Wednesday, December 31, 2025
Monday, December 29, 2025
Normalisasi Pertengkaran
Saturday, December 27, 2025
Berbeda Sudut Pandang dan Prioritas Hidup
Friday, December 26, 2025
Love, Rosie Movie Review
10 Dance Movie Review
Sunday, December 21, 2025
Man vs Baby TV Series Review
Saturday, December 20, 2025
Avatar: Fire and Ash
Merlin TV Series Review
Friday, December 19, 2025
Anne with an E TV Series Review
Wednesday, December 17, 2025
Doa Kehilangan Barang
Sumber: https://www.doaharianislami.com/2019/04/doa-saat-kehilangan-barang-agar-bisa-kembali.html?m=1
Tuesday, December 16, 2025
Letters to Juliet Movie Review
Sunday, December 7, 2025
Little Women Movie Review
Saturday, August 16, 2025
Jade Dynasty Anime Review
Saturday, August 9, 2025
35. Mengapa Luka Lama Masih Menyisakan Rasa?
35. Mengapa Luka Lama Masih Menyisakan Rasa?
Pernahkah kamu merasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba dihantam oleh kenangan yang sudah bertahun-tahun lalu? Mengapa luka yang lama masih terasa seolah baru kemarin?
Waktu memang bisa menyembuhkan banyak hal, tapi tidak semua luka hilang tanpa bekas. Ada luka-luka yang tetap tinggal bukan karena kita lemah atau gagal move on melainkan karena luka itu menyentuh bagian terdalam dari diri kita. Luka lama seringkali berhubungan dengan identitas, harga diri, cinta pertama, atau harapan besar yang tak jadi kenyataan. Maka wajar jika jejaknya masih ada.
"Beberapa luka tidak ingin disembuhkan; mereka hanya ingin dikenali."
— Yasmin Mogahed
Kita cenderung menekan atau mengabaikan rasa sakit dari masa lalu, berharap waktu akan menghapusnya. Tapi nyatanya, luka yang tidak diberi ruang untuk sembuh dengan utuh justru mencari celah untuk muncul kembali. Ia bisa muncul lewat mimpi, lewat percakapan sederhana, lewat lagu yang tidak sengaja terdengar di kafe. Dan setiap kali itu terjadi, kita diingatkan bahwa rasa itu belum benar-benar pergi.
"Luka adalah bukti bahwa kita pernah mencintai begitu dalam hingga meninggalkan jejak."
— Nayyirah Waheed
Luka lama menyisakan rasa karena ia menyimpan cerita yang belum selesai. Kadang, kita tidak hanya terluka karena apa yang terjadi, tapi karena kita tak pernah diberi kesempatan untuk mengerti mengapa itu terjadi. Kita memendam tanya, kecewa, bahkan kemarahan yang tidak pernah tersampaikan. Luka-luka itu menjadi pintu-pintu yang belum kita buka, dan setiap kali kita menyentuhnya, rasa lama itu kembali hidup.
"Bukan waktu yang menyembuhkan luka, melainkan bagaimana kita berdamai dengan cerita di balik luka itu."
— Anonim
Rasa yang tersisa adalah bentuk dari keterikatan emosional yang belum selesai. Kita bisa menyibukkan diri, membuat jadwal padat, tertawa di hadapan orang lain, tapi hati tetap tahu mana luka yang belum selesai diceritakan. Dan semakin kita menolak mendengarkannya, semakin kuat ia mengetuk dari dalam. Bukan untuk menyakiti kita, tapi untuk diakui bahwa: "aku ada."
Luka yang menyisakan rasa tidak harus selalu dilihat sebagai kelemahan. Kadang, justru dari luka-luka itu kita belajar tentang batas, tentang harapan yang patah, tentang diri yang pernah kehilangan, dan tentang bagaimana bertahan saat dunia terasa runtuh. Luka bisa menjadi tempat kembali untuk memahami: kenapa kita menjadi seperti sekarang ini.
Dan mungkin, luka lama tetap terasa karena ada versi diri kita di masa lalu yang masih menunggu untuk dipeluk—bukan dihakimi, bukan dilupakan, hanya dipeluk.
Pertanyaan reflektif untukmu hari ini:
- Luka apa yang masih menyisakan rasa dalam dirimu?
- Jika kamu duduk bersama luka itu hari ini, apa yang ingin kamu katakan padanya? Dan apa yang ingin ia sampaikan padamu?
Lanjut ke posting berikutnya...
Berikan hanya yang terbaik untuk orang lain
Saturday, June 14, 2025
34. Apa yang Sebetulnya Ingin Dikatakan oleh Kesedihan Kita?
34. Apa yang Sebetulnya Ingin Dikatakan oleh Kesedihan Kita?
Pernahkah kamu duduk bersama rasa sedihmu, bukan untuk mengusirnya, tetapi untuk mendengarkannya? Jika iya, apa yang kamu dengar?
Kesedihan bukan hanya beban yang harus segera dibuang. Ia adalah pesan yang perlu diurai. Kita sering terlalu sibuk mencoba "melupakan" dan "move on", sampai lupa untuk mendengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh perasaan itu. Padahal, emosi tidak datang tanpa alasan. Kesedihan adalah suara lembut yang sering kali kita bisukan karena takut akan apa yang mungkin kita temukan di baliknya.
Kadang, kesedihan datang untuk memberitahu kita bahwa ada luka yang belum sembuh. Kadang ia hadir karena kita terlalu lama menahan diri dari menangis, dari kecewa, dari jujur pada kenyataan yang tak sesuai harapan. Kesedihan adalah bentuk komunikasi dari jiwa yang butuh dipeluk, bukan ditolak. Ia mengajak kita melihat ke dalam, bukan lari keluar.
