semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana: Japan

Follow Us

Showing posts with label Japan. Show all posts
Showing posts with label Japan. Show all posts

Thursday, February 9, 2017

Winter in Tokyo (5): Tips-Tips Traveling

2/09/2017 05:57:00 PM 0 Comments

Bagi yang ingin traveling ke Jepang, mungkin beberapa hal di bawah bisa bermanfaat buat kamu selama di sana.

Foto dok pribadi Reana

1. Bawalah mie instan/abon dari Indonesia untuk berjaga-jaga jika sulit mendapatkan makanan halal. Di hotel saya menginap disediakan heater untuk masak air (lumayan bisa untuk menyeduh mie instan) dan microwave (untuk menghangatkan makanan). Jadi, tinggal beli nasi saja.

2. Bawa obat-obatan ringan. Terutama obat flu.

3. Ketika menaiki eskalator, berdirilah di sebelah kiri. Jalur sebelah kanan untuk orang yang ingin berjalan cepat alias terburu-buru. Orang Jepang sangat tertib jadi jangan ikuti kebiasaan di Indonesia.

4. Jangan sembarangan menyebrang jalan seperti di Indonesia. Menyebranglah ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Orang Jepang sangat tertib. Bahkan ketika tak ada kendaraan lewatpun mereka tetap menunggu di pinggir jalan sampai lampu hijau menyala.

5. Bersihkan toilet setelah menggunakannya. Toilet di Jepang sudah cukup canggih. Banyak tombol yang bisa dipencet. Dan yang saya kagumi adalah kebersihannya. Di toilet umum tak saya dapati toilet yang basah yang membuat kita enggan menggunakan bekas orang. Mereka sadar diri untuk mengelap setelah menggunakannya. Jadi tak perlu menunggu dibersihkan cleaning service seperti yang saya temui di mall-mall negara kita.

6. Jangan membuang sampah sembarangan. Lebih baik simpan di tas atau saku jika belum menemukan tempat sampah. Di hotel saya saja tidak ada yang membersihkan kamar tetapi penghuni harus membersihkan sendiri. Itulah bedanya mungkin karena orang Jepang sudah sadar akan kebersihan. Tidak seperti budaya kita yang apa-apa biasa dilayani.

7. Jangan gaptek (gagap teknologi). Ada kisah lucu nih. Berhubung terbiasa hidup di Indonesia negara tropis yang kalau musim panas ya panas sekali. Jadi terbiasa dengan AC dingin. Nah, waktu ke Jepang kan musim dingin. Otomatis perlu penghangat kan? Jadi, AC di jepang itu bisa panas dan dingin. Di malam pertama, kami (saya dan teman saya) tidak berhasil membuat AC panas.

Maklum, tombol remotenya banyak dan juga bahasa Jepang. Jadilah kedinginan kami tidur di bawah selimut. Mana kami dapat kamar yang pintu di luar lagi. Dari sini saya merasa gaptek. Sungguh menyedihkan. Saya penasaran, ah masa sih tak bisa. Besoknya saya tanya kamar sebelah ternyata mereka bisa. Okelah saya coba-coba akhirnya berhasil. Yes yes yes malam berikutnya tak kedinginan lagi. Hehe. 😊

8. Biasakan antri. Kalau di Indonesia nyerobot itu hal lumrah. Tapi di Jepang itu tertib. Waktu saya mau beli kartu pasmo dari bandara Haneda, awalnya sepi loh. Tak tahunya eh sudah ngantri saja orang di belakang saya. Dan tak ada yang berisik menyuruh kita cepat-cepat atau bagaimana. Berhubung saya masih bingung-bingung pencet tombol. 😊

9. Bagi wanita muslim, yang pastinya sholat donk ya kecuali kalau lagi datang tamu bulanannya, don't skip 5 times daily prayer (sholat), ok? Kita tetap bisa sholat kok wherever we are. Cari-cari tempat deh. Berada di tempat yang memang bukan negara muslim memang sulit sekedar cari tempat buat sholat, tapi bukan berarti tidak ada dan tidak bisa. No no no!!!

