Follow Us

Tuesday, October 15, 2019

Amanah dalam Berhutang

10/15/2019 09:36:00 AM 1 Comments
Sobat, pernahkah kamu berhutang? 

Apakah kamu menjanjikan akan mengembalikan hutangmu pada jangka waktu tertentu? 

Ketika tiba masa pembayaran hutang, bagaimanakah yang kamu rasakan? 

Apakah kamu merasa sayang/berat dengan uang yang kamu miliki untuk segera kamu bayarkan? 

Apakah kamu merasa uang yang kamu miliki lebih baik untuk memenuhi hajatmu yang lain dulu, halah bayar hutang bisa kapan-kapan?

Apakah kamu tidak punya uang ketika datang masa pembayaran hutang lalu kamu diam saja tak memberi kabar?

Apakah kamu tidak punya uang lantas kamu malah marah/berkata kasar kepada yang meminjamimu hutang?

Apakah kamu menyepelekan pembayaran hutang alias tidak menepati janji dari batas waktu yang telah ditentukan?

Apakah kamu membayar hutang sebelum jatuh tempo?

Apakah kamu tipe yang takut jika tidak membayar hutang?

Yang manakah kamu?


Sobatku yang budiman. Hutang-piutang adalah perkara biasa dalam kehidupan kita sebagai manusia. Saya tidak menampik itu. Hutang-piutang bisa menjadi tolong-menolong jika memang pihak yang berhutang amanah dalam mengembalikan hutangnya.

Dalam hal ini saya tidak membahas hutang berbunga alias riba ya. Karena tentu saja riba itu merugikan bagi peminjam. Bukannya tertolong dengan berhutang tapi malah semakin terperosok ke dalam lubang. Sudahlah lubang yang digali itu dalam, eh malah semakin terjatuh ke dalam. Lalu kapan dia akan naik ke atas dan menutup lubang?

Ok, sekian dulu tentang hutang riba. Kita lanjut bahasan kita di awal tentang amanah dalam berhutang. Sobatku, dalam kehidupan saya ini saya mempunyai berbagai pengalaman dengan orang-orang yang berhutang ke saya. Saya katakan mayoritas dari mereka tidak amanah dalam berhutang. Bisa dihitung sedikit sekali yang amanah. Dalam hal ini mengenai pembayaran hutang ya.

Di posting saya sebelumnya saya sudah pernah membahas tentang hutang. Kali ini saya harus membahas lagi. Takutlah kamu dalam berhutang sobat. Karena apabila kamu tidak melunasi hutangmu maka akan ditagih hingga akhirat kelak. 

Saya mungkin tidak beruntung karena saya bertemu dengan orang-orang yang tidak amanah dalam berhutang.

1. Ada yang kabur
2. Ada yang lupa kalau hutangnya belum lunas
3. Ada yang diam saja sampai bertahun-tahun
4. Ada yang memberi janji tenggat waktu tapi giliran waktu pembayaran diam saja. Malah mau minta tambah. Ketika ditagih malah menyuruh sabar.

Allahu akbar! Begitulah sifat-sifat manusia yang saya temui berkaitan dengan hutang. Rata-rata saya tidak menagih. Ada pun yang saya tagih tetapi sungguh membuat saya seolah mengemis meminta uang. Seolah rendah sekali saya di situ. Astaghfirullahal adzim. Di situ saya merasa sedih.

Mereka memelas, bermuka manis, berkata manis ketika akan meminjam, dan tak sulit untuk mendapatkan pinjaman. Tidakkah mereka merasa tertolong? Tapi begitu datang waktu membayar mereka tidak ramah. Kenapa harus berjanji jika tak bisa ditepati? Semudah itu berjanji. Tidak menepati janji menjadi hal yang lumrah. Seolah tanpa dosa. Tidakkah merasa malu?

Mereka berhutang tapi masih bisa makan enak masih bisa tidur nyenyak. 

Ya Allahu ya Rabb...

Di manapun saya berpijak seolah tidak terlepas dari orang yang hendak meminjam hutang. Kenapa saya? Sudah seringkali saya merasakan kekecewaan dengan tidak amanahnya mereka yang berhutang. 

Ya Allah jauhkanlah saya dari hutang... 





Tuesday, October 8, 2019

Induk Kucing pun Stres Kehilangan Anaknya

10/08/2019 10:14:00 AM 0 Comments
Jumat, 4 Oktober 2019
Sepulang kerja, saya mandi lalu duduk di atas tempat tidur. Saya pun asyik berinternet ria selama satu jam mendekati magrib tanpa saya sadari. Tiba-tiba terdengar suara kucing dari bawah ranjang. Saya pun kaget kok ada suara kucing. Dari mana dia masuk? Selama satu jam saya di kamar sama sekali tidak terdengar suara.

Lalu saya lihat kolong ranjang ternyata benar ada kucing yang sedang menyusui anaknya di dalam kardus di kolong ranjang. Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana caranya dia bawa anaknya kesitu. Karena saya jarang buka pintu. Apa dia menyelonong masuk sambil membawa anaknya satu per satu ketika saya sedang membuka pintu dan saya kemudian pergi menjemur pakaian?


Atau mungkin lewat jendela ya. Untuk ukuran badannya mungkin bisa masuk. Masalahnya, menurut saya kardus itu tingginya sama dengan ranjang lebih pendek sedikit sehingga bisa masuk kolong. Masih heran saya bagaimana dia masuk kesitu dan kapan.

OK. Saya tarik kardus ke luar ranjang. Si induk kucing hanya diam saja. Saya lihat hanya ada dua ekor anaknya yang sedang menyusu. Saya merasa aneh kan kalau saya sekamar dengan makhluk lain, jadilah saya pindahkan kardus itu ke luar kamar, persis di depan kamar dekat meja TV. Saya biarkan si kucing di sana.

Saya berpikir, kalau di kamar saya bakal sulit si kucing keluar karena pintu saya jarang dibuka. Saya kan seringnya berada di kantor. Tapi memang, di bawah kolong ranjang saya tampak aman dari musuh karena tertutup tempatnya dengan sprei. 

Syukurnya saya lihat si kucing tidak beranak di kardus itu karena saya tidak melihat ada bekas darah. Mungkin dia baru saja memindahkan anaknya kesitu. 

Tak lama kemudian, saya cek kardus sewaktu saya akan ke luar kamar, eh ternyata sudah ada 3 ekor anak kucing. Lucu-lucu warnanya beda semua. Setiap kali saya ke luar kamar saya selalu mengecek kardus itu. Jika anaknya tidak sedang menyusu, mereka sedang tidur tanpa ada induknya. Anak-anaknya belum bisa melek jadi mereka masih berumur beberapa hari perkiraan saya.

Sabtu, 5 Oktober 2019
Beberapa kali sehari saya tengok kardus dan si kucing masih di situ. Saya sejujurnya senang melihat kucing dan anak-anaknya yang sedang menyusu. Lucu-lucu. Si induk kucing sendiri memang cantik.

Minggu, 6 Oktober 2019
Saya sedang duduk di kamar, tiba-tiba saya dengar suara seperti dari kardus. Saya pikir si induk kucing datang mau menyusui anaknya. Lalu saya buka pintu, eh ternyata kucing hitam lari tunggang langgang. Posisi kardus sudah miring terbalik. Saya dekati kardus itu. Innalillahi. Dua ekor anak kucing tergeletak tumpang tindih di luar kardus dengan luka di leher bersimbah darah. Satu lagi saya lihat pun sudah mati tergeletak di dalam kardus dengan kondisi yang sama mengenaskan. Sedih sekali saya rasanya melihat pemandangan ini. Sungguh brutal. Sungguh menyesal saya telat buka pintu. Jika tidak, mungkin masih tertolong. 

Saya menyesal raasanya memindahkan kardus itu ke luar kamar. Tadinya saya berpikir aman di situ. Tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Saya jadi meraasa bersalah. 

Waktu itu, saya biarkan saja posisi si kucing sedemikian rupa tanpa saya sentuh sedikitpun. Biarlah nanti induknya datang dan melihat sendiri. Tapi rupanya kok tidak datang-datang sudah sekian lama waktu berlalu. Karena tidak tahan melihat darah bercecer, akhirnya saya bersihkan darah di lantai dengan tisu dan si anak-anak kucing saya masukkan ke dalam kardus.

Tak terbayang bagaimana raasanya induk kucing saat tahu anaknya sudah mati. Sedih...

Tak hanya manusia yang bisa bersedih, induk kucing pun bersedih dan stres saat kehilangan anaknya

Benar. Induk kucing kemudian datang. Dia mengeong-ngeong dan mengendus-endus lokasi kejadian di mana si anak awalnya tergeletak. Lantai, kardus, bahkan kaki meja TV diendusnya. Yah, sudah kena tangan saya pula itu si anak kucing. Akhirnya dia memindahkan anaknya yang sudah mati ke lantai bawah. Mau dipindah ke mana ya kira-kira? Padahal kan itu sudah mati. Saya pikir bakal ditinggal di kardus begitu saja. Karena awalnya saya berpikir saya akan membuangnya ke luar rumah. Wah, sedih. Si kucing membawa anaknya satu per satu dengan mulutnya.

Setelah kejadian itu, si kucing seringkali kembali mendatangi dan mengendus kardus. Jika posisi kardus berdiri, maka saat saya ke luar kamar posisi kardus sudah miring terjatuh setelah didatangi si kucing. Si kucing mengeong-ngeong dengan nada yang sangat memilukan setiap kali dia datang. Ya Allah... sedihnya... Dari sini saya tahu betapa seekor induk kucing pun bersedih dan stres saat kehilangan anaknya. Tidak hanya manusia yang bersedih saat kehilangan tapi kucing juga bisa. 

