semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

May 2026 - Reana

Follow Us

Sunday, May 3, 2026

Straight to Hell Japanese Drama Review

5/03/2026 04:13:00 PM 0 Comments
Halo Sobat. Ada yang sudah nonton Straight to Hell? 

Weekend ini saya sempat nonton drama Jepang tersebut dan tamat 9 eposode. Wow! Pencapaian banget rasanya setelah sekian lama. Haha.

Straight to Hell ini drama yang baru tayang di netflix. Pemeran utamanya Erika Toda. Wuah masih ingat Erika pernah main jadi Misa Amane di film Death Note. Masih unyu-unyu. Di drama kali ini perannya lebih menantang. Lebih berbeda. 



Dia berperan sebagai Kazuko Hosoki yaitu seorang fortuneteller alias peramal di Jepang di masanya dulu pasca perang dunia kedua. Kisah ini diangkat dari kisah nyata Kazuko Hosoki sendiri yang dimix dengan fiksi tentunya biar ambyar. 

Kalian boleh cek di google tentang Hosoki biar lebih yakin. Dari wikipedia dia sudah meninggal tahun 2021. Dia memang sangat terkenal di Jepang. Dia menerbitkan buku fortuneteller laris manis hingga punya acara TV sendiri. Bahkan dia masuk guiness world book of record loh dari penjualan bukunya. Tapi dari kisah hidupnya ternyata dia ada skandal dengan yakuza. Nah, bagaimanakah kisah dalam dramanya?

Saya nonton ini tuh karena penasaran temanya fortuneteller. Kan jarang ya. Terus saya pengen tahu saja bagaimana caranya dia bisa jadi fortuneteller. 

Yuk simak...

Drama ini ceritanya dibuat maju mundur. Diawali dengan Hosoki yang sudah usia senja ( walau belum senja senja amat) tapi sudah sangat berumur gitu ya. Dia bertemu dengan seorang novelis yang mengangkat kisah hidupnya dalam novelnya yang kedua. Novelis ini bernama Minori. 

Berceritalah Hosoki tentang kisah hidupnya dari masa kecilnya pasca perang dunia dua yang mana hidupnya sangat sulit hingga kesuksesannya sebagai pebisnis.

Bermula saat SMA Hosoki diam-diam bekerja di sebuah club malam. Ibunya yang seorang penjual makanan sebenarnya tidak setuju ibunya ingin dia fokus sekolah tapi dia sangat keras kepala. Dia ingin mengumpulkan uang. 

Di awal bekerja Hosoki sudah membuat perjanjian dengan pengurus club tersebut bahwa dia mau bekerja tapi tanpa menjual tubuhnya. Dia pun diterima dengan baik. Mulanya dia dibenci oleh para hostess lain. Sampai bajunya di loker disobek sobek karena dia mengungguli hostess lain menjadi hostess paling banyak menghasilkan uang. 

Lalu keluarlah dia ngedate dengan pengurus bar itu. Hosoki masih polos saat itu. Dan tejadilah hubungan intim. Dari sini, pria kaya yang sering jadi tamunya meminta dia melayaninya dengan menggunakan tubuh. Hosoki marah. Ketahuanlah bahwa Hosoki dijual oleh pengurus club tersebut ke pria itu. Dia dimanfaatkan. Dia marah besar dan hendak membakar pria itu. Tapi tidak jadi. Dia hanya menggertak.

Dari sini dia belajar bahwa dia tidak mau lagi bekerja pada orang. Dia mau membuka bisnisnya sendiri. 

Setelah itu dia keluar dari sekolah dan membuka bisnis sendiri dengan bantuan seorang investor terpercaya. Dari bisnis makanan dia sukses besar. Akhirnya dia beralih membuka bisnis club malam. Bisnis ini pun sukses besar. Hosoki kemudian kenal dengan seorang pria kaya raya dan menikah. Tapi sayang pernikahannya tidak sampai seminggu lalu bercerai. Karena memang ada yang tidak beres dengan keluarga pihak suami.