Pasti ada jalan asal kita mau cari cara. Pengalaman saya sih saya berwudhu di mall ya karena di sanalah ada toilet umum atau di mana pun lah yang ada toilet umumnya. Nah, setelah itu mau kita sholat di taman, tempat parkir atau di mana saja. Malah saya menggelar pashmina di jalan depan sekolah TK atau SD entahlah. Saya sholat di situ. Tapi saya cari yang tidak begitu ramai. Alhamdulillah aman. Tidak ada yang mengusir.

Monday, February 6, 2017

Winter in Tokyo (4) : End

2/06/2017 05:51:00 AM 0 Comments


Sambungan kisah saya yang sebelumnya sudah saya posting. Tapi baru sekarang sempat posting. Tak mengapalah yang penting tetap berbagi dengan kamu semua. 


Cerita sebelumnya:
Winter in Tokyo (1) : Persiapan
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 1 (Kyoto)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 2 (Gotemba/Mount Fuji/Owakudani Hall Valey/Ropeway)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 3 (Kaminarimon/Shibuya/Shinjuku/Harajuku)
Winter in Tokyo (3) : Oleh-Oleh Khas


Kesimpulan

Dari awal datang hingga pulang, kebanyakan aktivitas kami adalah jalan dan jalan. Maksudnya jalan benaran pakai kaki. Sampai pegal sekali kaki saya. Maklum, jarang bergerak selama di Indonesia. Dan memang orang Jepang jalannya cepat-cepat meski sudah tua sekalipun. Saya yang muda merasa kalah. Tapi alhamdulillah saya kuat jalan (tanpa mengeluh capek meski sebenarnya capek sangat) dari pagi hingga malam di sana. Hebatnya, begitu bangun pagi sudah hilang itu capek. Wow!

Teman lain ada yang jalannya harus lambat-lambat loh padahal sih seumuran dengan saya sepertinya (katanya lecet mungkin karena badannya memang agak padat). Saya bersyukur sajalah masih diberi kekuatan biarpun tidak pernah olahraga dan dibilang kurus. Thanks to Allah. :) Saya juga tidak melihat orang gemuk di sana. Standarlah. Cenderung kurus-kurus sih. Mungkin karena banyak jalan kaki dan bersepeda. Padahal jalan dari stasiun ke luar termasuk jauh loh menurut saya. Hebat!

Buat yang mau menguruskan badan, recommended nih hidup di Jepang. :)

1. Di Jepang, saya tidak melihat orang bawa motor loh. Paling sepeda yang banyak berseliweran. Mobil pribadi juga jarang. Public transport di sana memang bisa diandalkan sih. Keretanya tepat waktu. Selama di sana saya mencoba subway, shinkansen, taksi dan bus kecil semacam metromini kalau di Jakarta yang kami pakai pada hari kedua ke Gotemba dan perjalanan pulang dari hotel menuju Haneda Airport (charter).

2. Oya, sewaktu naik kereta, saya terkagum-kagum. Kenapa? Karena orang-orangnya cakep-cakep. Oh God... hihihi. Biarpun sudah tua kelihatan kalau mereka cantik dan ganteng. Padahal kalau saya nonton drama Jepang, aktor aktrisnya tidak secantik dan ganteng Korea. Tapi orang biasa justru cantik dan ganteng. Dulu kala doktrinnya orang Jepang itu pendek dan hidung pesek. Nyatanya sekarang (saat saya melihat langsung di sana) tidak demikian. Hidungnya mancung-mancung. Dan tingginya mungkin samalah seperti orang Indonesia. Mungkin memang sudah banyak perubahan ya.

Kartu subway
Sebenarnya saya ingin menyimpan kartu ini buat kenang-kenangan.
Tapi apa daya, begitu kartu dipakai arus balik langsung masuk ke mesin.
Tak seperti di Indonesia yang bisa dibawa pulang dan dibuang. 😊

3. Orang Jepang itu kalem. Maksudnya saya sewaktu di kereta mereka tidak ada yang berisik. Tidak ada bunyi handphone atau orang ngobrol kencang-kencang apalagi ketawa-tawa. Selfie-selfie juga tidak ada. Saya perhatikan mereka baca koran, buku, atau hp. Hebat!

