Konflik dengan Tetangga harus Bagaimana?
Reana
3/09/2026 10:59:00 AM
0 Comments
Halo sobat, kemarin saya buka puasa bersama dengan teman saya. Teman saya yang ngajak tapi dia bingung mau ke mana. Karena saya pernah ke Kedai Steak Nusantara makanya saya sarankan di situ. Dan dia juga maunya yang under 100k. Jadi pas banget. Di sana juga makanannya lumayan bervariasi dan banyak makanan nusantara. Cocoklah buat orang Indonesia.
Kami janjian jam 16.30 karena khawatir ga dapat tempat. Biasalah ya kalau lebaran biasanya rata-rata rumah makan full kalau buka puasa. Rata-rata tempat duduk sudah direservasi. Waktu saya hubungi teman saya katanya bakal on time. Dia sudah di stasiun. Dan ternyata ya saya duluan sampai dong. Saya on time. Saya duduk duluan cari tempat. Yang tersisa di ruang AC tinggal 2 tempat duduk yang dekat orang lalu lalang. Sisanya masih ada di luar alias non AC.
Saya duduk dulu di ruang AC sambil nunggu teman saya datang. Agak lama ya nunggu dia. Pas dia datang dia pilih di non AC. Ya sudah kami pindah. Lalu kami pesan duluan karena untuk buka puasa harus dipesan maksimal jam 5. Setelah itu masuk kloter kedua setelah azan magrib. Saya pesan terderloin steak, soto daging (takeaway) dan teh panas karena lagi tidak enak badan. Teman saya pesan soto daginh dan salad daging. Lalu mulai kita chit chat.
Teman saya ini ngajak saya buka bersama karena katanya ada banyak yang mau diobrolin. Saya tunggu-tunggu tuh. Saya pikir lagi galau karena ketemu sesorang yang disuka. Eh ternyata salah perkiraan haha.
Dia sedang ada konflik dengan tetangga secluster. Dia cerita panjang lebar. Jadi penyebabnya adalah mobil dia menginjak 1 barang developer tetangga yang teman saya ini tidak tahu barang apa karena kecil dan tidak tahu juga kalau dia menginjaknya ketika masuk ke dalam pagar cluster.
Lalu teman saya didatangi tetangganya dipencet bel tapi tak dengar. Dia disentil di grup clusternya tapi juga diajakin iuran buat ganti barang yang diinjaknya itu. Teman saya ini dengan tegas bilang ga mau ganti. Dia juga tersinggung dengan kata kata teman di grup whatsappnya itu. Dikeluarinlah dia dari grup katanya.
Lalu dia kasih lihat saya chat privatenya dengan salah satu teman di cluster. Sebagai orang yang netral, dari bahasanya sih sebenarnya mereka baik-baik loh ngomong ke teman saya. Bahkan mereka mengajak iuran bukan minta teman saya sendiri yang ganti. Mereka juga sebagai tetangga bilang kalau mereka siap bantu loh kalau teman saya kenapa-kenapa. Karena kan teman saya sendirian ya.
Tapi memang teman saya ini orangnya individualis. Dia tidak mau bergabung dengan mereka. Dari sikap teman saya melihat teman saya ini cukup angkuh dan sangat keras orangnya. Ketika dia lewat, dia berharap tetangga yang melihat yang barang mengganggu di jalan yang mengambil. Saya bilang ke dia, "Jangan andalkan orang lain. Kamu tidak punya kendali terhadap orang lain. Kamu punya kendali terhadap dirimu sendiri. Apa yang bisa kamu lakukan adalah kamu turun. Tidak ada salahnya kan?"
"Ya tidak salah sih. Tapi dalam pikiranku seharusnya tetangga yang melihat itu yang turun dan mengambil," jawab dia.
Sobat, kalian bisa melihat kan betapa angkuh dan kerasnya teman saya. Saya bilang terus terang ke dia dengan sifatnya ini. Dia mengakui. Jadi ini valid ya. Saya bilang dia bukan keras lagi tapi sangat keras.
Tidak ada salahnya toh untuk turun dan mengambil barang yang menghalangi. Kenapa pula harus mengandalkan tetangga? Tidak perlulah terlalu angkuh mentang-mentang ada dalam mobil. Dan merasa yang menghalangi jalan umum adalah pihak developer dan mobil pickup yang yang parkirnya tidak pas.
Saya bilang supaya dia humble sedikit. Sedikit saja dulu kalau belum bisa banyak-banyak. Hehe.
Untuk orang seperti dia yang memang individualis, dengan tetangga maunya say hi saja, ya lalu kenapa ketika menghadapi hal kecil seperti dia dengan mobilnya yang akan masuk ke cluster terhalang, eh berharap tetangga yang melihat yang membersihkan? Kenapa begitu? Kan tidak masuk akal. Kenapa tidak mengandalkan diri sendiri saja?
