Friday, January 2, 2026
Sunday, May 25, 2025
Kenapa Otakku Selalu Berpikir Lurus-Lurus Saja, Seperti Sudah Default
Halo Sobat apa kabarmu hari ini? Saat ini Jakarta lagi terasa dingin. Walau sekarang ini sudah masuk musim panas tapi malah hujam tiap hari. Alhamdulillah ya karena Jakarta jadi adem. Tapi suasana jadi gloomy. Tak ada sinar matahari hanya mendung.
Ok kali ini aku mau membahas tentang yang aku alami. Ini tentang cara berpikir yang lurus-lurus saja. Terkadang suka heran dengan orang lain yang kok kepikiran ini itu kok aku nggak ya. Jadi penasaran sendiri.
Yuk simak...
Kadang aku iri dengan orang yang bisa memikirkan berbagai kemungkinan, punya imajinasi liar, atau selalu punya ide “di luar kotak”. Sementara aku? Otakku cenderung berpikir lurus. Teratur. Langsung ke inti. Rasanya seperti sudah default setting dan aku tak tahu harus senang atau justru merasa terbatas.
1. Aku Terlatih untuk Efisiensi, Bukan Eksplorasi
Sejak kecil, aku terbiasa dengan hal-hal yang jelas: pertanyaan punya jawaban, masalah punya solusi, langkah punya tujuan. Lingkungan dan pendidikan membentukku untuk berpikir praktis. Tak banyak ruang untuk berandai-andai, atau menabrak pakem.
2. Logika Selalu Menang
Aku cenderung mencari alasan logis untuk semua hal. Bahkan saat menulis, merencanakan sesuatu, atau bertindak, aku ingin semuanya masuk akal. Imajinasi sering kalah dengan logika. Bukan karena aku tak bisa bermimpi, tapi karena aku takut tersesat di sana.
3. Mungkin Aku Takut Gagal, Jadi Memilih Jalur Aman
Berpikir lurus adalah cara aman untuk hidup. Tak ada belokan tajam yang bisa bikin jatuh, tak ada kejutan yang menyakitkan. Tapi kadang aku sadar, terlalu aman justru membuat hidup terasa datar.
4. Tapi Bukan Berarti Aku Tak Bisa Berubah
Setiap hari aku belajar mengenali bahwa berpikir lurus bukan kelemahan, tapi fondasi. Mungkin aku hanya perlu membuka sedikit ruang di kepala dan hati, untuk mencoba hal yang tak biasa. Sedikit melawan arus. Sedikit kacau. Dan sedikit berani.
Penutup: Lurus Itu Bukan Salah, Tapi Jangan Lupa Sesekali Menoleh
Otakku mungkin berjalan di garis lurus, tapi dunia tidak. Kadang, keindahan justru ditemukan di jalan memutar, di tikungan yang tidak terduga. Jadi mungkin bukan soal mengganti cara pikir, tapi memberi diri izin untuk sesekali keluar dari garis dan melihat, siapa tahu di luar sana ada versi diriku yang belum sempat aku kenal.
Bagaimana sobat? Apakah kamu orang yang berpikir lurus-lurus saja? Tenang sobat kamu ga sendiri kok. Sebenarnya ini berkah atau bukan ya? Hehe
Kita sampai di sini dulu. Lanjut ke posting berikutnya...
Thursday, May 22, 2025
Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus
Sobat, ini masih lanjutan posting sebelumnya. Yuk simak... siapa tahu relate denganmu...
Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus
Ada saat-saat dalam hidup ketika aku merasa langkahku mulai goyah. Keinginan dunia mulai menggoda, egoku mulai mendominasi, dan aku mencoba berjalan ke arah yang berbeda dari apa yang aku yakini sebagai kebaikan. Tapi entah bagaimana, setiap kali aku menyimpang, Allah seperti langsung menarikku kembali. Tegas. Cepat. Kadang menyakitkan.
Dulu aku mengira itu semacam hukuman. Tapi makin ke sini, aku mulai sadar: mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan bahwa Dia tidak ingin aku jauh dari-Nya. Mungkin, ini cara-Nya berkata: "Aku sayang kamu. Tetaplah di jalan yang lurus."
1. Gagal Saat Berniat Salah
Setiap kali aku melakukan sesuatu dengan niat yang tidak bersih karena sombong, karena ingin dipuji, atau karena dengki hasilnya selalu tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan hal-hal yang biasanya mudah, tiba-tiba menjadi rumit. Aku merasa Allah sedang membelokkan arahku kembali, memaksaku bertanya ulang: Apa niatku sebenarnya?
