Review: Law of Attraction
Di alam semesta ini ada dua macam getaran yaitu getaran positif dan negatif.
semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti
Di alam semesta ini ada dua macam getaran yaitu getaran positif dan negatif.
Sobat, kamu tipe yang mana? Rapi, tidak rapi tapi terorganisir, atau... jorok?
Saya sering mendengar orang bilang, "Saya memang nggak rapi, tapi saya tahu di mana letak semua barang saya." Ini menarik. Karena ternyata banyak yang membedakan antara ‘tidak rapi’ dan ‘berantakan.’ Tidak rapi mungkin terlihat dari susunan buku yang tidak sejajar, kertas yang menumpuk di meja, atau benda-benda kecil yang tersebar tapi tetap dalam "area yang kamu kenali." Dalam artian, kamu tahu kalau kunci motor ada di balik buku, atau kacamata terselip di antara tumpukan dokumen di pojok meja.
Sedangkan berantakan, sering kali sudah melibatkan unsur ketidakpedulian. Barang diletakkan sembarangan, tumpukan sampah mulai menggunung tanpa disadari, dan kamu sendiri kadang kebingungan mencari barang yang kamu perlukan. Tapi yang lebih ekstrem, ada yang masuk kategori "jorok."
Jorok di sini bukan sekadar meja yang berdebu karena lupa dilap, tapi juga kebiasaan membiarkan sampah seperti bekas tisu, bungkus makanan, atau bahkan sisa makanan tersebar tanpa segera dibersihkan.
Saya pribadi sering merasa geli ketika masuk ke kamar mandi umum dan mendapati bekas tisu yang berceceran di lantai atau bahkan tersangkut di dinding basah. Padahal, tempat sampah sudah disediakan di sudut ruangan. Ironisnya, banyak orang yang memilih untuk meninggalkannya begitu saja. Mungkin berpikir, "Ah, nanti juga ada yang bersihin."
Ini sebenarnya lebih dari sekadar soal kebersihan fisik. Ini soal mindset dan empati. Membiasakan diri untuk membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan orang lain. Apalagi di ruang publik seperti kamar mandi umum, ruang tunggu, atau taman.
Yang sering terlupakan adalah: kita tak hanya berbagi ruang dengan orang lain, tapi juga berbagi tanggung jawab. Apa yang kita tinggalkan bisa jadi merepotkan orang lain — entah itu petugas kebersihan atau pengguna berikutnya.
Saya percaya bahwa menjadi rapi atau tidak adalah soal preferensi. Ada orang yang merasa nyaman dengan meja kerja yang ‘berantakan tapi terorganisir’, di mana kreativitas justru muncul dari ‘kekacauan’ yang diciptakan sendiri.
Namun, menjaga kebersihan adalah kewajiban universal. Tidak peduli kamu tipe minimalis yang menyukai ruang kosong dan rapih, atau tipe yang senang melihat benda-benda pribadi tersebar di meja — kebersihan tetap tidak bisa ditawar.
Jadi, sobat, kamu tim yang mana? Rapi? Tidak rapi tapi tetap tahu letak barang-barangmu? Atau kamu mulai sadar bahwa ada kebiasaan jorok kecil yang sebaiknya diubah?
Bagaimana menurutmu, apakah kamu pernah terganggu dengan kebiasaan jorok orang lain di ruang publik? Atau jangan-jangan kamu juga masih suka ‘lupa’ buang sampah pada tempatnya?
Pernah nggak sih kamu ngalamin seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, lalu setelah bertahun-tahun muncul lagi seolah nggak pernah terjadi apa-apa? Saya pernah ngalamin hal ini. Seorang pria yang dulu sempat kenalan dengan saya, tiba-tiba menyapa lagi setelah dua tahun menghilang begitu saja.
Saat dia menyapa saya lagi, saya hanya membalas, “Maaf, aku lupa namamu.” Sederhana, tapi jujur. Dia pun akhirnya menyebutkan namanya. Namun setelah itu, saya memilih untuk tidak melanjutkan komunikasi lagi. Dia pun tak ada chat lagi setelah itu. Hehe.
Momen seperti ini sebenarnya cukup klasik. Banyak orang yang mungkin cuma "testing the waters"—sekadar ingin tahu apakah kamu masih terbuka untuk ngobrol atau mungkin sekadar nostalgia. Tapi, buat saya pribadi, rasanya sudah berbeda. Saya sudah off, sudah merasa nyaman dengan ketidakhadirannya di hidup saya. Toh dulu sebelum ada dia juga hidup saya baik-baik saja kok. Jadi Sobat, kalau kamu mengalami hal yang sama, yakinlah kamu juga bisa melewatinya kok. Pernah juga nih kisah lain, tanpa disangka-sangka eh seseorang menyapa saya lagi. Langsung deh saya blokir. Hehe. Padahal saya ini tipe yang sangat jarang memblokir orang lain. Ini bukan kejam ya tapi merekalah yang seenaknya datang dan pergi. Dan maaf saya sudah move on.
Ada kalanya kita memang sudah sampai di titik di mana kita merasa baik-baik saja tanpa seseorang yang dulu sempat hadir. Dan ketika mereka datang lagi, kita sudah tidak merasakan greget yang sama. Kita pun punya kendali penuh untuk memutuskan, apakah akan membuka pintu itu lagi, atau tetap melanjutkan hidup seperti biasa—tanpa mereka.
