Doa Kehilangan Barang
Sumber: https://www.doaharianislami.com/2019/04/doa-saat-kehilangan-barang-agar-bisa-kembali.html?m=1
semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti
Pernahkah kamu merasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba dihantam oleh kenangan yang sudah bertahun-tahun lalu? Mengapa luka yang lama masih terasa seolah baru kemarin?
Waktu memang bisa menyembuhkan banyak hal, tapi tidak semua luka hilang tanpa bekas. Ada luka-luka yang tetap tinggal bukan karena kita lemah atau gagal move on melainkan karena luka itu menyentuh bagian terdalam dari diri kita. Luka lama seringkali berhubungan dengan identitas, harga diri, cinta pertama, atau harapan besar yang tak jadi kenyataan. Maka wajar jika jejaknya masih ada.
"Beberapa luka tidak ingin disembuhkan; mereka hanya ingin dikenali."
— Yasmin Mogahed
Kita cenderung menekan atau mengabaikan rasa sakit dari masa lalu, berharap waktu akan menghapusnya. Tapi nyatanya, luka yang tidak diberi ruang untuk sembuh dengan utuh justru mencari celah untuk muncul kembali. Ia bisa muncul lewat mimpi, lewat percakapan sederhana, lewat lagu yang tidak sengaja terdengar di kafe. Dan setiap kali itu terjadi, kita diingatkan bahwa rasa itu belum benar-benar pergi.
"Luka adalah bukti bahwa kita pernah mencintai begitu dalam hingga meninggalkan jejak."
— Nayyirah Waheed
Luka lama menyisakan rasa karena ia menyimpan cerita yang belum selesai. Kadang, kita tidak hanya terluka karena apa yang terjadi, tapi karena kita tak pernah diberi kesempatan untuk mengerti mengapa itu terjadi. Kita memendam tanya, kecewa, bahkan kemarahan yang tidak pernah tersampaikan. Luka-luka itu menjadi pintu-pintu yang belum kita buka, dan setiap kali kita menyentuhnya, rasa lama itu kembali hidup.
"Bukan waktu yang menyembuhkan luka, melainkan bagaimana kita berdamai dengan cerita di balik luka itu."
— Anonim
Rasa yang tersisa adalah bentuk dari keterikatan emosional yang belum selesai. Kita bisa menyibukkan diri, membuat jadwal padat, tertawa di hadapan orang lain, tapi hati tetap tahu mana luka yang belum selesai diceritakan. Dan semakin kita menolak mendengarkannya, semakin kuat ia mengetuk dari dalam. Bukan untuk menyakiti kita, tapi untuk diakui bahwa: "aku ada."
Luka yang menyisakan rasa tidak harus selalu dilihat sebagai kelemahan. Kadang, justru dari luka-luka itu kita belajar tentang batas, tentang harapan yang patah, tentang diri yang pernah kehilangan, dan tentang bagaimana bertahan saat dunia terasa runtuh. Luka bisa menjadi tempat kembali untuk memahami: kenapa kita menjadi seperti sekarang ini.
Dan mungkin, luka lama tetap terasa karena ada versi diri kita di masa lalu yang masih menunggu untuk dipeluk—bukan dihakimi, bukan dilupakan, hanya dipeluk.
Pertanyaan reflektif untukmu hari ini:
- Luka apa yang masih menyisakan rasa dalam dirimu?
- Jika kamu duduk bersama luka itu hari ini, apa yang ingin kamu katakan padanya? Dan apa yang ingin ia sampaikan padamu?
Lanjut ke posting berikutnya...
34. Apa yang Sebetulnya Ingin Dikatakan oleh Kesedihan Kita?
Pernahkah kamu duduk bersama rasa sedihmu, bukan untuk mengusirnya, tetapi untuk mendengarkannya? Jika iya, apa yang kamu dengar?
Kesedihan bukan hanya beban yang harus segera dibuang. Ia adalah pesan yang perlu diurai. Kita sering terlalu sibuk mencoba "melupakan" dan "move on", sampai lupa untuk mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh perasaan itu. Padahal, emosi tidak datang tanpa alasan. Kesedihan adalah suara lembut yang sering kali kita bisukan karena takut akan apa yang mungkin kita temukan di baliknya.
Kadang, kesedihan datang untuk memberitahu kita bahwa ada luka yang belum sembuh. Kadang ia hadir karena kita terlalu lama menahan diri dari menangis, dari kecewa, dari jujur pada kenyataan yang tak sesuai harapan. Kesedihan adalah bentuk komunikasi dari jiwa yang butuh dipeluk, bukan ditolak. Ia mengajak kita melihat ke dalam, bukan lari keluar.
"Kesedihan adalah cara jiwa memanggil kita pulang—ke dalam diri sendiri."
— Clarissa Pinkola Estés
Kesedihan bisa juga menjadi sinyal bahwa kita sedang kehilangan sesuatu: seseorang, impian, arah, atau bahkan diri kita sendiri. Saat hidup berjalan terlalu cepat, kita cenderung mengabaikan kebutuhan emosional kita. Tapi kesedihan tahu bagaimana cara menghentikan kita dengan perlahan, diam-diam, tapi pasti. Ia membuat kita merenung, berpikir ulang, dan bertanya: apa yang sebenarnya penting bagiku?
