berpikir mana tahu nanti dia begitu lagi kalau sudah ambil kelas reguler. Saya ga mau kecewa lagi dan saya ga mau kasih kesempatan kedua walau sebenarnya dia memenuhi syarat tutor yang saya harap. Sangat disayangkan. Itu sudah red flag buat saya. Rasa kecewanya itu loh ya ampun ga taulah kenapa saya begitu amat. Nah dari sini saya belajar bahwa saya harus cari tutor yang bisa kasih saya rasa aman reassurance.

Jadi setelah saya cancel tertulis cancel and paid. Wah saya bayar dong ini rugi banget saya. Ga dapat apa-apa. Berhubung saya baru di sini ya belum tahu banyak tentang aturan di sini. Setelah saya cari tahu ternyata bisa mengajukan trial replacement. Saya cari dong ya customer servicenya. Alhamdulillahnya berhasil bisa dapat replacement setelah saya chat. Jadi saya tinggal cari tutor baru dan nanti otomatis masuk di akun pembayaran jadi 0. Tadinya saya pikir karena saya ambil yang 25 menit maka gantinya bakal 25 menit juga. Rupanya nggak dong. Saya dapat full 50 menit trial. Wah untung nih saya hehe. Padahal tadinya sudah sedih.

Tutor pilihanku
Pilihan saya jatuh pada 2 orang tutor. Dan kali ini pria semua. Hehe. Berubah 180 derajat ya setelah dikecewakan. :)

Ga ada lagi istilah takut baper. Karena sebenarnya ya saya ini lebih suka guru pria ketimbang wanita sih. Bukan bermaksud mengutamakan pria dibanding wanita tapi ini murni preferensi saja. Jadi tadi itu kekhawatiran di awal saja soal baper. Hehe. I know myself well. Saya profesional kok. Dan dalam sejarah hidup saya belum pernah baper sama guru sendiri. Malah saya yang terheran-heran dengan teman-teman cewek saya jaman dulu kok mereka bisa pada baper sama guru atau tutor. Aku kok biasa saja. Makanya ini pikiran aku saja yang berlebihan. Hehe.

Lanjut ke tutor pilihan ya. Jadi satu tutor memenuhi kriteria tutor yang saya cari. Dia ini super tutor yang artinya kehadiran selalu 100% dan beberapa kriteria lain yang bagus. Wah aku secure banget dengan tutor yang begini. Tapi sayangnya muridnya banyak. Haha. Jadwal tersedia tinggal sedikit. Walau sebenarnya masih bisa saya ambil karena sesuai jadwal kosong saya tapi saya mikir-mikir juga. Takut dia sudah kebanyakan murid dan energinya sudah habis pas ngajar saya lalu jadi kurang maksimal. Hehe overthinking lagi.

Tapi benar ini jadi pertimbangan saya banget. Karena saya mau full attention. Bukan karena apa-apa tapi karena sudah bayar mahal. Akhirnya saya putuskan ambil tutor satunya lagi yang ini tutor baru dan memang masih muda. Jomplang sih ya kalau yang tadi jauh lebih berpengalaman mengajar dari anak-anak sampai kakek-kakek dan masih seusia saya.

Kenapa saya pilih ini? Salah satu alasannya karena dia proaktif chat saya setelah saya saved kontak dia. Tutor satunya tidak. Mungkin sudah terlalu sibuk dan tidak begitu mencari murid ya. Well, that's Ok. Ini juga sebuah tanda.

Nah, saya lihat dia masih baru, muridnya belum banyak dan jadwalnya masih banyak. Saya bebas pilih. Dia juga certified TEFL level 5. Saya cek introduction videonya saya pikir bagus speakingnya. Suara juga saya cocok. Face? Cocok banget dong haha. Kelihatannya orangnya baik. Lah ini milih tutor atau milih jodoh sih? Tenang tenang... ini murni milih tutor kok. Lah kalau orang sana kan memang asli pada goodlooking jadi ya sebenarnya ini hal biasa saja kok. 

