Follow Us

Monday, October 25, 2021

Masih Ada Orang Baik

10/25/2021 09:45:00 AM 0 Comments
Halo Sobat, ketemu lagi kita hari ini di hari yang cerah. Seperti biasa, Jakarta panas. :)

Kali ini saya mau cerita tentang masih ada orang baik. Kenapa saya ambil tema ini? Tak lebih karena pengalaman saya sendiri kemarin hari minggu, 24 Oktober 2021. Ceritanya pagi-pagi saya galau mau ke pasar atau tidak. Kalau tidak ke pasar, stok bahan makanan saya habis. Mumpung hari minggu kan ya, soalnya saya malas kalau ke pasar di hari kerja walau sebenarnya posisi saya seminggu bakal wfh (work from home)

Akhirnya saya nekat pergi saja ke pasar jalan kaki sendirian. Sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman berjalan kaki karena kaki kanan saya sakit buat berjalan jadi saya jalan agak pincang (mungkin terkilir atau bagaimana entahlah). Tidak nyaman sekali rasanya berjalan kaki walau sebenarnya saya senang jalan kaki. Saya juga tidak kepikiran naik ojek karena tidak terlalu jauh. Saya pikir saya masih sanggup jalan kaki.


Okelah kemudian saya tiba di pasar dan berbelanja. Kali ini belanjaan tidak sebanyak biasanya. Tentu saya melihat kondisi saya yang tidak bisa berjalan normal sehingga saya kurangi belanjaan, jangan kemaruk beli ini itu. Selesai berbelanja, saya cari tukang becak langganan saya tidak ada. Ada satu tukang becak saya perhatikan, mau saya panggil tapi rupanya sedang menunggu pelanggannya belanja. Saya lihat ke arah lain ada satu becak kosong tanpa pengayuh yang nganggur lama. Manalah pemiliknya pikir saya. Jangan-jangan sedang menunggu pelanggannya juga. Nanti saya kecele dong. 

Tapi bagaimana ini bisa tidak saya jalan kaki pulang bawa belanjaan yang lumayan berat. Akhirnya saya mau nekat berjalan kaki menuju becak kosong tadi, gambling. Begitu saya mendekat, jeger! Tiba-tiba ada becak baru datang pas di belakang becak kosong tadi. Tanpa pikir panjang langsung saya stop becak tersebut. Alhamdulillah ya Allah. Saya merasa benar-benar ajaib. Lebay ga sih saya hehe. :)

Saya sebut alamat saya dan saya tanya berapa ongkosnya ke si Abang tukang becak. 

"Biasanya berapa?" tanya si Abang. 

"15 ribu," jawab saya.

Si Abang tukang becak mengiyakan saja, pertanda setuju. Saya pun langsung menaikkan belanjaan saya dan duduk di becak. 

Beberapa menit kemudian sampailah di depan gang tempat saya tinggal. Biasanya saya turun di situ. Tanpa saya minta, eh si Abang masuk ke dalam gang. Alhamdulillah banget nih saya tidak perlu jalan kaki ke dalam gang. Mana kondisi kaki kan lagi kurang normal buat berjalan jadi sangat terbantu.

Sampai di depan kos, saya turunkan belanjaan. Eh si Abang mau bawakan belanjaan saya masuk. Lagi-lagi, tanpa saya minta loh ini. Duh, baik banget si Abang becak ya Allah. Kan naik tangga tuh ya lumayan bawa belanjaan berat. Baru setelah itu saya bayar dan ucapkan terima kasih.

Sumpah, saya merasa terharu dengan apa yang saya alami saat itu. Walau hanya hal kecil tapi cukup untuk membuat saya merasa bahwa orang baik itu masih ada. Dan pertolongan Allah itu nyata. Allah maha baik.

Pesan moral: Jangan berhenti berbuat baik. Jangan berhenti menjadi orang baik. Jangan pernah lelah menjadi orang baik. Sesungguhnya setiap kebaikan walau sekecil biji zarrah ada perhitungannya ada balasannya dari Allah. Sesungguhnya Allah sangat tepat perhitungannya.

Mungkin, pertolongan Allah ini adalah balasan kebaikan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Sobat, tak bosan saya katakan bahwa kita tidak punya pilihan lain di dunia ini selain berbuat baik. Jadi jangan bosan menjadi orang baik. Karena kita tahu Allah maha baik. Setiap kebaikan kita itu ada balasannya yang mana kita tidak pernah tahu kapan balasan itu datang, dalam kondisi apa kita saat itu dan dalam bentuk apa balasan tersebut. Balasan kebaikan tidak melulu soal materi ya kan? Allah itu punya cara-cara tersendiri, unik, dan tidak terduga. Setuju tidak Sobat? Mungkin kalian pernah mengalaminya juga dan kalian pun berdecak kagum bahwa Allah itu super keren. Memang benar-benar penulis skenario terbaiklah. Tak ada yang bisa menandingi. :)

Kita tidak perlu menjadi selebritis atau pun public figur terkenal untuk bisa merasakan betapa hebatnya skenario Allah itu. Dari kejadian-kejadian kecil dalam hidup kita saja kalau kita peka kita akan tahu kedahsyatan kekuatan yang dimiliki Allah.

OK Sobat, sekian dulu sharing saya hari ini semoga bermanfaat. :)

Cheers!

Tuesday, October 19, 2021

Kehilangan Sahabat

10/19/2021 10:52:00 AM 0 Comments
Sobat, pada postingan kali ini saya akan membahas mengenai kehilangan sahabat. Sudah satu minggu berlalu dari berita kematian salah seorang sahabat saya namun baru hari ini saya sanggup mengetik tentangnya di blog ini.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un

Semoga sahabat saya Hipniati binti Efendi (pemilik blog hifni1985.wordpress..com) diterima amal ibadahnya di sisi Allah SWT. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kelapangan hati menerima takdir Allah.

Sobat, saya sungguh kaget mendengar berita kematian sahabat saya ini. Kala itu tepat seminggu yang lalu selasa malam (12/10/2021) saya ditelpon teman saya di Bengkulu. Dia mengabarkan kalau sahabat saya telah meninggal. Saya saat itu dalam posisi akan membuat laporan perjalanan dinas saya ke Banyuwangi yang saya ceritakan di posting sebelumnya. Saya pun urung. Tak sanggup rasanya mau membuat laporan. Banyak whatsapp berdatangan dari teman-teman saya menanyakan perihal kematiannya. Merinding rasanya Sobat. Ya Allah, sungguh tidak menyangka begitu cepat Engkau panggil dia. Terakhir kali saya berkomunikasi dengannya tanggal 6 Oktober 2021 via whatsapp. Tanggal 5 kami masih telponan.


Kamis, 7 Oktober 2021
Tanggal 7 Oktober jam 3 pagi saya sudah berangkat ke bandara menuju Banyuwangi karena itu jadwal perjalanan dinas saya. Saya sibuk seharian keliling-keliling melakukan pekerjaaan saya di Banyuwangi. Saya sama sekali tidak berkomunikasi dengannya seharian. Dan sore hari ketika saya sampai di hotel saya kelelahan. Saya pun tertidur setelah sholat magrib. Magrib di sana lebih cepat dibanding di Jakarta. Saya bangun tidur pukul 11 an malam. Saya lihat whatsapp ternyata ada pesan dari dia pukul 18.59. Dia menanyakan apakah saya sudah sampai di Banyuwangi dan saya menginap di mana. Saya baru membalas saat saya bangun tidur sekitar 23.30 namun sungguh aneh, balasan saya centang satu. Kenapa nih anak, pikir saya. Kemarin-kemarin lancar whatsapp dengannya. Justru intens kami whatsapp.

Jumat, 8 Oktober 2021
Tanggal 8 Oktober saya kembali whatsapp dia. Lagi, centang satu. Saya masih melanjutkan pekerjaan saya di hari kedua di Banyuwangi.

Sabtu, 9 Oktober 2021
Saya kembali whatsapp dia tanggal 9 Oktober ke nomor whatsappnya yang satu lagi. Sama, centang satu. Hari ini adalah kepulangan saya kembali ke Jakarta.

Selasa, 12 Oktober 2021
Saya penasaran ada rasa cemas kenapa tak ada kabar dari dia sampai hari ini. Kenapa masih centang satu juga whatsappnya. Saya ada kepikikan untuk menanyai tentangnya ke teman saya yang di Bengkulu karena dia teman dekatnya sahabat saya juga. Tapi belum jadi saya lakukan. Saya juga kepikiran untuk menelepon biasa ke nomor hp teman saya hari itu tapi belum jadi saya lakukan karena sibuk dengan pekerjaan. Tidak tahunya di malam harinya saya mendapat berita kematiannya yang membuat saya tidak percaya rasanya.

Saya lihat last seen whatsapp di nomor yang im3 adalah 19.30 an. Sementara di nomor simpati 21.47. Dan berdasar info yang saya dapat, hari jumat tanggal 8 Oktober, dia sudah tidak absen online. Berarti kemungkinan dia sudah tiada di malam jumat tersebut. Karena dia biasanya rajin absen.

Orang baik
Ada yang bilang meninggal di hari jumat itu baik. Sepengetahuan saya, dia memang orang baik. Ada yang bilang, orang baik itu meninggalnya cepat. Dan benar adanya sebelumnya saya kehilangan sahabat saya juga yang pernah saya ceritakan di blog ini juga di tahun 2013 atau 2014. Dia pemilik blog 23tahun.blogspot.com. Jadi, saya sudah kehilangan 2 orang sahabat yang memang keduanya adalah orang baik (setidaknya di penilaian mata saya). Mereka berdua adalah teman ngobrol soal pekerjaan dan kehidupan walau kami tidak satu kantor alias terpisah jarak. Kami sealumni sewaktu kuliah sarjana dan bekerja di bidang yang sama sehingga nyambung. 

