Public Enemy Return




by reana

Liburan, gw sempatkan diri nonton film nih setelah sekian lama absen. Dari mulai film Indonesia (dapet pinjaman nih maren, sik asik...) trus lanjut (asal comot aja film yang nganggur sekian lama) ke Hongkong lalu Korea lalu Thailand. Hm, untuk hari ini apa ya? Jepang? Hoho Iya nih gw kangen dah lama ga nonton anime atau dorama. Eh, maren liat trailer Tales of Earthsea jadi mupeng. Setelah browsing, ternyata itu dikarang oleh pengarang anime Spririted Away (jadi inget nonton bareng Spirited Away pas masih magang di pusat) :D

Untuk film Korea-nya, gw pilih film bertema gangster berjudul Public Enemy Return (June 2008) yang merupakan sekuel Public Enemy (2002) dan Another Public Enemy (2005). Public Enemy sendiri menyabet kategori best actor dalam Grand Bell Award (semacam Academy Award kalo di US). Sebenarnya, nonton film ini ga pernah ada dalam rencana gw sih. Maksudnya, bukan film yang gw cari gitu. Tapi lumayanlah buat hiburan (hiburan kok seram berdarah-darah ya? Aneh!). Hihi ^^

Nah, di film ini ada monolog yang bagus menurut gw (kalo ga setuju jangan komen, ok?). Simak di bawah ini yah!




Saat pencucian otak kepada calon gangster muda, kepala gangster berkata yang merujuk ke diri sendiri:

"aku gangster
aku terlahir dari itu dan dari dulu memang begitu.
aku bukan bandit biasa tapi bandit besar
aku tidak berbicara saat berkelahi
aku menggunakan pisau
aneh sih, tapi memang begitu.
dunia menganggapku sebagai presiden perusahaan

aku selesaikan masalah dengan tanganku
di luar, aku dianggap pebisnis yang sukses"

kemudian berkata yang tertuju kepada para calon gangster berapi-api:

"kamu menggunakan pisau dan pipa besi, kamu mungkin akan masuk penjara karena itu
kamu bandit sampai ke tulangmu
kamu bandit sejati yang tidak akan menghianati temanmu
tapi masyarakat melihatmu sebagai pebisnis yang kaya dan muda
demikian negara ini, beginilah dunia! "

Nah, kata yang gw bold itu, mereka (gangster) sebut sebagai kode. Menyeramkan sekali sih konsekuensi dari kode etik itu? Yup! Karena nyawa sama sekali ga ada harganya. Gw salut aja kenapa para gangster bisa sedemikian patuhnya dengan kode etik tersebut. Hati nurani benar2 sudah tergadaikan. Saat sudah masuk dalam organisasi gangster begitu, tidak bisa lepas. Satu2nya cara untuk lepas ya mati! Kalo mendekam di penjara bisa juga dibilang lepas, tapi hanya untuk sementara waktu selama di penjara. Begitu keluar, ya jadi bandit lagi. Bahkan dapat posisi yang lebih tinggi (penting) daripada sebelumnya. Masuk penjara sudah konsekuensi dari kode etik mereka. Ck ck ck...

Kalo gw melihat kehidupan si kepala gangster, dia itu memiliki dua sisi. Satu, manusiawi saat bersama keluarganya. Dua, bengis saat dengan dunia kerjanya.

Gw ga tau kebenarannya dalam dunia nyata apakah memang begitu. Film itu kan cuma sebuah penggambaran. Dan menurut gw sih bukan sekedar imajinasi yang berjalan ya tapi ada sangkut pautnya dengan kenyataan sebagai rujukan cerita. Setuju?

Eh, di Indonesia gini ada ga ya...

Btw, film Indonesia temanya love ato hantu mulu ya... yang action apa ya? Ato gw yang ga update kayanya nih...


Picture credit to the rightful owner
Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

4 komentar:

  1. waaahhh harus nonton nih! hahaha
    nice review anyway.

    ReplyDelete
  2. hehehe jadi sebenernya suka korea-nya ato gangster-nya?

    well, selamat nonton yah! ^^

    ReplyDelete
  3. yang maen lee min ho y ..?

    ReplyDelete

leave your comment here!