Dan dari beberapa video introduction para tutor saya memang menilai apakah seorang tutor itu klik ga sama saya. Saya harus nemu chemistrynya dulu. Kadang kan bisa juga kita ga cocok dengan aksen dan sebagainya. Lah ini cuma cari tutor aja pilih-pilih banget ya. Iya dong harus. Kan kita juga dikasih banyak pilihan tutor jadi kita harus milih. Kan kita juga bayar. Begitu loh sobat. Kita harus nemu yang cocok karena kita bakal tatap muka itu 50 menit per sesi ngobrol dan kita ada rencana nantinya ga cuma sekali dua kali saja kita ambil kelas kan. Itulah kenapa ini penting.

Saya sendiri kalau sudah cocok ya sudah lanjut saja. Malas trial lagi. 

Kesan pertama
Nah pas jadwal masuk kelas, aku tunggu eh dia muncul dong.. syukurlah. Tapi trouble guys. Ga ada suara. Haha. Kita pakai bahasa isyarat saja beberapa menit pertama. Saya coba pakai headset juga tetap bisu. Saya coba gonta-ganti setting audio di mic dan speaker juga ga ada hasil. Alamak apa-apaan ini. Berhubung saya juga baru ya belum tahu sistemnya gimana kalau saya keluar apa kelas otomatis selesai. Jadi saya tanya via chat. Dia juga kasih option via phone tadinya. Lalu saya pun izin ke dia buat keluar dulu lalu saya restart laptop saya. Saya masuk lagi dan dia masih menunggu di room. Hehe. 

Ok, jadi begitulah kesan pertama kami. Aneh banget. Tapi aku sama sekali ga nervous kok. Padahal sih biasanya kalau mau meeting pertama nervous ya. Ini nggak kok. Mungkin karena insiden tadi ya. Entahlah. Jadi selanjutnya kami kenalan dan ngomongin goalnya mau apa dan rencananya mau gimana. Lalu kita ngobrol-ngobrol saja malah kayak sudah mulai kelas pertama padahal sih belum ya. Baru trial ini loh. Saya pikir tadinya itu walau 50 menit bakal selesai lebih cepat karena kan cuma trial. Perkiraan saya kalau sudah kenalan sudah bahas goalsnya ya sudah. Eh ternyata lanjut. Malah mungkin keasyikan? Padahal tutornya ini tipe serius loh. Ga ada itu bercanda. Nah tibalah waktu 50 menit mau habis. Kurang 3 menit gitu. Saya bilang time is over. Eh tapi dia masih ngomong saja terus. Tadinya saya pikir kalau waktu habis bakal ketutup sendiri eh ternyata nggak ya. Jadi kita masih bisa lanjut. Dan akhirnya selesai di 60 menit perkiraan saya. Haha. Ga termasuk yang trouble tadi ya. Trouble 7 menit sendiri. Tutor on time masuk dari jam 20.30 lalu trouble sampe 20.37. Saya keluar restart dulu lalu masuk lagi. Mungkin restart dan masuk lagi bisa 2 menit sendiri. Lah berarti hampir 70 menit dong. Astaga. Padahal jatahnya 50 menit. Berarti aku kelebihan pakai waktu dia. :)

Ga tau ini keasyikan apa gimana? Pertanda match ga ya dia jadi tutor saya. Ada chemistrynya ga nih. Galau saya mau lanjut sama tutor ini ada pikiran takut salah pilih tutor. Wajar kan ya karena kita kan bayar mahal. Saya ga mau rugi uang waktu tenaga pikiran. Perhitungan banget ya. Ya iyalah saya melangkah ini bukan tanpa pertimbangan. Tapi beneran sih setelah trial ini ada rasa lega. Trus kepikiran kenapa ga dari dulu sih saya ambil les ini. Mungkin Tuhan bilang saat inilah yang tepat. Gitu kali ya. :)


Refleksi
Kalau di trial kita bisa ngobrol 1 jam apakah itu pertanda bagus kalau kita cocok? Semoga saja begitu ya. Soalnya kalau kulihat tutornya tipe serius ini. Kalem orangnya bukan yang ekspresif. Jarang dia tertawa. Ga pernah bercanda juga. Kalau ngobrol serius 1 jam betah semoga memang pertanda bagus ya. 