4. Di Kyoto, waktu saya dan teman saya melihat-lihat pernak-pernik, tiba-tiba ada yang menyapa kami. Hah? Kok bisa? Siapakah itu? Ternyata seorang lelaki muda readers, mana cakep lagi (uhuy 😊). Setelah kami mengobrol (dengan bahasa Inggris) ternyata dia bisa bahasa Indonesia dan ternyata lagi dia pernah tinggal di Malaysia. Oh pantesan. Bahkan dia cerita diberi nama muslim sama bapak yang ditumpanginya tinggal selama di sana. Dia menyapa kami karena dia lihat kami berhijab (Oh God... I am proud to be a muslim woman) dan dia tahu wajah-wajah kami ini wajah Indonesia (serumpun dengan Malaysia jadi tak beda jauh). Ramah kan orangnya?

5. Sewaktu saya pulang dari Kyoto mau kembali ke Tokyo, kan saya duduk di samping seorang pria (saya taksir usianya lebih muda dari saya). Sewaktu dia mau makan roti, dia tawarin ke saya loh padahal kan saya orang asing. Sewaktu dia mau turun lebih dulu (dia duduk dekat jendela) dia juga bilang "sumimasen". Sopan banget kan?

6. Sewaktu di toilet Shibuya mall, saya masuk salah satu kamar, bersih banget. Tidak ada bekas air menempel di dudukan toilet. Dan tidak ada petugas kebersihan toilet seperti di mall-mall Indonesia. Toiletnya juga sudah canggih sih. Banyak tombol pencetnya. Untuk lansia atau ibu yang membawa anak kecil juga kamar toiletnya tersendiri. Bedalah dengan di negara kita. :)

7. Saya perhatikan, orang Jepang tak suka pakai warna mencolok (terang). Selama di sana, di kereta subway atau di perbelanjaan, warna yang dipakai mayoritas adalah hitam atau coklat dengan turunannya. Penasaran, saya lihat-lihat juga tuh baju-baju atau jaket yang dijual di perbelanjaan memang warnanya warna itulah. :)

8. Orang Jepang banyak yang tak bisa bahasa Inggris. Sewaktu saya belanja beberapa kali, penjualnya tak bisa diajak bicara bahasa Inggris. Ada juga yang bisa tapi terbatas. Ya, setidaknya waktu bilang "take away" mengerti. Sewaktu di restoran Turki, penjualnya bisa bahasa Inggris. Memang bukan orang Jepang sih. :)

9. Beberapa kali belanja di tempat yang berbeda, tak ada tuh kembalian permen dan sejenisnya. Kembalian ya duit biarpun duit receh. Karena di sana ada pecahan terkecil 1 yen. Dan 1 yen itu laku. Tidak seperti di negara kita yang pecahan terkecilnya sudah tak laku.

Recehan yen - 1, 5, 10, 50, 100 yen (kanan ke kiri)
Yang bolong di tengah menunjukkan angka 5 (5 yen kuning dan 50 yen putih)

10. Oya, sepertinya uang saku saya kebanyakan nukarnya. Mungkin karena saya tidak banyak belanja mahal-mahal. Paling mahal adalah harga tiket PP Tokyo-Kyoto habis sekitar 2,7 juta. Sementara saya nukar 7 juta rupiah (6.542 yen) dan saya juga cuma sebentar di sana tidak extend. Jadi uang saya masih ada sisa sekitar 70 ribu rupiah (recehan yen). Tinggal segitu karena untungnya dipinjam teman saya yen-nya berapa ribu yen hehe. Alhamdulillah.

Saya masih menyimpan kartu kereta pasmo. Sipa tahu next time ke sana lagi bisa dipakai lagi. Ngarepdotcom. :)


Lanjut part 5 ya...


All pictures credit to Reana (taken by me)




Sunday, February 5, 2017

Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 3 (Kaminarimon/Shibuya/Shinjuku/Harajuku)

2/05/2017 02:23:00 PM 0 Comments
Gerbang masuk 


Sambungan kisah saya yang sebelumnya sudah saya posting. Tapi baru sekarang sempat posting. Tak mengapalah yang penting tetap berbagi dengan kamu semua. Jadi, beberapa posting ke depan adalah lanjutan kisah perjalanan saya ke Jepang ya. 


