Halo sobat, apa kamu pernah patah hati? Bagaimana rasanya? Sedih? Kecewa? Sakit?
Patah hati tidak melulu karena pasangan ya sobat. Bisa karena kehilangan sahabat, guru, dan sebagainya. Intinya adalah orang-orang yang pernah ada ikatan dengan kita entah itu ikatan keluarga, pertemanan, guru-murid, dan sebagainya.
Kalau kamu pernah merasakan, apakah kamu menangis? Menangis ini tidak literal menangis mengeluarkan air mata karena tidak semua orang bisa mengeluarkan air mata. Tapi kesedihan tetap terasa.
Saya baru saja merasakannya sobat. Jadi ceritanya saya kan punya tutor. Sebenarnya tutor ini adalah tutor yang aku paling less attach. Setiap kali mau pelajaran dia berasa berat. Kenapa berat? Karena selalu ada PR dan aku selalu mengerjakannya di hari yang sama sebelum pelajaran mulai. Selain juga aku harus selalu menyiapkan ada video yang kutonton untuk nantinya kuceritakan.
Ini tuh berat. Entah akunya yang membuat berat atau bagaimana ya. Tapi aku selalu mengerjakan walau apapun juga. Aku selalu prepare. Dan di satu hari itu aku kosongkan jadwal tidak ke mana-mana karena aku mau prepare tugasku. Mencari video yang cocok untuk diceritakan ternyata tidak mudah. Mungkin akunya yang perfeksionis atau gimana entahlah ya. Tapi jadinya seperti beban.
Padahal sih kalau misal ditanya video apa yang ditonton dan kujasab tidak ada pun tak masalah. Tidak kenapa-kenapa begitu loh. Tapi secara psikologiku iti ga mau begitu. Aku harus well prepare. Entah nantinya ditanya atau tidak yang penting aku sudah siapkan. Jadi aku merasa secure begitu. Tapi jadinya seperti menyulitkan diriku sendiri. Ya begitulah diriku. Harap maklum sobat. Jangan ditiru yang tidak baiknya. Ambil baiknya saja ya. Hehe.
Tapi yang aku alami nih sobat. Ketika pelajaran mulai ya aman-aman saja. Aku malah happy. Kalau kita ada salah-salah ya wajar ya karena kita kan belajar. Aku selalu engaged. Fokus. Sampai pelajaran berakhir aku tetap mengikuti dengan baik. Intinya setiap kali selesai pelajaran justru aku merasa recharge dan happy. Kenapa bisa begitu ya?
Kalau sebelum pelajaran berat banget rasanya, badan capek pegal-pegal. Tapi rasa berat ini kukalahkan dengan segera bersiap-siap sebelum waktunya minimal 10 menit sebelumnya. Aku selalu datang lebih awal dan tidak pernah sekalipun terlambat. Aku selalu menunggu tutorku hadir. Jadi setiap tutorku hadir aku sudah ada di room. Tutorku pun selalu on time. Kalau waktunya jam 20.00 ya pas 20.00 dia masuk room.
Selama 22 meeting alias hampir 5 bulan ini hanya 2x dia telat dan itu cuma 1 menit. Dia pun selalu bilang maaf.
Tutorku ini sangat profesional. Dia benar-benar mengajar. Dia ga pelit ilmu. Dia pelan-pelan mengajariku karena ternyata aku masih perlu banyak koreksi darinya. Memang aku ambil dia sebagai tutorku karena aku perlu koreksi.
Seberat-beratnya aku merasa sebelum mulai pelajaran dengannya tapi setelah pelajaran aku selalu merasa materi darinya itu berharga banget. Penjelasan darinya itu jelas banget sehingga mudah diterima dan dimengerti oleh otakku. Dengan kata lain aku match dengan cara mengajarnya.
Otakku ini cocok dengan logika penjelasannya. Karena aku tipe orang yang kalau tidak mendapat logika aku susah mengerti suatu konsep. Jadi, logika ini oenting banget buat mengerti konsep dibanding repetisi. Repetisi penting juga untuk mendapatkan logika ataupun untuk menguatkan pemahaman biar ingat terus.
Aku banyak belajar darinya. Dan ini baru babak awal. Aku baru mendapat fondasi darinya. Aku belum bikin dinding dan atap.
Bulan keempat, dia pertama kali naikkan harga. Dia bilang dia capek kelamaan di depan layar. Dia juga dapat kerjaan ngajar offline. Padahal murid online nya banyak sekali terakhir kucek ada 49 orang. Ini setelah dia naikkan harga loh. Dia tuh memang high quality tutor banget makanya walaupun saat pertama aku ambil dia untuk jadi tutorku tuh masih tutor baru hitungannya (walau realnya sangat berpengalaman), cepat sekali dia dapat murid baru. Dia sendiri cerita ternyata tidak sulit dapat murid. Padahal itu pertama kalinya dia mengajar online.