Sampai hari ini saya menulis kisah ini, si kucing masih saja mendatangi kardus. Awalnya saya akan membuang kardus ini karena ada bekas darah anak-anaknya yang menempel di kertas yang saya letakkan di dalam kardus. Tapi belum jadi. Dengan dibuangnya kardus ini mungkin si kucing bisa move on ya. 

Belum apa-apa memang sudah ada dua ekor kucing yang datang ke depan kamar saya. Sepertinya dua ekor kucing itu naksir kucing betina tadi. Yang satu adalah kucing hitam yang membunuh si anak kucing. Satu lagi saya baru lihat sih sepertinya kucing lain.

Saya baca-baca artikel, penyebab kucing jantan membunuh anak kucing ada banyak alasannya. Tapi dari sekian banyak alasan yang paling masuk akal dari kejadian ini adalah karena si kucing jantan ingin kawin dengan si induk kucing. Induk kucing yang sedang menyusui akan fokus dengan anaknya dan tidak mau kawin. Nah, satu-satunya cara ampuh untuk membuat si induk kucing mau kawin ya dengan membunuh si anak-anaknya. Duh, kejam sekali dunia perhewanan. Tapi memang begitulah hukum alam. Makanya tak heran jika induk kucing selalu memindah-mindahkan anaknya yang baru lahir, sama halnya seperti singa.

Jadi bersyukur terlahir sebagai manusia. Iya ga sih? :)



Thursday, September 26, 2019

Kena Tilang harus Sidang? Begini Pengalaman Saya!

9/26/2019 02:17:00 PM 0 Comments
Tanggal 5 September 2019, hari itu bertepataan dengan hari jumat hari kedua saya masuk ke kantor setelah cuti wisuda. Saat itu saya agak siang masuk ke kantor dengan membawa sebuah motor dinas pinjaman dari teman yang tengah dinas luar ke kota. Tak disangka di tengah jalan diberhentikan polisi. Tidak hanya saya sih tapi banyak pengendara bersepeda motor lain yang juga diberhentikan. Saat itu saya sudah merasa bakal lama nih karena saya disuruh menepi ke pinggir jalan. Telatlah saya ke kantor.
credit to dreamstime

Saya ditanya nama, umur, alamat, nomor plat, dan SIM saya disita. Pelanggaran saya adalah saya tidak membawa STNK. Ya tentu saja saya tidak membawa STNK karena terbawa teman saya. Dia lupa menitipkan ke pegawai kantor. :)

OK. Mungkin kala itu sedang apes. Memang beginilah nasib jadi orang baik. Tak bisa berbuat kesalahan barang sekali akan langsung kena hukuman. Adakah kalian yang sama? :D

Setelah saya terima surat tilang, saya disuruh sidang di pengadilan pada tanggal 30 September 2019 hari kamis. Saya pun menuju ke kantor. Hampir setengah jam saya telat gegara menunggu surat tilang.

Sesampai di kantor, surat tilang saya baca. Eh, ternyata kamis bulan september itu tanggal 26 September. Sementara tanggal 30 september itu hari minggu. Lah, kok tidak sinkron? Mana yang benar? Saya lihat di kalender ternyata kamis tanggal 30 itu bulan agustus. Hihi pak polisi salah melihat kalender nampaknya.

Jadinya saya putuskan untuk ke pengadilan tanggal 26 september hari kamis. Nah, kejadiannya adalah pagi tadi. Saya ke pengadilan dengan polosnya untuk menghadiri sidang sebagai warga negara yang baik. Saya bawa surat tilang saya. Niat pertama saya adalah mau bertanya jadwal sidang saya yang sebenarnya tanggal berapa.

Pertama saya mencari kantor pengadilan di mana. Walau saya sudah bertanya ke teman kantor tap sempat salah arah ke arah hutan. Akhirnya saya pakai google map. Ketemulah kantor pengadilan negeri. Ini pertama kalinya saya ke kantor pengadilan. Di sana sepi ketika saya datang. Saya langsung ditanya bapak yang berdiri di dekat pintu masuk. Saya bilang saya mau tanya jadwal sidang. 

"Sidang apa?" kata Si Bapak.

"Sidang tilang," jawab saya.

"Di kejaksaan," kata Si Bapak.

Lah kok di kejaksaan? Tidak salah? Tulisan di suratnya di pengadilan kok sidangnya. Otak saya masih tidak terima rasanya. Saat itu memang saya tidak menunjukkan surat tilang saya. Saya pun meluncur pergi dari pengadilan menuju kejaksaan.

Sampai di kejaksaan saya masuk dan bertanya ke loket piket. Tidak ada petugas yang jaga tapi ada satu bapak yang berdiri di situ. Saya tanya ke beliau tapi dilimpahkan ke wanita yang melintas saat itu. Lalu saya dibawa ke ruangan untuk tilang.

Di sana saya bilang tanya jadwal sang dengan polosnya. Lagi-lagi polos banget. Di ruangan itu pegawainya seperti bingung begitu. Akhirnya saya keluarkan surat tilang saya. Lalu surat itu diambilnya dan bilang mau dicari dulu. Saya disuruh menunggu di luar. Ternyata ruangan itu ada loketnya di luar. Sudah banyak orang mengantri di sana. Baiklah saya menuju ke sana. 

Di sana saya terkejut. Loh di atas loket ada tulisan "loket pengambilan tilang. harap membawa uang pas.

Saya tanya ke salah satu orang yang mengantri juga. Saya baru tahu rupanya tidak ada itu sidang. Langsung bayar dan ambil STNK atau SIM yang disita disitu juga. Lah kok?

Itu saya heran kenapa ada tulisan harap membawa uang pas. Memangnya semua orang sudah pada tahu berapa yang harus dibayar?

Sebelumnya setahu saya (dengar dari teman) bayar tilang itu pakai rekening tidak cash seperti tadi. Sudah begitu, petugas tidak melayani sesuai urutan yang terlebih dulu datang mengantri. Orang-orang yang datang setelah saya, malah lebih dulu dipanggil. Ini apa-apaan begini?

Sudah begitu ya, petugas seperti kebingungan mencari berkas yang bertumpuk, bercecer tak berurut ketika ada yang komplain karena sudah mengantri duluan tapi tidak digubris.

Ketika giliran saya, saya harus membayar sebesar 115 ribu rupiah karena pelanggaran tidak membawa STNK. Sebelumnya saya tanya orang yang mengantri yang kena pelaggaran tidak membawa SIM harus membayar 175 ribu. Padahal sebelumnya 70 ribu saja. Kok drastis sekali kata orang tersebut.

Dan kejanggalan lain yang saya temukan adalah saya tidak menerima kwitansi pembayaran cash tersebut. Yang tentu saja saya tidak tanda tangan atas sejumlah uang yang saya bayar. Saya juga tidak melihat besaran yang saya harus bayar itu di lembaran yang petugasnya baca.

Dari kejadian ini saya merasa begitu polos. Memang, ini pertama kalinya saya kena tilang. Dan dari sini saya tahu bagaimana pemerintahan kita bekerja. Apalagi menyangkut duit. 

Semoga kalian semua tidak mengalami hal yang sama seperti saya. Uang 115 ribu terasa besar bagi saya yang memang pegawai biasa. Dan daripada untuk membayar yang tidak jelas begitu mending untuk donasi. Selain mendapat kebahagiaan hati karena berbagi juga mendapat pahala dan tabungan di akhirat. Coba hitung, berapa banyaknya duit terkumpul dikalikan berapa orang kena tilang?

Saya berharap ada transparansi dari pihak pemerintah. Jangan sampai mengambil uang dari rakyat tanpa kejalasan. Toh kalaupun dipakai pegawainya juga tidak berkah kan uang panas.

Ini berdasarkan pengalaman saya hari ini ya sobat. Mungkin di tempat lain berbeda. :)

Tuesday, September 10, 2019

Awas Penipuan Berkedok Gojek!

9/10/2019 10:13:00 AM 0 Comments
Sobat, apakah kamu pengguna aplikasi Gojek? Saya pribadi menggunakan Gojek selama saya di Jakarta. Untuk saat ini sih karena saya tidak lagi di Jakarta jadi kemungkinan besar tidak bisa memakai aplikasi untuk keperluan go-ride karena daerah tempat saya tinggal sekarang belum dijangkau Gojek. Justru ada aplikasi lain buatan pemuda lokal. 
sumber: linkedin gojek

Nah, kali ini saya mau cerita bahwa beberapa hari lau saya sedang memegang hp saya dan otomatis memandang layar hp saya ya. Tiba-tiba ada pesan notifikasi bukan berupa sms melainkan pesan tulisan semacam kita dapat pemberitahuan dari JNE bahwa pesanan kita sedang diantar. Kalian yang pernah mendapat pesan seperti itu pasti tahu ya maksud saya. Atau seperti pesan tertulis dari Telkomsel yang kemudian kita OK tapi tidak disimpan dalam bentuk sms masuk.

Tulisan pesan tadi berisi pesan singkat yang menyatakan diri dari PT Gojek Karia Anak Bangsa yang bilang bahwa anda mendapat hadiah 2 juta, hubungi nomor bla bla bla. Tak lama kemudian ada nomor asing (no hp) yang menelpon hp saya. Tapi berhubung itu nomor asing, tidak saya angkat. Dan nomor tersebut hanya sekali telpon. Saya tunggu tidak telpon lagi.

Ok, kemudian saya cermati lagi isi pesan tadi yang masih ada di layar hp saya. Kok ada yang aneh pikir saya. Perasaan tulisan Karya Anak Bangsa bukan Karia Anak Bangsa. Dan tunggu dulu! Dua juta rupiah? Lumayan juga ga sih? Hehe. Tapi saya kok tidak ditelpon lagi. Setelah pesan tadi saya tekan OK, hilanglah pesan tersebut.

