semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana

Follow Us

Friday, April 19, 2013

Paket Buat Ibu dan Bapak

4/19/2013 10:44:00 AM 0 Comments



Tepatnya kemarin siang (18042013) saya sempatkan diri buat mengirim paket buat nyokap di Lampung sekalian jam istirahat siang. Begitu sampai rumah, saya langsung sms ke rumah. Saya bilang bahwa paket sudah saya kirim. Sampainya paling-paling seperti sebelumnya. Tak lama kemudian, ada sms balasan.

"Ya ditunggu. Aku juga baru kirim jajanan loh disuruh nyokap. Baru aja pulang nih. Katanya sih semingguanlah sampainya."

"Kirim jajan apa? Buat siapa?" tanya saya menyelidik.

"Keripik talas dan klanting buat kamu..."

"Oh tumben? Alhamdulillah... terima kasih. Tapi kok peyek sama kue bawangnya ga sekalian?" (Haha dikasih hati minta jantung nih saya)

"Iya kapan-kapan dibuatin ama nyokap..."


Hmm, ternyata di saat yang sama kami saling mengirim paket. Sungguh tak menyangka. Sejujurnya saya terharu. Seumur-umur saya jauh dari orang tua, baru kali ini saya dikirimi paket makanan. Dulu ketika kuliah, seringkali saya lihat teman saya dikirimi makanan tapi saya ga pernah sekalipun. Saya sih tidak pernah meminta buat dikirimi. Lagian saya bisa beli makanan apa saja kok di Jakarta kan melimpah. Cuman, ketika saya pulang, pasti deh saya dibawain macam-macam sampai ga semuanya bisa saya bawa karena keberatan. Dan makanan-makanan itu semua-muanya nyokap yang urus. Dari mulai bikinnya sampai ngemasnya. Saya terima beres. Apa yang saya minta, pasti dibuatin.

Nyokap saya tahu betul kalau saya suka yang gurih-gurih buat cemilan. Yang manis-manis suka juga sih tapi ga seberapa. Dan beruntungnya saya yang suka ngemil adalah karena nyokap saya pintar membuat makanan-makanan kecil. Bukan makanan modern yang aneh-aneh sih memang melainkan makanan-makanan tradisional rumahan ala kampung. Justru kalau makanan modern malah gampang tinggal beli saja di luar kan? :)

Mungkin hobi saya ngemil terbentuk karena nyokap saya yang suka bikin makanan kecil itu ya. Huah nyokap saya harus tanggung jawab nih! :)

Kembali ke paket. Jadi ceritanya sebelum paket ini, saya sudah mengirim paket buat bokap duluan. Ga pernah terpikir buat ngirim sih pada awalnya. Entah kesamber malaikat apa ya jadi deh akhirnya ngirim. hehe.

Jadi, paket buat bokap itu berisi 3 lembar baju batik yang saya minta supaya jangan disimpan melainkan dipakai buat sholat jumat atau yasinan. Ketika ikut pelatihan instruktur daerah untuk suatu sensus di Bengkulu, ada panitia yang menawari batik. Ga ada niat membeli sih awalnya. Tapi akhirnya beli. hehe. Kala itu ketika melihat batik, saya langsung terpikir bokap saya. Pokoknya hanya bokap saya yang ada. Padahal ada juga kakak laki-laki saya. Sampai-sampai teman saya bertanya, "Banyak amat mbak buat siapa?"

Karena itulah saya pun pulang ke kabupaten membawa oleh-oleh batik. Semula si ingin saya bawa pas pulang kampung nanti lebaran. Tapi masih lama ya sekitar 4 bulan. Nah, daripada kenapa-kenapa (saya takut terjadi sesuatu entah pada diri saya atau bokap saya sehingga kita tidak diberi umur buat bertemu), maka itulah saya putuskan buat dipaketkan saja. Alhamdulillah tenang sudah sampai rumah dengan selamat. Hanya saja ada yang tidak benar. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata si pengantar paket minta bayaran sepuluh ribu. Dan hebatnya nyokap saya yang baik hati itupun memberikan begitu saja. Aihh itu tidak benar! Saya tidak suka ada praktik hal-hal begituan.

