Jangan Nikah Sama Bule!




Di suatu siang saya mengobrol dengan teman kantor perempuan. Ada yang menggelitik sehingga saya bikin posting ini.

Teman: Ayuk punya pacar? (Ayuk disingkat Yuk adalah panggilan untuk perempuan lebih tua di wilayah Bengkulu/Sumsel)

Saya: Nggak. Kenapa? Mau nyariin? Cariinlah orang luar.

Teman: Ayuk maunya orang luar. Ga mau orang sini. Orang luar mana?

Saya: Luar negri bolehlah. (Jawab saya iseng. Dari dulu sih pengennya orang luar itu maksudnya luar Bengkulu yaitu Lampung biar pulang kampung ke Lampung tapi sayangnya belum ketemu-temu) 😊

Teman: Nah, nyari di mana orang luar negri di sini.

Saya: Ya siapa tahu ada turis ke Pantai Laguna. (Iseng jawab. Mana ada bule ke sana haha. Kalau Lampung Barat iya ada bule pada selancar). Catat: tempat saya kerja berbatasan Lampung bagian barat.

Teman: Ayuk mau sama bule?

Saya: Aku sih ga pernah bercita-cita. Mau orang Indonesia atau luar negri ga masalah asalkan cocok.

Teman: Aku sih ga mau sama bule. Jangan sama bule, Yuk.


Saya: Kenapa?

Teman: Bos cerita temannya perempuan cerai sama suaminya (bule). Si perempuan bilang kalau si bule kuat seks. Dia ga tahan akhirnya cerai.

Saya: Ga semuanya kali. Aku sih percaya tergantung orangnya masing-masing. 

Teman: Makanya kalau tahu begitu (ada contoh tidak baik/negatif) mending ga usah.

Saya: Jangan salah. Banyak loh wanita Indonesia yang nikah sama bule. Kita aja yang tinggal di desa ga pernah lihat fenomena itu. Makanya pikiran tertutup. Memang yang ketemunya ga baik ada. Tapi yang baik juga ga kurang. (Search ada di google banyak sobat)


Hmm, begitulah pola pikir sebagian orang yang pernah saya temui. Jika satu orang gagal, bukan berarti yang lain ikut gagal kan?  Kegagalan maupun kesuksesan, keduanya sama-sama bisa jadi pelajaran untuk orang lain. Tapi bukan berarti kita telan mentah-mentah informasi apa yang kita terima. Kita serap lalu cerna dulu. Kalau berita yang bagus sih tak masalah. Kalau dapat beritanya yang negatif-negatif, tak bagus kalau efeknya otomatis jadi tidak boleh begini begitu. Pemikiran sempit dan tidak berkembang.

Begitu pula nih saat ada kasus pesawat Air Asia hilang tanpa jejak dulu kala. Teman saya sih langsung tak mau kalau naik Air Asia. Padahal nih ya menurut saya, kalau memang ajal ya siapa yang bisa menghindar. Tak harus naik Air Asia, di mana pun berada mati juga. Sudah tertulis di lauful mahfudz. Pertanda masih perlu belajar tauhid. Ketauhidan kita masih dipertanyakan. Masih takut mati? Iya sama saya juga. Makanya dulu kala saya sempat tertohok saat gempa kuat dan saya ketakutan. Lalu bapak kos bilang, "Takut mati?" Jleb.

Menurut saya sebagian orang terlalu paranoid. Saya tahu maksudnya bagus sih untuk berjaga-jaga supaya tidak jatuh di lubang yang sama. Tapi menurut saya pemikirannya jadi sempit. Di situ ada tembok 'jangan' yang membatasi pemikirannya. 

Sejalan dengan kasus mitos dalam posting saya lalu kan. Orang-orang dengan pemikiran seperti ini yang menyebabkan mitos itu ada dan bertahan hingga generasi ke generasi. Dan saya selalu tidak setuju. Saya menentang pemikiran seperti ini.

Pemikiran saya seperti ini sudah dari kecil. Saya paling tak suka jika ada yang menggeneralisir begitu. Misal di tempat lahir saya banyak tindak kejahatan seperti begal, rampok dan sebagainya. Lalu ada orang (jawa) bilang bahwa pelakunya pasti orang Lampung. Padahal nih, orang jawa yang jahat mah tidak kurang. Contoh nyata sudah banyak. Tapi ya masih ada saja orang berpikir demikian.

Pic credit to dreamstime
Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!