2. Gelisah Saat Menjauh dari Ibadah
Bukan cuma urusan dunia yang kacau, tapi hatiku juga ikut gelisah. Kalau aku mulai lalai dari salat, mengabaikan doa, atau menjauh dari tilawah, rasanya hidup jadi hambar. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi dengan apapun, seolah Allah sedang berbisik: “Kembali kepada-Ku.”
3. Disadarkan Lewat Orang Sekitar
Pernah suatu waktu aku sedang dalam kondisi hampir menyerah, nyaris mengikuti godaan yang aku tahu salah. Tapi tiba-tiba saja, seseorang datang dengan nasihat, atau aku tanpa sengaja mendengar ceramah yang isinya seperti ditujukan langsung padaku. Apakah itu kebetulan? Tidak. Aku yakin itu cara Allah menjaga.
4. Dihindarkan dari Jalan yang Salah, Meski Aku Bersikeras
Pernah aku ngotot ingin sesuatu—pekerjaan, hubungan, atau keputusan yang jauh dari nilai yang aku yakini. Tapi selalu ada saja penghalangnya. Dulu aku marah. Tapi sekarang aku paham: bisa jadi Allah sedang melindungiku dari kerusakan yang tak aku lihat.
5. Mudah Menangis Saat Mengingat-Nya
Yang paling sering terjadi adalah: ketika aku kembali ke jalan lurus, hatiku terasa ringan. Bahkan hanya mendengar ayat Al-Qur'an atau menyebut nama-Nya dalam doa, air mata bisa jatuh. Mungkin itu tanda hatiku masih hidup, dan Allah tak pernah benar-benar meninggalkanku.
Penutup: Jalan Lurus Itu Bukan yang Paling Mudah, Tapi Paling Dijaga
Aku percaya, tidak semua orang mendapat "teguran cepat" ketika melenceng. Kalau aku merasakannya, mungkin itu artinya aku termasuk orang yang dijaga. Dan dijaga itu berarti dicintai.
Mungkin inilah jalan hidupku: bukan yang selalu mulus, tapi selalu diarahkan. Dan aku bersyukur untuk setiap kali Allah menarikku kembali ke jalan yang lurus walaupun caranya kadang tidak nyaman. Karena di situlah, aku benar-benar merasa dekat dengan-Nya.
Sobat, semoga posting ini bermanfaat ya... sampai jumpa...
Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng
Halo Sobat, kita ngobrol ringan aja ya. Kali ini saya mau cerita tentang hal yang saya renungi karena memang kejadian di saya bahwa saya ini tipe orang yang langsung kena hukuman Allah kalau melenceng dari jalur. Ini merupakan renungan dari beberapa kejadian di masa lalu yang membuat saya menyimpulkan bahwa kita hidup itu harus lurus-lurus saja. Karena Allah punya berbagai cara untuk membawa kita kembali atau mengingaatkan kita ke jalannya. Tapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi semua orang ya. Jadi ini hanya berdasar kisah yang saya alami. Yuk simak...
Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng
Ada satu hal yang sering aku rasakan dalam hidup ini: aku seperti tipe orang yang langsung kena hukuman atau "teguran" dari Tuhan kalau sedikit saja berbelok dari jalan yang seharusnya.
Bukan karena aku suci atau lebih baik dari orang lain—justru sebaliknya. Aku ini manusia biasa, penuh khilaf dan keinginan yang kadang menyalahi nilai-nilai yang aku yakini sendiri. Tapi entah kenapa, setiap kali aku coba menyimpang, bahkan hanya setengah hati, seolah langsung ada sesuatu yang "menamparku" dengan keras.
Kadang tegurannya datang dalam bentuk kegagalan. Saat aku mulai melakukan sesuatu dengan niat yang salah—demi ego, demi pembuktian, atau karena iri—hasilnya selalu mengecewakan. Bukan cuma gagal, tapi juga membuatku malu pada diri sendiri.
Kadang tegurannya lebih halus: rasa gelisah yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada alarm dalam hati yang bunyinya makin keras kalau aku tetap memaksa berjalan ke arah yang keliru. Rasanya seperti ditarik pelan-pelan kembali ke jalur yang benar, walaupun penuh luka.
Yang paling menyakitkan? Saat orang-orang terdekat ikut terdampak. Aku pernah merasakan dampak dari kesalahanku sendiri menjalar ke mereka yang tidak bersalah. Dan di situ, rasa bersalahku jadi bentuk teguran yang paling menyesakkan.
Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal: teguran itu bukan bentuk murka, tapi bentuk cinta. Mungkin ini cara Tuhan menjaga aku tetap waras, tetap rendah hati, dan tetap dekat dengan-Nya. Mungkin aku tipe orang yang tidak bisa terlalu lama jauh dari cahaya, karena sekali menjauh, aku bisa tersesat terlalu jauh.
Dan meski terkadang aku iri pada orang lain yang tampaknya bisa hidup bebas, bisa berbuat seenaknya tanpa langsung kena "balasan", aku sadar… setiap jiwa punya cara dididik-Nya masing-masing. Mungkin ini bentuk kasih-Nya yang paling jujur untukku.
Jika kamu juga merasa seperti ini—bahwa setiap kesalahanmu cepat sekali "dibayar lunas"—mungkin kamu juga termasuk orang yang disayang. Disadarkan lebih awal agar tidak terjerumus lebih dalam.
Dan mungkin, itu bukan hukuman. Itu panggilan pulang.
Lanjut ke posting berikutnya...
Pembunuhan Karakter: Ketika Reputasi Dibunuh Tanpa Darah
Halo Sobat. Kali ini saya posting yang agak beda yaitu pembunuhan karakter. Sebenarnya ini karena saya tiba tiba teringat kejadian masa lalu. Lalu saya berpikir oh sepertinya ini pembunuhan karakter ya. Mungkin dari kita sering tidak menyadari bahwa kita menjadi pembunuh karakter. Oh seram...
Jadi ceritanya begini sobat. Saya pernah di ceng cengin teman saya A karena dia perhatikan ada yang perhatian ke saya B. Nah sepertinya teman saya ini cerita ke teman saya yang lain C. Jadilah C ini cerita ke saya kalau si B itu bla bla bla. Nah C ini teman dekat saya sobat jadi ya saya dengarkan apa kata dia. Jadilah saya menjauh dari B. Dan baru sekarang ini saya menyadari kalau apa yang dikatakan C itu pembunuhan karakter. Karena setahu saya ga ada yang salah dengan B dan nyatanya hingga sekarang dia juga ga ada bikin masalah. Begitulah ceritanya sobat. Jangan jangan kita sudah menjadi pembunuh karakter tanpa kita sadari. Nah yuk kita simak apa itu pembunuhan karakter.
Judul: Pembunuhan Karakter: Ketika Reputasi Dibunuh Tanpa Darah
Apa Itu Pembunuhan Karakter?
Istilah "pembunuhan karakter" (character assassination) mungkin terdengar dramatis, namun kenyataannya memang sekelam itu. Ini adalah tindakan sistematis untuk merusak reputasi seseorang melalui fitnah, insinuasi, atau manipulasi informasi. Tidak ada senjata, tidak ada darah, tapi kerusakannya bisa permanen—meninggalkan luka sosial, psikologis, bahkan karier yang hancur.
Motif di Baliknya
Pembunuhan karakter biasanya dilakukan karena iri, dendam, ambisi politik, atau sekadar kepuasan pribadi dalam melihat orang lain jatuh. Dalam dunia kerja, persaingan tidak sehat bisa melahirkan rumor yang meracuni lingkungan. Dalam politik, ini menjadi senjata utama untuk menjatuhkan lawan. Bahkan di dunia maya, satu komentar bernada tuduhan bisa menyulut badai cancel culture.
Cara Kerja yang Licik dan Halus
Pembunuhan karakter tidak selalu frontal. Justru sering kali tersembunyi dalam bisik-bisik, unggahan samar di media sosial, atau tuduhan tanpa bukti yang dibuat seolah-olah netral. Semakin sering diulang, semakin "benar" informasi itu terdengar di telinga publik. Ini yang membuatnya berbahaya: opini bisa dibentuk tanpa fakta.
Dampak bagi Korban
Dampaknya bisa menghancurkan. Korban bisa kehilangan pekerjaan, dukungan sosial, kepercayaan diri, bahkan tujuan hidup. Banyak yang mengalami tekanan mental serius akibat stigma yang ditempelkan tanpa kesempatan membela diri. Dalam kasus ekstrem, ini bisa berujung pada depresi, isolasi, bahkan bunuh diri.
Menghadapinya: Bukan dengan Serangan Balik, Tapi dengan Keteguhan Diri
Menghadapi pembunuhan karakter bukan perkara mudah. Membalas hanya akan memperpanjang drama. Yang dibutuhkan adalah ketenangan, klarifikasi yang tegas jika perlu, dan bukti integritas yang konsisten. Waktu dan kebenaran sering kali menjadi pembela paling ampuh.
