Halo Sobat! Kali ini saya ingin cerita tentang pengalaman saya nonton orkestra. Ini pertama kalinya saya nonton langsung. Awalnya ga kepikiran sih. Kalau namanya nonton konser, yang kepikiran ya konser penyanyi-penyanyi populer.
Suatu ketika tutor saya pernah cerita habis nonton orkestra. Ah, iya juga ya, saya ga pernah kepikiran nonton orkestra. Kayak kurang umum saja nonton ini secara langsung. Sebenarnya orkestra ini bukan hal asing di Indonesia. Kita sering kok nonton di tv. Tapi memang kalau konser-konser gitu lebih populer konser penyanyi.
Terus gimana ceritanya saya jadi nonton orkestra pada akhirnya? Jadi, ceritanya nih, waktu itu tepatnya 2 bulan lalu lah ya saya lihat-lihat tiket untuk beli tiket stand-up comedy, eh ada tuh tiket orkestra, tapi pas saya cek sudah tutup. Terus pas saya nonton stand-up comedy, besoknya saya baca berita bahwa pada malam saya nonton itu ada konser orkestra gratis di Monas. Wah, saya ketinggalan info.
Nah, konser ini tuh penyelenggaranya sama, yaitu Simfonia Jakarta. Lalu saya cek websitenya lagi, eh ternyata sudah ada jadwal konser untuk beberapa bulan ke depan. Saya cek, terus saya coba ajak teman saya, eh, ga mau dong dia. Alasannya jauh. Hehe. Padahal sih ya masih di Jakarta. Dan harga tiketnya mulai dari 100 ribu, loh. Terjangkau, kan?
Kalau cuma untuk dapat pengalaman dan hiburan yang berbeda, worth it lah ya. Tapi ya begitulah, kita ga bisa maksa orang lain. :)
Sebenarnya ada konser terdekat waktunya bulan Agustus, tapi akhirnya saya memilih yang ini pada bulan September. Setelah saya lihat, yang September ini sudah ada soloisnya, makanya saya pilih ini. Kalau yang lain hanya instrumen. Untuk pengalaman pertama, saya pengen yang ada penyanyinya. Hehe.
Saya hold dulu itu, ga langsung pesan tiket. Setelah beberapa waktu, saya mikir, eh, enakan di rumah saja sih istirahat. Selain itu, karena acaranya jam 5 sore, jadi agak berat karena kan kita harus salat Magrib. Tapi kemudian saya mikir lagi, eh, kalau acaranya 1,5 jam masih kekejar buat salat, apalagi acaranya nggak jauh dari tempat tinggal saya. Kalaupun misal mepet, saya bisa balik duluan. Jadi, ga usah dipersulit. Karena memang acaranya rata-rata jam 5 sore. Paling cepat jam 4 ada, tapi pembelian tiketnya belum ada.
Okelah akhirnya pas saya keingat lagi saya putuskan beli tiketnya. Ga usah kebanyakan mikir. Nonton sendirian juga gapapa. Kalau nunggu ada temannya, alamat ga bakal nonton. Toh dekat ini dari tempat saya. :)
Saya mikir, ya sudah lakukan apa yang saya inginkan, apa yang bikin saya happy selagi saya bisa. Kita sendiri yang menciptakan kebahagiaan kita, toh. Ga usah nunggu dari eksternal buat kebahagiaan kita. Kita nikmati hidup ini. Kita punya kesempatan, gas saja.
Paling ga, sekali seumur hidup pernah nonton, pernah ada pengalaman. :)
Tapi, tiket yang paling murah sudah habis haha. Padahal tadinya pertama kali saya cek masih ada. Yang tersisa tinggal yang menengah dan mahal. Ya, sudah saya pilih yang menengah saja seharga 500 ribu rupiah dan pilihan kursi saya adalah yang paling tengah, yaitu J12.
Dan akhirnya, pilihan saya adalah Mendelssohn Elijah untuk 12 September 2026.
Sejujurnya ga ada yang saya kenal ini. Saya awam banget dengan dunia orkestra dan musik klasik. Pernah sih nonton Nodame Cantabile (serial Jepang) tentang anak-anak sekolah musik klasik, tapi kan itu serial ya, kita ga dapat gambaran yang dalam tentang musik klasik. Cuma hiburan saja yang kita dapat. :)
Saya cari tahu dong apa itu Mendelssohn Elijah.
Terus apa yang saya dapat?
Pokoknya positif. Musiknya grande. Oratorio. Lah, apa pula itu? Apa sih oratorio. Ternyata oratorio adalah komposisi musik besar dengan teks dramatis atau narasi untuk paduan suara, penyanyi solo, dan orkestra yang keseringan ceritanya keagamaan atau kekristenan. Aduh, lah, salah pilih dong ini. Apa ini konser untuk kristiani? Waduh jangan sampai nanti di sana sendirian saya yang muslim. Pakai hijab. Duduk di tengah pula sendirian. Alamak.
Tapi kemudian saya mikir lagi sih. Kalau memang bukan untuk umum masa di publish tanpa pemberitahuan apa-apa misal ada tulisan khusus umat kristiani. Ini nggak kok. Jadi harusnya aman ya. Lagian musik klasik ini buat semua kalangan kan walau misal sejarahnya ini oratorio adalah dari orang kristen. Ini hanya kekhawatiran sesaat saja di otak saya. Okelah santai... tiket sudah di tangan. Walau apa yang terjadi, cuss... :)
Jadi, bagaimana ceritanya di konser tersebut?