"Terkadang air mata yang jatuh bukan karena kelemahan, tapi karena hati akhirnya berkata sesuatu yang tak bisa disuarakan dengan kata-kata."
— Anonim
Mungkin kita mengira bahwa dengan menghindari kesedihan, kita sedang melindungi diri. Padahal, justru di situlah kita kehilangan banyak hal: koneksi dengan diri sendiri, kepekaan terhadap rasa, bahkan keberanian untuk berubah. Menolak mendengarkan kesedihan sama seperti menolak melihat bagian dari diri kita yang paling membutuhkan kasih sayang. Tidak semua luka harus segera sembuh, tetapi semua luka ingin dimengerti.
"Kesedihan adalah jendela yang mengajarkan kita cara melihat ke dalam hati."
— Haruki Murakami
Ketika kita benar-benar membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan, bukan untuk menyerah tetapi untuk belajar, kita akan menemukan hal-hal yang tak pernah terungkap saat semuanya baik-baik saja. Kita menemukan ingatan yang terlupakan, pengharapan yang lama terkubur, dan sisi rapuh diri yang selama ini menunggu untuk diterima. Mungkin, kesedihan tidak datang untuk menghancurkan kita. Ia datang agar kita bisa membangun diri kembali dengan lebih jujur.
Kesedihan adalah ruang untuk beristirahat dari kepura-puraan. Ia memanggil kita untuk jujur, untuk hadir sepenuhnya, dan untuk merawat bagian yang terluka dengan kasih, bukan dengan penyangkalan.
Pertanyaan reflektif untukmu hari ini:
- Apa yang selama ini ingin disampaikan oleh kesedihanmu, namun belum sempat kamu dengarkan?
- Jika kamu memberi waktu untuk duduk bersama kesedihan itu, emosi atau kenangan apa yang muncul ke permukaan?
Lanjut ke posting berikutnya...
Apa yang membuatmu menahan air mata ketika sebenarnya hatimu sedang ingin pecah? Apakah karena kamu takut terlihat lemah, atau karena dunia tak memberi ruang untuk orang yang menangis?
Air mata adalah salah satu ekspresi emosi paling tulus. Ia tak bisa dipalsukan, tak bisa dikendalikan seutuhnya. Namun, begitu banyak dari kita yang justru memilih menyembunyikannya. Kita buru-buru menyeka pipi sebelum ada yang melihat. Kita mengalihkan pandangan, tersenyum kecil, dan berkata, “Enggak apa-apa,” meski di dalam hati terasa sebaliknya. Seolah tangisan harus dikurung di tempat tersembunyi—hanya boleh hadir dalam sunyi.
Kita hidup dalam budaya yang menjunjung citra kuat, tabah, dan tahan banting. Tangis sering disamakan dengan kelemahan, dengan kurangnya kendali atas diri sendiri. Tak heran, banyak dari kita belajar untuk membungkam perasaan. Kita diajarkan untuk tetap tenang, tetap “profesional”, tetap bersikap seolah tidak ada apa-apa, meski hati sedang retak. Di ruang publik, kita berpura-pura tegar; di ruang pribadi, kita baru berani runtuh.
Namun, menyembunyikan tangis tidak membuat luka hilang. Ia hanya membuat perasaan semakin tertekan, seolah emosi adalah sesuatu yang memalukan. Padahal, menangis adalah salah satu cara tubuh dan jiwa menyelamatkan diri. Tangis adalah pengakuan jujur: bahwa ada yang terasa, bahwa ada yang mengganggu, bahwa kita masih punya ruang untuk peduli.
"Air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa kamu cukup berani untuk merasakan."
— Anonim
Bayangkan jika kita tidak perlu lagi malu saat air mata menetes. Jika kita bisa berkata, “Aku sedang sedih,” tanpa harus menjelaskan panjang lebar atau buru-buru menenangkan orang lain yang tak nyaman melihat kita menangis. Mungkin dunia akan menjadi tempat yang lebih empatik. Tempat yang memberi ruang aman bagi manusia untuk jadi manusia—dengan tawa dan tangis, dengan kekuatan dan keretakan.
Tangis yang dibagikan tak selalu melemahkan. Ia bisa mempererat. Ada keintiman yang lahir dari momen ketika dua manusia saling memahami luka. Menangis di depan orang lain adalah tanda bahwa kita mempercayai mereka. Kita membiarkan diri terlihat tanpa perlindungan. Dan di situlah letak keberanian itu.
Jika kita terus menyangkal kebutuhan untuk menangis, kita juga menyangkal hak kita untuk sembuh. Air mata tak selalu harus dijelaskan. Kadang, ia hanya ingin hadir, menyapu lelah, dan lalu pergi dengan tenang. Mungkin, dengan membiarkan diri menangis hari ini, kita sedang memberi diri kesempatan untuk lebih kuat esok hari—bukan dengan memaksakan senyum, tapi dengan memeluk perasaan yang nyata.
Lanjut ke posting berikutnya...
Apa yang kamu takuti dari kesedihan? Apakah kamu benar-benar memberi ruang bagi hatimu untuk merasakan, atau kamu hanya berpura-pura tegar agar dunia tak khawatir?
