Cewek Mandiri, Salahkah?



Seiring majunya jaman, semakin banyak saja cewek-cewek yang hidup mandiri. Semakin banyak cewek-cewek yang pintar, cerdas, dan berpendidikan tinggi. Seperti dalam ilmu kependudukan, terbukti bahwa pendidikan menunda usia perkawinan pertama. Yup! Jika sebelumnya seorang wanita umumnya menikah umur 16 tahun, maka dengan sekolah yang lebih tinggi maka semakin berkurangnya keinginan menikah. Sehingga mereka memutuskan menikah pada usia yang lebih matang.

Yah, fenomena yang saya amati sendiri, jika seorang cewek tidak punya aktivitas (dalam arti tidak sekolah apalagi tidak punya kerjaan), maka dia tidak punya alasan lain lagi untuk tidak menikah. Secara otomatis dan naluri, orang itu akan memilih menikah. Selain meringankan beban orang tua karena sudah ada yang menanggung kebutuhan hidupnya (jika benar maka semestinya begitu, namun tidak jarang yang masih menyusahkan orangtuanya). Ya kalau tidak menikah, apalagi yang ditunggu kan kalau jodoh sendiri sudah datang di depan mata? Bukan maksud saya berpikir sempit melainkan itulah realita kehidupan.

Dalam bahasan kali ini saya mau membahas tentang mandiri. Memangnya, apa sih definisi mandiri? Kalau menyebut mandiri sebagai 'mandi sendiri' seperti kata-kata orang yang suka berkelakar, saya pikir-pikir benar juga sih. Mana bisa disebut mandiri kan kalau mandi sendiri saja tidak bisa? hehe ;p

Mandiri tidak selalu identik dengan 'bisa melakukan segala sesuatu sendirian'. Paling tidak, itu definisi menurut saya. Sosok mandiri itu memang sosok yang tidak suka merepotkan orang lain. Jika sesuatu itu bisa dia kerjakan sendiri, kenapa mesti minta bantuan orang lain kan?

Namun, karena terlalu sering dan sudah jadi kebiasaan melakukan semuanya sendirian, jadilah lama-lama orang lain menganggap orang yang demikian tidak butuh siapa-siapa lagi. Padahal normalnya, mana ada yang seperti itu? How strong she is, right? Kalau memang tidak butuh orang lain lagi, kenapa tidak hidup sendirian saja di hutan atau di planet lain kan? Berhubung masih hidup di bumi sehingga disebut sebagai 'manusia' yang notabene makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, so, pahamilah bahwa pada dasarnya tidak ada wanita yang bisa sendirian segalanya. Wanita dengan segala yang dia punya (sepintar sekuat apapun), pasti tetap butuh orang lain kok.

Kalau dalam sebuah hubungan, bisa saja cewek-cewek itu enggan untuk mengungkapkan apa yang perlu dibantu. Bisa karena :
1. takut penolakan,
2. tidak terbiasa saja sehingga timbul pikiran is it true when i ask for his help?,
3. gengsi sehingga mulut berat sekali untuk mengucap, dsb.

Mandiri adalah hal yang baik. Ini murni opini saya. Namun buruknya, biasanya karena sosok yang mandiri itu 'lupa' bahkan 'tidak tahu' kalau ada pihak-pihak yang mau dilibatkan dalam urusannya.

Apalagi untuk suatu pasangan, karena ada 'rasa saling membutuhkan' jadilah suatu hubungan berjalan sebagaimana mestinya kan. Namun tak jarang kemandirian seorang wanita itu justru jadi batu penghancur hubungan yang sedang dijalani tersebut. Tak sedikit kasus yang terjadi. Menyakitkan memang karena menjadi independent woman menjadikan sebab hancurnya hubungan.

Hidup adalah pilihan. Siapa pun berhak memilih jalan hidup. Apa yang salah jika cewek itu mandiri? Dalam realita yang ada, ternyata di luar sana ada pihak-pihak yang merasa 'kuat' saat mereka merasa dibutuhkan. Tahu kan siapa? Nah, bukannya seorang wanita itu mau melangkahi kodratnya sebagai wanita namun hidup seseorang kan tidak selalu mulus, tidak selalu seperti putri raja yang semua keperluannya sudah disediakan, sehingga banyak cewek-cewek yang harus struggle dalam hidupnya sehingga nantinya tak ada yang meremehkannya. Ataukah kaum adam lebih suka cewek-cewek yang otaknya pas-pasan, mudah ditindas, lemah? Karena dengan demikian jadi superior?

Dengan mandiri dalam hal pekerjaan saja, maka hal ini bisa mengurangi resiko KDRT (Kekerasan Dalam rumah Tangga). Kenapa saya bilang demikian? Kenapa istri-istri yang hidupnya dibilang tersiksa (sering menerima KDRT) namun tetap bertahan dengan ikatan pernikahannya, tidak memilih bercerai saja? Karena pada umumnya mereka menggantungkan hidupnya pada suaminya. Mereka tidak mandiri secara ekonomi. Jika bercerai, mereka tidak sanggup menanggung beban hidupnya dan anaknya yang semakin tinggi saja semakin hari. Belum lagi tekanan psikologis lingkungan juga mempengaruhi.

Umumnya predikat janda itu diremehkan orang. Terkesan tidak baik. Dan soal anak pula. Anak akan menerima konsekuensi psikologis yang mau ga mau mengguncang jiwanya meski akan berkurang seiring waktu. Nah, jika mandiri secara ekonomi, maka wanita itu akan bisa cepat bertindak/memberontak untuk keselamatan dirinya. Mana ada wanita yang mau jadi bulan-bulanan pria kan? Wanita mau donk disayang, dihargai.. Semestinya pria sadar kalau mereka terlahir dari rahim wanita kan? Maka wanita adalah makhluk yang mesti dimuliakan.