Sekarang saya lebih memilih untuk fokus pada orang-orang yang benar-benar hadir dan konsisten. Bukan mereka yang datang dan pergi seenaknya.
Bagaimana dengan kamu? Pernah juga ngalamin yang seperti ini?
Ada banyak kemungkinan alasan kenapa pria bisa tiba-tiba hilang dan kemudian muncul lagi setelah waktu yang cukup lama, seperti:
1. Sedang sibuk atau ada masalah pribadi
Bisa jadi dia sempat tenggelam dalam urusan pekerjaan, keluarga, atau masalah pribadinya sehingga memilih untuk menjauh tanpa penjelasan.
2. Tidak terlalu serius di awal
Mungkin waktu pertama kenal dia belum terlalu serius, atau hanya sekadar iseng mengisi waktu, lalu merasa nggak perlu melanjutkan komunikasi saat itu.
3. Nostalgia atau penasaran
Setelah beberapa waktu menghilang, mungkin dia iseng teringat kamu atau penasaran dengan kabarmu sekarang.
4. Sedang "mencoba kembali"
Ada juga kemungkinan dia baru saja keluar dari hubungan lain dan mencoba menghubungi kembali kenalan lama, termasuk kamu.
5. Tidak merasa ada yang salah
Beberapa orang memang merasa wajar untuk tiba-tiba hilang dan kembali tanpa merasa bersalah atau canggung, mungkin dia tipe yang seperti ini.
Tapi apapun alasannya, saya sadar satu hal: aku sudah off. Aku sudah nggak berada di frekuensi yang sama, dan aku sudah merasa nyaman tanpa dia. Aku lebih memilih untuk menghargai kehadiran orang-orang yang konsisten dan sungguh-sungguh dalam hidupku.
1. Dengarkan intuisi kamu
Kalau rasanya kamu sudah nggak nyaman atau merasa hubungan itu nggak sehat, percayalah pada feeling kamu. Kamu berhak memutuskan siapa yang bisa hadir dalam hidupmu.
2. Tetapkan batasan yang jelas
Jangan ragu untuk bersikap tegas. Kalau kamu merasa tidak ingin melanjutkan komunikasi, sampaikan dengan sopan tapi tegas.
3. Jangan merasa bersalah
Kamu nggak perlu merasa bersalah karena memilih untuk menjaga diri dan perasaanmu sendiri. Move on itu sehat, dan nggak semua orang harus diberi kesempatan kedua.
4. Fokus ke orang yang konsisten
Orang yang konsisten hadir dalam hidup kamu jauh lebih layak mendapat perhatian dan energi daripada seseorang yang datang dan pergi seenaknya.
5. Jangan terpancing nostalgia
Kadang kenangan masa lalu bisa bikin kita goyah, tapi coba lihat konteksnya sekarang. Apakah dia datang lagi membawa perubahan? Atau hanya sekadar mengulangi pola lama?
Bagiku, kehadiran kembali orang itu hanyalah pengingat bahwa aku sudah jauh lebih kuat dan lebih tahu apa yang aku butuhkan dalam sebuah hubungan.
Kalau kamu, gimana cara kamu menghadapi situasi kayak gini? Share di kolom komentar, ya!
Apakah Benar Ada Orang Pembawa Hoki dalam Hidup Kita?
Pernahkah kamu merasa bahwa keberuntungan seperti mengalir deras ketika bersama seseorang? Mungkin saat bertemu mereka, pintu rezeki tiba-tiba terbuka lebar, masalah tampak lebih ringan, dan hidup terasa berjalan lebih mulus. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah “pembawa hoki” — sosok yang dipercaya mampu membawa aura positif dan keberuntungan bagi orang-orang di sekitarnya.
Namun, benarkah keberuntungan bisa "menular" lewat kehadiran seseorang?
Di berbagai budaya, konsep pembawa hoki telah lama diyakini. Dalam budaya Tionghoa, misalnya, seseorang bisa dianggap membawa "feng shui" yang baik, sehingga kehadirannya dipandang membawa keberuntungan. Sementara dalam budaya Barat, mereka menyebutnya dengan “lucky charm” atau “good luck person.”
Dari sisi psikologis, kepercayaan pada pembawa hoki bisa dikaitkan dengan self-fulfilling prophecy. Ketika seseorang percaya bahwa orang di sekitarnya membawa hoki, maka ia akan merasa lebih termotivasi, lebih berani mengambil peluang, dan lebih positif dalam bertindak. Semua itu, secara tidak langsung, membuka jalan menuju kesuksesan. Jadi, keberuntungan itu mungkin datang bukan karena “auranya,” melainkan karena perubahan cara berpikir dan tindakan kita sendiri saat bersama mereka.
Orang yang dianggap pembawa hoki seringkali memiliki energi positif: mereka suportif, optimis, dan tulus. Sikap ini menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, dan memotivasi. Dalam situasi seperti ini, kita lebih mudah berkembang, dan peluang pun lebih mudah terlihat. Terkadang, mereka juga memiliki jejaring sosial yang luas, membuka akses terhadap kesempatan yang sebelumnya tertutup bagi kita.
