semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Reana

Follow Us

Friday, May 25, 2012

Bersepeda Yuk...!

5/25/2012 08:05:00 AM 2 Comments



Belum lama ini saya merasa ada trend baru di sini. Hmm, pemandangan yang tidak biasa saya lihat. Selama 4 tahun saya hidup di sini, baru sekaranglah saya melihat mulai banyak orang bersepeda. Padahal semula, saya tidak melihat orang dewasa bersepeda. Paling hanya anak-anak kecil yang main-main sepeda. Pemandangan yang biasa saya lihat adalah orang-orang berkendaraan mobil atau sepeda motor.

Bahkan dulu ketika awal-awal di sini saya (dan satu orang teman saya) jalan kaki ke kantor. Alhasil, saya jadi tidak nyaman sendiri karena memang selain tidak ada orang lain yang jalan kaki, saya tidak suka dengan mata orang-orang lewat berkendara sepeda motor itu. Mereka lewat dari arah belakang saya tapi sempat-sempatnya menoleh ke belakang (arah saya dan teman saya) seolah-olah tidak pernah melihat orang jalan kaki saja. Lucunya, ketika saya jalan sendirian pulang kantor pernah ada yang menawari tumpangan ke saya. Eh, tidak cuma saya tapi juga teman saya satu lagi itu pernah mengalami juga ketika berangkat ke kantor. Mungkin iba kali ya lihat orang jalan kaki hari gini. Hehehe

Nah, kembali soal sepeda tadi. Mungkin mulai banyaknya sepeda akhir-akhir ini ada hubungannya dengan Pemda. Tiap hari Jumat, di sini digalakkan bersepeda ke kantor untuk pegawai Pemda. Bahkan kepemilikan sepeda semakin dipermudah dengan adanya pemberian kredit sepeda oleh Pemda bagi pegawai Pemda tentunya. Tapi brosurnya mampir juga ke kantor saya meski kantor saya bukanlah Pemda.

Tentu saja penggalakan bersepeda jumat itu tidak berlaku di kantor saya hehehe. Biar begitu, bos saya sudah punya sepeda baru. Begitu pula beberapa teman saya sekantor juga sudah ada yang beli sepeda baru. Hmm, kena imbas rupanya.

Ah, tapi saya sudah lebih dulu beli sepeda. Tepatnya setahun lalu, ketika itu saya merasa kesulitan menemukan sepeda. Di tempat saya tinggal ternyata tidak ada yang menjual sepeda, padahal di sinilah kecamatan inilah ibukota kabupaten berada. Akhirnya saya cari ke dua kecamatan tetangga. Seperti yang pernah saya ceritakan, kabupaten tempat saya tinggal ini jauh dari ibukota. Makan waktu sekitar 7 jam untuk ke kota Bengkulu begitu pula ke Padang. Dan para pedagang di sini rata-rata mengambil stok barang justru dari Padang.

Jadi, kemudahan pembelian sepeda dari Pemda itu tidaklah berpengaruh bagi saya. Coba sudah ada dari setahun lalu ya.... :(

Atau saya yang terlalu cepat?

Hmm, kala itu saya merasa kangen bersepeda. Rasanya sudah terlalu lama tidak pernah tahu rasanya naik sepeda seperti apa. Hehe

Wednesday, May 9, 2012

Kembalikan Sesuatu Pada Tempatnya Please

5/09/2012 06:00:00 AM 4 Comments



Ada orang yang sembarangan mengambil barang lalu tidak dikembalikan.

Ada juga yang seenaknya mengambil barang lalu dikembalikan tapi tidak utuh lagi.




Kedua hal tersebut mungkin hal sepele. Tapi bagi saya, jujur saya katakan kalau saya sangat tidak suka. Sudah mengambil tanpa ijin, eh tidak dikembalikan pula. Adapun kalau dikembalikan, sudah tidak utuh lagi ataupun sudah berubah tempat.

Memang, hal-hal yang diambil keseringan adalah hal-hal kecil yang mungkin harganya tidak seberapa, tapi ketidakberadaan barang tersebut merusak sistem yang sudah berjalan atau merusak kelancaran.

Contoh kecil yang sering saya alami adalah kehilangan sandal jepit. Saya sengaja membeli 3 sandal sesuai fungsi dan demi kelancaran. Satu saya letakkan di depan supaya kalau sewaktu-waktu mau ke luar rumah atau pergi sholat berjamaah ke mushola tidak perlu ambil-ambil dulu ke belakang. Satu lagi saya taruh di belakang samping untuk ke kamar mandi. Saya mau ada sandal khusus untuk kamar mandi. Menurut saya ini vital. Nah sandal terakhir saya taruh di belakang khusus untuk ke jemuran baju.

Lalu yang terjadi sekarang adalah semuanya raib. Tidak hanya sekali dua kali saya beli. Akhirnya saya capek juga karena hilang terus.

Contoh lain adalah di kantor. Saya sering kehilangan alat-alat di atas meja saya macam stapler, cutter, pena, pensil, dll. Memang hanya alat-alat kecil, tapi penting sewaktu-waktu butuh.



Kasus 1

"Kamu pinjam penggaris saya?"

"Iya..."

Saya lihat penggaris sudah dikembalikan.

"Loh wadahnya kok ga ada?"

"Hehe iya ga tahu ke mana..."


Kasus 2

"Tipe-X ku kok ga ada ya. Kamu pinjam?"

"Iya..."

Lalu dia kembalikan

"Loh tutupnya ke mana kok ga ada?"