Cerita sebelumnya:
Winter in Tokyo (1) : Persiapan
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 1 (Kyoto)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 2 (Gotemba/Mount Fuji/Owakudani Hall Valey/Ropeway)


3. Kaminarimon/Shibuya/Shinjuku/Harajuku


Kaminarimon ini ramai pengunjung. Ada rombongan anak sekolah usia TK atau SD kali. Duh, lucu-lucu banget mereka. Senang saya melihatnya. :)


Ini dia kuilnya

Di Kaminarimon ini yang biasa dilihat adalah kuil. Jadi melihat biksu lagi pada sembahyang deh. Jadi objek wisata. Foto-foto dan beli pernak-pernik (lagi). Di sini cuma sebentar sih. Kami lanjut ke Shibuya. Itu loh yang terkenal ada patung anjingnya. Ada yang pernah nonton filmnya? Ada versi Jepang maupun hollywood. Saya nonton yang hollywood. Ngantri loh kalau mau foto background patung tadi.

Memang sih persimpangan Shibuya ini ramai sekali. Ini persimpangan yang sering ada di drama-drama Jepang. Bagi yang suka nonton drama Jepang pasti tahu. Di Shibuya ini saya menemani teman saya tukar yen di sebuah bank. Eh lebih mahal sedikit dibanding waktu saya tukar di Indonesia (ya iyalah kurs kan bergerak terus). Setelah itu teman bilang ingin beli Kit Kat Green Tea dulu buat oleh-oleh.

Ini saya lagi jalan di persimpangan Shibuya pas lampu merah. Pakai hijab motif bendera Inggris. Wah baru sadar itu tali tasnya kebalik yang kanan. Hihi 😊


Di sini juga anaknya teman saya (si ibu tadi) beli sepatu booth. Murah-murah sih memang. Ya semoga saja memang dipakai. Tapi memang si ibu dan anak ini hobi jalan-jalan.

Dari Shibuya lanjut ke Shinjuku lalu Harajuku karena berdekatan. Tempat perbelanjaan juga sih di sana. Sembari yang lain masuk ke toko-toko, saya mencari tempat untuk sholat. Ketemulah tempat sepi. Jalan sih itu sebenarnya. Pas di depan sekolah anak sepertinya. Seperti biasa, saya gelar pashmina. Orang lewat tak ada yang reseh sih alhamdulillah bisa sholat dengan sempurna. Kalau tidak salah ingat saya masih menjaga wudhu sewaktu dari Shibuya. Sebelum ikut rombongan pergi, saya wudhu di toilet.

Di jalan depan sini saya menggelar pashmina


Setelah itu saya ikut melihat-lihat. Akhirnya saya beli sarung tangan murah di sini. Hehe.

Cerita selanjutnya:
Winter in Tokyo (3) : Oleh-Oleh Khas
Winter in Tokyo (4) : End

Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 2 (Gotemba/Mount Fuji/Owakudani Hall Valey/Ropeway)

2/05/2017 09:15:00 AM 0 Comments
Gunung Fuji


Sambungan kisah saya yang sebelumnya sudah saya posting. Tapi baru sekarang sempat posting. Tak mengapalah yang penting tetap berbagi dengan kamu semua. Jadi, beberapa posting ke depan adalah lanjutan kisah perjalanan saya ke Jepang ya. 

Cerita sebelumnya
Winter in Tokyo (1) : Persiapan
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 1 (Kyoto)


2. Gotemba/Mount Fuji/Owakudani Hall Valey/Ropeway

Kalau ke Gotemba ini bareng rombongan pagi-pagi. Naik bus sewaan untuk sampai ke sana. Sampai si sana ya foto-foto background-nya Gunung Fuji yang lagi ketutup salju. Jalan-jalan juga ke pertokoan. Karena di situ banyak juga outlet barang branded. Kalau saya sih tidak beli apa-apa di sini. Kalau teman saya (ibu-ibu) beli jaket tebal untuk musim dingin.

Itu pakai syal buatan sendiri yang pernah saya posting di blog ini
Red merino bulky scarf
Proud hehe 😊

Dari sini kami lanjut ke Owakudani. Naik kereta gantung adalah agenda pertama. Setelah itu baru kami berjalan kaki ke atas. Di sana ada telor hitam (balut belerang kayanya makanya hitam). Ya nyobain itu. Apa namanya ya lupa saya. Tapi saya benar-benar kehabisan tenaga jalan ke sana. Berasa mau pingsan. Tapi saya lihat ibu-ibu yang bareng saya itu enerjik sekali (anaknya saja kalah hehe) jadi saya terpicu juga harus bisa sampai ke atas. Memang saya belum sarapan juga sih (jangan ditiru). Mana anginnya kencang dan dingin. Wuihh...