Penutup: Jangan Ikut Menjadi Algojo Diam-Diam
Kita semua punya potensi menjadi bagian dari pembunuhan karakter—melalui like, share, atau komentar sinis terhadap sesuatu yang belum tentu benar. Sebelum menghakimi seseorang, tanyakan dulu: apakah aku benar-benar tahu ceritanya, atau hanya ikut arus?
Jadi gimana sobat? Apa kamu termasuk pembunuh karakter? Lanjut ke posting berikutnya...
Monday, May 19, 2025
Ketika Lagu Tetangga Ikut Ujian: Kenapa Otakku Malah Putar Lagu Saat Harus Fokus?
Berikut lanjutan cerita tentang gaya belajarku.
Ketika Lagu Tetangga Ikut Ujian: Kenapa Otakku Malah Putar Lagu Saat Harus Fokus?
Pernahkah kamu serius mengerjakan ujian, tapi tiba-tiba lagu yang sering diputar tetangga malah berkumandang di kepalamu? Liriknya berputar-putar, bahkan mengalahkan suara pikiranmu sendiri. Padahal kamu sedang berusaha mati-matian mengingat rumus atau konsep penting yang sudah kamu hafalkan semalam suntuk.
Aku pun pernah—bahkan sering—mengalaminya.
Lucunya, saat belajar aku merasa fokus, tapi begitu ujian dimulai…
“Ku ingin marah, melampiaskan… tapi ku hanyalah sendiri di sini….”
Apa-apaan ini? Lagu galau malah nyangkut di kepala. Rasanya konyol, menyebalkan, dan mengganggu. Tapi ternyata, kejadian itu bukan karena aku kurang serius belajar atau terlalu baper. Fenomena ini ternyata punya nama ilmiah, dan alasannya… masuk akal juga!
Earworm: Lagu yang “Nyangkut” di Otak
Fenomena ini disebut earworm atau secara ilmiah: Involuntary Musical Imagery (INMI). Artinya, ada potongan musik yang secara tidak sadar terulang di benak kita, tanpa kita minta atau sadari sebelumnya. Ini bukan hal aneh. Penelitian menyebutkan 90% orang mengalaminya secara berkala.
Tapi kenapa justru munculnya saat ujian?
3 Alasan Lagu Tetangga Tiba-tiba Muncul Saat Ujian
1. Lagu Itu Tertanam Saat Kamu Belajar
Saat kamu membaca buku di rumah dan tetangga memutar lagu keras-keras, otakmu tidak hanya menyimpan isi bacaan—tapi juga suasana sekitar. Ini disebut context-dependent memory.
Jadi, ketika kamu mencoba membuka kembali ingatan soal pelajaran saat ujian, otakmu malah juga “mengeluarkan” suara-suara latar dari saat kamu belajar—termasuk lagu tetangga.
2. Kondisi Hening Bikin Otak Mencari Pengisi
Ruang ujian biasanya tenang, sunyi, dan penuh tekanan. Otakmu yang terbiasa belajar dengan suara latar jadi merasa “sepi” dan tidak nyaman. Maka secara otomatis, ia akan mengisi kekosongan itu… dengan suara yang paling familiar dan berulang: lagu yang kamu dengar berkali-kali saat belajar.
3. Lagu yang Repetitif Mudah Menempel
Lagu pop, dangdut, atau lagu TikTok biasanya punya pola lirik dan melodi yang repetitif. Itu membuat mereka mudah menempel di memori jangka pendek, bahkan bisa “ngendon” selama berhari-hari jika kamu terus-menerus mendengarnya.
Apakah Ini Tanda Aku Tipe Auditori?
Lucunya, tidak juga. Aku justru cenderung visual-kinestetik: lebih paham saat membaca atau mencoret-coret, bukan mendengar. Tapi fenomena ini tetap terjadi karena otak manusia selalu menyerap konteks penuh saat belajar, bukan hanya isi bukunya.
Apa yang Bisa Kulakukan?
Setelah mengalami ini berulang kali, aku mulai mencari cara agar lagu-lagu itu tidak “ikut” masuk ke ruang ujian. Beberapa hal yang cukup membantu:
-
Ganti latar suara saat belajar.
Gunakan white noise atau musik instrumental agar otak tetap aktif tanpa membentuk earworm baru. -
Belajar di waktu lebih tenang.
Pilih waktu ketika rumah atau lingkungan lebih sepi. Pagi hari biasanya lebih aman dari gangguan lagu tetangga. -
Bergerak saat lagu muncul di kepala.