Amal jariyah
Mereka berdua adalah sahabat ngeblog saya dulu masa-masa awal bekerja. Terakhir saya sempat menyemangati sahabat saya untuk kembali menulis karena sudah lama vakum. Saya bilang padanya bahwa tulisan apabila membawa manfaat buat orang lain bisa jadi amal jariyah ketika kita meninggal. Coba kita renungkan Sobat, warisan apa yang bisa kita tinggalkan jika kita meninggal? Jika kita punya harta, tentu dengan harta kita bisa berwakaf. Jika kita punya anak, akan ada anak yang mendoakan. Namun jika kita belum menikah dan belum punya anak? Amal jariyah apa yang bisa kita lakukan? Tinggalkanlah ilmu yang bermanfaat. Jaman sekarang sangat mudah untuk menyebar ilmu.

Fibro Myalgia
Jika ada teman yang penasaran dengan penyakit apa yang diderita almarhumah, namanya fibro myalgia. Saya kurang paham penyakit apa tersebut (kalian bisa mencari sendiri informasinya lebih dalam) namun yang saya ketahui darinya adalah penyakit ini menyerang saraf tulang belakang. Dia tidak bisa duduk berlama-lama karena akan terasa sakit. Bisa menyebabkan hilang ingatan, insomnia, dan sejumlah gejala lainnya. Gejala yang paling berat adalah kejang disertai rasa sakit yang teramat hebat serta tidak sadarkan diri. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan karena belum ada obatnya dan apabila di luar negeri penderita penyakit ini dianggap disable sehingga mendapat santunan dari pemerintah. 

Tanda Kematian
Sahabat saya ini sudah insomnia sekitar 1 tahun. Dan terakhir kali dia bercerita ke saya dia sudah normal kembali, tidak insomnia lagi, sudah bisa tidur cepat. Saya pun turut senang tentunya mendengar hal tersebut. Sebagai orang awam yang tidak bisa melihat tanda-tanda kematian tentu saya menganggap hal tersebut adalah hal baik yang mana saya mengira dia sudah mulai membaik. Tapi tidak disangka kalau hal baik tersebut merupakan tanda bahwa kematian sudah dekat. Saya jadi teringat dengan alm ayah saya yang baru 40 hari lalu wafat. Beliau doyan makan dan gemuk sebelum wafat. Memang ayah saya ini menderita penyakit menahun yaitu darah tinggi. Dan selama hidupnya dari saya kelas 4 SD hingga kematiannya tidak pernah lepas dari obat. Saya membaca artikel tanda-tanda kematian menurut islam, jika penderita penyakit salah satu tandanya adalah yang tadinya tidak doyan makan menjadi doyan makan. Jadi, begitulah sobat...

Saya benar-benar merasa kehilangan... 

OK Sobat tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini. Tetaplah berbuat baik. Karena tidak ada pilihan dari Allah selain berbuat baik di dunia ini. Ajal tak ada yang tahu. Semoga kita kelak wafat dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.



Thursday, October 14, 2021

Perjalanan Saat Pandemi ke Banyuwangi

10/14/2021 11:44:00 AM 0 Comments
Halo Sobat! Saya hadir kembali hari ini untuk berbagi pengalaman saya bepergian di masa pandemi covid dan kondisi ppkm. Sebenarnya ini bukan dalam rangka jalan-jalan untuk refreshing melainkan perjalanan dinas. Jadi, saya mendapat jatah perjalanan dinas ke Banyuwangi. Selama hampir 2 tahun pandemi covid, baru kali ini akhirnya saya melakukan perjalanan dengan moda transportasi pesawat. Saya pilih tanggal yang memang ada pesawat langsung ke Banyuwangi yaitu 7-9 Oktober 2021. Pilihan pesawat hanya ada Citilink. Dan hanya ada satu penerbangan langsung. Sementara kalau transit dulu bisa satu malam transit di Denpasar. 


Tes SWAB PCR

Yang saya lakukan sebelum berangkat adalah tes PCR yaitu 2 hari sebelum keberangkatan. Tanggal 5 saya tes PCR. Saya pilih lokasi Bumame Pharmacy Cideng Gambir. Nah, Sobat, jika kamu akan naik pesawat pilihlah lokasi tes antigen/PCR di tempat yang sudah terdaftar di aplikasi pedulilindungi (install pedulilindungi di playstore). Soalnya ketika di bandara nanti ditunjukkan hasil tes kesehatan di pedulilindungi. Harga tes PCR di Bumame kemarin 495 ribu rupiah. Kalian bisa beli di Traveloka. Kalau mau datang langsung ke Bumame bisa walk-in/drive thru. Langsung saja ke sana dan bayar di tempat. Tidak lama kok prosesnya dari pendaftaran sampai tes mungkin sekitar setengah jam karena harus mengantri karena rame. Kwitansi dan hasil tes dikirim via whatsapp jadi kamu tidak perlu ribet datang lagi untuk mengambil hasil. Karena saya mengambil yang hasilnya jadi dalam 24 jam, keesokan harinya hasilnya pun dikirim ke whatsapp saya (tanggal 7) dan sudah update di pedulilindungi ketika saya cek.

Sementara ketika pulang kembali ke Jakarta, saya ambil tes PCR di Labkesda Banyuwangi (satu-satunya yang ada di pedulilindungi). Harganya lebih murah yaitu 450 ribu dan hasilnya jadi lebih cepat dalam waktu 4 jam saja. Jadi, saya tes untuk kepulangan di tanggal 8 nya. Sebelum jam 10 saya tes (jam 9 pagi), sekitar jam 2 siang sudah jadi. Dan memang sudah dibilang petugasnya sebelumnya harus datang sebelum jam 10 pagi. Hasil dikirim via whatsapp juga sama seperti di Bumame. Hasil juga langsung di-update di pedulilindungi.

Check-in pesawat

Ketika sampai di bandara terminal 3, saya pun check in dulu di mesin (tinggal masukkan kode booking lalu print boarding pass) baru mengantri bagasi. Karena pesawat saya jam 6 pagi take off, boarding 5.30 wib, makanya saya berangkat pukul 3 pagi dari kos. Tapi rupanya ada pemberitahuan bahwa pesawat reschedule keberangkatan maju setengah jam. Boarding berubah jadi pukul 5 wib. Perjalanan menuju bandara sekitar satu jam saja sampai (malah hanya sejam kurang beberapa menitlah). Saya mengantri bagasi eh begitu giliran saya petugasnya bilang Banyuwangi nanti, Surabaya dulu. Pergilah saya duduk dulu sebentar baru ngantri lagi. Pikir saya, boarding jam 5 kenapa tidak boleh naruh bagasi. 

Setelah naruh bagasi, saya jalan ke gate 27. Duh, jauh itu jalan kaki ada sekilo lebih kali ya. Padahal harusnya bisa naik transport kecil itu tapi tidak kelihatan. Adapun satu yang lewat tulisannya VIP. Huhh, lumayanlah olahraga kaki.

Sampai di gate 27 (yang letaknya paling ujung ya Sobat) sudah hampir jam 5 pagi. Saya jadi terburu-buru sholat shubuh. Tak tahunya ketika saya duduk di ruang tunggu, saya lihat di monitor boarding Banyuwangi pukul 5.30 sama seperti jadwal awal sebelum reschedule. Lah bagaimana sih ini?

Akhirnya saya terbang juga dan sampai di Banyuwangi pukul setengah 8 pagi. Sekitar jam 8 saya dijemput teman saya dua orang. Teman lama saya dulu waktu kuliah sarjana. Alhamdulillah...

Sebelum perjalanan dinas ini saya merasa tidak pede sebenarnya ya pergi sendirian. Saya kan belum pernah perjalanan begini sendiri. Ini baru pertama kali. Dan ketika saya lihat, kok saya sendiri. Padahal yang lain rata-rata berdua bertiga dsb. Ya sudahlah saya pun jalani saja. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya coba cek web komunitas kantor. Ternyata saya menemukan nama teman saya dulu dan ada dua orang pula (yang satu dulu kami akrab karena selalu bersama sekelas). Ya Allah, saya berucap syukur terima kasih. Allah memang baik. Jadi reuni deh saya dengan mereka. Ada kemudahan dibalik kesulitan, Sobat. Semua ada hikmahnya. Allah maha baik. 

e-HAc
Saat tiba di bandara tujuan dan mau keluar dari bandara, ada scan barcode e-Hac di aplikasi pedulilindungi oleh petugas bandara. Nah, supaya cepat bisa keluar bandara, kalian harus mengisi terlebih dahulu isian e-Hac sebelum terbang. Isian berupa jadwal terbang pesawat dan tempat tujuan serta kesehatan.

Menginap di mana?
Pilihan saya jatuh di Aston Banyuwangi. Sebenarnya ada banyak pilihan hotel bagus tapi Aston yang paling dekat kantor yang akan saya kunjungi jadi di situ saja saya akhirnya. Untuk kamar sih menurut saya standar ya dengan hotel-hotel sekelasnya. Saat malam saya sekali mencoba makan di restorannya. Saya pilih menu nasi goreng rempah dan minumannya energizer. Saya sih suka minumannya itu campuran buah naga, mangga, markisa, dan madu. Kalau nasi gorengnya sih enak tapi porsi besar bisa untuk 2 orang. Oya, saat datang pertama kali dapat welcome drink ada 2 pilihan wedang uwuh dan temulawak. Keduanya minuman rempah. Saya pun memilih wedang uwuh.

Wedang uwuh welcome drink Hotel Aston Banyuwangi


Nasi goreng rempah Hotel Aston Banyuwangi

Minuman Energizer Hotel Aston Banyuwangi



Makanan khas
Apa makanan khas Banyuwangi Sobat ada yang tahu? Saat saya di sana dan mampir rumah makan ada menu makanan yang menurut saya baru dengar saat di Banyuwangi seperti koyong dan kesrut. Menu yang saya temukan di situ ada rujak soto, pecel rawon, dll. Kesrut itu mirip sayur asem cuma bukan sayuran melainkan ayam isinya. Kalau pecel rawon ya pecel campur rawon. Menu campur-campur tapi enak kok. :)

Kesrut Banyuwangi


Pecel rawon khas Banyuwangi

Oleh-oleh apa?
Kelar perjalanan selama 2 hari, keesokannya saya harus balik lagi ke Jakarta pada pagi harinya. Saya diantar salah satu rekan kantor di Banyuwangi. Terima kasih banyak ya sudah menemani saya selama 2 hari. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian semua. Aamiin.

