semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

Ketika Korban Tak Bisa Bersuara - Reana

Follow Us

Tuesday, September 8, 2026

Ketika Korban Tak Bisa Bersuara

Halo Sobat. Kali ini saya pengen mengomentari kasus pembunuhan yang beritanya sedang hangat ya yaitu kasus pembunuhan Mozza Axillia Gunarsa di Jawa Tengah yang masih di bawah umur yaitu 17 tahun saat pembunuhan (Juni 2025) dan baru ketemu tulang-belulangnya setahun kemudian. 

Kasus ini membuat kita bertanya

Apakah berita ini miris? Ya tentu saja. Pertama, karena korbannya adalah anak di bawah umur. Walau umur 17 tahun bisa dibilang cukup umur tapi tetap saja masih anak-anak masih dalam pengawasan orang tua. Secara hukum masih tergolong anak-anak. Selain itu, korban ini bergender perempuan yang memang sangat rentan menjadi korban.

Kedua, korban berkenalan baru sebulan melalui media sosial tiktok dan sudah menjalani hubungan romantis dengan pelaku. Pertanyaannya adalah secepat itu? Walaupun pengakuan adanya hubungan romansa ini adalah pengakuan dari sang pelaku yang tentu saja tidak bisa dikonfirmasi ke korban secara langsung, boleh misal kita asumsikan saja ini benar ya karena memang pada umumnya hal apa lagi yang menjadi pemicu alias motivasi yang membuat seorang perempuan bersama laki-laki jika bukan adanya ikatan emosional alias romansa. Ini asumsi terburuk ya. 

Jangan buru-buru menerima narasi pelaku

Korban datang ke kos pelaku. Pelaku mengaku cemburu karena adanya pria lain lalu terjadilah cekcok dan terbunuhlah korban. Setelah itu, korban dibuang. Motor korban dijual dengan alasan menghilangkan barang bukti. 

Sobat, sampai sini apakah ada kecurigaan kalian? Apakah kalian percaya pengakuan pelaku begitu saja?

Ingat sobat ya. Almarhum sudah tidak ada dan tidak akan bisa mengonfirmasi apapun yang diucapkan pelaku. Almarhum tidak akan bisa membela diri. Di sinilah kita hanya mendengar dari satu sisi yaitu pelaku.

Pelaku bebas membuat alibi atau mengarang cerita apapun yang bisa meringankan hukuman pelaku. 

Barang korban menimbulkan pertanyaan

Mari kita berpikir sejenak. Jika harta benda dijual oleh pelaku selepas menghilangkan nyawa korban, apakah kalian berpikir bahwa oh kalau gitu bukannya pelaku berniat menguasa harta korban? Jika memang mau menghilangkan jejak kenapa dijual? Kan bisa saja dibuang, dipendam, dibakar, dirusak atau apapun bentuknya untuk menghilangkan bukti misal karena ada sidik jari. 

Lah kalau dijual kan dapat duit ya lumayan jutaan jual motor, laptop, HP atau mungkin perhiasan. 

Ingat! Kenal baru sebulan loh. Kalau tidak ada niat menguasa harta benda mana mungkin ada keinginan untuk mengambil barang-barangnya. Yang ada ketakutan, kepikiran, hidup ga tenang, mana kepikir ambil barang apalagi dijual. Trauma kan kalau baru pertama kali membunuh. Ini dalam kondisi normal bagi sebagian orang ya. Bukan semuanya. Karena memang selalu ada perkecualian di dunia ini. 

Kalau sampai kepikiran ambil barang dan dijual sih jadi menimbulkan asumsi seperti sudah direncanakan ya. Kalaupun tidak direncanakan, kemungkinan si pelaku memang sudah ada niat ga baik. 

Saya tidak menuduh pelaku ada motif ekonomi. Hanya saja perilakunya itu bisa mengarahkan kita sebagai penonton ke arah sana. Ya memang diakui kalau respon seseorang setelah pertama kali membunuh kan pasti berbeda-beda tak bisa digeneralisir. Semua kemungkinan yang terjadi ada. Makanya di sinilah kita bertanya-tanya.

Merampas barang kan tidak harus dibunuh ya. Dengan bujuk rayu pun bisa kok pelaku menguasai harta korban. Paling-paling bertengkar kalau korban ga mudah dibujuk. Dan memang pertengkaran ini bisa mengakibatkan pembunuhan. 

