Menyesal Setelah Bicara (Merasa Oversharing)
Reana
3/31/2026 09:23:00 AM
0 Comments
Sobat, pernah ga sih kamu cerita atau ngobrol sama orang lalu setelahnya kamu merasa menyesal. Kok kayaknya aku kebanyakan cerita ya tadi. Begitu sobat... kamu menyesal karena kamu merasa membuka banyak hal ke orang lain. Meskipun itu bukan rahasia tapi kamu tetap merasa menyesal.
Kalau kamu pernah, tenang sobat. Kamu tidak sendirian. Saya juga orang yang demikian. Seringkali saya menyesal setelah cerita ke orang. Apa karena saya orang yang private?
Bisa jadi iya.
Apakah rasa penyesalan itu adalah pengingat gaib supaya tidak banyak bicara alias menjaga lisan? Hmm... Mungkin bukan soal gaib atau tidak, tapi rasa itu bisa menjadi alarm agar kita lebih bijak memilih ruang bercerita.
Entahlah... mungkin karena saya jadi merasa punya semacam pengingat otomatis tersebut sehingga saya ambil ambil hikmah mungkin itu peringatan buat saya. Sehingga saya seringnya memang ga banyak bicara kecuali dengan orang tertentu dan saya merasa aman.
Itu tadi dari sisi spiritual ya sobat. Namun selain dimaknai sebagai peringatan batin, ada juga penjelasan ilmiah yang cukup masuk akal. Nah, kalau dari sisi psikologi bagaimana?
Sebenarnya merasa oversharing ini fenomena yang sangat umum sih sobat dan biasanya disebut:
1. Post-conversation regret/post-social regret
Rasa menyesal setelah ngobrol karena merasa “aku kebanyakan ngomong” atau “aku harusnya nggak bilang itu.”
2. Social anxiety after interaction (kecemasan sosial setelah interaksi)
Bentuknya bukan selalu takut ketemu orang, tapi lebih ke overthinking setelah selesai ngobrol.
3. Rumination (merenung berlebihan)
Otak mengulang-ulang percakapan, menganalisis detail kecil, lalu muncul rasa bersalah atau malu.
Kadang orang juga menyebutnya secara informal sebagai “conversation hangover” (kayak hangover sosial).
Biasanya ini terjadi karena beberapa hal:
Kamu orang yang sensitif dan reflektif, jadi habis ngobrol otakmu langsung evaluasi.
Kamu punya standar tinggi soal cara kamu harus terlihat (harus kalem, harus tepat, harus nggak oversharing).
Ada kecenderungan people-pleasing: takut orang lain merasa terganggu atau menilai kamu negatif.
Kamu terbiasa merasa “aku harus menjaga diri,” jadi ketika kamu terbuka sedikit, muncul rasa tidak aman.
Padahal kenyataannya, sering kali orang lain nggak mikir sejauh itu. Mereka mungkin cuma menganggap kamu ramah dan asik.
Kalau kamu sering mengalami ini, itu bukan berarti kamu “aneh,” tapi lebih ke tanda bahwa kamu mudah self-aware dan punya kecenderungan overthinking sosial.
Lalu terus kenapa saya menulis di blog ini? Apa tidak menyesal menumpahkan unek unek di blog ini? Kan bisa dibaca banyak orang. Kalau blog ini merupakan bagian dari berbagi dan menebar kebaikan sobat. Toh hanya potongan potongan kecil dari kehidupan saya yang saya posting dan saya selalu berusaha memberikan refleksi agar bisa menjadi manfaat buat para pembaca.
Bercerita itu risiko. Tapi jika dilakukan dengan kesadaran, niat baik, dan batasan yang jelas, itu bukan sekadar "oversharing". Itu adalah berbagi kebijaksanaan. Dan rasa canggung setelah bercerita bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa kita manusia yang sadar akan diri dan peduli pada orang lain.
“Bercerita itu manusiawi, tapi memilih kepada siapa kita bercerita adalah bentuk kebijaksanaan.”
Sampai jumpa di posting berikutnya...


