semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana: Jalan-jalan

Follow Us

Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Sunday, March 3, 2024

Jalan-Jalan ke Dieng, Wonosobo

3/03/2024 02:41:00 PM 0 Comments


Idul Adha 2023 lalu saya putuskan untuk jalan-jalan ke Dieng, Wonosobo. Kami jalan bertiga. Untungnya akur ya guys pergi ganjil. Tidak baper. Tak ada ngambek-ngambekan. Jadi kami rencananya berangkat bersama tapi gagal karena saya ada hal mendesak yang tidak bisa ditinggal. Jadinya saya menyusul sendirian dan mereka duluan. Mereka naik bus dari terminal Pulo Gebang menuju Banyumas pada hari rabu 28 Juni 2023. Sementara saya menyusul hari kamis setelah sholat idul adha. Rasanya tidak afdhol kalau tidak sholat dulu karena hanya setahun sekali. 

Ya sudah tak apa saya pergi sendiri. Tiket bus saya pun hangus. Saya pesan tiket baru dan saya berangkat dari pool bus Damri Kemayoran. Sampai di pool damri Banyumas kala itu masih belum subuh. Saya pun menunggu agak siangan. Sendirian pula saya di pool. Alhamdulillah aman. Ada kenek bus yang masih di sana malah saya dikasih teh panas. 


Agak siangan sekitar pukul 05.30 saya pesan gojek. Saya ke alamat yang dituju yaitu Bobocabin Baturraden. Teman saya yang memilih menginap di sana. Ternyata jauh juga loh dari pool damri. Dan mengenaskannya lagi itu di tengah hutan. Dan saya sempat muter-muter karena tidak ketemu-temu. Saya sampai kasihan sama si Bapak Ojek. Tapi bapaknya baik sih. Terima kasih bapak!

Saya pun sampai juga ke tujuan. Kala itu sudah hampir tengah hari. Jadi saya tidak menginap di sana. Hanya istirahat saja sebentar lalu pergi ke Air Terjun dekat situ yaitu Curug Bayan sekalian check-out. 

Kami naik mobil sewa dari Bobocabin menuju Curug Bayan. Tidak mahal karena memang tidak jauh. Sampai di sana kami foto-foto lalu sholat zuhur makan makanan ringan lalu menjelang sore kami putuskan untuk pergi ke Wonosobo. Dari Curug Bayan kami naik gocar menuju bus trans dekat situ. Teman saya bersikeras mau mencoba transportasi umum di sana. Baiklah. 

Kami pun naik bus trans. Kami sempat ketinggalan bus yang lebih duluan lewat karena kali itu teman saya sedang belanja di indomaret. Ya sudah kami tunggu bus selanjutnya. Setelah itu kami turun di lokasi untuk menyambung bus trans selanjutnya menuju terminal bus untuk ke Wonosobo. Kami naik bus ekonomi non AC. Ya Allah baru kali ini saya jalan-jalan backpackingan naik transport putus-putus. Teman saya yang satunya sempat ngomel-ngomel karena backpackingan ini ribet. Walau teman saya yang satu lagi sempat tidak mau naik bus non-AC ini, tapi saya sih memperhitungkan waktu. Karena perjalanan lumayan lama ke Wonosobo, lalu bus ini adalah bus terakhir. Dan pas kami sampai di sana busnya ada. Saya juga sudah lelah. Kalau saya sih ya sudah naik itu saja tak apa yang penting cepat sampai. Teman saya masih ingin naik kereta soalnya. Kalau saya pilih mana yang cepat dan tersedia.


Sampai juga loh kami di Wonosobo dan sudah malam ya sudah isha. Di sana kami makan malam dulu. Setelah itu baru kami pesan gocar menuju penginapan. Sudah malam waktu itu sekitar jam 20.30 - 21.00. Dan kami bakal dijemput sekitar jam 2 malam. Jadi kami bersih-bersih lalu tidur. 

Jam 1 malam bangun mandi lalu siap-siap menunggu jemputan jeep yang sudah kami pesan. Kami langsung check-out dan berangkat ke Dieng. Berhubung waktu itu hari libur jadi ramai sekali macet jalan menuju ke Dieng. Kami turun jalan kaki ada sekitar 1 kiloan kali ya. Mana dingin sekali waktu itu sebelum subuh. Kurang persiapan baju yang tebal. Padahal saya sudah pernah ke Bromo tapi kali ini memang kurang persiapan. Wuah jalan kaki rasanya kedinginan sekali badan saya. Tapi alhamdulillah sampai juga ke tempat tujuan. 

Di sana saya sholat subuh dulu lalu istirahat sejenak makan gorengan. Baru saya naik. Lumayan ngos-ngosan. Saya pisah dengan teman saya. Mereka duluan. Teman saya malah sempat jatuh. Ramai sekali yang naik. Tapi lokasi Dieng ini masih mendingan ketimbang Bromo. Maksud saya di sana banyak orang jualan dan sudah lumayan ramai. Tidak seperti Bromo yang cukup jauh dan masih sepi. 


Sampai di atas saya foto-foto sama teman saya. Lumayan lama juga kami menikmati suasana pagi. Lalu kami turun dan foto-foto di sekitaran kebun teh. Lalu kami pulang. Kami jalan kaki lagi ini menuju keluar tempat jeep menunggu kami. Setelah itu kami lanjut ke kawah Sikidang, Candi Arjuna, Dieng Park, air terjun, dan Telaga. Baru kami pulang menuju terminal bus ke Jakarta. 


Dieng berkabut tebal dan dingin suasananya

Sebenarnya ada tragedi ketika kami liburan di sana. Yang pertama, saya kehilangan cincin. Jadi waktu habis sholat subuh saya beli gorengan dan duduk bersama teman saya. Saat mau makan loh kok saya tidak melihat cincin saya. Kaget sekali saya. Ini saya sudah ada kepikiran mau lepas cincin sebelum berangkat (masih di Jakarta). Dan ternyata kejadian. Hilang. Saya coba telusuri di toilet, tempat, wudhu sampai tempat sholat dan jalan yang saya lalui beli gorengan tidak ketemu. Teman saya coba kontak ke hotel juga tidak ada. Ya sudahlah saya ikhlaskan saja. Walau lumayan sekali sih itu. Setelah sampai di rumah saya cari-cari di tas saya juga tak ketemu. Ya sudah pasrah. Lalu saya googling tentang kehilangan barang eh saya nemu situs yang menyarankan untuk membaca doa kehilangan barang. Ya saya coba baca. Tak ada salahnya kan ya. Tas itu tak pernah saya sentuh atau pakai setelah itu. Saya pakai tas lain untuk keperluan ke kantor dan hal lainnya. 

Ibu saya waktu saya ceritakan malah cerita beliau juga pernah kehilangan cincin, tapi eh keesokannya ketemu. Benar-benar masih rezeki.

Bulan Agustus 2023 saya berencana pulang kampung. Saya mau kemas-kemas barang pakai tas itu yang tadinya menganggur dari bulan juni. Betapa kagetnya saya itu cincin ada di situ. Alhamdulillah sujud syukur. Masih terheran-heran. Kok bisa ya? Saya sama sekali tidak ingat kalau saya melepas cincin dan menaruhnya di situ. Apa sebegitu lupanya saya hanya dalam waktu beberapa jam saya tidak ingat? Apakah Allah membuat saya lupa? Saya mengingat-ingat bahwa ketika saya di bobocabin cincin masih saya pakai. Keluar bobocabin kan sekitar jam 12 siang. Cincin itu memang agak longgar tapi tidak pernah lepas dengan sendirinya kecuali ketika kena sabun. Saya pakai sabun hanya pas mandi yaitu di bobocabin dan penginapan di Wonosobo. Saya tidak ingat sama sekali kalau saya melepas cincin. Kapankah? Apakah dalam sehari (malah hanya sekian jam) saya hilang ingatan? Dan saya menaruh di tempat yang tidak aman karena posisinya ketika ketemu bukan di ruang kecil tas. Apakah saya seteledor itu? Apakah saya melepas cincin ketika di bus non AC ke Wonosobo? Entahlah saya benar-benar lupa. Makanya saya terheran-heran cincin itu ada di tas. Terima kasih ya allah masih rezeki.

