semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

September 2026 - Reana

Follow Us

Sunday, September 27, 2026

Pengalaman Vaksin Meningitis dan Polio

9/27/2026 01:42:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, hari ini minggu 27 September 2026 saya baru saja ambil vaksin meningitis dan polio di Klinik Bumame Cideng Jakarta Pusat. Saya pilih di sini karena sudah pernah vaksin saat COVID dulu di sini dan terbilang dekat. 

Saat saya cek google eh ternyata di bulan Agustus sedang ada promo untuk bulan september. Saya dapat harga 605 ribu rupiah. Alhamdulillah. 

Cara bookingnya gampang kok. Tinggal kontak whatsappnya saja nanti diarahkan ke admin. Kita isi formulir, bayar lalu datang di hari dan jam yang dipilih. Saya pilih hari ini jam 10 pagi. Tadinya saya pilih di tanggal 19 September tapi ternyata sebelum hari H saya dapat informasi kalau persediaannya habis. Makanya setelah ada info lagi saya langsung ambil tanggal hari ini.

Di klinik, pas saya datang ga ramai kok. Ga kayak jaman covid dulu dibikin tenda. :)

Ada pasien lain juga yang antri tapi ga antri banget. Saya datang langsung ke admin. Di sana diverifikasi paspor dan ktp lalu diminta emnunggu untuk vaksin. Ada menunggu 15 sampai 20 menitan untuk vaksin. Untuk vaksinnya sendiri ga lama kok. Vaksin meningitis di lengan atas kanan dan polio di lengan atas kiri. Setelah itu diambil foto sambil pegang paspor. Katanya sih permintaan kemenkes begitu.

Setelah itu ke admin buat ambil paspor dan ktp. Saya juga dikasih kartu kalau kalau suatu saat ambil vaksin lagi. 

Untuk vaksin meningitis ini berlaku 3 tahun sedangkan polio seumur hidup. Tapi karena saat ini pemerintah saudi aturannya berlaku setahun jadi kalau mau umroh lebih dari setahun harus vaksin polio lagi. 

Untuk sertifikat e-ICV akan dikirim lewat email dan whatsapp dalam sehari. 

Begitulah perjalanan vaksin saya hari ini. Alhamdulillah lancar. Kondisi tubuh juga fit. Tekanan darah aman. Terima kasih ya Allah.

Oya per hari ini saya cek harga paket vaksin meningitis plus polio 675 ribu. Harga normal 770 ribu. Kalau cuma meningitis 395 ribu. 

Kalau persyaratan vaksin cukup bawa paspor dan ktp saja. Untuk kondisi tubuh harus dalam kondisi fit. Pastikan sudah sarapan pagi. 

Sobat, demikian cerita dari saya. Sampai jumpa di posting berikutnya. 





Saturday, September 12, 2026

Pengalaman Nonton Langsung Orkestra Aula Simfonia Jakarta

9/12/2026 08:10:00 PM 0 Comments
Halo Sobat! Kali ini saya ingin cerita tentang pengalaman saya nonton orkestra. Ini pertama kalinya saya nonton langsung. Awalnya ga kepikiran sih. Kalau namanya nonton konser, yang kepikiran ya konser penyanyi-penyanyi populer. 

Suatu ketika tutor saya pernah cerita habis nonton orkestra. Ah, iya juga ya, saya ga pernah kepikiran nonton orkestra. Kayak kurang umum saja nonton ini secara langsung. Sebenarnya orkestra ini bukan hal asing di Indonesia. Kita sering kok nonton di tv. Tapi memang kalau konser-konser gitu lebih populer konser penyanyi. 



Terus gimana ceritanya saya jadi nonton orkestra pada akhirnya? Jadi, ceritanya nih, waktu itu tepatnya 2 bulan lalu lah ya saya lihat-lihat tiket untuk beli tiket stand-up comedy, eh ada tuh tiket orkestra, tapi pas saya cek sudah tutup. Terus pas saya nonton stand-up comedy, besoknya saya baca berita bahwa pada malam saya nonton itu ada konser orkestra gratis di Monas. Wah, saya ketinggalan info. 