32. Apakah Kesedihan Benar-benar Harus Dihindari?
Sejak kecil, kita diajarkan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang buruk. Jangan menangis. Jangan lemah. Jangan terlalu lama larut. Padahal, kesedihan adalah bagian dari spektrum emosi manusia yang paling jujur. Ia muncul bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengingatkan bahwa kita sedang merasakan sesuatu yang berarti. Sesuatu yang pernah hadir dan kini hilang. Sesuatu yang penting, yang pernah memberi makna.
Lantas, mengapa kita begitu takut padanya? Mungkin karena kesedihan membuat kita merasa tak berdaya. Mungkin karena di dunia yang menuntut produktivitas, kita diajarkan untuk selalu terlihat kuat dan "baik-baik saja". Namun, menolak kesedihan justru memperpanjang rasa sakit itu sendiri. Perasaan yang ditekan tidak hilang—ia hanya mengendap, menumpuk, dan suatu saat bisa pecah tanpa peringatan.
Kesedihan bukan musuh. Ia adalah proses. Ia adalah jalan pulang menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri. Di dalam kesedihan, ada ruang untuk belajar melepaskan. Ada ruang untuk bertumbuh. Ada ruang untuk menata ulang harapan yang mungkin sebelumnya dibangun di atas landasan yang rapuh.
Menghindari kesedihan berarti menolak separuh dari kemanusiaan kita. Dan barangkali, justru dengan mengizinkan diri untuk bersedih, kita sedang memberi izin untuk benar-benar sembuh.
"Kesedihan bukanlah kelemahan. Ia adalah bentuk paling murni dari cinta yang kehilangan tempatnya."– Anonim
Sering kali, justru dalam momen paling gelap, kita mulai melihat cahaya dengan cara yang berbeda. Kesedihan membuka pintu-pintu batin yang selama ini terkunci oleh kesibukan, oleh tawa yang dipaksakan, atau oleh topeng yang kita kenakan setiap hari. Di dalam kesedihan, kita belajar menjadi jujur: bahwa kita rapuh, bahwa kita butuh, bahwa kita manusia. Tak ada yang lebih indah dari kejujuran itu, meski menyakitkan. Ia adalah keindahan yang hening.
Kita juga sering melupakan bahwa dari kesedihan orang lain, empati lahir. Kita mengenali duka bukan hanya karena kita pernah mengalaminya, tapi karena kita mampu merasakannya kembali bersama orang lain. Kesedihan membuat kita lebih manusiawi. Ia mengikis keangkuhan dan mengingatkan bahwa setiap orang membawa beban yang tak terlihat. Maka, kesedihan tidak perlu disingkirkan—ia perlu dipahami, dirawat, dan diberi ruang untuk diselesaikan.
Dengan membiarkan diri merasakan sedih, kita sedang membangun jembatan menuju pemulihan. Kita sedang memberi tubuh dan jiwa kita kesempatan untuk pulih dengan alami. Tidak ada tenggat waktu untuk sembuh. Tidak ada ukuran pasti kapan harus berhenti menangis. Yang ada hanyalah perjalanan yang perlahan membawa kita kembali pada harapan—bukan dengan memaksakan bahagia, tapi dengan memahami bahwa bahagia yang dalam adalah hasil dari keberanian untuk bersedih.
Lanjut ke posting selanjutnya...
Ada malam-malam ketika kita merasa sepi padahal tidak sedang sendiri. Ada sore yang hening meskipun di tengah keramaian. Rasa sepi itu datang, menyelinap diam-diam tanpa aba-aba, seperti angin yang menelusup ke celah jendela yang terbuka. Tidak ada peristiwa besar yang memicunya. Tidak ada kehilangan, tidak ada kata perpisahan. Hanya ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa begitu luas di dalam dada.
Mengapa rasa sepi bisa datang tanpa sebab? Barangkali karena sepi bukan hanya tentang ketiadaan orang di sekitar kita, tetapi tentang jarak yang tumbuh diam-diam di dalam batin. Barangkali karena tubuh kita ada di sini, tetapi jiwa kita sedang mengembara ke tempat lain—ke kenangan yang belum selesai, ke harapan yang belum tercapai, atau ke luka yang belum benar-benar sembuh.
Sepi bisa menjadi cermin. Ia memperlihatkan apa yang selama ini kita tutupi dengan tawa dan kesibukan. Ia mengingatkan bahwa ada bagian dari diri kita yang sedang menanti untuk diajak bicara. Sepi bisa datang sebagai pertanda bahwa kita butuh jeda—untuk mendengarkan diri sendiri, untuk bertanya hal-hal yang selama ini kita abaikan: Apakah aku bahagia? Apakah aku jujur dengan diriku sendiri? Apakah aku lelah?
Kita sering menyalahkan sepi, padahal ia hanya ingin memberi ruang. Sepi bukan musuh, melainkan pesan. Barangkali bukan tanpa sebab ia datang—ia hanya datang tanpa alasan yang bisa kita terjemahkan dengan logika. Ia datang karena jiwa kita memanggil, dengan bahasa yang hanya bisa didengar dalam diam.
Ada pula kemungkinan bahwa sepi adalah warisan bawah sadar dari pengalaman kita terdahulu. Mungkin ada trauma kecil yang tak pernah kita sadari, atau luka yang tidak kita akui, yang perlahan membentuk kebiasaan batin untuk merasa sendiri bahkan ketika tidak. Pikiran kita bisa saja telah belajar untuk mengasosiasikan momen tenang sebagai sinyal bahaya, karena di masa lalu, ketenangan pernah menjadi ruang munculnya rasa kehilangan.