Ketika saya memberi sesuatu pada bokap, ternyata nyokap pun ingin juga meski tidak terkata pada saya. Dari sinilah saya mengambil kesimpulan berharga. Saya adalah anak kedua orang tua saya. Saya adalah anak bokap dan nyokap. Saya bukan anak satu orang saja. Saya bukan anak bokap saya saja. Saya bukan anak nyokap saya saja. Saya anak keduanya. Tanpa keduanya mana mungkin saya ada kan? Jadi pesan saya, berkasih sayanglah pada kedua orang tuamu. Jangan buat salah seorangnya cemburu karena rasa sayangmu yang tak sama. Mungkin kelak ketika kita beralih peran menjadi orang tua buat anak-anak kita, kita akan tahu betul bagaimana rasanya.

Oya, saya bercerita tentang ini sama sekali tidak bermaksud riya. Tapi mudah-mudahan bisa membuka hati dan pikiran teman sekalian. :)


Monday, April 15, 2013

Latest Update from Admin

4/15/2013 09:42:00 AM 4 Comments



Kangen blog ini. Sudah lama sekali tidak meninggalkan tulisan apa pun. Ternyata sudah hampir setahun saya vakum. Ah, kemana saja saya selama ini?

Menilik masa-masa yang telah lalu, saya bernostalgia dengan membaca beberapa tulisan saya di blog ini. Tidak ada niat apa pun. Hanya sekedar sedikit iseng melihat-lihat seberapa culun saya dulu. Hihi

Ya! Sekarang sudah memasuki tahun 2013. Blog ini berdiri tahun 2007. Kala itu adalah tahun keempat saya kuliah di Jakarta. Dan saat ini sudah lima tahun saya bekerja di Bengkulu. Tepatnya sudah memasuki tahun keenam. Berarti, sudah tua juga ya blog saya ini. Hehehe.

Tak dipungkiri kalau blog ini mengikuti perjalanan hidup saya sampai selama itu. Dari mulai posting yang culun-culun ala kadarnya sesuka hati saya, sampai detik ini di posting ini. ^_^

Rasanya menyenangkan bisa kembali menulis, meski itu hanya ocehan-ocehan tak bermakna. Haha.

Oya, ternyata saya baru saja berulang tahun! Tepatnya akhir bulan lalu. Biasanya saya menuliskan sesuatu di blog ini ketika memasuki hari ulang tahun saya. Tapi rupanya kali ini saya terlupa. 0_~
Apa karena usia sudah semakin tua? haha
Atau karena kesibukan tersendiri?
Atau sudah punya mainan lain yang lebih seru?
Aha whatever lah... ^_^

Yang jelas kali ini saya menyempatkan diri untuk menulis.

Oke, blog saya ini memang sudah lama tidak saya urus. Tapi saya masih terus dapat notifikasi kok setiap kali ada komen masuk jadi saya cukup update lah dengan blog saya ini. Dalam artian tidak benar-benar saya tinggalkan. Tapi ya saya hanya sekedar membaca komen yang masuk, tidak sempat saya balas. Mohon maaf ya buat komen-komen yang berharap saya balas tapi belum dibalas-balas juga. Hehehe terima kasih sudah kesasar ke blog ini. One day mudah-mudahan saya bisa menyempatkan waktu untuk membalas mana yang perlu saya balas.

Sebenarnya akhir-akhir ini saya cukup terganggu dengan komen-komen ga penting yang masuk ke postingan saya. Spam namanya ya. Komen-komen berbahasa inggris dengan identitas anonymous dan di ujung-ujung kalimatnya promo alamat website. Kemarin-kemarin saking banyaknya komen ga jelas itu sampai membuat email saya terblokir alias diminta ganti password. Aneh kan masa saya tidak pernah mengirim posting blog bisa jadi ada satu postingan ke blog berupa link ga jelas. Trus melalui email ada banyak banget notifikasi failure bahwa saya sudah mengirim link ga jelas ke kontak-kontak yang ada. Huah memalukan saya saja. Ini ulah siapa? Cape deh...