Tragedi kedua adalah salah seorang teman saya tiba-tiba tiket bus kepulangan direschedule keesokan harinya oleh agen tiket bus. Padahal tadinya teman saya kan sudah dapat tiket itu. Tinggal nunggu sejam perjalanan kali ya eh ada pemberitahuan itu. Bagaimana rasanya sebagai pelanggan? Wah parah sekali itu. Akhirnya dengan berat hati kami pulang duluan karena kita beda arah bus ya walau sama-sama ke Jakarta. Dan karena hari senin saya harus langsung ke kantor. 

Saya sendiri pernah mengalami dicancel travel yang sudah saya pesan. Padahal saya sudah beli tiket di traveloka dan menunggu di Gambir untuk dijemput. Tapi kok lama tidak dijemput-jemput saya cemas. Akhirnya saya mendapat kabar kalau tiket saya dicancel oleh agen (bukan travelokanya). Parah sekali ini. Akhirnya saya dibantu orang di Gambir dicarikan travel tapi belum beruntung karena sudah berangkat travel-travel lainnya juga. Akhirnya saya ke loket Damri. Syukur alhamdulillah masih tersisa 1 kursi. Saya sikat saja walau itu tiket royal yang harganya lebih mahal. Tapi berangkat esok harinya. Ya sudahlah tak apa. Yang penting dapat tiket. Biasanya kan saya naik damri. Nah, ini saya coba naik travel (karena pesan mendadak dan mencari waktu yang pas sementara damri biasa sudah habis). Tadinya berencana pulang bareng kakak tapi gagal karena belum dapat persetujuan cuti. Eh, tak tahunya malah dicancel. Kecewa sekali karena sudah menunggu.  

Begitulah sobat kejadian yang kami alami.


P.S Thank you for the beautiful moment with you guys.

Saturday, March 2, 2024

Panjat Tebing di Gunung Parang Purwakarta

3/02/2024 07:50:00 AM 0 Comments

Akhir tahun lalu tepatnya hari sabtu tanggal 30 Desember 2023 saya dan dua orang teman saya pergi ke Gunung Parang, Purwakarta. Niatnya kami mau liburan dengan panjat tebing. Sebenarnya saya tidak pernah terpikir mau panjat tebing sebelumnya. Sewaktu saya ke Dieng, Wonosobo lalu (Idul Adha) teman saya mengajak ke sana. Saat itu saya tolak. Benar-benar tidak kepikiran saja mau panjat tebing. Karena bakal butuh stamina yang kuat. Untuk saya yang tidak pernah olahraga ini rasa-rasanya kok berat untuk mengiyakan. Ini tuh termasuk olahraga ekstrem cuman jaman sekarang dibalut wisata. Dan kalau anak-anak jaman sekarang kan mau bikin koten begitu ya. 

Menjelang akhir tahun lalu, eh teman saya yang lain mengajak saya ke sana. Kalau teman yang pertama mengajak tadi sudah lebih dulu ke sana. Nah, saya kok mengiyakan. Ya sudahlah ya coba saja. Hanya bermodal suka panjat pohon sewaktu kecil. :)

Nah, Sabtu pagi kami bertiga berangkat naik kereta commuter line walahar ekonomi dari stasiun Cikarang menuju Purwakarta pukul 11.30 sampai dengan 12.57 WIB. Murah sekali hanya 4 ribu rupiah. Super duper hemat.
 


Sampai stasiun Purwakarta kami dijemput mobil sewa (250 ribu) ke Gunung Parang. Perjalanan masih jauh menuju ke sana. Kami sempat mampir makan dan sholat dulu di perjalanan. Kami diturunkan di warung makan sate maranggi. Sate maranggi ini makanan khas sana ya nampaknya. Di sepanjang jalan banyak warung makan bertuliskan sate maranggi. Teman saya ketagihan makan satenya. Saya makan 10 tusuk plus nasi satu kepal harganya 23 ribu. Satu tusuknya 2 ribu rupiah. Satenya ini langsung dipanggang di depan mata lalu disajikan. Asap mengepul kemana-mana. Dalam satu tusuk sate berisi separuh daging sapi dan separuh lemak. Sebenarnya saya tidak suka lemak, sukanya daging saja tapi y sudahlah dinikmati saja. Tidak tahu kalau bisa request. Sementara teman saya malah senang lemaknya. Katanya karena lemaknya cair lumer saat dimakan.

Ok, lanjut ke perjalanan menuju Gunung Parang. Ternyata lokasinya jauh di dalam melewati hutan. Susah kendaraan kalau ke sana. Ya namanya juga gunung ya jadi masih sepi lokasinya. Sewaktu di kereta sempat hujan. Kami berdoa semoga esok harinya pas kami naik tidak hujan. 

Sampai di lokasi, kami istirahat di saung. Keesokan paginya kami berangkat naik. Tapi sebelumnya kami sarapan dulu. Sarapan sudah sepaket dengan harga naik tebing dan saung seharga 350 ribu per orang untuk ketinggian 300 mdpl. Kalau mau 900 mdpl harus tambah lagi biayanya. Saya sih cukup 300 mdpl saja. Hehe

Baru jalan naik menuju kaki gunungnya saja saya sudah ngos-ngosan subhanallah. Saya paling terakhir sampai kaki gunung. Jalannya itu naik tangga melulu makanya energi saya cepat habis. Berat sekali naik tangga. Benar-benar kelemahan saya ini naik tangga. Tapi sampai juga saya ke kaki gunung. 

Dari kaki gunung barulah kami mulai panjat tebing. Sebelumnya kami diberi instruksi dulu cara panjat tebing yang aman bagaimana. Ketika naik tebing itu tidak berat loh yang saya rasakan. Malah lebih enak ketimbang naik tangga tadi ke kaki gunung. Dan saya sama sekali tidak takut panjat tebing berada di ketinggian. Saya malah enjoy. Mungkin karena memang dari kecil suka panjat pohon. :)

Oya kami serombongan yang naik bersama ada sekitar 13 orang. Kami dari asal yang berbeda-beda. Kebanyakan dari kami ya para kaum wanita malahan. Yang pria hanya 3 orang saja. Tapi pemandu kami pria 3 orang. Mungkin karena para wanita mau bikin konten ya. Kalau saya sih tujuannya liburan saja. 

Begitu sampai di titik untuk turun, kami berempat turun. Sementara yang lain naik ke atas 900 mdpl. Sewaktu turun ini entah kenapa malah terasa lebih berat ketimbang naik. Sampai di kaki gunung, badan terasa enteng sekali seperti melayang ketika jalan kaki. Saya istirahat sebentar duduk di bangku kayu tepat di kaki gunung. Setelah beberapa menit baru saya jalan kaki menuju warung tempat istirahat dan makan siang. Saat itu saya jalan sendirian terengah-engah pelan-pelan sesekali berhenti sebentar lalu jalan lagi. Sempat saya berpikir kurang kerjaan sekali saya melakukan ini menyulitkan diri sendiri. Lelahnya itu loh tidak ketulungan. Tapi saya apresiasi diri sendirilah ya. Lumayan sekali ukuran saya yang tidak pernah olahraga ini bisa panjat tebing 300 mdpl. Dan lagi, saya paling tua ini serombongan. Hehe. Jadi, saya tanamkan pikiran positif saja.