Memangnya sedang ada undian apa di gojek kok bisa saya mendapat hadiah. Saya juga tidak pakai go-ride dan semacamnya selama setengah bulan terakhir. Kan aneh...

Akhirnya untuk memenuhi rasa penasaran saya googling saja. Ternyata ada beberapa keluhan pelanggan seputar penipuan berkedok gojek. Miris untuk orang-orang yang sudah menjadi korban. Turut berduka semoga mendapat ganti yang lebih baik. Kok ya ada-ada saja sih akal bulus orang untuk menipu orang. Padahal ya uang panas begitu juga tidak berkah dimakan. Kalau sudah jadi daging susah dihilangkan. Buat apa?

Untuk nomor yang menghubungi saya juga saya googling tapi sayang tidak ketemu. Tapi sudah saya laporkan ke Tellows. :)

Semoga cerita saya ini bermanfaat buat kamu.

Sunday, September 8, 2019

Cerita Wisuda S2 UI

9/08/2019 08:30:00 PM 5 Comments
Halo sobat! Saya kembali ingin berbagi dengan kalian. Kali ini saya ingin menulis tentang perjalanan saya akhirnya ikut wisuda. Alhamdulillah semua telah terlewati. Dan saya sudah kembali ke tempat kerja saya lagi.

Jadi, sekitar dua minggu lalu saya mengambil cuti selama 7 hari kerja mulai tanggal 26 Agustus sampai dengan 3 September 2019. Pada hari jumat sore sepulang kerja tanggal 23 Agustus saya langsung cabut menuju Kota Bengkulu menempuh perjalanan sekitar 5-6 jam dengan transportasi travel sampai sekitar pukul 22.00 wib. Sampai di Bengkulu saya singgah di Hotel Ham Tian. Sampai sana rupanya kamar yang paling murah meriah (150 ribu) sudah penuh jadi saya dapat kamar seharga 250 ribu. Ya sudahlah apa boleh buat. Saya memang tidak pesan terlebih dahulu.

Keesokan paginya, lebih tepatnya setelah sholat subuh saya dijemput teman kantor dan diantar ke bandara Fatmawati. Terima kasih banyak ya semoga Allah membalas kebaikanmu. :)

Subuh begitu memang belum ada transportasi di Bengkulu. Tadinya saya juga berpikir mau naik apa ke bandara. Bingung juga. Alhamdulillah ada teman yang tiba-tiba juga balik ke Bengkulu jadi dia yang menawarkan bantuan mengantar saya. Allah maha baik. Tidak direncana. Malah ada satu teman lagi yang juga ke Bengkulu yang bersedia mengantar juga padahal awalnya mau ke Bengkulunya di hari lain. Tapi jadinya bareng saya bertiga ke Bengkulu. Subhanallah.

Berhubung saya mengambil penerbangan setelah subuh jadi ya mau tidak mau buru-buru berangkat setelah sholat subuh walau badan masih lelah pegal-pegal. Saya memang sengaja mengambil penerbangan tersebut untuk mengejar waktu ke UI Depok untuk mengambil undangan dan toga. 

Sabtu, 24 Agustus 2019 - Pengambilan toga dan undangan

Hari itu adalah hari terakhir pengambilan undangan dan toga sampai pukul 15.30. Saya mempertimbangkan waktu jikalau ada macet dan sebagainya di perjalanan, delay pesawat atau apa pun itu. Perjalanan dari Jakarta ke Depok juga saya pertimbangkan sehingga saya lebih baik mempunyai cukup waktu luang. Dari Bandara Soetta saya ke kos dulu menaruh barang. Kemudian saya menge-print bukti pembayaran dan berangkat ke Stasiun Cikini. 

Turun di Stasiun Pondok Cina saya berjalan kaki menuju Annex Building Balairung UI lantai 2. Walau hari terakhir tapi rupanya masih banyak yang antri. Untungnya antrian S2 tak terlalu lama. Hanya menunggu giliran dari beberapa orang di depan saya, lalu tibalah giliran saya. Di kertas yang saya print tertulis rangkap 2 tapi ternyata hanya satu rangkap yang diminta dan bukti bayar asli. Jadi kelebihan saya menge-print. :(

Selesai urusan, saya pulang ke kos dan istirahat hingga keesokan harinya. Tubuh saya terasa begitu lelah dan pegal-pegal. Awalnya berencana ke Istiqlal pada hari minggu tapi batal. Istirahat saja di kos.

Senin hingga selasa saya mulai packing barang-barang saya. Kos saya habis per tanggal 2 September 2019. Tapi ya packing ala kadarnya karena kekurangan wadah. 

Rabu, 28 Agustus 2019 - Gladi Resik
saya ke UI Depok sekalian membawa baju wisuda karena hari itu adalah gladi resik. Untuk gladi resik saya pakai baju seadanya alias tidak pakai baju yang sudah saya siapkan dan juga tidak ke salon atau make up-an. Selesai acara gladi resik sudah tiba magrib karena fakultas saya dapat giliran akhir-akhir untuk salaman dengan rektor satu per satu.

Padahal justru hari ini yang penting karena salaman dengan rektor dan diambil foto satu per satu tapi saya datang seadanya saja. :D

Kelar gladi resik, saya langsung menuju masjid UI sekalian menunggu keluarga saya tiba di Depok. Lama saya duduk menunggu di depan masjid UI, eh tidak muncul-muncul juga. Sampai orang-orang yang tadinya duduk pun sudah pergi semua. Sampai saya ditegur security juga. Lampu mau dimatikan. Oh no! Saya disuruh pindah duduk yang kelihatan lampu agar kelihatan cctv. Sejujurnya saya merasa agak seram juga duduk sendirian sepi. Mana sebelah danau kan. Eh, alhamdulillah ada seorang bapak duduk di seberang saya. Saya lihat bapak tersebut menyetel tilawah quran di hp-nya. Lega. Tapi beberapa saat kemudian beliau berjalan dan menutup pintu luar masjid. Oh no!

Karena keluarga saya masih lama di perjalanan, akhirnya saya pindah duduk ke parkiran. Di sana masih ada 2 orang duduk bincang-bincang. Tapi tak lama kemudian, yang satu pergi. Ada orang lain yang melewati saya tapi melihat saya sebegitunya saya jadi seram. Takut orang jahat. :D

Sekitar pukul 22.00 keluarga saya datang. Alhamdulillah. Meluncurlah kami ke penginapan. :D

Wisuda Fakultas

Tanggal 29 Agustus 2019 saya ikut wisuda fakultas di Balairung Budi Utomo Hotel Bumi Wiyata. Wisuda fakultas saya membayar 800 ribu rupiah untuk biaya wisuda termasuk snack dan makan siang, undangan 4 orang dan paket foto. Di acara wisuda ini, baik wisudawan S1-S3 digabung menjadi satu. Wisuda ini sifatnya tidak wajib. Jadi hanya orang tertentu yang bersedia ikut saja yang hadir. Untuk biaya yang dibayar juga bebas memilih paketnya. Menambah undangan dan paket foto adalah opsional. Pada acara wisuda ini wisudawan maju satu per satu bersalaman dengan dosen fakultas (tidak ada rektor) dan foto dengan memegang tabung simbolis. Tabung dikembalikan lagi. :D


Jumat, 30 Agustus 2019
Yay! Hari bebas! Saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Dufan bersama 3 orang keponakan saya. Saya sih sudah berkali-kali ke Dufan, tapi keponakan saya ingin ke sana, jadi ya saya temani ke sana. Alhasil kakak-kakak dan ibu saya juga ikutan. Ya sudah, ramai-ramai ke sana. Padahal awalnya mereka punya rencana ke tempat lain. 

Sampai sana, saya kaget karena saya salah perkiraan. Awalnya saya pikir tiket hari jumat alias weekday 195 ribu rupiah. Rupanya khusus hari itu menjadi 295 ribu rupiah sama seperti weekend tapi jam buka sampai pukul 23.00. Kalau hari biasa kan hanya sampai pukul 18.00. Yang bikin kaget itu begitu ditotal harga tiketnya menjadi 2 jutaan untuk 7 orang. Syok. Ya Allah, untung bawa duit lebih. :D

Lalu kami antri masuk untuk dicap tangan. Eh, rupanya ibu saya ditanya petugasnya beliau berapa umurnya. Ibu saya kekeh mengakunya usia 65. Hehe. Dan usia segitu rupanya gratis masuk Dufan. Ya allah saya baru tahu. Jadi saya bisa refund tiket ibu saya. Alhamdulillah bisa untuk makan siang. :)

Tapi berhubung ibu saya tidak membawa KTP, saya harus membuat berita acara bahwa ibu saya berusia 65 tahun ke atas. Setelah itu saya antar ibu saya ke bagian pengecapan yang khusus untuk lansia. Beres deh. Yay! :D


Wisuda UI

Wisuda UI dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2019. Wisuda ini sifatnya juga tidak wajib. Tapi kalau mau ikut ya harus membayar senilai 900 ribu rupiah. Dalam paket wisuda ini kamu mendapat jatah 2 undangan, toga, dvd, piagam alumni dll. Pengambilan foto dan piagam tanggal 14-24 Oktober 2019. Kamu mendapat kertas nomor antrian yang harus kamu bawa saat pengambilan nanti (diberi setelah gladi resik). Jangan lupa bawa juga kertas print-out pengambilan. Wisuda ini dipisah antara S1 dan S2/S3. Jadi, yang saya ikuti waktu itu jadwal pagi pukul 9.00-11.00 wib untuk S2/S3/profesi.

Saya waktu itu terlambat masuk. Rupanya ada banyak yang terlambat juga pada berkumpul di belakang. Berhubung waktu itu sedang menyanyikan lagu-lagu jadi tidak diperbolehkan masuk dulu sampai selesai lagu dinyanyikan. Tapi hikmahnya terlambat ini saya justru ketemu teman seperjuangan saya yang selalu saling menyemangati saat penulisan karya akhir. Jadilah kami masuk barengan. Hehe. 