Nah, konser ini tuh penyelenggaranya sama, yaitu Simfonia Jakarta. Lalu saya cek websitenya lagi, eh ternyata sudah ada jadwal konser untuk beberapa bulan ke depan. Saya cek, terus saya coba ajak teman saya, eh, ga mau dong dia. Alasannya jauh. Hehe. Padahal sih ya masih di Jakarta. Dan harga tiketnya mulai dari 100 ribu, loh. Terjangkau, kan?

Kalau cuma untuk dapat pengalaman dan hiburan yang berbeda, worth it lah ya. Tapi ya begitulah, kita ga bisa maksa orang lain. :)

Sebenarnya ada konser terdekat waktunya bulan Agustus, tapi akhirnya saya memilih yang ini pada bulan September. Setelah saya lihat, yang September ini sudah ada soloisnya, makanya saya pilih ini. Kalau yang lain hanya instrumen. Untuk pengalaman pertama, saya pengen yang ada penyanyinya. Hehe.

Saya hold dulu itu, ga langsung pesan tiket. Setelah beberapa waktu, saya mikir, eh, enakan di rumah saja sih istirahat. Selain itu, karena acaranya jam 5 sore, jadi agak berat karena kan kita harus salat Magrib. Tapi kemudian saya mikir lagi, eh, kalau acaranya 1,5 jam masih kekejar buat salat, apalagi acaranya nggak jauh dari tempat tinggal saya. Kalaupun misal mepet, saya bisa balik duluan. Jadi, ga usah dipersulit. Karena memang acaranya rata-rata jam 5 sore. Paling cepat jam 4 ada, tapi pembelian tiketnya belum ada. 

Okelah akhirnya pas saya keingat lagi saya putuskan beli tiketnya. Ga usah kebanyakan mikir. Nonton sendirian juga gapapa. Kalau nunggu ada temannya, alamat ga bakal nonton. Toh dekat ini dari tempat saya. :)

Saya mikir, ya sudah lakukan apa yang saya inginkan, apa yang bikin saya happy selagi saya bisa. Kita sendiri yang menciptakan kebahagiaan kita, toh. Ga usah nunggu dari eksternal buat kebahagiaan kita. Kita nikmati hidup ini. Kita punya kesempatan, gas saja. 

Paling ga, sekali seumur hidup pernah nonton, pernah ada pengalaman. :)

Tapi, tiket yang paling murah sudah habis haha. Padahal tadinya pertama kali saya cek masih ada. Yang tersisa tinggal yang menengah dan mahal. Ya, sudah saya pilih yang menengah saja seharga 500 ribu rupiah dan pilihan kursi saya adalah yang paling tengah, yaitu J12. 

Dan akhirnya, pilihan saya adalah Mendelssohn Elijah untuk 12 September 2026.

Sejujurnya ga ada yang saya kenal ini. Saya awam banget dengan dunia orkestra dan musik klasik. Pernah sih nonton Nodame Cantabile (serial Jepang) tentang anak-anak sekolah musik klasik, tapi kan itu serial ya, kita ga dapat gambaran yang dalam tentang musik klasik. Cuma hiburan saja yang kita dapat. :)

Saya cari tahu dong apa itu Mendelssohn Elijah. 

Terus apa yang saya dapat?

Pokoknya positif. Musiknya grande. Oratorio. Lah, apa pula itu? Apa sih oratorio. Ternyata oratorio adalah komposisi musik besar dengan teks dramatis atau narasi untuk paduan suara, penyanyi solo, dan orkestra yang keseringan ceritanya keagamaan atau kekristenan. Aduh, lah, salah pilih dong ini. Apa ini konser untuk kristiani? Waduh jangan sampai nanti di sana sendirian saya yang muslim. Pakai hijab. Duduk di tengah pula sendirian. Alamak. 

Tapi kemudian saya mikir lagi sih. Kalau memang bukan untuk umum masa di publish tanpa pemberitahuan apa-apa misal ada tulisan khusus umat kristiani. Ini nggak kok. Jadi harusnya aman ya. Lagian musik klasik ini buat semua kalangan kan walau misal sejarahnya ini oratorio adalah dari orang kristen. Ini hanya kekhawatiran sesaat saja di otak saya. Okelah santai... tiket sudah di tangan. Walau apa yang terjadi, cuss... :)

Jadi, bagaimana ceritanya di konser tersebut?