                                                 

Sampai di warung, saya langsung pesan minum dan makan siang. Makan siang sudah masuk dalam paket ya ini. Sambil menunggu teman saya 1 orang yang naik 900 mdpl. Setelah istirahat makan saya ke saung untuk bersih-bersih mandi dan beres-beres untuk pulang. Jadi, kami ini belum pesan tiket kereta pulang. Dan ternyata habis donk ya kan besoknya tahun baru. Akhirnya kami naik travel. Mobil sewa ke pool travel kami bayar 350 ribu. Lebih mahal daripada berangkatnya. Sewaktu jalan menuju pool travel hujan deras tidak berhenti-henti. Syukurnya pas sampai pool sudah reda. Dan masih ada travel ke Jakarta kami pesan on the spot. Harganya tidak terlalu mahal sekitar 60 ribu. Setengah 6 sore kami berangkat. Perjalanan sekitar 2 jam. 

Perlengkapan yang bisa dibawa yang direkomendasikan dari paket panjat tebing:
- sepatu (running, keds, olahraga) atau sandal gunung juga bisa 
- sarung tangan
- manset, buff (optional)
- baju dryfit, lengan panjang, baju warna terang (optional)
- alat mandi (optional)
- baju ganti 
- sunblock/sunscreen

                
Kalau saya sih tidak ada persiapan apa-apa. Cukup bawa apa yang ada saja. Sarung tangan saja saya bawa sarung tangan musim dingin yang saya pakai waktu di Dieng. Itu pemberian teman saya. Terima kasih ya Sobat. Love love.

Sepatu juga saya pakai sepatu keds biasa (memang benar sepatu keds merk keds) yang sole-nya tidak tinggi. Baju juga hanya baju biasa kemeja (tapi saya pakai tanktop untuk menyerap keringat). Celana bahkan jelana jeans. Teman saya kan pakai celana legging. Dia sampai heran. Kata dia, " Yang penting bebas gerak." Ya sudahlah ya Sobat jangan ikuti saya kalau mau panjat tebing. Intinya sih senyamannya kamu saja. Soalnya kalau legging itu biasa saya pakai buat dalaman rok. :)

Kalau peserta yang lain mereka sebagian pakai dryfit. Ada juga yang pakai baju ketat-ketat begitu. Tapi yasudahlah pilihan masing-masing.

Setelah sampai di rumah terasa lelah wajarlah ya. Tapi masih lelah biasa. Kaki saya angkat sewaktu tidur. Tapi esok harinya baru terasa itu kaki sakit sekali tidak bisa berdiri. Sakitnya ya ampun... Sholat saja sulit bergerak karena sakit. Ini sampai berhari-hari sakitnya. Tapi semakin hari semakin berkurang. Sampai hari keempat baru sembuh total. Benar-benar deh ini. Tapi saya tidak sendiri loh Sobat. Teman saya yang lain juga sama. Mana saya tetap ke kantor kan tanggal 2 Januari sudah masuk kantor normal.

Meski masih sakit tapi saya paksa tetap jalan kaki ke kantor biar bergerak ini kaki. Karena saya memang biasa jalan kaki tiap hari ke kantor. 

Sekian dulu cerita dari saya ya sobat. Kalau kamu berminat untuk panjat tebing silahkan. Selagi masih muda. Minimal sekali seumur hiduplah ya. Itu sih pemikiran saya. Sudah pernah coba sekali ya alhamdulillah. Setidaknya sudah dapat pengalamannya bagaimana.

Tapi harus lihat kondisi badan kamu ya. Kamu harus fit. Perlu stamina tinggi untuk panjat tebing. Ini bukan seru-seruan kayak jalan di taman. Kalau kamu tidak fit mending ga usah ya. Effortnya besar untuk bisa naik lalu turun. Bahkan naik ke kaki gunungnya saja butuh extra effort buat saya. 

Kalau liat video orang lain tuh seru jadi pengen. Kayaknya enak gampang. Percayalah ga semudah itu guys kalau kamu pemula apalagi yang jarang olahraga. Kenali dirimu baru putuskan ya. 

Sumpah ini bukan olahraga main-main ya guys. Walau saya sudah pernah ke Bromo dan Dieng tapi ini tuh beda ya. Walaupun saya ngos-ngosan juga naik ke Bromo dan Dieng tapi tuh kan di sana orangnya banyak terus tidak seekstrem gunung Parang yang curam itu vertikal bentuknya. Yang ke sana juga cuma beberapa orang saja serombongan tidak sama seperti Bromo dan Dieng yang wow rame banget. 

Kalau kamu perhatikan gunung Parang itu vertikal gitu curam. Berat banget sih buat saya buat nyampe ke kakinya saja. Kalau setelah itu malah lebih ringan naik ke atas sumpah. Tapi turunnya malah lebih sulit. Sempat kehabisan tenaga. Syukurnya selamat sampai pulang kembali. Teman-teman yang lain yang lanjut ke 900mdpl keren banget. Itu berjam-jam loh sobat buat naik dan turun. Kebayang ga capeknya setelah itu?

Kalau pas naik sih seneng tapi pas udah turun itu kayak sudah kehabisan tenaga. Sumpah. Badan baru sakit sakit sampe ga bisa jalan keesokan harinya setelah bangun tidur. 

Jadi kalau kamu tertarik harus pertimbangkan dulu ya matang-matang untuk kamu yang pemula.

See you!

Thursday, October 14, 2021

Perjalanan Saat Pandemi ke Banyuwangi

10/14/2021 11:44:00 AM 0 Comments
Halo Sobat! Saya hadir kembali hari ini untuk berbagi pengalaman saya bepergian di masa pandemi covid dan kondisi ppkm. Sebenarnya ini bukan dalam rangka jalan-jalan untuk refreshing melainkan perjalanan dinas. Jadi, saya mendapat jatah perjalanan dinas ke Banyuwangi. Selama hampir 2 tahun pandemi covid, baru kali ini akhirnya saya melakukan perjalanan dengan moda transportasi pesawat. Saya pilih tanggal yang memang ada pesawat langsung ke Banyuwangi yaitu 7-9 Oktober 2021. Pilihan pesawat hanya ada Citilink. Dan hanya ada satu penerbangan langsung. Sementara kalau transit dulu bisa satu malam transit di Denpasar. 


Tes SWAB PCR

Yang saya lakukan sebelum berangkat adalah tes PCR yaitu 2 hari sebelum keberangkatan. Tanggal 5 saya tes PCR. Saya pilih lokasi Bumame Pharmacy Cideng Gambir. Nah, Sobat, jika kamu akan naik pesawat pilihlah lokasi tes antigen/PCR di tempat yang sudah terdaftar di aplikasi pedulilindungi (install pedulilindungi di playstore). Soalnya ketika di bandara nanti ditunjukkan hasil tes kesehatan di pedulilindungi. Harga tes PCR di Bumame kemarin 495 ribu rupiah. Kalian bisa beli di Traveloka. Kalau mau datang langsung ke Bumame bisa walk-in/drive thru. Langsung saja ke sana dan bayar di tempat. Tidak lama kok prosesnya dari pendaftaran sampai tes mungkin sekitar setengah jam karena harus mengantri karena rame. Kwitansi dan hasil tes dikirim via whatsapp jadi kamu tidak perlu ribet datang lagi untuk mengambil hasil. Karena saya mengambil yang hasilnya jadi dalam 24 jam, keesokan harinya hasilnya pun dikirim ke whatsapp saya (tanggal 7) dan sudah update di pedulilindungi ketika saya cek.