Wisuda ini saya benar-benar apa adanya. Tidak ada pakai make-up salon ataupun ambil paket foto studio. Padahal dapat selebaran sih. Awalnya kepikiran mau ambil tapi kemudian urung. Sebelumnya sudah lihat-lihat sepatu juga tidak jadi beli. Wisudawan lain cantik-cantik nyalon. Eh, saya tidak ada nyalon sama sekali. Teman saya pun tidak jadi nyalon karena sudah full katanya link yang saya kasih. :D

Selesai acara, saya berpisah dengan teman saya dan kami menuju keluarga masing-masing yang sudah menunggu. Sebelum pulang, kami foto-foto dulu. Banyak fotografer berseliweran di sana. Kamu yang tidak mengambil paket foto studio, tak usah khawatir. Bisa pakai jasa fotografer yang ada. Mereka ada yang menawarkan jasa paket foto dikirim ke rumah setelah jadi dan bisa diedit dulu biar hasilnya cantik.

Dan kamu juga bisa beli pernik-pernik UI di sebelah Balairung. Banyak yang jualan seperti payung, boneka, bantal leher dll. Oya, yang mau beli bunga untuk wisudawan juga banyak sekali yang jual di luar Balairung. Tapi kok mahal amat ya. :D

Sambil menunggu teman saya yang katanya mau datang dan sudah di KRL, saya pun mengobrol dulu dengan keluarga saya di parkiran. Saya sebenarnya cemas apakah bisa ketemu karena bapak saya ingin cepat pulang. Tapi alhamdulillah masih sempat. Terima kasih ya sobat sudah menyempatkan diri hadir. Terima kasih juga bingkisannya ya! Baraqallahu :)


Setelah itu, saya cabut bersama keluarga besar saya menuju Lampung tercinta. 

Saturday, August 17, 2019

Berjilbab tapi Kena Kutu Rambut? Hiyyy!!! Begini Cara Mengatasinya...

8/17/2019 08:04:00 PM 0 Comments
Halo Sobat! Buat Sobat-sobat wanita, adakah kalian yang pernah kena kutu rambut? Kenapa saya hanya menyebut sobat wanita? Ya karena biasanya yang dihinggapi kutu rambut itu para wanita. Jarang dengar kalau anak laki-laki kutuan. Apa karena rambut mereka pendek ya sehingga mungkin si kutu gampang kepanasan. Tidak seperti rambut wanita yang umumnya panjang sehingga kutu betah dan merasa adem kali ya.
Saya mengangkat tema ini gegara obrolan saya beberapa hari lalu dengan rekan wanita saya tentang seseorang yang buka salon yang punya pelanggan wanita berhijab lebar tapi oh ternyata kutuan si pelanggan tersebut. Nah, kemudian pikiran saya melayang ke masa-masa saya SD. Saya pernah kutuan. Waktu SD saya belum berhijab. Pada jaman dulu kala rasanya hal biasa anak kecil kutuan. Hehe.

Perantara Penularan

Yang mengherankan adalah saat saya sudah berhijab dan waktu itu saya posisi sudah bekerja, eh saya kena kutu lagi. Astaghfirullah. Syok saya. Dari mana datangnya? Saya tinggalnya ngekos sendirian. Memang sih saya ada beberapa kali tidur bareng atau sekamar teman saya saat di hotel karena pelatihan. Saya juga pernah menginap di kamar kos teman saya. Tapi si dia tidak kutuan. Kalau teman yang sehotel, masa iya dia kutuan. Tak ingin menuduh sih. Yang jelas saya sering tidur di hotel kalau pelatihan atau pun ketika singgah saat akan pulang kampung. Kalau saya baca artikel di liputan6 sih penyebab menularnya kutu harus ada perantara seperti rambut, handuk, sprei, helm, sisir, dll karena kutu tidak bisa terbang.

Rambut
Perantara rambut ini paling mudah menularkan kutu. Jangan menempel-nempel rambut orang yang kutuan hati-hati tertular karena gatalnya tidak ketulungan.

Handuk
Handuk yang dipakai untuk rambut sangat mungkin menularkan kutu jika kutu menempel di handuk. Atau mungkin telurnya menempel di handuk lalu pindah ke rambut kamu dan menetas. Waspadalah!

Sprei
Mirip-mirip dengan handuklah ya kalau di sprei. Bisa jadi kutu jalan-jalan di sprei lalu hinggap ke orang berikutnya yang tidur di situ.

Helm
Helm kan dipakainya di kepala, sangat besar kemungkinan bisa menularkan kutu jika ada kutu yang hinggap. 

Sisir
Biasakan pakai sisir pribadi ya. Sisir bisa jadi perantara penularan yang efektif karena sisir otomatis dipakai untuk menyisir rambut.

Tanda-tanda Kutuan
Kalau kutuan itu rasanya sangat gatal di kepala. Gatal sampai panas rasanya. Kalau digaruk-garuk terus nanti bisa lecet kulit kepalanya. Lalu terasa seperti ada yang jalan-jalan di kepala. Haduh kebayang tidak sih geli kok ada hewan di rambut. Nah, kalau kamu mengalami ciri-ciri di atas, cepat cek ya!

Cara Mengatasi

1. Cara Biasa
Cara biasa adalah cara untuk mengurangi jumlah kutu untuk sementara ya, tidak bisa permanen menghilangkan. Dengan kata lain, pertolongan pertama sebelum dimusnahkan secara permanen (obat yang ampuh dibeli).

Pakai Serit
Kalau di rumah, jaman dulu kala ibu dan kakak perempuan saya yang suka mencari kutu di rambut saya. Bisa diserit pakai sisir serit atau dicari langsung di rambut pakai tangan (istilah jawanya petan). Kalau ingat si kutu geli rasanya. Ya Allah...

Pakai serit cukup efektif untuk sementara mengurangi jumlah kutu dan gatal. Harus sering-sering diserit. Jangan lupa dibunuh kutunya beserta telur yang jatuh.

Dibersihkan saat keramas
Cara lain yang bisa sementara mengurangi kutu (bukan menghilangkan permanen ya) adalah dengan cara memebrsihkan saat keramas. Bagaimana caranya? Saat keramas kan pakai shampoo. Biasanya kutu pada pingsan atau mabuk. Nah, saat itu gunakan kain putih bersih lalu acak-acak rambut menggunakan kain tersebut yang sudah dibasahi, begitu dilihat si kutu sudah pada menempel di kain. Nah, tinggal dimusnahkan alias dibunuh.

2. Cara Ampuh

Kalau cara ampuh yang pernah saya lakukan adalah dengan menggunakan peditox. Cukup tuang cairan peditox ke kepala menyeluruh sampai basah lalu tutup kepala sebelum tidur. Buka setelah bangun tidur dan keramas. Sebaiknya jangan hanya satu kali supaya benar-benar hilang si kutu. Dengan pakai peditox, kutu mati. Telur juga ikut mati.


Nah, sekian sharing dari saya. Semoga bermanfaat! 

Thursday, August 15, 2019

Tak Kenal Tapi Diundang?

8/15/2019 12:08:00 PM 0 Comments
Halo Sobat! Pernahkah kamu diundang orang tak dikenal? Tahu-tahu undangan ada di atas meja. 

Saya sering loh mengalami hal begini baik ketika saya masih di Mukomuko maupun di Kaur. Jadi saya simpulkan kalau kebiasaaan orang Bengkulu tuh begitu. Kalau ada orang hajatan begitu ya, nama kita di kantor diminta untuk ditulis di undangan. Lah, kenal juga tidak. Buang-buang duit untuk mencetak kertas undangan sih kalau menurut saya. Satu kantor diberi undangan semua. 

Credit to Dreamstime

Yang teman seinstansi saya saja, pilih-pilih yang diberi undangan personal. Karena memang tidak kenal semuanya. Tapi kalau orang pemda begini semua dikasih undangan kenal tidak kenal. Sesuatu hal yang aneh sih menurut saya. 

Saya sendiri merasa aneh kalau menghadiri acara hajatan yang saya tak kenal satu pun. Siapa kamu? Siapa saya juga kan? 

Maret lalu di rumah orangtua saya ada hajatan. Yang punya acara kakak saya. Yang dia undang ya orang-orang yang dikenal saja. Ada dicatat di buku siapa saja yang hadir. Bahkan orang yang dikenal tapi terlewat diundang justru hadir dengan sendirinya.

Saya pribadi sih tidak mengharap imbalan kembali ya jika saya menghadiri undangan atau sekedar menitipkan amplop/kado. Kebanyakan yang saya titip itu justru orang-orangnya sudah pergi dari Bengkulu. Saya sendiri kan bukan orang Bengkulu. Asal saya jauh dari Bengkulu. Jadi, ketika suatu saat saya diberi kesempatan, waktu dan keluasan punya hajat, kemungkinan sangatlah kecil mereka hadir karena jarak membentang. Dan kemungkinan juga tidak saya undang karena mereka entah ada di mana. Tapi bagi saya minimal ketika saya datang/titip itu saya kenal dengan orangnya.

Dulu, di Mukomuko, saya di sana sampai ibu kos saya menikahkan anaknya sebanyak tiga kali dan semua resepsian besar-besaran. Ketika saya sudah tidak menjadi anak kosnya pun saya tetap hadir karena saya kenal dengan ibu kos walau saya tidak kenal dengan anak yang dinikahkan.

Ya, itu sekelumit pandangan saya loh ya. Jika orang lain berpikir lain ya silahkan saja. 




Saturday, August 10, 2019

Berapa IPK-mu? Kepo deh...

8/10/2019 01:30:00 PM 0 Comments
Halo teman-teman, jika kamu pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, pernahkah ada yang bertanya berapa IPK kamu? Ada berapa orang yang bertanya demikian?

