Menjemput Kematian





05032011


"Setiap yang bernyawa pasti akan mati."

Pasti kalimat di atas sangatlah tidak asing lagi. Ya! Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kematian pasti akan menjemput setiap diri kita. Tak ada yang tau kapan waktunya, di mana dan bagaimana kejadiannya. Dan tanpa disadari bahwa dalam setiap hitungan detik ke depan, setiap diri kita maju menjemput kematian.

Semakin bertambahnya usia maka itu berarti bahwa jatah hidup kita semakin berkurang. Apakah kita sudah siap meninggalkan dunia ini? Bekal apa yang telah kita punya? Lalu bagaimana seandainya kita sendiri yang ditinggalkan lebih dulu oleh orang yang kita sayang, siapkah kita? Renungkanlah....

"Kematian tak akan menunggu sampai kau siap!"

Kenapa saya membahas tema kematian ini, tak lain karena saya baru saja melihat kejadian di depan mata saya. Saya menyaksikan seseorang menangis tersedu-sedu. Dan itu sungguh memilukan hati saya.

Betapa tidak? Ya! Pikiran saya langsung menerawang jauh bagaimana seandainya itu terjadi pada saya. Bagaimana seandainya saya ditinggalkan oleh orang tersayang saya, ibu saya atau bapak saya.

Sementara saya berada jauh di sini. Tak cukup satu hari perjalanan untuk sampai ke rumah orang tua saya di Lampung jika ditempuh jalan darat. Untungnya sekarang sudah ada bandara di kabupaten tempat saya kerja. Tapi tetap saja masih ribet. Kenapa? Dari kabupaten, berarti saya harus naik pesawat ke Kota Bengkulu. Dari Kota Bengkulu lanjut ke Jakarta lalu ke Lampung. Dan setelah itu saya masih menempuh jalan darat lagi sekitar satu setengah jam untuk sampai ke rumah.

Hal itu menjadi ketakutan tersendiri bagi saya setiap kali bayangan itu menyelinap dalam pikiran saya. Ini bukan pertama kalinya saya merasa demikian. Setiap kali saya mendengar berita kematian yang menimpa orang-orang di sekitar saya, bayangan itu selalu saja hinggap dengan cepat.

Lalu saya ingin merealisasikan rencana saya pulang dengan segera. Saya ingin melihat orangtua saya. Jika saya tunda, saya tidak ingin saya menyesal di kemudian hari jika terjadi sesuatu. Itu saja! Jadi, setiap ada kesempatan, sebisa mungkin saya harus pulang. Meski saya tahu benar bahwa kesempatan itu sangat langka. Apalagi mengingat perjalanan yang makan waktu lama pula.

Sejujurnya saya sangat iri dengan teman-teman yang bisa tinggal dengan orangtuanya ketika masa kerja seperti ini. Beruntung sekali mereka. Ya meskipun tidak serumah dengan orangtua, paling tidak masih bisa pulang sekali dalam seminggu saja itu pun sudah sangat berarti menurut saya.

Picture credit to the rightful owner
Share on Google Plus

About Reana Nite

A learner who wants to share what I have experienced and learnt in this life. Hope you who not experience the same thing as me can still get the same lesson and take the wisdom. Happy reading! ^_^

0 komentar:

Post a Comment

leave your comment here!