Sementara ketika pulang kembali ke Jakarta, saya ambil tes PCR di Labkesda Banyuwangi (satu-satunya yang ada di pedulilindungi). Harganya lebih murah yaitu 450 ribu dan hasilnya jadi lebih cepat dalam waktu 4 jam saja. Jadi, saya tes untuk kepulangan di tanggal 8 nya. Sebelum jam 10 saya tes (jam 9 pagi), sekitar jam 2 siang sudah jadi. Dan memang sudah dibilang petugasnya sebelumnya harus datang sebelum jam 10 pagi. Hasil dikirim via whatsapp juga sama seperti di Bumame. Hasil juga langsung di-update di pedulilindungi.

Check-in pesawat

Ketika sampai di bandara terminal 3, saya pun check in dulu di mesin (tinggal masukkan kode booking lalu print boarding pass) baru mengantri bagasi. Karena pesawat saya jam 6 pagi take off, boarding 5.30 wib, makanya saya berangkat pukul 3 pagi dari kos. Tapi rupanya ada pemberitahuan bahwa pesawat reschedule keberangkatan maju setengah jam. Boarding berubah jadi pukul 5 wib. Perjalanan menuju bandara sekitar satu jam saja sampai (malah hanya sejam kurang beberapa menitlah). Saya mengantri bagasi eh begitu giliran saya petugasnya bilang Banyuwangi nanti, Surabaya dulu. Pergilah saya duduk dulu sebentar baru ngantri lagi. Pikir saya, boarding jam 5 kenapa tidak boleh naruh bagasi. 

Setelah naruh bagasi, saya jalan ke gate 27. Duh, jauh itu jalan kaki ada sekilo lebih kali ya. Padahal harusnya bisa naik transport kecil itu tapi tidak kelihatan. Adapun satu yang lewat tulisannya VIP. Huhh, lumayanlah olahraga kaki.

Sampai di gate 27 (yang letaknya paling ujung ya Sobat) sudah hampir jam 5 pagi. Saya jadi terburu-buru sholat shubuh. Tak tahunya ketika saya duduk di ruang tunggu, saya lihat di monitor boarding Banyuwangi pukul 5.30 sama seperti jadwal awal sebelum reschedule. Lah bagaimana sih ini?

Akhirnya saya terbang juga dan sampai di Banyuwangi pukul setengah 8 pagi. Sekitar jam 8 saya dijemput teman saya dua orang. Teman lama saya dulu waktu kuliah sarjana. Alhamdulillah...

Sebelum perjalanan dinas ini saya merasa tidak pede sebenarnya ya pergi sendirian. Saya kan belum pernah perjalanan begini sendiri. Ini baru pertama kali. Dan ketika saya lihat, kok saya sendiri. Padahal yang lain rata-rata berdua bertiga dsb. Ya sudahlah saya pun jalani saja. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya coba cek web komunitas kantor. Ternyata saya menemukan nama teman saya dulu dan ada dua orang pula (yang satu dulu kami akrab karena selalu bersama sekelas). Ya Allah, saya berucap syukur terima kasih. Allah memang baik. Jadi reuni deh saya dengan mereka. Ada kemudahan dibalik kesulitan, Sobat. Semua ada hikmahnya. Allah maha baik. 

e-HAc
Saat tiba di bandara tujuan dan mau keluar dari bandara, ada scan barcode e-Hac di aplikasi pedulilindungi oleh petugas bandara. Nah, supaya cepat bisa keluar bandara, kalian harus mengisi terlebih dahulu isian e-Hac sebelum terbang. Isian berupa jadwal terbang pesawat dan tempat tujuan serta kesehatan.

Menginap di mana?
Pilihan saya jatuh di Aston Banyuwangi. Sebenarnya ada banyak pilihan hotel bagus tapi Aston yang paling dekat kantor yang akan saya kunjungi jadi di situ saja saya akhirnya. Untuk kamar sih menurut saya standar ya dengan hotel-hotel sekelasnya. Saat malam saya sekali mencoba makan di restorannya. Saya pilih menu nasi goreng rempah dan minumannya energizer. Saya sih suka minumannya itu campuran buah naga, mangga, markisa, dan madu. Kalau nasi gorengnya sih enak tapi porsi besar bisa untuk 2 orang. Oya, saat datang pertama kali dapat welcome drink ada 2 pilihan wedang uwuh dan temulawak. Keduanya minuman rempah. Saya pun memilih wedang uwuh.

Wedang uwuh welcome drink Hotel Aston Banyuwangi


Nasi goreng rempah Hotel Aston Banyuwangi

Minuman Energizer Hotel Aston Banyuwangi



Makanan khas
Apa makanan khas Banyuwangi Sobat ada yang tahu? Saat saya di sana dan mampir rumah makan ada menu makanan yang menurut saya baru dengar saat di Banyuwangi seperti koyong dan kesrut. Menu yang saya temukan di situ ada rujak soto, pecel rawon, dll. Kesrut itu mirip sayur asem cuma bukan sayuran melainkan ayam isinya. Kalau pecel rawon ya pecel campur rawon. Menu campur-campur tapi enak kok. :)

Kesrut Banyuwangi


Pecel rawon khas Banyuwangi

Oleh-oleh apa?
Kelar perjalanan selama 2 hari, keesokannya saya harus balik lagi ke Jakarta pada pagi harinya. Saya diantar salah satu rekan kantor di Banyuwangi. Terima kasih banyak ya sudah menemani saya selama 2 hari. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian semua. Aamiin.

Oya, rupanya saya dikasih oleh-oleh khas Banyuwangi oleh 2 orang teman saya. Terima kasih banyak ya. Jadi, saya tidak sempat belanja oleh-oleh memang karena waktunya singkat dan habis untuk pekerjaan. Oleh-oleh khas Banyuwangi itu ada pisang sale, stik keju, bagiak, dll.

Alhamdulillah kami sempat makan durian 2x selama di Banyuwangi. Ternyata Banyuwangi penghasil durian. Ya Allah senang saya bisa makan durian. :)

Sebelum berangkat ke Banyuwangi lalu, malamnya saya sempat membungkus 2 kado kecil buat teman saya. Lucunya, saya kan sempat memberikan ke satu teman saya terlebih dulu. Tapi kemudian saya teringat kayaknya ketukar deh. Waduh, bagaimana ya. :) Tapi kemudian saya balik lagi ke kantor ternyata dan saya lihat kadonya sudah dibuka di atas mejanya dan taraaa.... benar pemirsa! Horeee :D




OK Sobat, sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Cheers!

Thursday, April 2, 2020

Jalan-Jalan ke Yogyakarta, Magelang, Malang dan Bromo

4/02/2020 02:55:00 PM 0 Comments
Wah, lagi musim corona (covid-19) kok malah bahas jalan-jalan. Tenang! Jalan-jalannya sudah dilakukan jauh hari sebelum corona merebak yaitu liburan penghujung tahun 2019 lalu. Waktu itu di negara kita belum heboh corona. Sudah lama rasanya saya tidak posting. Bahkan kisah jalan-jalan ini baru sekarang sempat saya tulis dan posting. Semoga tidak mengurangi makna. Semoga selalu ada manfaat yang dipetik.


Saya merencanakan jalan-jalan ini sebulan sebelum hari H. Tadinya tidak berniat jalan-jalan. Mau pulang kampung saja tapi entah mengapa akhirnya saya memutuskan jalan-jalan dulu baru setelahnya pulang kampung. Rencana sudah matang, surat cuti sudah didapat, hotel, kereta, pesawat sudah dibooking semuanya dan dibayar kecuali hotel yang bisa dibayar di tempat, saya pun merasa sedih karena tiba-tiba ada kabar saya harus menghadiri pelantikan di tanggal saya cuti. Wow! Tega sekali rasanya di akhir tahun begitu padahal saya tinggal berangkat saja di hari jumat malam. Kepastian kabar di hari kamis atau jumat.

