semangat menebar kebaikan lewat tulisan — merangkai kata menebar cahaya — menulis dengan hati, menginspirasi tanpa henti

17. Kadang, Luka adalah Pintu Masuk yang Membuka Cahaya - Reana

Follow Us

Thursday, April 17, 2025

17. Kadang, Luka adalah Pintu Masuk yang Membuka Cahaya

Halo Sobat! Apa kabar? Setelah selesai seri sebelumnya, kita masuk ke seri ketiga ya yaitu 20 Seri Mencari Makna dalam Setiap Kejadian. Jadi saya akan posting tema ini selama beberapa hari ke depan. Semoga selalu ada pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik. Yuk simak!




Kadang, Luka adalah Pintu Masuk yang Membuka Cahaya

Tidak ada yang suka terluka. Luka itu menyakitkan, menyesakkan, membuat kita merasa hancur. Tapi anehnya, dalam luka kita sering menemukan versi diri yang tak pernah kita duga ada.


“The wound is the place where the Light enters you.” — Rumi


Pernahkah kamu berpikir, bahwa mungkin luka bukanlah akhir, tapi awal dari sesuatu? Awal dari kesadaran baru, awal dari pertumbuhan, awal dari penyembuhan. Mungkin kamu terluka agar kamu bisa berhenti berlari dan benar-benar melihat ke dalam dirimu sendiri.


Karena tidak semua hal bisa diajarkan oleh kebahagiaan. Beberapa pelajaran hidup, hanya bisa muncul dari rasa sakit.


Saat kamu terluka, kamu mulai belajar membedakan mana yang sungguh tulus dan mana yang hanya pura-pura. Kamu mulai lebih jujur pada dirimu, lebih selektif terhadap orang lain, dan lebih lembut dalam memandang dunia.


“Sometimes we must be broken so we can be rebuilt in better form.”


Luka membuatmu sadar bahwa kamu tak bisa terus menyenangkan semua orang. Luka memaksamu untuk akhirnya mendengarkan dirimu sendiri. Untuk bertanya: “Apa yang benar-benar aku butuhkan?”


Dalam luka, kamu akan menemukan kejujuran. Bahwa kamu lelah. Bahwa kamu terlalu lama memendam. Bahwa kamu butuh dimaafkan — terutama oleh dirimu sendiri.


Dan pelan-pelan, kamu mulai berdamai. Bukan karena luka itu hilang, tapi karena kamu mulai bisa menerima kehadirannya. Kamu tidak lagi melawan, tapi mengubah rasa sakit menjadi pelajaran, menjadi kekuatan, menjadi empati.


“What hurts you, blesses you. Darkness is your candle.” — Rumi


Terkadang, luka mengantarkan kita ke jalan yang selama ini tak pernah kita lihat. Kita bertemu orang-orang baru, pemahaman baru, arah hidup yang lebih jujur dan bermakna. Dan ketika melihat ke belakang, kita bisa berkata, “Kalau bukan karena luka itu, aku tidak akan sampai di titik ini.”


Luka memang menyakitkan. Tapi sering kali, luka juga menyelamatkan.


Jangan buru-buru menutup luka. Biarkan ia terbuka agar bisa bernapas, agar bisa tumbuh jaringan baru yang lebih kuat. Jangan malu menunjukkan bekasnya — karena itu bukti bahwa kamu pernah berjuang, dan bertahan.


“Your scars are not your shame. They are your testimony.”


Maka hari ini, jika kamu masih terluka, peluk dirimu sendiri. Katakan: “Aku mungkin belum sembuh, tapi aku sudah berjalan jauh.” Dan percayalah, cahaya sedang menyusup masuk melalui celah-celah luka itu — pelan tapi pasti.


Karena kadang, justru dari luka, kita bisa menemukan terang.



Kata-kata bisa jadi cahaya, atau jadi senjata dalam gelapnya dunia.


 Sampai jumpa di bagian 18...


 #836

#Menuju 1000 posting

#Seri Mencari Makna dalam Setiap Kejadian

No comments:

Post a Comment

leave your comment here!