12 September 2026
Jam 4 sore lebih sedikit saya pergi ke lokasi konser yaitu di Aula Simfonia Jakarta Pademangan. Ternyata dekat kok dari lokasi saya cuma 2 km, sekitar 10 menit sampai. Jam setengah 5 kurang saya sudah sampai. Pas masuk gedung saya bingung di mana lokasinya karena ga ada petunjuk. Eh ada lift di tengah. Saya lihat orang-orang pada masuk lift. Saya mau ikut masuk tapi saya hold. Saya cek lagi tiket saya. Benar sih ga ada petunjuk.
Sepi tuh depan lift ga ada orang. Pas ada orang lewat saya tanya lokasi. Saya diarahkan ke belakang. Lah ternyata ada ruangan lagi di belakang. Kalau dari lift masih jalan lurus ada pintu keluar ya di situ kelihatan ruangannya. Nyebrang. Ternyata sudah ramai orang depan. Saya tanya petugas tempat registrasinya mana. Dibilangnya belum dibuka. Nanti langsung scan barcode saja pas masuk. Oh ternyata gitu. Beda cara dengan pas saya nonton standup comedy. Baiklah.
Tak lama kemudian pintu dibuka. Saya ikut ngantri duluan. Aman sih cuma scan barcode ga perlu tunjukin ktp. Saya naik tangga tuh ngikutin orang-orang di depan saya. Lalu masuk ruangan juga ngikutin yang di depan saya. Pas saya sudah di dalam saya lihat-lihat mana ya kursi saya. Petugas di depan saya cek tiket saya lalu saya diantar ke luar
Saya salah pintu sobat hehe. Itu tadi pintu lantai 1 untuk VIP. Saya seharusnya ke lantai 2 dan masuknya dari pintu lain. Naik dulu tangga pertama. Karena ada dua tangga sebelahan. Saya naik tangga yang kiri. Di sana baru deh saya nemu kursi saya. Mj12. Bebar-benar di tengah ini kursinya.
Pas saya masuk masih belum banyak yang masuk. Mendekati jam 5 pas baru mulai penuh. Penuh loh ini penontonnya. Kalau saya perkirakan mungkin 1000 ada ya. Banyak juga ternyata peminatnya. Saya lihat-lihat, ini saya sendiri yang muslim ga ya. Eh ternyata ada kok yang berhijab sekitar 5-6 orang selain saya. Kebanyakan yang nonton memang ga berhijab dan turunan tionghoa. Petugasnya juga turunan tionghoa semua yang saya lihat. Okelah kalau gitu berarti saya ga sendiri ya. Tadinya saya pikir apa saya salah pilih konser.
Jam 5 lewat 5 menit acara mulai. Musik dimainkan. Ada choir nya di lantai 2 pas berhadapan depan saya yang semuanya berseragam hitam dan di sebelah kirinya berseragam hitam putih. Yang hitam putih ini kayak bocil dari jauh. Mungkin anak SMP SMA.
Penyanyi solo wanita ada 3 orang dan solo pria 2 orang. Musik dan nyanyian jalan terus sampai jam 6.15 pm. Duh apa ga capek ya hehe. Tapi kan memang mereka ganti- gantian ga terus-terusan non stop. Saya coba menikmati musik dan lagunya. Suasana sepi kok ga ada orang ngobrol pas perform.
Soundnya bagus loh. Saya sampai mikir ini asli ga sih atau rekaman ya. Soalnya tuh kelihatannya standing mic nya jauh tapi suara penyanyinya menggelegar dan jernih kayak rekaman. Begitu pula choirnya. Saya sampe merhatiim itu mereka pakai alat rekaman di bajunya ga sih tapi kok ga kelihatan.
So far, bagus untuk pengalaman pertama karena ini komplit ga cuma musik tapi ada choir dan penyanyinya. Tapi ada yang bikin saya penasaran. Lirik lagunya. Kok nyebut prophet Baal. Hear us. Pokoknya berkali-kali nyebut nama ini. Terus gambar di layarnya itu sapi di tengah dikelilingi orang kayak persembahan. Ada juga nyebut jehovah di liriknya.
Ini memang oratorio. Keagamaan kristen ya kan. Saya ga paham sih. Cuman ya itu tadi yang bikin penasaran.
Lirik lagunya bahasa Inggris ya sobat bisa dilihat dilayar besar.
Setelah 6.15 kan interval 20 menit ya alias istirahat. Setelah itu lanjut lagi sampai jam 7. Nah, sebelum ini tuh saya memang sudah berniat pokoknya 6.15 saya balik karena saya mau sholat magrib. Eh ternyata pas jam segitu interval. Sip lah. Cus saya pulang.
Saya kan pesan gojek ya. Pas sudah dekat ojeknya loh kok saya cek gambar di map kok mobil. Bukannya saya pesan ojek motor. Pas saya baca daihatsu. Wah iya benar saya pesan gocar. Kok bisa salah pencet sih saya. Dekat banget padahal motor aja cukup. Seharusnya 9 ribu jadi ongkos 38 ribu hehe. Hmm ya sudahlah rejeki si sopir.
Begitu sobat cerita saya. Kalau kamu pengen punya pengalaman juga silahkan nonton juga. Banyak kok jadwalnya tiap minggu ada sih kalau ga salah. Terkadang pengalaman itu harus berbayar baru bisa didapat. Ga semua hal bisa kita raih secara gratis. Jadi, untuk sebuah pengalaman ga usah sayang-sayang dengan uang jika memang worth it. Why not?
Ga usah takut sendirian juga. Saya sendirian dan buktinya sampai tujuan hehe. Sebelah kanan saya cowok mas-mas juga sendirian. Sebelah kiri saya pun cewek mbak-mbak berhijab sendirian. Walaupun misal mereka terpisah kursi padahal aslinya ga sendirian ya wallahualam hehe. Yang saya lihat mereka sendirian. :)
See you. Selamat berakhir pekan!

No comments:
Post a Comment
leave your comment here!