semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Normalisasi Pertengkaran - Reana

Follow Us

Monday, December 29, 2025

Normalisasi Pertengkaran

Halo Sobat apa kabar? Kali ini saya ingin menulis sesuatu terinspirasi dari percakapan dengan teman saya. 

Sebenarnya kita itu lama banget ga ketemu. Dari Idul Adha 2023 baru ketemu lagi sekitar September 2025. Dulu kita jalan bareng ke Dieng. Kali ini kita jalan lagi tapi yang dekat-dekat saja ke Bogor tepatnya di Taman Budaya Bogor. Teman saya yang nyetir pakai mobil barunya. Saya dan teman satu lagi jadi penumpang setia hehe.


Sebenarnya tadinya kita janjian jam 10 pagi di stasiun Depok Baru tapi rupanya saya duluan datang dong. Tak ada tanda-tanda teman lainnya datang, akhirnya saya dijemput teman saya ke rumahnya yang tidak jauh dari stasiun. Oke kita tunggu teman satu lagi yang ternyata baru bangun tidur dan kemudian baru naik kereta di Tebet.

Saya sampai tertidur di rumah teman saya. Setelah dia datang akhirnya kita putuskan setelah sholat zuhur saja kita berangkat biar tenang. 

Sampai di Taman Budaya kita cari tempat makan dan rupanya ada banyak. Rata-rata tempat makan tapi banyak yang sepi pengunjung. Entah kenapa jauh-jauh eh kita masuknya ke Kopitiam. Sebenarnya ini pilihan teman saya sih.

Oya saya pesan ikan jadi lumayanlah ya. Teman saya yang pesan nasi goreng dan roti bakar komplain. Hehe

Kami ngobrol panjang lebar. Dari berangkat sampai pulang di perjalanan. Apa yang dibicarakan? Kebanyakan kisah teman saya yang lagi bahagia. Ya sebagai teman saya ikut berbahagia. :)

Tapi ada hal yang menurut saya tidak pas dengan pola pikir teman saya. Saya tidak menghakimi sih. Saya paham dia berpandangan berbeda dengan saya karena kita dari latar belakang yang berbeda. Kita tumbuh di tempat yang berbeda. Dan tidak ada salah dan benar ya sobat.

Dia menormaliasi pertengkaran dalam hubungan. Menurutnya, tidak ada hubungan tanpa pertengkaran. Pasti akan ada pertengkaran karena berasal dari 2 orang yang berbeda menjadi satu. Dan dia sendiri memang melihat hal itu terjadi di rumahnya sendiri. Dia melihat orangtuanya demikian jadi menurutnya itu hal biasa. 

Hmm.. apakah kamu setuju Sobat? 

Kalau saya pribadi sebagai orang yang mencintai perdamaian, ketenangan dalam hidup, saya tidak bisa jika harus sering ada konflik. Sekali dua kali mungkin okelah bisa dimaklumi bisa ditoleransi. Tapi kalau keseringan? Bisa stres saya. Bukannya bahagia malah tertekan. Kesehatan mental saya bisa terganggu. Ujung-ujungnya bisa menyerang kesehatan fisik.

Saya percaya kalau dalam sebuah hubungan kita mencari kebagiaan dan ketenangan bukan pertengkaran. Kalau bertengkar kan sudah pasti tidak tenang hidup kita. Boro- boro bahagia toh tenang saja tidak.

Saya tidak menghakimi juga batas toleransi tiap orang berbeda. Mungkin teman saya toleransinya sangat lebar sedangkan saya sangat tipis sehingga kita tidak akan sepemahaman. Saya paham ini. Jadi mau jungkir balik seperti apapun saya memberi pandangan saya teman saya akan tetap pada pendiriannya. Jika di kemudian hari dia jadi menikah dan sepanjang rumah tangganya penuh pertengkaran sepertinya tidak masalah baginya. Sejak awal dia sudah menerima hal itu. Dia sudah menormalisasi itu. Dan tidak akan pernah terpikir juga untuk berpisah walau semenderita apapun. Begitu logika kasarnya ya sobat.

Bagaimana menurutmu sobat?

Kalau saya mikirnya buat apa menikah kalau tidak mendapat ketenangan di dalamnya? Nanti jadi tidak rumahku surgaku dong kan bahaya kalau kita tidak betah di rumah. Bukan hanya kita tapi pasangan juga. Nanti masing-masing mencari kenyamanan dan ketenangan di luar kan berabe sobat. Mau jadi apa rumah tangganya? Open marriage? Haha ini pandangan receh saya. :)

Tapi apakah open marriage ini pilihan? Atau solusi? Bukan malah menambah masalah? Hmm...

Dari ceritanya itu saya jadi membayangkan kalau dia jadi menikah apakah dia bakal bahagia dan bertahan jika mengalami situasi yang tidak mengenakkan. Sebagai teman saya peduli. Tapi apa dikata kalau cinta sudah buta ya sobat. Semua lewat :)

Sebenarnya kalau dilihat memang ada sisi positifnya pola pikir teman saya ini. Apa itu? Dengan menormalisasi pertengkaran artinya mereka akan tetap bertahan dalam hubungan meskipun banyak pertengkaran sepanjang hubungan. Dengan kata lain hubungan langgeng tanpa ada putus atau cerai. Bertengkar ya bertengkar tapi ga memicu untuk putus atau bercerai. Jadi tidak menambah daftar kasus perceraian di negara kita.

Apa iya? Yakin? Hehe orang beda-beda ya sobat.

Baru itu sih yang kepikir di saya sisi positifnya. Karena saya sendiri tidak menganut prinsip ini. Saya paling ga bisa mendengar suara keras, kasar, penghinaan dan sebagainya yang menyakitkan. Semoga kelak Allah beri saya soulmate yang memuliakan, membahagiakan dan memberi ketenangan. Aamiin.

Saya pernah mendengar langsung pertengkaran dalam rumah tangga yang sampai terdengar piring pecah. Saya ketakutan sendiri walau itu bukan keluarga saya. Jiwa saya terganggu dengan ketidaktenangan seperti demikian. Jadi saya tahu benar seperti apa diri saya. Apa yang bisa saya tolerir dan tidak. Saya perlu ketenangan batin dan keamanan emosional. Tipe-tipe damai. :)

Kamu tipe seperti apa sobat?




No comments:

Post a Comment

leave your comment here!