12 September 2026

Jam 4 sore lebih sedikit saya pergi ke lokasi konser yaitu di Aula Simfonia Jakarta Pademangan. Ternyata dekat kok dari lokasi saya cuma 2 km, sekitar 10 menit sampai. Jam setengah 5 kurang saya sudah sampai. Pas masuk gedung saya bingung di mana lokasinya karena ga ada petunjuk. Eh ada lift di tengah. Saya lihat orang-orang pada masuk lift. Saya mau ikut masuk tapi saya hold. Saya cek lagi tiket saya. Benar sih ga ada petunjuk.

Sepi tuh depan lift ga ada orang. Pas ada orang lewat saya tanya lokasi. Saya diarahkan ke belakang. Lah ternyata ada ruangan lagi di belakang. Kalau dari lift masih jalan lurus ada pintu keluar ya di situ kelihatan ruangannya. Nyebrang. Ternyata sudah ramai orang depan. Saya tanya petugas tempat registrasinya mana. Dibilangnya belum dibuka. Nanti langsung scan barcode saja pas masuk. Oh ternyata gitu. Beda cara dengan pas saya nonton standup comedy. Baiklah.

Tak lama kemudian pintu dibuka. Saya ikut ngantri duluan. Aman sih cuma scan barcode ga perlu tunjukin ktp. Saya naik tangga tuh ngikutin orang-orang di depan saya. Lalu masuk ruangan juga ngikutin yang di depan saya. Pas saya sudah di dalam saya lihat-lihat mana ya kursi saya. Petugas di depan saya cek tiket saya lalu saya diantar ke luar
 Saya salah pintu sobat hehe. Itu tadi pintu lantai 1 untuk VIP. Saya seharusnya ke lantai 2 dan masuknya dari pintu lain. Naik dulu tangga pertama. Karena ada dua tangga sebelahan. Saya naik tangga yang kiri. Di sana baru deh saya nemu kursi saya. Mj12. Bebar-benar di tengah ini kursinya. 

Pas saya masuk masih belum banyak yang masuk. Mendekati jam 5 pas baru mulai penuh. Penuh loh ini penontonnya. Kalau saya perkirakan mungkin 1000 ada ya. Banyak juga ternyata peminatnya. Saya lihat-lihat, ini saya sendiri yang muslim ga ya. Eh ternyata ada kok yang berhijab sekitar 5-6 orang selain saya. Kebanyakan yang nonton memang ga berhijab dan turunan tionghoa. Petugasnya juga turunan tionghoa semua yang saya lihat. Okelah kalau gitu berarti saya ga sendiri ya. Tadinya saya pikir apa saya salah pilih konser.

Jam 5 lewat 5 menit acara mulai. Musik dimainkan. Ada choir nya di lantai 2 pas  berhadapan depan saya yang semuanya berseragam hitam dan di sebelah kirinya berseragam hitam putih. Yang hitam putih ini kayak bocil dari jauh. Mungkin anak SMP SMA. 

Penyanyi solo wanita ada 3 orang dan solo pria 2 orang. Musik dan nyanyian jalan terus sampai jam 6.15 pm. Duh apa ga capek ya hehe. Tapi kan memang mereka ganti- gantian ga terus-terusan non stop. Saya coba menikmati musik dan lagunya. Suasana sepi kok ga ada orang ngobrol pas perform.

Soundnya bagus loh. Saya sampai mikir ini asli ga sih atau rekaman ya. Soalnya tuh kelihatannya standing mic nya jauh tapi suara penyanyinya menggelegar dan jernih kayak rekaman. Begitu pula choirnya. Saya sampe merhatiin itu mereka pakai alat rekaman di bajunya ga sih tapi kok ga kelihatan.

