Winter in Tokyo (3) : Oleh-Oleh Khas

Setiap kali kita bepergian, sewaktu sampai di tempat asal, pertanyaannya adalah mana oleh-olehnya? Betul? Yang pernah bepergian pasti pernah mengalami kan? Pergi ke mana sajalah tak pula harus ke luar negeri.

Itulah budaya di negara kita. Budaya keakraban dan ramah tamah. Betul?

Sebenarnya ada sisi positifnya juga sih. Bagi yang membawa oleh-oleh, hitung saja sebagai sedekah. Nanti Allah yang akan mengganti berlipat-lipat. Setuju? Tidak pula harus dijadikan beban. Dan membawa oleh-oleh ini harus dalam rangka ikhlas dari hati. Bukan paksaan atau rasa tak enak hati. Biar Allah yang melihat niat kita. Nikmat berbagi itu tak ada duanya loh. Catet! Bersyukur berarti kita tangan di atas, bukan tangan di bawah. Ingat kan pepatah tua itu? Sipp :)

Dan kalaupun kita tak ingin membawa oleh-oleh juga tak mengapa sebenarnya tak ada norma tertulisnya juga. Jadi, kenapa juga harus merasa tak enak. Tak akan ditangkap polisi kok. Santai.

Sisi positif bagi yang menerima oleh-oleh adalah rasa bahagia. Ya iyalah gratisan san san... :)

Siapa yang tak suka gratisan? Saya juga suka hehe. 

Bagi yang sudah membaca posting saya sebelumnya pasti tahu apa saja yang saya beli. Saya sengaja sih beli yang keras-keras alias tidak bisa dimakan. Kalau yang bisa dimakan takut tak halal. Plus cari yang murah meriah mengingat harga di sana melambung tinggi. Dan cari yang ringan dibawa pulang alias tidak makan tempat.

1. Tokyo Tower


Beli di Tokyo Tower -
sebenarnya Tokyo Tower bukan merah warnanya
tapi karena saya suka merah jadi pilih yang ini 😊

2. Sarung Tangan

Ini beli di Daiso. Di sini murah-murah. Mungkin semacam Multi mart serbu gitu kalau di Indonesia.


3. Gantungan Kunci

Beli di Kyoto

Beli di Tokyo Tower

4. Magnet Kulkas

Beli di Kyoto

Beli di Tokyo Tower


5. Gantungan Kaca

Beli di Kaminarimon
6. Gantungan HP
Beli di Kaminarimon


7. Sumpit
Beli di Haneda Airport duty free shop pas mau pulang. Tidak niat beli-beli. Gara-gara waktu tunggu masih panjang dan uang yen masih sisa banyak, akhirnya beli juga. Ini akibat lihat-lihat. Laper mata. Maaf tak sempat foto. 😊
Beli sumpit niatnya mau dipakai karena saya juga pakai sumpit tupperware. Tapi saya tinggal di rumah ibu saya.

8. Bento
Beli di Haneda Airport duty free shop. Maaf tak sempat foto. Ini bentuknya lucu. Ada pasangan untuk cewek cowok loh. Cocok untuk bekal (anak saya nanti hehe in the future). Tapi saya cuma beli satu. Harganya lumayan.

9. Headset
Beli di Haneda Airport duty free shop.



10. Gantungan kunci Samurai titipan anak bos
Bos saya bilang, anaknya nitip samurai. Samurai? Pedang samurai? Akhirnya saya belikan gantungan pedang samurai. Lumayan besar ukurannya dibanding gantungan kunci lain yang saya beli. Cocoklah untuk anak lelaki abege. 😊

Beli di Kyoto


11. Keramik pajangan
Beli di Kyoto. Maaf tak sempat foto.


12. Lain-lain itu banyak sekali tapi saya tidak beli. Hehe.


Setelah di list ternyata banyak juga macam yang saya beli. Hehehe. Yang mahal cuma headset. Lainnya di bawah 100 ribu per item. Kalau gantungan kunci sekitar 40-50 ribu rupiah per item. Mahal sih memang kalau menurut saya. Yang paling murah justru sarung tangan itu. Sekitar 10 ribu saja per item.

Saya beli itu pakai hitungan. Berhubung mau dibagi-bagi ke saudara, ponakan dan teman dekat jadi banyak itemnya. Plus dipakai sendiri.

Jadi kalau traveling ke sana tak usah beli macam-macam. Apa-apa serba mahal. Kalau tak siap duit banyak. Makanya kalau saya traveling lagi juga niatnya traveling saja. Beli sekedarnya saja. Yang bermanfaat setelah dibawa pulang. Jangan nganggur. Sayang itu duit nganggur. Hehe 😊


All pictures credit to Reana (taken by me)


Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!