Begitu sampai di atas alhamdulillah... :) Foto-foto lagi...

Setelah turun, biasalah jalan-jalan di pertokoan siapa tahu ada yang mau dibeli. Tapi saya tidak beli juga hehe. Saya sempatkan sholat zuhur di parkiran bus. Nah ini dia sulitnya kita sebagai muslim saat melancong ke negara bukan muslim. Karena kita punya kewajiban sholat 5 waktu sehari tidak boleh skip sekalipun, jadi ya sholat di mana saja yang bisa. Saya ambil wudhu dulu di toilet lalu sembari menunggu teman lain berkumpul, sholat di lantai parkiran menggelar pashmina. Alhamdulillah.

Acara selanjutnya adalah menuju Tokyo Tower. Kami naik ke atas. Di sana ternyata banyak pernak-pernik yang dijual. Saya beli gantungan kunci Tokyo Tower dan Sky Tree. Hehe.

Tiket masuk Tokyo Tower


Suasana di dalam Tokyo Tower atas

Ini foto-foto kota metropolitan Tokyo malam hari yang saya ambil dari Tokyo Tower.








Sky Tree - foto dari bawah cuma bisa dapat segini

Dari sini baru acara bebas. Saya ikut teman-teman jalan menuju Sky Tree. Tapi cuma di bawahnya saja karena sudah kemalaman tutup. Yah... Lanjut deh beli makan malam. Saya cuma berani beli di restoran Turki (chicken kariage). Oya, ini makanan khas Jepang dari gurita. Takoyaki!

Takoyaki 


Pulangnya saya, si ibu dan anaknya naik taksi ke hotel. Dan ternyata tidak mahal kok. Saya lupa berapa. Dan memang tidak jauh juga sih. :)

Cerita selanjutnya:
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 3 (Kaminarimon/Shibuya/Shinjuku/Harajuku)
Winter in Tokyo (3) : Oleh-Oleh Khas
Winter in Tokyo (4) : End


All pictures credit to Reana

Saturday, February 4, 2017

Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 1 (Kyoto)

2/04/2017 10:57:00 AM 0 Comments



Sambungan kisah saya yang sebelumnya sudah saya posting. Tapi baru sekarang sempat posting. Tak mengapalah yang penting tetap berbagi dengan kamu semua. Jadi, beberapa posting ke depan adalah lanjutan kisah perjalanan saya ke Jepang ya. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik.

Cerita sebelumnya: Winter in Tokyo (1) : Persiapan


1. Kyoto
Ke Kyoto ini sebenarnya di luar agenda rombongan. Jadi, saya dan sobat saya merencanakan untuk jalan-jalan ke luar Tokyo begitu tiba di sana. Awalnya banyak yang kami rencanakan. Tapi karena waktu tidak memungkinkan, akhirnya kami hanya ke Kyoto. Sampai di Kyoto pun sudah mulai gelap jadi kami hanya berjalan-jalan di sekitaran stasiun. Tak apalah yang penting sudah sampai di Kyoto dan bisa melihat Kyoto secara langsung. :)

Jadi begitu kami bisa nitip barang di Hotel MyStays Asakusa Tokyo, kami langsung memutuskan pergi ke Kyoto. Kami berjalan kaki menyusuri salah satu jembatan yang menyebrangi Sumida River (sungai ini sering banget nongol di drama Jepang) menuju stasiun kereta api terdekat. Tapi sebelumnya mampir dulu ke 7 Eleven beli minuman mineral (1 botol ukuran Aqua 600 ml seharga 10.000 rupiah dan juga onigiri buat dimakan di kereta).



Tiba di stasiun, kami memutuskan menaiki shinkansen supaya cepat sampai. Biaya shinkansen ini terbilang sangat mahal tapi memang terbayar waktu tempuhnya jadi lebih cepat dibanding yang lain. Dua setengah jam sampai. Sekali jalan saja biayanya 13.000 Yen dari Tokyo ke Kyoto. Kalau di-rupiahkan sekitar Rp. 1.300.000 jika 1 Yen = Rp.100 (kalau kurs waktu itu 1 Yen = Rp. 107). Terbayanglah berapa kocek yang harus kami rogoh untuk bisa PP Tokyo-Kyoto dengan shinkansen. 