Apakah mereka ada kepentingan bertanya? Apakah sekedar ingin tahu alias kepo?

Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian melakukan hal yang sama ke orang lain?

Mungkin kita dengan orang lain punya pola pikir yang tidak sama. Dan tentu kita yang terlahir dengan orang tua yang berbeda, lingkungan yang berbeda, budaya yang berbeda, akan banyak perbedaan dalam diri kita dengan orang lain.
Credit to Dreamstime
Saya sebagai pribadi merasa tidak suka ikut campur urusan orang lain. Apalagi kalau menurut saya adalah hal yang privasi, tentu saya harus tahu diri, harus jaga mulut ini. Ingat kata pepatah 'silent is golden, speak is silver'. Yang berarti bahwa diam lebih baik daripada bicara.

Yang ingin saya bahas kali ini adalah soal IPK. Adakah orang yang bertanya karena kepo? Entahlah saya tidak tahu tapi saya tipe yang tidak menanyakan nilai ke orang lain. Biarlah berapa pun (mau besar atau kecil) dia simpan sendiri, menjadi kebahagiaan dia sendiri ataupun perenungan dia sendiri untuk lebih baik. 

Tak ada untung juga buat saya tahu tentang nilainya. Buat apa? OK. Mungkin itu saya. Saya tidak bisa menuntut orang lain sepemikiran dengan saya. Apakah saya cuek? Mungkin. Saya tidak suka mengurusi hidup orang lain. Mengurusi hidup saya saja sudah ribet.

Saya pulang kuliah, sudah beberapa orang yang bertanya. Ada yang saya jawab ada yang tidak. Tergantung situasi kondisi. Penting atau tidak untuk dijawab. Siapa yang bertanya.

Keluarga saya yang merupakan pendukung utama saya selama studi, mereka tak bertanya nilai saya. Yang mereka tanyakan adalah kapan selesai studi dan wisuda. :)

Saya menulis artikel ini karena mengalami sendiri dan terheran-heran bahwa ternyata ada orang yang sampai sebegitu keponya sampai membanding-bandingkan. Oh dunia... 

Wednesday, August 7, 2019

Ketika Pria Menangis, Apa Reaksimu?

8/07/2019 08:24:00 PM 2 Comments
Ketika seorang pria menangis di hadapanmu, apakah reaksimu? Akankah kamu ikut menangis bersamanya?

Haduh, kok drama Korea sekali sih pria menangis. Hey, jangan lupa pria kan manusia juga. Mereka punya air mata juga.

Apakah kamu menganggap pria menangis itu lemah? Kamu tidak suka pria lemah? Lah, lalu kenapa kamu suka drama Korea?

Di drama korea memang bukan pemandangan langka melihat tokoh pria menangis. Saya biasa saja loh melihatnya. Tidak menganggap cemen, tidak jantan atau semacamnya. Malah terharu bisa terbawa suasana saya. Hehe.

Saya kan jarang sekali berinteraksi dekat dengan pria ya jadi tidak ada pria yang secara nyata sampai menangis di depan mata. Tapi suatu ketika ada seorang pria yang memang sudah saya kenal dan mengobrol dengan saya via video call ya tiba-tiba meneteskan air mata ketika bercerita. Lah, kan saya jadi bingung. Saya harus bagaimana.

Credit to Dreamstime

Melihat dia begitu sih saya sama sekali tidak menganggap dia lemah ataupun cengeng. Bagi saya dia adalah seorang pria yang punya sisi sensitif. Dia tetap maskulin. :)

Pria punya air mata juga kan? Bolehlah sekali-kali dikeluarkan. Biar lega. Hehe.

Biasanya sih pria yang bisa meneteskan air mata itu hatinya lembut. Haduh kok sok tahu sekali saya jadinya. Saya jadi ingat saya pernah punya teman pria yang menangis saat wisuda. Dia duduk di sebelah saya. Saya yang perempuan malah tidak menangis sama sekali. :D




Tuesday, August 6, 2019

Almond vs Pecan vs Macadamia vs Walnut vs Hazelnut vs Pistachio

8/06/2019 08:23:00 PM 0 Comments
Kalian penggemar kacang-kacangan? Jenis kacang apa saja yang sudah kalian coba? Yuk simak kacang-kacangan di bawah ini. Kalau jalan ke luar negeri saya sempatkan mencari kacang-kacangan.


Almond
Kalian pasti sudah tidak asing dengan kacang almond ya. Kalau kaliana suka beli coklat biasanya ada pilihan berbagai kacang sebagai tambahan rasa coklat seperti almond dan cashew. Saya pribadi lebih suka almond ketimbang cashew.

Honey sugar almond

Butter creamy milk almond - Miniso

Kalau di coklat kan tahu sendiri beberapa biji saja almond yang nempel. Nah, saya coba makan yang memang versi almond utuh. Ada rasa honey sugar dan butter creamy milk. Saya beli rasa honey sugar sewaktu di Beijing karena ditawari tour guide lokal dan ingin mencoba karena saya penggemar kacang. Kalau butter creamy milk beli di Miniso Beijing dan online via shopee. Saya sih lebih suka yang butter creamy milk. Kalau sudah makan tak bisa berhenti. 1 kg almond butter creamy milk saya beli seharga 179.000 rupiah di shopee. 

Pecan
Kacang pecan biasa disebut kacang roti. Agak mirip kenari sih bentuknya tapi beda. Kacang ini memang enak sih rasanya. Hanya saja, mengupasnya itu yang agak sulit. Sering nempel di kulit sebagian. Tak bisa ditarik sekaligus. Aromanya enak saya suka. Saya tidak tahu ini aroma asli atau buatan. Saya pertama membeli pecan di Miniso Beijing.

Pecan - Miniso

Macadamia
Ini kacang mahal sekalilah ya. Tapi memang terbayar dengan rasanya yang enak. Dan mengupasnya juga perlu usaha lebih. Pakai plier ya Readers.

Macadamia - Miniso
Bentuknya bulat-bulat lucu. Tapi batoknya itu keras betul. Saya pernah coba gigit pakai gigi hanya sanggup 2 buah saja. Selebihnya ngilu... Ampun dah. :( Keren sekali sang Maha Pencipta.

Saya beli macadamia di Miniso Beijing.

Walnut
Saya beli walnut di toko oleh-oleh Beijing. Waktu itu saya beli karena penasaran itu kacang apa ya. Kata Bapak dari Sumbar, itu kacang kenari. Tapi bentuknya keriting dan ada daging serta kulit buahnya dibelah diantara kacang. Saya suka sih rasa kacangnya walau terkadang ada rasa sedikit pahit. Yang membuat penasaran adalah daging dan kulit buahnya itu kan kering, apa bisa dimakan. Ternyata bisa dimakan waktu saya coba. Masa iya cuma hiasan kan. Tapi saya cuma coba satu biji. Sisanya cuma kacangnya yang dimakan.

Walnut

Hazelnut
Hazelnut sulit ditemui di Indonesia. Ketika ke Turki saya mencoba beli hazelnut yang panggang kupas original. Saya sih tak terlalu suka tapi ibu dari Bandung yang duduk di bangku bus sebelah kiri saya suka rasa ini. Hehe. Tak sempat foto bungkusnya. Langsung dimakan saja.

Pistachio
Kalau kacang pistachio sih bertaburan di Indonesia ya terutama oleh-oleh haji. Saya suka kacang ini gurih asin. Tapi harganya memang mahal.

Nah, itu dia teman-teman kacang-kacangan yang saya buru kalau jalan-jalan. Pernah beli mede tapi kan mede juga bertaburan di Indonesia jadi tak usah dibuat review ya. Begitu pula kacang arab, banyak di Indonesia. Harga kacang arab lebih murah dibanding kacang-kacangan yang saya review di atas.

Apa kacang favoritmu?

Pictures credit to Reana.

Saturday, August 3, 2019

Cara Mengambil Uang Kiriman Western Union di Kantor Pos

8/03/2019 03:08:00 PM 0 Comments
Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan kakak saya via telepon. Lalu dia bilang kalau dia kirim uang ke saya sebanyak 2 kali, Juni dan Juli. Lah, setahu saya tidak ada uang masuk ke rekening saya. Lalu saya cek rekening saat itu juga. Benar tidak ada transaksi masuk. Biasanya juga ada notifikasi sms kalau ada uang masuk.

Ok, kemudian dia bilang pengambilannya di kantor pos cukup dengan membawa ktp dan nomor pin. Sesimple itu. Saya dikasih nomor pin sebanyak 10 digit. Pikiran saya sih kemungkinan Western Union ini. Saya sih belum pernah mendapat kiriman uang selain transfer bank ya.

Baiklah saya search google dulu. Saya baca-baca tentang pengambilan uang western union dan juga batas waktu pengambilan. Ada artikel yang menyebutkan batas pengambilan 45-60 hari. Nah, saya khawatir juga kan kalau sudah hangus. Kala itu tanggal 26 juli 2019 malam saya mendapat informasi dari kakak saya. Keesokan harinya kan sabtu saya ke kantor pos Salemba UI yang paling dekat selepas sholat zuhur. Sampai sana rupanya tutup. Kantor pos tutup jam 13.00 ya kalau sabtu ternyata.

Saya kemudian kepikir ke kantor pos 24 jam. Tapi kemudian urung. Saya kembali ke kantor pos Salemba UI pada hari senin tanggal 29 Juli 2019. Sampai di sana saya mengeposkan surat untuk sahabat pena saya di Denmark. Sekalian saya tanya tentang pengambilan uang. Pak Pos bilang kalau ktp bukan ktp setempat (Jakarta) harus ada identitas pembanding seperti sim atau paspor. Nah, untungnya saat itu saya bawa sim. Kemudian saya fotokopi sekali saja karena mereka minta cukup satu. Batas pengambilan adalah satu bulan. Lewat itu hangus alias kembali ke pengirim bisa dikirim ulang. Lah, berarti sudah hangus donk yang juni.

