semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Berbeda Sudut Pandang dan Prioritas Hidup - Reana

Follow Us

Saturday, December 27, 2025

Berbeda Sudut Pandang dan Prioritas Hidup

Halo Sobat? Apa kabar hari libur natal? Lumayan ya libur beberapa hari bisa liburan ataupun sekedar istirahat. Saya jadi punya banyak waktu buat nonton film. Hehe.

Kamis lalu pas 25 desember saya ketemu teman saya di rumah makan Amanaia Satrio di Setiabudi. Lumayan agak jauh 10 km dari tempat saya. Sampai di sana ramai pengunjung. Teman saya sudah menunggu di lantai 2 meja 20 yang terbuka tanpa AC. Kalau ruang AC sudah penuh. Begitu pula yang di lesehan sudah penuh. Cakep sih untuk yang lesehan ada kolam di depannya. 


Di sini menunya termasuk pricey dan banyak menu paket keluarga jadi cocok banget buat makan-makan grup atau keluarga. Menunyaa menu tradisional Indonesia dan ada banyak pilihan. Selama beberapa jam saya di situ mungkin ada sekitar 4 atau 5 kali nyanyian selamat ulang tahun. Heboh suaranya karena pelayan yang nyanyi sambil bawa kentongan. :) Mungkin ini salah satu daya tarik dari restoran ini. 

Saya dan teman saya pesan nasi bakar dan es teler habis sekitar 291 ribu berdua. Karena menu pribadi hanya sedikit jadi kami pilih ini. Minuman juga seperti dibagi sama harganya hampir semua 48 ribu mau jus, es jeruk, es teler maupun es dawet. Paling murah es teh masih dapat 15 ribu. Tapi enaknya di sini tempat duduknya lumayan luas ga terlalu sempit kalau dapat yang sofa. Duduk berjam-jam juga tak apa. Ada musholla juga di bawah. 

Lama ga ketemu teman saya kita seperti biasa ngobrol-ngobrol. Dia baru pulang dari umroh. Saya dibawakan 1 buah coklat katanya coklat Dubai. Alhamdulillah terima kasih. :)  Saya punya koleksi coklat di kulkas. 

Sebelumnya teman saya yang lain pulang dari Irlandia juga saya dikasih coklat. Masih ada di kulkas. :) Bos saya dari luar negeri bawanya juga coklat. Jadilah saya pengoleksi coklat :)

Berbeda Sudut Pandang

Lanjut lagi cerita saya dengan teman yang baru pulang umroh. Dia cerita berangkat pesawat delay di bandara Soetta 7 jam. Transit di Mumbay eh berangkatnya keesokan harinya. Dia cerita ibunya kepikiran cari oleh-oleh buat orang di kampung. Ternyata di kampungnya ada tradisi kalau ada orang pergi umroh itu tetangga pada datang kasih uang. Nah tapi dibalik itu orang-orang berharap ada oleh-oleh dari Mekah. Teman saya cerita awalnya dia cari oleh-oleh di Madinah dan ternyata berat katanya karena dia beli ada sekitar 20 orang. Jadinya pas di Indonesia kelebihan bagasi dan harus dikargokan ke kampung biar murah. :)

Dia tidak terpikir beli di jakarta saja atau online karena dia tidak menyangka ternyata yang dikasih banyak orangnya. Dia sendiri masih idealis awalnya kalau orang di kampung berharapnya oleh-oleh dari Mekah makanya dicarikan di Madinah yang lebih terjangkau.

Sobat, saya baru tahu ada tradisi begini. Kalau di kampung saya tidak ada. Kalau teman saya sih bilang ke ibunya jangan diterima uangnya biar tidak ada beban dan tidak ribet. Tapi ibunya bilang tidak enak masa orang ngasih ditolak. Dari sisi ibunya ini benar juga kok. Namanya juga bertetangga. Masa iya orang ngasih kita tolak. Untuk budaya ketimuran kita tidak begitu. Di sisi lain hal ini bentuk kepedulian tetangga terhadap tetangga. Secara ibunya hidul bertetangga ya sudah selayaknya mengikuti tradisi yang berlaku.

Kalau teman saya kan hidup di kota besar di sebuah komplek yang umumnya orang individual jadi saya juga tidak menyalahkan dia. Mereka berbeda sudut pandang karena beda pengalaman hidup. 

Kalau teman saya berpikir tidak mau ribet. Kalau mau kasih oleh-oleh ya semampunya. Orang yang dikasih pasti terima-terima saja kok. Tapi ibunya tidak mau begitu karena ibunya pernah dapat pengalaman dikasih orang pulang entah umroh atau haji tapi ya ala kadarnya. Makanya ibunya mau kasih yang pantaslah. 

Saya relate sih dengan cerita ini. Sebenarnya sudut pandang keduanya tidak ada yang salah atau benar. Saya setuju dengan ibunya. Karena saya juga mengalami diberi sesuatu yang tidak pantas itu rasanya menghinakan sekali. Saya pernah cerita di posting saya sebelumnya.

Kalau mau memberi ya berikanlah yang baik yang pantas. Maka tetanggapun akan berdoa yang baik untuk kita. Jika kita beri yang tidak baik bukan hanya diumpat tapi juga ditandai oleh tetangga. Kalau saya tidak ingin tetangga menambah dosa dengan mengumpat karena barang dari kita yang tak seberapa. Saya maunya tetangga bahagia dengan apa yang kita beri sehingga menjadi berkah dan jadi doa yang baik. 

Tentang Prioritas Hidup

Selanjutnya yang kita bahas adalah mengenai prioritas hidup. Teman saya ini cerita kalau dia tidak setuju dengan perilaku temannya yang berbuat ini dan itu. Dengan gaji yang terbilang besar seharusnya temannya lebih merawat diri, beli baju atau jilbab bahkan sendal dan sebagainya. Hal-hal sekecil itu yang menurutnya harusnya dia perhatikan. Soal penampilan. Tapi kemudian dia bilang suami temannya ini juga sama saja. Maka menurutnya itulah jodoh dapatnya yang sama. Nah kok jadi lari ke jodoh ujung-ujungnya. Haha. Itulah hikmah yang diambil teman saya. 

Tapi sebenarnya teman saya ini sudah mengetahui kalau temannya sedang ada prioritas lain yang memang ternyata keren. Jadi kemudian dia bisa menerima. Saya bilang ke teman saya kalau dia itu harus menerima temannya. Prioritas dan cara pikir dia tidak sama dengan temannya dan itu tidak bisa dia paksakan. Tiap orang punya prioritas. Tidak bisa kita samakan orang lain dengan kita. Kondisi yang dihadapi berbeda. Emosional psikologis orang beda-beda. Jadi apa yang menurutmu benar itu bisa jadi tidak berlaku buat orang lain. Begitu pula sebaliknya. Cobalah untuk melihat lebih luas. Jangan dari 1 sisi yang sempit lalu dengan mudahnya kita menjudge seseorang.
 
Hidup ini berwarna kan Sobat? Kalau semua orang sama seperti kita hidup ini tidak indah tidak ada seninya :)

Begitulah kalau kita bertemu seseorang dan ngobrol pasti ada saja hal-hal yang bisa kita ambil hikmahnya.

Setelah sekian banyak kita ngobrol, teman saya mengajak saya pindah tempat ke mall terdekat. Tapi ternyata hujan. Jadilah akhirnya kita menunggu reda lalu pulang. 

 


No comments:

Post a Comment

leave your comment here!