Namun, ada juga yang melihat pembawa hoki secara spiritual — sebagai takdir atau karunia Tuhan. Dalam pandangan ini, orang-orang tertentu memang dihadirkan untuk menjadi “jalan” bagi rezeki dan keberuntungan kita. Mereka adalah wujud nyata dari bantuan Tuhan dalam bentuk manusia.
Daripada hanya berharap bertemu pembawa hoki, mengapa tidak menjadi pembawa hoki itu sendiri? Dengan bersikap suportif, memberikan motivasi, dan membantu orang lain meraih potensi terbaiknya, kita juga bisa menjadi sumber keberuntungan bagi orang lain.
Jadi, apakah keberuntungan itu benar-benar datang dari luar diri kita, atau sebenarnya kita sendirilah yang memicu munculnya “hoki” tersebut?
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu pernah bertemu sosok yang menurutmu pembawa hoki, atau mungkin diam-diam kamu merasa sudah menjadi pembawa hoki bagi orang lain?
Dalam hidup, kita sering menghadapi tantangan yang membuat kita merasa kecil, lelah, bahkan ingin menyerah. Namun, di balik setiap keraguan dan keputusasaan, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dan kokoh: inner will, atau kehendak batin kita.
Buku Your Inner Will karya Piero Ferrucci mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Kekuatan ini adalah fondasi bagi ketahanan mental, keteguhan hati, dan kemampuan untuk terus maju meski diterpa badai kehidupan.
Inner will adalah komitmen batin yang tak tergoyahkan untuk bertahan dan melangkah maju. Ini bukan semata-mata motivasi sementara yang sering kali memudar, tapi sebuah daya dorong yang berakar dalam nilai, keyakinan, dan tujuan hidup kita. Ferrucci menekankan bahwa setiap manusia memiliki potensi ini, hanya saja sering tersembunyi oleh ketakutan, keraguan, dan tekanan dari luar.
Inner will bukan tentang menjadi sempurna atau selalu kuat. Sebaliknya, ia mengakui keberadaan rasa takut, rapuh, dan kegagalan, lalu mengajarkan kita untuk tetap memilih melangkah, meski dalam kondisi terburuk sekalipun. Kehendak batin adalah suara yang membisikkan, “aku akan tetap berjalan,” saat seluruh dunia tampak berkata sebaliknya.
Beberapa hal penting yang ditekankan dalam buku ini, antara lain:
Membentuk ketahanan mental
Buku ini menguraikan bahwa kehendak batin tumbuh subur di tengah ketekunan. Setiap kali kita memilih untuk tidak menyerah, inner will kita menguat. Tantangan justru menjadi lahan latihan untuk membangun ketahanan.
Menghubungkan dengan tujuan hidup
Tanpa tujuan yang jelas, kehendak batin bisa melemah. Buku ini membimbing pembaca untuk menggali makna personal yang akan menjadi bahan bakar untuk mempertahankan daya juang.
Belajar dari kisah nyata
Buku ini juga diperkaya dengan kisah inspiratif dari individu yang mampu mengandalkan kekuatan batin mereka untuk mengatasi situasi ekstrem, mulai dari atlet, pebisnis, hingga penyintas tragedi.
Satu pelajaran yang terasa kuat dari Your Inner Will adalah tentang keberanian untuk menyelami diri sendiri. Kita diajak untuk duduk dalam keheningan dan bertanya, “Apa yang membuatku tetap bertahan selama ini?” Tidak jarang, jawaban atas pertanyaan tersebut membawa kita kembali ke kenangan masa lalu—saat kita pernah hampir menyerah, tapi akhirnya tetap memilih untuk bangkit. Buku ini mengajarkan bahwa inner will bukan sesuatu yang kita temukan di luar sana, tapi sesuatu yang sudah lama tinggal dalam diri, menunggu untuk kita sadari dan rawat.
Inner will adalah tentang menyalakan kembali api yang mungkin sempat padam oleh kerasnya hidup. Ia mengingatkan bahwa ketangguhan sejati bukan milik segelintir orang luar biasa, tapi milik siapa saja yang mau percaya bahwa dirinya mampu bertahan, belajar, dan terus bergerak maju.
Buku Your Inner Will karya Piero Ferrucci bukan sekadar bacaan motivasi biasa. Ini adalah panduan praktis untuk mengenali dan mengaktifkan kekuatan dari dalam diri yang sering kali terlupakan. Kehendak batin adalah energi murni yang mampu mengubah cara kita menghadapi dunia.
Jika kamu merasa sedang kehilangan arah atau membutuhkan kekuatan untuk bangkit, luangkan waktu untuk membaca buku ini. Renungkan isinya, temukan kembali inner will yang mungkin sedang tertidur, dan izinkan dirimu untuk menjadi lebih kuat dari hari ke hari.
Sudahkah kamu mendengar bisikan kehendak batinmu hari ini?
Di tengah dunia yang serba cepat, penuh kompetisi, dan terkadang terasa dingin, kita sering melupakan satu kekuatan sederhana namun luar biasa: kindness atau kebaikan hati. Dalam bukunya yang berjudul The Power of Kindness, Piero Ferrucci mengingatkan kita bahwa tindakan kecil yang penuh kasih dapat menciptakan gelombang perubahan, baik bagi orang lain maupun bagi diri kita sendiri.