Saat ujian dan lagu mulai terdengar di kepala, aku coba gerakkan jari, mencoret kertas, atau menulis ulang soal. Gerakan kecil bisa membantu otak “beralih jalur.” -
Terima kehadiran lagu tanpa panik.
Anehnya, semakin kamu menolak lagu itu, semakin kuat ia terputar. Jadi, aku belajar mengakui, “Oke lagu ini muncul, tapi sekarang aku fokus ke soal nomor 7.” Lama-lama, lagu itu memudar sendiri.
Kesimpulan: Lagu di Kepala Itu Bukan Gangguan Mental
Kalau kamu juga sering mengalami ini, jangan khawatir. Kamu tidak aneh atau gagal fokus. Otakmu hanya sangat peka terhadap suasana belajar—dan itu hal baik, kalau kamu bisa mengendalikannya.
Bahkan dari hal sepele seperti lagu tetangga, aku belajar satu hal penting: mengenali bagaimana cara otakku bekerja adalah kunci agar aku bisa belajar lebih efektif.
Kalau kamu punya cerita serupa, aku ingin mendengarnya. Karena mungkin, kita tidak sendirian mendengar lagu yang sama… saat ujian yang berbeda.
Sampai jumpa...
Ada harapan baru di setiap cahaya lembut yang menyentuh pagi.
Ini Gaya Belajarku: Kenapa Aku Lebih Mudah Tertidur Saat Mendengarkan?
Sobat, pernahkah kamu merasa mengantuk luar biasa saat mendengarkan ceramah, kuliah umum, atau audio listening? Bahkan saat topiknya penting dan kamu sudah niat mendengarkan, matamu tetap berat dan pikiran melayang entah ke mana. Kalau kamu sering mengalami ini, bisa jadi kamu seperti aku—bukan tipe pembelajar auditori.
Aku dan Gaya Belajarku: Visual-Kinestetik
Setelah sekian lama bertanya-tanya kenapa aku mudah tertidur saat dosen berbicara atau saat mendengarkan audio, aku akhirnya sadar:
aku adalah pembelajar visual-kinestetik.
Apa artinya?
-
Visual: Aku lebih mudah mengingat informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan, gambar, atau grafik. Bahkan, aku sering mengingat bahwa jawaban ujian ada di “halaman kiri atas buku,” bukan karena aku hafal isinya, tapi karena aku ingat visualnya.
-
Kinestetik: Tanganku harus bergerak untuk membuat pikiranku hidup. Entah itu mencoret, menulis ulang, membuat sketsa, atau sekadar memainkan pulpen. Tanpa gerakan, aku seperti ‘dimatikan’.
Tak heran, aku lebih nyaman belajar pakai buku fisik—yang bisa kusobek halamannya, kutandai, atau kuselipkan sticky notes. Layar HP atau laptop terlalu datar dan statis bagiku. Aku bisa baca buku berjam-jam, tapi langsung menguap hanya lima menit setelah memutar audio listening TOEFL.
Ceramah = Tidur? Ternyata Ada Alasannya
Aku dulu merasa bersalah saat mengantuk di kelas atau saat mengikuti webinar. Tapi sekarang aku tahu: bukan salahku, hanya gaya belajarku berbeda.
Saat mendengarkan saja:
- Otakku tidak mendapatkan stimulasi visual atau gerakan.
- Lingkungan tenang dan suara monoton memicu otak untuk rileks (alias tidur!).
- Informasi masuk terlalu lambat tanpa bisa kuintervensi secara aktif.
Ternyata, ini semua bisa dijelaskan secara ilmiah oleh konsep gaya belajar (learning styles), dan bukan berarti aku tidak cerdas atau malas.
Pantas saja dulu ketika kuliah aku sering banget ngantuk. Dan aku struggle untuk bisa melek. Aku sampai minta dicubitin punggung tanganku oleh teman sebelahku. Tak jarang juga kami gantian. Tapi kalau temanku itu aku tidak tahu apakah dia pembelajar dengan gaya yang sama sepertiku atau karena kurang tidur saja alias tidur kemalaman. Pokoknya zaman dulu itu aku sampai malu sendiri karena sering ngantuk.
Fenomena lain yang kutemui dan membuatku bertanya tanya adalah ketika aku dengar ceramah misal ikut acara kuliah umum atau kegiatan lain yang kita hanya duduk diam mendengarkan selama beberapa jam. Aku ngantuk. Termasuk di pekerjaan kadang kalau rapat dan aku tidak sambil ketik ketik maka aku ngantuk. Hehe.