Kadang, rasa sepi muncul sebagai pertanda bahwa kita sedang berada di persimpangan hidup, bahwa ada keputusan yang belum dibuat, atau bahwa kita sedang jauh dari makna yang selama ini kita kejar. Ia bisa jadi panggilan sunyi dari jiwa untuk kembali kepada sesuatu yang benar-benar penting—bukan hanya pencapaian, tapi juga koneksi, bukan hanya kebisingan, tapi juga keintiman.
Menerima kehadiran sepi bukan berarti menyerah pada kesendirian, melainkan berdamai dengan diri sendiri. Sebab, bisa jadi, rasa sepi yang datang tanpa sebab itu sebenarnya adalah cara semesta mengajak kita pulang—kepada diri kita yang sesungguhnya.
"Sepi bukan berarti tidak ada siapa-siapa, tapi saat kau tak lagi mengenali dirimu sendiri." – Anonim
Halo sobat, di edisi 1000 posting saya ingin memberi hadiah buat kalian. Hadiah apa nih? Bukan uang bukan emas bukan pula berlian. Nah berhubung kalian sudah mampir ke blog saya karena mencari novel romantis. Saya akan posting tentang review novel romantis. Dan ini ternyata sudah lama banget saya tidak review novel. Padahal kebanyakan readers saya ke sini karena novel berjudul Marriage Most Scandalous yang saya posting 2008. Wah ga nyangka banget masih saja eksis dicari sampai sekarang. Jadi simak terus blog ini ya. Bakal ada deretan novel romantis yang saya review. Asyik!
Pilihan pertama saya adalah Beautiful Bastard oleh Christina Lauren. Kenapa saya pilih ini? Karena novel ini menyuguhkan cerita romantis. Dengan sudut pandang pria dan wanita jadi kita bisa tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan kedua belah pihak dalam novel tersebut. Ceritanya di seputaran kantor. Enemy to lovers gitu loh guys. Gimana? Tertarik? Tapi ingat ini untuk 18+ ya. Sebelum membaca silahkan baca review saya dulu. Suka tidak suka silahkan putuskan nanti.
"Ketika gairah dan amarah bertabrakan di ruang rapat."
Sobat, coba kamu bayangkan bekerja keras demi masa depan, tapi eh hanya untuk harus menghadapi atasan yang meskipun sangat tampan tapi juga sangat menyebalkan. Aduh, ga bisa bayangin nih kakak... ga pernah ketemu yang begitu di dunia nyata. :)
Chloe Mills tahu persis rasanya. Ia bukan gadis lemah yang mudah tunduk. Ia cerdas, terorganisir, dan sangat berdedikasi. Tapi setiap kali harus berhadapan dengan Bennett Ryan, atasan barunya yang arogan dan terlalu sempurna untuk dunia nyata, semua prinsipnya berguncang. Bukan karena takut. Tapi karena ketegangan yang aneh, panas, dan tak bisa dihindari itu... terus muncul.
Bennett Ryan adalah pria yang bisa membuat siapa pun gemetar baik karena pesonanya, maupun karena ketidaksabarannya. Tapi justru Chloe yang berhasil membuatnya hilang kendali. Perdebatan demi perdebatan, sindiran demi sindiran, semuanya seperti semacam tarian menggoda yang akhirnya pecah menjadi sesuatu yang lebih... eksplosif.
Dan inilah kekuatan Beautiful Bastard: ia tidak memberi jeda untuk pembaca bernapas. Setiap bab mengalir cepat, panas, dan memikat. Chemistry Chloe dan Bennett sangat nyata, hingga kamu bisa merasakannya membara di setiap halaman. Tapi novel ini lebih dari sekadar kisah erotis. Ia adalah cerita tentang dua pribadi kuat yang mencoba mendominasi satu sama lain di ruang kerja, di tempat tidur, dan akhirnya, dalam hati masing-masing.
Christina Lauren menulis dengan gaya yang tajam, cerdas, dan menggoda. Dialognya terasa hidup. Adegan-adegan romantis (dan erotis) dikemas dengan intensitas tinggi, tapi tetap ada ruang bagi emosi dan konflik batin yang membuat cerita ini terasa nyata. Chloe bukan wanita yang mudah jatuh cinta, dan Bennett bukan pria yang mudah melepaskan kendali. Tapi justru itulah yang membuat hubungan mereka tak bisa ditebak.
Membaca Beautiful Bastard seperti naik rollercoaster: cepat, menegangkan, memabukkan dan kamu tidak akan mau turun sebelum selesai.
Jika kamu pencinta trope Enemies to Lovers, suka kisah cinta yang intens di lingkungan kerja, dan ingin karakter utama perempuan yang tahu cara melawan sekaligus mencintai, buku ini bisa jadi candu barumu.
Rating: 4.5/5
Tropes: Enemies to Lovers, Office Romance, Alpha Male, Mutual Obsession
Steam Level: Panas dan konsisten
"Bennett Ryan may be a beautiful bastard, but he’s the kind you won’t forget."
