Sobat, siang ini panas sekali di sini. Ah, kapan Jakarta tidak panas ya. Bahkan ketika hujan pun masih terasa panas. Beginilah Jakarta. Oke deh tak apa. Saya hanya ingin menceritakan cuaca hari ini.
Kali ini saya ingin membahas tentang penghakiman. Siapa? Oleh siapa? Penasaran? Yuk langsung baca saja ya.
Jika Dunia Tidak Menghakimi, Apakah Aku Akan Menjadi Orang yang Berbeda?
"Apa yang akan kamu lakukan hari ini jika kamu tahu tidak ada satu pun orang yang akan menghakimi?"
Saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar hidup sebagai diri saya yang utuh, atau hanya sebagai versi dari saya yang diterima oleh dunia?
Kita tumbuh dalam dunia yang penuh dengan standar dan ekspektasi. Dari kecil kita diajari mana yang “baik” dan mana yang “buruk”, mana yang “boleh” dan mana yang “tidak pantas”. Kita mulai menyesuaikan diri. Pelan-pelan, tanpa sadar, kita merapikan sisi-sisi tajam kepribadian kita. Kita belajar menyembunyikan air mata, menahan tawa, menyesuaikan gaya bicara, bahkan menertawakan hal yang sebenarnya tidak lucu—semata-mata agar dianggap pantas dan tidak dicemooh.
Saya pernah menjadi orang yang begitu takut terlihat berbeda. Takut dinilai lemah, takut dikira terlalu banyak maunya, terlalu sensitif, terlalu pemimpi. Saya mulai membentuk citra yang terasa aman: cukup pintar, cukup sopan, cukup menyenangkan, cukup baik, dll. Tapi tidak terlalu mencolok. Pokoknya serba cukup-cukup saja. Kalau dalam ukuran ya moderate lah. Di tengah-tengah. Cari aman.
Walau sebenarnya saya tidak sebegitunya juga ya. Saya tidak mencoba menjadi orang lain karena memang tidak bisa. Seperti sudah default saya seperti ini nyamannya begini. Ga bisa ikut-ikutan. Saya sendiri memang merasanya average juga orangnya. Hehe. Bukan yang wow, superwow, dan sebagainya. Malah kadang bertanya-tanya sendiri kelebihanku apa ya? Karena saking merasa average-nya. Apakah kamu relate? :)
Namun semakin lama saya hidup, semakin saya sadar bahwa topeng-topeng itu melelahkan. Dan pertanyaannya muncul kembali—siapa saya sebenarnya jika saya tak pernah merasa takut dihakimi? Mungkin saya akan lebih sering menyanyi kencang di tempat umum. Mungkin saya akan menulis cerita-cerita ganjil yang tak saya pedulikan apakah ada yang membaca. Mungkin saya akan mencintai lebih jujur, marah lebih terbuka, dan tertawa lebih keras.
Saya yakin, kamu juga punya bagian dari dirimu yang hanya kamu tunjukkan saat merasa aman. Bagian yang kamu kubur dalam karena takut dianggap aneh, lemah, atau terlalu beda. Tapi bukankah justru bagian itu yang paling jujur?
Saya ingin percaya bahwa semakin kita berdamai dengan potongan-potongan diri kita yang paling manusiawi, semakin bebas kita menjadi. Dunia mungkin tak pernah berhenti menghakimi, tapi kita bisa berhenti menghakimi diri kita sendiri.
"Jika kamu bisa menjadi siapa pun tanpa rasa takut, siapa yang akan kamu pilih untuk menjadi?"
Oke Sobat, sekian renungan kita hari ini. Selamat beraktivitas menuju sore hari. Semoga kita diberkahi kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Aamiin.
Ada luka yang diam-diam tumbuh jadi puisi dalam diam kita.

No comments:
Post a Comment
leave your comment here!