Oya, rupanya saya dikasih oleh-oleh khas Banyuwangi oleh 2 orang teman saya. Terima kasih banyak ya. Jadi, saya tidak sempat belanja oleh-oleh memang karena waktunya singkat dan habis untuk pekerjaan. Oleh-oleh khas Banyuwangi itu ada pisang sale, stik keju, bagiak, dll.

Alhamdulillah kami sempat makan durian 2x selama di Banyuwangi. Ternyata Banyuwangi penghasil durian. Ya Allah senang saya bisa makan durian. :)

Sebelum berangkat ke Banyuwangi lalu, malamnya saya sempat membungkus 2 kado kecil buat teman saya. Lucunya, saya kan sempat memberikan ke satu teman saya terlebih dulu. Tapi kemudian saya teringat kayaknya ketukar deh. Waduh, bagaimana ya. :) Tapi kemudian saya balik lagi ke kantor ternyata dan saya lihat kadonya sudah dibuka di atas mejanya dan taraaa.... benar pemirsa! Horeee :D




OK Sobat, sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Cheers!

Thursday, September 30, 2021

Kenapa Kuliah S2?

9/30/2021 08:36:00 PM 0 Comments
Sobat, adakah di antara kalian pembaca setia blog ini? Kalau ada, komen donk! Atau kalau tidak nyaman komen di posting ini, boleh kirim email ya. Ditunggu! :)

Yuk kembali ke tema...
Sobat, pernahkah kalian berpikir kenapa kalian kuliah S2 atau kenapa kalian ingin S2? Saya mungkin termasuk salah satu orang yang ingin S2 bukan karena mengejar karir atau pun ingin mengabdikan ilmu ke masyarakat atau alasan lain yang lebih bergengsi. Buat apa lelah-lelah kuliah S2? Lelah hati, pikiran, tenaga, waktu, biaya... semuanya! Benar loh ini. Apalagi, tempat tinggal saya di mana dan kerja saya di mana. Lalu kuliah saya juga di mana. Berbeda tempat semuanya. Apalagi kalau teman yag sudah berkeluarga ya. Pengorbanannya itu subhanallah...

Mungkin orang yang melihat saya ada yang berpikir saya ingin mengejar karir? Apalagi kalau bukan itu karena saya masih single juga. Bukan itu jawabannya. Lalu?



Memang benar, jika saya tidak lanjut kuliah maka golongan saya akan mentok di golongan sekian selaku ASN, tapi bukan itu yang saya cari (update 30/3/2021: peraturan sudah ada perubahan). Karena saya sendiri sebenarnya kepikiran juga untuk resign.

Ada loh orang yang berpikir untuk apa S2 jika setelah lulus ilmunya tidak diimplementasikan alias tidak dipakai, hanya menghabiskan uang saja. Ya itu benar juga kalau dipikir ya logis. Terserah Anda deh ya. No offense.

Selain itu ada juga yang mengatakan buat apa S2. Setelah saya lihat ternyata memang dia bercerita di pekerjaan dia itu tidak diperlukan. Sampai saat dia bercerita, tidak ada lulusan S2 di tempat dia bekerja yang jurusan S1-nya seperti dia. S1 sudah paling tinggi. Tidak ada jenjang karir yang bisa dimasuki lulusan S2.

Jika ada yang tidak setuju, maka ada pula yang setuju untuk terus lanjut S2. Orang punya bermacam-macam alasan mengapa mereka mengambil S2. Ada yang karena ingin menjadi dosen, meningkatkan jenjang karir (finansial), menambah ilmu (skill), menjadi ahli, berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, dll. Jangan lupa bahwa di dunia ini ada banyak orang-orang yang senang belajar sehingga S2 karena mereka suka belajar. Jadi, golongan ini tidak memikirkan dengan S2nya ini dia akan bagaimana setelahnya, apakah berguna atau tidak. Yang dia ingin adalah terus dan terus menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Apalagi ditambah dengan perkembangan jaman saat ini yang mana lulusan S1 berlimpah. Dan lulusan S2 serta S3 tidak lagi langka alias sudah makin banyak juga. 

Pada dasarnya, kuliah itu tidak hanya mendapat pelajaran dari bangku kuliah. Tapi dalam kehidupan kesehariannya tentu banyak pula pelajaran yang diperoleh. Jangan lupa bahwa kampus baru, pengalaman baru, koneksi baru, pergaulan baru, teman baru, lingkungan baru, budaya baru adalah serangkaian keuntungan lain yang bisa diperoleh di bangku kuliah. Yang bisa dimanfaatkan setelah kuliah tidak semata-mata dari pelajaran bangku kuliah melainkan dari keuntungan-keuntungan tersebut juga sangat besar kemungkinannya. Jadi, janganlah kita menutup mata atau berpikir sempit akan kepentingan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi. Kita tidak pernah tahu dari mana saja rezeki itu diperoleh. Cobalah melihat sisi-sisi yang lain. Cobalah melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Adakah sama antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui? Adakah sama antara orang yang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan? 

Sesunguhnya Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.

Setuju donk ya bahwa setiap orang ingin memiliki masa depan yang cerah? Mana ada yang mau hidupnya suram alias susah. Nah, salah satu jembatannya ya dengan melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pasca sarjana. Bagi sebagian orang, kuliah pasca sarjana merupakan investasi masa depan.


Note: Posting ini sudah lama mengendap di draf sejak 8 Maret 2018. Baru saya teruskan dan posting hari ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Cheers!

Tuesday, September 28, 2021

Sulam Kristik (Strimin) Modern

9/28/2021 12:00:00 PM 4 Comments
Halo Sobat! Apakah kalian suka crafting (membuat kerajinan tangan)? Kalau iya, sama donk kita! :)

Kali ini saya ingin berbagi tentang sulam kristik atau strimin kalau saya dulu menyebutnya. Kristik jaman sekarang ini beda dengan jaman dulu. Kalau jaman dulu yang saya kenal itu pakai strimin (kawat nyamuk) lalu benangnya adalah benang wol. Sementara kristik jaman sekarang pakai kain aida (warna putih) dan benangnya benang dmc, dove, silk, dll. 

Sebenarnya yang menginspirasi saya untuk membuat sulam kristik ini adalah ketika masa kecil dulu ketika saya berkunjung ke rumah saudara atau tetangga, saya lihat ada pajangan sulam kristik di dinding rumah mereka. Mungkin jaman dulu masih nge-hit ya. Saya yang cuma anak kecil ini pun ingin membuat juga. Tapi kan jaman dulu belum punya uang ya buat beli bahannya. Nah, ada buku pola sederhana tuh di rumah saya tak tahu punya siapa. Saya lihat-lihat buku pola itu. Kemudian saya beli benang wol dan striminnya di pasar. Kalau jaman dulu beli striminnya meteran. Benang wol juga dijual satuan per gulung. 

Nah, berhubung belakangan saya merasa punya kelebihan energi dan waktu, saya merasa kangen ingin crafting lagi. Terakhir crafting itu 2013-2014 saya merajut. Saya merasa di tahun itu saya cukup produktif. Selain merajut, saya menulis sejumlah cerita pendek dan dibukukan ke antologi bersama. Oh iya lupa saya pernah bikin diamond painting saat kuliah S2 lalu. (mungkin bisa dibahas kali lain ya) :)

Makanya sekarang saya kembali crafting nih Sobat (dan juga mulai blogging lagi). Pilihan awal saya adalah sulam kristik ini. Saya teringat jaman SD dulu saya sudah membuat sulam kristik ini tapi tidak selesai. Nah, pas kuliah S2 lalu saya sempat beli 2 pola sekaligus bahannya yaitu satu yang pakai strimin plastik dan benang wol dan satu lagi yang modern. Tapi lagi-lagi belum diselesaikan.

Sekarang saya kembali ke Jakarta dan memulai lagi dari nol. Saya beli 4 pola kristik modern. Baru satu yang dikerjakan dan sudah jalan 2 bulan. Baru sekitar 50% selesai. Cukup lama juga ya? Membuat sulam kristik ini memang butuh ketelatenan dan kesabaran. Saya mengerjakannya juga santai sih, pas kapan sempat dan mood saja. 

Sulam kristik modern ini kain aidanya ada yang ukuran 9 ct, 11 ct, 14 ct, 16 ct, 18 ct, dst. Kebanyakan yang beredar yang ukuran 11 ct dan 14 ct. Saya beli yang 11 ct ya Sobat. Ada sih 1 yang 14 ct.

11 ct artinya ada 11 lubang dalam 1 kotak (1 inch/2.54cm). 
14 ct artinya ada 14 lubang dalam 1 kotak (1 inch/2.54cm). 
Dst.

Bisa dibayangkan kalau 14 lubang dalam 1 kotak berarti lebih kecil ya gambarnya. Kalau 11 ct berarti lebih besar. 



Cara membuat sulam kristik

Langkah-langkahnya cukup mudah. Kamu hanya perlu membuat bentuk silang di tiap kotak. Ikuti gambar di bawah ini ya.


French Knot vs Colonial Knot

Selain bentuk silang, supaya tidak monoton ada juga namanya tusukan french knot dan colonial knot yang bisa digunakan pada bagain akhir sulam kristik ini (setelah selesai menyulam dalam bentuk silang). Ini biasanya untuk memberi struktur menonjol pada gambar yang kita sulam di bagian tertentu. Maksudnya gambarnya jadi terkesan berstruktur atau pun seperti 3 dimensi. Bisa dibilang sebagai pemanis atau pun memberi sentuhan akhir yang ciamik alias cantik. Jenis tusukan ini biasa digunakan pada embroidery



Membuat french knot atau pun colonial knot, sesuai selera saja. Serupa tapi tak sama, kedua tusukan ini memang memberi hasil yang mirip namun tekniknya tidaklah sama. Bentuk hasil pun tergantung dengan jumlah benang yang digunakan ada berapa helai dan juga berapa kali kamu tusukkan jarumnya. Untuk tutorial bisa kamu lihat di youtube ya.