Peringatan: Jangan baca di tempat umum kalau kamu mudah memerah karena adegan panas. Atau... justru bacalah dan biarkan semua orang bertanya kenapa wajahmu bersinar. :)
Pesan
Novel ini memberi pesan yang sangat kuat tentang hubungan yang penuh gairah dan dinamika antara dua orang yang saling tertarik tetapi sulit untuk saling percaya. Cinta bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang bagaimana dua orang yang berbeda bisa saling mengerti, berkompromi, dan belajar satu sama lain.
Dalam Beautiful Bastard, Chloe dan Bennett mengajarkan kita bahwa meskipun awalnya penuh tantangan dan pertentangan, cinta sejati datang ketika kita membuka hati dan memberi kesempatan pada diri kita untuk mencintai, bahkan ketika itu terasa sulit. Cinta tidak selalu mudah, tapi dengan kesabaran dan ketulusan, itu bisa menjadi perjalanan yang penuh gairah dan kebahagiaan.
Penutup:
Seri Beautiful ini ada 10 ya Sobat. Wah puas banget deh pokoknya kalau kamu baca semuanya karena ada 10. Ceritanya beda-beda tapi masih ada 2 tokoh utamanya sampai akhirnya menikah. Yay!
Yang sama dari 10 novel ini adalah tak lain dan tak bukan cerita yang hot hot pop. Uhuy. Kamu pecinta romance yang dibumbui cerita dewasa ya cocok banget baca seri ini. No offense ya guys selera orang kan beda-beda. Dan di sini saya hanya memberi review. Saya mencoba objektif dan netral. Kalau kamu tertarik silahkan dibaca semuanya. Kalau pun tidak misalnya. Ih apaan sih cerita begituan. Ya sudah tak mengapa juga. Tinggal skip aja. Gampang kan? Karena ini novel bahasa Inggris, itung itung lumayanlah buat melatih reading.
Berikut adalah daftar lengkapnya:
Beautiful Bastard (2013)
Kisah Chloe Mills, seorang intern ambisius, dan Bennett Ryan, bosnya yang tampan namun menyebalkan.
Beautiful Bitch (2013) – Novella
Melanjutkan kisah Chloe dan Bennett setelah Beautiful Bastard.
Beautiful Stranger (2013)
Menceritakan Sara Dillon yang mencoba melupakan masa lalunya dan bertemu dengan Max Stella di New York.
Beautiful Bombshell (2013) – Novella
Mengisahkan akhir pekan liar para pria dari seri ini.
Beautiful Player (2013)
Kisah Hanna Bergstrom yang meminta bantuan Will Sumner untuk membantunya menjalani kehidupan sosial.
Beautiful Beginning (2013) – Novella
Menjelang pernikahan Chloe dan Bennett.
Beautiful Beloved (2015) – Novella
Menceritakan kehidupan Max dan Sara setelah kelahiran anak mereka.
Beautiful Secret (2015)
Kisah Ruby Miller dan Niall Stella dalam perjalanan bisnis ke New York.
Beautiful Boss (2016) – Novella
Melanjutkan kisah Will dan Hanna setelah Beautiful Player.
Beautiful (2016)
Novel terakhir yang menggabungkan semua karakter dari seri ini.
Mau lanjut ke review Beautiful Bitch, buku berikutnya dalam seri beautiful? Tunggu posting berikutnya ya...
Kalau mau download silahkan klik tombol di bawah ini ya. Kamu boleh komen di kolom komentar apakah ceritanya sesuai ekspektasimu? Apakah kamu suka? Jika banyak yang suka saya lanjut ke seri berikutnya.. silahkan komen ya. Kalau ada minimal 10 saja yang komen saya baru lanjutkan ya... :)
Halo Sobat apa kabarmu hari ini? Saat ini Jakarta lagi terasa dingin. Walau sekarang ini sudah masuk musim panas tapi malah hujam tiap hari. Alhamdulillah ya karena Jakarta jadi adem. Tapi suasana jadi gloomy. Tak ada sinar matahari hanya mendung.
Ok kali ini aku mau membahas tentang yang aku alami. Ini tentang cara berpikir yang lurus-lurus saja. Terkadang suka heran dengan orang lain yang kok kepikiran ini itu kok aku nggak ya. Jadi penasaran sendiri.
Yuk simak...
Kadang aku iri dengan orang yang bisa memikirkan berbagai kemungkinan, punya imajinasi liar, atau selalu punya ide “di luar kotak”. Sementara aku? Otakku cenderung berpikir lurus. Teratur. Langsung ke inti. Rasanya seperti sudah default setting dan aku tak tahu harus senang atau justru merasa terbatas.
1. Aku Terlatih untuk Efisiensi, Bukan Eksplorasi
Sejak kecil, aku terbiasa dengan hal-hal yang jelas: pertanyaan punya jawaban, masalah punya solusi, langkah punya tujuan. Lingkungan dan pendidikan membentukku untuk berpikir praktis. Tak banyak ruang untuk berandai-andai, atau menabrak pakem.
2. Logika Selalu Menang
Aku cenderung mencari alasan logis untuk semua hal. Bahkan saat menulis, merencanakan sesuatu, atau bertindak, aku ingin semuanya masuk akal. Imajinasi sering kalah dengan logika. Bukan karena aku tak bisa bermimpi, tapi karena aku takut tersesat di sana.