Di bagian-bagian tertentu berasa kayak denger background soundtrack film. Kalau ga film yang epik ya drama drama korea atau china yang pake musik orkestra atau pun opera. Saya suka loh dengar soundtrack yang ada penyanyi soprannya. Kadang cuma seperti berdehem atau nyanyi bahasa aneh gibberish yang tak dimengerti pun sudah indah banget di kuping saya. Contohnya di lagu Winter is Coming OST Goblin yang dinyanyikan oleh Han Soo Ji. Dia juga nyanyi di OST Angel's eyes. Ada juga Ave Maria OST Stairway to Heaven. Untuk musik klasik yang indah banget itu Canon in D nya Pachelbel sih menurut saya. Mau dimaininin versi apapun juga bagus. Buat soundtrack drama juga keren banget. Keinget-inget terus saya waktu nonton At The Dolphin Bay. 

Balik ke konser.

So far, bagus untuk pengalaman pertama karena ini komplit ga cuma musik tapi ada choir dan penyanyinya. Tapi ada yang bikin saya penasaran. Lirik lagunya. Kok nyebut prophet Baal. Hear us. Pokoknya berkali-kali nyebut nama ini. Terus gambar di layarnya itu sapi di tengah dikelilingi orang kayak persembahan. Ada juga nyebut jehovah di liriknya.

Ini memang oratorio. Keagamaan kristen ya kan. Saya ga paham sih. Cuman ya itu tadi yang bikin penasaran.  

Lirik lagunya bahasa Inggris ya sobat bisa dilihat dilayar besar.

Setelah 6.15 kan interval 20 menit ya alias istirahat. Setelah itu lanjut lagi sampai jam 7. Nah, sebelum ini tuh saya memang sudah berniat pokoknya 6.15 saya balik karena saya mau sholat magrib. Eh ternyata pas jam segitu interval. Sip lah. Cus saya pulang.

Saya kan pesan gojek ya. Pas sudah dekat ojeknya loh kok saya cek gambar di map kok mobil. Bukannya saya pesan ojek motor. Pas saya baca daihatsu. Wah iya benar saya pesan gocar. Kok bisa salah pencet sih saya. Dekat banget padahal motor aja cukup. Seharusnya 9 ribu jadi ongkos 38 ribu hehe. Hmm ya sudahlah rejeki si sopir. 

Begitu sobat cerita saya. Kalau kamu pengen punya pengalaman juga silahkan nonton juga. Banyak kok jadwalnya tiap minggu ada sih kalau ga salah. Terkadang pengalaman itu harus berbayar baru bisa didapat. Ga semua hal bisa kita raih secara gratis. Jadi, untuk sebuah pengalaman ga usah sayang-sayang dengan uang jika memang worth it. Why not?

Ga usah takut sendirian juga. Saya sendirian dan buktinya sampai tujuan hehe. Sebelah kanan saya cowok mas-mas juga sendirian. Sebelah kiri saya pun cewek mbak-mbak berhijab sendirian. Walaupun misal mereka terpisah kursi padahal aslinya ga sendirian ya wallahualam hehe. Yang saya lihat mereka sendirian. :)

See you. Selamat berakhir pekan!










Tuesday, September 8, 2026

Ketika Korban Tak Bisa Bersuara

9/08/2026 12:33:00 PM 0 Comments
Halo Sobat. Kali ini saya pengen mengomentari kasus pembunuhan yang beritanya sedang hangat ya yaitu kasus pembunuhan Mozza Axillia Gunarsa di Jawa Tengah yang masih di bawah umur yaitu 17 tahun saat pembunuhan (Juni 2025) dan baru ketemu tulang-belulangnya setahun kemudian. 

Kasus ini membuat kita bertanya

Apakah berita ini miris? Ya tentu saja. Pertama, karena korbannya adalah anak di bawah umur. Walau umur 17 tahun bisa dibilang cukup umur tapi tetap saja masih anak-anak masih dalam pengawasan orang tua. Secara hukum masih tergolong anak-anak. Selain itu, korban ini bergender perempuan yang memang sangat rentan menjadi korban.

Kedua, korban berkenalan baru sebulan melalui media sosial tiktok dan sudah menjalani hubungan romantis dengan pelaku. Pertanyaannya adalah secepat itu? Walaupun pengakuan adanya hubungan romansa ini adalah pengakuan dari sang pelaku yang tentu saja tidak bisa dikonfirmasi ke korban secara langsung, boleh misal kita asumsikan saja ini benar ya karena memang pada umumnya hal apa lagi yang menjadi pemicu alias motivasi yang membuat seorang perempuan bersama laki-laki jika bukan adanya ikatan emosional alias romansa. Ini asumsi terburuk ya. 