Tips membuat sulam kristik:
  1. Kalau kamu berminat untuk membeli bahan, kamu bisa pilih ukuran kain sesuai selera kamu. Untuk kristik modern, kamu tinggal pilih yang berapa ct untuk kain aidanya. Semakin besar ct, maka kainnya semakin kecil dan sebaliknya.
  2. Tak hanya ukuran, kain yang akan kamu pilih juga kamu mau yang mana, apakah aida ataukah strimin kawat plastik. Pengalaman saya, strimin plastik mudah patah saat digunakan.
  3. Selain itu kamu juga bisa memilih yang ada polanya atau tidak. Pola yang dicetak langsung di kain atau yang tidak alias kainnya polosan. Ada juga loh toko yang cuma menawarkan pola. Jadi kamu cari sendiri benang dan kainnya. 
  4. Yang selanjutnya adalah benang. Pilihan benang di sini bisa wol ataupun benang dmc atau dove. Kalau kristik modern pakainya dmc atau dove karena kan lubangnya kecil sekali ya. Kalau kristik benang wol cocok untuk yang strimin kawat plastik.
  5. Ukuran jarum menyesuaikan dengan lubang dan benang.
  6. Alat pengait untuk memasukkan benang juga kamu butuhkan kalau kamu menyulam kristik modern. Karena jarumnya cukup kecil kamu bisa kesulitan memasukkan benang dan butuh bantuan pengait ini loh Sobat. Saya cukup terbantu dengan adanya pengait benang ini. Pengait atau penarik benang ya istilahnya.
  7. Jika kamu menyulam kristik modern dengan benang dmc, biasanya benangnya kan ada yang dalam bentuk 1 untai yang ternyata terdiri dari 6 helai benang single (utuh). Nah, kalau kamu pakai yang 11 ct, cukup 3 helai benang saja yang dipakai dalam sekali menyulam. Belah 2 benangnya ya jadi 1 untai itu kamu pisah dulu jadi 2 bagian yang masing-masing 3 helai. Barulah 3 helai itu kamu jadikan satu dan masukkan ke jarum. Sementara kalau 14 ct pakai 2 helai saja cukup.
  8. Kalau bagi saya enaknya beli yang sepaket sudah ada kain, benang, pola. Polanya juga saya pilih yang sudah tercetak di kain jadi gampang bikinnya nanti tidak salah-salah hitung. Pengalaman saya sewaktu menyulam kristik dengan kain polos itu sering salah hitung. Kan malas mengulang atau mengembalikan benang yang salah tadi. Selain makan waktu, bikin kesal sendiri juga. 
  9. Mulai dari mana menyulam kristiknya? Sebenarnya tak ada aturan khusus bisa dari mana saja. Kalau kain yang sudah berpola tentu bebas mau mulai dari mana. Tapi kalau saya enaknya dari bawah. Nah kalau kain yang polos tentu beda lagi mulainya dari mana. Ada yang menyarankan dari tengah. Caranya kain dilipat bagi dua, lalu lipat lagi jadi dua lagi supaya dapat titik tengahnya. Baru mulailah dari situ. Tapi itu bukan aturan baku ya. Bebas saja kamu enaknya dari mana.

Pilihan crafting selanjutnya saya tertarik crafting dari bahan mote, macrame, dan embroidery. Ikuti posting selanjutnya ya! Sampai jumpa! 

Cheers!


Reference:
https://www.aliexpress.com/item/32647969864.html
https://id.aliexpress.com/item/32851861437.html
https://www.pinterest.com/pin/210402613819775127/
https://www.wanderingthreadsembroidery.com/french-knot-embroidery-tutorial/

Monday, September 27, 2021

Kenapa Sulit Merubah Pola Pikir?

9/27/2021 04:34:00 PM 0 Comments
Kenapa sulit sekali merubah pola pikir? Boleh saja seseorang itu kritis tapi tolong, kritislah pada tempatnya. Tolong pahami dulu apa yang akan dikritiskan. 

Kenapa seseorang itu tidak menyadari kapasitasnya sebagai apa? Jika merasa tidak puas dengan posisinya kenapa tidak keluar saja mendirikan usaha di luar sana? Jika merasa tidak setuju/tidak suka atau apa pun dalam pemerintahan sebelumnya atau pun sekarang kenapa tidak protes/mengutarakan pendapat sejak dulu langsung kepada yang bersangkutan?

Saya paling tidak suka apabila timbul ketegangan. Hal itu akan memicu ketidaknyamanan dalam bekerja. Tidak bisakah kita saling percaya? Apabila kita saling percaya maka sebenarnya segala urusan itu akan mudah. Tidak ada lagi prasangka buruk. Asalkan kita tetap pada jalur kita masing-masing alias kita memahami kapasitas kita sebagai pegawai. 

Kalau seorang bos pernah bilang, "Cukuplah kita bertanggung jawab terhadap diri kita masing-masing kepada Allah. Jika kita sudah merasa dilihat Allah, apa masih perlu penilai yang lain?"

Saya suka kalimat itu. Bagi saya itu suatu pecut untuk muhasabah diri. Memang benar bahwa dalam dunia kerja itu beragam hal kita temui. Karena di sana berkumpullah orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia Raya ini sangat beragam budayanya dan orang-orangnya pastinya. Pastilah orang-orang ini memiliki pola pikir yang beragam pula. 


Yang ingin saya soroti di sini adalah mengubah pola pikir. Orang-orang lama cenderung sulit untuk mengubah pola pikir. Kenapa? Karena mereka sudah sangat lama (puluhan tahun) bekerja. 

Ketika seekor burung tumbuh dan besar di dalam sangkar, burung tersebut tidak akan terbang saat dibukakan sangkar bahkan ketika kamu mencoba untuk membuatnya terbang. Sama halnya dengan seseorang yang tumbuh dengan pola pikir tertentu maka akan sulit mengubahnya karena ia telah hidup dengan pola pikir tersebut selama hidupnya. (Hassam Awan)

Merubah pola pikir bisa sangat sulit karena sesuatu yang disebut 'bias konfirmasi'. Tidak ada orang dewasa yang senang melakukan kesalahan, sehingga mereka akan sering membela tindakan mereka dengan keras bahkan ketika dihadapkan pada ide-ide masuk akal yang menentang tindakan tersebut. Mereka merasa perlu untuk menjadi benar, sehingga mereka akan melawan setiap ide baru untuk melindungi hipotesis mereka sendiri. (Dawn Fekes)


Some people adopt maladaptive or irrational thinking patterns

Dikatakan oleh Kevin Newton bahwa salah satu penyebab susahnya merubah pola pikir adalah dikarenakan seseorang memiliki pola pikir yang tidak rasional seperti:

  1. All or nothing: black and white thinking (pola pikir hitam putih), melakukan sesuatu secara sempurna atau tidak sama sekali
  2. Mental filter: fokus pada aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain, melihat kegagalan dan mengabaikan kesuksesan
  3. Over-generalizing: Menciptakan suatu pola berdasarkan sebuah kejadian misal jika seorang rekan kerja tidak menyapa maka diartikan sebagai rekan tersebut marah atau benci


Change your circumstances

Sebuah pola pikir tidak hanya dihasilkan dalam diri seorang individu tanpa alasan. Ini adalah produk dari keadaan. Jadi untuk mengubah pola pikir, kamu perlu mengubah keadaan yang menghasilkan pola pikir itu.
  • Jika ketidaktahuan adalah penyebab pola pikir, maka pendidikan akan mengubahnya.
  • Jika kurangnya pengalaman adalah penyebabnya, maka terlibat dengan pengalaman yang tidak biasa/di luar kebiasaan akan mengubahnya. 
  • Jika sistem kepercayaan tertentu yang kuat menciptakan pola pikir itu, tantangan sistem itu melalui eksplorasi alternatif akan mengubahnya. 
Deskripsi populer tentang suatu kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil yang berbeda. Seseorang tidak dapat terus menjalani kehidupan yang sama dan berada dalam situasi yang sama dan berharap untuk berpikir secara berbeda.

Jika kamu ingin berpikir secara berbeda, kamu harus berbeda dalam beberapa hal. Jika tidak, pola pikir yang diadopsi karena keadaan kamu saat ini akan tetap tidak berubah. (Imo Emah)


Changing Mindset is not an overnight task

Seperti diutarakan oleh Vineeth Vini bahwa mengubah mindset itu dibutuhkan kesabaran, tidak bisa dilakukan dalam semalam. Yang bisa dilakukan pertama-tama adalah dengan berpikir baik (punya pikiran baik). Bisa dimulai dengan membaca buku sebelum dan setelah tidur karena pada waktu tersebut perubahan drastis bisa terjadi di otak. Pikiran baik akan menghasilkan perkataan yang baik. Perkataan yang baik menghasilkan tindakan yang baik. Tindakan yang baik menghasilkan kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik menghasilkan karakter yang baik.

Good Thoughts→Good Words --> Good Actions --> Good Habits → Good Character


Make your mindset all about growth

Ada dua jenis pola pikir yaitu fixed mindset (pola pikir tetap) dan growth mindset (pola pikir berkembang). Pola pikir tetap adalah ketika kamu percaya bahwa kamu dilahirkan dengan seperangkat keterampilan dan kemampuan yang merupakan bagian dari DNA kamu dan tidak dapat diubah, sedangkan pola pikir berkembang adalah ketika kamu bekerja untuk membangun keterampilan dan kebiasaan baru secara terus-menerus dari waktu ke waktu.

Nela Canovic mengatakan bahwa ia telah menggunakan hidupnya sendiri sebagai eksperimen pola pikir berkembang. Hal tersebut mengajarinya banyak hal. Ia berhasil mengubah kehidupan profesionalnya dan menyukai pekerjaannya yang kini ia lakukan. Dia mengaku telah meningkatkan kehidupan pribadinya dan mulai menghargai persahabatan dan kemitraannya. Dia telah memasukkan kebiasaan baru seperti berlari, berolahraga, berjalan-jalan pagi, serta berlatih bersyukur. Dan, yang terpenting baginya adalah menulis setiap hari seperti hal-hal kecil, hal-hal besar, artikel, e-book, dll. Menulis membuatnya tetap disiplin, fokus, dan termotivasi. Hal itu membuatnya merasa paling hidup!