Ferrucci menggambarkan kindness bukan hanya sebagai sikap sopan atau basa-basi, melainkan sebagai kekuatan psikologis dan spiritual yang mendalam. Ia adalah kemampuan untuk hadir secara tulus bagi orang lain, mendengar tanpa menghakimi, memberi tanpa pamrih, dan memahami tanpa syarat. Ferrucci menunjukkan bahwa kebaikan bukan hanya membuat orang lain merasa dihargai, tetapi juga memperkaya batin dan kesehatan kita sendiri.
Lebih dari sekadar etika sosial, kindness adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan rasa kemanusiaan yang paling esensial.
Buku ini membawa kita untuk merenungkan betapa pentingnya kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana kebaikan sejati mampu menyembuhkan luka yang dalam, baik pada diri kita maupun orang lain.
Membangun koneksi yang tulus
Dalam dunia yang sering didominasi oleh ego dan kepentingan pribadi, kindness membantu kita membangun relasi yang lebih jujur dan mendalam. Tindakan tulus membuka ruang bagi empati dan kepercayaan.
Kebaikan yang membangkitkan kebaikan lain
Ferrucci menekankan bahwa kebaikan bersifat menular. Satu tindakan baik dapat memicu rangkaian kebaikan lain di lingkungan kita, menciptakan efek domino yang memperbaiki suasana dan hubungan sosial.
Kebaikan untuk diri sendiri
Buku ini juga mengingatkan bahwa kindness dimulai dari diri sendiri. Dengan mengasihi diri, memaafkan kelemahan, dan memberi ruang untuk tumbuh, kita bisa menjadi pribadi yang lebih penuh welas asih kepada orang lain.
Apa yang membuat buku ini berbeda adalah caranya menunjukkan bahwa kebaikan bukan kelemahan. Banyak yang menganggap kebaikan sebagai tanda lunaknya karakter, padahal justru dibutuhkan keberanian untuk bersikap baik di dunia yang kadang penuh sinisme.
Ferrucci membagikan berbagai studi dan kisah nyata yang menunjukkan bagaimana orang-orang yang hidup dengan prinsip kindness cenderung lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih kuat menghadapi tekanan hidup.
Kebaikan adalah bentuk kekuatan yang tidak kasat mata. Ia membentuk atmosfer di rumah, kantor, hingga masyarakat. Kebaikan tidak perlu aksi besar untuk dirasakan dampaknya; terkadang hanya butuh hadir dan mendengarkan sepenuh hati.
Kindness karya Piero Ferrucci adalah bacaan penting bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana tindakan kecil, perhatian tulus, dan kasih sayang sederhana bisa mengubah hidup, baik hidup kita maupun hidup orang lain.
Sudahkah kamu menunjukkan kindness hari ini?
Cobalah mulai dari hal kecil—senyum, ucapan terima kasih yang tulus, atau sekadar mendengarkan seseorang tanpa terburu-buru. Dengan satu tindakan baik, kamu mungkin sedang menyalakan cahaya di dunia seseorang.
Masih tentang uang, kali ini saya akan membahas dari perspektif buku yang berbeda.
Dalam buku Master Your Money, Master Your Life, Abhishek Kumar memberikan panduan praktis dan mendalam untuk siapa saja yang ingin menguasai uang dan menciptakan kehidupan yang lebih terarah. Buku ini mengajak kita untuk menyadari bahwa uang dan kehidupan tidak terpisahkan, dan siapa yang mampu mengatur keuangan dengan cerdas akan memiliki kendali yang lebih besar atas hidupnya.
Abhishek Kumar memulai dengan satu gagasan kuat: ketika kamu menguasai uangmu, kamu akan menguasai hidupmu. Banyak orang merasa terjebak dalam siklus gaji-bayar-tagihan yang tak pernah usai. Namun, dengan strategi yang tepat, kita bisa keluar dari lingkaran itu dan mulai mengendalikan arah hidup, bukan hanya keuangan.
Abhishek Kumar membimbing kita untuk tidak hanya menjadi "pengelola uang," tetapi menjadi "pemimpin hidup."
Master Your Money, Master Your Life bukan hanya sekadar buku tentang keuangan pribadi. Ini adalah peta jalan untuk mengubah hidup melalui pengelolaan uang yang bijak dan terencana.
Apakah kamu sudah siap menjadi pemimpin dalam keuangan dan hidupmu sendiri?
Mulailah hari ini: susun kembali prioritas hidupmu, dan biarkan uang menjadi alat untuk mewujudkannya.
"If you don't control your money, your money will control you. The first step towards financial freedom is clarity on what truly matters in your life."
Halo Sobat! Di posting sebelumnya saya sudah membahas mengenai buku berjudul "Happy Money" dari Ken Honda. Nah, kali ini saya ingin melanjutkan posting. Yuk simak!
Banyak orang menganggap uang hanya sebagai alat tukar, tapi bagaimana jika uang juga bisa menjadi kunci untuk mengendalikan hidup kita? Dalam bukunya Happy Money, Ken Honda menegaskan bahwa siapa yang mampu mengelola uang dengan bijak, sejatinya juga sedang mengatur arah kehidupannya.