"Kesedihan adalah cara jiwa memanggil kita pulang—ke dalam diri sendiri."
— Clarissa Pinkola Estés
Kesedihan bisa juga menjadi sinyal bahwa kita sedang kehilangan sesuatu: seseorang, impian, arah, atau bahkan diri kita sendiri. Saat hidup berjalan terlalu cepat, kita cenderung mengabaikan kebutuhan emosional kita. Tapi kesedihan tahu bagaimana cara menghentikan kita dengan perlahan, diam-diam, tapi pasti. Ia membuat kita merenung, berpikir ulang, dan bertanya: apa yang sebenarnya penting bagiku?
"Terkadang air mata yang jatuh bukan karena kelemahan, tapi karena hati akhirnya berkata sesuatu yang tak bisa disuarakan dengan kata-kata."
— Anonim
Mungkin kita mengira bahwa dengan menghindari kesedihan, kita sedang melindungi diri. Padahal, justru di situlah kita kehilangan banyak hal: koneksi dengan diri sendiri, kepekaan terhadap rasa, bahkan keberanian untuk berubah. Menolak mendengarkan kesedihan sama seperti menolak melihat bagian dari diri kita yang paling membutuhkan kasih sayang. Tidak semua luka harus segera sembuh, tetapi semua luka ingin dimengerti.
"Kesedihan adalah jendela yang mengajarkan kita cara melihat ke dalam hati."
— Haruki Murakami
Ketika kita benar-benar membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan, bukan untuk menyerah tetapi untuk belajar, kita akan menemukan hal-hal yang tak pernah terungkap saat semuanya baik-baik saja. Kita menemukan ingatan yang terlupakan, pengharapan yang lama terkubur, dan sisi rapuh diri yang selama ini menunggu untuk diterima. Mungkin, kesedihan tidak datang untuk menghancurkan kita. Ia datang agar kita bisa membangun diri kembali dengan lebih jujur.
Kesedihan adalah ruang untuk beristirahat dari kepura-puraan. Ia memanggil kita untuk jujur, untuk hadir sepenuhnya, dan untuk merawat bagian yang terluka dengan kasih, bukan dengan penyangkalan.
Pertanyaan reflektif untukmu hari ini:
- Apa yang selama ini ingin disampaikan oleh kesedihanmu, namun belum sempat kamu dengarkan?
- Jika kamu memberi waktu untuk duduk bersama kesedihan itu, emosi atau kenangan apa yang muncul ke permukaan?
Lanjut ke posting berikutnya...
Thursday, May 29, 2025
33. Mengapa Kita Menyembunyikan Air Mata dari Dunia?
33. Mengapa Kita Menyembunyikan Air Mata dari Dunia?
Apa yang membuatmu menahan air mata ketika sebenarnya hatimu sedang ingin pecah? Apakah karena kamu takut terlihat lemah, atau karena dunia tak memberi ruang untuk orang yang menangis?
Air mata adalah salah satu ekspresi emosi paling tulus. Ia tak bisa dipalsukan, tak bisa dikendalikan seutuhnya. Namun, begitu banyak dari kita yang justru memilih menyembunyikannya. Kita buru-buru menyeka pipi sebelum ada yang melihat. Kita mengalihkan pandangan, tersenyum kecil, dan berkata, “Enggak apa-apa,” meski di dalam hati terasa sebaliknya. Seolah tangisan harus dikurung di tempat tersembunyi—hanya boleh hadir dalam sunyi.
Kita hidup dalam budaya yang menjunjung citra kuat, tabah, dan tahan banting. Tangis sering disamakan dengan kelemahan, dengan kurangnya kendali atas diri sendiri. Tak heran, banyak dari kita belajar untuk membungkam perasaan. Kita diajarkan untuk tetap tenang, tetap “profesional”, tetap bersikap seolah tidak ada apa-apa, meski hati sedang retak. Di ruang publik, kita berpura-pura tegar; di ruang pribadi, kita baru berani runtuh.
Namun, menyembunyikan tangis tidak membuat luka hilang. Ia hanya membuat perasaan semakin tertekan, seolah emosi adalah sesuatu yang memalukan. Padahal, menangis adalah salah satu cara tubuh dan jiwa menyelamatkan diri. Tangis adalah pengakuan jujur: bahwa ada yang terasa, bahwa ada yang mengganggu, bahwa kita masih punya ruang untuk peduli.
"Air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa kamu cukup berani untuk merasakan."
— Anonim
Bayangkan jika kita tidak perlu lagi malu saat air mata menetes. Jika kita bisa berkata, “Aku sedang sedih,” tanpa harus menjelaskan panjang lebar atau buru-buru menenangkan orang lain yang tak nyaman melihat kita menangis. Mungkin dunia akan menjadi tempat yang lebih empatik. Tempat yang memberi ruang aman bagi manusia untuk jadi manusia—dengan tawa dan tangis, dengan kekuatan dan keretakan.
Tangis yang dibagikan tak selalu melemahkan. Ia bisa mempererat. Ada keintiman yang lahir dari momen ketika dua manusia saling memahami luka. Menangis di depan orang lain adalah tanda bahwa kita mempercayai mereka. Kita membiarkan diri terlihat tanpa perlindungan. Dan di situlah letak keberanian itu.
Jika kita terus menyangkal kebutuhan untuk menangis, kita juga menyangkal hak kita untuk sembuh. Air mata tak selalu harus dijelaskan. Kadang, ia hanya ingin hadir, menyapu lelah, dan lalu pergi dengan tenang. Mungkin, dengan membiarkan diri menangis hari ini, kita sedang memberi diri kesempatan untuk lebih kuat esok hari—bukan dengan memaksakan senyum, tapi dengan memeluk perasaan yang nyata.
Lanjut ke posting berikutnya...






