Cacar di Usia Dewasa? Oh No!!!

Dua hari kemarin saya galau. Kenapa galau? Bak abege saja ya. Iya karena badan saya panas. Saya tidak tahu kenapa di hari pertama pagi-pagi (rabu) badan saya terasa ga enak. Bekerja pun jadi tidak nyaman. Apa karena tidur tidak berkualitas?

Rupanya badan saya menjadi panas. Karena ada disertai bersin, maka saya mengira ini flu. Lalu sore harinya saya minum obat flu saja. Panas reda. Langsung keluar keringat dan badan menjadi enteng. 

Kira-kira pukul empat kurang 15 menitlah sebelum shubuh saya terbangun. Ini karena badan saya panas lagi. 

"Haduh, bagaimana ini kira-kira saya kuat tidak ya besok kan saya mau puasa kamis."

Lalu saya bangun dan makan nasi (biasanya tidak pernah sahur kalau mau puasa sunnah, paling minum saja karena saya kehilangan selera makan malam-malam begitu). Saya paksa diri saya makan untuk minum obat. Oke! Setelah sholat malam, badan kembali berkeringat dan enteng kembali.

Saya berangkat ke kantor seperti biasanya. Tapi saya merasa saya tidak bergairah bekerja. Mana mati lampu berkali-kali dan sedang ada tagihan pekerjaan.

Kenapa kalau sedang puasa selalu saja begini, tidak bergairah, batin saya. Tunggu dulu! Saya tidak pernah menyalahan puasa ya. Kalau saya menyalahkan puasa lalu kenapa saya masih berpuasa? Betul tidak?

Jadi, mau saya sahur atau tidak, hasilnya kok sama. Mungkin ini lebih tepatnya. Tapi rupanya saya merasa badan saya kembali panas. Saya curiga lalu saya tanya teman di samping saya yang baru kena cacar (masih penyembuhan).

"Cacar tanda-tandanya apa ya?"

Dan saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan padahal dia baru mengalami. Haduhhhh....

Oke, saya masih berharap ini flu saja. Meski sebenarnya sudah curiga sejak pagi saya ketularan cacar karena waktu saya membilas punggung saya, saya merasa memecahkan satu buah benjolan berair. Oh no! Tapi saya menepis. Saya berkhusnuzon kalau itu jerawat!

Malam harinya (semalam) sekitar pukul setengah dua malam saya terbangun. Karena lampu dalam kondisi menyala, tersingkaplah penutup perut saya. Dan taraaaa!!! Ada 3 buah benjolan berair. Oh nooooo!!!! Saya yakin ini pasti cacar air. Batin saya tersenyum kecut, saya tertular juga. Oh Gosh :(

Saya terpikir, haduh mana hari jumat sampai minggu ini libur. Dokter buka atau tidak? Nunggu hari Senin terlalu lama.

Pagi-pagi, sudah bertambah banyak benjolan-benjolannya, perut, punggung, kepala, leher. Ya Allah, bagaimana ini? Kalau muncul semua sampai muka, alangkah ngerinya muka saya. Pasti sangat jelek. Ternyata tidak hanya jerawat yang nongol tapi juga cacar hiks.

Saya hubungi orang rumah, ibu saya bilang agar saya jangan mandi. Oh no! Sampai berapa lama? Saya kan harus kerja? Lalu beliau bilang, biarkan saja semuanya keluar. Jangan dipencet nanti membekas.

Oke Mom, saya turuti perintahmu.

Terus, saya disuruh makan telor setengah matang. Wow! Itu telor favorit saya jaman kecil dulu. Tapi telor bebek/kampung. Nah, yang saya punya telor ayam ras. Kalian pasti tahu ayam ras itu seperti apa rasanya. Kurang enak kan?

Sebenarnya saya ingin ke dokter pagi tadi, tapi saya malas keluar. Mumpung belum muncul semua maksud saya. Eh, tapi saya malah kejar deadline menulis everlasting women-nya DIVApress. Oh God, mudah-mudahan lolos. Amin. Karya ini saya selesaikan dalam waktu sekian jam dan menderita cacar. Hehe hiperbolis. Hmm, tapi peluangnya ini sangat kecil. Saya lihat update peserta per 15 Januari saja sudah 353 naskah. Wow! Hari ini adalah deadline. Masih berapa naskah lagikah yang belum masuk termasuk naskah saya? Padahal yang diambil hanya 10 naskah. Gambling banget ya saya? Mending saya ikut kompetisi lain yang peluangnya lebih besar bukan? Ah, tapi saya tidak mau ketinggalan. Setidaknya sudah mencoba meski gagal daripada tidak sama sekali. Am I right?

Ini sudah penghujung Januari 2014. Dan selama bulan Januari ini saya merasa kurang produktif menulis. Entah kenapa terasa sulit memulai. Mungkin karena terlalu lama cuti umroh dan pulang kampung. Lalu ditambah insiden ketinggalan kunci di Lampung lalu menumpang seminggu di kos teman yang kena cacar hingga akhirnya saya kena cacar juga. Ya Allah, apa salah hamba...

Astaghfirullahal'adzim...

Tapi saya senang menghasilkan tulisan tadi meski tidak tahu hasilnya. Ternyata saya bisa meski kebut sepagi saja. Mungkin karena idenya sudah ada ya tinggal dipoles-poles saja. Hehehe

Memang menulis itu butuh konsentrasi/fokus, serta pikiran dan suasana yang tenang. Setidaknya itulah menurut saya.










Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!