Yang lucu ketika naik shinkansen adalah kami memilih tiket unreserved ya alias tidak booking kursi. Baru tahu nih ternyata di sana ada dua macam tiket shinkansen yaitu reserved (booking kursi) dan unreserved (tidak booking kursi). Pastinya tiket unreserved lebih murah donk ya. Lumayanlah berhemat sekian Yen buat kami yang lagi melancong. Hehe.

Awalnya kami masuk-masuk saja ke gerbong enam dan begitu melihat kursi kosong kami duduki. Toh banyak kursi kosong. Begitu sedang asik-asiknya mengunyah makanan karena lapar belum makan sejak sampai dari Airport, eh tiba-tiba ada yang menggusur kami. Oke, kami pindah ke kursi lain. Tidak begitu lama kami duduk, eh ada lagi yang menggusur kami. Akhirnya kami berdiri dan pindah lagi ke kursi lain. Begitu sampai beberapa kali jadi malu sendiri. Dan akhirnya berdiri.

Sampai di Kyoto, saya baru sadar ternyata sarung tangan saya hilang satu yang sebelah kanan. Di shinkansen sepertinya. Mungkin saat pindah-pindah tempat duduk tak sadar terjatuh. Karena memang saya kantongi itu sarung tangan sebelah.


Di Kyoto kami cuma jalan-jalan di sekitaran stasiun. Sekedar mengambil foto. Kenang-kenangan. Hehe. Duduk-duduk sebentar di pinggiran jalan. Lalu jalan melihat oleh-oleh. Di sini saya beli gantungan kunci, magnet kulkas, keramik kecil untuk pajangan serta titipan anak bos saya, samurai. Sobat saya menyarankan beli sarung tangan sih tapi saya tidak beli. Padahal sih ada yang menarik. Tapi entahlah saya putuskan tidak jadi beli. Padahal lagi nih, cuacanya dingin. Jadilah saya masukkan tangan kanan ke saku jaket saja. Hehe.


Mengingat waktu tempuh ke Tokyo lumayan lama, dan hotel tutup jam 10 malam, lewat jam tersebut harus buka sendiri pakai kode (lupa catat kode). Jadilah kami segera mengejar kereta pulang. Dan benar saja saat kami sampai di hotel, sudah tutup.

Rencana awal pengen mencoba pakai yukata dan foto di Kyoto belum kesampaian. Ya Allah, semoga bisa ke sana lagi mewujudkan mimpi yang tertunda. Aamiin. :)


Saat mau kembali ke Tokyo numpang foto dulu meski muka kusut kucel dan kaki pegal tidak ketulungan. Plus numpang eksis pakai syal hitam rajutan sendiri hehehe 😊

Monday, March 30, 2015

Winter in Tokyo (1) : Persiapan Awal

3/30/2015 08:41:00 PM 2 Comments

Winter in Tokyo, ada yang kenal? Bagi kamu pecinta novel karangan Ilana Tan pasti tahu deh. Tapi saya menulis kali ini bukan mau membahas novel ya melainkan pengalaman saya jalan-jalan. Kenapa Tokyo dan kenapa pas winter juga tidak ada kaitannya dengan novel tersebut sama sekali. :)

Alhamdulillah. Kesampaian dream jalan-jalan ke Tokyo. Kalau dirunut, saya sudah pernah hendak ikutan jalan-jalan ke Jepang tahun 2011 silam bareng salah seorang sobat saya. Di waktu yang sama Januari. Tapi gagal. Rupanya tahun inilah Allah ijinkan saya ke sana. Saya jadi merenung. Dari hal ini terbukti bahwa bukan Allah tidak mengabulkan doa kita. Tapi menunggu waktu yang tepat. Ya, meski harus menunggu 3 tahun, jika memang itulah waktu yang tepat menurut-Nya maka tidak ada yang tidak mungkin. Kun Fayakun!

Awalnya di pertengahan tahun lalu saya merencanakan ikut jalan-jalan autumn atau winter Korea. Tapi rupanya tiba-tiba saya mendapat panggilan diklat Pim IV di Jakarta dari 18 Agustus sampai 4 Oktober 2014. Saya khawatir jadwal bertabrakan jadi ya sudahlah saya urungkan niat. Lagipula cuti saya itu sudah habis di 2014 jadi sebenarnya maksa banget kalau saya berangkat di 2014. Kalau pun mau nekat pergi pas winter Desember ya tetap saja sudah tidak punya cuti lagi. Itu yang menjadi kendala salah satunya.