Ken Honda tidak memandang uang hanya dari sisi materi, tetapi dari sudut pandang energi dan emosi. Ia percaya bahwa cara kita mengatur uang sangat mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari. Seseorang yang panik setiap melihat saldo rekening atau cemas setiap kali membayar tagihan, sering kali membawa kecemasan itu ke berbagai aspek kehidupannya.
Sebaliknya, orang yang memiliki hubungan yang sehat dan bahagia dengan uang akan lebih tenang, percaya diri, dan lebih mampu menikmati hidup.
Happy Money mengajarkan bahwa seseorang yang mampu mengelola uangnya dengan bahagia cenderung mampu mengatur berbagai aspek lain dalam hidupnya: mulai dari relasi, pekerjaan, hingga kesehatan mental. Uang yang sehat menciptakan rasa cukup dan damai, bukan sekadar angka dalam tabungan.
Menguasai uang berarti juga menguasai waktu, pilihan, dan kualitas hidup kita sendiri.
Ken Honda menantang pembacanya untuk melihat kembali hubungan mereka dengan uang:
Master Your Money, Master Your Life adalah salah satu pesan inti dari Happy Money. Ken Honda menunjukkan bahwa uang bisa menjadi sahabat yang membantu kita meraih hidup yang lebih damai dan bahagia, jika kita mengelolanya dengan rasa syukur dan penuh kesadaran.
Hari ini, coba luangkan waktu untuk mengevaluasi kembali hubunganmu dengan uang. Apakah sudah membantu menciptakan kehidupan yang kamu inginkan?
Uang adalah salah satu hal yang selalu hadir dalam kehidupan kita, tetapi seringkali uang menjadi sumber kecemasan, ketakutan, bahkan konflik. Lewat bukunya yang berjudul Happy Money, Ken Honda mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap uang agar tidak hanya menjadi alat finansial, tetapi juga sumber kebahagiaan.
Menurut Ken Honda, uang pada dasarnya memiliki dua energi: happy money dan unhappy money. Uang yang diterima dan dikeluarkan dengan rasa syukur, cinta, dan kebahagiaan adalah happy money. Sebaliknya, uang yang dihasilkan atau digunakan dengan rasa marah, takut, atau terpaksa adalah unhappy money. Honda menekankan bahwa uang membawa "energi" yang kita tanamkan saat berinteraksi dengannya.
Happy money bukan tentang seberapa banyak uang yang kita miliki, melainkan bagaimana kita memperlakukan dan memaknainya.
Ken Honda membagikan banyak kisah nyata tentang orang-orang yang memiliki "uang bahagia"—mereka yang tetap merasa tenang dan bahagia dalam kondisi finansial apapun. Ia menekankan bahwa uang tidak perlu menjadi sumber stres jika kita mengubah sikap mental kita.
“When you treat money well, it treats you well in return.”
Artinya, saat kita memperlakukan uang dengan penuh rasa syukur dan cinta, uang akan “membalas” dengan datang ke dalam hidup kita dengan cara yang lebih ringan dan penuh berkah.
Setelah membaca Happy Money, kita diajak untuk merenung: apakah uang yang kita miliki saat ini adalah happy money atau unhappy money? Apakah kita menghasilkan uang dari pekerjaan yang kita cintai? Apakah kita membelanjakan uang dengan hati yang damai dan penuh terima kasih?
Ken Honda mengajak kita untuk lebih sadar dalam setiap interaksi dengan uang, agar ia menjadi sarana yang memperkuat kesejahteraan emosional dan spiritual kita, bukan sebaliknya.
Happy Money adalah lebih dari sekadar buku keuangan. Ia adalah panduan untuk membangun hubungan yang sehat dan membahagiakan dengan uang, sekaligus membuka pintu bagi kelimpahan yang datang dari rasa syukur dan cinta.
Setiap kali kamu memegang uang hari ini—baik saat menerima atau membelanjakan—cobalah ucapkan terima kasih. Rasakan perbedaannya.
Apakah uang yang mengalir dalam hidupmu sudah membawa kebahagiaan?
Apa hubungan antara cara kita berpikir besar dengan sejarah kepercayaan manusia terhadap Tuhan? Bisa jadi lebih dekat dari yang kita kira.
Setelah membaca God: A Human History of Religion karya Reza Aslan (review ada di posting sebelumnya), saya sadar bahwa salah satu benang merah yang tak kasatmata dari sejarah umat manusia adalah keberanian mereka untuk "berpikir besar." Manusia purba yang memandang petir dan angin sebagai kekuatan supranatural, atau suku-suku kuno yang membayangkan dewa-dewi yang mengatur semesta—semua itu adalah contoh awal dari thinking big. Mereka tidak puas hanya dengan penjelasan sederhana, mereka mencari makna yang lebih besar di balik fenomena.
Seperti kata David J. Schwartz dalam The Magic of Thinking Big:
"Believe it can be done. When you believe something can be done, really believe, your mind will find the ways to do it."
Manusia dari masa ke masa selalu percaya bahwa ada "sesuatu yang lebih besar" di balik hidup mereka. Dan keyakinan itu melahirkan perubahan besar: dari sistem kepercayaan hingga kebudayaan yang membentuk dunia seperti sekarang.
