Kehilangan (Bagian 4): Melangkah Walau Berat
Saya sering bertanya-tanya, bagaimana cara kita bisa tetap berjalan ketika kehilangan membuat dunia seolah berhenti berputar? Rasanya seperti tertinggal di stasiun terakhir, melihat kereta yang kita naiki pergi tanpa kita di dalamnya.
Menghadapi Kenyataan
Di titik ini, kita harus menghadapi kenyataan bahwa kehilangan memang bagian dari hidup. Tidak ada yang bisa mengembalikan apa yang telah pergi, tapi yang bisa kita lakukan adalah menerima.
Menerima bukan berarti melupakan, tapi menghormati rasa yang pernah ada, lalu memilih untuk hidup lagi.
Merawat Luka
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk merawat luka. Ada yang larut dalam kesibukan, ada yang menulis, ada pula yang diam untuk waktu yang lama. Tidak ada jalan yang salah selama kamu tetap memberi waktu untuk diri sendiri.
Luka memang tidak akan langsung sembuh, tapi perlahan ia akan mengering.
Belajar dari Perasaan Paling Dalam
Saat kita kehilangan, kita diajak untuk mengenal diri kita lebih dalam. Apa yang paling kita takutkan? Apa yang membuat kita rapuh? Dan apa yang bisa membuat kita bangkit lagi?
Kehilangan bisa menjadi guru yang keras, tapi juga sangat jujur.
Menemukan Makna di Balik Perpisahan
Terkadang, kita baru bisa melihat makna dari sebuah kehilangan setelah waktu berlalu. Kita belajar untuk lebih menghargai hal-hal kecil, lebih mengasihi diri sendiri, dan lebih memahami bahwa tak semua orang atau hal bisa kita miliki selamanya.
Kehidupan yang Tetap Berjalan
Walaupun berat, kehidupan akan tetap berjalan. Matahari tetap terbit, dan dunia terus berputar. Dan kita, meski terseok, lambat laun akan mampu melangkah lagi. Kita akan menemukan senyum yang sempat hilang, bahkan tawa yang sempat redup.
Pertanyaan untuk Kamu
Pernahkah kamu merasa kehilangan membuatmu lebih kuat dari sebelumnya? Apa yang paling kamu pelajari dari rasa sakit itu?
"Kehilangan bukan akhir, tapi jembatan menuju versi dirimu yang lebih tangguh."– Anonim
Lanjutan ke seri 5...
No comments:
Post a Comment
leave your comment here!