Akhirnya saya mengambil jatah cuti 2015 di awal tahun tepatnya 25-28 Januari. Karena jatah cuti PNS cuma 12 hari setahun dan setelah dipotong cuti bersama maka yang tersisa hanya 8 hari, jadilah saya hanya mengambil 5 hari cuti untuk jalan-jalan ke Jepang dan sisa 3 harinya akan saya gunakan untuk cuti mudik lebaran nanti. Maklum perantauan memang harus perhitungan.

Ke Jepang pun hanya terhitung dari 25-28 Januari saja. 29-31 Januari saya pergunakan untuk pulang kampung ke Lampung. Tanggal 1 Februari saya kembali lagi ke Bengkulu. Padahal badan masih terasa remuk redam. Tapi bahagia! Haha :)

Sebenarnya nih terlalu singkat jalan-jalannya. Dengan sekian US Dolar yang sudah dikeluarkan sebenarnya rugi ngga extend. Yah minimal seminggulah ya biar bisa puas. Mudah-mudahan one day bisa balik lagi ke sana karena masih banyak tempat yang ingin dikunjungi. Aamiin.

Berikut itinerary kami:
Sabtu 24/01/2015 Soekarno Hatta Airport pesawat Garuda Indonesia take off 23.45 pm. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam.
Minggu 25/01/2015 tiba di Haneda Airport, Tokyo, Jepang pukul 09.15 am. Sampai di hotel, menunggu agak lama naruh barang lalu lanjut ke Kyoto. Check in.
Senin 26/01/2015 Gotemba/Gunung Fuji/Owakudani Hall Valey
Selasa 27/01/2015 Kaminarimon/Sensoji Temple/Shibuya/Shinjuku/Harajuku
Rabu 28/01/2015 Check out

Persiapan apa saja yang diperlukan, diantaranya sebagai berikut:

Visa
Pengurusan visa ke Jepang ini berdasarkan yurisdiksi. Ada pembagiannya di situs kedutaan Jepang untuk Indonesia. Nah, Bengkulu masuk yurisdiksi Jakarta. Jadi untuk pengurusan visa harus di Jakarta. Untuk saya yang jauh begini tentu hal ini menjadi kendala kan buat saya mengurus harus ke Jakarta. Kapan waktunya? Senin hingga Jumat saya masuk kerja. Sementara Kedutaan juga sama hari kerjanya Senin hingga Jumat. Belum biayanya berapa yang harus saya keluarkan dari kabupaten hingga Jakarta pulang pergi.

Ga bakalan ngurus deh kalau memikirkan itu jadi kendala. Makanya saya cari alternatif. Berhubung tidak ada link di Jakarta buat ngurusin, makanya saya cari travel agent yang menyediakan jasa pengurusan visa. Nah kita tinggal kirim syarat-syaratnya saja plus transfer uang untuk biayanya juga ongkos kirim setelah visa jadi. Tidak mahal kok biaya tambahan untuk pengurusan ke agent-nya. Jadi kita tidak perlu susah payah lagi tinggal menunggu saja sampai ke alamat kita. Saran saya sih cari travel agent yang terpercaya ya!

Sebenarnya kalau kita punya e-passport (passport yang ada chip-nya) tidak perlu lagi mengurus visa untuk bisa pergi ke Jepang. Mulai tahun 2015 ini diberlakukan bebas visa ke Jepang bagi pemilik e-passport. Tapi berhubung passport saya masih yang lama ya saya mengurus visa deh jadinya.

