Ajakan Jalan
Reana
8/14/2026 09:02:00 PM
0 Comments
Halo Sobat, kamu pasti pernah kan mengajak atau diajak jalan? Pernah dong...
Sekarang saya mau bahas tentang ajakan jalan. Ini karena baru banget kejadian. Masih hangat. Hot hot pop deh pokoknya. Emang apaan sih?
Minggu ini saya dapat ajakan jalan dari teman saya. Dia bilang dia burnout. Dia ngajak staycation ke Bandung. Ayok kata saya setuju. Ke Bandung mau jalan ke mana? Kita cari cafe, katanya. Lah cafe banyak di Jakarta. Kenapa ga cari tempat wisata yang kita belum pernah? Jawab saya.
Ga lama kemudian, dia kasih tuh beberapa pilihan trip dari travel. Di antaranya ada ke pantai, baduy, Pangandaran, dan lain-lain. Wong dikasih pilihan ya saya pilih dong ya. Apa pilihan saya? Hmm, kayaknya baduy ok nih, pikir saya. Pas jadwal saya kosong di tanggal 15 Agustus. Karena di tanggal 17 kan harus upacara ya. Kan dia juga sama.
Ok, saya ajukanlah ke baduy. Dia bilang oke deh dia tanya tanya dulu ke admin tripnya. Ga lama kemudian dia share harga trip, itinerary, dan meeting point. Setelah saya baca-baca, oke. Saya bilang ke dia ayo jadi kita jalan? Terus dia bilang, tapi meeting pointnya kejauhan. Males banget, kata dia. Lah kok gitu? Pikir saya nih. Kan saya jadi gimana gitu ya. Bukannya dia yang ngajakin tadi ya. Giliran saya iyain kok responnya gitu? Emosi saya jadi kepancing nih sebenarnya tapi saya masih bisa tahan, kan kita cuma whatsappan. Saya bilang, yaudah kalo gitu kita ke kafe aja di Jakarta. Dia setuju.
Besok-besoknya dia chat lagi. Dia tanya saya, kamu ga tertarik ya kalau ke pantai? Misal ke anak Krakatau bagus tuh. Saya jawab, kalau ke pantai ga bisa ngapa-ngapain. Cuma ngeliatin pantai doang. Mau snorkling ga berani, ga bisa renang.
Ga lama kemudian, dia chat, ya udah kita jadiin aja apa ke baduy? Aku udah burnout banget. Aku jadi marah-marah sendiri ga jelas.
Setelah itu saya ga balas lagi. Tanggal 15 itu tinggal beberapa hari lagi. Terus, tadinya dia ga mau kenapa terus tiba-tiba jadi mau? Labil ga sih sobat. Malah saya yang udah terlanjur malas. Ini itu ga ada yang jadi. Selain itu saya sendiri merasa badan saya capek saya pengen istirahat sabtu minggu.
Tadinya kan saya sudah mengiyakan ya sobat. Dari awal menyambut baik ajakan dia loh. Tapi dia sendiri yang ribet dan labil.
Gini loh sobat. Kan kita yang ngajak seseorang ya. Berarti kita yang butuh toh? Butuh ditemenin. Ketika teman kita ok, kan kita senang tuh. Seharusnya momen itu jangan disiakan. Apalagi teman itu mau menuruti apa mau kita, ngikutin kita mau pergi kemana sesuai pilihan kita. Itu anugerah loh.
Kenapa?
Satu, karena kita yang butuh. Dua, dia mau ikut kemauan kita. Tiga, kita ngajak doang. Kita ga ngongkosin. Biaya dia tanggung sendiri. Empat, teman mau meluangkan waktu, tenaga, biaya buat ngikutin kita. Lima, dia peduli sama kita. Kita bilang ke dia kita butuh jalan karena burnout, dia mau.
Lima alasan cukup kan sobat?
Coba kalian pikirkan ya... teman rela jalan bareng kita pakai biaya sendiri padahal kita yang butuh. Apa itu namanya?
Tapi giliran teman bilang iya eh kita malah labil ini itu. Kesini ga jadi kesitu ga jadi. Kan capek. Dan hal kayak gini ga sekali ini terjadi. Saya sudah tahu polanya. Sering dia ngajak dan ujungnya ga jadi. Bahkan pernah bayar DP dan akhirnya ga jadi. Hangus dong? Iya dong... dan itu dia yang ngajak dia pula yang batalin. Rugi dong? Sudah tentu. Apa dia ganti? Tentu tidak. Apakah dia introspeksi? Sepertinya tidak. Haha.
Sudahlah sobat, cukup jadi pelajaran sih buat saya. Dan semoga buat kalian juga kalau ketemu tipe teman yang labil begini.
Ok. Balik ke cerita tadi ya. Saya ga balas ajakan terakhir dia bukan karena saya sengaja ngasih hukuman ke dia. Bukan sobat. Tapi karena saya lelah dengan kelabilannya. Ketika saya mau dia ga mau. Maunya ikut selera dia saja. Lalu akhirnya balik lagi ke rencana yang tadinya dia sendiri tolak. Kan kita sudah lelah dan berubah pikiran. Selain itu badan saya memang lelah dan pegal-pegal pengen istirahat di akhir pekan. Waktu juga sudah mepet.
Saya tahu dia itu cuma sebentar saja dia begitu. Palingan nanti pergi sendiri ke pantai yang dia sebut karena dia suka pantai.
Lagian ya, kalau saya mau egois nih. Kasarnya nih sobat. Bisa banget loh saya bilang, lah kalau elo burnout jadi marah marah ya itu urusan elo. Bukan urusan gue. Masa bodoh. Kok jadi gue yang ribet harus ngikutin mau elo. Kan gue juga punya kehidupan sendiri.
Ups. Tapi saya ga begitu ya sobat...
Saya tuh masih mikirlah. Ga kekata loh mau begitu. Saya masih menjaga hubungan baik. Walaupun saya sering ya dikecewakan dengan teman-teman saya yang labil. Herannya kenapa ya saya ketemunya dengan mereka yang labil itu. Apalah salah saya. Malah saya yang refleksi. Hehe.
Sobat, tulisan ini adalah pengingat bahwa kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang, bahkan untuk teman. Ketika pola kelabilan berulang, kita berhak untuk mundur dengan tenang, bukan karena marah, tapi karena kita perlu menjaga energi kita sendiri.
Mengajak orang lain adalah kepercayaan. Menyambut ajakan adalah anugerah. Jika kamu yang mengajak, hargailah orang yang mau ikut, mereka meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untukmu. Jangan sia-siakan itu dengan kelabilanmu sendiri.
Sampai jumpa di posting berikutnya.









