Talk about Soulmate




Ketemu soulmate itu macam-macam caranya. Mau yang natural atau bukan, tak menjadi masalah yang penting hasil akhirnya ketemu soulmate juga. Mau natural atau bukan, tergantung manusianya juga. Dan memang ada orang-orang tertentu yang Allah beri kemudahan. Jalan ketemunya benar-benar takdir yang bicara. Beruntunglah iya. Tapi untuk sebagian yang lain, ada yang Allah beri ujian supaya menjadi teladan juga untuk yang lain.

Memang betul jodoh di tangan Tuhan. Tapi manusia harus berusaha, manusia yang menentukan dan memilih, tinggal Tuhan merestui atau tidaknya. Itu perkataan istri teman kantor saya dulu. Mungkin lebih tepat nasehat ya. Karena saya ini kok dilihatnya masih enjoy sendirian tidak nikah-nikah.

Memang belum ketemu soulmate-nya mau bagaimana? Mana saya ini perempuan yang kodratnya menunggu. Saya juga bukan tipe agresif. Dan sepanjang hidup saya, tak ada pria yang berani mendekati saya. Kalaupun ada, mereka mundur teratur dengan sendirinya. Saya merasa belum ketemu yang pas. Dan memang setelah saya renungi saya belum siap juga (dulu). Saya juga merenungi kenapa sulit sekali ketemu yang pas. Bukan mencari yang perfect karena saya sendiri tidak perfect. Tapi saya ini sulit menerima seseorang. Kenapa? Karena saya tidak yakin dengan orang tersebut. Karenanya benar wanita adalah penaklukan.

I need someone who can conquer me.

Saya ingin bertemu soulmate saya dengan cara yang natural. Bertemu dengan sendirinya. Memang harus sabar (extra) kalau mau cara natural (kecuali golongan yang beruntung jalannya mudah). Saya yakin bahwa soulmate saya ada. He is exist somewhere in this world. Hanya saja belum dipertemukan. Tidak tahu dia ada di belahan dunia mana. Tidak mesti di Indonesia juga mentang-mentang saya di Indonesia. Kenyataannya hingga selama 9 tahun saya bekerja belum juga saya bertemu dengannya orang Indonesia dan di Indonesia. Saya juga heran dan merasa aneh. Apanya yang salah dengan saya?
Makanya saya meluaskan pikiran saya. Bisa jadi dia (soulmate) tidak di Indonesia makanya kita tidak ketemu-temu. Jika hanya saya yang mencari tapi dia tidak atau belum, maka tidak ketemu-temu atau bisa juga ketemu tapi lama. Begitu juga sebaliknya jika hanya dia yang mencari. Nah, jika kami berdua sama-sama saling mencari kemungkinan bertemu akan lebih cepat. Logis ya?
Dan memang semestinya sama-sama punya kriteria yang dicari. Misal i am a good woman looking for a good man. And he is a good man looking for a good woman. Nah, match deh kita. Ketemu.

Kalau istilahnya Ippho Santosa, sama-sama sudah pantas. Jadi, kalau yang satu nilainya 9 sementara yang satunya lagi nilainya 7, maka yang nilainya 7 masih belum pantas bersanding dengan yang nilainya 9. Karenanya, yang nilainya 7 harus memantaskan diri supaya jadi 9. Dengan begitu, sama-sama pantas kan? Tak ada alasan lagi untuk tidak dipertemukan kan? Kan jodoh kita itu yang sekufu.

Saya merenung. Saya yang kurang baik, atau dia yang masih kurang baik? Saya yang belum siap atau dia yang belum siap? Saya temukan jawabannya nanti setelah ketemu dia.

Pernah loh waktu saya mengikuti rapat bersama Sekda (Sekretaris Daerah) mewakili bos saya di kantor pemda jaman dulu, saya berbincang-bincang ringan (chit-chat) dengan salah seorang kepala dinas. Pertanyaan umum (dan wajib) adalah status saya. Saya bilang saja sejujurnya. Kata Si Bapak itu, "Kok bisa ya lima tahun lamanya kerja di sini ga ketemu siapa-siapa."