Ga tahu juga ini apa karena saya yang spirit belajarnya lagi tinggi juga makanya betah-betah saja. Karena memang saya ini pernah dapat tutor lokal yang galak dan bikin suasana tegang saja saya bertahan sampai akhir les. Padahal 2 jam per sesi durasinya. Dari 13 orang tinggal 5 orang yang bertahan sampai akhir. Hehe. Yang begini saja bisa bertahan apalagi kalau ketemu yang seru sefrekuensi energinya nyambung pasti jadi betah. 

Tapi bisa jadi juga ini trik marketing supaya saya ambil kelasnya? Huah... whateverlah ya... yang penting tujuan saya tercapai aja.

So, jadi baper ga nih? Nggak dong... seperti yang saya bilang tadi saya profesional dan belum ada sejarah hidup saya baper. Kalau sampai baper saya mencetak sejarah baru. Lagian, dia sudah pakai cincin. Jadi aman ga akan baper. :)

Tenang... dia juga profesional kok.. ada tulisannya profesional. 

Sekian dulu Sobat... see you next post!

Sayang dibuang ya sobat... 

Friday, January 2, 2026

Cerita Pengabdian Masyarakat ke Panti Asuhan

1/02/2026 06:16:00 PM 0 Comments
Sekitar bulan Juni 2025 saya dan 4 orang teman saya melakukan pengabdian masyarakat ke sebuah panti asuhan di Jakarta. Dari mencari lokasi, persiapan, hingga pelaksanaan semuanya kami lakukan sendiri. Kami berbagi tugas di setiap kegiatan.

Awalnya kami rapat pembentukan panitia terlebih dahulu. Kami bentuk ketua, sekretaris, bendahara, PJ logistik, dan PJ dokumentasi. Semuanya aman terkendali hanya di-handle berlima. 

Untuk pencarian lokasi kami serahkan ke ketua dan PJ dokumentasi karena anggota pria hanya mereka. Biar mereka pergi bareng cek lokasi. Ternyata ga mudah buat dapat lokasi. Beberapa lokasi tidak ketemu. Ada yang tutup. Ada yang tidak menerima PKM. Ada yang sudah berubah fungsi. Pokoknya macam-macam. Akhirnya ada yang menerima kedatangan kami dan waktunya bisa kami sesuaikan yaitu Panti Asuhan Karena Kasih di daerah Jakarta. 



Di panti asuhan ini anak-anaknya mayoritas keturunan tionghoa. Pas kami datang awalnya kami ekspektasi anak SD sejumlah 10 orang saja. Ternyata mayoritas anak SMP yang sudah besar-besar bahkan kami kalah besar hehe. Anak SD hanya 2 orang. Malah lebih 1 orang jadi total 11 anak. Lebih ya. Padahal kami menyiapkan goodie bag pas 10. Jadi kurang 1. Waduh... 

Selain itu, kami merasa seperti salah persiapan. Karena awalnya kami menyiapkan materi dan game untuk anak-anak SD. Begitu pula untuk hadiah dan snack yang kami siapkan.

Kami sudah menyusun skenario rundown acara dari awal hingga akhir karena waktu yang diberikan ke kami 2 jam saja. Kami ingin tepat waktu. Kami menyiapkan 4 game dengan masing-masing dari kami menjadi PJ. Kami berbagi tugas ada yang mencatat skor, ada yang dokumentasi, ada yang menyiapkan hadiah, dan lain-lain.

Kami ke sini mengajar bahasa Inggris tapi dengan cara yang fun. Kami sedikit mengubah rencana dari yang tadinya ada materi sedikit buat anak-anak akhirnya kami alihkan semuanya game. Dan berjalan lancar dari awal hingga akhir. Fun banget. Anak-anaknya antusias banget walau sudah gede-gede ya. Mereka sangat kompetitif untuk dapat hadiah.

