Paranoid Nomor Asing



Siapa yang sering mendapat telpon nomor asing? Nomor yang tak ada di kontak maksud saya. Entah itu nomor hp ataupun telepon rumah. Kalau kamu merasa iya, berarti kamu tidak sendirian. Berikut beberapa pengalaman saya. Siapa tahu kamu juga sama.

1. Penipuan kartu kredit
Pernah saya ditelpon nomor asing yang mengaku dari bank tempat saya membuat kartu kredit (ceritanya operator kantor pusat gitu). Dia menanyakan macam-macam soal kesesuaian identitas hingga masa berlaku kartu kredit. Dia bilang konfirmasi. Operatornya ini laki-laki. Waktu itu posisinya saya baru terima kartu kredit seminggu. Dan kartu itu belum saya aktifkan. Untuk pengaktifan kartu saya harus via telpon memang tidak seperti jenis kartu lain yang diambil teman saya bisa via sms saja.

Nah, orang tadi itu menyuruh saya segera mengaktifkan saat itu juga. Kalau tidak, nanti kenapa gitu saya lupa. Bahkan nih orang bilang supaya saya aktifkan dulu, ditunggu 10 menit nanti ditelpon lagi. Oh God, niat banget ya. Maksa banget ya. Saat itu saya sudah hampir mau mengaktifkan loh tapi entah kenapa saya merasa ragu. Kok maksa banget gitu. Oya, saya tidak sempat cek nomor orang tadi itu benar operator resmi atau bukan.

Karena ragu ada yang tak beres, saya googling nomor resmi lalu saya telpon. Si operator resmi yang mengangkat perempuan. Saya bilang sejujurnya apa yang barusan saya alami. Lalu si dia memperingatkan saya untuk hati-hati lalu menawarkan mengganti kartu saya untuk dikirim ulang dengan yang baru. Padahal saya pengen tidak jadi punya kartu saja toh belum saya aktifkan tapi kata operatornya tidak bisa. Harus ganti baru. Oya, saya ini masih awam banget soal kartu kredit waktu itu. Jadi berasa bodoh bangetlah waktu si penipu itu menelepon.

Dan kartu kredit pun tak jadi saya aktifkan ya yang tadi. Saya tunggu sepuluh menit, coba telpon lagi ga tuh penipu. Eh, nelpon beneran loh agak lamaan dikitlah. Tapi tidak saya angkat. Seandainya saja saya jadi ngaktifin, alamak tertipu saya. Mengerikan. Allah masih melindungi saya. Thanks Allah.

Untuk teman-teman yang masih awam juga soal kartu kredit, setelah kita mengajukan dan menerima kartu kredit itu rentan sekali ditelpon oleh nomor asing yang berniat menipu. Kalau pun bukan penipu, ya agen asuransi. Sampai sebel banget saya ditelpon tiap hari oleh nomer yang sama. Sehari bisa sekian kali telpon. Niat banget ya. Mengganggu banget.

Jadi, itu kesalnya saya. Karena data pribadi pelanggan seperti diperjualbelikan oleh si bank.

2. Sales Asuransi/Voucher Hotel
Asuransi ini bisa karena mengajukan kartu kredit seperti yang saya bilang tadi (biasanya menawarkan produk asuransi seperti kesehatan dll. Biasanya nih orangnya ngotot banget menjelaskan tidak bisa distop kalau sudah ngomong. Jadi keseringan saya potong paksa dan matikan hp. Atau dari awal saya langsung tolak. Soalnya ya tadi itu kalau menjelaskan lama sekali dan tak bisa distop. Annoying).

Atau pun ada juga karena pernah membeli asuransi untuk keperluan membuat kartu member apa gitu. Karena saya pernah ditelpon oleh orang yang mengaku dari asuransi apa gitu ya lupa. Dia minta waktu untuk survei (tanya-tanya).

Saya tanya deh dari mana dapat data saya? Katanya sih itu bukan bagian dia soal data dari mana. Dia cuma bertugas untuk mensurvei saja. Saya pikir, ya bisa benar juga sih mbak ini kalau pun saya marah-marah rasanya tak bijak. Lalu saya pertegas lagi dari mana. Baru dia menjawab kata dia saya pernah membeli asuransi apa gitu. Seperti asuransi jadi member apa Matahari Club (MMC) misal. Oh ya ampun pikir saya. Itu mah jaman kapan saya memang pernah jadi member tapi tahun kapan. Sudah expired juga kartunya. Hehe.

Tapi entahlah itu benar dari asuransi yang MMC punya atau bukan. Lalu dia terus mengajukan pertanyaan. Dan saya bilang, saya tidak mau disurvei. Orangnya ngotot tetap berargumen macam-macam. Lalu saya bilang, "Itu hak saya". Terdiamlah dia. Lalu minta maaf dan menutup telpon. Apakah saya terlalu kejam? Entahlah. Saya hanya merasa terganggu dan sama sekali tidak nyaman.

Jadi selain asuransi tadi itu, ada juga penawaran voucher hotel spa dll. Itu biasanya dari kartu kredit tadi.

3. Disangka Pelanggan Listrik
Saya mengalami disangka seseorang yang mau memasang meteran listrik elektrik di Prabumulih Sumatera Selatan. Kok? Padahal saya di Bengkulu. Ini ceritanya saya beli nomor baru. Sudah ada 8 bulan kali saya pakai. Eh tahu-tahu dapat telpon tadi itu. Dikiranya Bapak siapa gitu oleh si petugas PLN. Bahkan si petugas nanya-nanya jadinya saya itu siapa dan di mana. Lah, penting apa ya? Pakai salam kenal segala loh. Ampun deh. Hehe.