You see one of the hardest things we have to learn to do, to really create the changes we want to see, is to break the habit, or habits, of our old self. Breaking the habit of being you means having to uncover so many habits that we are unaware of, habits that we unwittingly allow to control us every single day. We must then re-write those negative programs for something new and more empowering that can take us in the direction we really want to go. (Simon Collins)


Note: Tulisan ini mengendap dari tanggal 15 September 2013. Barulah saya selesaikan dan posting hari ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di posting berikutnya!



References:

https://www.keepinspiring.me/change-your-mindset/

https://www.healthline.com/health/cognitive-distortions#how-to-change

https://ideas.ted.com/5-irrational-thinking-patterns-that-could-be-dragging-you-down-and-how-to-start-challenging-them/

https://www.quora.com/How-do-I-change-my-mindset

https://www.quora.com/How-difficult-is-it-to-change-the-mindset-of-a-person

https://www.quora.com/Why-is-it-so-hard-to-change-your-mindset

https://www.derryjournal.com/health/mindset-junkie-why-change-so-hard-1365336

https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-forward/201606/4-reasons-why-change-is-hard-worth-it

https://medium.com/age-of-awareness/why-is-changing-your-mind-so-hard-cb48286d1ac3#:~:text=Why%20is%20it%20harder%20to,evidence%20might%20overturn%20other%20beliefs.&text=Learning%20about%20biases%20will%20help%20you%20reduce%20your%20hesitancy%20to%20new%20information.



Memakai Barang Orang Lain Tanpa Permisi, Pernah?

9/27/2021 10:26:00 AM 0 Comments
Sobat, pernahkah kamu memakai barang orang lain tanpa izin? Memakai barang yang tidak berkurang kadarnya mungkin tidak mengurangi atau merubah bentuk barang yang dipakai sehingga kegunaan barang tidak berubah. Tapi bagaimana jika kamu memakai barang yang kadarnya berkurang setelah dipakai misalkan barang yang mengandung cairan, gas, dsb? Pernakah kalian berpikir bahwa kalian telah mencuri?

Mencuri adalah perbuatan terlarang, tidak hanya dalam agama namun juga norma budaya. Terkadang, entah kamu tidak tahu atau tidak sadar atau bandel saja (padahal sudah tahu) namun melakukan perbuatan terlarang tersebut. Kamu sembrono dalam bertindak. Walau hal kecil namun ingatlah Sobat bahwa hal tersebut tidak luput dalam pengawasan Tuhan, tidak luput dalam catatan malaikat.



Sama halnya dengan memakan makanan tanpa permisi atau izin dari pemiliknya. Janganlah sembarangan memakan. Apabila kita sudah tahu bahwa pemiliknya mengizinkan memakan tanpa kita harus minta izin terlebih dahulu maka hal tersebut diperbolehkan. Namun apabila kita tidak tahu apakah si pemilik akan mengizinkan atau tidak, maka hindari untuk memakan. Mintalah izin terlebih dahulu. Karena jatuhnya haram apabila ternyata si pemilik tidak mengizinkan.


Saya temui dalam kehidupan saya, ada orang-orang yang sembarangan memakai barang orang lain. Tentu dalam contoh kasus yang akan saya bahas di sini adalah barang saya. Saya pernah punya teman kos (tentunya wanita ya). Yang saya heran adalah saya mendapati dia memakai sabun mandi saya tanpa permisi. Yang saya lebih herannya adalah dia dengan santai memakai sampai setengah bulan masuk ke minggu ketiga. Bagaimana saya tahu dia pakai sabun saya? Karena posisi pencetan sabun sudah berubah setap kali saya akan mandi. Memang wadah sabun saya tidak transparan sehingga tidak kelihatan jika isinya berkurang. Dan saya lihat bahwa sabun dia habis. Yang aneh, bisa dibilang kami tidak pernah mengobrol. Ketemu tatap muka juga jarang karena saya pulang kerja sore sementara dia malam. Dan ada teman kerja dia yang sekos juga beda kamar. Tapi kenapa sabun saya yang dipilih?

Saya tidak mempermasalahkan sabunnya karena sabunnya tidak mahal dan bisa dibeli kembali. Tapi di sini yang saya soroti adalah tindakannya. Tidak sadarkah bahwa apa yang dia lakukan adalah mencuri? Jika melihat dari segi kemampuan, tentu dia mampu untuk membeli sabun. Dia punya penghasilan tetap dan mapan. Dia juga semestinya mendapat jatah bulanan dari suaminya. Kurang apa coba? Lalu kenapa dia melakukan hal memalukan macam itu?

Apakah pendidikan moral atau pun pendidikan agama yang kurang? Entahlah...

Atau hanya sekedar malas?

Entah tidak sadar atau memang menggampangkan, seringkali kita ternyata melakukan hal sepele atau kecil yang justru menumpukkan dosa.

Memang yang tampak jelas berdosa adalah perbuatan dosa besar seperti membunuh, zina, dsb. Tapi perbuatan kecil yang ternyata menyumbang dosa seringkali tak diperhitungkan. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit kan?

Ok, ternyata bukan hanya saya yang mengalami hal tersebut. Teman akrab saya ada juga yang mengalami hal seperti saya. Dia ngekos dengan orang-orang yang tidak satu kerjaan dengannya. Barang-barang teman saya seperti kompor gas, alat masak, ember seenaknya saja dipakai orang-orang yang sekos dengannya tanpa permisi. Teman saya pun melabrak mereka. Okelah alat masak dan ember tidak berkurang kadarnya kalau dipakai. Tapi kompor gas? Tentu gasnya berkurang donk ya. Teman saya merasa kesal dan bilang ke saya di kosnya banyak pencuri. Apakah kalian setuju bahwa mereka mencuri?

Kalau soal pencurian, kejadian pencurian pernah saya alami yang sedikit lebih parah dan tidak habis pikir sih saya yaitu ada yang menyedot bensin motor dinas saya di kos. Bagaimana saya bisa tahu? Karena saya baru mengisi bensin misal hari ini full lalu kesokan paginya saya mau berangkat ke kantor, kok parameter bensin saya tinggal garis 1 atau 2. Kan aneh ya. Bagaimana mungkin? Hal itu tidak hanya sekali terjadi dalam waktu berdekatan makanya saya curiga. Akhirnya saya laporkan ke Bu Kos. 

Sobat, hati-hatilah dalam bertindak. Karena sekecil apapun itu semua akan dicatat oleh malaikat. Janganlah kita menambah dosa dari perbuatan kecil yang tampaknya tidak berdosa padahal tanpa disadari kita sedang menumpuk dosa secara perlahan-lahan namun pasti. Kita (baca: mungkin saya saja) sudah banyak dosa jadi jangan tambah-tambah lagi.

Apakah ada yang mengalami hal yang sama dengan cerita saya atau teman saya? Boleh yuk sharing...

Nah, Sobat, semoga posting-an ini bisa dipetik hikmahnya. Sampai jumpa di posting berikutnya. 

Cheers!


Friday, September 24, 2021

Apakah Kamu Orang yang Beruntung?

9/24/2021 07:33:00 AM 0 Comments
Saya temui dalam kehidupan saya, ada seseorang yang menurut saya adalah orang yang beruntung. Keberuntungan selalu berpihak padanya. Bahkan berturut-turut kejadian baik yang dialaminya menunjukkan betapa beruntungnya dia. Sampai-sampai  tidak hanya saya yang menganggapnya beruntung, tapi juga teman-teman yang lain.



Saya juga sering melihat seseorang itu tampak hidupnya mulus-mulus saja (tentunya yang dilihat adalah apa yang tampak di luar ya). Saat kuliah, bisa masuk tempat kuliah yang dimau. Saat lulus kuliah kerja dapat kerjaan yang bagus. Saat waktunya menikah, jodohnya ada (padahal tidak punya pacar/calon sebelumnya). Setelah menikah langsung hamil alias punya anak. Saat ingin pindah bareng suami, jalannya mudah. Lalu ingin lanjut S2, diterima beasiswa. Kok mulus banget ya? Ada apakah gerangan di belakangnya?

Luck is made, not given. Nothing came easy. Every success was built upon sweat and sleepless nights. (R. Keith Mobley) 

Filsuf Roma, Seneca, mengatakan bahwa keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan. Dengan persiapan yang baik dan adanya kesempatan, maka akan memunculkan keberuntungan. R. Keith Mobley bilang keberuntungan itu bisa diciptakan yaitu dengan persiapan. Lalu bagaimana jika orang-orang yang persiapannya baik lalu berkumpul menjadi satu? Di sinilah bisa dibilang keberuntungan itu ada. Seperti dalam pertandingan bulu tangkis misal, ketika dua pemain atau grup bertanding, keduanya persiapannya sama-sama kuat, maka bagaimanakah yang terjadi? Di sini keberuntungan itu ada. Karena pihak yang kalah bisa jadi bukan karena tidak bisa bermain tapi entah kenapa misal bisa mati-mati sendiri sehingga menambah poin buat pihak lawan.

Luck is what happens when preparation meets opportunity. (Seneca, Roman Philosopher)

Dalam sebuah ujian memasuki perguruan tinggi, sekolah, atau pun ujian CPNS dsb, di sini tempatnya orang-orang yang memiliki persiapan baik itu berkumpul menjadi satu. Jika persiapan kamu tidak baik di tengah sekumpulan orang yang persiapannya baik bahkan sangat baik, bagaimana menurut kalian? Apakah akan lulus dengan mudah? Sementara kuota kelulusan terbatas. Secara logika manusia tentu hal itu akan sulit. Untuk bisa lulus, tentu kamu harus memiliki persiapan yang sangat baik agar bisa memunculkan keberuntungan karena orang-orang yang sangat baik itu bersaing di urutan atas, tinggal keberuntungan yang berbicara.