Dia kembali mengurus bisnis club. Clubnya menjadi 3 di Ginza. Permasalahan datang lagi. Dia jatuh cinta dengan seorang pria. Ternyata pria ini bukan pria baik-baik. Ini jahatnya ga ketulungan sih. Dia pura-pura baik untuk mengambil hatinya. Manipulatiflah. Dia berkata sudah insyaf dengan bisnis ilegalnya. Dan berniat membuka bisnis bareng dengan Hosoki. Tapi dengan syarat dia harus putus hubungan dengan investornya. Hosoki memang keras kepala walau sudah diingatkan investornya kalau pria ini jahat tapi tetap kukuh. Akhirnya dia membangun bisnis bersama. Saat mulai membangun gedung dan sudah jadi, banyak orang demo di depan clubnya. Ternyata para tukang dan rekanan yang belum dibayar. Uang sudah dibawa lari semua oleh si pria jahat itu. 

Hosoki terlilit hutang dan hendak bunuh diri. Tapi ada penyelamat yaitu Takeguchi. Siapa lagi ini ya. Dia adalah orang jahat berikutnya. Tak disangka dia musang berbulu domba. Dia mau membantu Hosoki melunasi hutang tapi dengan syarat dia harus jadi wanitanya. Syarat yang sangat berat. Plot twistnya adalah ternyata si pria penipu ternyata bekerja untuk Takeguchi. Mereka bersekongkol. Dan Takeguchi berhasil mengeksploitasi Hosoki baik uang maupun tubuhnya. Sumpah jahat banget.

Selanjutnya muncullah seorang yakuza bernama Hotta yang diperankan oleh Ikuta Toma. Wah lama juga ga lihat dia. Dulu ingat banget dia main di Hana Kimi. 

Hotta ini berniat baik membantu Hosoki lepas dari jeratan Takeguchi dan berhasil. Kemudian mereka saling jatuh cinta. Mereka membangun bisnis bersama dan sukses.

Lah ceritanya kok kisah cintanya si Hosoki ini melulu ya. Saya pun menunggu-nunggu kapanlah dia jadi fortunetellernya. Bagaimana caranya dia jadi fortuneteller. Sampai episode 8 baru direveal coba. Sudah jenggotan ini nunggunya hehe. Karena kan cuma 9 episode ya. Mana kisahnya kelam lagi. Ga ada bahagia- bahagianya. Urusannya ya pria dan uang. Masalah dia adalah selalu ketemu pria jahat. Hanya si Yakuza ini yang agak mending tapi ya ada adegan membagongkan juga yang bikin mereka berpisah tapi diceritakan mereka kembali lagi sebelum yakuza ini meninggal.

Jadi bagaimana dia menjadi fortuneteller? Dia belajar sobat. Itu jawabannya. Belajar dari seorang fortuneteller juga. Dia belajar mati-matian. Salah satu konsepnya adalah 6 star divinity. Ini perpaduan astrologi cina dan ilmu traditional Jepang. Ditambah dengan belajar dari fortuneteller lain yang terkenal dan menjadikan dia suaminya.

Di beberapa episode terakhir ada pergantian karakter Hosoki. Dia berubah menjadi seorang yang manipulatif dan eksploitatif. Karena apa? Uang jawabannya. Dan karena pengalaman hidupnya yang pernah dieksplotasi juga. Jadi dia pun melakukan itu ke orang lain.

Dari drama ini bisa ditarik bahwa sebenarnya Hosoki awalnya baik. Hanya saja pengalaman hidup yang membuat dia jadi akhirnya tampak tidak lagi baik. Dia itu pebisnis handal. Setiap bisnis yang dia pegang selalu suskes. Tapi banyak up and down- nya. 

Hosoki ini yang dikejar hanya uang dan popularitas. Ya kalau hidup sekuler memang apalagi yang dikejar kalau bukan uang, popularitas dan power? Beda cerita kalau orang yang religius.

Terkait novel, ternyata ga mudah menyusun biography atau true story. Karena harus research sana-sini mencari kebenaran. Beda orang yang jadi narasumber eh beda pandangan. Jadi mana yang benar? Ini kejadian banget sama Minori. Dia sampai bingung mana yang bisa dipercaya kisahnya. Relate banget sih bahwa sejarah ditulis sesuai pemenangnya, sesuai siapa yang bercerita. Benar tidaknya tidak ada yang tahu. Tak ada yang memvalidasi. Bagaimana menurutmu sobat? 

Kok saya bisa selesai nonton? Ini karena saya penasaran tadi kapan jadi fortunetellernya. Terus setiap kali datang sosok baru itu saya penasaran kira-kira apa lagi masalahnya si pria ini. Gitu kira-kira hehe. 

