Ada sesuatu yang begitu menenangkan saat kaki menginjak halaman rumah di kampung. Udara terasa lebih segar, waktu berjalan lebih lambat, dan segala beban seolah menguap begitu saja. Rumah di kampung bukan sekadar tempat kembali, tetapi ruang di mana hati merasa damai tanpa syarat.
Setiap sudut rumah mengandung kenangan. Suara ibu di dapur, aroma kopi yang diseduh ayah, lantai dingin yang dulu sering dipijak saat kecil—semua terasa akrab dan menghangatkan hati. Di kampung, tidak ada kemacetan yang melelahkan, tidak ada ritme kota yang terburu-buru. Hanya ada ketenangan yang sulit ditemukan di perantauan.
Namun, di balik kenyamanan itu, ada kenyataan yang harus diterima. Hidup tak selalu memberi pilihan sesuai keinginan. Meski hati ingin tinggal, ada tanggung jawab yang harus dijalani di tempat lain. Ada mimpi yang telah dirajut di perantauan, pekerjaan yang menanti, dan kewajiban yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
Rasanya ingin sekali menyerah pada kelelahan, membiarkan diri tetap berada di rumah, menikmati kesederhanaan dan kebersamaan keluarga.
Tapi apa daya, ada perjalanan yang masih harus ditempuh. Ada janji pada diri sendiri yang belum selesai.
Kembali ke perantauan selalu terasa berat. Begitu kaki melangkah keluar rumah, ada kesedihan yang sulit dijelaskan. Seakan meninggalkan bagian dari diri sendiri yang hanya bisa ditemukan di kampung halaman.
Namun, bukankah pulang tidak akan seistimewa ini jika tidak ada perpisahan?
Mungkin suatu hari nanti, akan tiba saatnya tak perlu lagi merantau. Bisa tinggal di tempat yang paling menenangkan, bersama orang-orang yang paling dicintai. Hingga saat itu tiba, harus terus melangkah, mengumpulkan alasan agar suatu hari nanti bisa benar-benar menetap dan tak perlu lagi pergi.
Namun, yang paling menyakitkan dari setiap perpisahan adalah melihat punggung orang tua yang perlahan menghilang dari pandangan saat kendaraan mulai melaju. Mereka selalu tersenyum dan melambaikan tangan, seolah ingin berkata, hati-hati di jalan, Nak. Tapi jauh di lubuk hati, aku tahu ada kesedihan yang mereka sembunyikan. Mereka ingin anak-anaknya sukses, tetapi juga ingin mereka tetap di rumah.
Setiap kali kembali ke perantauan, ada rasa hampa yang mengendap. Tidak peduli seberapa nyaman tempat tinggal di kota, tetap saja rasanya tak sama. Suara riuh keluarga saat makan bersama, udara segar tanpa polusi, dan kebersahajaan hidup di kampung menjadi sesuatu yang kurindukan setiap hari. Di kota, segalanya berjalan cepat. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan aku sering merasa seperti hanyut dalam arus kehidupan yang tak bisa kuhentikan.
Sering kali aku bertanya pada diri sendiri, apakah semua perjuangan ini sepadan? Apakah uang yang dikumpulkan, pekerjaan yang dikejar, dan mimpi yang dikejar dengan penuh tenaga bisa menggantikan hangatnya rumah? Kadang aku merasa seperti burung yang terus terbang jauh, tetapi di setiap akhir perjalanan, tetap ingin kembali ke sarangnya.
Namun, mungkin ini hanyalah fase. Mungkin saat ini aku masih berada dalam perjalanan yang belum selesai.
Suatu hari nanti, aku ingin menetap. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang-orang yang benar-benar berarti, bukan hanya berkutat dengan tuntutan pekerjaan dan jadwal yang padat.
Untuk sekarang, aku hanya bisa menyimpan rindu ini. Aku tahu, rumah akan selalu ada. Orang-orang yang kucintai akan selalu menunggu. Setiap langkah yang kuambil di perantauan, meski berat, selalu ada tempat untuk kembali.
No comments:
Post a Comment
leave your comment here!