Follow Us

Saturday, March 10, 2018

Plagiarisme atau Bukan?

Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 24 Februari saya submit sebuah paper saya ke conference. Niat hati coba-coba siapa tahu lolos. Kemarin saya mendapat email bahwa paper saya dinyatakan tidak lolos. Alasannya? Tertulis di sana:
due to similarity

Sumber: 123rf,com
Dikatakan bahwa kesamaan melebihi ambang batas. Ok, tak apa saya terima. Tadi saya coba cek-cek kalimat di paper saya paragraf demi paragraf di free online checker. Memang betul terdeteksi plagiarism. Bagian tinjauan pustaka itu yang paling rentan seperti yang dibilang dosen saya. Saya berpikir, di bagian ini kan memang saya mengutip dari berbagai jurnal dan buku dan di sana saya tulis sumbernya juga. Tapi rupanya masih tetap dianggap plagiarism ya oleh online checker. Saya bertanya-tanya, jadi tidak boleh mengutip? 

Dosen saya menyarankan supaya bagian itu disingkat dan pakai kata-kata sendiri. Oke, saya coba memahami. Berarti kutipan dari jurnal atau buku tidak boleh sama persis dengan kalimat aslinya (meski sudah ditulis sumbernya di situ). Semuanya harus diterjemahkan dulu dalam bahasa sendiri. Tulis pakai bahasa sendiri. Ingat itu readers. 

Parafrase? Online checker pun ada yang bisa mendeteksi parafrase. :D

Baiklah saya mengerti. Saya akan coba rombak paper saya itu. Kalau masih ada keinginan, saya ikutkan conference yang lain. Kalau pun tidak saya ikutkan ke conference berikutnya, bisa untuk memenuhi kewajiban yang lain. Padahal saya sudah sempat minta tolong teman native saya untuk cek grammar. Teman yang lain malah mau memberi hadiah kalau lolos. Hihi ya sudah tak apa. Belum rejeki. Saya pun juga mikir kalau lolos harus bayar 400$. Oh My God... mahal sekali. 

Apa yang terjadi itu menjadi pembelajaran buat saya. Terima kasih. Hmm saya berpikir, mending saya tulis saja pakai bahasa Indonesia dulu lalu terjemahkan pakai bahasa Inggris pakai google translate atau terjemahkan sendiri pasti tidak akan ada kesamaan ya. Hehe. Dobel kerja tapi ini.

Sebenarnya, saya tak tahu penyebab pasti apakah karena memang peraturannya mengutip itu tidak boleh sama persis walau dicantumkan sumbernya, ataukah karena paper saya pernah di upload seseorang tak dikenal di sebuah website. Meski sudah dihapus karena ketahuan pelakunya, tapi di pencarian google masih muncul. So sad... Salah seorang dosen bilang kalau paper sudah pernah diupload di mana pun itu tidak akan pernah lolos di conference atau jurnal. Karena mereka punya online checker.

Saya jadi penasaran penyebabnya yang mana. Kalau setelah saya perbaiki misal, masih juga tidak lolos berarti penyebabnya adalah... Hanya Tuhan yang tahu :D

Okelah tak apa. Pembelajaran yang sangat berharga. Semoga kalian bisa belajar dari pengalaman saya. :)




No comments:

Post a Comment

leave your comment here!