Jangan buru-buru menerima narasi pelaku

Korban datang ke kos pelaku. Pelaku mengaku cemburu karena adanya pria lain lalu terjadilah cekcok dan terbunuhlah korban. Setelah itu, korban dibuang. Motor korban dijual dengan alasan menghilangkan barang bukti. 

Sobat, sampai sini apakah ada kecurigaan kalian? Apakah kalian percaya pengakuan pelaku begitu saja?

Ingat sobat ya. Almarhum sudah tidak ada dan tidak akan bisa mengonfirmasi apapun yang diucapkan pelaku. Almarhum tidak akan bisa membela diri. Di sinilah kita hanya mendengar dari satu sisi yaitu pelaku.

Pelaku bebas membuat alibi atau mengarang cerita apapun yang bisa meringankan hukuman pelaku. 

Barang korban menimbulkan pertanyaan

Mari kita berpikir sejenak. Jika harta benda dijual oleh pelaku selepas menghilangkan nyawa korban, apakah kalian berpikir bahwa oh kalau gitu bukannya pelaku berniat menguasa harta korban? Jika memang mau menghilangkan jejak kenapa dijual? Kan bisa saja dibuang, dipendam, dibakar, dirusak atau apapun bentuknya untuk menghilangkan bukti misal karena ada sidik jari. 

Lah kalau dijual kan dapat duit ya lumayan jutaan jual motor, laptop, HP atau mungkin perhiasan. 

Ingat! Kenal baru sebulan loh. Kalau tidak ada niat menguasa harta benda mana mungkin ada keinginan untuk mengambil barang-barangnya. Yang ada ketakutan, kepikiran, hidup ga tenang, mana kepikir ambil barang apalagi dijual. Trauma kan kalau baru pertama kali membunuh. Ini dalam kondisi normal bagi sebagian orang ya. Bukan semuanya. Karena memang selalu ada perkecualian di dunia ini. 

Kalau sampai kepikiran ambil barang dan dijual sih jadi menimbulkan asumsi seperti sudah direncanakan ya. Kalaupun tidak direncanakan, kemungkinan si pelaku memang sudah ada niat ga baik. 

Saya tidak menuduh pelaku ada motif ekonomi. Hanya saja perilakunya itu bisa mengarahkan kita sebagai penonton ke arah sana. Ya memang diakui kalau respon seseorang setelah pertama kali membunuh kan pasti berbeda-beda tak bisa digeneralisir. Semua kemungkinan yang terjadi ada. Makanya di sinilah kita bertanya-tanya.

Merampas barang kan tidak harus dibunuh ya. Dengan bujuk rayu pun bisa kok pelaku menguasai harta korban. Paling-paling bertengkar kalau korban ga mudah dibujuk. Dan memang pertengkaran ini bisa mengakibatkan pembunuhan. 

Jangan menjadikan prilaku korban sebagai pembenaran

Ada hal yang ingin saya bahas juga. Kenapa si wanita pergi ke kos pria? Ini tanda tanya sih. Ngapain perempuan ke kos pria? 

Ini bukan menyalahkan di wanita karena motif bertemu seseorang bisa sangatlah beragam. Mana kita tahu kalau misal pertemuan itu murni pertemanan, jualan atau bisnis, nagih hutang, pekerjaan, membantu, mengantarkan sesuatu, hingga motif relasi. Siapa yang tahu?

Dalam budaya kita kan sebenarnya masih tabu ya perempuan mencari atau mendatangi pria sehingga lebih besar rasa malu jika perempuan ke tempat pria sendirian. Tapi entahlah ya kalau di jaman sekarang sudah tidak ada lagi hal-hal tabu semacam itu. Entah bagaimana pendidikan prilaku anak muda jaman sekarang. Apakah memang sudah sebebas itu tak ada lagi batas pergaulan pria dan wanita. 