Tiket pesawat keberangkatan saya hangus. Tiket pulang masih bisa reschedule. Tiket kereta? Ini yang sulit. Untuk bisa refund atau reschedule tiket kereta harus datang langsung ke Gambir. Sementara saya di luar pulau Jawa. Meski saya tetap harus menelan rugi, tapi masih bersyukur juga bisa reschedule dengan menambah biaya lagi. Dan saya harus meminta tolong keponakan saya (yang akan jalan-jalan dengan saya) yang ada di Jawa untuk ke Gambir. Ribet? Iya. Kenapa tidak bisa online?

Intinya, saya harus mengatur kembali semua jadwal dari awal. Di kala waktu sudah mepet begitu, hotel sudah mahal apalagi akhir tahun, tiket kereta, pesawat juga sama. Tapi ya sudahlah mungkin memang harus begitu jalannya. Saya tidak kuasa mengatur hidup saya. Saya hanya bisa berencana dan berusaha. Rugi ya sudahlah rugi tak mengapa tak perlu disesali. Uang bisa dicari lagi. 

Pada mulanya saya hanya berencana jalan-jalan ke Jogja selama 6 hari. Tapi gegara perubahan jadwal tersebut, saya jadinya jalan ke jogja, malang dan bromo selama 9 hari. Ada sekitar 30-an tempat kami kunjungi. Hehe.

Ke mana saja?

Hari 0: Perjalanan dari daerah ke Jakarta 

Dari bandara Soetta saya langsung naik damri ke Gambir. Tiba di Gambir saya makan dulu sampai jadwal kereta datang. Kereta yang kami naiki adalah Bima dengan harga normal saat itu berkisar 540 ribu untuk tujuan Jogja.

Hari 1: Jeep Merapi, Museum Merapi, Batu Alien, Museum Ulen Sentalu, The World Landmark

Tiba di Stasiun Yogya tengah malam. Kami dijemput sebelum shubuh. Si bapak sopir telat menjemput kami. Dari sini kami langsung diantar naik jeep. Kami hanya berdua satu jeep. Perjalanan dengan jeep ini tujuannya mau melihat sunrise di Merapi. Masih dapat sunrise-nya dan kami berfoto-foto. Bagus sekali foto silhuette sewaktu sunrise.


Sebelumnya tidak pernah kepikiran untuk jeep trail ke Merapi. Tapi kalau diingat-ingat, teman sekamar saya dulu waktu jalan-jalan ke Turki pernah sharing foto dia jeep trail ke merapi. Apa ada pengaruhnya dengan ini? Mungkin secara tidak sadar terekam di alam bawah sadar.

Selesai jeep trail, kami diantar ke Museum Merapi dan Batu Alien. Setelah itu barulah diantar ke tempat pak sopir menunggu kami. Lalu kami sarapan dan lanjut lagi ke Ulen Sentalu. Ulen Sentalu adalah museum pribadi ternyata. Di dalamnya ada peninggalan kerajaan Yogya dan juga batik dari berbagai motif.

Selesai dari sini baru kami ke The World Landmark. Di sini cukup foto-foto saja. Tapi sayangnya kala itu hujan sehingga harus menunggu lumayan sampai hujan reda.

Spot foto yang diarahkan guide di Ullen Sentalu

Batu Alien

Lelah seharian jalan-jalan, selanjutnya kami mampir makan di Warung Klotok yang terkenal itu. Sumpah, saya tidak tahu kalau Warung Klotok itu terkenal sampai saya benar-benar mampir ke sana karena memang sudah ada di itinerary. Subhanallah ya begitu tiba di sana ramai sekali. Memang pas jadwal makan siang sih ya. Cari tempat duduk susah saking penuhnya. Mau ambil telor dan tempe goreng saja antrinya panjang. Padahal menu di sini biasa saja loh menu rumahan biasa. Entah apa yang membuatnya bisa seramai itu. Kalau saya lihat di dindingnya ada beberapa testimoni dari berbagai artis seperti Najwa Shihab. Oya, kalau kamu makan di sini dan tidak membayar, sepertinya tidak akan ketahuan. Menu apa saja yang saya coba? Hanya sayur lodeh (sayur lainnya habis), telor dan tempe goreng dan juga pisang goreng. Pesan pisang 2 porsi untuk dua orang eh ternyata 1 porsinya isi dua. Hehe. Alamat tidak sanggup menghabiskan dan dibawa pulang ke hotel. :D

Hari 2: Prambanan, Candi Sewu, Ratu Boko, Gumuk Pasir Parangkusumo, Seribu Batu Songgo Langit, Pinus Mangunan, Pinus Pengger

Saya sudah pernah ke Prambanan, tapi karena keponakan saya belum pernah, jadinya saya ke sana lagi untuk kedua kalinya. Sekalian saya ambil paket yang ke Ratu Boko. Awal saya sampai Prambanan, loket yang melayani tiket kombo masih tutup. Ya sudah saya cari sarapan dulu di sekitar situ.

Setelah puas foto-foto di Prambanan, saya ambil paket keliling ke 3 candi yang berhenti di Candi Sewu. Setelah itu baru antri ke Ratu Boko. Ternyata memang benar Ratu Boko itu biasa saja. Awalnya kami tidak disarankan ke sana oleh sekuriti hotel tempat kami menginap. Tapi karena belum pernah ke sana, ya sudah coba saja daripada penasaran.

Selanjutnya kami ke tempat wisata lainnya yaitu pinus-pinusan. Sebelumnya ke pantai Gumuk Pasir Parangkusumo dulu. Nah, pas cuaca panas terik, kami ke taman bunga matahari dulu buat foto-foto. Pas sedang mekar soalnya. Setelah itu barulah kami ke hutan pinus. Sumpah, lelah sekali rasanya saat tiba di pinus-pinusan seperti Seribu Batu Songgo Langit, Pinus Mangunan dan Pinus Pengger. Lokasinya kan di atas semua dan kalau kita jalan kaki itu menanjak karena perbukitan. Rencana mau melihat sunset di Pinus Pengger jadi batal. Kami memilih pulang saja dan mampir makan malam dulu di Bukit Bintang.

Hari 3: Punthuk Setumbu, Borobudur

Di sini kami melihat sunrise. Jadi, pukul 3.30 wib kami sudah sampai di Punthuk Setumbu, Klaten. Kami menunggu sampai 5.30 baru keluar itu matahari. Ramai juga loh di sini ternyata ada juga wisatawan asing. Walau lokasinya tak cukup cantik sih untuk melihat sunrise tapi lumayanlah. Oya, butuh perjuangan buat sampai di sini. Kami harus jalan kaki jauh ke atas. Lelah? Iya. Apalagi tak terbiasa jalan kaki. Sebelum subuh masih gelap itu kami berdua jalan ke sana. Pengunjung masih sepi. Setelah kami naik baru banyak berdatangan.

Tiba di Borobudur yang terletak di Magelang ini masih pagi. Tapi cukup lelah juga naik ke atas karena sudah panas. Berhubung sudah sampai sana harus sampai atas dong ya. Masih sanggup kok untungnya. Ramai sekali pengunjung di sana.

Selesai Borobudur, kami lanjut ke stasiun Jogja. Tapi karena kami bingung mencari tempat sholat di luar stasiun, akhirnya kami ke Galeria Mall hanya untuk sholat, makan dan ganti baju. Selanjutnya ke stasiun Jogja dan berangkat ke Malang naik kereta ekonomi. Ya Allah, baru kali ini naik kereta ekonomi dan pegalnya tidak ketulungan karena kursinya 90 derajat. Memang kenyamanan itu mahal.