The Magic of Thinking Big mengajarkan bahwa untuk mencapai hal besar, kita harus berani membayangkan hal besar terlebih dahulu. Sedangkan Aslan lewat bukunya memperlihatkan bahwa manusia memang sejak dulu punya kecenderungan alami untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar materi—bahwa hidup selalu mengandung makna lebih besar.
Kedua buku ini mengajarkan kita:
Berpikir besar bukan soal sombong, tapi tentang membuka diri pada potensi yang lebih luas.
Schwartz juga menulis:
"Think little goals and expect little achievements. Think big goals and win big success."
Sejarah agama juga mengajarkan hal yang sama: ketika manusia "berpikir besar" tentang dunia spiritual, mereka membangun budaya, hukum, bahkan peradaban yang melampaui zamannya.
Sejarah manusia membuktikan bahwa berpikir besar adalah bagian dari DNA kita sejak dulu. Kita selalu mencari makna yang lebih luas, tujuan yang lebih tinggi, dan kemungkinan yang lebih besar. Jadi, jika nenek moyang kita saja mampu membangun peradaban dengan berpikir besar tentang dunia dan Tuhan, apa alasan kita untuk tidak mulai thinking big hari ini?
"Think big, act big, and you’ll live big."
Setelah merenungkan isi dari kedua buku ini, saya jadi bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana saya berani bermimpi dan bertindak besar dalam hidup ini? Kadang kita terjebak dalam rutinitas, berpikir realistis saja sudah cukup, tapi lupa bahwa nenek moyang kita membangun dunia dari keyakinan dan imajinasi besar mereka. Mereka tidak hanya membangun rumah, tapi membangun kuil, tatanan masyarakat, dan bahkan ide tentang surga.
Apakah kita hari ini masih membawa semangat itu? Atau kita justru terlalu sibuk memikirkan "apa yang mungkin salah" daripada "apa yang mungkin berhasil"?
Terkadang, membaca buku seperti The Magic of Thinking Big atau God: A Human History of Religion bukan hanya soal memahami teori, tapi menggunakannya sebagai cermin. Cermin untuk menilai sejauh mana kita sudah menjalani hidup dengan keberanian, imajinasi, dan kepercayaan diri yang besar.
Jadi, apa langkah pertama yang bisa kamu ambil hari ini untuk mulai berpikir dan bertindak lebih besar?
Apa jadinya kalau kita memandang Tuhan seperti kita memandang sesama manusia? Pertanyaan ini jadi inti dari buku God: A Human History of Religion karya Reza Aslan, seorang penulis sekaligus akademisi yang sudah lama mengulik soal agama dan spiritualitas.
Lewat buku ini, Aslan mengajak kita berjalan mundur ribuan tahun ke belakang. Ia menunjukkan bagaimana sejak zaman purba, manusia punya kecenderungan untuk membentuk gambaran Tuhan berdasarkan diri mereka sendiri—punya tangan, kaki, emosi, bahkan suka marah dan cemburu.
“Aslan menulis, 'The history of religion is, in many ways, the history of human beings projecting their own image onto the divine.'”
Dengan kata lain, kita sering kali membayangkan Tuhan sebagai "versi super" dari manusia. Mulai dari dewa-dewi Mesopotamia yang menyerupai raja-raja, hingga Tuhan yang kita kenal dalam monoteisme yang tetap memiliki sifat-sifat manusiawi seperti kasih, murka, atau kecemburuan.
Yang menarik, Aslan juga mengupas tentang keinginan manusia untuk tidak hanya mengenal Tuhan secara eksternal, tapi juga merasakan kehadiran-Nya di dalam diri. Maka tak heran muncul konsep "kesatuan" dalam banyak tradisi mistik, seperti sufi dalam Islam atau para mistikus Kristen yang berbicara tentang ‘menyatu dengan Tuhan’.
“Aslan bilang, ‘To know God, one must become God’.” Sebuah kalimat yang memicu pemikiran lebih dalam.
Buku ini mengingatkan kita bahwa manusia, sejak awal peradaban, selalu berusaha memahami yang tidak kelihatan melalui lensa yang akrab—yakni diri kita sendiri. Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah cukup bijak untuk membedakan mana gambaran Tuhan yang kita ciptakan, dan mana pengalaman sejati tentang Tuhan?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya seperti apa Tuhan itu dalam bentuk manusiawi, dan mulai bertanya lebih dalam: "Bagaimana Tuhan hadir dalam hidup kita, dan apa makna-Nya bagi kita pribadi?"
Pada akhirnya, mengenal Tuhan adalah perjalanan mengenal diri sendiri.
Refleksi:
Buku ini bukan tentang meragukan Tuhan, tapi tentang memahami bagaimana manusia membangun konsep ketuhanan. Bahwa perjalanan spiritual adalah bagian dari naluri terdalam manusia yang selalu mencari makna, koneksi, dan jawaban.