Game pertama adalah menyusun body part label dalam bahasa Inggris. Di game ini PJ nya 2 orang panitia pria. Mereka yang badannya ditempel-tempel. Pesertanya dibuat 2 kelompok. Game ini kami letakkan pertama untuk ice breaking. Awalnya anak-anak belum terlalu antusias tapi setelah ini mereka mulai cair.

Game selanjutnya adalah tebak gambar. 1 kelompok isinya 2 orang. PJ nya adalah panitia wanita. Di game ini cukup seru karena semua pasti berpartisipasi. Game ini melatih kemampuan mendeskripsikan gambar dan menebak nama yang dideskripsikan.

Game ketiga adalah Simon says. Ini untuk melatih konsentrasi. Pada game ini sangat sulit untuk dapat pemenang karena beberapa anak yang tersisa fokusnya tinggi. 

Game keempat adalah game terakhir yang saya bawakan. Saya cuma tebak-tebakan quiz. Tapi antusias mereka tinggi sekali. Mereka saling berebut sampai heboh sekali tak terkendali. Tidak menyangka ya. Mungkin karena hadiahnya boneka. Mereka itu sudah besar-besar tapi rupanya boneka itu hadiah yang tak pandang bulu. Mau besar kecil semua orang suka. :)

Selesai game kita penutupan dengan kesan pesan dan doa. Lalu kita penyerahan goodie bag dan makan siang untuk anak-anak. Kita juga memberikan sedikit bingkisan untuk panti. 

Senang rasanya bisa berbagi dengan mereka. Setelah itu kita pulang. Kita mampir dulu makan karena sudah kelaparan hehe.

Alhamdulillah acara sukses. Terima kasih kerjasamanya teman-teman semua. Tim kita solid banget. :)

Sunday, May 25, 2025

Kenapa Otakku Selalu Berpikir Lurus-Lurus Saja, Seperti Sudah Default

5/25/2025 01:45:00 PM 0 Comments

Halo Sobat apa kabarmu hari ini? Saat ini Jakarta lagi terasa dingin. Walau sekarang ini sudah masuk musim panas tapi malah hujam tiap hari. Alhamdulillah ya karena Jakarta jadi adem. Tapi suasana jadi gloomy. Tak ada sinar matahari hanya mendung. 


Ok kali ini aku mau membahas tentang yang aku alami. Ini tentang cara berpikir yang lurus-lurus saja. Terkadang suka heran dengan orang lain yang kok kepikiran ini itu kok aku nggak ya. Jadi penasaran sendiri.


Yuk simak...


Kadang aku iri dengan orang yang bisa memikirkan berbagai kemungkinan, punya imajinasi liar, atau selalu punya ide “di luar kotak”. Sementara aku? Otakku cenderung berpikir lurus. Teratur. Langsung ke inti. Rasanya seperti sudah default setting dan aku tak tahu harus senang atau justru merasa terbatas.


1. Aku Terlatih untuk Efisiensi, Bukan Eksplorasi
Sejak kecil, aku terbiasa dengan hal-hal yang jelas: pertanyaan punya jawaban, masalah punya solusi, langkah punya tujuan. Lingkungan dan pendidikan membentukku untuk berpikir praktis. Tak banyak ruang untuk berandai-andai, atau menabrak pakem.


2. Logika Selalu Menang
Aku cenderung mencari alasan logis untuk semua hal. Bahkan saat menulis, merencanakan sesuatu, atau bertindak, aku ingin semuanya masuk akal. Imajinasi sering kalah dengan logika. Bukan karena aku tak bisa bermimpi, tapi karena aku takut tersesat di sana.


3. Mungkin Aku Takut Gagal, Jadi Memilih Jalur Aman
Berpikir lurus adalah cara aman untuk hidup. Tak ada belokan tajam yang bisa bikin jatuh, tak ada kejutan yang menyakitkan. Tapi kadang aku sadar, terlalu aman justru membuat hidup terasa datar.