Ada suami teman yang mengikuti ujian CPNS. Saat pengumuman dinyatakan tidak lulus. Tapi beberapa waktu kemudian ada pengumuman bahwa akan disaring kembali beberapa urutan nilai terbesar untuk ujian kedua kalinya. Nah, rupanya suami teman saya ini lulus. Apakah ada keberuntungan di sini? Bisa dibilang ya karena pada ujian pertama sudah tidak lulus namun kemudian tiba-tiba ada ujian kedua yang artinya ada kesempatan kedua. Persiapan yang baik ketemu dengan kesempatan, terciptalah keberuntungan. Tentu saja persiapan ujian kedua harus lebih baik ya karena kan sudah tahu titik lemahnya di mana.

You don't get lucky while sitting on the sofa with arms crossed doing nothing. You can be lucky only when you are prepared. (Nesta Jojoe Erskine)

Pada ujian CPNS yang sama, teman akrab saya juga ada yang ikutan memerebutkan posisi yang berbeda. Teman saya ini sudah ikut tes CPNS untuk keempat kalinya. Dia berada di posisi seperti suami teman saya tadi yang mana dapat kesempatan kedua untuk ujian lagi kedua kalinya. Namun keberuntungan belum berpihak padanya. Teman saya ini gagal. Barulah di tes CPNS kelima (tahun depannya) dia dinyatakan lulus.

My success was due to good luck, hard work, and support and advice from friends and mentors. But most importantly, it depends on me to keep trying after I have failed. (Mark Warner)
Bagaimana Sobat, apakah kalian termasuk orang yang beruntung?

Nah, Sobat, sekian sharing saya hari ini. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Cheers!



Reference:
https://www.lce.com/Luck-is-made-not-given-1371.html
https://www.allegisgroup.com/en/insights/blog/2017/march/luck-is-when-preparation-meets-opportunity
https://www.keepinspiring.me/lucky-quotes/




Thursday, September 23, 2021

Perfeksionis?

9/23/2021 04:37:00 PM 0 Comments
You were not put on this earth to be perfect. You were put on this earth to be you.

You do not need to change a single thing about yourself to meet someone else's definition of perfect.

Perfect doesn't equal happy. In fact, the best way to be happy is to stop trying to be perfect.

(Candi William, 2020)


Sobat, kali ini saya akan berbagi tentang buku How to be Perfectly Imperfect: Stop Comparing, Start Living karya Candi Williams. Buku ini terbitan tahun 2020, terbilang baru ya menurut saya. Karena tidak terlalu tebal, hanya 163 halaman isi, makanya cepat selesai dibaca. 


Sobat, apakah kamu termasuk orang yang perfeksionis? Hayo ngaku! OK. Mungkin sebagian dari kita termasuk yang perfeksionis. Tak ada yang salah dengan hal itu Sobat apabila masih dalam batasan wajar. Segala sesuatu kalau berlebihan kan memang tidak baik ya Sobat. Perfeksionis memang punya kesan yang postif ya kan Sobat. Perfeksionis selalu menginginkan kesempurnaan dalam setiap hal yang dilakukan. Duh, siapa sih yang tidak suka dengan kesempurnaan, hasil yang sempurna? 

Kita semua pasti mau dong. Tapi kita juga harus ingat bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan alias berbuat salah itu adalah hal yang wajar. Nobody's perfect kan kata pepatah. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Lalu kenapa kita harus selalu menuntut kesempurnaan yang apabila tidak berjalan sesuai harapan akan berakibat tidak baik terhadap diri sendiri. Mungkin awal-awalnya kita tidak menyadari efek yang ditimbulkan. Tapi jika sudah berefek ke fisik, baru deh kita ngeh. Karena rupanya nih perfeksionisme juga punya efek terhadap kesehatan loh. Yuk kita simak apa itu perfeksionime seperti saya kutip dalam bukunya Candi William.

Perfectionism: constantly striving to achieve unrealistic goals or meet unattainable standards; seeing anything less than flawlessness as self-failure.

Perfeksionisme bisa diartikan sebagai terus-menerus berusaha untuk mencapai tujuan yang tidak realisistis atau memenuhi standar yang tidak dapat dicapai; melihat sesuatu yang kurang dari kesempurnaan sebagai kegagalan diri.



Perfeksionisme bisa disalahartikan sebagai motivasi dan disebut sebagai hal yang positif namun pada kenyataannya justru berhubungan dengan sederet masalah kesehatan seperti kecemasan, depresi, gangguan makan, tekanan darah tinggi, dan bipolar. Di sini bukan berarti bahwa apabila kamu termasuk perfeksionis maka kamu pasti akan mengalami isu kesehatan tersebut. Yang menjadi sorotan di sini adalah perfeksionisme itu stressful dan memiliki dampak pada kesehatan.

Dalam buku ini diceritakan bahwa ada 3 macam perfeksionisme menurut Danielle S. Monar yaitu 
  1. Self-oriented perfectionism: dimana seseorang memasang standar tinggi kepada dirinya sendiri
  2. Socially prescribed perfectionism: dimana seseorang merasa bahwa orang lain mengharapkan dirinya menjadi sempurna
  3. Other-oriented perfectionism: dimana seseorang memasang standar tinggi kepada orang lain

Jebakan berpikir perfeksionis:
  1. Black and white thinking: cara berpikir ini melihat hal hanya ada 2 macam yaitu sukses atau gagal, hitam atau putih saja, tak ada abu-abu
  2. Catastrophic thinking: cara berpikir ini melihat hal dari skenario terburuknya. Dunia berakhir jika seseorang tidak bisa bla bla bla.

Cara mengenali apakah kamu perfeksionis
  1. Kamu sangat keras terhadap diri sendiri. Kamu bekerja keras bahkan lebih dari 100% apa yang bisa kamu lakukan.
  2. Sebuah kritikan berefek dalam. Kritikan negatif bisa membuatmu terluka dan tertusuk dalam ke hatimu sehingga bisa membuatmu merasa tidak sempurna. Hanya kiritikan kecil saja sakitnya minta ampun. Gegara itu kamu jadi merasa ada yang kurang dengan dirimu alias tidak sempurna.
  3. Kamu ingin segala sesuatu selesai sempurna
  4. Kamu terobsesi dengan kesalahan. Bahkan kesalahan kecil saja itu menjadi besar bagimu dan kamu perlu berjuang keras alias struggle untuk berhenti memikirkannya. Hanya masalah kecil saja kamu kepikirannya minta ampun begitu loh sampai tidak bisa tidur. Bisa dibilang kamu tidak bisa menolerir sebuah kesalahan.
Nah, bagaimana Sobat, apakah kamu memenuhi kriteria di atas?

Di buku ini disebutkan beberapa hal untuk mengurangi perfeksionisme seperti:
  • Pisahkan the must haves dari the nice to haves. 
Kalau the must-haves itu kesannya maksa. Ya ga Sobat? Apa-apa harus punya. Kalau tidak punya bisa jadi menghalalkan segala cara kan tidak baik ujungnya. Atau pun malah bisa jadi stres sendiri karena nggak tercapai. Nah kalau the nice to haves ini kesannya lebih slow. Kalau punya ya alhamdulillah, kalau pun nggak, slow aja lagi. 

  • Fokus pada growth mindset. 
Dalam kehidupan ini selalu ada perubahan. Tidak statis. Dalam hal apapun itu senantiasa bergerak alias dinamis. Kalau tidak bergerak akan ketinggalan. Sama dalam hal berpikir juga kita tidak bisa terus berpikir statis (fixed mindset) yang mana melihat sesuatu itu hitam dan putih, benar atau salah, sempurna atau tidak sempurna. Kita harus bisa punya growth mindset yang mana bisa menerima perubahan sehingga kita menjadi pribadi yang lebih fleksibel alias tidak kaku. Bisa dibayangkan bagaimana kakunya seseorang yang hanya melihat sesuatu hitam dan putih. Perubahan itu sebuah keniscayaan. Bumi aja bergerak terus loh ya.

  • Mulai dari yang kecil. 
Perfeksionisme selalu menempatkan sesuatu itu standar tinggi sehingga tak tahu harus mulai dari mana. Sementara apabila kita tidak memasang suatu standar, kita melakukan sesuatu itu santai, bisa mulai dari mana saja. Nah, mulailah dari yang kecil dulu. 

  • Mulai mencintai diri sendiri (self-love)
Tak ada manusia yang terlahir sebagai perfeksionis. Yang ada adalah perfeksionisme itu merupakan bentukan diri selama bertahun-tahun. Nah, apabila kita bisa belajar menjadi keras terhadap diri sendiri selama bertahun-tahun maka kita pun bisa belajar untuk menjadi tidak keras terhadap diri sendiri selama bertahun-tahun pula. Deal? 

Kita harus bisa memafkan diri sendiri tatkala kita berbuat kesalahan. Jangan berlebihan dalam mengevaluasi kesalahan diri yang mana hal tersebut hanya menghabiskan waktu dan energi. Yuk, move on! 

Kita juga harus ingat bahwa hidup itu tak bisa diprediksi. Sulit untuk selalu menjadi sempurna dalam dunia yang tidak sempurna ini. Hidup penuh lika-liku dan kerikil tajam. Jadilah easy-going terhadap diri sendiri. Tak perlu menuntut untuk selalu sempurna hanya untuk penilaian orang lain terhadap kita. Jadilah diri sendiri, cintailah diri sendiri. Apapun yang orang lain pikirkan atau nilai tentangmu, kamu tetaplah kamu. Kamu tak akan menjadi dia atau siapapun yang orang lain mau. Karena kamu pemilik jiwamu. Tak akan ada yang paling mengerti kamu selain dirimu sendiri. Tak akan ada yang lebih mencintaimu selain dirimu sendiri. Setelah kamu mencintai dirimu, barulah saat itu kamu bisa mencintai orang lain. Nothing can stop me loving myself kalau kata BTS dalam lagunya yang berjudul Idol. :)

  • Jangan biarkan suara batin (self-talk) mempengaruhimu
Ketika kamu down, seringkali kamu akan berbicara dengan dirimu sendiri kan? Ada suara-suara yang berkata padamu bahwa kamu jelek, kamu gemuk, kamu bodoh, dsb. Jangan dengarkan suara-suara negatif tersebut. Gantilah suara-suara itu dengan sesuatu yang positif misalkan aku sudah melakukan yang terbaik, aku orang yang baik, aku cantik, aku menarik, dll. Kritik negatif yang timbul dalam batinmu itu harus kamu ubah menjadi positif agar kamu menjadi lebih baik. Suara-suara batin sendiri yang negatif bisa berakibat fatal terhadap seseorang yang down seperti menjadi rendah diri, menjadi tak berguna, dan yang lebih parah bisa menimbulkan niat bunuh diri. Naudzubillahiminzdalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan terlarang tersebut. Aamiin.