Mungkin sebaiknya saya beri kata kunci buat yang komen ya untuk menghindari spam.

Oke, sekian dulu kabar dari saya ya. Saya ingin mengabarkan pada dunia kalo i am still alive! Next time maybe akan saya tulis tema yang lebih jelas daripada ini. Hehe ^_^

Salam kangen buat semua yang sudah menyempatkan diri buat membaca postingan saya! Semangat!



Monday, June 11, 2012

Cuek is the Best?

6/11/2012 09:09:00 AM 0 Comments



Hari Minggu yang cerah. Sepulang dari pasar, saya putuskan untuk mencuci motor di tempat langganan saya. Setiba di sana, sepi. Hanya ada satu motor yang sedang dicuci. Tapi ada 2 orang lelaki yang sedang duduk. Tampaknya adalah pelanggan yang sedang menunggui motornya tersebut.

Oke, saya turun dari motor lalu berjalan mengambil kursi kosong di arah depan untuk saya duduki sembari menunggu motor saya dicuci. Berhubung tidak antri, jadi tidak akan lama nunggu. Yes! Kesempatan seperti ini jarang karena biasanya antrian banyak.

Lalu saya pun duduk dan melepas helm. Lalu saya mengeluarkan hp. Maksud saya mengeluarkan hp tidak lain adalah browsing-browsing biar ga mati gaya nunggu motor tapi ternyata sinyal tidak mendukung. Yasudahlah. Saya pun diam.

"Mbak orang statistik ya?"
Tiba-tiba ada orang bertanya. Saya pun mengalihkan pandangan saya ke arah orang tersebut.

"Iya, kok tahu?"
Hahaha pertanyaan standar. Tapi cukup ngetrend yah kemarin-kemarin. Pastinya sih tidak akan ada gombal-gombalan ala OVJ kok di sini. :)

Orangnya tersenyum. Saya jadi bertanya-tanya kenapa orang ini senyum. Saya menduga-duga barangkali orang ini pernah jadi petugas survei/sensus di kantor saya sehingga tahu saya.
Iya saya berpikir positif saja seperti itu. Ya iyalah... kan ga mungkin saya mengira orang ini "stalker".  Sok keren banget saya. Hehe.

Obrolan berlanjut.
"Tunggu! Kok tadi tahu saya statistik dari mana? Saya kan ga pernah bilang-bilang?"

"Saya pernah semobil sama mbak."

"Kapan?" tanya saya.

"Juni 2011"
What? Otak saya langsung mikir. Gile, itu kan setahun yang lalu.  Sekarang kan sudah Juni 2012. Hebat juga ingatannya! Bravo!

"Itu pertama kalinya saya ke Mukomuko."
"Oh baru ya," jawab saya. Saya bilang baru karena saya sudah dari 2008 di sini. Saya sudah jauh lebih lama kan? *tuing tuing*

Obrolan kembali berlanjut.

"Mbak tinggal di mana di sini?"
"Saya di Bandar Ratu...", jawab saya.

"Oh masih di belakang apa itu..."
Glek. Kok tahu? Saya merasa makin aneh.

"Loh kok tahu lagi?"
"Iya waktu itu saya ikut nganterin mbak dulu."

"Itulah mbak ga nyadar diperhatiin. Kita kelang satu bangku waktu itu duduk di tengah. Karena mbak diam aja, saya jadi canggung mau ngobrol."

Seingat saya, saya selalu duduk di belakang sih selama ini kalau perjalanan dari Mukomuko ke Bengkulu atau sebaliknya. Hehehe.

.........................


Huaah dunia begitu sempit. Saya ini bukan tipe penghapal wajah orang. Apalagi orang asing yang baru sekali ketemu, setelah lama tidak ketemu terus ketemu lagi, maka lupa begitu saja. Pernah juga ada penumpang travel perempuan menyapa saya duluan dan saya lupa! Ternyata kita pernah satu travel dan ngobrol-ngobrol dulunya. Berangsur-angsur saya ingat kejadiannya.