Syarat-syarat pengurusan visa ada di situs Kedutaan Jepang. Kalau yang saya serahkan di antaranya:

1. Passfoto berwarna
2. Fotokopi KTP
3. Fotokopi Akte Lahir/KK
4. Rekening koran 3 bulan terakhir
5. Itinerary perjalanan
6. Bukti Pembelian tiket pesawat
7. Mengisi formulir dari kedutaan Jepang
8. Surat sponsor/rekomendasi atasan
9. Passport

Tiket Pesawat
Tiket pesawat ada banyak pilihan ya kita tinggal pilih saja yang sesuai jadwal dan juga budget pastinya. Kalau ada yang promo bisa jadi pilihan buat berhemat. Lumayan sekian yen bisa untuk beli cemilan di sana atau tiket subway. :)

Pilihan pesawat ke Jepang bisa pakai Garuda, Air Asia, JAL, Cathay Pacific, Philippine Airlines, dll. Tergantung mau lewat Haneda atau Narita Airport. Kemarin saya ke Haneda dan pesawat pilihan saya adalah Garuda. Pas banget lagi ada promo midnight sale Garuda. Jadi bisa lumayan berhemat. Garuda midnight sale kala itu juga penerbangan langsung tengah malam jadi pagi-pagi sudah sampai. Tidak perlu transit lagi.

Kalau jadwal sebelumnya saya cek jauh hari di Garuda transit Denpasar dulu. Lama pula transitnya sehari. Kalau Air Asia transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara Cathay Pacific transit di Hongkong. Sebenarnya pengen mencoba Cathay. Pengen lihat Hongkong meski cuma di bandaranya doank hehe. Ah, mudah-mudahan one day bisa khusus jalan-jalan ke Hongkong. Aamiin.


Pakaian:

1. Jaket Tebal
Meski tidak turun salju, suhu tetap saja dingin. Padahal sih Matahari tetap nongol juga. Maka tetap wajib pakai jaket tebal. Kala itu saya membawa jaket wol maupun bulu angsa buat jaga-jaga. Jaket dipakai untuk lapisan luar.

2. Longjohn
Saya membawa dua pasang longjohn buat gantian. Longjohn ini untuk lapisan pertama setelah underwear supaya kita tetap hangat karena menutup rapat dan ketat seluruh tubuh kita.

3. Baju/celana
Cukup pakai baju biasa saja seperti kemeja dan celana jeans sesuai nyamannya kita apa.

4. Syal/masker
Syal buat nambah leher kita jadi hangat. Sekalian buat gaya. Kalau masker lumayan buat melindungi hidung kalau anginnya kenceng.

5. Sepatu + kaos kaki
Sepatu kets pun cukup kok kalau tidak pakai booth. Balik lagi kita nyamannya apa. Disesuaikan dengan suhulah pastinya. Toh di Tokyo kala itu tidak turun salju. Ditambah di sana bakal jalan kaki terus-menerus jadi pilih sepatu yang lepes saja dan pastinya nyaman. Kalau kaos kaki sih pilih yang hangat ya pastinya seperti dari bahan bulu domba/merino.

6. Sarung tangan
Ini penting banget ya kalau tidak mau tangan jadi beku bagi yang tidak tahan dingin. Enaknya pakai yang touch screen loh ya jadi kalau kita pencet-pencet gadget ga perlu lepas sarung tangan. Atau sarung tangan yang tinggal dibuka saja di bagian jari-jarinya.

7. Lotion/pelembab bibir
Ini untuk menjaga agar kulit dan bibir tidak kering tapi tetap lembab. Udara dingin membuat kulit dan bibir cepat kering.


Tukar Uang Yen
Nah yang penting banget ketika jalan-jalan adalah money! Siapkan uang Yen sebelum kita berangkat. Pengalaman sih saya menukar pada hari Sabtu (24/01/2015) di money changer Mangga Dua Square. Kurs waktu itu 1 Yen = 107 Rupiah. Nah, bisa dikira-kira kebutuhan kita di sana selama sekian hari berapa Yen. Lalu tukarkan sebanyak yang kita butuhkan. Kalau tidak sempat menukar di luaran, menukar di bandara Soekarno Hatta juga bisa. Tapi saya lihat harganya lebih mahal. Begitu pula di bandara Haneda atau pun di bank Tokyo jadi lebih mahal. Waktu itu saya menemani teman menukar di bank yang ada di Shibuya memang jadi lebih mahal.


Lanjut ke part selanjutnya ya... :)

Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 1 (Kyoto)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 2 (Gotemba/Mount Fuji/Owakudani Hall Valey/Ropeway)
Winter in Tokyo (2) : Kisah Perjalanan 3 (Kaminarimon/Shibuya/Shinjuku/Harajuku)
Winter in Tokyo (3) : Oleh-Oleh Khas
Winter in Tokyo (4) : End