Pastinya, seorang wanita yang berpendidikan tinggi maka punya pola pikir yang berbeda dibanding yang tidak. Apalagi jika dia sosok yang pintar, cerdas maka pandangannya akan dunia semakin luas. Nah, wanita-wanita seperti ini perlu penyeimbang sosok yang minimal demikian juga. 

Kenyataan di lapangan, cewek mandiri relatif menikah di usia yang sudah matang bahkan sangat matang dengan alasan mengejar karir. Biasanya, wanita-wanita pada kategori usia matang ini, nantinya akan semakin sedikit pilihan laki-laki yang menikahi mereka layaknya piramida yang mengerucut di bagian atas.

Bahkan tak jarang yang masih tetap single padahal di usianya tersebut sudah layak menimang bayi bahkan cucu. Mengapa demikian? Apakah standar mereka akan pasangan hidup terlalu tingi? Ataukah pria-pria itu takut dengan kualitas dirinya yang terlampau tinggi? Ataukah memang jodohnya tidak dipertemukan di dunia ini? Ataukah karena pernah mengalami trauma?

Hm... serba salah...Wanita juga mau donk punya penghasilan sendiri apalagi yang tinggi. Terus mereka juga mau sekolah setinggi-tingginya. Apalagi pendidikan yang layak adalah hak warga negara yang sudah diatur di pasal 31 kan?

Jadi, apa sebenernya yang ingin saya sampaikan? Yah, itu semua cuma uneg-uneg saya saja. Biasalah suka baca-baca begitu kan terus jadinya ingin komentar saja tapi kok jadi panjang kali lebar begitu... ^^ Harap maklum kalau tidak terarah...

Kadang, saya miris saja dengar kaum saya banyak yang dianiaya tapi tidak bisa keluar dari lingkaran setan yang ada. Terus tidak jarang pula kaum saya yang sukses secara karir (ekonomi) tapi tidak sukses dalam love. Fenomena-fenomena yang ada cukuplah menjadi pelajaran berharga. Tidak maksud jadi feminist!

Pada dasarnya pria dan wanita memang diciptakan serba berbeda. John Gray malah bilang kalau pria berasal dari Mars dan wanita dari venus. Pasti tak asing yah dengan pengandaian ini? Yuks... beliau yang merupakan doktor psikologi ini merangkum perbedaan pria dan wanita dalam tulisan indahnya "Men are From Mars, Women are From Venus". Menurut saya, karyanya tersebut cukup bagus buat tahu lebih banyak perbedaan-perbedaan tersebut dari sisi ilmu psikologi. I recommend this book! Bisa dibilang, saya jatuh cinta sama karya-karya beliau. ^^

Oya, mohon maaf jika amburadul memakai kata cewek dan wanita. Karena ada tuh saya baca di sebuah forum kalo cewek dan wanita itu punya arti yang berbeda. Peace! ^^

Pic credit to the rightful owner
Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

4 komentar:

  1. Hihihi,,,,, jd inget pembicaraan di Solaria sembari nunggu ujan yg g kunjung reda kemaren. Kadang heran juga ya Sep, kok bisa ada banyak cowo2 yg bernyali kecil gt, cewenya mapan dikit, ehh malah cowonya balik kanan...

    Suka degh sama istilah "independent women" tu, meski sbnrnya krg tepat jg org2 blg gt. Mw feminist gmn jg, pasti dlm hati terdalamnya tu cewe tetep butuh cowo (xixi, sok tau bgt degh gw).

    Itulah hidup... Seringkali kriteria yg menurut kita biasa kok ya dianggep "tinggi" oleh sebagian orang. Ck ck ck. Jd gmn baiknya ni Buk?! :|

    ReplyDelete
  2. yaaa begitulah kehidupan wi. mungkin jika aku diposisikan sebagai cowo, aku juga bakal berbuat hal yg sama. secara sudah bawaan kalo cowo tuh superior. mana maulah kalah dari cewenya (hadoh sok tau) ;p



    (Mw feminist gmn jg, pasti dlm hati terdalamnya tu cewe tetep butuh cowo)

    naluri seorang wanita! (halah...) ;D
    cieee dwi...




    (Seringkali kriteria yg menurut kita biasa kok ya dianggep "tinggi" oleh sebagian orang)

    karena tiap individu itu punya pola pikir (cara pandang) yg berbeda. subjektif seperti halnya kita menilai 'cantik/ganteng' pasti beda kan kalo lain mata yg liat?
    (hihi bener ga siy)

    jadi sebaiknya, gimana ya... saling menghargai opini masing2? this is the way i am and so are you... does it works honey?
    compromise...
    yg penting ga kaku aja kali ya heheheh ^^

    ReplyDelete
  3. kita memang harus berpikir "out of box" untuk membisa melihat dari banyak sisi.....

    ReplyDelete
  4. Yup! memang diperlukan wawasan yang luas untuk menilai sesuatu...

    seperti halnya sebuah buku, seseorang yang melihat bentuknya dari sisi depan pasti akan berbeda pendapat dengan orang yang melihat dari sisi samping...

    tapi ya kembali manusia punya banyak keterbatasan... dalam sekali pandang tidak mungkin bisa melihat secara keseluruhan. hihi ngomong paan siy... ^^

    ReplyDelete

leave your comment here!