4. Tapi Bukan Berarti Aku Tak Bisa Berubah
Setiap hari aku belajar mengenali bahwa berpikir lurus bukan kelemahan, tapi fondasi. Mungkin aku hanya perlu membuka sedikit ruang di kepala dan hati, untuk mencoba hal yang tak biasa. Sedikit melawan arus. Sedikit kacau. Dan sedikit berani.


Penutup: Lurus Itu Bukan Salah, Tapi Jangan Lupa Sesekali Menoleh

Otakku mungkin berjalan di garis lurus, tapi dunia tidak. Kadang, keindahan justru ditemukan di jalan memutar, di tikungan yang tidak terduga. Jadi mungkin bukan soal mengganti cara pikir, tapi memberi diri izin untuk sesekali keluar dari garis dan melihat, siapa tahu di luar sana ada versi diriku yang belum sempat aku kenal.



Bagaimana sobat? Apakah kamu orang yang berpikir lurus-lurus saja? Tenang sobat kamu ga sendiri kok. Sebenarnya ini berkah atau bukan ya? Hehe


Kita sampai di sini dulu. Lanjut ke posting berikutnya...


Thursday, May 22, 2025

Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus

5/22/2025 04:41:00 PM 0 Comments

Sobat, ini masih lanjutan posting sebelumnya. Yuk simak... siapa tahu relate denganmu...



Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus

Ada saat-saat dalam hidup ketika aku merasa langkahku mulai goyah. Keinginan dunia mulai menggoda, egoku mulai mendominasi, dan aku mencoba berjalan ke arah yang berbeda dari apa yang aku yakini sebagai kebaikan. Tapi entah bagaimana, setiap kali aku menyimpang, Allah seperti langsung menarikku kembali. Tegas. Cepat. Kadang menyakitkan.


Dulu aku mengira itu semacam hukuman. Tapi makin ke sini, aku mulai sadar: mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan bahwa Dia tidak ingin aku jauh dari-Nya. Mungkin, ini cara-Nya berkata: "Aku sayang kamu. Tetaplah di jalan yang lurus."


1. Gagal Saat Berniat Salah
Setiap kali aku melakukan sesuatu dengan niat yang tidak bersih karena sombong, karena ingin dipuji, atau karena dengki hasilnya selalu tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan hal-hal yang biasanya mudah, tiba-tiba menjadi rumit. Aku merasa Allah sedang membelokkan arahku kembali, memaksaku bertanya ulang: Apa niatku sebenarnya?


2. Gelisah Saat Menjauh dari Ibadah
Bukan cuma urusan dunia yang kacau, tapi hatiku juga ikut gelisah. Kalau aku mulai lalai dari salat, mengabaikan doa, atau menjauh dari tilawah, rasanya hidup jadi hambar. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi dengan apapun, seolah Allah sedang berbisik: “Kembali kepada-Ku.”


3. Disadarkan Lewat Orang Sekitar
Pernah suatu waktu aku sedang dalam kondisi hampir menyerah, nyaris mengikuti godaan yang aku tahu salah. Tapi tiba-tiba saja, seseorang datang dengan nasihat, atau aku tanpa sengaja mendengar ceramah yang isinya seperti ditujukan langsung padaku. Apakah itu kebetulan? Tidak. Aku yakin itu cara Allah menjaga.


4. Dihindarkan dari Jalan yang Salah, Meski Aku Bersikeras
Pernah aku ngotot ingin sesuatu—pekerjaan, hubungan, atau keputusan yang jauh dari nilai yang aku yakini. Tapi selalu ada saja penghalangnya. Dulu aku marah. Tapi sekarang aku paham: bisa jadi Allah sedang melindungiku dari kerusakan yang tak aku lihat.


5. Mudah Menangis Saat Mengingat-Nya
Yang paling sering terjadi adalah: ketika aku kembali ke jalan lurus, hatiku terasa ringan. Bahkan hanya mendengar ayat Al-Qur'an atau menyebut nama-Nya dalam doa, air mata bisa jatuh. Mungkin itu tanda hatiku masih hidup, dan Allah tak pernah benar-benar meninggalkanku.