3. Mungkin Aku Takut Gagal, Jadi Memilih Jalur Aman
Berpikir lurus adalah cara aman untuk hidup. Tak ada belokan tajam yang bisa bikin jatuh, tak ada kejutan yang menyakitkan. Tapi kadang aku sadar, terlalu aman justru membuat hidup terasa datar.
4. Tapi Bukan Berarti Aku Tak Bisa Berubah
Setiap hari aku belajar mengenali bahwa berpikir lurus bukan kelemahan, tapi fondasi. Mungkin aku hanya perlu membuka sedikit ruang di kepala dan hati, untuk mencoba hal yang tak biasa. Sedikit melawan arus. Sedikit kacau. Dan sedikit berani.
Penutup: Lurus Itu Bukan Salah, Tapi Jangan Lupa Sesekali Menoleh
Otakku mungkin berjalan di garis lurus, tapi dunia tidak. Kadang, keindahan justru ditemukan di jalan memutar, di tikungan yang tidak terduga. Jadi mungkin bukan soal mengganti cara pikir, tapi memberi diri izin untuk sesekali keluar dari garis dan melihat, siapa tahu di luar sana ada versi diriku yang belum sempat aku kenal.
Bagaimana sobat? Apakah kamu orang yang berpikir lurus-lurus saja? Tenang sobat kamu ga sendiri kok. Sebenarnya ini berkah atau bukan ya? Hehe
Kita sampai di sini dulu. Lanjut ke posting berikutnya...
Terkadang, aku lupa bagaimana semuanya dimulai.
Di suatu malam tahun 2007, dengan koneksi lambat di warung internet, aku menulis satu paragraf. Satu kalimat, lalu kalimat lainnya. Tak pernah kukira, belasan tahun kemudian, akan ada 999 cerita yang mengikutinya.
Blog ini bukan tempat untuk menjadi siapa-siapa. Ia lahir dari keinginan untuk berbicara tanpa banyak suara. Untuk bercerita tanpa harus tampil. Untuk menulis tanpa perlu dikenal. Dan nyatanya, justru dari ketidaktahuan itu, cerita-cerita ini menemukan pembacanya sendiri.
Tanpa promosi. Tanpa sorak. Tanpa panggung.
Hanya lewat mesin pencari yang membawa kalian kemari—entah karena kata kunci yang tak sengaja kalian ketik, atau mungkin karena semesta tahu kalian butuh membaca sesuatu.
Hari ini, aku menulis postingan ke-1000. Rasanya seperti menulis di sebuah dinding kosong, tapi entah mengapa aku tahu kalian masih di sana. Membaca. Diam-diam, tapi hadir.
Untuk kalian yang sudah mengikuti sejak lama—terima kasih. Untuk kalian yang baru tiba—selamat datang. Untuk kalian yang tak sengaja tersesat di sini—mungkin memang harus begitu.
Tak ada perayaan besar. Tak ada foto. Hanya tulisan ini.
Sebuah titik, tapi bukan akhir.
Waktu itu, aku tidak punya niat muluk. Tidak berpikir akan punya pembaca, apalagi mencapai angka seperti ini. Aku hanya ingin menulis. Menyimpan sesuatu. Mencatat fragmen perasaan dan pikiran yang terus berdesakan di kepala.
Tulisan-tulisan awalku sangat sederhana—kadang hanya beberapa paragraf pendek, kadang curahan hati yang tidak tentu arah. Aku menulis untuk diriku sendiri. Bukan untuk popularitas. Bukan untuk validasi. Hanya untuk melepaskan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan suara.
Lalu waktu berjalan. Satu demi satu tulisan terbit, tanpa strategi, tanpa target SEO, bahkan tanpa tahu apakah ada yang membaca. Aku hanya terus menulis. Dalam sunyi. Dalam diam. Hingga pada suatu titik, aku mulai sadar bahwa ada jejak-jejak kaki samar yang datang dan pergi.
Mereka datang dari Google—mencari sesuatu yang tak sengaja kutulis.
Dan sejak saat itu, aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Blog ini tumbuh bersamaku.
Tahun-tahun berganti, hidupku berubah, cara pandangku berubah, dan gaya tulisku pun ikut berubah. Dulu aku menulis dengan alay, sekarang kadang lebih lugas. Dulu aku suka menyembunyikan maksud, sekarang aku belajar untuk lebih jujur. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah niatku menulis: aku ingin terus menghadirkan cerita—baik yang nyata maupun fiktif—yang mungkin bisa menyentuh seseorang di luar sana.
Lambat laun, satu genre mulai menonjol di blog ini: review novel dewasa romantis.
Bukan semata karena kontennya yang memang asyik, tapi karena di sanalah aku merasa bebas mengeluarkan apa yang ada di otakku. Menyampaikan sisi gelap, rapuh, dan kadang keliru dari manusia dalam sebuah review, tanpa harus menjelaskan atau membenarkan. Aku tidak pernah menyangka bahwa justru tulisan-tulisan itulah yang paling banyak dikunjungi, paling sering dibaca ulang, dan paling lama bertahan di hasil pencarian.
Aku tidak pernah mempromosikan blog ini. Tidak pernah share di media sosial. Tidak pernah menyebutkannya di dunia nyata. Semuanya berjalan karena satu hal: tulisan itu sendiri.
Dan hari ini, setelah 17 tahun berjalan, aku menulis postingan ke-1000.