Nah bagaimana endingnya? Apakah novelnya terbit? Silahkan tonton saja di netflix ya. 


Saturday, May 2, 2026

Focus on What Matters Book Review

5/02/2026 03:25:00 PM 0 Comments
Halo Sobat! Ada yang sudah baca buku Focus on What Matters karya Darius Foroux? Kalau belum, buat kamu yang butuh bacaan yang bisa membuat kamu jadi pribadi yang positif dan lebih fokus pada diri sendiri, buku ini cocok banget buat kamu.

Buku ini mengajarkan konsep stoic. Apakah kamu familiar dengan istilah stoic? Stoic ini semacam ajaran dari filsuf Yunani dan Romawi tentang fokus pada apa yang bisa kita kontrol ketimbang yang tidak bisa kita kontrol. 

Buku ini menceritakan sedikit demi sedikit ajaran stoic dari Seneca, Epictatus, dan Marcus Aurelius di setiap bab. Bab yang dia tulis dia sebut sebagai surat. Setiap bab ini tidak panjang jadi cocok banget buat kamu yang butuh bacaan ringan tapi tetap menohok sebagai makanan otak kamu. Cocok banget untuk perenungan hidup.

Sebagai contoh salah satu surat adalah tentang tidak menjudge orang lain atas apa yang mereka lakukan dan menganggap bahwa mereka salah dan yang benar adalah sudut pandang kita. Kita tidak bisa berbuat demikian. Kita tidak mengetahui permasahan sebenarnya dari orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang mengikuti standar kita. Tiap orang punya standar berbeda. 

Ini benar sekali loh sobat saya sering banget menyaksikan orang menghakimi orang lain bahkan orang dekat saya pun begitu. Nah ini saya pernah bahas di posting saya sebelumnya.

Cek posting sebelumnya tentang judmental

Ternyata sudah lama saya posting di tahun 2021.

Selanjutnya dari buku ini ada cerita tentang mencintai diri sendiri. Stoic mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri. Kenapa? Salah satunya karena kita 24 jam bersama diri kita sendiri. Kita paling banyak bersama diri kita. Kitalah teman sejati dari diri kita sendiri. 

Siapa yang paling mencintai diri kita? Jawabannya adalah diri kita sendiri. Lalu kenapa kita memperdulikan opini orang lain? Jika sesuatu yang kita lakukan adalah hal yang benar maka jangan pedulikan omongan orang lain karena pasti ada saja orang yang setuju dan tidak setuju bahkan orang terdekat kita sendiri juga ada yang ingin kita gagal. Hal ini bisa terjadi karena ada rasa iri. Rasa ini bisa ada dari siapa saja entah teman akrab, teman kerja bahkan keluarga. 

Intinya ada banyak pesan-pesan stoic lainnya yang bisa kamu ambil dari buku ini. Buku ini bukan berisi teori stoic ya tapi cerita-cerita kecil kehidupan yang dikaitkan dengan ajaran stoic. Dan kemungkinan besar relate dengan kehidupan kita orang biasa. 

Jadi, apakah kamu tertarik sobat?


Friday, May 1, 2026

Kenapa Kita Terobsesi Hidung Mancung?

5/01/2026 10:54:00 PM 0 Comments
Halo Sobat, tetiba saya jadi pengen membahas tema berikut: oplas alias operasi plastik.

Saya perhatikan sekarang marak selebritis pada oplas. Malah terang-terangan pada dibuat konten. Sebenarnya itu hak mereka ya mau oplas atau tidak, mau publish atau tidak, toh oplas pakai uang mereka dan mereka sendiri yang merasakan prosesnya. 

Mereka melakukan semua itu secara sadar loh. Kita netizen cuma bisa melihat lalu berkomentar. Gratis. Hehe.

Sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan? Saya merenung saja sih. Saya bertanya-tanya. Kenapa ya mereka pada memilih oplas. Padahal mereka itu orang-orang terkenal yang mana dengan posisinya mereka itu sudah dikenal secara fisik oleh penduduk muka bumi Indonesia mereka unik asli ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, mereka dicintai para fans, mereka diterima oleh para fans apa adanya yang menempel pada jasad mereka. Dengan apa yang mereka miliki itu, duit ada, popularitas tinggi. Kaya raya. Lalu apa yang kurang? Apakah kurang cantik? Hidung kurang mancung? Karena rata-rata artis Indonesia oplasnya hidung. 

