Turun Takhta: Akhirnya Saya Bebas!

Alhamdulillah berakhir sudah masa jabatan saya menggantikan bos saya. Meski sangat singkat hanya satu setengah bulan namun cukup memberi pengalaman berharga buat saya. Dan kesan saya adalah ternyata tidak enak ya jadi kepala? hehehe

Mungkin saya bilang begitu karena salah satunya jiwa saya masih ingin bebas. Kalau jadi kepala itu sering mondar-mandir ke mana-mana menghadiri rapat ini itu dari satu instansi ke instansi lain. Jadi pembicara jadi harus bicara (ya iyalah masa punya mulut ga bisa bicara). Belum lagi mengurusi kantornya sendiri. Tidak mudah loh mengatur orang banyak dengan berbagai karakternya masing-masing. Bikin sakit hati saja kalau tidak sesuai apa yang kita mau (haha itu kalau idealis ya). Belum lagi pusing-pusingnya kalau misal kerjaan di bawah tidak beres atau masih ada tunggakan atau apalah. 

Jadi kepala itu, harus punya wawasan luas. Harus menguasai semua ranah kerja seksi yang ada di bawahnya. Harus bisa jadi tempat bertanya. Dan pastinya bisa jadi pengambil keputusan yang bijak.


Jadi kepala itu, harus bisa merangkul semua pegawainya apa pun karakternya. Mau dia orang yang ceria, pendiam, banyak omong, dan sebagainya.

Meski pada awalnya memang saya terpaksa menerima amanah ini, namun tetap saja ada hikmah positif yang bisa saya petik. Diantaranya:

1. Amanah

Meski posisi saya dari segi umur adalah jauh lebih muda daripada orang-orang yang ada di kantor saya, namun justru saya yang diberi kepercayaan untuk bertanggung jawab. Saya anggap itu amanah. 

2. Ilmu

Ilmu itu tidak melulu kita raih dari membaca buku. Ilmu bisa juga kita dapat dari apa kejadian dalam kehidupan sehari-hari baik itu kita sendiri yang mengalami atau orang lain. 

3. Pengalaman

Bukankah ada pepatah yang mengatakan 'Experience is the best teacher'?
Ya, dalam setiap kesempatan yang saya jalani, saya anggap semua sebagai pengalaman, sebagai tempat belajar gratis. Makanya ada perbedaan antara pemula dengan yang berpengalaman. Pemula itu masih serba meraba-raba namun orang yang sudah berpengalaman itu sudah tahu jelas arahnya mau ke mana. Saya merasakan betul bagaimana jadi seorang pemula dalam banyak hal. Tidak mudah. Hehe. 

Kalau saya misalkan dalam kepenulisan saja, pertama saya menulis cerpen itu masih meraba-raba sekali. Namun lama-kelamaan dengan semakin sering menulis akan terbentuk sendiri menulis dengan lebih baik. Apalagi ditamhbah seringnya gagal tidak lolos dibukukan, itu sunggguh pengalaman berharga untuk jadi lebih baik. Kalau melihat tulisan yang lalu-lalu, waduh berasa malu sendiri kok nulis begitu ya. hehe. 

Makanya saya pernah takjub ada ya orang-orang tertentu yang sering sekali ikut event menulis bareng saya, setiap saya ikut pasti nama dia ada. Dan saya perhatikan memang selalu lolos loh naskahnya. Hebat! rupanya setelah saya cek riwayatnya, ketauan bahwa mereka itu sudah nulis 40-an bahkan 50-an antologi bersama. Wuih panteslah ya. Emang jam terbangnya sudah tinggi. Sementara saya? Benar-benar masih pemula baru netas
Pada dasarnya tiap diri kita ini sudah dianugerahi kemampuan menulis ya. Tinggal mau tidaknya. Pisau tajam kalau tidak diasah akan berkarat juga kan? Pisau tumpul kalau diasah terus maka akan tajam. :D

Oya, saya ini tidak berharap menjadi seorang kepala kantor (la terus mau jadi staf terus seumur hidup?). Orientasi saya bukan itu. Kalau pun harus jadi kepala, saya ingin di bidang lain yang memang benar-benar soul saya, saya sendiri yang mendirikan atas kemauan saya. Apa itu? Hehehe 

Semoga Allah mengabulkan mimpi-mimpi saya. Amin.

Horeeeee!!!! Akhirnya saya bebas! Sampai jumpa posting berikutnya! :D









Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!