Yang terekam di otak saya adalah kejadiannya, bukan wajah orangnya. Hehe.

Begitu pula dengan nama, kalau hanya sekali ketemu lalu bertemu lagi setelah sekian lama maka saya pun tidak ingat siapa namanya. :)

Yang saya garisbawahi dari cerita singkat di atas adalah kok bisa ya orang itu masih ingat? Padahal kejadiannya sudah lama loh setahun yang lalu. Yang saya heran adalah ingat wajah. Padahal kan itu travel malam hari, otomatis tidak jelas wajah-wajah orang yang ada di travel. Kalau saya sih cuek saja dengan penumpang lain yang setravel karena mereka saya anggap orang-orang yang hanya sekali saya temui. Tidak akan ketemu lagi. Numpang lewat gitu deh.

Lagian perjalanan malam kan enaknya buat tidur. Kan lampu juga mati. Jadi mana sempat ngapalin wajah orang hehehe.

Yah, itulah saya. Saya cenderung cuek jadi orang. Karena saya menganggap itu bukan hal penting untuk diingat-ingat. Jadi buat apa saya menghabiskan energi saya untuk itu?

Apa saya harus merubah kecuekan saya ini? Tapi saya merasa cuek saya ini masih wajar. Saya bedakan kapan saya harus cuek dan tidak. Saya cenderung cuek untuk hal-hal yang saya anggap tidak penting atau tidak ada sangkut pautnya dengan saya.

Umm, tapi bisa jadi hal yang saya anggap tidak penting, eh ternyata penting bagi orang lain kan ya? Oh dunia...

Wednesday, May 30, 2012

Lampu Merah

5/30/2012 03:50:00 PM 2 Comments



Adanya lampu merah bisa dibilang suatu kemajuan untuk ukuran kabupaten baru tempat saya tinggal sekarang. Bagus juga upaya pemda untuk menertibkan lalu lintas. Meski baru di satu titik, tapi saya mencoba mengambil sisi positif upaya pemda tersebut di mana di titik itu memang sebelumnya lumayan sering terjadi kecelakaan. Memang sih jalanan hitungannya sepi kendaraan sementara jalan yang dibangun kini ukurannya cukup lebar. Jadi sebenarnya belum perlu ada lampu merah (menurut penilaian saya). :)

Yang saya keluhkan adalah beberapa pengendara sepeda motor di sini seperti tutup mata bahwa kini sudah ada lampu merah. Khususnya jalur yang bertuliskan "BELOK KIRI IKUTI LAMPU". Ketika saya sedang menunggu lampu merah, eh seenak-enaknya saja orang nyelonong belok kiri. Duh, apa gunanya donk dibuat lampu merah?

Tidak bisakah kita membiasakan diri untuk menertibkan diri? Di sini juga ada poin "menghargai orang lain" sesama pengguna jalan. Dan juga menghormati pemerintah yang sudah berupaya membuat peraturan guna kebaikan bersama.

Entahlah kalau memang sudah tabiat orang kita yang susah diatur, susah diajak tertib, maju. Padahal saya sungguh mendambakan ketertiban, keteraturan di negara ini. Yah meski itu cuma hal-hal kecil dulu tak ada masalah. Bukankah sesuatu dimulai dari yang kecil? Dalam artian tidaklah instan. Pencapaian sesuatu dimulai dari yang kecil-kecil dan dimulai dari diri sendiri. Setuju?

Yang saya heran adalah seringkali yang saya lihat nyelonong begitu saja itu pengendara berplat merah. Duh, di wilayahnya sendiri saja begitu coba. Ck ck ck.

Sering saya mendengar kalimat "Peraturan dibuat untuk dilanggar". Hmm saya tidak setuju dengan kalimat itu. Saya menganggap itu pembenaran diri buat orang-orang yang mau seenaknya saja melanggar peraturan. Lah untuk apa dibuat peraturan donk kalau hanya untuk dilanggar?