Memang aku harus terlibat kegiatan yang aktif yang otakku itu digunakan seperti ketik ketik. Soalnya kalau cuma mendengar seringkali langsung menguap informasi yang diperoleh di otak seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ga nempel.
Dan aku sadar betul kalau aku ini pengingat letak. Jadi kalau belajar dan kemudian ujian aku akan ingat oh ini di halaman sekian bagian atas kanan dan sebagainya. Ternyata itu karena aku tipe visual. Baiklah.
Tapi yang agak lucu itu adalah misal aku sering dengar tetangga putar musik. Begitu ujian eh lah kok lagu itu terputar putar di otakku saat ujian padahal aku lagi mau fokus mengingat ingat jawaban. Lalu ini kenapa ya? Nyebelin sih tapi ya mau gimana coba? Penasaran? Yuk baca di posting berikutnya ya.
Strategi Belajar Versi Diriku Sendiri
Setelah memahami diriku lebih dalam, aku mulai menciptakan sistem belajar yang ramah gaya belajarku:
- Saat mendengarkan audio: aku sambil menulis ulang, mencoret transkrip, atau membuat catatan visual.
- Saat menghadiri ceramah/webinar: aku tidak duduk diam. Aku mencatat poin penting, membuat peta konsep, atau sekadar menggambar untuk tetap fokus.
- Saat belajar materi berat: aku lebih memilih cetak dokumen atau belajar langsung dari buku fisik.
Ternyata, perubahan kecil seperti ini membuat perbedaan besar. Aku tak lagi merasa bersalah saat tidak bisa fokus hanya dengan mendengarkan. Sekarang aku tahu, belajar efektif itu bukan soal mengikuti cara orang lain, tapi mengenali caramu sendiri.
Setiap orang punya caranya sendiri sendiri. Tidak ada benar atau salah. Kenali dirimu dan temukan cara terbaikmu untuk belajar. Kamu tak perlu mengikuti orang lain. Karena kamu yang paling tahu dirimu.
Kenali Dirimu, Rancang Strategimu
Setiap orang punya preferensi belajar yang unik. Jangan ragu untuk bereksperimen dan menemukan apa yang paling cocok untukmu. Jika kamu mudah tertidur saat mendengarkan, mungkin kamu juga visual-kinestetik sepertiku. Dan itu bukan kekurangan—itu hanya sinyal bahwa kamu perlu belajar dengan cara yang membuat otakmu hidup.
Bagaimana denganmu?
Apakah kamu juga lebih mudah belajar lewat tulisan dan gerakan? Yuk, refleksikan gaya belajarmu sendiri dan mulai merancang strategi yang sesuai!
Hembusan angin pagi menyentuh hati yang siap menerima kedamaian.
Tuesday, April 1, 2025
Nyaman dan Tenangnya Pulang Kampung: Antara Ingin Tinggal dan Kewajiban Merantau
Ada sesuatu yang begitu menenangkan saat kaki menginjak halaman rumah di kampung. Udara terasa lebih segar, waktu berjalan lebih lambat, dan segala beban seolah menguap begitu saja. Rumah di kampung bukan sekadar tempat kembali, tetapi ruang di mana hati merasa damai tanpa syarat.
Setiap sudut rumah mengandung kenangan. Suara ibu di dapur, aroma kopi yang diseduh ayah, lantai dingin yang dulu sering dipijak saat kecil—semua terasa akrab dan menghangatkan hati. Di kampung, tidak ada kemacetan yang melelahkan, tidak ada ritme kota yang terburu-buru. Hanya ada ketenangan yang sulit ditemukan di perantauan.
Namun, di balik kenyamanan itu, ada kenyataan yang harus diterima. Hidup tak selalu memberi pilihan sesuai keinginan. Meski hati ingin tinggal, ada tanggung jawab yang harus dijalani di tempat lain. Ada mimpi yang telah dirajut di perantauan, pekerjaan yang menanti, dan kewajiban yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
Rasanya ingin sekali menyerah pada kelelahan, membiarkan diri tetap berada di rumah, menikmati kesederhanaan dan kebersamaan keluarga.
Tapi apa daya, ada perjalanan yang masih harus ditempuh. Ada janji pada diri sendiri yang belum selesai.
Kembali ke perantauan selalu terasa berat. Begitu kaki melangkah keluar rumah, ada kesedihan yang sulit dijelaskan. Seakan meninggalkan bagian dari diri sendiri yang hanya bisa ditemukan di kampung halaman.
Namun, bukankah pulang tidak akan seistimewa ini jika tidak ada perpisahan?