Ini pelajaran buat anak perempuan harus lebih waspada ya kalau mau ketemu orang baru. Sudah banyak kok literasinya. Coba pikirkan risikonya ya sebelum bertemu. Ditimbang-timbang dulu. Pikirkan keselamatan diri kita sendiri. Coba berpikir lebih panjang. 

Perasaan keluarga

Sobat, kebayang ga sih bagaimana perasaan orangtua. Korban yang dilaporkan hilang dan kemudian ketemu setelah setahun sudah menjadi kerangka. Sedih banget pasti kan keluarganya kehilangan anak. 

Kenapa ya menghilangan nyawa sudah kayak bunuh nyamuk aja. Setega itu. Kayak nyawa ga ada harganya sama sekali. 

Itu orangtua yang membesarkan bagaimana coba kehilangan anak.

Pelajaran buat anak muda

Kalau memang cinta kenapa harus dibunuh?  Kalau memang cemburu kenapa harus dibunuh? 

Logikanya, kalau dibunuh artinya ga cinta kan? Orang cinta kan takut kehilangan semestinya. 

Cinta kok kak makanya dibunuh karena saking cintanya biar tak ada orang lain yang memiliki? 

Apa? Itu sih bukan cinta. Itu sih balas dendam. Pelampiasan emosi karena sakit hati. Bukankah kalau cinta harusnyaa energinya positif sehingga semestinya mengayomi, melindungi. Sedangkan amarah itu sendiri negatif makanya bisa destruktif. Ya, walau lagi-lagi kita ga bisa sehitam putih itu karena lagi-lagi selalu ada perkecualian, selalu ada grey area. Cinta bisa hadir bersamaan rasa sakit, hati, cemburu, dan sebagainya.

Intinya, jangan pembenaran atas nama cinta ya. Hilang nyawa loh ini.

Apa ga ada jalan lain? Tinggalinlah kalau memang diselingkuhi. Putus. Wanita lain masih banyak. Nanti juga move on. Baru sebulan juga loh. Memangnya secinta apa sih kalau baru sebulan? Ini dengan catatan kalau memang motif cemburu ya.

Lah kan sakit hati kakak diselingkuhi? Iya betul. Tapi kan sakit hati tidak menjadikan itu alasan untuk mengambil nyawa orang lain toh? Itu sama sekali tidak dibenarkan dan tidak bisa menjadi pembenaran. Dia ga punya hak!

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya kan hubungannya baru sebulan kenal seperti pengakuan pelaku. Bisa dibilang masih seumur jagung. 

Seringkali saya ga ngerti dengan pola pikir para pelaku ini bagaimana ya. Dikuasai setan? Mungkin... 

Memang ga perlu dimengerti juga kali ya. Kalau dimengerti nanti malah dianggap memaklumi. 

Selain itu nih ya. Mungkin saja ada ketidaksetaraan power atau relasi kuasa. Saya tidak tahu berapa usia pelaku. Tapi ketidakseimbangan usia, pengalaman, dan sebagainya bisa menjadi salah satu penyebab tragedi ini terjadi.

Ok sekian dulu ya sobat. Ini adalah opini  bebas saja. Kalau kamu ga setuju silahkan saja kalian berhak. 

Akhir kata...
Kita serahkan ini ke pihak berwajib. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan.

See you!






Sunday, September 6, 2026

Kenapa Lagi-Lagi Perempuan yang Jadi Korban?

9/06/2026 04:31:00 PM 0 Comments
Sobat, kenapa ya banyak banget berita pembunuhan muncul di beranda youtube saya. Iya saya tahu sih itu karena algoritmanya yang manggil karena saya pernah buka konten berita kriminal. Tapi maksud saya bukan itu.

Maksud saya adalah kenapa semakin banyak saja berita kasus pembunuhan. Dan rata-rata yang jadi korban adalah perempuan. Iya saya tahu juga kalau perempuan itu rentan menjadi korban dengan segala keterbatasan yang dimiliki perempuan. Saya juga tahu kalau semakin berkembangnya internet dan sosial media kini membuat berita apa saja semakin mudah terekspos. Ini real. Fakta.