Hari 4: Taman Bunga Selecta dan Museum Angkut

Sebelum subuh, kami tiba di Malang. Kami langsung ke guest house yang sudah dipesan. Istirahat dulu sebentar dan bersih-bersih. Walau badan lelah, tapi semangat tidak padam. Kami putuskan untuk ke Taman Bunga Selecta di Batu. Jauh kan perjalanannya. Mana macet ternyata jadinya lama sampainya. Di Selecta kami lumayan lama. Dari mencoba wahana, makan bakso, leker, es krim, sampai akhirnya kami sudahi saja karena harus ke tujuan selanjutnya yaitu Museum Angkut. 

Penampakan Selecta dari atas. Kami naik wahana itu.

Dari Selecta, kami naik angkot. Ternyata mahal juga tiket masuknya loh 100 ribu per orang. Tapi rupanya luas juga museumnya dan ok punya. Kami juga naik perahu di bawah. Mau coba makan malam sekalian tapi tidak jadi karena mengejar waktu kembali ke Malang. Susah cari taksi online, akhirnya kami tanya ke tukang sate transport apa ke Malang. Kami diberitahu untuk naik bus. Nah, pas sekali lewat di depan kami. Kami buru-buru naik dan sate yang kami pesan tidak jadi dibeli. Maaf sekali ya mang... Tahukah kalian berapa ongkosnya? Lima ribu rupiah saja. Glek...

Hari 5: Bromo

Kawah Bromo

Sekitar jam 12 malam kami sudah dijemput menuju ke Bromo. Di perjalanan cukup dingin suhu sekitar 16 derajat. Lokasinya cantik untuk foto karena kawah berkabutnya itu loh. Di Bromonya tak ada tempat sholat dan toilet. Lumayan jauh kalau mau ke sana harus naik ojek. Mana ramai sekali pula di sana kala itu. Sambil menunggu rombongan pulang, kami makan pisang goreng panas dulu.

Tiba di stasiun malang tengah hari. Akhirnya saya putuskan untuk ke masjid jamik dulu untuk sholat baru kemudian kembali ke jogja.

Ramainya pengunjung Bromo untuk melihat sunrise. Sampai sulit ambil foto.

                                   

Hari 6: Kalibiru, Pule Payung, Air Terjun Kedung Pedut, Malioboro

Sampai Jogja lagi, kami ke hotel untuk istirahat. Selanjutnya kami ke Kalibiru, Pule Payung dan Air Terjun Kedung Pedut. Kalibiru dan Pule Payung itu sebelahan. Tipe wisatanya juga sama. Spot fotonya juga hampir sama. Saya mencoba beberapa foto seperti naik sepeda layang dll. Pulangnya kami mampir ke tempat beli oleh-oleh dulu Bakpia Pathok. Barulah setelahnya kami mampir Malioboro melihat suasana malam.

Hari 7: Pulang kampung
Saatnya kami pulang kampung. Kami menuju Bandara Adi Sucipto pagi hari.

Selesai perjalanan kami. Ada suka dukanya. Disyukuri saja semuanya. Alhamdulillah bisa menikmati hidup. Semua jadwal kami atur sendiri. Segala resiko kami juga tanggung sendiri. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Karena ada Dia yang lebih berkuasa atas hidup kita.

Semoga bisa jalan-jalan lagi di kemudian hari ke tempat yang lebih seru dan menyenangkan. Aamiin.

All pictures credit to Reana. 


Thursday, November 21, 2019

Jalan-Jalan ke Palembang, Kunjungi 5 Tempat Wajib ini, Yuk!

11/21/2019 05:35:00 PM 0 Comments
Saya ke Palembang gegara ikutan konferensi. Menyelam sekalian minum airlah ya. Selain ikut konferensi sekalian jalan-jalan. Yuhuuu! Sebenarnya saya sudah pernah ke Palembang, tapi cuma transit di bandaranya. Kira-kira, apa saja sih tempat wisata di Palembang? Kalau kamu googling bakal ketemu banyak rekomendasi tempat wisata untuk dikunjungi. Tapi berhubung waktu saya di sana terbatas, jadi saya hanya mengunjungi beberapa tempat yang lokasinya masih terjangkau alias tidak jauh dan tidak sulit dijangkau.

Jembatan Ampera

Ke mana saja? Simak ulasan berikut ini!

1. Masjid Agung Sultan Mahmud Badarrudin II
Masjid Agung ini sepertinya adalah masjid kebanggaan wong Palembang. Saya ke sana saat itu menjelang magrib. Sengaja sekali mengambil momen itu untuk berjamaah sholat magrib. Saat itu saya masuk dari pintu yang di depannya ada air mancur. Ketika saya menuju ke dalam masjid, sudah ada penjaga di depan yang menawari menyimpan sepatu di tempat khusus penitipan. Saya pun ditunjukkan tempat wudhu ada di sebelah kanan dari pintu.


Jamaah tidak terlalu ramai ya untuk perempuan. Cuaca di Palembang kan setipe ya dengan sumatera lainnya seperti Lampung dan Bengkulu (masih sumbagsel) yang relatif panas. Jadi, saya merasakan gerah sekali di dalam masjid ketika sholat. Pendingin yang tersedia adalah kipas angin. Dan kipas tersebut tidak menjangkau tempat saya bersujud jadi terasa panas.




2. Museum Sultan Mahmud Badarrudin II
Ketika saya datang, museum ini sepi alias tidak banyak pengunjung. Di dalam ada beberapa anak sekolah yang sedang ada tugas sekolah sepertinya. Begitu saya naik ke atas, ada seorang petugas pria. Beliau bilang, masuk dulu, bayar belakangan ketika pulang. Berapa yang harus dibayar? Lima ribu rupiah saja. Murah kan? Dan itu tidak pakai tiket bukti masuk loh. :D



Seorang tourist guide sekitar umur 70-an tahun sedang menjelaskan sesuatu kepada seorang anak sekolah. Saya yang baru masuk, ikut nimbrung hihi. Bahkan beliau memberi saya wejangan agar cepat dapat jodoh (oops nasib single :))

Beliau juga menasehati saya agar meninggalkan pengetahuan jangan meninggalkan harta. 

contoh prasasti

Di dalam ada berbagai prasasti dan juga peninggalan kerajaan Sriwijaya. Museum ini tidak besar dan tampak tua alias tidak terurus. Di dalam juga tidak ber-AC. Tapi lumayanlah buat kamu yang ingin melihat-lihat tentang sejarah sriwijaya.

Usai dari museum, saya jalan ke sebelah museum ada foodcourt. Saya makan siang di sana. Awalnya mau makan pindang baung tapi kata penjualnya lebih mahal karena besar. Ya sudah akhirnya saya makan pindang patin. Sebenarnya pindang bukan makanan baru buat saya yang memang lahir dan besar di lampung dan bekerja di Bengkulu, tapi tak apa, coba yang dari Palembang bagaimana rasanya.

3. Taman Purbakala Sriwijaya
Waktu itu saya putuskan cepat untuk ke Taman Purbakala Sriwijaya saat saya makan di sebelah museum. Saya pilih ke sini karena di situ ada museum sejarah Sriwijaya dan ada spot foto yang lumayan juga. Begitu tiba di sana, saya harus membayar tiket masuk 5 ribu rupiah. Ya Allah... murahnya. Museumnya lebih luas dari museum Sultan Mahmud Badarrudin II. Ruangannya juga ber-AC. Koleksinya lebih banyak tentunya. Hanya saja lokasinya agak jauh dari pusat kota sekitar 10 km dari museum Sultan Mahmud.





Taman Purbakala ini luas sebenarnya hanya saja saya tidak sempat berkeliling untuk berfoto. Saya berjalan ke depan mengambil foto kapal Cheng Ho. Di sekitaran situ banyak orang jualan.



4. Benteng Kuto Besak (BKB)
Sepertinya Benteng Kuto Besak ini tempat wajib kamu yang berkunjung ke Palembang ya. BKB sudah seperti tempat berkumpulnya orang Palembang. Kalau mau ke sini baiknya saat sore hari menuju malam karena kamu bakal bisa melihat pemandangan jembatan ampera di malam hari berhias lampu.