Aku masih menulis dengan blog yang sama. Masih di Blogspot. Masih tanpa sorotan. Tapi aku tahu, tulisan-tulisanku sudah menemani banyak orang—dalam senyap, dalam malam yang hening, dalam momen-momen paling pribadi.
Aku ingin bilang: terima kasih.
Untuk kalian yang diam-diam membaca. Yang tersesat lalu betah. Yang mengutip diam-diam. Yang mungkin tidak pernah meninggalkan komentar, tapi selalu kembali. Terima kasih.
Aku tidak tahu sampai kapan blog ini akan terus berjalan. Tapi hari ini, aku tahu satu hal: menulis telah menjadi bagian dari hidupku. Bukan sekadar aktivitas, tapi cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitarku.
1000 tulisan bukan akhir. Hanya sebuah titik. Titik yang menjadi jembatan menuju tulisan berikutnya.
Karena selama masih ada satu hal yang belum terucap, blog ini akan tetap hidup.
Aku tidak menulis novel. Aku tidak pernah merasa sebagai seorang “penulis besar”. Aku hanya menulis apa yang aku lihat, aku dengar, aku rasakan. Aku bercerita tentang hari yang biasa, tentang drama yang mengganggu pikiran, tentang novel yang meninggalkan bekas, tentang lagu yang entah kenapa terasa seperti sedang bicara langsung padaku.
Blog ini tumbuh tanpa peta. Tidak ada branding. Tidak ada promosi. Hanya posting demi posting. Satu per satu. Bertahun-tahun.
Dan ternyata, ada yang datang.
Ada yang membaca.
Ada yang kembali.
Postingan demi postingan, aku melihat angka-angka itu naik perlahan. 10 views. 30. 100. Bahkan tanpa aku tahu siapa mereka, dari mana asalnya, atau kenapa mereka membaca. Hanya lewat jejak Google, lewat kata kunci tak terduga, mereka tiba di sini—dan beberapa dari mereka tinggal.
Aku tidak pernah menyangka review-review ringan tentang novel, lagu, buku, atau film bisa menarik begitu banyak perhatian. Tidak pernah menyangka bahwa cerita keseharian yang menurutku biasa saja ternyata bisa terasa dekat bagi orang lain.
Mungkin karena aku tidak pernah berusaha menjadi “influencer”.
Aku hanya ingin menjadi manusia.
Blog ini bukan tempat untuk pamer. Ia rumah.
Tempat aku bisa menulis tanpa khawatir harus sempurna. Tempat aku bisa bercerita tanpa harus menjelaskan segalanya. Tempat aku menyimpan sebagian dari hidup—dan ternyata, hidup yang kecil itu tidak seremeh yang aku kira.
Hari ini, aku menulis postingan ke-1000. Bukan akhir. Tapi titik kecil yang menandai perjalanan panjang yang tidak pernah kurencanakan.
Dari 2007 hingga kini.
Dari satu paragraf iseng sampai lebih dari 1,5 juta kunjungan.
Dari tulisan tanpa niat, sampai ada yang diam-diam menunggu postingan baru.
Untuk kalian yang membaca, sekali lagi aku ingin bilang: terima kasih.
Terima kasih sudah hadir.
Sudah membaca.
Sudah ikut diam-diam menumbuhkan blog ini, tanpa aku tahu siapa kalian.
Blog ini akan terus hidup, selama aku masih punya rasa ingin bercerita.
Karena menulis, ternyata, adalah cara terbaikku untuk tidak hilang.
— Reana
Sobat, ini masih lanjutan posting sebelumnya. Yuk simak... siapa tahu relate denganmu...
Tanda-Tanda Allah Maunya Aku Selalu di Jalan yang Lurus
Ada saat-saat dalam hidup ketika aku merasa langkahku mulai goyah. Keinginan dunia mulai menggoda, egoku mulai mendominasi, dan aku mencoba berjalan ke arah yang berbeda dari apa yang aku yakini sebagai kebaikan. Tapi entah bagaimana, setiap kali aku menyimpang, Allah seperti langsung menarikku kembali. Tegas. Cepat. Kadang menyakitkan.
Dulu aku mengira itu semacam hukuman. Tapi makin ke sini, aku mulai sadar: mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan bahwa Dia tidak ingin aku jauh dari-Nya. Mungkin, ini cara-Nya berkata: "Aku sayang kamu. Tetaplah di jalan yang lurus."
1. Gagal Saat Berniat Salah
Setiap kali aku melakukan sesuatu dengan niat yang tidak bersih karena sombong, karena ingin dipuji, atau karena dengki hasilnya selalu tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan hal-hal yang biasanya mudah, tiba-tiba menjadi rumit. Aku merasa Allah sedang membelokkan arahku kembali, memaksaku bertanya ulang: Apa niatku sebenarnya?
2. Gelisah Saat Menjauh dari Ibadah
Bukan cuma urusan dunia yang kacau, tapi hatiku juga ikut gelisah. Kalau aku mulai lalai dari salat, mengabaikan doa, atau menjauh dari tilawah, rasanya hidup jadi hambar. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi dengan apapun, seolah Allah sedang berbisik: “Kembali kepada-Ku.”