  • Meminta bantuan orang lain lebih sering
Bisa dipahami bahwa seorang perfeksionis adalah orang yang terbiasa melakukan/menyelesaikan segala sesuatunya sendirian. Perlu diingat bahwa hal tersebut pastinya melelahkan dong ya dan bahkan terkadang target justru tidak tercapai karena apa-apanya sendirian yang mengerjakan. Kaki jadi tangan. Tangan jadi kaki. Pada dasarnya tak perlu merasa malu untuk meminta bantuan orang lain. Jika kita bisa memulai untuk meminta bantuan orang lain, mendelegasikan pekerjaan ke orang lain, berkonsultasi ke orang yang lebih mumpuni, hal-hal tersebut akan mengendorkan keperfeksionismean kita. Jadi, tunggu apa lagi? 

Sobat, apakah kamu punya cerita tentang keperfeksionismeanmu?

Nah, Sobat, demikianlah yang bisa saya share tentang perfeksionisme pada sore hari ini. Semoga bermanfaat. Next time kita sambung lagi dengan tema yang menarik lainnya. Sampai jumpa!

Cheers!

Wednesday, September 22, 2021

Pikiran vs hati

9/22/2021 05:57:00 AM 0 Comments
Hati oh hati..

Ketika kamu jatuh cinta, kamu merasakan hati berdenyut, berdebar kencang atau berjingkrak-jingkrak kegirangan... Ketika kamu ditolak, hatimu hancur alias patah hati.

Kamu disebut tidak berperasaan alias tidak berhati atau berhati dingin ketika kamu tidak menunjukkan perhatian atau cinta ...

Dan kamu disebut berhati besar ketika kamu memberikan perhatianmu kepada orang lain.

Kamu "memasukkan sesuatu ke hati" atau "berbicara dari hati ke hati" tentang masalah yang sangat pribadi.

Kamu mencintai seseorang "dari lubuk hati."

Tetapi kamu disebut setengah hati tentang sesuatu, ketika kamu tidak terlibat secara emosi.

Kamu merasakan hatimu sebagai pusat perasaanmu, seperti yang terlihat pada hari kasih sayang ketika hati yang dipenuhi cinta berlimpah.

Kamu tahu ini secara naluriah, karena kamu selalu secara fisik menunjuk ke hati ketika kamu mengatakan "aku" atau ingin mengungkapkan perasaanmu yang lebih dalam.

Hati laksana raja. Dan pikiran laksana penasehat raja. Apa pun yang akan dilakukan raja, penasehat raja selalu memberikan nasehat terbaiknya agar sang raja tidak salah langkah dalam mengambil keputusan yang berakibat merugikan. Seringkali yang hendak dilakukan raja tidaklah masuk akal bagi si penasehat raja. Namun tatkala hal tersebut adalah suatu kebenaran, maka sang raja akan merasakan kebahagiaan tak terkira.


Kalau mengikuti kata hati seharusnya jadi bahagia. Betul tidak? Karena kalau hati itu melakukan sesuatu tak ada batasan. Hati itu free spirit. Dan bahkan hati itu kalau saya bilang ga punya malu. Beda dengan pikiran. Kalau pikiran itu terbatas. Pikiran itu mengumpulkan informasi-informasi lalu menyaring mana yang baik mana yang nggak. Mana yang merugikan mana yang nggak. 

Kalau pikiran itu lebih ke penasehat. Jadi kalau hati ingin berbuat apa, kemudian pikiran itu menasehati terlebih dahulu berdasarkan fakta abcde, data abcde. Mana yang baik mana yang nggak, bakal merugikan nggak nih yang ingin dilakukan oleh hati. Nah, ada kalanya memang baik mengikuti kata hati, namun ada kalanya juga baik mengikuti logika atau pikiran. Tapi kalau sudah menyangkut masalah cinta, biasanya kalau mengikuti kata hati akan bahagia walau mungkin secara logika tak bisa dimengerti begitu ya.

Kalau kita lebih memenangkan logika tentang masalah cinta ya hati yang akan terluka. Tapi kalau untuk urusan lain, kalau ikut logika kan logika berusaha tidak merugikan sifatnya, jadi akan tidak dirugikan. 

Kalau hati ini kan free spirit ya tidak punya malu jadi ketika hati menginginkan sesuatu jadi nekat begitu, ada perasaan nekat aja gitu. Tapi kemudian logika masih menyaring-nyaring. Masa mau melakukan abcd sih memalukan aja gitu ya. Kalau hati mau nekat, pikiran bilang, "Jangan...jangan... kalau kamu nekat nanti kamu begini...begini..." Saya rasakan betul Sobat, pertentangan hati dan logika. Jadi seringkali saya waduh seperti ada perdebatan gitu ya kalau hati saya maunya apa lalu logika saya berkata apa gitu kan. Ditimbang-timbang dulu apa baik buruknya. Dan kalau bikin keputusan jadi ga bisa spontan ya karena itu tadi logika saya itu begitu ketat.

Tapi memang ada kalanya saya ikut kata hati aja deh karena kalau ikut kata hati bisa plong gitu semacam tak ada beban. Kalau mengikuti kata hati gitu enak aja. Tapi kalau kata hati ga diikuti ada kayak kepikiran. Kalau kita berusaha menunda apa kata hati mungkin kita bisa menunda dalam jangka waktu satu dua hari tapi itu akan selalu teringat gitu dan akan terbawa. Jadi nantinya kalau ada kesempatan kita akan berusaha mewujudkan.

Bagaimana dengan kalian Sobat? Apakah kalian memilih hati atau logika? Atau kalian bisa seimbang antara hati dan logika? Atau kalian tipe yang lebih dominan hati atau lebih dominan logika?

Ada saya baca-baca di sebuah artikel, misal kalian mengikuti kata hati dalam hal pekerjaan, kalian akan lebih bahagia karena kalian mengikuti passion. Tapi kalau mengikuti logika dalam hal pekerjaan, misalkan kalian kerja di perusahaan A kalian mendapat penghasilan lebih besar. Tapi kalau bekerja mengikuti kata hati kalian akan mendapat penghasilan lebih kecil, tidak ada jaminan, masa depan tidak cerah, dll. Hmm, jika kalian mengikuti kata hati kalian akan bahagia tapi penghasilan kecil. Sementara kalau mengikuti logika, penghasilan besar tapi tidak bahagia. Pilih mana? Dilema kan ya?

OK. Saya cukupkan sampai di sini ya teman-teman, sampai jumpa!

Cheers!


Reference:
http://www.oprah.com/spirit/listen-to-your-heart-not-your-head/all#ixzz6XvMia0Ov




Saturday, September 18, 2021

Haruskah Judgmental?

9/18/2021 09:14:00 PM 0 Comments

Menurut kamus Cambridge, judgmental adalah
tending to form opinions too quicklyesp. when disapproving of someone or something

Hal tersebut bisa diartikan sebagai menilai seseorang terlalu cepat saat kita tidak setuju terhadap seseorang atau sesuatu. Dalam bahasa Indonesia mungkin lebih enaknya dikatakan sebagai menghakimi. Bagaimana Sobat, apakah kamu pernah merasa terhakimi?

Kita hidup dalam lingkungan yang judgmental. Sudah menjadi pemandangan yang biasa. Mungkin sedari kecil pun kita sudah mengalami.

Gill Hasson dalam bukunya yang berjudul Kindness menyebutkan 4 keadaan dimana kamu semestinya menyadari bahwa kamu tengah menjadi seorang yang judgmental atau sedang menghakimi orang lain, di antaranya:

  • Jika keadaan atau tindakan seseorang membuat kamu merasa kesal, tidak sabar, kecewa, atau bahkan marah kepadanya, maka saat itu kamu sedang menghakimi atau judgmental terhadap orang tersebut.
  • Jika kamu berpikir bahwa seseorang harus mengubah caranya (bisa cara berpikir, bertindak) maka kamu sedang menghakimi/judgmental.
  • Jika kamu meremehkan penderitaan seseorang maka kamu sedang menghakimi/judgmental.
  • Jika kamu berbicara meremehkan tentang seseorang maka kamu sedang menghakimi/judgmental

Saya pernah mendapati seseorang tidak setuju dengan tindakan atau pola pikir temannya yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pola pikirnya. Saya contohkan tentang mengasuh anak. Katakanlah A memilih untuk mengasuh anaknya yang masih kecil dan berhenti dari pekerjaannya. Padahal keadaan ekonominya kekurangan. Suami tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Melihat keadaan A, B tidak setuju. Jika B menjadi A, dia akan memilih untuk bekerja membantu suami. Anak bisa diasuh asisten rumah tangga. Dari perbedaan pendapat ini saja B menjadi mengeluarkan pernyataan yang kurang pantas atau menyudutkan atau menganggap bodoh seolah B yang paling benar. Padahal kita tidak tahu bagaimana kondisi A yang sebenarnya.



Kita hanya melihat kondisi seseorang dari luar saja yang ditampakkan. Dalamnya kita mana tahu. Kita hanya melihat satu sisi tapi seolah kita tahu keseluruhan sehingga kita dengan seenaknya men-judge orang lain. Apakah kita tahu keseluruhan yang dialami seseorang? Dari 24 jam sehari mungkin tidak sampai 1 jam yang kita ketahui tentang seseorang. Tapi kenapa dengan mudahnya kita menghakimi seseorang? Memangnya siapa kita? Kita bukan malaikat yang mengikutinya setiap saat. Kita bukan Tuhan yang mengawasinya setiap saat.