Jangan menjadikan prilaku korban sebagai pembenaran

Ada hal yang ingin saya bahas juga. Kenapa si wanita pergi ke kos pria? Ini tanda tanya sih. Ngapain perempuan ke kos pria? 

Ini bukan menyalahkan di wanita karena motif bertemu seseorang bisa sangatlah beragam. Mana kita tahu kalau misal pertemuan itu murni pertemanan, jualan atau bisnis, nagih hutang, pekerjaan, membantu, mengantarkan sesuatu, hingga motif relasi. Siapa yang tahu?

Dalam budaya kita kan sebenarnya masih tabu ya perempuan mencari atau mendatangi pria sehingga lebih besar rasa malu jika perempuan ke tempat pria sendirian. Tapi entahlah ya kalau di jaman sekarang sudah tidak ada lagi hal-hal tabu semacam itu. Entah bagaimana pendidikan prilaku anak muda jaman sekarang. Apakah memang sudah sebebas itu tak ada lagi batas pergaulan pria dan wanita. 

Ini pelajaran buat anak perempuan harus lebih waspada ya kalau mau ketemu orang baru. Sudah banyak kok literasinya. Coba pikirkan risikonya ya sebelum bertemu. Ditimbang-timbang dulu. Pikirkan keselamatan diri kita sendiri. Coba berpikir lebih panjang. 

Perasaan keluarga

Sobat, kebayang ga sih bagaimana perasaan orangtua. Korban yang dilaporkan hilang dan kemudian ketemu setelah setahun sudah menjadi kerangka. Sedih banget pasti kan keluarganya kehilangan anak. 

Kenapa ya menghilangan nyawa sudah kayak bunuh nyamuk aja. Setega itu. Kayak nyawa ga ada harganya sama sekali. 

Itu orangtua yang membesarkan bagaimana coba kehilangan anak.

Pelajaran buat anak muda

Kalau memang cinta kenapa harus dibunuh?  Kalau memang cemburu kenapa harus dibunuh? 

Logikanya, kalau dibunuh artinya ga cinta kan? Orang cinta kan takut kehilangan semestinya. 

Cinta kok kak makanya dibunuh karena saking cintanya biar tak ada orang lain yang memiliki? 

Apa? Itu sih bukan cinta. Itu sih balas dendam. Pelampiasan emosi karena sakit hati. Bukankah kalau cinta harusnyaa energinya positif sehingga semestinya mengayomi, melindungi. Sedangkan amarah itu sendiri negatif makanya bisa destruktif. Ya, walau lagi-lagi kita ga bisa sehitam putih itu karena lagi-lagi selalu ada perkecualian, selalu ada grey area. Cinta bisa hadir bersamaan rasa sakit, hati, cemburu, dan sebagainya.

Intinya, jangan pembenaran atas nama cinta ya. Hilang nyawa loh ini.

Apa ga ada jalan lain? Tinggalinlah kalau memang diselingkuhi. Putus. Wanita lain masih banyak. Nanti juga move on. Baru sebulan juga loh. Memangnya secinta apa sih kalau baru sebulan? Ini dengan catatan kalau memang motif cemburu ya.

Lah kan sakit hati kakak diselingkuhi? Iya betul. Tapi kan sakit hati tidak menjadikan itu alasan untuk mengambil nyawa orang lain toh? Itu sama sekali tidak dibenarkan dan tidak bisa menjadi pembenaran. Dia ga punya hak!

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya kan hubungannya baru sebulan kenal seperti pengakuan pelaku. Bisa dibilang masih seumur jagung. 

Seringkali saya ga ngerti dengan pola pikir para pelaku ini bagaimana ya. Dikuasai setan? Mungkin... 

Memang ga perlu dimengerti juga kali ya. Kalau dimengerti nanti malah dianggap memaklumi. 

Selain itu nih ya. Mungkin saja ada ketidaksetaraan power atau relasi kuasa. Saya tidak tahu berapa usia pelaku. Tapi ketidakseimbangan usia, pengalaman, dan sebagainya bisa menjadi salah satu penyebab tragedi ini terjadi.

Ok sekian dulu ya sobat. Ini adalah opini  bebas saja. Kalau kamu ga setuju silahkan saja kalian berhak. 

Akhir kata...
Kita serahkan ini ke pihak berwajib. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan.

See you!






No comments:

Post a Comment

leave your comment here!