Terkadang "Tidak Tahu" itu Lebih Baik
Reana
1/19/2026 10:05:00 PM
0 Comments
Sobat, apa kamu pernah mendengar kalimat terkadang tidak tahu itu lebih baik daripada tahu tapi menyakitkan. Pernahkah kamu mengalaminya sendiri?
Kalimat itu terpatri di pikiran saya hingga saat ini. Saya dulu mendengar dari teman saya. Saat itu saya hanya "oya". Saya tidak menerima ataupun membantah. Untuk saya yang menyukai kejujuran memilih untuk tahu walau perih daripada tidak tahu alias hidup dalam kepalsuan atau kebohongan atau kamuflase.
Dan saat ini saya seperti mengalami sesuatu yang membuat saya shock untuk tahu kebenarannya. Saya sempat merasa kepikiran. Rasanya tidak sama lagi ketika kita tidak tahu dan ketika sudah tahu. Bagi yang memilih untuk tidak tahu maka ada "perasaan" yang terjaga. Perasaan yang saya maksud ini bukan cinta ya tapi di case tertentu bisa jadi cinta juga termasuk.
Ketika kita tahu kebenaran maka akan ada perasaan yang berubah. Pastinya tidak akan lagi sama. Kita harus siap menghadapi. Menghadapi perasaan kita yang berubah dan menghadapi kenyataan yang terjadi. Double kill.
Saat pertama saya dapat kabar, saya merasa kaget dan tidak percaya pada awalnya. Masa sih? Pikir saya. Lalu insting detektif saya langsung aktif dan terus mencari kebenaran. Dan ternyata memang benar apa yang saya temukan.
Dalam hati saya masih berharap bahwa ini tidak benar. Tapi bukti bukti cukup jelas. Jadi saya tidak bisa mengelak.
Tapi saya tidak konfirm langsung ke yang bersangkutan karena saya menjaga hatinya. Itu privasinya. Apa yang saya lihat di dia adalah dia yang saat ini. Sedangkan kebenaran yang saya temukan adalah bagian masa lalunya. Di mana saat itu saya belum mengenalnya. Dan masa lalu itu yang membentuk dia menjadi dirinya yang sekarang.
Saya berpikir, "Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?"
Tapi apa hak saya bertanya demikian. Apalagi sampai menuntut jawaban. Siapa kamu emangnya?
Saya yakin dia punya alasannya sendiri. Saya coba menerima. Dan saya tidak konfrontasi. Saya mencerna. Saya memproses. Saya perlu waktu. Hingga akhirnya saya menerima kenyataan dan memutuskan untuk tidak ada yang berubah di antara kita. Meski rasanya aneh tapi kita tetap profesional.
Baru kali ini sih saya nemu kasus begini. Ternyata hidup serandom ini ya haha.
Saya yang saya pikir hidupnya tidak ada warna warni yang aneh aneh eh rupanya ada juga cerita begini mampir dalam hidup saya. Tapi saya tidak bisa menceritakan secara gamblang dan detail kisahnya ya sobat.
Secara saya yakinnya selama saya kenal dia, dia itu baik. Saya nyaman sama dia. Saya ambil bagian baiknya saja dari dia sih banyak ilmu baiknya dari dia soalnya. Bahkan karena saya sudah di level menerima, jikapun kita dekat misal ya, saya mau kok temanan akrab dengannya.
Saya sempat kagum loh di awal kenal dia, dia itu open. Talkative. Lembut. No pressure kalau sama dia. Vibe nya enak. Santai. Nah sekarang karena kejadian tahu sesuatu tentangnya jadi aneh rasanya berkomunikasi. Tapi ya sudahlah ya karena bagaimanapun dia juga tidak ada berbuat apa apa sama saya. Dia masih sama saja seperti saat saya tak tahu apa apa. Jadi ya bersikap biasa saja anggap tak tahu apa apa. Biarlah kusimpan sendiri saja.
Terkadang tak semua hal perlu diceritakan. Tak semua hal perlu diketahui orang. Tak semua hal layak jadi konsumsi publik.
Terkadang sesuatu hal hanya perlu didiamkan. Terkadang sesuatu hanya perlu dipendam.
Terkadang sesuaty hanya perlu disimpan.
Terkadang sesuatu hanya perlu diketahui sejenak lalu dilupakan.
Bagaimana sobat? Apakah kamu ada pengalaman juga?
Apakah kita benar-benar siap menanggung konsekuensi dari kebenaran yang kita cari?