Oya, aku tuh sempat kepikiran kalau misal dia naikkan harga lagi, aku bakal stop sepertinya. Walau di sisi hati yang lain bilang jangan dulu. Tinggal kurangi saja frekuensinya jangan berhenti total. Tapi kalau pas merasa berat sebelum pelajaran ya rasanya begitu hehe.
Nah semalam, di meeting 22 dia bilang ke aku kalau dia akan berhenti ngajar online. Dia capek di depan layar terus. Tidak sehat katanya. Terus mulai awal april dia dapat kerjaan ngajar offline. Jadi dia ga akan balik lagi. Saat itu, aku strong banget sobat. Aku ucapkan selamat loh. Berarti kelasku selesai sampai akhir bulan maret ini. Ok gapapa kataku. Lalu kelas jalan lagi seperti biasa melanjutkan materi. Tapi setelah kelas kok aku jadi bad mood. Ada apa denganku?
Tadi di kantor saya replay audio belajar saya.
Pas tutor bilang, "It is sad.. I like teaching you. You did your work. You improve all the time. You're a great student. It's been a pleasure teaching you.
Hiks langsung sedih. Eh malah meneteskan air mata. Padahal pas dengar langsung biasa saja. Kenapa begitu ya. Mendramatisir banget kayaknya. Emang saya yang sensitif banget sih ini. Mungkin hati saya terlalu lembut sehingga mudah menangis.
Teman sebelah saya langsung nanya saya kenapa. Hehe.
Mungkin dia pikir segitunya amat. Cengeng banget. Masa gitu aja nangis.
Tapi memang baru kali ini sih yang saya merasa kehilangan sosok yang banyak ilmunya terus belum rela gitu loh. Belum siap. Tadinya saya berpikir masih bakal belajar sampai akhir tahun ini minimal. Dulu di awal saya bilang ke dia sampai saya siap. Maksudnya saya sudah matang belajar. Eh ga taunya dia duluan yang berhenti. Jadi semacam shock terapi gitu. Walau sebelumnya saya pernah kepikir berhenti tapi saya belum pernah benar-benar jadi berhenti. Makanya saya shock pas dia duluan yang berhenti. Mental saya belum siap.
Karena memang masih tahap awal saya belajar sama dia walau sudah 5 bulan jatuhnya. Ibaratnya baru mau melangkah ke tahap berikutnya eh kandas. Padahal proyeksi saya bakal sampai saya serap semua ilmunya sampai akhir. Makanya saya tuh kayak kehilangan sumber ilmu yang sangat penting untuk pertumbuhan diri saya. Jadi kayak oleng pertahanan saya. Okelah mungkin bisa cari tutor lain tapi yang seperti dia mungkin sangat sulit dicari.
Dari kejadian ini saya tuh merenung. Mungkin begini yang dirasakan orang-orang jaman dulu yang ketika seorang imam meninggal dunia mereka akan bersedih karena kehilangan orang yang begitu banyak ilmunya. Itulah kenapa orang jaman dulu sangat menghargai guru. Dulu tuh saya ga kepikiran kenapa sih orang jaman dulu tuh bisa segitu sedihnya pas kehilangan imam atau guru. Selama ini saya belajar dengan banyak guru ga pernah segitunya sih. Makanya kali ini kayak oh mungkin begini yang dirasakan orang jaman dulu.
Saya merenung juga kenapalah seusia saya ini kok ya bisa mengalami ini. Maksudnya bisa cengeng begini ketika dihadapkan hal begini. Aneh banget. Hehe.
Sobat, kamu pernah ga sih ngalamin hal begini?
Ok sobat sekian sesi curhat kali ini. See you.
Kehilangan tidak selalu datang dengan pemberitahuan. Kadang kita baru sadar seberapa besar arti seseorang setelah mereka pergi. Dan tidak apa-apa menangis bahkan di kantor, bahkan untuk seorang guru. Itu bukan cengeng. Itu manusiawi.
Menjadi manusia berarti merasakan. Dan merasakan berarti kadang harus menangis. Dan itu tidak apa-apa. 🥲💔📚
Catatan: Mungkin saja farewell ini dia ucapkan ke semua muridnya who knows. Tapi hal itu tidak menggugurkan fakta dia ucapkan itu langsung. Mungkin ada pembaca yang merasa ih berlebihan banget reaksinya. Ya itu benar. Karena ini saya yang mengalami dan merasakan. Makanya tulisan ini ada. Ok? ✌️
10032026
No comments:
Post a Comment
leave your comment here!