Saya diminta mengisi formulir yang berisi identitas penerima dan pengirim. Saya isi sesuai ktp untuk identitas saya. Nah, untuk nama pengirim saya isi sesuai yang dibilang kakak saya saat saya tanya. Saat dicek oleh petugas, rupanya nama pengirim salah. Mereka tidak mau memberikan uangnya ke saya. Saya diminta bertanya atau minta resinya.


Berhubung kakak saya tak merespon saat itu juga saat saya telpon, ya sudahlah formulir dan fotokopi ktp sim saya ambil lagi dan pulang. Setelah itu, siangnya saya pulang kampung.

Di kampung, saya masih belum mendapat info nama pengirim tapi saya coba ke kantor pos terdekat. Saya diberi satu pin lagi yang merupakan kiriman lainnya karena memang dari informasi kakak saya mengirim dua kali tapi kemarin di Jakarta saya baru diberi satu pin.

Di kantor pos terdekat, saya datang tanggal 2 Agustus 2019 tapi malang, stok uang kosong. Petugas bilang besok pagi (sabtu) atau siangnya (jumat) saya diminta telpon untuk konfirmasi sudah bisa ambil atau belum. Baiklah, saya mengikuti saran pak pos tersebut. Saya simpan nomor pak pos dan siang harinya pukul 2 siang saya whatsapp. Rupanya dibalas belum ada. Oke, saya tidak ke kantor pos lagi siang itu. Tapi pagi hari tadi saya kembali ke kantor pos karena sudah lewat hari saya pikir sudah ada. Wajar kan? Kan pak pos sendiri yang bilang mau minta tambahan. Beliau juga tanya berapa besarannya.

Berhubung saya harus menelan kekecewaan lagi karena stok masih kosong, saya jadi emosi deh. Masa pak pos bilang senin nanti bisa beliau mau minta tambahan stok. Lah, senin saya sudah tidak di sini lagi. Beliau juga bilang pengambilan tidak harus ke sana tapi bisa ke tempat lain A atau B. Beuh, enak sekali bilang begitu. Kalau memang tidak bisa memberi pelayanan ya bilang saja dari kemarin alihkan saya untuk mengambil ke tempat lain. Saya kan ke situ karena di situ yang terdekat. Bikin emosi saja. Padahal saya jarang sekali emosi orangnya. Pak pos pun minta maaf ke saya. Ya sudahlah akhirnya saya putuskan ke tempat lain yang lebih jauh. Kalau tidak bisa juga, saya ke tempat lain lagi atau tidak usah diambil saja karena esok hari saya sudah pergi ke tempat yang aksesnya sulit.

Di kantor pos yang saya datangi, saya bermodalkan google map untuk search lokasi karena memang belum pernah kesitu. Di sana pelayanan ramah. Saya ditanya sih kenapa ambilnya di situ. Ya saya ceritakan apa adanya.

Saya isi formulir sebanyak 2x karena pengambilan 2x (ada 2 MTCN -- ini loh yang dibilang no pin oleh kakak saya yaitu MTCN). Nomor pelanggan di formulir diisi dengan nomor MTCN. Syarat yang dibutuhkan hanya fotokopi ktp 4x (kalau satu MTCN cukup 2x fotokopi ktp). Walau ktp saya bukan ktp situ tidak masalah dan tidak perlu identitas pembanding. Kok aturannya beda-beda? 

Pak pos bilang, biasanya kalau sudah pernah dibuka tidak bisa diambil (kan sudah pernah dibuka di jakarta yang satu MTCN). "Tapi saya coba dulu ya," kata Pak Pos.

OK. Saya tunggu beliau memproses. Rupanya semua uangnya masih bisa diambil, berarti belum hangus. Sudah lewat satu bulan sih untuk yang juni. Alhamdulillah, masih rejeki. Saya penasaran, saya tanya pak pos emang siapa nama pengirimnya? Ternyata tebakan saya benar.

Kemudian saya ditanya apakah saya mau asuransi untuk satu bulan ke depan sebanyak 5 ribu. Untuk apa? Saya bilang tak usahlah. Mending masukkan kotak amal kan?

OK. Sekian cerita saya. Jadi, kalau kamu baru pertama kali mengambil uang kiriman western union akan diminta mengisi formulir yang nantinya identitasmu itu didaftarkan oleh pak pos. Untuk pengambilan selanjutnya akan lebih mudah.


Friday, August 2, 2019

Menyusun Karya Akhir MTI UI hingga Lulus pada Akhirnya

8/02/2019 11:45:00 AM 55 Comments
Halo teman-teman! Di tahun 2019 ini saya merasa sangat tidak produktif menulis blog. Tapi kali ini saya mencoba kembali menulis. Semoga bermanfaat!

Akhirnya selesai juga kuliah di MTI UI. Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah dan saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut membantu saya dalam perjalanan menuju kelulusan. Tak bisa saya sebutkan satu per satu kepada semua pihak yang telah memberi dukungan baik materiil maupun immaterial. Saya juga mengucapkan selamat kepada teman-teman seperjuangan yang lulus bersama. Sampai jumpa di prosesi wisuda ya! Masih lama sih wisuda 31 agustus. Semoga saya diizinkan cuti.

Sebenarnya ada yang saya pikirkan karena saya harus sudah masuk kerja kembali sebelum saya wisuda. Tapi mau bagaimana lagi. Awalnya saya masuk per 1 agustus tapi kemudian saya nego menjadi 5 Agustus. Alhamdulillah ada waktu bagi saya untuk pulang ke kampung halaman bertemu keluarga selama 6 hari. Awalnya hanya bisa satu hari di rumah jika harus masuk tanggal 1.

Kenapa baru tanggal 29 Juli saya pulang kampung? Saya menyelesaikan segala kewajiban saya dulu ke UI setelah dinyatakan lulus sidang yaitu berkas administrasi ke sekretariat dan permintaan perpustakaan yang semua itu butuh waktu. Foto saja saya sampai 5 kali bolak-balik sekretariat karena tidak memenuhi keinginan sekretariat. 😊

Di awal hingga pertengahan tahun 2019 ini saya fokus menulis karya akhir. Ceilee fokus. Hehe. Kegiatan kuliah saya memang hanya tinggal menulis karya akhir. Saya wara-wiri Salemba-Depok bimbingan ke dosen. Mungkin sampai bosan itu stasiun Pondok Cina dan juga jalanan serta pohon-pohon yang saya lewati menjadi saksi ketika saya berjalan kaki pergi pulang ke Fasilkom UI Depok. :D

Saya memang selalu berjalan kaki. Entah kenapa tidak kepikiran naik ojek online. Hanya beberapa kali terakhir saja memilih naik ojek karena kondisi fisik yang tidak sehat ataupun alasan lain seperti mengejar waktu.

Selain bimbingan, untuk sidang saya mendapat jatah tempat di Depok. Waktu itu 26 Juni 2019 saya berangkat pagi ke Stasiun Cikini. Sampai di Fasilkom pukul 8.00 pagi kira-kira, masih ada satu jam menuju sidang. Sampai di ruangan ternyata masih dikunci. Eh, petugas yang biasa buka kunci tidak tahu kalau ada jadwal sidang untuk MTI. Kalau ruangan sebelah sih sudah dibuka dan ramai, sidang skripsi sepertinya. Sebelum sidang, teman saya datang satu orang, dia membawa anaknya. Terima kasih ya atas dukungan dan doanya. Wah, sampai bawa anak segala. I appreciated that. Ketika giliran dia sidang, saya gantian hadir di Salemba. 

Begitu selesai sidang, saya harus merevisi karya akhir saya lalu mengejar tanda tangan dosen penguji dan pembimbing. Bolak-balik Salemba Depok adalah hal yang menjadi rutinitas saya selama menyusun karya akhir hingga selesai semua urusan. Jujur, commuter itu lelah. Saya selalu merenung kenapa ya setiap kali tiba di kos kok saya merasa lelah. Hmm, mungkin karena saya selalu jalan kaki dari stasiun pondok cina ke fasilkom. 😊

Urusan terakhir saya adalah ke perpustakaan yaitu mencetak karya akhir sesuai permintaan, menyerahkan CD dan unggah file. Sebelum semua itu dilakukan perlu edit format dulu dan ternyata makan waktu. Jadi, saya ini tidak bisa multitasking memenuhi kewajiban saya ke UI. Saya selesaikan satu per satu. Setelah semua urusan ini kelar, baru saya penuhi kewajiban saya ke kantor yaitu meminta SKL (surat keterangan lulus), menulis laporan studi, dan laporan selesai. SKL saya baru keluar tanggal 26 Juli pukul 5 sore. Hari senin tanggal 29 juli barulah saya kirimkan semua laporan ke kantor. Siang harinya saya meluncur ke bandara Soetta untuk pulang kampung. Ternyata masih ada salah untuk laporan selesai jadi harus saya perbaiki dan kirim pdf-nya keesokan hari karena kalau hari itu tidak memungkinkan. Berhubung di rumah tak bisa print dan scan, apa boleh boleh buat harus keluar rumah pagi-paginya.

Setiap orang ada ujiannya masing-masing

Ketika menyusun karya akhir, betapa saya menyadari jika setiap orang ada ujiannya masing-masing. Ada yang harus lanjut ke semester berikutnya dikarenakan berbagai kendala seperti pengambilan data yang belum terpenuhi sampelnya, topik yang mungkin berat sehingga tidak bisa selesai satu semester, mungkin ada keinginan dosen pembimbing yang belum terpenuhi atau segala macamnya. Pada intinya kita mengikuti arahan dosen pembimbing maunya apa. Tapi kembali lagi disesuaikan kemampuan kita. Kita juga harus mengutarakan ke dosen jika ada kesulitan supaya ada jalan keluar.