Berikut beberapa pesan utama dari God: A Human History of Religion karya Reza Aslan:
Pesan utama dari buku ini adalah bahwa sepanjang sejarah, manusia selalu memproyeksikan sifat dan bentuknya sendiri ke dalam konsep Tuhan. Kita membayangkan Tuhan punya emosi, kehendak, bahkan wujud yang serupa dengan manusia agar terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
Aslan menegaskan bahwa kepercayaan kepada kekuatan yang lebih besar adalah upaya manusia untuk mengisi kekosongan eksistensial. Sejak manusia mulai bertanya soal hidup, mati, dan alam semesta, lahirlah mitos dan kepercayaan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mereka pahami.
Kepercayaan kepada roh nenek moyang, dewa-dewi, hingga Tuhan yang tunggal berkembang seiring dengan perubahan sosial dan budaya manusia. Setiap fase sejarah agama mencerminkan tahap perkembangan psikologis dan intelektual umat manusia.
Aslan mengajak kita melihat bahwa banyak tradisi spiritual mengajarkan kesatuan antara manusia dan Tuhan. Bahwa Tuhan bukan hanya sesuatu yang jauh "di luar sana," tetapi bisa ditemukan di dalam kesadaran dan pengalaman batin manusia.
Buku ini mendorong kita untuk menyadari bahwa setiap orang punya tafsir dan pemaknaan sendiri tentang Tuhan, tergantung latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan spiritualnya. Tidak ada satu jawaban tunggal yang bisa berlaku untuk semua orang.
Aslan mendorong pembaca agar selalu kritis dan reflektif dalam melihat hubungan antara manusia dan yang Ilahi. Ia mengingatkan kita bahwa memahami agama dan Tuhan adalah perjalanan panjang yang tak pernah selesai.
Berikut lanjutan seri blog post sebelumnya ya sobat:
Orang mungkin tak melihat air matamu. Mungkin juga mereka tak paham kenapa kamu begitu hancur padahal “dia hanya pergi.” Tapi luka karena ditinggalkan tanpa penjelasan itu berbeda. Ia tak berdarah, namun nyerinya menembus logika. Ia tak tampak, namun mengguncang kepercayaan diri, membuatmu bertanya-tanya: apakah aku tidak cukup pantas untuk diberi kepastian?
Kini, kamu takut pada jeda. Takut pada keheningan. Setiap pesan yang tak dibalas terasa seperti alarm. Setiap kata yang tak dilanjutkan membuatmu sesak. Kepergiannya mengajarkan kamu takut percaya, takut memberi hati, takut jatuh. Karena di masa lalu, kamu pernah memberi semuanya, tapi dia pergi begitu saja—tanpa penjelasan, tanpa kata, tanpa perpisahan yang layak.
Padahal kamu hanya butuh satu hal: kejujuran. Apapun alasannya, kamu bisa menerimanya, asal dia bicara. Tapi mungkin baginya, berbicara itu sulit. Mungkin, menghilang terasa lebih mudah daripada menghadapi kesedihanmu. Tapi mereka lupa, kepergian diam-diam justru melukai jauh lebih dalam.
Yang tertinggal setelah kepergiannya bukan hanya memori, tapi trauma. Kamu belajar menjadi dingin, waspada, dan menjaga jarak. Bukan karena kamu ingin, tapi karena kamu tak ingin terluka lagi oleh kepergian yang tak terucap. Kamu memahat dinding, menutup pintu, dan menahan diri untuk percaya lagi.
Waktu berjalan, dan luka mulai perlahan mereda. Kamu belajar melepaskan tanpa harus mendapat jawaban. Kamu mulai memahami, bahwa tidak semua orang mampu menghadapi akhir dengan dewasa. Dan dari situ, kamu tumbuh. Tak lagi mendamba balasan pesan, tak lagi menanti kabar yang tak akan datang.
Di satu titik, kamu akan duduk sendiri, memandangi langit sore, dan sadar: kamu telah cukup. Kamu telah berjuang. Kamu telah bertahan. Dan meski dia tak pernah berkata “selamat tinggal,” kamu memilih untuk berkata, “terima kasih telah pergi.” Karena dari kepergiannya, kamu akhirnya belajar mencintai dirimu sendiri bahkan bertemu dengan sosok yang lebih baik.
Halo Sobat, ini kelanjutan dari tema sebelumnya:
Ketika Diamnya Menjadi Hantu yang Menghantui
Setelah dia pergi tanpa kabar, yang tertinggal hanyalah ruang kosong yang terus terisi oleh berbagai pertanyaan. Bukan hanya tentang kepergian, tapi juga tentang dirimu sendiri. Apa aku kurang baik? Apa aku terlalu banyak menuntut? Atau memang aku yang salah hingga dia memilih pergi tanpa pamit?
Kepastian yang Tak Pernah Diberikan
Yang paling menyakitkan bukan hanya kepergian itu sendiri, tapi ketidakjelasan yang dibiarkan menggantung. Tanpa “putus” yang terucap, tanpa kata “selesai” yang jelas, hubungan seakan tetap berada di ruang abu-abu yang sulit dipecahkan. Kamu terjebak dalam kebingungan: apakah harus menunggu atau mulai melangkah?
Belajar Memaafkan Tanpa Mendengar Alasan
Di sinilah letak tantangan terbesar. Bagaimana memaafkan seseorang yang bahkan tidak memberikanmu alasan? Kamu harus berjuang sendiri, memeluk dirimu yang hancur, dan meyakinkan diri bahwa kamu pantas bahagia meski tanpa jawaban dari orang yang memilih pergi.