Ya sebenarnya beberapa barang sudah diambil sama developernya. Tidak tahu ada satu yang kelewat.
Perihal iuran, teman saya kan ga mau ya iuran karena merasa tidak tahu. Dan menurutnya juga belum tentu itu developer minta ganti. Nah, di sini kembali betapa angkuhnya temans saya ini. Saya sangat tidak rekomen untuk sobat pembaca blog saya bersifat semacam ini. Menurut hemat saya, dari whatsapp tetangganya saya melihat itikad baik dari mereka loh untuk ngajak iuran. Catat: iuran. Bukan bayar sendiri. Sebagai orang yang walau tidak tahu tapi secara fakta sudah menginjak, alangkah baiknya menyambut ajakan tetangga. Bukan dengan menolak mentah-mentah dengan alasan tidak tahu sehingga dia tidak merasa bersalah.
Di sini kita melihat fakta loh dan niat baik tetangganya itu. Jika pun keberatan mengeluarkan uang karena merasa tidak bersalah, bisalah ya kita tekan ego dulu dan bilang bersedia. Dan bisa juga dikomunikasikan dengan bilang, "Iya mbak boleh infokan saja nanti kalau developer minta ganti. Kalau misal nggak, berarti ga perlu ya mbak."
Sebenarnya teman saya ini memang kurang komunikasi dengan tetangga. Dia selalu merasa semuanya dia bisa sendirian. Kalau ada apa-apa itu bukan tetangga yang bisa bantu tapi suami. Padahal ibunya sudah mengingatkan agar bergaul dengan tetangga. Kalau ada apa-apa tetangga dekat yang bakal membantu. Nah teman saya ini keras sekali. Dia memang mengalami ketidakcocokan dengan tetangganya. Tapi walau bagaimanapun juga kan bisa ya seharusnya menjaga hubungan baik. Tidak harus selalu ikut acara-acara mereka jika memang tidak suka. Setidaknya kasih ucapan tidak bisa bergabung atau apalah ya basa basi gitu.
Saya bilang juga ke teman saya, kan sekarang belum ada suami. Lagipula kalau pun ada suami, misal suami pas jauh, kamu kenapa-kenapa siapa yang bisa bantu kamu? Pasti tetangga kan?
Begitulah sobat... pokoknya saya counter attack terus dia. Tipe seperti ini harus kita lawan dengan argumen yang bisa mematahkan pola pikirnya. Tipe seperti ini harus ketemu dengan orang yang levelnya bukan di bawah dia minimal dari segi pendidikan. Dan cara bilangnya juga harus lembut. Dia tidak terainggung kok kalau saya kritik dia. Munhkin karrna sudah akrab sih. Dan seringnya dia mengakui apa yang saya kritik karena memang itu fakta.
Sebagai teman saya memang bilang apa adanya. Saya tidak menutupi apa yang saya lihat. That's what friends are for, right?
Sobat, sebenarnya saya cerita ini supaya ada hikmah yang bisa dipetik. Saya ingin sobat semua belajar jadi manusia yang humble. Bukan maksud saya membocorkan obrolan saya dengan teman. Ini semua murni karena kepedulian saya agar kita menjadi hamba-hamba yang lebih baik budi pekertinya. Dan menurut saya obrolan saya ini bukan hal privat. Konflik dengan tetangga adalah hal umum yang terjadi di lingkungan kita.
Bahkan nih sobat, ini hal lucu sih menurut saya. Teman saya cerita dia pernah sahut-sahutan komen Instagram sindir-sindiran di akun seseorang yang dia tidak kenal. Dia bilang seru. Apalagi kalau dia menang. Hadeh, kok saya tidak kepikiran ya buat begituan. Teman saya ini memang suka bikin masalah deh ya. Ketawa-ketawa saja dia pas cerita. Jadi hal kayak gitu semacam kepuasan buat dia kalau menang. Dan lagi di dalam komennya itu mengandung keangkuhan. Dia pun sadar loh. Lalu dia hapus komen-komennya setelahnya karena dia sadar kok dia angkuh banget. Hehe
Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan. Komunikasi yang baik bukan basa-basi, tapi investasi sosial. Dan teman sejati bukan yang selalu setuju, tapi yang berani berkata jujur dengan cara yang lembut dan penuh cinta.
Menjadi manusia yang baik itu sederhana. Cukup rendah hati, mau berkomunikasi, dan tidak egois. Tapi sederhana bukan berarti mudah. Dan di situlah perjuangannya. 🏡💬
Bagaimana sobat? Apa kamu punya cerita seru seputar tetangga?
Sekian dulu ya sobat cuap-cuap bulan ramadan. See you.