Untuk teman-teman yang masih lanjut ke semester berikutnya, saya doakan semoga lancar dan bisa lulus dalam satu semester depan. Aamiin.

Bagaimana saat malas menyerang?

Kita harus membuat target kapan ketemu dosen pembimbing. Kita harus memotivasi diri kita sendiri untuk bergerak ketemu dosen. Jika kita menuruti malas yang menyerang, percayalah kita tidak akan selesai karena tidak pernah ketemu dosen pada akhirnya. Sepengetahuan saya, dosen di UI mudah ditemui untuk bimbingan bahkan ketika sedang ke luar negeri pun bisa bimbingan online. Yang penting kita selalu ada progress.

Percayalah saya juga mengalami yang namanya sindrom malas. Memang menyebalkan sekali ini sindrom. Bagaimana tipsnya saat malas menyerang? Kalau saya cepat buat janji dengan dosen, sehingga mau tidak mau saya harus mengerjakan dan ada hasil yang dibawa sebelum bertemu dosen.

Saya tahu bagaimana rasanya menyusun karya akhir sendirian. Memang butuh motivasi. Terkadang saya sedang malas, eh tetiba dapat telepon atau whatsapp teman saya menanyakan hal tentang karya akhir. Lalu saya pun termotivasi untuk mengerjakan. Ada pula teman yang selalu memberi reminder kalau waktu sudah mau habis saya harus cepat mengerjakan.

Saya juga teringat keluarga yang sudah menanyakan kapan saya wisuda. Hehe. Jadilah itu sebagai motivasi agar cepat selesai. Lagipula buat apa berlama-lama jika bisa diselesaikan dalam satu semester? Jika berniat dan beraksi pasti bisa!

Jika ada teman sebimbingan yang dikenal akan lebih memotivasi sih menurut saya. Bisa janjian ketemu dosen bareng. Bisa diskusi apabila topik sama. Tapi kalau tidak ada ya harus jadi single fighter. Hehe. Apa-apa serba sendiri. Semua dilalui sendiri.

Cerita Sidang

Beberapa hari sebelum sidang sempat stres karena cerita teman ada angkatan sebelumnya yang tidak lulus dan harus lanjut ke semester berikutnya. Wah, segitunya pikir saya. Jadi seram kan. Ketika jadwal sidang keluar, berasa tidak siap. Ya Allah... Alhamdulillah terlewati juga sudah. Dan saat sidang yang sejam itu tidak terasa cepat sekali selesai. Tidak seseram yang dibayangkan. Asal kita mengerjakan sendiri pasti bisa menjawab pertanyaan. Dan yang saya tidak menyangka, penguji saya adalah dosen yang dulu namanya menjadi penulis 2 dan 3 saat paper saya keterima conference tahun 2018. 

Minta tanda tangan penguji juga tidak sulit. Satu dosen penguji ternyata mau pergi ke luar kota pas saya datang. Pas sekali saya datang saat itu. Alhamdulillah. 

Intinya banyak berdoa semoga dimudahkan oleh Allah.

OK. Sekian dulu cerita dari saya. Semangat ya teman-teman!

Picture credit to Dreamstime

Wednesday, July 31, 2019

Jalan-Jalan ke Devoyage Bogor

7/31/2019 01:44:00 PM 0 Comments
Pada hari minggu tanggal 28 Juli 2019 lalu saya bikin acara perpisahan dengan teman saya ke Bogor. Bukan perpisahan sih tapi jalan-jalan sebelum saya balik ke kampung. Ketemu lagi entah kapan. :)



Rencana cuma ke Bogor. Sewaktu sampai di Stasiun Bogor dia bilang ingin ke Devoyage. Saya sendiri malah belum pernah dengar. Ternyata jauh ke sana. Macet pula. Panas. Kami naik ojek online tarifnya 23 ribu berangkat (dipotong voucher jadi 13 ribu). Setelah sampai sana masih harus bayar tiket masuk 40 ribu karena weekend (weekdays 30 ribu). Tidak boleh bawa makan minum pula.

Begitu masuk ternyata tempatnya tidak luas. Hanya spot foto-foto saja. cocoklah untuk anak-anak atau abege. Ya, sebelum ke Eropa aslinya, ke replikanya dulu. Hehe. :)

Cihuy! Ada yang lagi mendayung berdua. So sweet. Tarik maanggg...






Ramai loh pengunjungnya. Jangan salah. Tua muda hadir. Apalagi hari gini tua muda hobi selfie. Ya kan? Tapi panasnya itu yang bikin saya tidak betah berlama-lama. Bogor panas banget ya. 







Saya yang berencana makan siang di dalam pun urung. Akhirnya saya hanya beli es krim durian seharga 20 ribu lalu duduk sebentar menghabiskan es krim. Selepas sholat zuhur, jalan sebentar lalu pulang ke stasiun. Kami pun makan di stasiun. :)

All pictures credit to Reana.

Sunday, July 28, 2019

Saat Ketemu Lagi Teman Masa Muda - Inilah yang Terjadi!

7/28/2019 08:06:00 AM 0 Comments


Yuk simak cerita saya bersama teman-teman saya awal januari 2019 silam. Kami bertemu karena mereka bertandang ke rumah saya begitu tahu saya pulang kampung. Saya senang sekali mereka datang, sungguh tidak menyangka. Oya, mereka semua hadir ke reuni alumni SMP akhir desember lalu sementara saya tidak bisa hadir karena saya masih di Jakarta dan baru pulang awal januari. Mereka datang ke rumah saya begitu tahu saya pulang. That's so sweet! :)

A
Lulus SMK, merantau ke Malaysia. Pulang kemudian menikah. Saya sempat menghadiri pesta pernikahannya walau tidak mendapat undangan. Saat itu, saya sedang pulang kampung. Saya diajak sahabat saya untuk hadir. Kemudian dia sempat bertandang ke rumah saya sekali beberapa tahun kemudian. Dan kemarin tiba-tiba dia whatsapp saya. Dia pun datang ke rumah saya silaturahmi. Dia pun bercerita bahwa pernikahannya yang saya hadiri dulu kala gagal. Namun dia langsung mendapat gantinya. Bayangkan saja tidak sampai setahun dia menikah lagi. Setahun menikah dua kali. Saya pun bertanya apa rahasianya. Hehe. Kok bisa begitu cepatnya. Maksud saya kok bisa langsung klik begitu kenal lelaki baru. Dia sudah dikaruniai seorang anak perempuan dari pernikahannya yang kedua yang saat ini sudah sekolah SD. Pekerjaan teman saya ini adalah sebagai ibu rumah tangga.

B
Sudah mempunyai dua orang anak. Satu anak sudah masuk SMP dan satu lagi baru berusia 3,5 tahun. Teman saya ini datang menyusul A ke rumah saya. Sejak dulu memang sudah tinggi besar. Saat ini makin subur. Alhamdulillah. Pertanda hidup bahagia ya kan? Hehe. Teman saya ini juga seorang ibu rumah tangga. Sebelumnya pernah berjualan makanan namun berhenti karena mempunyai anak kecil. Saat ini hanya mengurus rumah dan sambilan tanam-menanam sayuran di kebun serta beternak ikan untuk mengisi waktu luang. Dulu saya sempat SMP SMA bareng dia. Bahkan dari SD saya sudah tahu dia karena kami satu desa. Dan dia sering menjadi perwakilan sekolahnya untuk kompetisi-kompetisi pelajaran antar sekolah. Jadi saya dulu sering ketemu dia saat kompetisi walau saya tidak pernah mengobrol. Hanya sekedar tahu.

C
Bisa dibilang kami tidak pernah mengobrol sewaktu saya sekolah bareng di SMP. Sewaktu saya masuk SMP saya masih ingat loh kalau dia itu adalah teman TK saya. Saya ingat dengan wajahnya dan juga namanya. Padahal kami tidak pernah ketemu begitu selesai TK hingga akhirnya sekolah bareng di SMP. Nah, tetiba dia bertandang ke rumah saya (ortu saya) bareng A dan B awal januari 2019 lalu. Kami mengobrol dan anehnya saya tidak ingat kalau kami sekelas sewaktu kelas 2 SMP. Ya Allah kok saya bisa lupa ya. Saat kami ketemu itu dia menjadi ibu rumah tangga.

D
Nah, D menyusul ke rumah saya juga. Kami tentu sudah kenal dari SMP. Dia juga sudah beberapa kali main ke rumah saya. Saya juga sudah pernah ke rumahnya dulu kala. Saat kami ketemu kemarin itu dia sudah menikah tentunya dan mempunyai satu orang anak. Pekerjaan dia adalah sebagai ibu rumah tangga.

Kalau saya tidak salah ingat, hampir semuanya bersuamikan supir. Yang satu orang lagi petani kalau tidak salah. Ada yang setiap hari suaminya pulang dan ada yang tidak bagi yang supir (jarak jauh). Selain pekerjaan suami yang mirip, mereka mempunyai kesamaan yaitu sebagai ibu rumah tangga.

Ketika mengobrol dengan mereka, saya tentu merasa bahagia karena lama sudah lama tidak bertemu. Mereka juga saya lihat sudah bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing. Ada yang memang dulunya menikah cepat ada pula yang tidak. Tapi intinya mereka semua sudah mempunyai kehidupan yang sempurna sebagai seorang istri dan ibu. Mereka semua datang ke rumah saya membawa anak masing-masing loh. :)

Yang menjadi perenungan saya adalah mereka termasuk yang beruntung sebagai seorang istri karena ada suami yang menafkahi mereka. Mereka tak perlu bekerja namun sudah ada yang rela banting tulang demi mereka. Kenapa saya bilang beruntung? Betapa tidak! Di luar sana banyak wanita-wanita tidak beruntung dalam kehidupan rumah tangganya. Ada yang harus menjadi tulang punggung karena suami tak bertanggung jawab, ada pula yang harus bekerja agar ekonomi keluarga terangkat (membantu suami) sampai ke luar negeri menjadi asisten rumah tangga. Perjuangan tidak mudah kan bagi istri-istri yang mengalami hal demikian.