3. Disadarkan Lewat Orang Sekitar
Pernah suatu waktu aku sedang dalam kondisi hampir menyerah, nyaris mengikuti godaan yang aku tahu salah. Tapi tiba-tiba saja, seseorang datang dengan nasihat, atau aku tanpa sengaja mendengar ceramah yang isinya seperti ditujukan langsung padaku. Apakah itu kebetulan? Tidak. Aku yakin itu cara Allah menjaga.
4. Dihindarkan dari Jalan yang Salah, Meski Aku Bersikeras
Pernah aku ngotot ingin sesuatu—pekerjaan, hubungan, atau keputusan yang jauh dari nilai yang aku yakini. Tapi selalu ada saja penghalangnya. Dulu aku marah. Tapi sekarang aku paham: bisa jadi Allah sedang melindungiku dari kerusakan yang tak aku lihat.
5. Mudah Menangis Saat Mengingat-Nya
Yang paling sering terjadi adalah: ketika aku kembali ke jalan lurus, hatiku terasa ringan. Bahkan hanya mendengar ayat Al-Qur'an atau menyebut nama-Nya dalam doa, air mata bisa jatuh. Mungkin itu tanda hatiku masih hidup, dan Allah tak pernah benar-benar meninggalkanku.
Penutup: Jalan Lurus Itu Bukan yang Paling Mudah, Tapi Paling Dijaga
Aku percaya, tidak semua orang mendapat "teguran cepat" ketika melenceng. Kalau aku merasakannya, mungkin itu artinya aku termasuk orang yang dijaga. Dan dijaga itu berarti dicintai.
Mungkin inilah jalan hidupku: bukan yang selalu mulus, tapi selalu diarahkan. Dan aku bersyukur untuk setiap kali Allah menarikku kembali ke jalan yang lurus walaupun caranya kadang tidak nyaman. Karena di situlah, aku benar-benar merasa dekat dengan-Nya.
Sobat, semoga posting ini bermanfaat ya... sampai jumpa...
Halo Sobat, kita ngobrol ringan aja ya. Kali ini saya mau cerita tentang hal yang saya renungi karena memang kejadian di saya bahwa saya ini tipe orang yang langsung kena hukuman Allah kalau melenceng dari jalur. Ini merupakan renungan dari beberapa kejadian di masa lalu yang membuat saya menyimpulkan bahwa kita hidup itu harus lurus-lurus saja. Karena Allah punya berbagai cara untuk membawa kita kembali atau mengingaatkan kita ke jalannya. Tapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi semua orang ya. Jadi ini hanya berdasar kisah yang saya alami. Yuk simak...
Tipe Orang yang Langsung Kena "Tegur" Tuhan Kalau Sedikit Saja Melenceng
Ada satu hal yang sering aku rasakan dalam hidup ini: aku seperti tipe orang yang langsung kena hukuman atau "teguran" dari Tuhan kalau sedikit saja berbelok dari jalan yang seharusnya.
Bukan karena aku suci atau lebih baik dari orang lain—justru sebaliknya. Aku ini manusia biasa, penuh khilaf dan keinginan yang kadang menyalahi nilai-nilai yang aku yakini sendiri. Tapi entah kenapa, setiap kali aku coba menyimpang, bahkan hanya setengah hati, seolah langsung ada sesuatu yang "menamparku" dengan keras.
Kadang tegurannya datang dalam bentuk kegagalan. Saat aku mulai melakukan sesuatu dengan niat yang salah—demi ego, demi pembuktian, atau karena iri—hasilnya selalu mengecewakan. Bukan cuma gagal, tapi juga membuatku malu pada diri sendiri.
Kadang tegurannya lebih halus: rasa gelisah yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ada alarm dalam hati yang bunyinya makin keras kalau aku tetap memaksa berjalan ke arah yang keliru. Rasanya seperti ditarik pelan-pelan kembali ke jalur yang benar, walaupun penuh luka.
Yang paling menyakitkan? Saat orang-orang terdekat ikut terdampak. Aku pernah merasakan dampak dari kesalahanku sendiri menjalar ke mereka yang tidak bersalah. Dan di situ, rasa bersalahku jadi bentuk teguran yang paling menyesakkan.
Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal: teguran itu bukan bentuk murka, tapi bentuk cinta. Mungkin ini cara Tuhan menjaga aku tetap waras, tetap rendah hati, dan tetap dekat dengan-Nya. Mungkin aku tipe orang yang tidak bisa terlalu lama jauh dari cahaya, karena sekali menjauh, aku bisa tersesat terlalu jauh.
Dan meski terkadang aku iri pada orang lain yang tampaknya bisa hidup bebas, bisa berbuat seenaknya tanpa langsung kena "balasan", aku sadar… setiap jiwa punya cara dididik-Nya masing-masing. Mungkin ini bentuk kasih-Nya yang paling jujur untukku.
Jika kamu juga merasa seperti ini—bahwa setiap kesalahanmu cepat sekali "dibayar lunas"—mungkin kamu juga termasuk orang yang disayang. Disadarkan lebih awal agar tidak terjerumus lebih dalam.
Dan mungkin, itu bukan hukuman. Itu panggilan pulang.
Lanjut ke posting berikutnya...
Cerita Awal Nonton Versi Live Action Movie Sengaja banget saya nulis ini hari ini. Gegara lagi demam donghua Jade Dynasty . Saat ini sudah m...
Subscribe To Get All The Latest Updates!