Tapi yang jadi pertanyaan itu kenapa lagi dan lagi perempuan yang ada dalam berita. Yang mayatnya dibungkus koper, dibungkus kardus hendak dipaketkan, dimutilasi, dibuang atau dipendam di tanah kosong hingga setahun bahkan lebih baru terungkap. Yang miris lagi, banyak sekali berita perempuan mati di kamar hotel. Sudah gitu, dalam keadaan mengenaskan tanpa busana. Naudzubillah. Jauhkan kami dari akhir hayat yang suul khotimah. Aamiin.

Pertanyaan saya ini bukan berarti saya ingin korbannya adalah pria. Masa wanita terus kan. No no no! Bukan itu. Maksud saya kenapa malah berita kriminal ini muncul terus bukannya dengan maraknya sosial media mengenai pemberitaan kriminal begini seharusnya semakin berkurang korban karena secara tidak langsung sudah terliterasi dari berita. Tapi kenyataan malah sebaliknya. Sobat, ini hanya asumsi ya belum buka data. 

Ya bisa saja kan memang orang-orang yang menjadi korban itu tidak terliterasi. Mungkin mereka orang-orang naif kurang literasi, kurang mawas diri misal. Ya bisa saja terjadi. 

Atau memang sudah takdir. Sudah ajal. Ya bisa saja. Tapi tetap saja hal ini bisa jadi pembelajaran buat yang lain. Ada sebab akibat. Karena kasusnya sudah banyak.

Sosial media itu bisa jadi media literasi yang bagus banget tapi juga bisa jadi penyebab kriminal itu terjadi. Misal orang yang jadi korban itu justru awalnya kenal dari sosial media. Nah loh. Hmm...kalau begini sosial media adalah pedang bermata dua. Bisa menguntungkan dan merugikan. Setuju? Karena ia bisa jadi pintu masuk kriminal sekaligus tempat belajar agar tidak mengalami tindak kriminal.

Lah kan anak muda sekarang kalau aksea sosial media yang diakses apa dulu nih. Mungkin video orang joged-joged, video lucu-lucu atau video lain misal yang cuma memberikan akses hiburan bukan akses informasi yang bisa meliterasi mereka. Iya bisa saja.

Mungkin juga ada yang berpendapat, yah namanya juga lagi apes. Iya bisa banget juga ini. Siapa yang bisa menghindar ya kalau lagi apes. Iya betul setuju banget. Tapi alangkah baik jika kita sebagai perempuan punya rasa mawas diri yang kuat. Siapa sih yang bisa menjaga dan melindungi kita kalau bukan diri kita sendiri? Ini secara kasat mata ya. 

Kan ada Tuhan yang selalu menyertai kita. Iya betul. Makanya kita harus selalu berdoa setiap kali keluar rumah agar selalu diberi perlindungan. Aamiin.

Coba kita buka mata ya sobat. Bahkan orang yang paling kita percaya pun misal pacar nih yang kita anggap paling dekat paling mengerti kita, eh kalian tahu nggak kalau mereka itu justru yang paling mungkin dan sering menjadi pelaku. Sudah banyak loh kasusnya. Rata-rata ya motif asmara. 

Memang sih pelik banget kasus kayak gini. Ga jarang juga karena si wanita terlalu berani. Berani gimana? Misal nih ketemu pria asing yang baru kenal dari sosial media. Mungkin awalnya baik-baik saja tapi pas ketemu eh konflik terus terjadilah kasus kriminal. 

Kita ga tahu loh sobat orang di media sosial iti bagaimana sepak terjangnya. Harus diriset dulu secara mendalam. 

Ya jangankan yang dari media sosial, yang kenal di dunia nyata pun banyak kok yang melakukan tindak kriminal

Ingat ya sobat ini tidak menggeneralisasi kalau kenal di media sosial pasti orang jahat dan di dunia nyata pasti baik. Nggak... nggak begitu pola pikirnya.

Yang baik-baik banyak juga kok. Cuman kita harus pintar-pintar menyaring. 

Intinya lebih mawas diri saja dan banyak-banyak meliterasi diri sendiri. Dengan kemudahan akses seperti jaman sekarang yang semuanya ada di genggaman. Semoga kita menjadi perempuan yang bisa menjaga diri sendiri dan selalu dalam lindungan Tuhan. Aamiin. 

Sekian cuap-cuap sore ini. See you!