Ya sebenarnya wajar oplasnya hidung karena memang ciri khas Indonesia asli kan hidung ga tinggi seperti orang kaukasia. 

Mungkin standar cantik Indonesia menengok ke kaukasia yang berhidung tinggi. Walau ga setinggi hidung kaukasia, paling ga mancung gitu ya. 

Saya sendiri juga bertanya-tanya sih kadang. Ketika saya campur dengan teman-teman saya entah itu di kantor atau kuliah, lah kok saya paling pesek sih. Yang lain lumayan mancung ketimbang saya ini kategorinya flat nose. Hehe. 

Tapi ya yasudah sebatas itu saja. Memang ga punya pos uang juga buat oplas hehe. 

Maksud saya, hidung ga jadi masalah dalam pergaulan saya. Ga ada kok teman yang menghina atau tidak menerima saya karena hidung. 

Di Indonesia ini wajar banget punya hidung ga mancung. Sama halnya orang kaukasia wajar banget punya hidung mancung.
 
Lagipula hidung tidak ada efek apa-apa ke orang di sekitar. Yang ngefek itu ya perkataan dan perbuatan kita. Paling ga dalam kehidupan saya sehari-hari ya. Kalau seleb mah mungkin memang beda ya. Pokoknya harus cantik menarik. Hidung kurang atau ga mancung adalah penyebab merasa kurang cantik. 

Tapi apakah separah itu insecurenya? 

Saya rasa tiap orang cantik ganteng sesuai pemberian tuhan. Cantik ganteng relatif kan ya. Walau ada yang bilang cantik itu relatif jelek itu mutlak, emang segitunya amat ya? Tiap orang itu cantik versi masing-masing loh. Tiap orang itu unik allah ciptakan. 

Coba deh setelah oplas kok biasanya itu langsung berubah wajahnya padahal cuma hidung yang dirubah. Jadi ga unik lagi loh wajah jadi orang lain yang sama pabrikannya. Karena memang itu buatan manusia. Ciri khas wajah asli jadi hilang. Banyak loh yang begitu jadi ga kenal itu siapa. 

Jadi, kalau misal oplas supaya lebih cantik, cantik itu ga ada habisnya. Selalu saja ada orang yang lebih cantik. Ibarat di atas langit masih ada langit. Yang ada makin berambisi biat jadi lebih cantik lagi dan lagi. Setelah operasi 1 ada operasi dua tiga dan seterusnya karena manusia ga ada puasnya.

Kepuasan itu hanya sebentar euforianya dan ga ada habisnya. Manusia akan terus-menerus mencari kepuasan dan ingin terus-menerus merasakan sensasi kepuasan itu karena memang timeline-nya sebentar. Seuprit seupil. Hehe.

Lah kok jatuhnya jadi greedy. Iya ga sih. Bukankah manusia memang makhluk yang serakah? Iya juga sih tapi keseringan kita ga sadar kalau kita sudah jadi greedy. 

Lalu harus bagaimana?

Harus ada acceptance dari dalam diri kita sendiri. 

Kita terima diri kita apa adanya. Kita tidak bisa kontrol kita mau berparas seperti apa itu kuasa tuhan. Yang bisa kita lakukan ya merawat diri atas apa yang tuhan berikan. Bukan merubah. 

Kalau misal ada yang bilang kan tuntutan untuk jadi cantik. Tuntutan siapa? Fans ga minta idolanya buat oplas kok. Fans terima-terima saja idolanya bagaimana. Mungkin itu tuntutan diri sendiri ya ga sih. 

Padahal terkadang ya jika direnungi misal punya hidung pesek justru berkah justru itu yang mendatangkan banyak rezeki jadi selebriti karena kan lucu hidungnya pesek. Setelah oplas malah jadi berubah wajahnya eh lucunya jadi hilang.

Sobat, ini cuma pemikiran saya saja ya. Dan saya tidak berniat untuk mengaitkan dengan agama. 

Cantik itu relatif, unik itu abadi. Ketika kita mengubah diri demi mengejar standar orang lain, kita berisiko kehilangan ciri khas yang membuat kita istimewa. Dan pada akhirnya, kepuasan tidak akan pernah datang dari luar tapi dari kemampuan kita menerima apa yang sudah kita miliki.