Di sini juga banyak orang jualan ketika sore hari. Ada juga orang jualan di perahu-perahu terapung. Bisa dibilang mirip Floating Market Lembang. Ramai orang berkumpul di sini. Cocok untuk menikmati sore hari.




5. Masjid Cheng Ho
Saya bela-bela ke Masjid Cheng Ho menuju waktu magrib jadi saya sholat magrib di sana. Lokasinya agak jauh dari pusat kota sekitar 10 km. Masih bisa dijangkau gojek kok tenang saja, hanya saja agak lebih mahal ya apalagi pas sore menjelang magrib.



Masjid Cheng Ho ini tidak besar tapi desainnya cantik. Dalamnya juga ber-AC. Toilet wanita tersedia dan bersih. Tempat wudhu mirip di Saudi ya ada tempat duduknya. Ada penjaga sandalnya juga. Waktu itu jamaah sholat magrib lumayan banyak.


Pelajaran Kehidupan

Biarpun perjalanan saya bisa dibilang cukup singkat, namun tetap saja ada pelajaran kehidupan yang Allah kasih ke saya. Pasti Allah ingin saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bijak dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Apa sajakah itu?

1. Saya belum pernah ke Palembang dari kabupaten tempat saya tinggal saat ini. Jadi, saya tanya sana-sini kepada orang yang sudah pernah ke sana soal transport. Dan pada gilirannya saya berangkat, saya sudah dipesankan travel dari kos saya oleh seorang rekan kantor saya. Bahkan beliau datang ke kos saya sore hari sebelum keberangkatan saya esok harinya untuk memberikan nomor hp sopir travelnya bahkan beliau meminta si sopir sekalian memesankan busnya. Baik sekali ya beliau. Bahkan keesokan paginya saat saya sedang menunggu travel yang tidak kunjung datang (saya jadi cemas karena mengejar bus), rekan kantor tadi menelpon saya mengatakan bahwa sopir travel sudah dekat kos saya dan mengucapkan selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Sekali lagi, baik kan ya? Kalian setuju? Bagi saya, rekan kantor ini memang orang yang baik, tak peduli apa pandangan orang lain terhadapnya, bagi saya beliau baik. Terima kasihku teruntuknya. Semoga Allah membalas kebaikannya.

2. Ternyata di travel, saya sendirian. Tak ada penumpang lain. Perjalanan ditempuh sekitar 1,5 jam. Travel ini jangan dikira travel layaknya avanza innova begitu ya. Travel ini armadanya mobil carry jaman dulu yang sudah tidak bagus kondisinya. Sampai pool bus, benar saja saya diantar sampai sana dan dipesankan langsung. Hehe padahal saya juga bisa ya pesan sendiri.

3. Begitu naik bus, loh ternyata bukan bus AC ya. Saya tanya rekan saya via whatsapp ternyata memang tidak ada AC. Hmm, pantaslah murah. Hehe. Kebayang tidak nyamannya perjalanan berjam-jam naik bus non-AC. Padahal saya memilih bus ketimbang travel supaya saya lebih nyaman perjalanan jauh tidak mabuk. Tapi ternyata di luar ekspektasi. 11 jam saya tempuh di bus tersebut sampai Palembang. Kebayang kan gerah panas dsb? Kursi sempit, tidak nyaman busa kursinya. Hehe. Biarpun tahu menderita begitu, pulangnya saya tetap memilih bus yang sama. Berpanas-panasan di bus pun saya jalani saja sama seperti penumpang yang lain. Dari sini saya sadar betapa saya adalah rakyat jelata. :)

Biasanya saya selalu memilih transport yang nyaman apalagi perjalanan jauh. Tapi kali ini keadaan yang awalnya mengharuskan saya menaiki bus ekonomi non AC yang memang sebenarnya menurut saya sudah tidak layak untuk perjalanan jauh sehingga saya pun mencoba untuk menikmati ketidaknyamanan ini. Walau sepanjang perjalanan bunyi musik dangdutan mengiringi perjalanan kami begitu kencangnya, faktanya saya tetap bisa tertidur. Walau panas berkeringat, duduk tidak nyaman, saya tetap bisa tidur. Toh di antara para penumpang sekalian tak ada satupun yang mengeluh ini itu. Bapak sopir yang tiap hari menyopir juga tak ada mengeluh. Jadi, intinya adalah menjalani dan menikmati. Toh segala penderitaan itu hanyalah sebuah cerita ketika kita sudah selesai menjalaninya. Toh semua penderitaan itu hanya sebentar saja ketika kita menjalaninya. Semua akan berlalu. Dan ketika semua penderitaan itu telah berlalu, semua terasa enteng. Tak ada yang sulit asal kita ikhlas. :)

4. Saya bertemu pemandu wisata museum yang mengatakan agar saya meninggalkan pengetahuan jangan meninggalkan harta karena harta akan habis. Beliau juga menasehati saya agar cepat dapat jodoh. Beliau memberikan saya saya tips cepat dapat jodoh. Mau tahu? Beliau menyarankan agar puasa senin kamis 4 kali senin dan kamis dalam sebulan kemudian setelah itu bersedekah jajan ke anak-anak kecil tak perlu mahal cukup seribu rupiah per anak sejumlah 40 anak sambil dibacakan sholawat setiap kali memberi ke tiap anak. Apabila sebulan pertama masih belum mendapat jodoh, coba lagi bulan berikutnya berpuasa senin kamin 4x masing-masing dalam sebulan lalu sedekah lagi.

5. Ketika saya menunggu gojek di masjid Chengho, ada seorang laki-laki iseng menurut saya. Iseng bagaimana? Dia duduk di pelataran masjid sambil merokok. Di depannya ada sebuah motor. Sepertinya sih miliknya. Saya berdiri menunggu gojek tak jauh darinya. Beberapa waktu saya berdiri, laki-laki itu bertanya ke saya, apa nama masjid itu. Iseng tidak sih? Dalam hati saya sudah tidak nyaman untuk meladeni pertanyaannya tapi saya jawab. Kalau tidak dijawab nanti dibilang sombong kan. Lalu dia bilang chengho yang dari budha ke islam atau bagaimana saya tidak begitu menangkap pertanyaan lanjutan darinya. Saya jawab tidak tahu atau mungkin saya lupa. Lalu dia bilang lagi kalau saya islam turunan. Tapi kala itu saya tidak begitu ngeh kalau dia mengatai saya. Lalu saya jawab, "Mungkin." Saya tidak nyaman dengannya dan jawaban saya menyudahi perkataannya yang menusuk itu. Sombong sekalilah orang tersebut menurut saya. Mengetes? Merasa paling benar paling baik? Tak ada kerjaan. Sadarkah kamu bahwa apa yang kamu lakukan mungkin tak kamu sadari bisa menyakiti orang lain. Dan menyakiti orang lain bisa menghalangimu masuk surga. Halo kita orang asing loh ya tak saling kenal. Tapi apa yang kamu ucapkan dengan mulutmu sekian detik itu bisa menyakiti orang lain akibat keisenganmu. Hati-hatilah menjaga mulutmu.

6. Ini soal rejeki. Kali ini saya tidak bisa cerita detail tapi di sini saya menyadari betapa rejeki sudah diatur. Akan lebih enak ketika kita mengikhlaskan 'itulah rejeki saya'. Walau saya sempat merasa sebentar, wah saya bagaikan anak tiri (hihi lebay), tapi itu adalah pembelajaran luar biasa buat saya. Menyukuri apa yang Allah telah berikan akan terasa lebih adem lebih indah ketimbang merasa negatif ini itu. Normal ya sempat merasa negatif ini itu tapi ya hanya sebentar saja. Cepat ambil hikmahnya. Cepat ambil sisi positifnya apa yang kita dapat.