"Memang ga ada kok..."

Hufff


Kasus 3

"Stapler aku ke mana ya? Kemarin kamu pinjam kan?"

"Iya kemarin memang kupinjam tapi udah kukembalikan."

Stapler pun raib ga tahu ke mana.


Kasus 4

"Pensilku kok ga ada ya. Pensilku mana?"

"Sudah kukembalikan..."

Pensil di atas meja saya habis. Padahal setiap kali hilang, pasti saya meraut yang baru. Tapi entah kenapa hilang terus. Bagi saya, pensil adalah alat vital dalam kerjaan saya. Pensil lebih penting daripada pena. Tapi pena pun juga seringkali hilang.


Saya adalah tipe penghapal letak/posisi. Bukan berarti barang-barang itu saya hapal satu-satu letaknya ada di mana. Bukan! Dari sekian tumpukan map atau barang yang ada di atas meja saya, saya tahu letak dokumen A ada di sebelah kiri atas, dokumen B di sebelah kanan bawah. Maka itu ketika ada yang memindahkan barang saya, saya tahu. Jadi, seberantakan apapun meja saya, saya tahu letak-letak barang yang ada dan tahu jika ada yang memindahkan karena sudah berubah posisi.

Hal ini juga berlaku ketika saya menghapal pelajaran. Maka saya ingat posisi misal paragraf ini ada di halaman sebelah kiri atas dsb. Tapi jangan tanya soal keruangan. Saya paling sulit menghapal arah jalan. Kalau pergi ke tempat baru sendirian, mungkin saya tidak kembali lagi karena tersesat. Hehehe. Untungnya dalam kerjaan saya selalu dilengkapi sketsa peta, jadilah tidak ada masalah.


Maka itulah, saya heran dengan orang-orang yang dengan seenaknya tanpa dosa mengambil barang orang lain lalu tidak dikembalikan pula. Padahal jika sesuatu dikembalikan pada tempatnya maka urusan akan jadi mudah karena sesuai tatanan yang sudah berjalan. Kerjaan akan menjadi lancar, tidak tersandung hal-hal remeh temeh yang semestinya tidak ada. Contoh kecil lain adalah peletakan stempel. Stempel biasanya ada di atas meja Kasubbag TU. Nah, begitu saya butuh, seringkali tidak ada di tempat dan saya harus mencari-cari ke mana si stempel berada.

Jujur, saya tidak suka kondisi sembarangan seperti ini. Ayok kita belajar jadi pribadi yang teratur. Umm, jika demikian apa saya termasuk pribadi yang kaku? :)




Monday, March 26, 2012

Ungkap Kasus Ala CSI

3/26/2012 10:42:00 AM 0 Comments



Info. Malam tadi Kantor X mengalami perampokan. Perampok berjumlah 6 orang dan berhasil membawa sejumlah uang, 2 buah laptop, dan emas perhiasan 25 gram.

Begitu isi sms yang terkirim ke hp saya pada tanggal 24 Maret 2012 pukul 12.05 wib.

Perampokan. Lagi-lagi perampokan. Miris. Yang dirampok adalah kantor pemerintah yang merupakan kantor pusat. Berita perampokan tidak hanya baru sekali ini. Setelah sebelumnya kantor propinsi di tempat saya kerja (saya di kabupaten), lalu kantor propinsi di propinsi lain. Dan yang baru terjadi itu kantor kabupaten.

Sepertinya perampok itu memang sedang mengincar kantor kami. Sekali merampok berhasil, eh lagi lagi dan lagi. Meski saya tidak tahu apakah memang ada oknumnya yang terencana atau bagaimana, tapi perbuatan mereka jelas merugikan negara.

Rasanya baru setengah bulan yang lalu saya, bos, dan rekan kerja saya pergi menjenguk korban perampokan di propinsi, eh sudah terdengar kabar tidak mengenakkan lagi di tempat lain. Mendengar curhat si korban, seram sendiri ga terbayang kalau terjadi pada diri saya. Si korban sempat say goodbye dalam hati pada anaknya karena merasa sudah tidak mungkin bertemu lagi alias tewas. Tapi ternyata azalnya belum tiba.

Seandainya saja seperti di serial tv CSI (favorit saya CSI New York), mungkin pelakunya sudah ketemu. Seandainya saja sistem keamanan di Indonesia sudah secanggih itu ya. Saya senang nonton CSI karena cara-caranya yang ilmiah untuk mengungkap suatu kasus. Sama sekali berbeda dengan Detective Conan yah.

CSI ini mungkin lebih mirip dengan tayangan Murder di FoxCrime. Dulu saya suka sekali nonton Murder. Meski serem, tapi itu adalah kisah nyata dan telah terungkap oleh Detektif Le Noir lalu dibuat simulasi dalam tayangan Murder seolah-olah asli.

Dalam Murder, ditunjukkan bagaimana seorang detektif bekerja. Dari mulai datang ke TKP, lalu memotret tanpa boleh menyentuh apapun atau merusak apapun. Selanjutnya memberi nomor pada barang-barang bukti. Dan jangan lupa pakai sarung tangan agar tidak menghilangkan sidik jari. Selanjutnya adalah membawa barang bukti untuk diteliti atau analisis serta mendengar wawancara dengan saksi/orang yang dicurigai terlibat. Terakhir membuat kesimpulan.

Apabila salah membuat keputusan, maka orang tak bersalah yang akan dipenjarakan. Itu yang selalu diucapkan detektif Le Noir.

Semoga tak ada lagi korban-korban selanjutnya.