Berpikir Kreatif dan Inovatif



Dua minggu Diklat PIM IV sudah terlewati. Alhamdulillah. Banyak materi yang sudah didapat tapi masih harus berjuang mencari proyek perubahan apa yang akan saya buat. Rasanya ada sebuah batu menghimpit ketika teman-teman lain sudah disetujui coach dan mentornya sementara saya belum. Berpikir kreatif dan inovatif memang tidak mudah buat saya. :(

Materi yang paling asyik menurut saya sejauh ini adalah 'Berpikir Kreatif dan Inovatif'. Hari pertama topik ini dibawakan oleh widyaiswara (WI) utama seorang ibu-ibu yang pembawaannya asyik. Memang ya, saya rasakan beda loh WI utama mengajarnya. Saya senang diajar WI utama, tidak mengantuk karena seru. Selain karena materinya yang menarik juga pastilah WI sudah jauh berpengalaman mengajar.



Yang agak berbeda di diklat ini adalah ada instruktur yang mengajar lanjutan berpikir kreatif dan inovatif menyuruh kami membuat inovasi di luar tupoksi per kelompok lalu dibuat presentasi dan direkam dalam bentuk video. Saya yang awalnya bertugas menjadi note taker (notulen) malah akhirnya menjadi moderator dadakan (terpaksa) gara-gara menggantikan teman sekelompok yang sudah tidak lagi pakai seragam. Eh ternyata banyak orang lucu loh. Banyak ketawa banget kami di sesi ini, lumayanlah belajar malam-malam jadi ga jenuh. Jam 9 malam selesai dan kami kelaparan semuanya. Alhasil kami keluar beli makanan. Oya, instruktur materi ini jalan pikiran dan bicaranya susah ditebak dan dimengerti (paling ga ini menurut saya). Misal Sosialisasi STIS di daerah disebutnya syiar. Di awal materi menyebut kata 'berpikir kuantitatif', dll. Pokoknya saya menebak-nebak ini maksud bapaknya apa ya?

Di minggu kedua ini ada psikotes. Hmm tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Saya tidak belajar bagaimana tips and trik menyelesaikan soal-soal tersebut. Yah memang tanpa belajar pun siapa pun bisa mengerjakan kok. Cuma hasilnya itu seperti apa kita tidak tahu. Cukup isi sesuai kepribadian diri kita aja.

Di angkatan diklat ini, saya adalah peserta dari angkatan kuliah paling muda. Rasanya beda aja bareng senior-senior. Rasanya saya ingin berteriak, "I need a friend!" Sedih juga loh tidak ada teman seseruan. Pokoknya harus tough and independent lah ke mana-mana sendirian. Jangan berharap mereka mengulurkan tangan ke kita, care dsb meski kamar mereka ada di depan kita atau meski karena kita sedaerah pun. Pokoknya I can do all by myself. Toh kita sudah dewasa. Kita punya urusan masing-masing. Terdengar individualistis? Yup! Itulah hidup. Jika itu karena saya yang kurang bisa bergaul dan masuk ke mereka, maybe ada benarnya juga. Anggap saja begitu.

Oya, di minggu pertama lalu angkatan kami sempat mengadakan jalan-jalan. Tempat yang kami tuju adalah Kota Tua, Museum Fatahillah, Monas, Masjid Istiqlal (sholat zuhur) dan STIS. Setelah sekian tahun lulus STIS, inilah kali pertama saya menginjakkan kaki ke STIS yang sudah renovasi menjadi gedung baru yang megah. Sudah tidak ada lagi pohon mangga di tengah kampus yang biasa dikenal dengan BPM (bawah pohon mangga) oleh angkatan terdahulu. Karena waktu berkunjung kemarin, itulah yang pertama dicari oleh senior-senior.

Nah, kami sempat narsis juga nih di depan meja receptionist karena hari sabtu kan libur. 




Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!