7. Terakhir adalah soal menepati janji. Entah kenapa ya saya seringkali di PHP orang lain. Posisi di PHP itu rasanya tidak enak, sangat tidak enak. Sobat, kamu jangan suka PHP ya! Posisikan dirimu ketika kamu berada di posisi korban PHP. Mau?

Pelajaran kehidupan ini memang tak terduga datangnya. Setiap kali bepergian jauh selalu saja ada pelajaran yang saya peroleh. Mungkin memang saya harus sering-sering piknik ya biar semakin menjadi pribadi yang matang. :D

Ok. Sekian cerita dari saya. Jalan-jalan ke mana lagi ya selanjutnya? Tunggu ya sobat!

Tuesday, November 12, 2019

Jalan-Jalan ke Bandung, Kunjungi 5 Tempat Ini ,Yuk!

11/12/2019 02:59:00 PM 0 Comments
Sebelum memutuskan jalan ke Bandung, saya sudah punya agenda lain (agenda tambahan) tetapi batal. Ya sudah tak mengapa. Saya tetap berangkat ke Jakarta dengan niat melakukan agenda utama. Dan akhirnya diputuskan jalan ke Bandung selain agenda utama.

Persiapan hanya seminggu sebelum keberangkatan. Untuk tiket kereta masih ada dari Senen ke Bandung untuk hari sabtu tapi ya yang jadwal pagi sudah habis. Jadilah saya pergi dengan kereta Parahiyangan pukul 9.40 dan turun di Stasiun Bandung. Harga tiket 110 ribu rupiah. Sayang sekali kereta pulang untuk hari minggu malam sudah habis jadi saya putuskan untuk naik travel Baraya. Harga tiket Baraya 88 ribu rupiah. Pool di daerah Pasteur. Kalau di Jakarta berhentinya pilih yang di Cikini (Menteng Huis).

Ok. Setiba di Bandung, kami lanjut ke Cipaganti Inn menaruh barang lalu lanjut jalan kaki ke Ciwalk (Cihampelas Walk). Niat hati mau makan sambil menghabiskan waktu malam. Waktu itu sempat hujan sewaktu saya makan di Tong Dji. Porsi besar makan di sini. Kami pilih ini karena stand makanan lain ya sama saja dengan yang kami temui di Jakarta. Ciwalk sendiri suasananya enak buat duduk-duduk santai. Apalagi cuaca dingin-dingin seperti musim semi.

Ketika pulang malam hari menuju penginapan kami pun jalan kaki saja. Dan suasananya seram sih kata saya karena jalanan sepi orang jalan kaki, kalau kendaraan sih banyak ya. Jalan juga gelap. Lalu banyak pohon-pohon gede di sepanjang jalan.

Jalan kaki di situ lebih nyaman sih ketimbang di Jakarta yang polusi dan panas tapi ya saya lebih senang yang banyak orang lalu lalang. Berasa ada kehidupan begitu. Hehe.

Untuk keesokan harinya, begini itinerary yang saya kunjungi.

1. Tangkuban Perahu
Sekitar pukul 7.30 saya berangkat menuju Tangkuban Perahu. Kalau bicara Tangkuban Perahu jadi ingat legenda Sangkuriang ya, cerita masa kecil dulu sewaktu masih SD ada di buku cetak Bahasa Indonesia. 





Berhubung hari itu weekend, jadi tiket masuk lebih mahal. Kalau tidak salah sekitar 30 ribu per orang. Biaya masuk mobil dan parkir beda lagi. Kami berdua masuk plus mobil dan sopir habis 130 ribu. Wah, di luar perkiraan kami nih.

Di sana ada apa? Ada kawah. Pemandangan yang bisa dilihat ya kawah itu. Kawahnya masih berasap. Di sana ada juga yang menyewakan kuda. Kalau membawa anak-anak kecil, pasti mereka suka.

Di sini saya hanya sebentar. Cukup foto-foto beberapa kali jepret trus makan jagung bakar, pulang.

2. Orchid Forest
Yang disuguhkan Orchid Forest ini adalah pemandangan hutan pinus. Ya, hutan pinus! Lokasinya luas. Kalau masuk ke dalam-dalam nanti sampai di ujung pintu keluar, disediakan shuttle bus gratis untuk pulang menuju parkiran.







Lumayan lelah saya berjalan kaki di sini karena naik turun dan juga panjang. Di dalam masih ada tempat yang kalau kita masuk harus bayar lagi seperti wood bridge dan castle. Oya tiket masuk 30 ribu per orang di awal. Seperti sebelumnya, kami berdua plus sopir, mobil, dan parkir kena cas 120 ribu. Bilangnya sih 115 ribu tapi kok 5 ribu tidak dikembalikan.

Ketika saya masuk ke dalam, saya cari orchid-nya mana ya. Oh ternyata di dalam. Tidak luas sih tapi di situ disediakan tempat untuk foto. Ada antriannya juga loh. Yang mengambilkan foto petugas yang ada di dalam. Kita tinggal memberikan handphone.

3. Kebun Bunga Begonia
Kami putuskan ke Kebun Bunga Begonia setelah makan siang. Tiket masuk 20 ribu per orang. Kebun bunga ini tidak begitu luas tapi cukup instagrammable loh ya bagi pecinta foto. Bunganya warna-warni dan ada tempat duduk cantik buat foto di situ.






4. Floating Market
Floating Market Lembang ini cukup luas juga. Lumayanlah buat jalan-jalan. Ada danau di tengah lokasi. Ada orang-orang berjualan di pinggiran danau dan ada penyewaan perahu. Yang tak kalah seru ada penyewaan kostum Jepang dan Korea juga loh. Saya lihat ada pasangan yang pakai kostum Jepang lalu naik perahu sambil selfie, waduh lucu banget deh liatnya. Kesan jadulnya dapat. Hihi. Berasa Jepang jaman dulu. Tak perlu ke Jepangnya beneran buat foto doank. Tiket masuk kami berdua 60 ribu. 








Di Floating Market ini, tiket masuk kita bisa ditukar dengan free drink. Pilihannya ada kopi, lemon tea dan orange. Lumayan kan. Saya jalan-jalan keliling mencari di manalah tempat menukar minuman. Hihi. Saya mau mencoba beli makanan kecil sambil duduk-duduk di situ tapi tidak jadi karena memang sudah kenyang sih. Akhirnya minum doank. Kalau mau beli makanan di sini harus tukar koin dulu ya ada kok tempat penukaran koinnya.

5. Farm House
Farm House menjadi titik terakhir saya jalan karena memang yang paling dekat rutenya dan juga sudah sore ya. Kami harus mengejar travel ke Jakarta. Farm House tidak luas lokasinya. Tiket masuk sekitar 60 ribu berdua. Di sini ada peternakan kambing. Duh kambingnya lucu putih-putih bersih. Ketika baru masuk, tiket masuk bisa kita tukar free milk loh. Pilihannya ada rasa pisang, strawberry, coklat, dan original. Kalau saya pilih rasa pisang. Lumayan loh gelasnya besar. Segar deh mana hujan pula. :D




Di sini kamu bisa coba kostum belanda loh. Bayar 75 ribu saja sejam. Kalau saya sih tidak mencoba ya. :D

Kalau mau foto, ada juga tempat semacam gembok cinta di Korea gitu loh. Hihi. Kamu wajib foto di situ kalau memang ke situ. Tak perlu ke Korea ada gembok cinta versi Indonesia.

Ok, sekian review dari saya. Semoga bermanfaat buat kamu yang ingin jalan-jalan. Ke mana lagi ya trip selanjutnya? Tunggu ya! :)