Salah ya? Ya bisa... Kenapa tidak bisa? That was reality. I experienced it. Nothing is impossible. Apakah saya sedih dan tersinggung? No! I was not such that kind. :)

Dari dulu saya berdoa semoga dipertemukan dengan cara yang indah dan mudah, di tempat yang indah dan seseorang yang indah. 3W 1H (who when where and how) . Haha maunya serba indah ya. Terus terang saya tidak ingin asal-asalan ya karena saya mikirnya saya sudah jaga diri untuk dia seorang jadi dia juga harus demikian. Meski seiring berjalannya waktu, pemikiran itu jadi sedikit memudar. Pemikiran saya jadi semakin terbuka, tak setertutup itu. Maksud saya, jika seseorang itu pernah melakukan kesalahan di masa lalu tapi masih di ambang batas masih bisa saya maafkan, let's go! Tapi jika tak bisa saya maafkan, saya tak bisa terima dia. Masih tetap idealis? Ya, tentu! Menurunkan standar untuk beberapa hal yang tidak begitu prinsip, tidak menjadi masalah. Tapi untuk hal-hal tertentu saya tetap pada pendirian saya. It's my life.

Berikut potongan chat saya dengan seorang muslim man.

Dia : Any relationship? Any men? Any boy fr?
Saya : No
Dia : Good. I am glad. But why?
Saya : No one likes me
Dia : But you are beautiful
Saya : I just havent found the right one
Dia : Inshaallah you will get married to your husband. Dont worry. It's written.
Saya : Yes, I believe
Dia : Good. You are smart now. (Dan saya agak marah, berarti sebelumnya saya tidak pintar meski saya tahu dia bergurau) :(
Dia : Good. So, you wait for meeting your destiny

Di suatu sore, saya sempat menangis setelah sholat. Saya merenung. Sekuat apakah saya untuk menunggu. Menunggu itu ujian juga bagi saya sebagai seorang perempuan. Apakah saya cukup kuat?

A man has to be brave enough. A woman has to be strong enouh to wait.
Saya menangis merenungi kalimat itu. Am I strong enough? For almost a half of my lifespan I wait for him, but when i think i am ready, i still have to wait for him again. It's hard. But yea, I have spent my whole years passed without him. So, I know I can. 

Soulmate menurut saya adalah seseorang yang bisa membuat saya merasa yakin untuk menyerahkan diri saya kepadanya seumur hidup saya. Tak ada keraguan padanya. Dan dia adalah seseorang yang saya yakin akan membuat saya bahagia bersamanya dan pastinya bisa membuat saya jatuh cinta. Dengannya, saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik.

Langsung klik begitu ya. Layaknya gembok ketemu kuncinya. Bisa langsung nyaman (dan ada magnet) seperti sudah kenal bertahun-tahun padahal baru juga kenal. Langsung ketemu chemistry-nya. We are attracted to each other. That kind of feeling is so amazing. It feels strange but it happen. 

Apakah saya terlalu berlebihan? Selama ini itulah yang saya cari dari seorang pria. Dan saya temukan itu ada pada ....(jawabannya setelah ketemu nanti).

Selama proses pencarian saya yakin jika seseorang itu tidak baik untuk saya (bukan soulmate saya) maka Allah akan jauhkan dia bagaimanapun caranya. Mereka akan menghilang dengan sendirinya satu per satu. Dan dia yang masih tetap bertahan apapun rintangannya, maybe he is the right one for me. I believe he who is brave and keeps standing there no matter what the obstacles, he is someone i could respect with all my life.

Dan saya merasa sekali bahwa saya dipertemukan dengan orang-orang yang salah sebelum pada akhirnya dipertemukan dengan sosok yang benar (baca: soulmate saya). Dan saya petik hikmah bahwa dari orang-orang yang salah itu Allah ingin saya selalu mengambil pelajaran supaya saya siap dan kuat ketika bertemu yang benar dan menghadapi realita kehidupan. Dan proses belajar saya itu tidak sebentar karena itu pelajaran kehidupan. Siapa yang tahu tantangan kehidupan nantinya akan lebih berat sehingga perlu dipersiapkan mental lahir batin.

It's because He loves me. He cares about me. He never fails in everything. But me, as a human being often fail to understand His plans to me. 


ditulis 21 Februari 2017

Pic credit to dreamstime
Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!