Mungkin suatu hari nanti, akan tiba saatnya tak perlu lagi merantau. Bisa tinggal di tempat yang paling menenangkan, bersama orang-orang yang paling dicintai. Hingga saat itu tiba, harus terus melangkah, mengumpulkan alasan agar suatu hari nanti bisa benar-benar menetap dan tak perlu lagi pergi.
Namun, yang paling menyakitkan dari setiap perpisahan adalah melihat punggung orang tua yang perlahan menghilang dari pandangan saat kendaraan mulai melaju. Mereka selalu tersenyum dan melambaikan tangan, seolah ingin berkata, hati-hati di jalan, Nak. Tapi jauh di lubuk hati, aku tahu ada kesedihan yang mereka sembunyikan. Mereka ingin anak-anaknya sukses, tetapi juga ingin mereka tetap di rumah.
Setiap kali kembali ke perantauan, ada rasa hampa yang mengendap. Tidak peduli seberapa nyaman tempat tinggal di kota, tetap saja rasanya tak sama. Suara riuh keluarga saat makan bersama, udara segar tanpa polusi, dan kebersahajaan hidup di kampung menjadi sesuatu yang kurindukan setiap hari. Di kota, segalanya berjalan cepat. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan aku sering merasa seperti hanyut dalam arus kehidupan yang tak bisa kuhentikan.
Sering kali aku bertanya pada diri sendiri, apakah semua perjuangan ini sepadan? Apakah uang yang dikumpulkan, pekerjaan yang dikejar, dan mimpi yang dikejar dengan penuh tenaga bisa menggantikan hangatnya rumah? Kadang aku merasa seperti burung yang terus terbang jauh, tetapi di setiap akhir perjalanan, tetap ingin kembali ke sarangnya.
Namun, mungkin ini hanyalah fase. Mungkin saat ini aku masih berada dalam perjalanan yang belum selesai.
Suatu hari nanti, aku ingin menetap. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang-orang yang benar-benar berarti, bukan hanya berkutat dengan tuntutan pekerjaan dan jadwal yang padat.
Untuk sekarang, aku hanya bisa menyimpan rindu ini. Aku tahu, rumah akan selalu ada. Orang-orang yang kucintai akan selalu menunggu. Setiap langkah yang kuambil di perantauan, meski berat, selalu ada tempat untuk kembali.
Tuesday, March 18, 2025
Malas Gerak: Antara Rebahan dan Produktivitas
Hello Sobat! Tidak terasa, kita sudah kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan di tahun 2025 ini. Alhamdulillah, kita masih diberikan umur dan kesehatan untuk melaksanakan puasa, semoga semua ibadah kita lancar sampai hari raya Idul Fitri, ya.
Libur beberapa hari di awal ramadhan lalu, dan saya yakin sebagian dari kalian juga seperti saya—jadi kaum rebahan. Jujur, saya punya keinginan untuk pulang kampung, tapi rasanya tanggung. Nanti baru pulang sebentar eh sudah pulang lagi idul fitri. Membayangkan perjalanan jauh di tengah puasa itu... kok terasa berat ya?
Akhirnya, libur saya habiskan dengan aktivitas yang sudah jadi "default" saya di masa-masa malas: rebahan, main game, nonton YouTube dan Netflix. Sungguh, nikmat rebahan itu kadang tidak ada tandingannya. Apalagi ketika game leveling up dan episode drama yang saya tonton bertambah. Tapi, saya juga sadar, semua itu tak meninggalkan "jejak" apa-apa selain rasa puas sesaat.
Produktif atau Sekadar Menikmati Waktu?
Saya sempat berpikir, kenapa sih kita sering merasa malas gerak? Apalagi di bulan Ramadhan. Badan berat, pikiran mager, dan rasanya lebih nyaman memeluk bantal ketimbang bangkit dan melakukan sesuatu yang lebih "bernilai".
Tapi tetap saja, meski "rebahan", saya masih menyempatkan diri untuk menjalani rutinitas wajib seperti masak dan cuci baju. Hal-hal sederhana yang meski tidak menghasilkan uang, tapi setidaknya ada hasil kasat mata—baju bersih, perut kenyang, rumah yang lumayan rapi. Saya menyebut ini sebagai produktif versi minimalis.
Yang agak berbeda adalah saat saya kembali menulis blog ini. Meskipun tulisan ini hanya berdiam di dunia maya, tidak nyata seperti baju yang bersih atau dapur yang harum karena masakan, tapi tetap saja ada kepuasan tersendiri. Menulis ini membuat saya merasa "bergerak", meski hanya jari-jari di atas keyboard.
