Membaca Hasil Tes Darah

Gara-gara mau ikut diklat, saya jadi mengambil tes darah di rumah sakit daerah. Selain tes darah, diharuskan juga untuk rontgen. Haduh, saya sudah cemas harus rontgen loh. Ketar-ketir kenapa harus ada rontgen segala. Takut harus membuka pakaian. Takut petugasnya laki-laki. Ups! :(

Berhubung waktu sudah semakin mepet (hasil harus segera dikirim 3 hari sebelum diklat), akhirnya saya memberanikan diri berangkat ke RSUD pada hari Senin lalu (11/8/2014). Awalnya saya mendaftar dulu di loket pendaftaran. Btw, ini pertama kalinya saya ke RSUD sini. Lalu saya disuruh ke poli umum. Di poli umum, yang saya temui adalah perawat bukan dokter. Saya ditensi dan dites buta warna lalu cek tinggi dan berat badan. Cek buta warnanya itu disuruh menyebutkan angka yang ada di gambar berwarna di bagian tengah sampai beberapa kali. Lalu disuruh mengikuti alur angka berwarna dengan jari tangan kanan. 

Setelah itu, saya disuruh ke laboratorium untuk tes darah dan ke radiologi untuk rontgen. Di laboratorium, saya langsung disambut petugasnya.

Dikira 100% CPNS

"100% ya?" tanya salah satu petugas. Dikira saya mau KIR untuk 100% CPNS. Haish apa tampang saya ini tampang CPNS yang mau 100%?

Saya digiring ke sebuah tempat dan diberi cawan kecil tempat urine (apa namanya ya) yang biasanya untuk tes narkoba.

"Bukan! Saya mau tes darah."

"Mau buat apa?" tanyanya. Karena setau mereka biasanya KIR itu pakai tes narkoba untuk 100% tadi.

"Diklat PIM IV," jawab saya.

Lalu kertas rujukan yang berisi biodata saya diminta.


4 petugas 5 tusuk

Oke! Saya langsung disuruh duduk. Petugas langsung mengambil jarum suntik serta alkohol dan kapas. Dicarinya urat saya. Pada awalnya dilihat lengan kiri saya. Rupanya uratnya sangat kecil tidak kelihatan. Lalu dilihat lengan kanan saya. Sama saja. Pindah ke tangan kanan. Sama juga tidak mengalir darahnya. Mungkin hanya dua tetes. Tapi akhirnya lengan kanan yang ditusuk jarum pertama kali. Darah hanya keluar dua tetes. Tidak mengalir sama sekali.

Akhirnya lengan kiri yang ditusuk jarum. Tau apa yang terjadi? Malah tidak keluar darah sama sekali. Sampai ditusuk-tusuk dan saya kesakitan. Haduhhh.... :(

Petugas pertama akhirnya menyerah. Datanglah petugas kedua. Lengan kiri kembali ditusuk jarum. Darah tetap sama sekali tidak keluar. 

Menyerah. Datanglah petugas ketiga. Petugas ketiga menusuk punggung tangan kiri saya. Darah mengalir tapi hanya bisa diambil 1 cc. 

Datang lagi petugas keempat menyuntik lengan kiri saya. Barulah darah mengalir lancar.

Hmm, saya tegang makanya bisa sampai ditusuk berkali-kali dan ganti-ganti petugas tidak mengalir darahnya. Baru kali ini juga sih sampai segitunya 5 kali tusuk (habis 5 bekas jarum suntik) dan empat petugas yang menyuntik. Parah... parah...

Kata petugasnya, begitu kalau orang kurus uratnya kecil ga kelihatan. :)

Selesai tes darah, saya ke ruang sebelah untuk rontgen. Alhamdulillah petugasnya perempuan. Lega.

Begitu hasil rontgen keluar, petugasnya bilang supaya saya kembali ke dokternya.

"Dokter yang mana ya? Tidak ada dokternya, saya dari poli umum tadi," jawab saya polos. Yang terlintas di otak saya, saya kan tidak sakit jadi tidak ada dokter yang menangani saya. Makanya saya bingung begitu ditanya dokternya.


Ribet oh ribet

Hasil rontgen sudah di tangan, langsung saya ambil hasil tes darah (menunggu dulu) lalu disuruh ke TU, dari TU kembali ke poli umum. Dari poli umum saya disuruh ke kasir untuk membayar. Lalu balik lagi ke poli umum buat minta tanda tangan dokter. Lalu minta cap ke TU/kasir. Haiyah ribet banget ya bolak-balik sana sini kayak setrikaan. Udah gitu, disuruh fotokopi dulu sebelum dicap kalau-kalau butuh lebih dari satu untuk cap asli. Huaaa mana ga ada fotokopian di sana. Harus keluar ke jalan raya dulu. Akhirnya hari jumat saya baru ke sana lagi minta cap ke kasir.

Saya beberapa kali ke TU lo. Salah melulu di sana. Awalnya sebelum ke poli umum saya nyasar ke TU. Lalu setelah mengambil hasil tes, saya ke TU.


Hasil tes

Untuk hasil tes darah, alhamdulillah semuanya normal. Berikut hasilnya:

Hemoglobin 14,7 
Gula darah 108 (Perempuan 76-180 mg/dl)
Asam urat 4,8 (Perempuan 2,4-5,7 mg/dl)
Kolesterol 235 (Perempuan 123-243 mg/dl)

Yang gawat adalah kolesterol ada di batas atas. Ga nyangka. Tapi syukurlah gara-gara tes ini jadi tahu. Jadi bisa jaga-jaga untuk asupan makanan. Pokonya saya langsung searching cari info seputar keempat hasil tersebut. Kalau hasilnya tinggi apa yang akan terjadi dan apa yang harus dilakukan. Rata-rata sih sarannya adalah pola makan sehat. Betul banget sih memang kita perlu tahu kandungan gizi asupan yang kita makan biar kita tetap sehat.

Kalau saya baca-baca sih, makanan yang mengandung kolesterol tinggi itu dari produk hewani sementara yang bisa menyebabkan asam urat tinggi itu dari produk nabati yang mengandung zat furin. Gara-gara kemarin kakak saya ada yang mengeluh sendi pegal-pegal dan kaki bengkak akibat asam urat, saya jadi tahu beberapa makanan yang mengandung zat furin tinggi yang mesti dihindari penderita asam urat seperti kangkung, kol, daun singkong, bayam, semua produk melinjo, kacang-kacangan, dll. Dan untuk obatnya, salah satunya adalah rumput sidaguri. 

Sedangkan hasil rontgen menyatakan paru-paru dan jantung baik. Alhamdulillah. :)

Ya Allah, senantiasa berikanlah saya dan keluarga saya juga readers blog saya kesehatan. Aamiin.

Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!