2 Alasan Kenapa Harus Hutang

Hutang oh hutang... Paling tenteram hidup tanpa hutang ya. Setuju? Tidur tenang tak perlu mikir bagaimana caranya besok bayar hutang. Bangun tidur bisa seyum menyambut pagi. Tak perlu resah bakal ketemu penagih hutang. Begitu dapat duit atau penghasilan tak perlu disisihkan untuk bayar hutang dulu baru yang lain-lain. Tak ada istilah 'ngenes' karena duit habis duluan buat bayar hutang.

Eh, ini penghutang yang baik ya, punya duit buat bayar hutang duluan. Beberapa saya temui, bayar hutang mah nanti-nanti saja (catat: kalau ingat). Padahal menurut financial planner, kalau terima gaji alias pendapatan ya prioritaskan bayar hutang dulu sekian persennya. Prinsip ini klop dengan aturan islam. Prioritaskan bayar hutang dulu baru yang lain-lain. :)

Source: dreamstime


Sengaja sekali saya posting tentang hutang gegara tempo hari ada yang hutang ke saya. Pagi-pagi baru sampai kantor dan baru duduk di kursi saya eh telpon berdering.

"Kakak ada perlu sama kamu," suara lelaki di seberang sana. Dari kalimatnya sudah saya tebak mau apa. Bak paranormal deh saya. Hihi.

"Minggu depan kakak dapat honor bla bla 900 ribu. Sekarang kakak mau beli sesuatu, bisa kakak pinjam?"

"Asal dikembalikan aja, kak."

"Pasti kakak kembalikan. Hutang harus dibayar."

"Berapa?"

"1 juta."

Telpon berakhir dengan deal hutang dan saya harus mentransfer karena dia tidak di tempat. Hmm, sudah hutang minta transfer pula. Perlu effort lagi kan buat saya harus tarik atm misal. Tempatnya jauh pula dari kantor. Ibarat kata dikasih hati minta jantung. Hehe. Itulah masa kini jaman teknologi canggih. 

Pernah malam hari ada yang telpon saya mau pinjam uang. Katanya saya harapan satu-satunya. Karena dia butuh (dan tentu saya tidak pegang duit sebanyak yang dia butuh), dia datang ke tempat saya dan mengantar saya ke atm hingga kembali ke rumah. Full service ya. :)

Perlu digarisbawahi yang namanya berhutang itu merendahkan diri. Karena penghutang adalah orang yang butuh. Meski butuhnya itu memang benar-benar butuh atau bukan. Posisi tangan ada di bawah. 

Saya mengalami kasus orang berhutang tidak sekali dua kali. Entah mengapa orang berhutang datangnya ke saya. Saya sampai heran dan bertanya-tanya ada hikmah apa sebenarnya kenapa orang berhutang Allah datangkan ke saya, bukan yang lain. Sempat googling tapi tidak menemukan artikel seperti yang saya harap.
Oya, saya memberi pinjaman hutang dengan niat membantu. Bukan untuk mengambil keuntungan sepeserpun. Saya yakin bukan tanpa maksud kenapa Allah datangkan mereka ke saya (meski saya belum tahu apa).

Dan pikiran sempit saya adalah jikalau suatu saat Allah beri saya kesempitan, maka Allah yang akan membantu saya melepaskan kesempitan itu. Mungkin bukan dari orang yang sudah saya beri pinjaman tapi dari orang lain yang mungkin tak pernah saya temui saat ini. Maka itu selagi saya longgar ya saya bantu. Karena kita tak pernah tahu nasib seseorang. Life is like a rollercoaster.

Pada kasus hutang di atas, saya heran sebenarnya. Dapat duit minggu depan 900 ribu tapi pinjam 1 juta saat itu. Ada selisih 100 ribu. Karena background saya statistik jadi harus bisa berhitung apalagi duit hehe. Entah dari mana dia bakal nutup 100 ribu, saya tahunya terima full payment. Mungkin dia sudah berhitung sebelum hutang (semoga). Saya pribadi tidak tahu berapa harga barang yang akan dia beli. Katakanlah cuma 1 juta sesuai hutang. 