Teman saya A,C,D tetap bisa menikmati media sosial meski tinggal di desa. Akses internet butuh biaya kan? Hanya A yang tidak mempunyai media sosial. Saya menghargai pilihan B. Menurut saya, pilihan B cukup bagus untuk keutuhan rumah tangga. Kita tahu sendiri hari gini siapa yang bisa lepas dari internet kan? Dan media sosial bisa menjadi salah satu pemicu keretakan rumah tangga jika terlena.

Kenapa teman-teman saya itu bisa hanya mengandalkan suami alias menjadi ibu rumah tangga saja? Kesimpulan yang bisa saya tangkap adalah karena mereka harus bisa merasa "cukup" dengan berapapun besaran penghasilan suami. Apalgi hidup di desa tentu tidaklah seperti di kota yang banyak godaannya. Di desa masih ada kecenderungan hidup sederhana. Apalagi dengan memasak sendiri di rumah. Di desa juga tidak ada tempat makan yang wah seperti di mall. Jadi hidup bisa lebih hemat.

Saya sendiri merasakan ketika hidup di kota, pergi ke mall ketika akhir pekan hanya untuk sekedar refreshing atau membeli makan cukup menjadi hiburan. Kita tahu sendiri jika makan di mall minimal merogoh kocek 50 ribu rupiah. Belum lagi jajan yang lain atau menonton misal. Boros!

Pada intinya, bersyukur dengan kehidupan masing-masing menjadi kunci untuk tetap bertahan dalam keadaan. Salah satu teman saya berkata mungkin hanya dia yang sanggup diberi kehidupan seperti yang dia jalani sehingga Allah berikan kehidupan itu padanya. Dia hanya di rumah tidak pergi kemana-mana.

Tentu saya yang mendengar cerita mereka mau tak mau jadi membandingkan dengan kehidupan saya. Jika saya berkata jujur, tentu saya banyak ketertinggalan dengan mereka. Namun juga ada hal-hal yang peroleh tapi mereka tidak. Itulah plus minus kehidupan. Mungkin mereka beruntung di satu hal tertentu, saya tidak. Tapi saya mendapatkan keberuntungan di sisi yang lain yang mereka tidak dapatkan.

Mereka sudah settle dengan kehidupannya (meski saya tidak tahu seberapa settle-nya kehidupan mereka) sementara saya belum. Mereka menetap sementara saya masih nomaden. Saya berpindah-pindah dari berbagai lokasi, saya bepergian kesana kemari, mungkin mereka tidak mengalami itu. Susah senang yang saya alami mereka tidak mengalami begitu pula sebaliknya.

Salah satu dari mereka ada yang bertanya apa saya tidak ingin menikah. :)

What a question, dear!

Tentu dengan nada guyon. Dan saya tentu tidak marah. :D

Terima kasih sudah perhatian. Doakan saja ya teman-temanku yang baik. :)

Picture credit to Dreamstime.

Wednesday, July 24, 2019

Jalan-Jalan ke Turki (Tulip Festival - Spring) Day 7-9 plus Komentar Penulis

7/24/2019 10:22:00 PM 0 Comments


Menuju detik-detik kepulangan yaitu perjalanan ke Ankara dan Istanbul kemudian tiba di Jakarta.

Mausoleum Attaturk
Hari Terakhir kami tiba di Ankara kemudian menuju Mausoleum Attaturk. Kami diperbolehkan masuk untuk foto di dalam satu per satu. Ada penjaganya loh. Diatur dan mengantri yang mau foto di dalam. Di dalam cuma replika sih bukan kuburan asli.


Nah, itu dia replika kuburannya.

Di sinilah kami ketemu banyak penduduk lokal tepatnya anak-anak sekolah. Ramai sekali pas kami datang sampai toilet ditutup. Hehe kata tour guide memang begitu kalau ada anak-anak sekolah berkunjung. Jadi kami tidak mengantri toilet di situ. Senang loh ketemu anak-anak sekolah di situ. Tak ada yang jelek ya Allah... Ramah pula anak-anak itu. Mungkin kami terlihat beda ya bagi mereka.

Salt Lake
Mampir ke Danau Garam sembari pulang ke Istanbul. Foto-foto dan belanja penghabisan. Serius! Di sinilah saya habiskan sisa lira saya. Soalnya kalau dibawa pulang akan sulit dijual apalagi kalau receh kan tidak laku biasanya.



Komentar tentang Turki

1. Negaranya cantik sekali saat musim semi. Ketika saya melewati jalan-jalannya pemandangan kebanyakan perbukitan. Jalan raya di Turki tidak rata alias perbukitan tapi pertamanannya bagus sekali. Banyak bebungaan yang tumbuh di pinggiran jalan. Sakura juga ada loh di sini.


2. Tidak macet seperti di Indonesia. Ada sebenarnya macet di waktu tertentu tapi tidak separah Indonesia. 

3. Tidak polusi. Cocok untuk berjalan kaki.

4. Pemandangannya cantik tidak hanya alamnya tapi juga manusianya. :)

5. Toilet bersih. Semua ada air untuk tempat-tempat yang kami singgahi. Musholla juga tersedia di tempat-tempat kami singgah. Jadi tak perlu khawatir kalau jalan-jalan ke sana.

6. Jeruk sunkist dan delima melimpah. Godaan berat ini untuk saya pecinta buah masam. Satu cangkir kecil jus jeruk/delima seharga 10 TL (Turkish Lira) sekitar 30 ribu rupiah. Tapi segar sekali dan asli dari perasan beberapa buah jeruk/delima bulat. Duh, kangen ini...

7. Jeruk sunkist/delima melimpah ruah di mana-mana. Di jalan-jalan banyak tumbuhan ini. 

8. Orang Turki yang saya temui ramah-ramah, tidak kasar. Apalagi penjaga tokonya, semua ramah... Dan mereka mayoritas bisa bahasa Indonesia dasar khusus tempat-tempat yang kami kunjungi. Jadi tak usah khawatir kalau belanja di sana dan kamu tak bisa bahasa Inggris.

9. Selain Indonesia, banyak turis dari Malaysia, China, Korea dan Jepang..

10. Kalau mau tukar uang Lira sebaiknya di Turki saja dan jangan tukar di bandara. Di bandara sudah ada pajak jadi Lira yang kamu dapatkan lebih sedikit. Tukar saja di luar bandara atau dengan bantuan Tour guide-nya. Saat saya ke sana, 1 USD dihargai sekitar 2800-an 

100 USD = 520 TL -- lewat Tour guide (recommended)
100 USD = 506 TL -- di bandara Turki

Tukar di Indonesia 1 TL = 3100-3400 rupiah. Dan jarang ada Lira di money changer Indonesia. Tukar saja uang kamu dalam USD atau euro.

Berapa uang saku saya? Saat itu saya membawa 456 TL dari Indonesia (1 TL=3150) untuk belanja dan 250 USD. Dolar untuk berjaga-jaga naik balon udara yang saya perkirakan 200-250 USD. Mau tukar USD lagi tapi tidak jadi, akhirnya uang dalam bentuk rupiah sekitar 2 jutaan saya bawa. Perkiraan total uang saku yang saya bawa 7 jutaan.

Benar saja harga balon udara di Pamukkale 200 USD dan Cappadocia 230 USD. Tapi berhubung balon tidak terbang, diganti jeep safari 100 USD. Ada tawaran malam Turki atau malam sufi senilai 60 USD. Jadi, kamu bisa perkirakan berapa uang yang harus dibawa kalau ke sana ikut travel agent seperti saya. Sebaiknya bawa USD yang banyak. Di sana gampang tinggal ditukar. 

11. Masakan Turki mungkin tak sesuai lidah orang Indonesia. Para peserta bilang hambar. Dan kebanyakan disediakan roti yang kering keras itu loh. Kalau selera Indonesia kan roti yang empuk. Nasi yang disediakan juga bukan nasi putih tapi nasi mentega. Di Turki tidak ada nasi putih kecuali di rumah makan Indonesia yang ada di sana. Silahkan bawa sambal, kecap, popmie atau apa pun yang kamu suka.

Kalau saya pribadi sih tidak ribet ya. Apa yang ada, saya makan asal halal. Yang penting bisa untuk mengisi hak tubuh, untuk energi. Lain orang kan lain pendapat ya. Maklum.

12. Tour guide cerita kalau di Turki memegang budaya menikah satu istri. Kalau ternyata bercerai, si suami tetap bertanggung jawab menafkahi mantan istri sampai si mantan istri menikah lagi. Apakah kamu berminat mendapat pria Turki?

13. Gemas sekali deh rasanya saat melihat anak-anak kecil/bayi orang Turki. Lucunya ya Allah...

14. Ke Turki cukup pakai e-visa ya. Jangan lupa di print. 

15. Tour guide bilang, 99% penduduk Turki beragama islam tapi ya banyak juga yang islam KTP. Mirip-mirip Indonesia ya. :)

16. Pernak-pernik suvenir banyak di sana lucu-lucu.

Sekian sekelumit kisah dari saya. Ke mana lagi ya destinasi selanjutnya? Wishlist saya banyak sih (duh, jalan-jalan melulu maunya - bangkrut bandar). Tapi kok saya ingin umroh (lagi) ya.

Bismillah, semoga ada cerita perjalanan-perjalanan selanjutnya yang akan saya posting di sini... Aamiin.