Penutup: Jalan Lurus Itu Bukan yang Paling Mudah, Tapi Paling Dijaga


Aku percaya, tidak semua orang mendapat "teguran cepat" ketika melenceng. Kalau aku merasakannya, mungkin itu artinya aku termasuk orang yang dijaga. Dan dijaga itu berarti dicintai.


Mungkin inilah jalan hidupku: bukan yang selalu mulus, tapi selalu diarahkan. Dan aku bersyukur untuk setiap kali Allah menarikku kembali ke jalan yang lurus walaupun caranya kadang tidak nyaman. Karena di situlah, aku benar-benar merasa dekat dengan-Nya.



Sobat, semoga posting ini bermanfaat ya... sampai jumpa...

Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng

5/22/2025 11:56:00 AM 0 Comments

Halo Sobat, kita ngobrol ringan aja ya. Kali ini saya mau cerita tentang hal yang saya renungi karena memang kejadian di saya bahwa saya ini tipe orang yang langsung kena hukuman Allah kalau melenceng dari jalur. Ini merupakan renungan dari beberapa kejadian di masa lalu yang membuat saya menyimpulkan bahwa kita hidup itu harus lurus-lurus saja. Karena Allah punya berbagai cara untuk membawa kita kembali atau mengingaatkan kita ke jalannya. Tapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi semua orang ya. Jadi ini hanya berdasar kisah yang saya alami. Yuk simak...



Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng

Ada satu hal yang sering aku rasakan dalam hidup ini: aku seperti tipe orang yang langsung kena hukuman atau "teguran" dari Tuhan kalau sedikit saja berbelok dari jalan yang seharusnya.


Bukan karena aku suci atau lebih baik dari orang lain—justru sebaliknya. Aku ini manusia biasa, penuh khilaf dan keinginan yang kadang menyalahi nilai-nilai yang aku yakini sendiri. Tapi entah kenapa, setiap kali aku coba menyimpang, bahkan hanya setengah hati, seolah langsung ada sesuatu yang "menamparku" dengan keras.


Kadang tegurannya datang dalam bentuk kegagalan. Saat aku mulai melakukan sesuatu dengan niat yang salah—demi ego, demi pembuktian, atau karena iri—hasilnya selalu mengecewakan. Bukan cuma gagal, tapi juga membuatku malu pada diri sendiri.


Kadang tegurannya lebih halus: rasa gelisah yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada alarm dalam hati yang bunyinya makin keras kalau aku tetap memaksa berjalan ke arah yang keliru. Rasanya seperti ditarik pelan-pelan kembali ke jalur yang benar, walaupun penuh luka.


Yang paling menyakitkan? Saat orang-orang terdekat ikut terdampak. Aku pernah merasakan dampak dari kesalahanku sendiri menjalar ke mereka yang tidak bersalah. Dan di situ, rasa bersalahku jadi bentuk teguran yang paling menyesakkan.


Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal: teguran itu bukan bentuk murka, tapi bentuk cinta. Mungkin ini cara Tuhan menjaga aku tetap waras, tetap rendah hati, dan tetap dekat dengan-Nya. Mungkin aku tipe orang yang tidak bisa terlalu lama jauh dari cahaya, karena sekali menjauh, aku bisa tersesat terlalu jauh.


Dan meski terkadang aku iri pada orang lain yang tampaknya bisa hidup bebas, bisa berbuat seenaknya tanpa langsung kena "balasan", aku sadar… setiap jiwa punya cara dididik-Nya masing-masing. Mungkin ini bentuk kasih-Nya yang paling jujur untukku.


Jika kamu juga merasa seperti ini—bahwa setiap kesalahanmu cepat sekali "dibayar lunas"—mungkin kamu juga termasuk orang yang disayang. Disadarkan lebih awal agar tidak terjerumus lebih dalam.


Dan mungkin, itu bukan hukuman. Itu panggilan pulang.


Lanjut ke posting berikutnya...