Yang saya pertanyakan, kenapa juga itu barang harus dibeli saat itu? Apa tidak bisa ditunda dulu sampai benar-benar punya uang yang cukup (toh dia bilang seminggu lagi dapat uang, seminggu lagi tak lama kan)? Apa barang itu akan habis atau tak ada lagi jika tak dibeli sehingga harus merendahkan diri dengan berhutang dan menjaminkan uang yang belum dia terima?

Saya berpikir, memang barang apa sih yang sedemikian mendesak? 1 juta bukan harga murah untuk ukuran tinggal di desa. Percayalah tak akan habis dalam sekejab atau tak ada lagi atau tak bisa ditunda pembeliannya.

Menurut saya, sangat tidak bijak menuruti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan sehingga membuat kita harus berhutang. Hutang untuk barang konsumtif pula. Mari belajar kendalikan diri.

Memang betul, hutang tidak dilarang dalam islam. Bahkan ada kebaikan tersendiri bagi orang yang memberi hutang. Saya tidak menampik bahwa hutang itu seninya hidup. Ada yang beranggapan dengan berhutang maka kerja jadi lebih semangat (buat nutup hutang?). 

Asal hutangnya jangan pakai riba dan sesuaikan dengan kemampuan untuk membayar. Beberapa kali saya mengobrol dengan rekan-rekan yang berani mengambil hutang di bank untuk beli mobil, motor, dan sebagainya. Ada juga yang hendak mengambil pinjaman di koperasi. Dari obrolan tersebut diketahui bahwa uang yang dipinjam dan diterima tidak sama. Ada potongan administrasi yang jumlahnya besar menurut saya (sungguh merugikan dan tidak masuk akal). Sudahlah sedang butuh, masih kena potong pula. Belum lagi bunga yang harus dibayar per bulan.

Pikiran hemat saya, kalau bunga yang semestinya dibayar per bulan itu dialihkan untuk sedekah, dapatnya lebih besar 10x lipat minimal sesuai janji Allah, daripada untuk dikasih ke bank. Mana kena hukum riba lagi. Tak main-main loh itu hukum riba. Karena seringan-ringannya seperti menzinai ibu kandungnya sendiri. Naudzubillah. Jauhkan saya dan keluarga saya dari hutang ya Allah.

Kenapa sih harus hutang? 

Kalau tidak hutang kelamaan. Kan maunya cepat. 
Nah ini dia, ego dan gengsi. Sifat manusia sekali. Manusia diberi nafsu itu untuk dikendalikan. Bukan untuk diumbar. Kan manusia diberi otak (akal) untuk berpikir. Tidak seperti hewan yang juga punya otak tapi tidak dikaruniai akal untuk berpikir oleh Allah. Hanya perlu sabar sedikit saja. Kebanyakan manusia tidak sabar. Memang sudah sifat manusia tergesa-gesa. Jadi ingat cerita penciptaan Nabi Adam As. Dari sinilah awal mula munculnya sifat tersebut.

Buat nutup hutang yang lain
Ini sumpah menyengsarakan manusia sekali. Kapan lunasnya? Tepat seperti lagunya Bang Haji Roma Irama, Gali Lobang Tutup Lobang. Ini lagu sering sekali saya dengar jaman SD. Melekat sudah di otak. 

Kata terakhir dari saya, bijaklah dalam berhutang. Hidup tidak untuk sehari-dua hari teman. Pikirkan jika sewaktu-waktu ajal menjemput, kasihan ahli waris bukannya dapat klaim asuransi untuk hidup nyaman di masa depan tapi malah dibebani hutang. Beruntung kalau ada ahi waris yang tahu dan membayar atau pihak pemberi hutang mengikhlaskan, kalau tidak bakal ditagih terus di akhirat. Tidak takut? :)







Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!