Menghargai Diri Sendiri yang Bertahan
Ada kekuatan luar biasa dalam diri orang yang ditinggalkan tanpa kata. Tidak mudah bertahan di tengah rasa sakit yang samar tapi tajam. Tapi dari situlah kamu belajar tentang harga diri. Tentang tidak semua hal harus kamu pahami sepenuhnya untuk bisa melepaskan.
Mungkin, Itu Tentang Mereka. Bukan Tentangmu
Pelan-pelan kamu akan sampai pada satu pemahaman: keputusan mereka menghilang bukan cerminan dari nilai dirimu. Itu adalah cerminan dari ketidaksiapan atau ketidakmampuan mereka menghadapi situasi dengan kepala tegak. Dan kamu tidak bisa terus menyalahkan diri sendiri atas keputusan yang mereka buat.
Melangkah Tanpa Mereka
Pada akhirnya, kamu tetap harus melangkah. Meski perpisahan ini tidak diakhiri dengan baik, kamu tetap layak menemukan ketenanganmu sendiri. Kamu pantas memulai kembali dengan hati yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mencintai diri sendiri.
Untuk Kamu yang Pernah Ditinggalkan Tanpa Kata
Semoga kamu tahu, kamu sudah lebih dari cukup. Kamu layak mendapat seseorang yang berani, yang hadir, dan yang mampu berkata “selamat tinggal” dengan hormat. Karena cinta yang sehat selalu berjalan beriringan dengan kejujuran, bahkan saat itu pahit.
Lanjut ke bagian 3 ya di posting berikutnya...
Ada pertanyaan yang sering mengendap di kepala banyak orang yang pernah ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan: kenapa dia memilih pergi diam-diam alias ghosting? Kenapa tidak memilih kata-kata sederhana seperti, “Kita selesai,” atau “Aku nggak bisa lanjut lagi”?
Menghilang: Cara Mudah Menghindari Konfrontasi
Bagi sebagian orang, menghilang adalah jalan termudah untuk menghindari percakapan yang berat. Mereka tidak siap menghadapi air mata, amarah, atau mungkin rasa kecewa yang muncul setelah kata “putus” diucapkan. Maka, pergi tanpa kabar seolah terasa lebih nyaman. Padahal, di sisi lain, yang ditinggalkan akan dihantui tanda tanya besar yang tak kunjung terjawab. Ga gentleman sih tapi itulah yang terjadi. Betul?
Tidak Semua Orang Pandai Mengakhiri
Ada orang-orang yang pandai memulai hubungan, tapi gugup atau takut saat harus mengakhiri. Bukan berarti mereka tidak peduli, tapi kadang ketidakmampuan mengelola emosi membuat mereka memilih kabur. Bagi mereka, meninggalkan tanpa jejak seakan lebih ringan daripada harus merangkai kalimat perpisahan yang menyakitkan. Egois sih tapi ya itulah realita.
Menyimpan Rasa Bersalah yang Tak Terucap
Tanpa sadar, mereka yang menghilang pun memikul beban rasa bersalah. Namun, alih-alih menyelesaikan, mereka lebih memilih lari. Padahal, diamnya mereka menyisakan luka yang lebih dalam bagi yang ditinggalkan. Rasa hampa yang muncul bukan hanya karena kehilangan, tapi karena ketidakjelasan yang menggantung di antara dua hati.
Ketakutan Akan Reaksi
Banyak yang takut terhadap reaksi pasangan. Takut dianggap jahat, takut dilabeli pengecut, atau takut membuka luka yang lebih besar. Akhirnya, mereka memilih untuk membungkam diri, berharap waktu yang akan bicara. Tapi sebenarnya, waktu hanya membuat luka lebih sulit sembuh.
Lalu, Bagaimana yang Ditinggalkan Harus Bertahan?
Satu-satunya jalan adalah menerima bahwa tidak semua orang mampu berpamitan dengan baik. Bahwa closure tidak selalu datang dari orang yang pergi, kadang kamu harus menciptakan closure-mu sendiri. Karena pada akhirnya, kita hanya bisa mengendalikan bagaimana kita merespons, bukan bagaimana orang lain bertindak.
Pesan untuk yang Pernah Menghilang
Jika kamu adalah seseorang yang pernah pergi tanpa kabar, percayalah, keberanian untuk mengakhiri dengan jujur jauh lebih baik daripada membiarkan seseorang terombang-ambing dalam ketidakpastian. Jangan biarkan ego atau ketakutan membuatmu melukai orang lain lebih dalam lagi.
Menutup Tanpa Penjelasan, Membuka Luka Tanpa Akhir
Perpisahan memang menyakitkan, tapi hilang tanpa kabar meninggalkan luka yang terus terbuka. Semoga kita belajar untuk lebih dewasa dalam mencintai dan lebih berani dalam mengakhiri.
Bersambung ke bagian 2 ya di posting selanjutnya...
"Agama bukanlah tentang memegang kebenaran mutlak, melainkan tentang mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih welas asih."
Cerita Awal Nonton Versi Live Action Movie Sengaja banget saya nulis ini hari ini. Gegara lagi demam donghua Jade Dynasty . Saat ini sudah m...
Subscribe To Get All The Latest Updates!