Kondisi kita tidak bisa disamakan dengan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk sama sepemikiran dengan kita. Apa yang cocok dengan kita belum tentu cocok untuk orang lain. Apa yang dilalui seseorang tidak sama dengan yang kita lalui mulai dari keluarga, lingkungan tempat bertumbuh, pendidikan, dll. Semua itu membentuk pola hidup seseorang seperti apa yang dijalani seseorang saat ini. Pantaskah kita judgmental terhadap orang lain?

Judgmental bisa berdampak pada seseorang seperti merasa tidak diterima oleh orang lain atau lingkungan. Perasaan tertolak tentu tidaklah nyaman. Setiap individu perlu eksistensi diri. Penerimaan oleh lingkungan akan membantu seseorang untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

OK sobat sampai di sini dulu ya. Next time kita sambung lagi.

Cheers!

Friday, September 17, 2021

Kejamnya Dunia Kerja

9/17/2021 02:54:00 PM 2 Comments
Halo Sobat! Apa kabar? Lama tak bersua ya. Setahun sudah berlalu. Tak satu pun artikel saya posting. Saya tenggelam dalam kehidupan nyata. Ah, kangen juga mengobrak-abrik blog ini. Ada yang kangen posting-an saya gak ya? Hehe

Walau lama tak diurus, ternyata masih ada saja pengunjung yang nyasar ke blog ini. Hmm, mungkin saatnya saya bangkit kembali. :D

Selama hayat masih dikandung badan, maju terus.... Duh, ngomong apaan sih ini :D

Ok, Sobat, maafkan daku yang vakum terlalu lama. Mungkin memang ada masa-masanya kita ingin rehat sejenak eh jadinya malah kebablasan. Bukan rehat sejenak lagi itu namanya tapi berjenak-jenak alias banyak jenak.

Sobat, kali ini saya menulis ini di kamar kos saya yang baru alias sudah hampir 6 bulan saya tempati di ibukota Jakarta. Saya berpindah tugas kemari. Sungguh di luar perkiraan ya Sobat. Saya tidak pernah bermimpi untuk bekerja di sini. Walau banyak yang menginginkan untuk pindah kerja kemari tapi tidak buat saya. Keinginan saya adalah pindah ke kampung halaman. Namun apa daya, ada yang lebih berkuasa di luar sana yang mengontrol hidup saya. Mungkin sudah jalannya harus seperti ini.

Banyak yang saya pertimbangkan untuk pindah kemari. Saya sungguh galau. Pada awalnya saya sempat tidak mengirim berkas dan upload berkas sudah ditutup. Saya pun menjalani hidup saya seperti biasa dan berharap plan b saya bisa berjalan mulus. Tapi kemudian, sehari sebelum pengumuman saya dihubungi orang pusat yang memberikan saya pilihan mau lanjut atau tidak. Jika mau lanjut harus kirim berkas sampai sore hari. Saya yang sedang ikut pelatihan pun jadi tidak konsen padahal sedang ada ujian sorenya. Akhirnya saya mengisi berkas dari nol yang ternyata tidak selesai sampai sore.

Saya minta waktu sampai besok pagi dan diiyakan. Lalu di pagi harinya saya kirim ke whatsapp si Bapak. Beliau bilang bahwa saya paling akhir yang kirim. Dan sore hari langsung keluar pengumuman. Duarrr... sungguh keputusan yang mendadak yang saya buat untuk hidup saya.

Saya ini orang yang penuh pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Yang saya lakukan biasanya sudah terencana. Saya bukan tipe yang buru-buru, grasa-grusu, dadakan dalam menjalani sesuatu. Harus dari jauh hari sudah dipikirkan direncanakan. Untuk jalan ke mall saja dengan teman, seminggu sebelumnya sudah janjian.

Wah, kepanjangan mukadimahnya nih. Mari lanjut ke tema! :D

Sobat, sebenarnya di posting-an ini saya ingin bercerita tentang dunia kerja yang sudah lama saya geluti. Bisa dibilang bahwa dalam dunia kerja selalu ada gesekan-gesekan.  

  • Ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. 
Bagaimana penilaian orang lain ke kita, itu contoh hal yang tidak bisa kita kontrol. Namun ada hal yang bisa kita kontrol seperti bagaimana kita berperilaku, apa yang kita perbuat, nah semua itu atas kontrol kita pribadi. Berhubung ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol maka bisa dibilang kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jika dari 10 orang ada 1 orang yang tidak suka dengan kita tidak cocok dengan kita, itu hal wajar. Kita tidak bisa mengontrol hal tersebut. Kita tidak bisa memaksa orang tersebut untuk menyukai kita. Dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain, niscaya hal tersebut akan sangat mungkin terjadi. 

Tak ada yang sempurna sobat. Life is hard. Ibarat kata, di mana pun kamu berada, kamu akan ketemu orang yang suka dan tidak suka dengan kamu. love and hate

Mungkin kamu pernah kepikiran, di mana pun saya berpijak kok ada saja sih yang ga suka sama saya. Apa yang salah dengan saya? Stop! Jika kamu sudah merasa sebagai orang yang berada di jalan yang lurus alias tidak macam-macam. Kamu tidak berbuat onar atau menyebabkan masalah. Jangan berpikir ada yang salah dengan kamu. Bisa jadi yang bermasalah bukan kamu tapi lingkungan kamu atau orang-orang di sekitar kamu. Jika kamu berganti lingkungan, kamu menemukan lingkungan yang cocok dengan kamu, maka kamu tidak akan menyalahkan dirimu sendiri lagi. 


Bisa jadi memang ada orang yang tidak cocok dengan kamu lalu orang tersebut yang malah membuat masalah denganmu. Entah dia menjadi judgmental terhadapmu yang menyebabkan kamu merasa ada yang salah denganmu ataupun kamu merasa tidak nyaman. Hal-hal seperti itu memang tidak mengenakkan tentunya karena perasaan kita yang bermain. Tapi cobalah berpikir dengan logika. Apakah kamu bekerja untuk orang tersebut? Apakah orang tersebut yang mempekerjakanmu, menggajimu? Apakah kamu akan dipecat gegara hal tidak nyaman yang kamu rasakan? Jika kamu merasa bahwa tempat kerjamu worth it untuk dipertahankan, go ahead! Tapi jika kamu merasa membawa pengaruh buruk terhadapmu, mungkin mental psikismu jadi terganggu karenanya, maka hal tersebut tidak sehat alias tidak baik buatmu. Segeralah keluar dari lingkungan tersebut.

Jika kamu bisa bersikap cuek, hal itu akan bisa membuatmu lebih enak hidup, meneruskan hidup seolah tak terjadi apa-apa. Tapi jika kamu adalah tipe orang yang sensitif tentu akan sulit bagimu. Kamu bisa pertimbangkan untuk pindah lingkungan.

Cukuplah penilaian Tuhan terhadapmu maka kamu tak akan memperdulikan atau sakit hati dengan penilaian manusia terhadapmu.

  • Kamu dengan keunikanmu
Adakah kamu pernah terpikir, sepertinya kepribadian seperti kamu (yang kamu miliki) sulit diterima orang lain di lingkungan kerja. Hal ini kemungkinan terjadi untuk orang tipe pendiam introvert yang irit bicara, tidak pandai bergaul dan cenderung berbeda dibanding yang lain. Kamu melihat bahwa lingkungan lebih menerima dan menyukai tipe kepribadian yang ceria yang banyak bicara dll yang sangat bertolak belakang denganmu 180 derajat. Tentu kamu merasa kamu tidak bisa dipaksa untuk menjadi orang lain agar orang menyukaimu, agar lingkungan menerimamu. Betul tidak? Sangat tidak nyaman jika kita harus menjadi orang lain. Tidak bisakah kita menjadi diri kita sendiri saja dan lingkungan menerima kita? Toh kita tidak menuntut orang lain menjadi seperti yang kita mau agar sejalan dengan kita. 

  • Like and Dislike
Like and dislike adalah hal yang saya bilang hal biasa dalam hidup, apalagi di lingkungan kerja. Kita ketemu orang-orang dengan latar belakang budaya, pendidikan, pengalaman, pola pikir yang berbeda-beda. Percayalah kita tidak akan lepas dari like and dislike. Oke, mungkin itu hal biasa, kita tak terlalu perduli, tapi ketika banyak kasus like and dislike terjadi di lingkungan kerja kita, tentu kita akan aware. Loh kok begini dan begitu. Kok si dia begini tapi perlakuannya begitu, dll. Kita tak bisa tutup mata akan like and dislike yang terjadi di depan mata. Tapi kita juga tak berdaya karena berada di jajaran terbawah. Kita bisa apa?

Legowo saja sobat. Kita seorang saja tidak bisa merubah apa-apa. 

  • Tempat baru tak seindah harapan
Mungkin sebagian dari kita ada yang berpindah-pindah tempat kerja. Apa harapanmu ketika memasuki tempat yang baru? Kamu kemungkinan berharap mendapat pengalaman baru kehidupan baru yang lebih baik. Betul tidak? Mungkin benar kamu bisa mendapatkan hal tersebut jika kamu bernasib baik. Tapi tentu saja hal itu tidak berlaku buat semua orang. 

Ada kemungkinan jika tempat baru tak seindah harapan. Yang ada malah lebih buruk dari tempat lama. Semacam ada kemunduran tatkala kita ada di situ. Siapkan mental saja ya Sobat. Di tempat baru juga belum tentu kita ketemu orang-orang yang sejalan dengan kita yang bisa mendukung kita untuk bertumbuh. Jika kita mendapati lingkungan yang tidak lebih baik dari sebelumnya, bisa jadi kita mengalami penurunan kualitas diri karena terpengaruh lingkungan. Tapi di sisi lain jika kamu kuat, maka tempat tersebut bisa menjadi ajang pembelajaran hidup untuk menjadi lebih wise dalam memahami lingkungan yang tidak sesuai dengan kamu. Apakah kamu pernah mengalami? Ada di posisi manakah kamu?

Sobat, sekian dulu ya sharing dari saya hari ini. Lain kali saya sambung lagi jika ada ide-ide lain yang perlu saya tambahi.

Note: Tulisan ini pertama saya tulis sebelum saya mulai posting review buku Saatnya Dunia Berubah dan Ikigai, tapi baru saya selesaikan hari ini untuk di-posting.

Cheers!