Mengapa Kita Sering Malas Gerak?
Fenomena malas gerak ini memang menarik untuk direnungkan. Ada saatnya kita punya rencana besar di kepala. Misalnya, "Jam 3 sore nanti saya ke pasar, belanja buat buka puasa." Tapi saat waktu itu datang, tubuh malah menolak. Rasanya kasur seperti menyedot kita lebih kuat daripada gravitasi bumi.
Padahal, kita tahu jika kita bergerak dan ke pasar, hasilnya jelas—stok makanan untuk beberapa hari ke depan. Tapi ketika rasa malas itu menguasai, kita akhirnya memilih pasrah dengan apa yang ada di dapur.
Mungkin ini soal energi yang menurun saat puasa. Mungkin juga karena gaya hidup digital kita yang membuat rebahan dan scrolling terasa lebih menggoda dibanding harus keluar rumah di bawah terik matahari. Tapi bisa jadi, ini juga sinyal tubuh dan pikiran kita yang lelah dan butuh jeda.
Refleksi di Balik Rebahan
Terkadang, saya merasa bersalah karena terlalu memanjakan diri dalam zona nyaman ini. Tapi di sisi lain, saya juga belajar untuk menerima bahwa kita manusia memang tidak harus selalu produktif 24 jam. Ada masanya untuk slow down, mengisi ulang energi, dan menyadari bahwa rebahan pun, asal tidak berlebihan, bisa menjadi bagian dari self-care.
Namun, jangan sampai malas gerak ini menjadi kebiasaan yang merugikan. Karena kalau semua hanya ditunda, semua hanya dinikmati dalam angan, kita bisa kehilangan banyak peluang dan pengalaman baru di luar sana.
Bagaimana dengan Kamu, Sobat?
Apa kamu juga merasa lebih sering malas gerak di Ramadhan ini? Atau justru punya trik agar tetap semangat bergerak dan produktif meskipun sedang berpuasa?
Thursday, March 13, 2025
Kisah Low Back Pain dan Ischialgia
Berasa disable
Jalan setengah tahun mengidap sciatica
Wednesday, September 7, 2022
Cara Menaikkan Hemoglobin (Hb) Agar Bisa Donor Darah
![]() |
| Snack donor darah |
Thursday, June 2, 2022
Kena Batunya
Tuesday, May 17, 2022
Jasa Sol Sepatu Keliling
Monday, October 25, 2021
Masih Ada Orang Baik
Thursday, September 16, 2021
Sayap Patah: Memori Kehilangan
"Hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya." (Nasehat Malaikat Jibril)
Saturday, March 3, 2018
Childhood Memory: Became So numb
Kalian yang membaca tulisan ini, pasti pernah menjadi anak-anak kan? Kalian pasti mempunyai kisah masa kecil masing-masing yang saya yakin masih kalian ingat dengan baik. Tentunya kalian juga mempunyai kisah menarik yang tak terlupakan di masa kecil. Paling tidak ada satu cerita saja yang paling berkesan. Entah itu kisah yang menyenangkan ataupun sebaliknya, kalian pasti punya.
Oke, di sana sebelum tangan saya diperban, tangan saya diolesi minyak. Entah itu minyak apa tapi yang jelas tangan saya jadi adem semriwing dan tidak merasakan sakit sama sekali. Padahal sebelumnya sakit tak tertahankan. Saya heran kenapa bisa begitu? Otak anak-anak saya bertanya-tanya. Peristiwa ini sungguh tak terlupakan bagi saya.
Oke, kembali soal sensasi dingin dan tak terasa sakit tadi (mungkin istilah bahasa Inggrisnya numb), saya bertanya-tanya apakah si bapak itu menggunakan jampi-jampi alias ilmu klenik? Ataukah memang semacam obat bius lokal?
Monday, February 19, 2018
Tembus 1 Juta Views!
Hore! Akhirnya pecah telur juga blog ini menembus satu juta views pada hari ini Senin tanggal 19 Februari 2018 . Senang? Iya pastinya. Seperti suatu pencapaian tersendiri buat blog ini. Untuk ukuran personal blog gado-gado semacam ini ya lumayanlah ya. :)
Alhamdulillah saja masih diberi kesempatan waktu untuk meninggalkan lebih banyak tulisan hingga mencapai 1 juta views. Semoga semakin banyak lagi tulisan baru yang akan lahir untuk meramaikan blog ini. Aamiin.
Monday, May 1, 2017
Cerita 10 Tahun Blogging
Happy blogging!

