Besok-besoknya ditelpon lagi saya tapi yang bicara orang lain. Memastikan kali ya. Orangnya menyebutkan nomor saya segala loh. Dan memang benar itu nomor saya. Saya jadi berpikir bahwa nomor saya ini nomor daur ulang. Tapi kenapa bisa dalam waktu berdekatan gitu ya. Maksud saya kalau pemilik nomor saya sebelumnya adalah orang Prabumulih, dan nomor ini didaftarkan dalam pengajuan listrik, lalu tak aktif, alangkah cepatnya nomor ini didaur ulang oleh Telkomsel?

4. Disangka Teman TKW
Ada nomor asing menelpon saya disangka teman seorang TKW. Ya ampun apa-apaan ini.

5. Disangka Teman Seseorang
Kalau ini sih saya tahu-tahu dapat pesan instant whatsapp dari seseorang tidak dikenal. Dikiranya siapanya gitu. Padahal sih ya sama sekali tidak tahu. Pernah juga ditelpon, tapi saya bilang tidak kenal.

6. Dibilang Nomor Saya adalah Nomor Seseorang yang Sedang Menelepon
Kalau ini kejadian jaman kuliah dulu ditelpon seseorang yang mengaku pemilik nomor saya. Lah kok bisa? Saya tidak percaya karena saya jelas-jelas beli nomor baru. Tak tahu apakah jaman dulu juga daur ulang nomor ya. Lagian apa pentingnya coba telpon nomor yang pernah jadi nomornya, kalau memang benar nomornya? Mau apa?

7. Ditelpon Akrab Disangka Orang Dikenalnya
Pernah nih tiba-tiba ada yang menelepon, eh laki-laki. Dia bilang hai bla bla bla ini nomorku yang baru. Akrab gitulah seolah memang seorang yang penting atau spesial mungkin. Lalu saya bilang, kamu siapa? Dia balik tanya saya siapa. Terus langsung dia matikan. Hihi. :)

8. Di-SMS Ngajak Kenalan
Ini awalnya orangnya sms berkali-kali ngasih perhatian gitu kali ya ala-ala abege hehe. Ini siapa sih pikir saya. Kok sms terus ya. Saya balas dan akhirnya mengaku dia siapa. Tapi saya tetap merasa tidak kenal. Tidak pernah punya kenalan atau teman dengan nama demikian berasal dari wilayah yang dia sebutkan. Lama-lama eh ternyata dia mau ngajak kenalan lebih lanjut. Ya ampun. Dan akhirnya juga ketahuan kalau dia dapat nomor saya sewaktu saya membuat kacamata di sebuah optik. Nah dia ini adalah orang yang membuat kacamata saya. Ya Allah Ya Rabbi, memang tak disangka-sangka ada-ada saja ya. Hehe

Oke, ini beberapa saja yang saya ceritakan. Jadi kalau dulu saya terima telepon nomor asing saya angkat ya karena takutnya penting dari orang yang saya belum punya nomornya di kontak. Tapi sekarang, belajar dari pengalaman-pengalaman nyebelin itu, saya cenderung tidak mengangkat biar lebih aman. Kalau memang benar penting atau mendesak, jika telpon tak diangkat, akan konfirmasi sms orangnya. Gitu saja pikiran sederhana saya.

Pegal jari-jari saya mengetik tema ini. Hihi. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik. Yuk Share! :)
Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

2 komentar:

  1. Dulu aku juga mengalami beberapa yang Rela sebutkan. Tapi sekarang aku udah jarang angkat telp. Kalo memang penting, toh orangnya akan sms, baru aku telp balik aja. kalo nomor tidak dikenal menelp ku berkali-kali pun ga akan pernah aku angkat kalo dia tidak memperkenalkan diri melalui sms. Kalo iseng smsnya, ya kucuekin aja.
    Untuk No telp penipuan, asuransi, marketing, dll itu, setiap ada yg telp, aku ga angkat, terus aku search nomornya di website Tellow. Disana banyak laporan2 tentang nomor yang mengganggu dan identitasnya sebagai apa. Abiz itu aku masukin nomornya ke daftar blok di aplikasi yang aku download ke ponsel. Karena telp-telp itu biasanya sangat getol, tak mudah putus asa, terus menelp, dan aku rasa cukup mengganggu kring-kring terus, jadi dengan dimasukin ke aplikasi itu, sama sekali ga muncul nada dering di ponsel ataupun notif bahwa ada yg menelp. Cuma kalo buka aplikasi kelihatan hari ini nomor mana aja yg masuk dan berapa kali dia nyoba nelp. Simple dan easy. Jadi lebih tenang hidupku sekarang.
    Yang soal voucher spa itu kalo sama dengan yang pernah aku baca di web, ada yang cerita itu ujungnya penipuan juga. Karena vouchernya ga bisa dipakai tapi dicancel atau diretur ga bisa. Banyak banget akal manusia untuk menyengsarakan manusia lain demi keuntungan diri sendiri. Aku Heran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya say makanya di akhir kalimat kubilang aku ga akan angkat. Kalau memang penting bakal sms tuh orang. Eh ternyata pernah ada yang telp ga kuangkat adalah petugas lapangan butuh bantuanku ngerjain tugas pas pelatihan. Besoknya orangnya konfirmasi. Tapi orangnya sudah sadar diri ga diangkat krn mungkin nomor tak dikenal hehe.

      Iya klo nomor asing gitu aku googling dan ternyata ketemu tuh orang2 pada laporin nomor2 itu karena mengganggu.

      Btw boleh juga itu aplikasinya apa namanya?

      Delete

leave your comment here!