Sebagai muslim, kita punya pedoman yaitu Al Quran. Nah, apakah juga untuk dilanggar?
Memang, peraturan seperti lampu merah adalah peraturan yang dibuat manusia dalam rangka menertibkan lalu lintas. Jelas berbeda dengan Al Quran yang bukan buatan manusia. Tapi kan manusia sebagai pemimpin boleh donk ya bikin peraturan untuk kebaikan bersama. Duh, kenapa saya jadi jauh nyangkut-nyangkut ke sini nih. Nyambung ga nih. Okelah saya ga mau berlarut-larut ngomongin ini.

Btw, kenapa dari tadi saya nyebutnya lampu merah yah? Padahal kan lampunya ada 3 warna. Hehe.


Friday, May 25, 2012

Bersepeda Yuk...!

5/25/2012 08:05:00 AM 2 Comments



Belum lama ini saya merasa ada trend baru di sini. Hmm, pemandangan yang tidak biasa saya lihat. Selama 4 tahun saya hidup di sini, baru sekaranglah saya melihat mulai banyak orang bersepeda. Padahal semula, saya tidak melihat orang dewasa bersepeda. Paling hanya anak-anak kecil yang main-main sepeda. Pemandangan yang biasa saya lihat adalah orang-orang berkendaraan mobil atau sepeda motor.

Bahkan dulu ketika awal-awal di sini saya (dan satu orang teman saya) jalan kaki ke kantor. Alhasil, saya jadi tidak nyaman sendiri karena memang selain tidak ada orang lain yang jalan kaki, saya tidak suka dengan mata orang-orang lewat berkendara sepeda motor itu. Mereka lewat dari arah belakang saya tapi sempat-sempatnya menoleh ke belakang (arah saya dan teman saya) seolah-olah tidak pernah melihat orang jalan kaki saja. Lucunya, ketika saya jalan sendirian pulang kantor pernah ada yang menawari tumpangan ke saya. Eh, tidak cuma saya tapi juga teman saya satu lagi itu pernah mengalami juga ketika berangkat ke kantor. Mungkin iba kali ya lihat orang jalan kaki hari gini. Hehehe

Nah, kembali soal sepeda tadi. Mungkin mulai banyaknya sepeda akhir-akhir ini ada hubungannya dengan Pemda. Tiap hari Jumat, di sini digalakkan bersepeda ke kantor untuk pegawai Pemda. Bahkan kepemilikan sepeda semakin dipermudah dengan adanya pemberian kredit sepeda oleh Pemda bagi pegawai Pemda tentunya. Tapi brosurnya mampir juga ke kantor saya meski kantor saya bukanlah Pemda.

Tentu saja penggalakan bersepeda jumat itu tidak berlaku di kantor saya hehehe. Biar begitu, bos saya sudah punya sepeda baru. Begitu pula beberapa teman saya sekantor juga sudah ada yang beli sepeda baru. Hmm, kena imbas rupanya.

Ah, tapi saya sudah lebih dulu beli sepeda. Tepatnya setahun lalu, ketika itu saya merasa kesulitan menemukan sepeda. Di tempat saya tinggal ternyata tidak ada yang menjual sepeda, padahal di sinilah kecamatan inilah ibukota kabupaten berada. Akhirnya saya cari ke dua kecamatan tetangga. Seperti yang pernah saya ceritakan, kabupaten tempat saya tinggal ini jauh dari ibukota. Makan waktu sekitar 7 jam untuk ke kota Bengkulu begitu pula ke Padang. Dan para pedagang di sini rata-rata mengambil stok barang justru dari Padang.

Jadi, kemudahan pembelian sepeda dari Pemda itu tidaklah berpengaruh bagi saya. Coba sudah ada dari setahun lalu ya.... :(

Atau saya yang terlalu cepat?

Hmm, kala itu saya merasa kangen bersepeda. Rasanya sudah terlalu lama tidak pernah tahu rasanya naik sepeda seperti apa. Hehe