Pembunuhan Karakter: Ketika Reputasi Dibunuh Tanpa Darah

5/22/2025 11:13:00 AM 0 Comments

Halo Sobat. Kali ini saya posting yang agak beda yaitu pembunuhan karakter. Sebenarnya ini karena saya tiba tiba teringat kejadian masa lalu. Lalu saya berpikir oh sepertinya ini pembunuhan karakter ya. Mungkin dari kita sering tidak menyadari bahwa kita menjadi pembunuh karakter. Oh seram...


Jadi ceritanya begini sobat. Saya pernah di ceng cengin teman saya A karena dia perhatikan ada yang perhatian ke saya B. Nah sepertinya teman saya ini cerita ke teman saya yang lain C. Jadilah C ini cerita ke saya kalau si B itu bla bla bla. Nah C ini teman dekat saya sobat jadi ya saya dengarkan apa kata dia. Jadilah saya menjauh dari B. Dan baru sekarang ini saya menyadari kalau apa yang dikatakan C itu pembunuhan karakter. Karena setahu saya ga ada yang salah dengan B dan nyatanya hingga sekarang dia juga ga ada bikin masalah. Begitulah ceritanya sobat. Jangan jangan kita sudah menjadi pembunuh karakter tanpa kita sadari. Nah yuk kita simak apa itu pembunuhan karakter.



Judul: Pembunuhan Karakter: Ketika Reputasi Dibunuh Tanpa Darah


Apa Itu Pembunuhan Karakter?
Istilah "pembunuhan karakter" (character assassination) mungkin terdengar dramatis, namun kenyataannya memang sekelam itu. Ini adalah tindakan sistematis untuk merusak reputasi seseorang melalui fitnah, insinuasi, atau manipulasi informasi. Tidak ada senjata, tidak ada darah, tapi kerusakannya bisa permanen—meninggalkan luka sosial, psikologis, bahkan karier yang hancur.


Motif di Baliknya
Pembunuhan karakter biasanya dilakukan karena iri, dendam, ambisi politik, atau sekadar kepuasan pribadi dalam melihat orang lain jatuh. Dalam dunia kerja, persaingan tidak sehat bisa melahirkan rumor yang meracuni lingkungan. Dalam politik, ini menjadi senjata utama untuk menjatuhkan lawan. Bahkan di dunia maya, satu komentar bernada tuduhan bisa menyulut badai cancel culture.


Cara Kerja yang Licik dan Halus
Pembunuhan karakter tidak selalu frontal. Justru sering kali tersembunyi dalam bisik-bisik, unggahan samar di media sosial, atau tuduhan tanpa bukti yang dibuat seolah-olah netral. Semakin sering diulang, semakin "benar" informasi itu terdengar di telinga publik. Ini yang membuatnya berbahaya: opini bisa dibentuk tanpa fakta.


Dampak bagi Korban
Dampaknya bisa menghancurkan. Korban bisa kehilangan pekerjaan, dukungan sosial, kepercayaan diri, bahkan tujuan hidup. Banyak yang mengalami tekanan mental serius akibat stigma yang ditempelkan tanpa kesempatan membela diri. Dalam kasus ekstrem, ini bisa berujung pada depresi, isolasi, bahkan bunuh diri.


Menghadapinya: Bukan dengan Serangan Balik, Tapi dengan Keteguhan Diri
Menghadapi pembunuhan karakter bukan perkara mudah. Membalas hanya akan memperpanjang drama. Yang dibutuhkan adalah ketenangan, klarifikasi yang tegas jika perlu, dan bukti integritas yang konsisten. Waktu dan kebenaran sering kali menjadi pembela paling ampuh.


Penutup: Jangan Ikut Menjadi Algojo Diam-Diam
Kita semua punya potensi menjadi bagian dari pembunuhan karakter—melalui like, share, atau komentar sinis terhadap sesuatu yang belum tentu benar. Sebelum menghakimi seseorang, tanyakan dulu: apakah aku benar-benar tahu ceritanya, atau hanya ikut arus?



Jadi gimana sobat? Apa kamu termasuk pembunuh karakter? Lanjut ke posting berikutnya...